Showing posts with label *Koran Tempo. Show all posts
Showing posts with label *Koran Tempo. Show all posts

Friday, March 30, 2012


WALI KOTA BIASA SAJA

Pejabat publik yang bekerja sebagaimana mestinya melayani rakyat di negeri ini dianggap “luar biasa”. Dialah salah satunya yang fenomenal, Walikota Solo, Joko Widodo, yang popular dengan sapaan Jokowi. Menurut wartawan senior Budiarto Shambazy dalam prolog buku ini, akibat kondisi sosial seperti saat ini, nyaris semua pejabat publiK, ilmuwan, aktivis dan profesi lainnya terkontaminasi oleh tuntunan zaman serta kurang mempunyai integritas dan loyalitas terhadap tugasnya. Namun, Jokowi yang ingin mengabdi kepada bangsanya sesuai dengan jabatannya, masuk kategori abnormal.

Buku ini sesederhana tokoh yang ia tulis. Cukup untuk mengenal Jokowi dan konteks kesoloannya. Pejabat yang pernah masuk 10 tokoh 2008 versi Majalah Tempo ini sempat mengecek nama aslinya. Di solo, nama yang persis ada 16, tapi hanya dia yang memakai nama Jokowi, Wali kota Solo. Begitulah seperti yang tertulis pada kartu namanya. Dia lebih memilih Solo, meski digadang-gadang PDI Perjuangan menjadi gubernur untuk mengubah Ibu Kota Jakarta

Friday, November 06, 2009

TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Mala¬chy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara. Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mpncari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney merninta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Sunday, November 01, 2009


TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Malachy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara.

Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mencari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney meminta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Thursday, September 03, 2009


THE FIFTH SALLY : SALLY DAN EMPAT TEMAN RAHASIA

Kisah Sally Porter dengan lima kepribadian. Sally adalah seorang janda pemurung, penyendiri, dan membosankan. Setiap kali Sally merasa sakit kepala dan tak sadarkan diri, saat itulah keempat kepribadian yang lain silih berganti mengambil alih perannya. la akan jadi Bella si penggila seks yang berbakat menyanyi dan menari jika berhadapan dengan lelaki. la akan jadi Nola si seniman intelek tapi dingin jika memiliki masalah intelektualitas. la jadi Derry si pengkhayal baik hati, tomboi, dan ceria, jika harus berhadapan dengan orang banyak. Dan ia jadi Jinx si maniak penuh kebencian, brutal, dan ganas, jika berhadapan dengan lelaki bajingan

Tuesday, August 04, 2009


MENGULAS MYSTERY OF 2012


...buku Mystery of 2012 yang dikerjakan oleh tim yang dipimpin Gregg Braden justru menyajikan kumpulan tulisan yang lebih obyektif, serius, dan ilmiah.
(Oktamadjaya Wiguna, Koran Tempo, Agustus 2009)


Bangsa Maya menjalani peradabannya di Amerika Tengah dan Meksiko tanpa mengenal logam dan roda. Tapi mereka bukanlah suku primitif dan garang. Buktinya, tanpa teleskop dan mesin mesin hitung, mereka menyusun kalender melalui pengamatan benda langit dengan mata telanjang yang disusun secara sistematis.

Anehnya, meski peradaban Maya diperkirakan berkembang pada abad keempat dan kelima sistem penanggalan yang mereka ciptakan itu dimulai pada 13 Agustus 3113 Sebelum Masehi dan berakhir pada 12 Desember 2012 Masehi.

Kalender inilah yang menjadi ramalan bahwa kiamat datang pada 2012. Apalagi sistem penanggalan di peradaban kuno Cina, India, dan Persia juga menunjukkan sesuatu yang besar akan terjadi di seputar tanggal tersebut

Isu kiamat 2012 ini sebenarnya cerita lama. Tapi, seiring dengan mendekatnya tenggat, banyak yang mulai mengaitkan penanggalam Maya itu dengan aktivitas yang akan mencapai puncaknya tiga tahun lagi. Badai Katrina, Rita, dan Wilma pada 2005 ternyata terjadi berbarengan dengan badai di matahari.

Perbincangan misteri 2012 ini juga menggejala di dunia literatur. Toko buku online Amazon.com memiliki lebih dari 40 judul buku dengan tema tersebut. Dari jumlah itu, setidaknya ada tiga buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Mereka yang tak terlalu suka membaca buku nonfiksi atau jeri dengan kerumitan teori dan ramalan akhir zaman bisa memulainya dari Invisible City karya M.G. Harris. Novelis kelahiran Kota Meksiko ini menulis seri novel remaja The Joshua Files, yang mengangkat perburuan buku suku Maya "Codex Ix" yang dipercaya memuat rahasia peristiwa pada 12 Desember 2012.

Setelah membaca novel yang diwarnai aksi baku hantam dan kejar-kejaran mobil ini, pembaca bisa melangkah ke buku Lawrence E. Joseph, Kiamat 2012: Investigasi Akhir Zaman. Setengah daging novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini didasari temuan arkeologi suku Maya dan hipotesis terbaru soal badai mata¬hari yang berpotensi mengacaukan kehidupan di bumi.

Joseph mengumpulkan bahan dengan mengunjungi situs Maya serta berbincang dengan keturunan bangsa penghuni Semenanjung Yucatan ini. Dia juga mengunjungi pusat pengamatan benda langit di berbagai belahan dunia, ditambah perbincangan dengan ilmuwannya. Inilah yang membuat bukunya lebih hidup.

Namun, informasi yang dikumpulkan itu membuat penulis berdarah Libanon ini tersandung pada data yang berisi angka, istilah, dan teori sains yang pelik. Agar pembacanya tak mengerutkan kening, Joseph mengemas hal itu dengan jenaka sampai-sampai hampir tak ada paragraf yang sepi dari humor dan sentilan nakalnya.

Sementara Joseph menuliskan dengan banyak memuat pandangan subyektifnya, buku Mystery of 2012 yang dikerjakan oleh tim yang dipimpin Gregg Braden justru menyajikan kumpulan tulisan yang lebih obyektif, serius, dan ilmiah.

Ada 24 tulisan yang dibuat oleh ilmuwan fisika, filsuf, seniman, sampai pemimpin spiritual termasuk Lawrence E. Joseph. Mereka membedah peradaban Maya sebagai sumber misteri, serta mengulas misteri 2012 dari sudut pandang sains, politik, ekonomi, dan spiritual.

Meski misteri seputar "kiamat dari matahari" rata-rata berbicara soal kehancuran dunia, ketiga buku ini justru menawarkan semacam optimisme. Bahwa orang-orang Maya sendiri tak pernah menyebut akhir kalender sebagai ajalnya bumi sehingga terbuka peluang lain, yakni De¬sember 2012 sebagai awal baru atau titik balik peradaban.

Harris, misalnya, menawarkan ide bahwa dalam "Codex Ix" barangkali ada jawaban cara menghindarkan manusia dari bencana 2012. Sementara itu, Gregg menawarkan satu bab yang mengajak agar memakai momen 2012 itu sebagai pelecut introspeksi serta memprediksi secara positif kemungkinan yang terjadi setelahnya.

Toh, sepanjang sejarah manusia, telah muncul prediksi kapan hari akhir zaman terjadi namun sejauh ini semuanya meleset. Bisa jadi ramalan 2012 salah satu yang keliru itu, namun seperti diutarakan Joseph, kiamat tetap akan terjadi dalam waktu dekat jika manusia menyalahgunakan teknologi menjadi senjata pemusnah massal dan enggan menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan. • OKTAMANDJAYA WIGUNA

Tuesday, July 07, 2009


THE LOST ARABIAN WOMEN

Qanta, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris dan Amerika, mengalami gegar budaya yang hebat saat hijrah ke Arab Saudi. Perempuan berdarah Pakistan ini mengisahkan pengalamannya menjadi dokter di King Fahd National Guard Hospital sepanjang dua tahun.

Ada lebih dari 30 cerita pengalaman Qanta, dari mengoperasi perempuan sesepuh suku Badui yang mesti tetap bercadar saat dibedah hingga saat ia berurusan dengan polisi agama Mutawaeen karena makan dalam ruangan bercampur antara lelaki dan perempuan. Semua pengalaman itu membuat Qanta heran mengapa peraturan agama di negara itu justru membuat perempuan di Saudi terkekang dan tertindas. "Meskipun aku seorang muslim, aku merasa seperti orang asing di kerajaan ini," tulisnya. Qanta juga bercerita tentang tumbuhnya modernisasi di negeri itu. la menemui perempuan-perempuan yang berupaya mendobrak kungkungan dan segelintir suami yang mendukung ide-ide mereka serta mengupayakan perubahan lewat anak-anak mereka.

Ini adalah buku kelima terbitan Ufuk yang mengangkat kisah nyata perempuan di Arab Saudi. Sebelumnya, penerbit ini telah merilis buku trilogi princess dan The Girls Of Riyadh

Tuesday, December 16, 2008



MENJADI BINTANG, KIAT SUKSES JADI ARTIS PANGGUNG, FILM, dan TELEVISI

Ingat kasus beberapa gadis yang tertipu mengikuti casting iklan sabun mandi hingga rela melepas baju di depan kamera? Seandainya saat itu buku ini telah terbit, dan para gadis itu membacanya, hal tersebut mungkin tak perlu terjadi.

Dunia hiburan memang bagai lampu terang yang menarik ribuan laron. Inilah lapangan pekerjaan yang banyak diminati orang. Lihat saja, setiap hari rumah-rumah produksi didatangi puluhan hingga ratusan orang yang ingin jadi artis. Tapi tak semua orang menguasai lika-liku pekerjaan ini.

Buku ini memberi gambaran cukup lengkap tentang peta industri film dan televisi, manajemen produksi, dasar-dasar akting, bagaimana mengenali bakat, serta strategi dan unsur penting casting.

Bahkan buku ini juga dilengkapi dengan alamat lengkap stasiun televisi dan rumah produksi serta organisasi perfilman, juga contoh kontrak artis, kru film/sinetron, dan model, kontrak manajemen artis. Namun, munculnya beberapa foto yang tak relevan dengan tulisan atau penggunaan sebutan "kamu" untuk pembaca terasa menggurui.

Friday, December 05, 2008


OBAMA LARIS MANIS


Lonjakan penjualan juga dialami Ufuk Publishing House untuk buku Barrack Obama, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih yang ditulis sendiri oleh Obama. Manajer Pemasaran Ufuk, Taufiq Hadad, mengatakan, pemesanan buku yang sudah terjual sekitar 20 ribu eksemplar ini langsung meningkat setelah Obama terpilih menjadi presiden.
(Koran Tempo, Ruang Baca November 2008)


'Gegap gempita pemilihan Presiden Amerika Serikat sudah berakhir, tapi demam Barrack Obama di Indonesia baru saja dimulai. Kemenangan Obama pada pemilihan umum tersebut membuat perusahaan penerbitan dan toko buku di Indonesia bungah karena penjualan buku seputar presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat itu meroket

Penerbit Mizan mencatat bahwa penjualan buku langsung melonjak segera setelah Obama dinyatakan memenangi kursi kepresidenan pada awal November lalu. Community Relations Mizan, Pangestuningsih, mengatakan, buku Andai Obama Presiden Amerika: Harapan atau Ancaman karya Hermawan Aksan hingga pertengahan November sudah terjual 900 eksemplar, padahal sebulan sebelumnya hanya laku sekitar 300 eksemplar.


"Kenaikannya sampai 191 persen,", ujar Pangestuningsih. "Jadi,: buku itu sebentar lagi masuk daftar best seiler Mizan."

Awalnya Mizan sempat ragu menerbitkan buku ini menjelang pe¬milihan presiden. Tapi, ketika penerbit lain menahan diri, Mizan justru memberanikan diri menerbitkan buku Obama berbekal optimisme bahwa senator asal Illinois itu akan menang—keputusan yang belakangan terbukti tepat.

Fenomena yang sama juga terjadi pada buku terbitan Mizan Pustaka, Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya. "Muslim Connection" yang ditulis Anwar Holid. Pada Oktober lalu buku ini terjual 400 eksemplar dan selama November laku lebih dari 900 eksemplar.

Mizan sendiri memang penerbit yang paling getol mengeluarkan buku soal Obama. Selain dua buku tadi, Kelompok Mizan juga memiliki dua judul lain, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Sayangnya, Mizan tak memiliki catatan penjualan buku-buku ini

Lonjakan penjualan juga dialami Ufuk Publishing House untuk buku Barrack Obama, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih yang ditulis sendiri oleh Obama. Manajer Pemasaran Ufuk, Taufiq Hadad, mengatakan, pemesanan buku yang sudah terjual sekitar 20 ribu eksemplar ini langsung meningkat setelah Obama terpilih menjadi presiden.

Ufuk pun sampai kebingungan memenuhi permintaan yang terus-menerus datang dari toko buku. "Kami sampai sempat kehabisan stok,' ujarnya. Ufuk pun akhirnya mencetak ulang buku ini sebanyak 5.000 eksemplar. Buku yang sebelumnya berformat hardcover ini diubah menjadi softcover yang sekaligus menurunkan harganya.

Begitu dilepas ke pasar, buku ini langsung terjual sekitar 1000 eksemplar. Menurut Taufiq, angka penjualan selama satu minggu tersebut terbilang fantastis, karena biasanya jumlah itu baru bisa diperoleh setelah buku dijual selama sebulan.

Meledaknya penjualan buku ini tentunya kabar gembira bagi Ufuk, yang sebelumnya sempat ketar-ketir mengikuti pemilihan presiden di Amerika Serikat. Kekalahan Obama dapat menjadi gong kematian penjualan buku itu, padahal modal yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak ciptanya terbilang lumayan besar.

Taufiq pun mencatat bahwa penjualan buku itu sem¬pat turun ketika Obama hampir dikalahkan Hillary Clinton pada konvensi Partai Demokrat dan saat kampanye pemilihan presiden melawan calon dari Partai Republik, John McCain.

Dengan terpilihnya Obama, Taufiq optimistis tingginya minat pembaca tersebut akan bertahan ama. Bahakan, ia memperkirakan ledakan penjualan akan terjadi lagi jika Obama berkunjung ke Indonesia.”Buku-buku Obama ini bisa panjang umurnya,” ujarnya

Tingginya penjualan itu mengundang bermunculan berbagai buku soal Obama. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, misalnya, menerbitkan Obama in His Own Words; Ucapan dan Pikiran Barack Obama tentang Segala Hal yang ditulis "Lasa Rogak.

Ganeca Exact juga menerbitkan Barack Obama Sang Presiden. Buku yang ditulis Budi Santoso ini sebenarnya tak terlalu berbeda dengan buku biografi Obama, kecuali ada bab yang mengisahkan kesuksesan Obama memenangkan pemilihan presiden.

Buku-buku Obama di luar negeri pun menjadi buruan penerbit lokal. Salah satu yang banyak diperebutkan adalah memoar Obama yang berjudul Dreams of My Father, A Story of Race and Inheritance. Seorang sumber Tempo yang mengikuti proses penawaran buku tersebut menceritakan bahwa hak cipta buku tersebut akhirnya dilepas Oktober lalu kepada sebuah penerbit lokal seharga sekitar US$ 6.000 atau sekitar Rp 72 juta.

Selain buku seputar Obama, para penerbit juga mulai menggarap buku-buku yang tidak menampilkan sosoknya, tapi orang-orang di seputar Obama. Ufuk Publishing House meluncurkan buku profil Michelle Obama, Lebih Pintar Dari Obama!!

Buku yang ditulis Wasis Wibowo ini mengupas sosok istri Obama, Michelle LaVaughn Robinson. Dalam buku ini diceritakan sekelumit kisah hidup Michelle dan perannya dalam meyakinkan suaminya untuk maju dalam pencalonan Presiden Amerika Serikat ke-44.

Sementara itu, Mizan menerbitkan disertasi ibu Obama, Stanley Ann Dunham, yang berjudul Pendekar-pendekar Besi Nusantara — Buku yang Memuat Pandangan Ibunda Barack Obama tentang Indonesia. "Sekarang ini apa pun menyangkut Obama itu laku keras," ujar Pangestuningsih.

Selain penerbit, pihak yang menangguk untung besar dari demam Obama adalah toko buku. Mereka menyiasati dengan menyediakan area dan rak khusus buku Obama.

Salah satunya adalah toko buku Leksika di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menurut Branch Manager Leksika Lenteng, Agung Manuntun, menjelang pemilihan presiden di negeri Abang Sam tersebut, tokonya sudah menyiapkan satu rak khusus untuk buku Obama.

Seperti toko buku lainnya, Leksika juga telah memesan stok lebih banyak, termasuk mengimpor buku Obama untuk mengantisipasi jika .pria yang pernah menetap di Jakarta itu memenangi kursi presiden. "Kami sudah ada feeling ini akan laku keras,".ujarnya.

Selepas kemengan Obama, Agus menyulap salah satu sudut di lantai dasar tokonya menjadi pojok khusus Obama. Hasilnya, buku-buku terkait sang pemenang pemilihan presiden itu pun laku keras. "Yang beli lumayan banyak," kata Agus.

Agus menceritakan, jauh sebelum kemenangn Obamapun penjualan bukunya sudah cukup tinggi dan kini jumlah penjualannya berlipat ganda. Ia tak tahu pasti berapa jumlah penjualan buku tersebut, namun dalam setiap hari ada saja pelanggan yang membeli buku Obama

Wednesday, September 24, 2008


.....HANYA BAGAIMANA MEMAINKAN KARTU


Ada banyak kuliah, ceramah, bahkan buku tentang topik serupa —bagaimana memompa semangat hidup sekalipun ajal telah dekat. Tapi, berbeda dari semua itu, yang justru mengundang banyak pertanyaan dan keraguan, Pausch jujur dan tulus. Dan itulah kelebihannya`
(Ruang Baca Koran Tempo, Agustus 2008)


Selama sejam lebih sedikit, pada pertengahan September tahun lalu, Randy Pausch sebenarnya hanya berbicara tentang "bagaimana rasanya bisa benar-benar mewujudkan impian masa kanak-kanak". Tapi ceramah guru besar ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Amerika Serikat, itu begitu menggetarkan dan menggerakkan: muatan optimismenya mengundang sekaligus gelak tawa dan air mata haru audiensnya. Ruangan yang penuh sesak oleh 500-an hadirin menjadi begitu emosional —adegan yang mungkin mengingatkan orang pada film Dead Poet Society.

Apa yang terjadi hari itu tak lama kemudian masuk ke ranah publik, menjadi bahan pembicaraan. berbagai kalangan dj Amerika. Antara lain hal itu dimungkinkan oleh hasil kerja Jeff Zaslow. Wartawan The Wall Street Journal ini menuliskan kesannya setelah menghadiri "kuliah" Pausch. Dia juga membubuhkan cuplikan video di website koran ekonomi kondang itu. "(Saya) seperti menyaksikan. Michael Jordan melakukan jump shot-nya pada akhir babak final NBA. Seperti ada setrum di ruang itu. Saya tahu semua orang di sana terpengaruh. Tapi saya tak bisa membayangkan apa yang terjadi kemudian, bahkan dalam mimpi saya yang paling gila," katanya.

Yang terjadi kemudian adalah pembaca mengirimkan cuplikan video itu kepada teman-temannya. Dan seperti efek yang biasa terjadi dalam kasus serupa, seperti virus yang menyebar cepat: dalam hitungan beberapa jam saja ratusan ribu orang telah menontonnya, di YouTube maupun di berbagai platform lainnya; versi utuhnya di YouTube telah dikunjungi lebih dari enam juta orang. Dengan bantuan Zaslow, Pausch pun menerbitkan The Last Lecture pada April 2008, yang sejauh ini telah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa (Ufuk Press menerbitkannya ke dalam bahasa Indonesia).

Dan kemudian pula, dari Pausch, ayah tiga anak yang didiagnosa menderita kanker pankreas yang mematikan, orang Amerika dan dunia pun berkesempatan belajar, atau setidaknya diingatkan, tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Dengan kanker yang dideritanya, dokter memperkirakan Pausch hanya bisa bertahan 3-6 bulan. Diagnosa seperti itu, bagi kebanyakan orang, adalah alasan yang cukup untuk kehilangan harapan dan bahkan putus asa. Pausch adalah perkecualian, satu di antara sedikit saja orang yang bisa bersikap begitu. Dia tak berpikir tentang mati. Dalam kuliah pamungkasnya —suatu kelaziman, akademisi terkemuka diminta memikirkan dan berbagi tentang topik yang paling menarik minatnya seolah-olah itulah kesempatan terakhirnya —dia bicara tentang hal sederhana. Kita tidak tahu persis kekuatan apa yang menjadi pendorong. Mungkin keluarganya, istri dan anak-anaknya yang belum cukup umur untuk mandiri, yang akan kehilangan dirinya, sebagaimana selalu dia kemukakan. Mungkin ada hai lain yang bahkan dia sendiri tak tahu.

Bisa jadi juga latar belakang keluarganya berperan di situ. Keluarga seperti apa? Salah satu slide yang dia sisipkan dalam ceramahnya adalah foto yang memperlihatkan ibunya yang sedang bermain gokart pada hari ulang tahunnya yang ke-70. Foto yang lain memperlihatkan ayahnya sedang bergembira menumpang roller-coaster pada usianya yang ke-80.

Ada banyak kuliah, ceramah, bahkan buku tentang to¬pik serupa —bagaimana memompa semangat hidup sekalipun ajal telah dekat. Tapi, berbeda dari semua itu, yang justru mengundang banyak pertanyaan dan keraguan, Pausch jujur dan tulus. Dan itulah kelebihannya: dia tak menyinggung ihwal spritualitas atau agama; dia bicara semata dengan "otoritas" seseorang yang dengan berani menghadapi maut dan membuat penilaian tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup; dan, lebih-lebih lagi, dia tak pernah kehilangan humor.

"Dia hanya mengatakan apa adanya. Banyak orang tahu ada seseorang yang sedang sekarat, atau mereka sendiri sedang menjelang ajal. Kita semua ingin hidup dan menjalani hidup sepenuhnya. Dia mengartikulasikan hal itu dengan cara yang sanggup mengusik imajinasi orang," kata Zaslow.

Dan semua itu, seperti kita bisa tahu, dia lakukan tanpa berusaha menafikan kenyataan bahwa ada saatnya manusia benar-benar tak berdaya di hadapan takdir — Pausch akhirnya meninggal di usia 48 tahun pada 25 Juli 2008. Dalam kata-katanya, "Kita tak bisa mengubah kartu yang kita ambil, hanya bagaimana kita memainkannya." •




Wednesday, September 03, 2008


KISAH HARI BERAT DAN MENGGUGAH

Buku ini menunjukkan betapa gigihnya ia mencoba bertahan hidup dan alasan di balik sikap kerasnya untuk menang dari kanker.
(Ruang Baca Koran Tempo, Agustus 2008)

Malam menjelang pergantian tahun, 2003. Mulanya adalah sebuah makan sebagaimana biasanya.. Joan Didion menyiapkan perapian dan suaminya, John Gregory Dunne, duduk di kursi di ruang tamu, tempat biasa ia membaca. Mereka baru saja menjenguk putri tunggal mereka, Quintana, yang dirawat di lantai enam ruang intensif rumah sakit Berth Israel North. Mulanya flu lalu didiagnosis radang paru, lalu berkembang menjadi keracunan darah, Quintana kemudian koma, tepat sebelum mereka merayakan .

Makan malam diselingi obrolan tentang wiski dan Perang Dunia Pertama dan diskusi buku dan karya Didion, yang bekerja sebagai penulis, hingga beberapa menit kemudian John berubah lemas, jatuh tersungkur dengan tubuh membentur meja. Hanya beberapa saat setelah dilarikan ke rumah sakit, John menemui ajalnya. Selebihnya adalah sejarah.

Dua tahun setelah itu, Didion menuangkan hari-hari beratnya itu dalam memoar The Year Of Magical Thinking. Alih-alih menuangkan perjalanannya dalam kalimat yang sarat kesedihan dan perasaan sentimental, Didion memilih merekamnya serupa catatan harian yang dipenuhi istilah medis, yang dibalut pergolakan pikirannya saat itu. Kalimat-kalimatnya detail, bemas, cerdas, dan padat. Penggambaran yang nyaris datar tanpa keterlibatan emosi karena kemalangan yang datang bertubi-tubi itu justru yang menjadi kekuatan buku ini. Tidak heran ke tika baru diluncurkan, buku ini mendapat sambutan hangat di Amerika Serikat. :

Kemampuan Didion bertahan di tengah badai yang menerpanya itu mendatangkan pelajaran berharga bagi para pembacanya dan menjadi penyemangat bagi mereka yang tengah mengalami nasib serupa. Lewat buku ini, Didion juga meraih penghargaari National Book Award 2005.

Kehadiran buku Didion yang laris itu membangkitkan lagi kisah orang-orang yang bertahan menjalani dan melewati penderitaan hidupnya. Di pasar, buku jenis ini tidak sedikit. Sayang, jarang yang dituus dengan gaya yang menarik dan menggugah. Sebaliknya, sebagian besar buku bercerita dengan gaya seperti berkutbah dan menggurui, atau jika tidak, terlalu njelmet dalam membahas persoalan yang menyangkut penyakit.

Buku Randy Pausch kemudian hadir tahun ini mengisi ladang kering itu. Buku berjudul The Last Lecture itu menunjukkan bagaimana sebuah kisah pribadi bisa menggugah banyak orang. Buku itu awalnya adalah materi mata kuliah Pausch yang berjudul 'Really Achieving Your Childhood Dream atau Mewujudkan Impian Masa Kecil Anda.

Pausch kebanjiran lusinan surat elektronik dari berbagai perusahaan penerbitan. Itu terjadi setelah wartawan The Wall Street Journal, Jeff Zaslow, memuat kisah soal penderita kanker pankreas ini dan kuliahnya yang menggugah banyak orang.

Isi surat itu senada, yakni tawaran untuk menulis buku. Randy sebenarnya sudah lama rnemernikirkan semacam tulisan yang akan ia wariskan kepada ketiga anaknya setelah ia meninggal. Istri Randy, Jai, menyukai ide itu dan merasa penulisan buku akan membuat Randy lebih semangat untuk bertahan Hidup.Namun ia meminta aktivitas itu tak terlalu menyita waktu Randy bersama keluarga.

Randy memulai penulisan buku itu dengan meminta Zaslow sebagai partner yang membantunya menulis buku. Hasil kolaborasi mereka melahirkan buku yang barangkali satu-satunya yang ditulis sambil mengendarai sepeda. Setiap hari selama satu jam Randy bersepeda sambil mendiktekan isi buku kepada Jeff lewat telepon seluler. "Zeff sangat ahli menggali, banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkah oleh saya untuk ditulis," ujar Randy. "Ia penulis yang hebat, kalau saya sih payah untuk yang satu itu.”

Buku tersebut rampung awal tahun 2008 dan Randy memberikan hak penerbitannya pada Hyperion, anak perusahaan Disney di bidang penerbitan. Tidak heran kalau ia memilih penerbitan ini, pasalnya Randy telanjur jatuh cinta pada Disney dan Disneyland. Buku berjudul The Last Lecture ini dicetak sebanyak dua juta kopi dan langsung laris. Dalam bulan yang sama dengan penerbitannya, buku tersebut menjadi pemuncak daftar buku terlaris di Amerika Serikat

Ufuk Publishing House membeli hak penerbitan buku ini pada Juni lalu dan menerbitkan versi bahasa Indonesia pekan lalu. Menurut Direk tur Marketing Ufuk Ahmad Taufiq Hadad, cetakan pertama sebanyak 5.000 eksemplar sudah hampir habis. "Ini terbilang cepat, dalam waktu se minggu kami sudah harus menyiapkan cetakan keduanya," ujar Taufiq.

Meski buku ini berisi kisah hidup seorang yang asing bagi masyarakat Indonesia, Taufiq berpendapat pesan dalam buku ini bersifat universal sehingga bisa diterima pembaca di seluruh dunia. "Sederhana tapi pesannya benar-benar mengena," kata dia.

Misalnya soal keluarganya dan bagaimana mereka berjuang menghadapi kanker yang setiap tahun membunuh 33 ribu orang di Amerika Serikat itu. la merasa tak akan kuat menahan emosinya jika harus bicara soal keluarga di depan orang banyak, sementara dalam buku ini ia menceritakan kehidupan keluarga kecil Pausch yang berubah setelah ia divoris menderita kanker.

Tapi Pausch tak sekedar bersiap menghadapi kematian. Buku ini menunjukkan betapa gigihnya ia mencoba bertahan hidup dan alasan di balik sikap kerasnya untuk menang dari kanker. Ada banyak tips yang dibagikan pakar realitas virtual ini agar mereka yang berjuang melawan penyakit ganas seperti dirinya bisa mengisi hari-hari dengan keceriaan dan tidak kelewat terfokus pada penyakit.

Buku ini juga memuat kisah-kisah menggembirakan sekaligus memilukan di balik kuliah umum Pausch yang rekamannya diunduh enam juta orang di seluruh dunia. Randy, bercerita betapa tak mudah baginya menerima tawaran menyampaikan kuliah meski ia sendiri sangat berminat membagikan pemikirannya sebelum ajal menjemput.

Sosok Pausch yang bugar, segar, dan penuh humor saat menyampaikan kuliah sangat bertolak belakang dengan kesedihannya karena harus melewatkan ulang tahun istrinya yang mungkin tak sempat lagi dirayakan. Beberapa saat sebelum memulai kuliahnya, efek samping kemoterapi juga menyerangnya. Sulit memang untuk tak terharu ketika Pausch membahas kisah cintanya dengan Jai dan hari-hari yang ia habiskan mengamati pertumbuhan anaknya Dylan, Logan, dan Chloe.

Berbeda dengan Pausch yang tak mau mengumbar soal penyakitnya, Dahlan Iskan justru menceritakan soal sakit dan operasi yang dijalaninya secara blak-blakan. Proses yang ia istilahkan sebagai "turun mesin" itu dituangkan ke dalam buku Ganti Hati yang diterbitkan oleh JP Books.

Sakit pemimpin Grup Jawa Pos ini berawal dari kanker pada liver. Kanker itu merusak fungsi liver yang memunculkan efek domino pembesaran limpa sehingga proses daur ulang sel darah mati tak berjalan dan munculnya semacam varieses pada pembuluh darah di seluruh saluran pencernaan. Perdarahan bisa terjadi kapan saja, karena itu hidup yang yang lahir pada 1951 ini ditaksir tinggal tiga tahun saja.

Dalam buku ini Dahlan menjelaskan penyebab sakitnya dan alasan ia memutuskan menjalani transplantansi liver. Ia juga menguraikan persiapannya menuju operasi transplantasi dan jalannya proses pencangkokan itu sendiri

Cerita yang ditulis wartawan senior ini dikemas dalam dalam 32 artikel singkat antara lima sampai tujuh halaman saja yang pemah dimuat di harian Jawa Pos. Ini membuat buku setebal 328 halaman itu bisa dilahap dengan mudah apalagi Dahlan menulisnya dengan santai dan jenaka.

Ketika luka operasi membuat sebagian orang gelisah, pria asal Magetan, Jawa Timur, ini justru membahas bekas jahitan mirip simbol mobil Mercedes Benz itu dengan canda. "Kini saya punya dua Mercy, yang satu seri S500 seharga Rp 3 miliar, satunya lagi Mercy di kulit perut saya, tidak tahu seri berapa tapi kira-kira sama harganya," tulis Dahlan dalam bukunya. .

Seperti ditulis dalam bukunya, Dahlan mengungkapkan kalau ia tak suka menun¬jukkan sakitnya kepada orang banyak kare¬na itu ia menceritakan dengan cara yang ti¬dak membuat orang iba. Kuncinya, kata dia, menceritakan dengan cara yang menyenangkan.

Meski diulas secara jenaka kengerian dari penyakit dan operasi tak dapat ditutupi, apalagi proses pencangkokan organ tubuh tak selalu berjalan mulus. Dahlan menyinggung soal operas! transplantasi cendekiawan Nurcholish Madjid yang tak sukses. Sempat pula muncul kekhawatiran proses cangkok organ tak sukses ketika badan Dahlan membengkak dan wajahnya menghitam.

Cerita Dahlan yang apa adanya ini menarik perhatian banyak orang dan mereka yang merasa terinspirasi dengan semangat Dahlan mengirimkan surat elektronik dan pesan singkat yang juga dimuat dalam bagian akhir buku ini. Bertahun-tahun sebelum itu, kisah hidup penulis muda Gola Gong juga memikat hati banyak orang. Dengan kruk yang menyangga satu kakinya, ia dengan gagah perkasa bertualang dan menemukan kekuatan hidupnya lewat dunia menulis. Kisah-kisah pencandu narkoba yang lepas dari jerat masa lalunya juga tidak kurang banyaknya.

Sayangnya, di luar sana, di rak-rak di toko buku, bisa dihitung dengan jari kisah kisah menggugah yang ditulis dengan menyenangkan. Padahal orang yang bergelut dengan penyakit ganas merasa buku-buku ini bisa membantu mereka" melewati masa-masa sulit. "Kalau saja dulu ada buku yang menceritakan soal penderita kanker, pasti penderitanya tak akan melakukan banyak kebodohan," ujar Ani, perempuan berusia 31 tahun yang baru saja memenangi pertarungan dua tahun melawan kanker payudara. Ia memutuskan menulis buku tentang penderitaannya agar orang bisa bersiap menghadapi kanker seperti yang diidapnya

Wednesday, August 27, 2008



PARLEMEN UNDERCOVER

Abu Semar menyajikan lebih dari 30 kisah pelesetan bergaya narasi santai dan jenaka. Kisahnya terjadi di negeri Indosiasat, namun tokoh dan masalahnya mirip yang terjadi di Indonesia
(Koran Tempo, 24-Agustus-2008)

Skandal seks dengan sekretaris, praktek calo anggaran dan makelar kasus, sampai berbagi lelucon porno di sela-sela sidang. Beginilah kehidupan di gedung parlemen para wakil rakyat. Eit, ini bukan cerita di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Rl, melainkan di Republik Indosiasat.

Abu Semar menyajikan lebih dari 30 kisah pelesetan bergaya narasi santai dan jenaka. Kisahnya terjadi di negeri Indosiasat, namun tokoh dan masalahnya mirip yang terjadi di Indonesia. Misalnya saja kisah rekaman adegan syur politikus partai Pohon Kuning, atau ributnya parlemen dengan band Blank.

Abu Semar adalah nama samaran. la anggota DPR betulan dan mengklaim bisa bertanggungjawab secara moral atas kisahnya itu. Namun, penerbit Ufuk menyatakan kemiripan cerita bisa jadi hanya kebetulan semata, yang barangkali bisa membuat masyarakat lebih berhati-hati memilih wakilnya di parlemen.

• OKTAMANDJAYAWIGUNA




Tuesday, August 12, 2008



ADU KUAT BERBURU BUKU

Meski perlu upaya besar, Ufuk terus membeli hak penerbitan buku terjemahan, lantaran buku impor ini punya tema yang lebih beragam dan buku yang bagus bisa laku sampai puluhan ribu eksemplar
(Koran Tempo, Agustus 2008).



Pernah tahu Why Men Dont Listen and Women CantRe&d Maps, buku psikologi populer ysng dituiis dengan bernas dan dibalut humor-cerdas? Atau serial Laskar Pelangi mana-yang paling memikat hati Anda? Mohon maaf, “kuper" jika Anda belum baca. Buku-buku ini terkenal sebagai buku laris yang jadi perbincangan dan diburu ratusan ribu. hingga jutaan pembaca. Tidak mengherankan jika penerbit bersedia "berdarah-darah" demi mendapatkan hak terbit (copyright) buku itu. Mereka seolah berpacu di arena balap, menjadi yang terdepan dan terbaik untuk menerbitkannya. Buku laris adalah jaminan arnpuh untuk menangguk untung besar.

Jangan kaget pula jika Bakar Bilfaqih dan teman-temannya bak kebakaran jenggot saat membaca surat elektronik yang isinya seolah-olah "memanas-manasi" Penerbit Ufuk, tempat Direktur Editorial dan Produksi ini bcrnaung. ''Ada yang menawar dengan harga lebih tinggi dari Anda, jadi segera berikan penawaran terbaik Anda." Begitu kira-kira isi surat itu.

Itu pula yang terjadi ketika mereka berniat menerbitkan The Last Lecture, buku laris yang ditulis Randy Pausch, dua bulan silam. Ada enam penerbit yang adu kuat untuk mendapatkan buku yang berkisah tentang perjuangan seorang profesor muda saat menghadapi penyakit mematikan itu. Ufuk akhirnya menang dalam persaingan karena mengajukan penawaran tertinggi. Harganya lumayan mahal untuk ukuran hak terbit. Meski enggan menyebut angka, Bakar mengatakan, mereka "merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah".

Belakangan ini, adu kuat penawaran di kalangan penerbit Indonesia memang semakin sengit lantaran jumlah penerbit semakin banyak dan semua bersaing mendapatkan buku international best seller. Bakar menceritakan harnpir setiap buku bestseller harus diraih. dengan penuh perjuangan. Jika lebih dari satu penawar, pemegang lisensi akan mernbuat sesi penjualan harga menjadi dua putaran.. Pemegang lisensi, kata Bakar, biasanya merahasiakan identitas penerbit dan harga yang diajukan.

Menurut dia, sistem ini lebih baik ketimbang dua tahun lalu ketika penjualan hak pcnerbitan dilakukan dengan sistem lelang dengan penawar tertinggi yang keluar sebagai pemenang. Ufuk pemah beradu dengan penerbit besar dan akhirnya menyerah. .” Kalau sistemnya masih begitu, penerbit kecil pasti kalah terus," ujarnya. Diakui Bakar, menggarap buku tcrjemahan memerlukan modal besar: Selain.uang muka, masih ada biaya penerjemahan, penyuntingan dan promosi yang besar. "Mau tak mau, harus ada tambahan investasi, tapi ya sekalian, soalnya beli (hak cipta)nya mahal." *

Meski perlu upaya besar, Ufuk terus membeli hak penerbitan buku terjemahan, lantaran buku irnpor ini punya tema yang lebih beragam dan buku yang bagus bisa laku sampai puluhan ribu eksemplar. la mencontohkan buku otobiografi pembalap Valentino Rossi, Andai Aku Tak Pernah Mencobanya, terjual 20 ribu eksemplar, sementara buku Why Men Don't Listen and Women Cant Read Maps yang ditulis Allan dan Barbara Pease laku 50 ribu eksemplar. Tidak mengherankan kalau hasil penjualan buku terjemahan ini menjadi salah satu penyebab perusahaan penerbitan ini bisa balik modal dalam dua tahun sejak berdiri. Bakar juga melihat larisnya buku terjemahan sebagai pertanda pasar buku sedang menuju masa keemasan. Ini, tentu saja kabar baik bagi penerbit skala menengah seperti mereka. Pasalnya, beberapa dasawarsa silam, hanya penerbit kelas kakap saja yang bisa menikmati untung dari penerbitan buku-buku laris. Bakar mengumpulkan. informasi penjualan dari berbagai toko buku yang menunjukkan bahwa setiap ta¬hun ada pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen. Karena itu pula Ufuk berani belanja buku di pasar intemasional hingga ratusan juta rupiah setiap tahun, terrnasuk jika harus memburu hingga ke ajang bergengsi semacam Frankfurt Book Festival di Jerman sana. Mereka pun tak ragu jorjoran saat harus bersaing dengan penerbit lain karena, kata Direktur Marketing Ufuk Ahmad Taufiq Hadad, "Dapetin buku berkualitas dan bisa diterima pasar itu nggak gampang." Apalagi buku serial. "Bisa saja di tengah jalan ada penerbit lain yang menyerobot."

Memang, ada semacam peraturan tak tertulis bahwa penerbit yang mencetak buku pertama akan mendapat prioritas untuk buku selanjutnya. '"Tapi kalau penawarannya tak cocok, biasanya agen melepas ke pasar," ujar Taufiq.

Penerbit Gramedia Pustaka Utama pernah mengalaminya. Editor Fiksi Gramedia Hetih Rush ingat agen novelis J.K. Rowling pernah mengabari bahwa ada penerbit lain dari Indonesia yang berniat membeli hak penerbitan seri Harry Potter. Saat itu Gramedia berhasil membendung serangan pesaing itu dengan menaikkan harga sehingga sukses mempertahankan hak cipta Harry Potter hingga jilid terakhir. "Kalau bukunya bagus, kami juga berani bayar mahal," kata Hetih.

Menurut Hetih, upaya merebut hak penerbitan adalah hal biasa. Apalagi hingga kini Gramedia mencatat penjualan buku terjemahan masih mendominasi pasar dan belakangan ini mencetak di angka awal 3.000 eksemplar tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Hetih bercerila, dulu mendapatkan hak cipta buku asing tak terlalu sulit karena jumlah penerbit tak terlalu banyak. Sekarang, setelah perusahaan penerbitan menjamur, ia menilai persaingan tak terelakkan lagi. Selain kekuatan modal yang besar katanya. "Pengalaman kami menerbitkan buku-buku bestseller juga menjadi sebuah jaminan untuk meyakinkan agen pemegang lisensi." Proposal penawaran juga biasa¬nya ia sertai dengan rencana promosi dan pemasaran buku tersebut.

Untuk mengakali ketatnya persaingan, Hetih mengatakan editor harus pandai-pandai membaca buku yang berpotensi menjadi bestseller. Menurut dia, editor Gramedia biasanya menelusuri Internet, mills, toko buku, dan menyambangi Frankfurt Book Fair demi mencari buku bagus. Hetih menyebut contoh, novel Harry Potter diperoleh Gramedia sebelum meledak di pasar. "Soalnya, kalau sudah booming pasti jadi rebutan, apalagi Sekarang penerbit banyak," ujamya. '''Jadi, pas masih telur sudah harus diambil." Soal didahului penerbit lain, toh mereka mengalaminya juga sesekali. "Jadi ini memang adu cepat. Kalau kelewat lama, ya keduluan orang lain," ujarnya.

Jika sejumlah penerbit rela adu kuat dana untuk meraih hak terbit, Dastan Books, salah satu lini Penerbit Zahra, justru meraup untung lewat cara yang tidak biasa. Itu terjadi saat mereka berburu buku memoar Kapten James Yee, For God and Country, yang laris dan jadi pcrbincangan di Amerika dan Eropa serta di banyak negara berpenduduk muslim. Tersentuh oleh penderitaan dan perjuangan Kapten James Yee. Prayudi, Chief Editor Pustaka Zahra, mengirim surat kepada ulama militer yang dizalimi pemerintahnya itu. ''Saya sampaikan padanya bahwa saya dan teman-teman bersimpati atas perjuangannya dan berdoa untuk keberhasilannya," kenang Yudi.

Siapa nyana, surat tanda simpati yang dikirim itu mcnjadi pembuka jalan kerja sama antara Pustaka Zahra dan Yee. Kebetulan, saat itu Yee baru saja meluncurkan memoar tentang perjuangannya menghadapi fitnah dan perlawanan hukumnya tcrhadap negaranya sendiri, "Kami saling berkorespondensi sekitar sebulan dan keluarlah izin dari agen Yee tiga bulan kemudian untuk menerbitkan bukunya," kata Yudi.

Sepanjang masa penantian itu, Yudi mcngakui, pihaknya terus berdebar-debar, khawatir izin tidak keluar. "Pesaing kami adalah penerbit-penerbit besar, mungkin saja izin penerbitan jatuh ke tangan mereka," katanya.

Kisah perburuan hak terbit novel fenomenal Da Vinci Code yang dialami Penerbit Serambi lebih unik lagi. Selain usaha yang sungguh-sungguh untuk memburu novel karya Dan Brown yang menandai babak baru dalam dunia fiksi ini, Serambi juga diuntungkan oleh bergugurannya para penerbit besar di tengah jalan. Rupanya beban moral dan sederet alasan yang lebih bersifat normatif menjadi penghalang bagi mereka. ''Berkali-kali orang bertanya kepada kami, bagaimana mungkin Serambi berhasil mcnerbitkan novel fenomenal itu?" kenang Kepala Redaksi Serambi Qamaruddin S,E Ketika novel ini difilmkan, keuntungan makin berlipat. Pasalnya, mereka mencetak ulang novel ini dengan sampul khusus wajah sang pemeran film, Tom Hanks.

Repotnya dan kerasnya persaingan berburu copyright ini memaksa para penerbit untuk melek dan terus siaga terhadap berbagai kemungkinan. Mereka juga nenggunakan jejaring yang dimiliki untuk memantau kondisi di negara asal sebuah karya yang tengah mereka bidik. Pcnerbil Serambi, misalnya, rajin benselancar di internet, rnenjalin kontak dengan beragam penerbit di luar negeri. Agar tidak ketinggalan berita, mereka juga memanfaatkan jaringan pertemanan di luar negeri dan penilai freelance yang biasanya lihai mengendus buku laris dan cocok untuk pembaca lokal "Penerbit luar negeri yang memegang copyright biasanya menyambut baik siapa saja yang datang menawar, meski mereka juga termasuk ketat soal penawaran dan pemberian hak terbit," kata Qamaruddin.

Lain agen pencrbit barat, lain pula cerita penerbit dari Timur Tengah. Karena alasan dakwah dan agar buku mereka tersebar seluas mungkin, para agen dari Timur Tengah ini umumnya tidak begitu peduli dengan copyright. Tidak aneh jika di Indonesia ada penerbit yang terlibat konflik gara-gara sama-sama memegang hak terbitnya. Sebuah penerbit kecil yang berhasil mendapatkan hak terbit sebuah buku laris tentang nasihat dan motivasi islami pernah dibikin repot gara-gara judul buku itu dipakai banyak penerbit lain, meski pengarangnya berbeda.

"Sebenarnya, hal itu tak sehat sebab penerbitan satu judul buku yang sama oleh beberapa penerbit akan membuat penggarapan pasar menjadi tak maksimal," kata Ketua Kompartemen Organisasi Hubungan Kelembagaan, Hukum, dan Hak Cipta Ikatan penerbit Indonesia Pusat Awod Said. Selain itu, kata dia, hal seperti itu akan membuat pasar buku agama tak akan bcrkembang. Pihaknya berpcndapat, idealnya satu judul buku terjemahan hanya diterbitkan satu penerbit. Masalah hak cipta, menurut Awod, mem;mg perlu terus dibenahi agar penerbit buku-buku agama bisa terus berkembang.












Wednesday, June 04, 2008


OBAMA BERKAMPANYE, PENERBIT BERPESTA

Gaya Obama yang khas inilah, kata Taufiq, yang bisa mengatasi kebosanan orang pada jargon-jargon kampanye publik dengan kapasitasnya yang sudah tidak terlalu menarik lagi
(Ruang Baca, Koran Tempo, Edisi Mei 2008)

Mainlah ke toko-toko buku besar di seantero Jakarta. Seorang bintang baru sedang bersinar terang di sana. Laki-laki berkulit hitam dengan tubuh kurus dan senyum lembut. Wajahnya mendominasi rak-rak buku di deretan buku laris, buku terbaru, dan buku biografi.

Bintang itu bernama Barack Hussein Obama. Pekan-pekan ini, Senator Demokrat yang mewakili Illinois ini kian dekat meretas jalan menuju Gedung Putin. Bahwa laki-laki yang memulai karirnya dari firma hukum ini menjadi magnet dalam sejarah pemilihan presiden Amerika Serikat, itu cerita tersendiri. Tapi, bahwa dalam dunia buku ia ibarat pusaran yang menyedot apa pun yang ada di dekatnya, itu adalah hal yang menarik.

Sepanjang sejarah Amerika, tidak ada calon presiden yang sedemikian besar perhatian publik Indonesia padanya. Tidak juga John E Kennedy, yang memikat dunia dengan ketampanan dan kisah cintanya. Dilihat dari perbandingan jumlah biografinya dengan biografi tokoh lokal sekali pun, mungkin hanya dua bekas presiden Indonesia yang mampu menyainginya. Soekarno dan Soeharto.

Tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa kecil Obama, yang sempat dijalani di Jakarta, menjadi faktor utama banyaknya buku tentang Obama. Penerbit seolah berlomba menyajikan kisah tentang Obama. Ada yang sengaja jauh-jauh hari bertempur memperoleh hak terjemahan asli dari agen Obama nun di Amerika sana untuk menerbitkan biografinya. Ada pula yang . memilih untuk menerbitkan kompilasi artikel tentang kehidupan dan sepak terjang politik Obama atau ada pula yang menerbitkan analisa tentang Obama dari beragam sudut pandang.

Kemasan buku-buku itu lumayan beragam. Penerbit Prima Media, misalnya, mengemas buku Janji-janji Obama dengan halaman berwarna. Sementara penerbit Delokomotif membuat buku Calon Presiden AS Kulit Hitam Pertama dalam ukuran saku dengan harga yang jauh lebih murah dari buku Obama lainnya.

Namun dari semua penerbit, Mizanlah yang paling banyak mengeluarkan buku soal Obama. Kelompok Mizan menerbitkan tiga buku, yakni Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya Muslim Connection karya Anwar Holid, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah, dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan.

Manajer Redaksi Penerbit Mizan, Ahmad Baiquni menilai sosok Obama memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia karena pernah menjalani masa kecil di Jakarta. Latar belakang Obama yang tumbuh dalam keluarga Islam juga dinilainya punya daya tarik sendiri bagi orang Indonesia

”Kita tertarik menerbitkan buku Obama itu karena ada faktor Indonesia dan Islam dalam diri Obama,” kata Baiquni

Sebetulnya ada pilihan untuk menerjemahkan buku yang ditulis sendiri oleh Obama namun Mizan memutuskan mengambil karya karya pengarang lokal. Selain harga jualnya bisa lebih terjangkau masyarakat, Baiquni merasa tulisan Obama sendiri betulnya kurang dekat dengan pembaca Indonesia dan tidak memuat isu-isu mutakhir yang tak kalah menarik.

Alasan kedekatan dengan pembaca itu pula yang membuat Mizan tidak menerbitkan buku calon presiden Amerika yang lain seperti Hillary Clinton atau John McCain. Menurut Baiquni, kedua sosok ini terlalu jauh dari kehidupan di Indonesia.

Baiquni sedari awal juga memprediksi animo. masyarakat terhadap buku Obama. ini akan lumayan baik. Baiquni melihat banyaknya tulisan soal Obama di media massa dan internet adalah pertanda adanya kehausan informasi soal Obama.

Namun respon masyarakat ternyata melebihi perkiraan semula. "Bukunya terjual lebih banyak dari yang kita perkirakan belumnya," ujar Baiquni.

Buku Barack Obama: Kandidat Presi¬den Amerika yang Punya Muslim Connection sudah naik cetak tiga kali sejak dterbitkan enam bulan lalu. Total penjualan buku ini mencapai 15 ribu eksemplar. Sedangkan buku Jangan bunuh Obama! sejauh ini telah terjual 400 eksemplar.

Sementara itu buku Obama: Tentang Amerika, Islam dan Israel sudah naik cetak dua kali. Rata-rata penjualannya sebanyak 70 eksemplar per bulan. Baiquni sadar betu buku-buku ini sangat bergantung pada kesuksesan Obama padaa pemilihan kandidat presiden dari Partai Demokrat. Jika Obama tak berhasil memenangi pemilihan kandidat tersebut maka pamor bakal calon presiden itu akan meredup dan diikuti dengan mandeknya penjualan buku tentangnya.

"Kami sadar betul risiko ini dan sudah memperhitungkan itu," kata Baiquni. Karena itu pula ia mengerem penerbitan buku lain soal Obama sampai ada perkembangan terbaru di negeri Abang Sam.

Yang jelas, lanjutnya, hingga saat ini masyarakat Indonesia masih tertarik dengan sosok Obama. Menurutnya ini tak lepas dari harapan sebagian masyarakat. bahwa Obama akan membawa angin segar dalam kebijakan luar negeri Amerika terutama dalam hubungan negara adidaya tersebut dengan Indonesia.

Penerbit lain yang juga ikut menikmati manisnya femomena Obama ini adalah Ufuk Publishing House. Ufuk termasuk yang paling awal mengendus demam Obama ini. Dan tentu saja menjadi yang pertama menerbitkan bukit asli karya Obama. "Kami membeli hak edarnya dengan harga berdarah-darah, yang terhitung paling tinggi dalam sejarah penerbitan kami," kata Taufiq diiringi tawa berderai.

Buku karya Obama berjudul The Audacity of Hope mereka terbitkan pada April 2007 densan judul Menerjang Harapan;Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Aslinya, buku ini adalah karya kedua yang ditulis Obama pada 2006. Karya pertamanya, Dreans Of My Father, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku pertama ini ditulis Obama 11 tahun sebelum buku keduanya terbit

Pemilihan judul ini, menurut Ahmad Taufiq Haddad, Direktur Marketing Ufuk dilakukan demi menyedot perhatian pembaca. "Belakangan terbukti judul dengan kata "Jakarta" ini memang menjadi daya tarik tersendiri," kata Taufiq, Rabu pekan silam.

Buku yang berisi pemikiran Obama tentang banyak hal, dan itu tidak melulu soal pandangannya tentang politik. Ufuk menilai cara Obama memandang persoalan ini sebagai "apik dan bergairah."

Dengan cara yang menyenangkan, Obama berhasil menyentuh konstituennya. Gaya Obama yang khas inilah, kata Taufiq, yang bisa mengatasi kebosanan orang pada jargon-jargon kampanye publik dengan kapasitasnya yang sudah tidak terlalu menarik lagi.

Buku ini, juga berhasil memperhalus .dirinya.dari sekadar atribut kampanye menjadi kisah hidup yang bisa menginspirasi banyak orang. Segala aspek politik Amerika dan dinamikanya, ekonomi dan permasalahan.global, saling bergantian mencari posisi dengan kisah Obama tentang keluarga besarnya dan anak-anak perempuannya.

Demi menarik minat pembaca Indonesia pula, buku versi Indonesia ini tidak diterbitkan dengan urutan sesuai aslinya. Ufuk memilih untuk menempatkan bab tentang Indonesia di bagian depan.

Usaha ini tidak sia-sia. Sejak cetakan pertama pada tahun silam, bulan ini buku Obama ini sudah masuk hitungan cetakan ke lima. Untuk buku dengan tampilan mewah hard-cover dengan harga yang dibanderol seratusan ribu rupiah, cetak ulang sebanyak itu terhitung fenomena. '

Ketika Ufuk menjalin kerjasama dengan Digibook untuk menerbitkan versi digital buku-buku mereka, buku Obama termasuk yang menjadi pilihan mereka. "Ini buku unggulan dan rasanya cocok dengan selera mereka yang menggunakan layanan e-book," kata Taufiq soal alasan pemilihan buku ini.

Meski demikian, menurut Bakar Bilfagih, Direktur Produksi dan Editorial Ufuk, banyak kalangan pembaca yang belum "tersentuh" oleh buku ini. "Mereka adalah kalangan mahasiswa, yang menilai harga buku ini belum terjangkau," katanya.

Untuk itu, dalam sepekan dua pekan ini, Bakar berharap mereka sudah bisa meluncurkan versi paper-back yang terjangkau harganya.”Sekitar 50% lebih murah dari versi hard covernya,” katanya.

Tidak hanya mencetak edisi yang lebih terjangkau kocek, Ufuk juga memanfaatkan momen yang singkat dan berkejaran dengan waktu ini, dengan menggelar launching buku. "Kalau diluncurkan sekarang, gemanya mungkin lebih kuat," kata Taufiq.

Keinginan untuk menggelar launching buku ini, menurut Bakar, juga dirasa pas karena saat ini perkembangan berita tentang Obama semakin menarik untuk diamati. "Jadi, mau dibicarakan dari sudut buku dan politiknya. Soal Obama ini memang sangat menarik,” kata Bakar

. •OHUWHDJHA.WCUNAi






Tuesday, June 03, 2008


Buku ini menunjukkan pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri -kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas

(Ruang Baca, Koran Tempo, Ed.50, Mei 2008)

Sedemikian banyak buku tentang Obama, pada dasarnya semua terpusat pada cerita tentang kedekatan Obamadengan Indonesia, serta analisa kebijakan politiknya. Banyak yang menilai sedikit banyaknya kedekatan masa lalu Obama dengan Indonesia ikut mempengaruhi pandangannya tentang dunia Islam dan Muslim. Uniknya, ada satu buku yang menakar nasib apa yang akan menimpa Obama jika ia jadi presiden Amerika Serikat. Termasuk kemungkinan terbunuhnya Obama.

Kecuali satu buku terbitan Ufuk Press yang diterjemahkan dari buku berbahasa Inggris karya asli Obama, buku-buku lain yang beredar di toko buku adalah karya penulis lokal. Sebagian ditulis dengan bersandar pada penelusuran dan wawancara dengan orang-orang yang berkaitan dengan masa kecil Obama, sebagian lainnya berupa kompilasi dari beragam artikel tentang Obama.

Kami ajak Anda melongok isi buku tentang Obama itu.

Judul buku : MENERJANG HARAPAN: DARI JAKARTA MENUJU GEDUNG PUTIH
Penulis : Barack Obama
Penerbit : Ufuk Press
Tahun terbit ::2007

Ini buku kedua karya Obama, namun buku pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku hard-cover ini aslinya diluncurkan pada 2006, ketika Obama memastikan diri sebagai salah satu kandidat dari partai Demokrat untuk berlaga menuju Gedung Putih. Setahun kemudian, Ufuk mendapat hak edarnya dalam bahasa Indonesia.

Buku setebal 527 halaman ini berisi gagasan, pikiran, dan pandangan pria kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961 ini. Bab tentang Indonesia ditaruh paling depan di bawah judul, Dunia di Luar Tapal Batas Kita. Ufuk sengaja memilih strategi ini agar pembaca Indonesia yang punya ikatan emosi dengan kisah Obama bisa langsung menikmati cerita masa kecilnya di Jakarta.

Diterjemahkan dari edisi aslinya,The Audacity of Hope, yang diambil dari frasa yang kerap digunakan Obama saat ia berkampanye,buku ini diterbitkan Ufuk Press dengan judul Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Keputusan penerbit untuk memilih sub-judul yang memikat ini terbukti jitu mengingat kedekatannya dengan Indonesia.

Buku ini dibuka dengan bab kenangan masa kecil Barry -panggilan Obama di Jakarta saat ia berusia 6 hingga 10 tahun. la ikut sang ibu, Ann Dunham ke Jakarta setelah menikah lagi dengan Seotoro, usai berpisah dengan ayah kandung Obama, barack Hussein Obama Senior.

Dalam bab Dunia di Luar Tapal Batas Kita itu, Obama bercerita bagaimana keluarganya hidup serba sederhana, tapi dalam situasi yang menyenangkan. Sedemikian sederhananya, ayah tiri dan ibunya tidak mampu menyekolahkan Obama ke sekolah internasional bagi anak ekspatriat. Jadilah Obama bersekolah di sekolah negeri dan berbaur dengan anak-anak tukang jahit, petani, dan pelayan.

Soal terorisme juga menarik perhatian Obama. la menulis kenangannya akan Bali saat berbicara tentang terorisme. la menyebut keinginannya untuk kembali ke Indonesia dan Bali, namun dunia yang mengecil karena kemudahan teknologi justru membuat Obama melihat "Indonesia terasa lebih jauh sekarang dibandingkan tiga puluh tahun yang lalu."

Buku ini menunjukkan pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri -kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas ("apa yang tidak dapat saya dukung adalah sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melainkan oleh nafsu, yang bukan didasari oleh prinsip, melainkan oleh politik").

Berganti-ganti dengan kisah tentang kehidupan pribadinya, Obama juga menyelinapkan pikiran dan pandangannya tentang nilai-nilai terus berubah: orang tua tunggal, peliknya bertahan dengan satu penghasilan, istri yang keluar rumah untuk menunjang penghasilan keluarga, isu aborsi, dan persoalan pernikahan sejenis, yang menjadi isu sensitif bagi kalangan Republiken. • ANGELA

Tuesday, March 25, 2008

ALAN GREENSPAN;SOSOK DIBALIK GEJOLAK EKONOMI DUNIA

• Penulis: Bob Woodward
• Penerbit: Ufuk Publishing House
• Cetakan: I, Maret 2008

Presiden Amerika Serikat boleh gonta-ganti, tapi belum ada yang bisa menandingi Alan Greenspan di dunia moneter negeri itu. Dalam empat periode kepresidenan, ia menduduki jabatan bergengsi itu berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter (Koran Tempo, 23-Maret-2008)

Presiden Amerika Serikat boleh gonta-ganti, tapi belum ada yang bisa menandingi Alan Greenspan di dunia moneter negeri itu, Dalam empat periode kepresidenan, ia menduduki jabatan bergengsi itu berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter. Greenspan pertama kali ditunjuk sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.

Catalan prestasi Greenspan, antara lain, keberhasilannya menangani krisis pasar Black Monday, merebaknya bisnis Internet dotcom, gelembung pasar saham Maret 2000, serta resesi akhir 2000 dan 2002.

Analisis yang tajam dan akurat membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Sampai ada guyonan, batuk Greenspan saja bisa mempengaruhi gejolak ekonomi dunia.

Buku ini mengupas tuntas sepak terjang Greenspan sebagai ketua bank sentral Amerika lengkap dengan konflik dan intrik pembuatan keputusan bank sentral itu dan bagaimana Greenspan menghadapinya. Di buku ini Greenspan disebut suka ber-debat secara intelek, terobsesi oleh data-data ekonomi, dan mudah tersinggung kepada mereka yang meragukan kekuatan politik. •

UTAMIWIDOWATI

Wednesday, March 05, 2008




GADIS RIYADH MENCARI CINTA


Jatuh-bangun mencari cinta, keempat sahabat ini tak kapok mencari cinta platonik mereka. Beragam cara, jalan, dan jalur mereka tempuh untuk mencari tambatan hati. Sampai pada satu titik, intervensi yang luar biasa dari keluarga besar menghancurkan semua bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan (Koran Tempo, Maret 2008)

Kalau saja lokasi ceritanya bukan di Arab Saudi, novel ini pasti sudah masuk ranah novel chicklit biasa . Garis besar ceritanya tak jauh-jauh dari kisah gadis-gadis dari keluarga makmur di awal usia 20-an tahun, yang mengejar pendidikan tinggi, karier, dan cinta sejati. Apalagi ketika tahu penulisnya perempuan, saya sudah berprasangka duluan, novel ini pastilah sangat girly.

Tapi, karena sepak terjang tokoh-tokoh novel itu berlangsung di Arab Saudi — yang terinspirasi oleh ide Muhammad bin Atadul Wahhab (1703-1792) dalam menegakkan Islam di setiap laku bernegara dan bermasyarakat— karya perdana Al-Sanea ini menggoda lebih dari chicklit populer. Kisahnya pun diadopsi dari kisah nyata empat sobat Al-Sanea dengan nama yang disamarkan.

Cerita dalam The Girls of Riyadh pertama kali beredar di Internet pada 2004. Setiap pekan, sehabis salat Jumat, Al-Sanea mengirim surat elektronik bersambung kepada teman-teman dunia mayanya. Pada 2005 rangkaian tulisan tentang empat sahabat tersebut dikumpulkan menjadi sebuah novel berbahasa Arab yang membuat marah penguasa Kerajaan Saudi.

Empat gadis Riyadh itu adalah Qamrah, Shedim, Michelle, dan Lumeis. Keempat perempuan rupawan ini adalah sahabat dalam suka dan duka. Qamrah dan Shedim berteman sejak kelas II SD. Saat kelas II SMA, mereka mendapat teman baru bernama Michelle alias Masya'il, yang beribu orang Amerika. Karena kendala bahasa, Michelle pindah ke sekolah internasional dan berkenalan dengan Lumeis.

Empat sekawan ini bukanlah gadis-gadis yang sangat saleh. Sedikit alkohol di malam "pesta bujang" Qamrah bukan masalah buat mereka. Di antara mereka, Qamrahlah yang paling dulu menikah dengan pria pilihan keluarganya, Rasyid, mahasiswa program doktoral teknik elektronika di San Francisco, Amerika. Meski tanpa cinta, ia bertekad meninggalkan kuliahnya demi mengabdikan hidup untuk sang suami.

Dalam "pesta bujang" itu, Michelle berkenalan dengan pria tampan bernama Faishal. Tak lama setelah Qamrah menikah, Shedim dilamar oleh Walid, pegawai eselon II. Akan halnya Lumeis, dimasa magang kuliahnya di kedokteran umum di rumah sakit di Jeddah, bertemu dengan sesama peserta magang dari kampus lain, Nizar, Tak sampai tiga bulan berkenalan, Nizar melamar Lumeis.

Namun, satu per satu kisah cinta mereka runtuh dihantam badai. Selingkuh, kawin paksa, tidak direstui keluarga, pria yang tidak punya sikap, dan perbedaan pemahaman agama menjadi sebab padamnya lilin cinta mereka. Al-Sanea menggerutu, ”Di masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan.”

Lewat keempat tokoh ini, Al-Sanea menumpahkan pula keluh-kesahnya. Bahwa bagi perempuan-perempuan, perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal, dan dukacita. Karena itu, masing-masing berharap menjadi orang yang terakhir menyusul Qamrah.

Jatuh-bangun mencari cinta, keempat sahabat ini tak kapok mencari cinta platonik mereka. Beragam cara, jalan, dan jalur mereka tempuh untuk mencari tambatan hati. Sampai pada satu titik, intervensi yang luar biasa dari keluarga besar menghancurkan semua bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan.

Dalam perjalanan penuh keprihatinan, seorang dari mereka akhirnya menemukan bahwa tidak selalu perlu cinta untuk memutuskan menerima orang lain. Juga tidak harus selalu orang "nomor satu" yang menjadi pendamping hidup, ia harus puas bersanding dengan lelaki yang "lebih rendah".

Kalau sudah begini, jalan manakah yang benar? Jalan yang membawa ke menara kebahagiaan. Cinta yang menggebu-gebu, penuh hasrat, ataukah cinta yang tumbuh pelan-pelan dari biji yang disemai ? Keduanya tidak salah. Shedim menemukan jawabannya dan Lumeis juga.

Benarlah kiranya buah kata penyair kontemporer Suriah, Nizar Qabbani (1923-1998), "Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, ku tak akan mencinta. Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut. Kalau kutahu akhir semua kisah, takkan mungkin kumulai merajutnya.”

Sunday, February 24, 2008

07 I KORAN TEMPO JUMAT, FEBRUARI 2008

MEMBACA NOVEL DI LAPTOP

Dunia sungguh tak adil," Begitulah yang ada di pikiran Arifin. Lelaki yang tinggal di balik Bukit Parung Kuda, Sukabumi, itu begitu menginginkan buku-buku bermutu, seperti Barack Obama, Laskar Pelangi, atau Jeff Bezos, pendiri Amazon.com. Tapi apa daya, kota itu terlalu kecil untuk disinggahi toko buku yang memajang buku-buku baik.

"Susah cari buku di sini," kara Arifin mengeluh.

Untunglah, keluhannya itu kini terjawab. Bukan lantaran di kota itu kini telah hadir toko buku bermutu, melainkan karena ia kini bisa membeli buku elektronik (e-book) secara online untuk dihaca di komputer.

Buku-buku elektronik itu bisa diakses lewat situs http://www.digibookgallery.com. Banyak penerbit yang sudah bekerja sama membuat buku elektronik, di antaranya Grup Mizan, Ufuk Press, babkan pcnerbit cerita silat Wastu Laras Grafika juga ikut

Mizan Grup adalah salah satu contoh penerbit yang bersemangat menggarapnya. Perusahaan. dengan sederet penerbit di bawah payungnya itu telah menyiapkan sekitar 80 buku elektronik.. Maret nanti, kata Putut Widjanarko, Vice President Operations Mizan Publika—divisi Mizan yang menangani segmen new media, scperti e-book, novel di telepon seluler, dan talking book—koleksi buku elektronik Mizan akan mencapai 100 buku. Buku Grup Mizan yang sudah disulap menjadi buku elektronik di antaranya Laskar Pelangi, Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca, Barack Hussein Ohama, dan Hermawan Kartajaya on Brand. The Road to CEO.

"Jadi buku Mizan bisa dibaca dan mana saja," kata Putut
.
Upaya Mizan menerbitkan e-book ini sebenarnya telah dirintis sejak 2001. Saat itu mereka merilis buku elektronik yang gratis diunduh di situs Ekuator.com. Ternyata penggemar buku elektronik cukup banyak. "Server kami sampai down"

Kesuksesan ini yang kini mengilhami Mizan menggandeng Digibook. Buku-buku elektronik itu bisa diunduh lewat situs http://www.digibookgalerry.com. Buku elektronik ini menggunakan format kbusus, bukan format PDF ala Acrobat Reader, sehingga sulit dibajak. Software pembaca bukunya disediakan gratis.

Harganya? "Dijamin iebih hemat," kata Putut. Rata-rata harganya separuh dari buku versi cetak. Novel Laskar Pelangi, misalnya, versi digitalnya dijual seharga Rp 28.800. Bandingkan dengan edisi cetaknya, yang mencapai Rp 48 ribu
.
Buku yang sudah dibeli, kata Putut, hanya bisa dipasang di satu komputer, Lalu bagaimana kalau komputer crash ? "Ya, hilang. Anggap saja seperti beli buku biasa, lalu jatuh ke got," ujar Putut.

Bagi penulis buku elektronik, ini juga sebuah tantangan baru. Mizan, misalnya, menurut Putut, berani menawarkan royalti yang bisa berbeda dengan edisi cetak. "Wah, ini benar-benar tawaran mcnarik," kata Onno W. Purbo, pakar Internet yang telah menulis 10 buku.

Bakal berhasilkah langkah digibookgalerry.com ini? Putut tak bisa memberi gambaran. Namun, kata dia, era konvergensi media kini telah tiba. Layar monitor atau LCD kini telah berkembang luar biasa hebatnya. Sampai-sampai ada peranti pembaca buku elektronik, seperti Kindle keluaran Amazon.com, yang bisa dibaca di bawab sinar matahari terik.

"Saat peluncuran Kindle, hanya dalam waktu lima setengah jam laku terjual," kata Putut. la buru-buru menambahkan, penjualan buku elektronlk di Indonesia mungkin belum sedahsyat itu, tapi demam seperti itu bakal segera tiba. • burhan


Wednesday, February 13, 2008



KISAH TRAGIS DIBALIK KEMAJUAN CHINA


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penjelasan di atas, buku Chen dan Wu ini memperlihatkan sebuah penolakan terhadap kebangkitan Cina. Buku ini adalah penawar terhadap berbagai gembar-gembor dukungan yang dilakukan oleh banyak pakar Cina belakangan ini. Chen dan Wu menyajikan pandangan dari bawah, dan sisi gelap, kekuatan ekonomi Cina (Koran Tempo, 10-2-2008)



Cina kini memegang posisi strategis dalam pertarungan ekonomi dan polltik global. Penetrasi negara itu terlihat dengan menjamurnya produk Cina di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Indonesia. Lihat saja, berbagai produk yang tersebar di negara ini pasti mayoritas berlabel "Made in China".

Suatu ketika, tatkata Cina masih tertinggal dari negara lain, Deng Xiaoping berujar, "Kucing hitam atau kucing putih, yang penting adalah kucing yang bisa menangkap tikus.'? Kata tersebut bisa ditafsirkan bahwa Cina sudah tidak mempersoalkan ideologi apa pun, yang penting mampu mengangkat harga dirinya.

Michael Potter, penulis Competitive Advantage of Nation (1990), mengatakan perubahan drastis Cina dikarenakan mereka memiliki kultur produktivitas. Kultur ini bangkit dari luapan memori masa lalu yang suram manakala Cina kalah dalam Perang Candu pada 1840. Cina tak kuasa menahan gempuran kapitalisme intemasipnal yang digalang ne-gara-negara Barat.

Perang ini benar-benar memberi pelajaran penting bagi Cina, sehingga muncul semangat bersaing dan tak ingin dipermalukan untuk kedua kalinya. Hasilnya, Cina sekarang bukan lagi negara yang terisolasi, bukan lagi negara gagap teknologi.

Ada lima faktor yang menunjang sukses Cina, yakni desentralisasi, "marketisasi", diversirikasi kepemilikan, liberalisasi, dan internasionalisasi. Desentralisasi yang dilakukan Cina terutama dalam hal kontrol politik. Pemimpin desa yang dulu ditunjuk partai kini dipilih warga desa.

Peraih Nobel Joseph Stiglizt dalam bukunya Globalization and /ts Discontent menyatakan, untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan, Cina mendahulukan kompetisi perusahaan-perusahaan baru dan lapangan kerja, sedangkan privatisasi dan restrukturisasi .dari perusahaan ditunda.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penjelasan di atas, buku Chen dan Wu ini memperlihatkan sebuah penolakan terhadap kebangkitan Cina. Buku ini adalah penawar terhadap berbagai gembar-gembor dukungan yang dilakukan oleh banyak pakar Cina belakangan ini. Chen dan Wu menyajikan pandangan dari bawah, dan sisi gelap, kekuatan ekonomi Cina

Dalam buku ini, Anda akan menemukan karakter-larakter yang tidak punya suara dalam hiruk-pikuk kebangkitan Cina. Fakta-fakta yang disampaikan di sini hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari "wilayah-wilayah terlarang" yang menakutkan. Di wilayah ini terjadi kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang telah disembunyikan rapat-rapat dari publik.

Buku Chen dan Wu juga membantu kita memandang kebijakan Komunis terbaru dalam perspektif yang sebenarnya. Chen dan Wu mengambil bahan buku mereka dari kampung halaman mereka, Provinsi An-hui Sebuah provinsi termiskin di Cina.. Bertahun-tahun setelah sebagian besar Cina terbuka bagi pelancong Barat, orang asing dilarang mendatangi Anhui karena pemerintah tidak ingin mereka melihat kemiskinan di sana

Buku setebal 362 halaman ini merupakan kumpulan cerita nyata yang ditulis oleh sepasang suami-istri. Mereka nekat menulis dan mempublikasikan kisah-kisah yang menggambarkan kebobrokan pemerintah wilayah yang tidak berpihak kepada petani kecil.

Berkat kaiyanya itu, kedua penulis Chen Guidi dan Wu Chuntao mendapat penghar-gaan dari Contemporary Age sebagai reportase yang inovatif. Buku ini sempat dilarang beredar di Cina karena dianggap sebagai provokator untuk rakyat memberontak dan membenamkan citra Cina di mata dunia.

Buku ini bercerita, di balik semua kesuksesan pembangunan, ternyata praktek otoriter, premanisme, penindasan, dan nepotisme merebak di desa-desa dan yang menjadi korbannya adalah para petani. Diceritakan juga perjuangan para petani dalam mem-perjuangkan keadilan dan nasib mereka di tengah-tengah penindasan fisik dan impitan pajak yang melambung.

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang terdapat di Cina. Sebuah provinsi yang saking miskinnya hingga tidak boleh dikunjungi pihak luar kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu,

Tidak kecil masalah yang mereka hadapi akibat menerbitkan buku ini edisi resminya dilarang beredar di Cina, ' salah satu bab yang membahas "kejahatan" seorang pejabat membuat mereka dikenai tuduhan pencemaran nama baik dan dimejahijaukan, ru- < mah mereka dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal selama lebih dari 20 hari berturut-turut, dan petugas keamanan tidak menghiraukan permintaan mereka untuk dilindungi. Chen Guidi juga disuruh mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta disampaikan dengan ermainan plot, deskripsi, yang benar-benar mendekatkan pembaca dengan latar belakang dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog yang semakin memudahkan pembaca mcmbavangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Revolusi Cina yang dideangang-dengungkan sebagai bentuk reformasi ternyata merupakan bencana bagi mayoritas masyarakat Cina

Saturday, January 26, 2008



Seorang Pembaru Bernama Obama

Buku ini menunjukkan bagaimana pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri—kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu—hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas(Koran Tempo-2007)

Bintang rock itu bernama Obama. Semua lampu kamera dan perhatian publik kini mengarah padanya. Pintar (keluaran Harvard), muda, bersuara bariton dengan intonasi yang terjaga dan pilihan kata yang selalu jitu, serta sentuhan darah Afro-Amerika, Obama sudah memenuhi untuk menjadi idola. la kini sedang berdiri di panggung pertunjukan besar poli­tik Amerika. Targetnya satu : Kursi kepresidenan.

buku yang memuat pikiran senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat untuk Illionois ini menunjuk­kan satu lagi kepiawaian laki-laki kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961 itu: menulis. Ketimbang memilih bahasa retorik, Obama justru memasukkan selera hidupnya yang menyenangkan serta contoh-contoh yang langsung menohok perhatian Kelihaiannya memilih kalimat itu mungkin sudah terasah ketika ia menjadi presiden Afrika-Amerika pertama kalinya pada jurnal bergengsi, Harvard Law Reviewed.

Diterjemahkan dari edisi aslinya, The Audacity of Hope, yang diambil dari frase yang kerap digunakan Obama saat ia berkampanye, buku ini diterbitkan Ufuk Press dengan judul Menerjang Harapan: Dari Ja-karta Menuju Gedung Putih. Keputusan penerbit untuk memilih sub-1 judul yang memikat ini mungkin saja jitu (di luar judul utamanya yang terdengar agak aneh) mengingat kedekatannya dengan Indonesia.

Ketika nama Obama naik ke panggung politik setelah ia terpilih sebagai senator pada 2004, publik Indonesia sudah memperhatikannya. Masa kecilnya di Indonesia dan pikiran-pikiran demokratnya yang jelas berseberangan dengan rezim Bush, terutama hal-hal yang menyangkut perasaan kornunitas muslim—termasuk soal Irak dan Timur Tengah—adalah daya pikat Obama.

Buku ini dibuka dengan bab ke­nangan masa kecil Berry-Panggilan Obama—di Jakarta saat ia ber­usia 6 hingga 10 tahun. Pemilihan bab ini sebagai pembuka—berbeda dengan urutan versi aslinya—lagi-lagi pilihan yang jitu. Dalam banyak berita sudah pernah diceritakan bahwa Berry kecil ikut ibunya, Ann Dunham, warga Amerika berkulit putih yang menikah lagi dengan se­orang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro, ke Jakarta. Masa kecil di Jakarta pada awal berkuasanya Orde Baru rupanya berkesan betul di benak Obama.

Dalam bab Dunia di Luar Tapal Batas Kita itu, Obama bercerita ba­gaimana keluarga serba sederhana, tapi dalam situasi yang menyenangkan. la bahkan menyebut sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, Kami tidak mempunyai mobil—ayah tiri saya mengen-darai sepeda motor, sedangkan ibu saya naik bus jurusan lokal setiap pagi ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris, Tak punya uang un-tuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya berseko­lah di sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis

Sebagai seorang bocah berusia tujuh tahun atau delapan tahun hal ini tidak terlalu merisaukan saya: Saya ingat tahun.itu sebagai masa-masa yang menyenangkan, penuh dengan petualangan dan misteri-hari-hari mengejar-ngejar ayam dan berlari menghindari kerbau, malam-malam menonton wayang kulit dan kisah-kisah hantu serta penjual kaki lima yang menjajakan gula-gula yang lezat ke rumah kami.

Obama juga menyinggung kerisauannya akan isu terorisme dan menariknya kedalam kenangan saat ia berada di Bali

“Di sebuah pantai, hanya beberapa mil dari tempat pengeboman itulah saya tinggal untuk terakhir kalinya saat mengunjungi Bali. Ketika saya emmikirkan pulau itu, dan seluruh Indonesia, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan...Saya ingin mengajak Michelle dan anak anak perempuaj saya yang itu....”

Di luar isu tentang Indonesia, Obama membuktikan dirinya seba­gai pembaca, pemerhati, dan pembicara ulung, di balik bungkusan pakaian politikus yang ia kenakan. Dalam sejarah Amerika, tidak banyak memang politikus—kemudian berangkat menuju pertarungan ke-presidenan—yang menguasat banyak hal sekaligus. Bahkan tidak Franklyn D. Roosevelt sekalipun.

Buku ini menunjukkan bagaimana pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri—kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu—hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir- dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas ("apa yang tidak dapat saya dukung adalah sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melamkan oleh nafsu, yang bukan didasari oleh prinsip, melainkan oleh politik").

Dengan pandangannya yang mungkin mencengangkan dan membikin gusar kubu Republiken, Oba­ma juga menyorot bagaimana nilai-nilai terus berubah: orang tua tunggal, peliknya bertahan dengan satu penghasilan, istri yang keluar dari rumah untuk menunjang penghasil­an keluarga, isu aborsi, dan persoalan pernikahan sejenis.

Dengan cara sama memikatnya— dan ini mungkin bagian terbaik da­ri buku tersebut—Obama menyorot hubungannya dengan banyak sena­tor dan lawan politiknya. Dengan gaya satire, ia menggambarkan ba­gaimana suatu kali ia bersua dengan Presiden George W. Bush di suatu kesempatan di musim dingin. Bush menggenggam tangannya dengan hangat dan mereka terlibat percakapan sesaat. Tidak lama kemudian, seorang anggota staf menyorongkan cairan pencuci tangan dan memoleskannya ke telapak tangan sang presiden. Dengan wajah tanpa ekspresi ia berkata, "Ini lumayan membantu untuk menghangatkan ta­ngan di musim dingin."

Buku yang mengena di hati kaum muda dan kelas menengah Amerika ini menunjukkan kualitas Obama— di luar tentu saja ambisinya yang berapi-api untuk maju ke pemilihan presiden pada 2008—sebagai sosok yang berwarna dengan ide pembaruan. Sebuah penawar yang segar di tengah kejenuhan orang pada rezim Bush yang membikin lelah































Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes