
OBAMA BERKAMPANYE, PENERBIT BERPESTA
Gaya Obama yang khas inilah, kata Taufiq, yang bisa mengatasi kebosanan orang pada jargon-jargon kampanye publik dengan kapasitasnya yang sudah tidak terlalu menarik lagi
(Ruang Baca, Koran Tempo, Edisi Mei 2008)
(Ruang Baca, Koran Tempo, Edisi Mei 2008)
Mainlah ke toko-toko buku besar di seantero Jakarta. Seorang bintang baru sedang bersinar terang di sana. Laki-laki berkulit hitam dengan tubuh kurus dan senyum lembut. Wajahnya mendominasi rak-rak buku di deretan buku laris, buku terbaru, dan buku biografi.
Bintang itu bernama Barack Hussein Obama. Pekan-pekan ini, Senator Demokrat yang mewakili Illinois ini kian dekat meretas jalan menuju Gedung Putin. Bahwa laki-laki yang memulai karirnya dari firma hukum ini menjadi magnet dalam sejarah pemilihan presiden Amerika Serikat, itu cerita tersendiri. Tapi, bahwa dalam dunia buku ia ibarat pusaran yang menyedot apa pun yang ada di dekatnya, itu adalah hal yang menarik.
Sepanjang sejarah Amerika, tidak ada calon presiden yang sedemikian besar perhatian publik Indonesia padanya. Tidak juga John E Kennedy, yang memikat dunia dengan ketampanan dan kisah cintanya. Dilihat dari perbandingan jumlah biografinya dengan biografi tokoh lokal sekali pun, mungkin hanya dua bekas presiden Indonesia yang mampu menyainginya. Soekarno dan Soeharto.
Tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa kecil Obama, yang sempat dijalani di Jakarta, menjadi faktor utama banyaknya buku tentang Obama. Penerbit seolah berlomba menyajikan kisah tentang Obama. Ada yang sengaja jauh-jauh hari bertempur memperoleh hak terjemahan asli dari agen Obama nun di Amerika sana untuk menerbitkan biografinya. Ada pula yang . memilih untuk menerbitkan kompilasi artikel tentang kehidupan dan sepak terjang politik Obama atau ada pula yang menerbitkan analisa tentang Obama dari beragam sudut pandang.
Kemasan buku-buku itu lumayan beragam. Penerbit Prima Media, misalnya, mengemas buku Janji-janji Obama dengan halaman berwarna. Sementara penerbit Delokomotif membuat buku Calon Presiden AS Kulit Hitam Pertama dalam ukuran saku dengan harga yang jauh lebih murah dari buku Obama lainnya.
Namun dari semua penerbit, Mizanlah yang paling banyak mengeluarkan buku soal Obama. Kelompok Mizan menerbitkan tiga buku, yakni Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya Muslim Connection karya Anwar Holid, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah, dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan.
Manajer Redaksi Penerbit Mizan, Ahmad Baiquni menilai sosok Obama memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia karena pernah menjalani masa kecil di Jakarta. Latar belakang Obama yang tumbuh dalam keluarga Islam juga dinilainya punya daya tarik sendiri bagi orang Indonesia
”Kita tertarik menerbitkan buku Obama itu karena ada faktor Indonesia dan Islam dalam diri Obama,” kata Baiquni
Sebetulnya ada pilihan untuk menerjemahkan buku yang ditulis sendiri oleh Obama namun Mizan memutuskan mengambil karya karya pengarang lokal. Selain harga jualnya bisa lebih terjangkau masyarakat, Baiquni merasa tulisan Obama sendiri betulnya kurang dekat dengan pembaca Indonesia dan tidak memuat isu-isu mutakhir yang tak kalah menarik.
Alasan kedekatan dengan pembaca itu pula yang membuat Mizan tidak menerbitkan buku calon presiden Amerika yang lain seperti Hillary Clinton atau John McCain. Menurut Baiquni, kedua sosok ini terlalu jauh dari kehidupan di Indonesia.
Baiquni sedari awal juga memprediksi animo. masyarakat terhadap buku Obama. ini akan lumayan baik. Baiquni melihat banyaknya tulisan soal Obama di media massa dan internet adalah pertanda adanya kehausan informasi soal Obama.
Namun respon masyarakat ternyata melebihi perkiraan semula. "Bukunya terjual lebih banyak dari yang kita perkirakan belumnya," ujar Baiquni.
Buku Barack Obama: Kandidat Presi¬den Amerika yang Punya Muslim Connection sudah naik cetak tiga kali sejak dterbitkan enam bulan lalu. Total penjualan buku ini mencapai 15 ribu eksemplar. Sedangkan buku Jangan bunuh Obama! sejauh ini telah terjual 400 eksemplar.
Sementara itu buku Obama: Tentang Amerika, Islam dan Israel sudah naik cetak dua kali. Rata-rata penjualannya sebanyak 70 eksemplar per bulan. Baiquni sadar betu buku-buku ini sangat bergantung pada kesuksesan Obama padaa pemilihan kandidat presiden dari Partai Demokrat. Jika Obama tak berhasil memenangi pemilihan kandidat tersebut maka pamor bakal calon presiden itu akan meredup dan diikuti dengan mandeknya penjualan buku tentangnya.
"Kami sadar betul risiko ini dan sudah memperhitungkan itu," kata Baiquni. Karena itu pula ia mengerem penerbitan buku lain soal Obama sampai ada perkembangan terbaru di negeri Abang Sam.
Yang jelas, lanjutnya, hingga saat ini masyarakat Indonesia masih tertarik dengan sosok Obama. Menurutnya ini tak lepas dari harapan sebagian masyarakat. bahwa Obama akan membawa angin segar dalam kebijakan luar negeri Amerika terutama dalam hubungan negara adidaya tersebut dengan Indonesia.
Penerbit lain yang juga ikut menikmati manisnya femomena Obama ini adalah Ufuk Publishing House. Ufuk termasuk yang paling awal mengendus demam Obama ini. Dan tentu saja menjadi yang pertama menerbitkan bukit asli karya Obama. "Kami membeli hak edarnya dengan harga berdarah-darah, yang terhitung paling tinggi dalam sejarah penerbitan kami," kata Taufiq diiringi tawa berderai.
Buku karya Obama berjudul The Audacity of Hope mereka terbitkan pada April 2007 densan judul Menerjang Harapan;Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Aslinya, buku ini adalah karya kedua yang ditulis Obama pada 2006. Karya pertamanya, Dreans Of My Father, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku pertama ini ditulis Obama 11 tahun sebelum buku keduanya terbit
Pemilihan judul ini, menurut Ahmad Taufiq Haddad, Direktur Marketing Ufuk dilakukan demi menyedot perhatian pembaca. "Belakangan terbukti judul dengan kata "Jakarta" ini memang menjadi daya tarik tersendiri," kata Taufiq, Rabu pekan silam.
Buku yang berisi pemikiran Obama tentang banyak hal, dan itu tidak melulu soal pandangannya tentang politik. Ufuk menilai cara Obama memandang persoalan ini sebagai "apik dan bergairah."
Dengan cara yang menyenangkan, Obama berhasil menyentuh konstituennya. Gaya Obama yang khas inilah, kata Taufiq, yang bisa mengatasi kebosanan orang pada jargon-jargon kampanye publik dengan kapasitasnya yang sudah tidak terlalu menarik lagi.
Buku ini, juga berhasil memperhalus .dirinya.dari sekadar atribut kampanye menjadi kisah hidup yang bisa menginspirasi banyak orang. Segala aspek politik Amerika dan dinamikanya, ekonomi dan permasalahan.global, saling bergantian mencari posisi dengan kisah Obama tentang keluarga besarnya dan anak-anak perempuannya.
Demi menarik minat pembaca Indonesia pula, buku versi Indonesia ini tidak diterbitkan dengan urutan sesuai aslinya. Ufuk memilih untuk menempatkan bab tentang Indonesia di bagian depan.
Usaha ini tidak sia-sia. Sejak cetakan pertama pada tahun silam, bulan ini buku Obama ini sudah masuk hitungan cetakan ke lima. Untuk buku dengan tampilan mewah hard-cover dengan harga yang dibanderol seratusan ribu rupiah, cetak ulang sebanyak itu terhitung fenomena. '
Ketika Ufuk menjalin kerjasama dengan Digibook untuk menerbitkan versi digital buku-buku mereka, buku Obama termasuk yang menjadi pilihan mereka. "Ini buku unggulan dan rasanya cocok dengan selera mereka yang menggunakan layanan e-book," kata Taufiq soal alasan pemilihan buku ini.
Meski demikian, menurut Bakar Bilfagih, Direktur Produksi dan Editorial Ufuk, banyak kalangan pembaca yang belum "tersentuh" oleh buku ini. "Mereka adalah kalangan mahasiswa, yang menilai harga buku ini belum terjangkau," katanya.
Untuk itu, dalam sepekan dua pekan ini, Bakar berharap mereka sudah bisa meluncurkan versi paper-back yang terjangkau harganya.”Sekitar 50% lebih murah dari versi hard covernya,” katanya.
Tidak hanya mencetak edisi yang lebih terjangkau kocek, Ufuk juga memanfaatkan momen yang singkat dan berkejaran dengan waktu ini, dengan menggelar launching buku. "Kalau diluncurkan sekarang, gemanya mungkin lebih kuat," kata Taufiq.
Keinginan untuk menggelar launching buku ini, menurut Bakar, juga dirasa pas karena saat ini perkembangan berita tentang Obama semakin menarik untuk diamati. "Jadi, mau dibicarakan dari sudut buku dan politiknya. Soal Obama ini memang sangat menarik,” kata Bakar
. •OHUWHDJHA.WCUNAi
Bintang itu bernama Barack Hussein Obama. Pekan-pekan ini, Senator Demokrat yang mewakili Illinois ini kian dekat meretas jalan menuju Gedung Putin. Bahwa laki-laki yang memulai karirnya dari firma hukum ini menjadi magnet dalam sejarah pemilihan presiden Amerika Serikat, itu cerita tersendiri. Tapi, bahwa dalam dunia buku ia ibarat pusaran yang menyedot apa pun yang ada di dekatnya, itu adalah hal yang menarik.
Sepanjang sejarah Amerika, tidak ada calon presiden yang sedemikian besar perhatian publik Indonesia padanya. Tidak juga John E Kennedy, yang memikat dunia dengan ketampanan dan kisah cintanya. Dilihat dari perbandingan jumlah biografinya dengan biografi tokoh lokal sekali pun, mungkin hanya dua bekas presiden Indonesia yang mampu menyainginya. Soekarno dan Soeharto.
Tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa kecil Obama, yang sempat dijalani di Jakarta, menjadi faktor utama banyaknya buku tentang Obama. Penerbit seolah berlomba menyajikan kisah tentang Obama. Ada yang sengaja jauh-jauh hari bertempur memperoleh hak terjemahan asli dari agen Obama nun di Amerika sana untuk menerbitkan biografinya. Ada pula yang . memilih untuk menerbitkan kompilasi artikel tentang kehidupan dan sepak terjang politik Obama atau ada pula yang menerbitkan analisa tentang Obama dari beragam sudut pandang.
Kemasan buku-buku itu lumayan beragam. Penerbit Prima Media, misalnya, mengemas buku Janji-janji Obama dengan halaman berwarna. Sementara penerbit Delokomotif membuat buku Calon Presiden AS Kulit Hitam Pertama dalam ukuran saku dengan harga yang jauh lebih murah dari buku Obama lainnya.
Namun dari semua penerbit, Mizanlah yang paling banyak mengeluarkan buku soal Obama. Kelompok Mizan menerbitkan tiga buku, yakni Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya Muslim Connection karya Anwar Holid, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah, dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan.
Manajer Redaksi Penerbit Mizan, Ahmad Baiquni menilai sosok Obama memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia karena pernah menjalani masa kecil di Jakarta. Latar belakang Obama yang tumbuh dalam keluarga Islam juga dinilainya punya daya tarik sendiri bagi orang Indonesia
”Kita tertarik menerbitkan buku Obama itu karena ada faktor Indonesia dan Islam dalam diri Obama,” kata Baiquni
Sebetulnya ada pilihan untuk menerjemahkan buku yang ditulis sendiri oleh Obama namun Mizan memutuskan mengambil karya karya pengarang lokal. Selain harga jualnya bisa lebih terjangkau masyarakat, Baiquni merasa tulisan Obama sendiri betulnya kurang dekat dengan pembaca Indonesia dan tidak memuat isu-isu mutakhir yang tak kalah menarik.
Alasan kedekatan dengan pembaca itu pula yang membuat Mizan tidak menerbitkan buku calon presiden Amerika yang lain seperti Hillary Clinton atau John McCain. Menurut Baiquni, kedua sosok ini terlalu jauh dari kehidupan di Indonesia.
Baiquni sedari awal juga memprediksi animo. masyarakat terhadap buku Obama. ini akan lumayan baik. Baiquni melihat banyaknya tulisan soal Obama di media massa dan internet adalah pertanda adanya kehausan informasi soal Obama.
Namun respon masyarakat ternyata melebihi perkiraan semula. "Bukunya terjual lebih banyak dari yang kita perkirakan belumnya," ujar Baiquni.
Buku Barack Obama: Kandidat Presi¬den Amerika yang Punya Muslim Connection sudah naik cetak tiga kali sejak dterbitkan enam bulan lalu. Total penjualan buku ini mencapai 15 ribu eksemplar. Sedangkan buku Jangan bunuh Obama! sejauh ini telah terjual 400 eksemplar.
Sementara itu buku Obama: Tentang Amerika, Islam dan Israel sudah naik cetak dua kali. Rata-rata penjualannya sebanyak 70 eksemplar per bulan. Baiquni sadar betu buku-buku ini sangat bergantung pada kesuksesan Obama padaa pemilihan kandidat presiden dari Partai Demokrat. Jika Obama tak berhasil memenangi pemilihan kandidat tersebut maka pamor bakal calon presiden itu akan meredup dan diikuti dengan mandeknya penjualan buku tentangnya.
"Kami sadar betul risiko ini dan sudah memperhitungkan itu," kata Baiquni. Karena itu pula ia mengerem penerbitan buku lain soal Obama sampai ada perkembangan terbaru di negeri Abang Sam.
Yang jelas, lanjutnya, hingga saat ini masyarakat Indonesia masih tertarik dengan sosok Obama. Menurutnya ini tak lepas dari harapan sebagian masyarakat. bahwa Obama akan membawa angin segar dalam kebijakan luar negeri Amerika terutama dalam hubungan negara adidaya tersebut dengan Indonesia.
Penerbit lain yang juga ikut menikmati manisnya femomena Obama ini adalah Ufuk Publishing House. Ufuk termasuk yang paling awal mengendus demam Obama ini. Dan tentu saja menjadi yang pertama menerbitkan bukit asli karya Obama. "Kami membeli hak edarnya dengan harga berdarah-darah, yang terhitung paling tinggi dalam sejarah penerbitan kami," kata Taufiq diiringi tawa berderai.
Buku karya Obama berjudul The Audacity of Hope mereka terbitkan pada April 2007 densan judul Menerjang Harapan;Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Aslinya, buku ini adalah karya kedua yang ditulis Obama pada 2006. Karya pertamanya, Dreans Of My Father, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku pertama ini ditulis Obama 11 tahun sebelum buku keduanya terbit
Pemilihan judul ini, menurut Ahmad Taufiq Haddad, Direktur Marketing Ufuk dilakukan demi menyedot perhatian pembaca. "Belakangan terbukti judul dengan kata "Jakarta" ini memang menjadi daya tarik tersendiri," kata Taufiq, Rabu pekan silam.
Buku yang berisi pemikiran Obama tentang banyak hal, dan itu tidak melulu soal pandangannya tentang politik. Ufuk menilai cara Obama memandang persoalan ini sebagai "apik dan bergairah."
Dengan cara yang menyenangkan, Obama berhasil menyentuh konstituennya. Gaya Obama yang khas inilah, kata Taufiq, yang bisa mengatasi kebosanan orang pada jargon-jargon kampanye publik dengan kapasitasnya yang sudah tidak terlalu menarik lagi.
Buku ini, juga berhasil memperhalus .dirinya.dari sekadar atribut kampanye menjadi kisah hidup yang bisa menginspirasi banyak orang. Segala aspek politik Amerika dan dinamikanya, ekonomi dan permasalahan.global, saling bergantian mencari posisi dengan kisah Obama tentang keluarga besarnya dan anak-anak perempuannya.
Demi menarik minat pembaca Indonesia pula, buku versi Indonesia ini tidak diterbitkan dengan urutan sesuai aslinya. Ufuk memilih untuk menempatkan bab tentang Indonesia di bagian depan.
Usaha ini tidak sia-sia. Sejak cetakan pertama pada tahun silam, bulan ini buku Obama ini sudah masuk hitungan cetakan ke lima. Untuk buku dengan tampilan mewah hard-cover dengan harga yang dibanderol seratusan ribu rupiah, cetak ulang sebanyak itu terhitung fenomena. '
Ketika Ufuk menjalin kerjasama dengan Digibook untuk menerbitkan versi digital buku-buku mereka, buku Obama termasuk yang menjadi pilihan mereka. "Ini buku unggulan dan rasanya cocok dengan selera mereka yang menggunakan layanan e-book," kata Taufiq soal alasan pemilihan buku ini.
Meski demikian, menurut Bakar Bilfagih, Direktur Produksi dan Editorial Ufuk, banyak kalangan pembaca yang belum "tersentuh" oleh buku ini. "Mereka adalah kalangan mahasiswa, yang menilai harga buku ini belum terjangkau," katanya.
Untuk itu, dalam sepekan dua pekan ini, Bakar berharap mereka sudah bisa meluncurkan versi paper-back yang terjangkau harganya.”Sekitar 50% lebih murah dari versi hard covernya,” katanya.
Tidak hanya mencetak edisi yang lebih terjangkau kocek, Ufuk juga memanfaatkan momen yang singkat dan berkejaran dengan waktu ini, dengan menggelar launching buku. "Kalau diluncurkan sekarang, gemanya mungkin lebih kuat," kata Taufiq.
Keinginan untuk menggelar launching buku ini, menurut Bakar, juga dirasa pas karena saat ini perkembangan berita tentang Obama semakin menarik untuk diamati. "Jadi, mau dibicarakan dari sudut buku dan politiknya. Soal Obama ini memang sangat menarik,” kata Bakar
. •OHUWHDJHA.WCUNAi


No comments:
Post a Comment