Showing posts with label Safari. Show all posts
Showing posts with label Safari. Show all posts

Monday, June 01, 2009

SAFARI

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail
(Nyimas Gandasari, Annida, Mei 2009)

Mau cari buku panduan traveling yang nggak ngebosenin? Buku karya Muhammad Najib yang diangkat dari cerita bersambung di harian Republika ini mungkin jawabannya. Loh7 kok cerita? Yap, karena informasi mengenai berbagai tempat di dunia yang diisajikan dalam buku ini berbalut fiksi yang penuh konflik yang menarik dan menegangkan. Mudahnya, kita sebut saja buku ini sebagai journey fiction.

Safari bertutur tentang Jamal bin Mujahid alias Amal, mahasiswa Indonesia peraih beasiswa dari Aachen University of Technology di Jerman. Kehidupan dan pengalamannya di negeri orang membawanya pada pertemuan dengan sesama aktivis dan mahasiswa Muslim dari berbagai Negara. Dari sinilah petualangannya dimulai. Petualang menegakkan kebenaran dan keadilan yang menjadi nafas hidupnya.

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail. Lebih dari itu, buku yang diangkat dari kisah nyata ini juga memuat berbagai informasi situasi politik, sosial, dan budaya yang pernah terjadi di sejumlah negara tersebut. Pokoknya dijamin nyesel banget kalau sampai terlewatkan! [nyimas]

Tuesday, May 05, 2009




MENGINTIP JENDELA DUNIA

Dengan gaya bercerita yang sederhana, mudah ditangkap, dan runut, Muhammad Najib membantu pembaca untuk memahami negeri asing dari sudut pandang seorang Indonesia yang berwawasan dan menghormati perbedaan
(Jurnal Nasional, Mei 2009)


Bagi sebagian kecil orang Indonesia, mengunjungi Eropa, bahkan berkeliling dunia, adalah perkara kecil. Sementara sisanya, bisa dibilang "buta" soal kenyataan yang terdapat di negeri-negeri yang jauh dari Indonesia, kecuali hanya terkait isu yang diberitakan media.

Muhammad Najib dalam novelnya, Safari, seolah memahami keingintahuan pembaca mengenai apa dan bagaimana negeri serta manusia di seberang benua ini. Dengan gaya bercerita yang sederhana, mudah ditangkap, dan runut, Muhammad Najib membantu pembaca untuk memahami negeri asing dari sudut pandang seorang Indonesia yang berwawasan dan menghormati perbedaan.

Jamal Bin Mujahid adalah pemuda yang berbakat. Berkat prestasi akademis dan riwayat baiknya dalam hal organisasi, ia mendapat beasiswa untuk mengambil program master di Reinisch-Westfa-lischen Technischen Hochs-chull Aachen (RWTH), yaitu kampus tempat Habibie dulu menimba ilmu.

Mengawali hari-hari awal-nya di negeri yang belum pernah dikenalnya, pemuda usia 20-an ini berupaya "berkenalan" dulu dengan tempat tinggalnya. Amal memulai proses pendekatan dengan berkeliling Aachen, terutama berburu tempat makan yang pasti halal, seperti restoran Turki milik Mustafa di dekat kampus.

Semestinya Amal bisa saja bertenang-tenang mengukir prestasi di tempatnya berkuliah. Hanya saja energi kemudaan dan juga keinginan menambah wawasan selalu membawanya pada perkenalan dengan orang-orang baru yang berujung pada ikatan perorganisasian atau persahabatan.Pada hari pertamanya kuliah, Amal bahkan langsung menjalin persahabatan dengan mahasiswa Palestina, Azam Albalawi. Begitu juga kedekatannya dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin, membawanya pada keterlibatan dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang lebih dalam dan serius. Bahkan, dalam proses pencalonan masa bakti yang baru, Amal terpilih mengetuai PPI Jerman sehingga mesti sering bolak-balik ke Berlin untuk menunaikan tugasnya.

Baik persahabatannya dengan Azam maupun aktivitasnya sebagai Ketua PPI menggiring Amal untuk berkeliling ke negara-negara lainnya. Dengan hanya mengeluarkan biaya tiket, perjalanan Amal di Palestina sudah diatur maksimal melalui perbatasan Yordania menuju Palestina. Amal dijemput seorang guide untuk berwisata, termasuk juga untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsha.

Ketika sampai di situs yang ramai wisatawan dan peziarah tersebut, Amal dan Khalid (pemandunya) harus melewati pemeriksaan yang dilakukan tentara Israel dan petugas Palestina. Keduanya bisa langsung dibedakan melalui penampilannya. Tentara Israel berpakaian lengkap dengan senapan tergantung di dada. Petugas Palestina hanya mengenakan pakaian seadanya dengan tangan kosong saja. Menurut Khalid, ketimpangan macam ini sudah biasa. Malah orang-orang sipil Yahudi diizinkan memiliki senjata api dengan alasan melindungi diri di saat penduduk Arab tidak diperbolehkan. Alhasil, orang Arab kerap jadi korban muntahan peluru dalam sebuah keributan, meski awalnya perselisihan hanya adu mulut.

Di Masjid Al-Aqsha, Amal memanjatkan doa untuk Nabi Ibrahim, Ismail, Daud, Sulaiman, dan tentu Nabi Muhammad SAW. "Ya Allah, Engkau telah mengantarku ke tempat Rasulullah melakukan mi'raj untuk menerima perintah salat lima waktu yang sampai saat ini menjadi pegangan bagi umat Islam," gumamnya spontan dalam hati. Sepulangnya dari Palestina, Amal langsung terlibat diskusi hangat dengan Azam.

"Dalam retorika tokoh-tokoh mereka selalu menghormati HAM. Di negeri ini orang berpakaian minim tak dilarang, bahkan komunitas yang tak suka menutup aurat pun diberi tempat. Tapi mereka yang memakai jilbab?" kata Azam mengemukakan kekecewaannya sebagai orang Palestina atas sikap negara Barat, khususnya AS.

Begitulah setiap kunjungannya ke sebuah negeri selalu membekali Amal dengan pengetahuan baru. Tidak hanya soal sejarah dan tata kota, tapi juga sikap-sikap politis pemerintahan. Pengetahuan ini makin bertambah ketika ia bersilaturahmi dalam rangka membahas pembentukan PPI se-Eropa dengan mengunjungi London, Paris, Turki. Pertemuan-pertemuan pelajar di Istanbul kemudian juga berbuah undangan bagi Amal untuk bersilaturahmi ke Mesir yang semakin mendekatkannya dengan sejarah Mesir Kuno.

Bisa dibilang, lewat buku ini, penulis Muhammad Najib telah memberikan informasi dasar yang berharga mengenai situs-situs penting yang jadi kebanggaan tiap negara. Selain mendeskripsikan pemandangan dan situs serta artefak peninggalan sejarah yang indah, Muhammad Najib banyak bercerita soal sejarah Islam dan Barat di negara-negara tersebut dan pengaruhnya terhadap gaya arsitektural bangunan-bangunan mereka. Selain itu, sejarah para tokoh yang berbakti dan berkorban bagi keyakinan Islam juga banyak diungkapkan. Karenanya, buku ini bisa juga jadi semacam pengantar awal bagi mereka yang ingin bepergian ke negara-negara yang dikunjungi Amal.

Muhammad Najib sepertinya memang lebih fokus pada informasi terkait negeri asing daripada perjuangan si tokoh utama sendiri. Pada bab demi bab, kehidupan Amal di negeri orang sama sekali tak mengalami kesulitan berarti. Mungkin karena ia termasuk mahasiswa jenius yang pada akhir studinya mendapat predikat summa cumlaude. Amal bahkan bisa mudik gratis setelah 3 tahun tinggal di Jerman karena disertakan dosennya untuk datang ke seminar tentang perkembangan mutakhir Information and Computer Technology (ICT) di The Australian National University (ANU) yang kemudian dilanjutkan dengan wisata ke Bali tempat di mana keluarga Amal tinggal.

Meski begitu, karakter dan pola pikir Amal sebagai seorang mahasiswa yang berwawasan luas, maju dan bersahaja jelas tergambar dari berbagai keputusan dan tanggapan atas semua yang dihadapinya. Termasuk untuk memanfaatkan kesempatannya menuntut ilmu di negara asing dengan maksimal.










Tuesday, April 21, 2009



PETUALANGAN MENAPAK PERADABAN ISLAM


Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu.
(Republika, April 2009)


Safari merupakan novel yang mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa Indonesia melanglang buana: Eropa, Afrika, Australia, Amerika, dan Asia. Di setiap negara, tokoh utamanya, Jamal bin Mujahid, tak hanya mengunjungi tempat wisata, melainkan pula tempat-tempat bersejarah, masjid, serta bertemu aktivis Muslim. Setiap lokasi yang diknjungi digambarkan secara detail seakan-akan pembaca dilibatkan turut serta melanglang buana.

Kisah yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Republika ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Sarat il¬mu pengetahuan dan nilai-nilai sejarah. Di sisi lain, kisah ini mengupas kenyataan gesekan politik yang terjadi antara kelompok Barat dan kawasan Timur Tengah. Barat yang selalu engagungkan hak asasi manusia, realitanya nothing. Diskriminasi terhadap umat Islam terang-benderang dilakukan kelompok Barat. Hal sederhana, larangan berkerudung bagi pelajar masih berlaku di beberapa negera Eropa. Cap Islam teroris terus didengungkan Barat.

Kisah ini diawali kebahagiaan Jamal meraih beasiswa melanjutkan S2 di universitas ternama di Jerman. Pria yang tinggal di Pulau Dewata ini kuliah di Aachen University of Technology, kampus bonafide tempat mantan presiden RI, BJ Habibie, menimba ilmu pesawat terbang. Sebelum berangkat, Amal mendapat warisan dari ayahnya yang sedang dipenjara di Grobokan, Denpasar: Sebuah Alquran kecil. "Bacalah selalu! Dan jangan tinggalkan shalat. Insya Allah kau akan terjaga," pesan ayah Jamal.

Ayah Jamal seorang aktivis Mujahidin yang ikut angkat senjata ke Afghanistan melawan komunis Soviet. Ketika terjadi kasus.bom Bali, ayahnya dianggap terlibat, akhirnya dipenjara. Kebutuhan hidup keluarga ditopang ibunya membuka toko roti.

Kesibukan utama Jamal adalah kuliah. Kegiatan lainnya aktif mengikuti kajian ilmiah di kampus. Kegiatan ini membuatnya semakin berwawasan dan menambah teman Muslim dari berbagai negara. Sedangkan di luar kampus, lulusan ITB ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan Kedubes RI di Berlin. Kesibukannya bertambah ketika dia dipilih sebagai ketua umum PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jerman. Semua kegiatan ini menjadi gerbang terbuka bagi Jamal menyambangi berbagai negara di dunia.

Perjalanan dimulai dari Aachen, kota tempatnya kuliah. Kota lain di Jerman yang dikunjungi adalah Berlin sebagai pusat kepengurusan PPI. Tak hanya tempat bersejarah seperti Tembok Ber¬lin yang didatangi, Jamal pun sangat tertarik berkunjung ke Islamic Center dan masjid-masjid di kota tersebut. Di antaranya, Masjid Sehitlik yang merupakan masjid terbesar di Berlin. Masjid itu dikenal sebagai masjid Turki, karena pengelolanya komunitas Turki. Ada pula masjid lain yang dikelola komunitas Arab dan Pakistan. Dari Jerman, perjalanan dilanjutjutkan ke Palestina. Kesempatan berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, karena kedekatannya dengan Azam habat karibnya di kampus. Azam aktivis pengajian di kampus, asli dari Palestina. Azam menawarkan,kapan Amal bisa pergi ke Palestina. Modalnya hanya tiket pesa¬wat, sedangkan selama di Negeri Yasser Arafat, Azam yang akan menanggung akomodasinya.

Di kampus, Azam sangat antusias menceritakan bagaimana perlawanan masyakat Palestina menghadapi Zionis Yahudi. "Maaf jangan gunakan istilah bom bunuh diri. Itu istilah yang diciptakan musuh. Gunakan istilah bom syahid," tegas Azam saat di kampus. Rangkaian cerita Azam terekam kuat di pi-kiran Jamal. Saat berkunjung ke Palestina, Jamal bagaikan menapak tilas membuktikan semua penjelasan Azam.

Menuju Palestina Jamal melalui Amman, Yordania, lalu melewati Israel. Pemeriksaan sangat ketat lengkap dengan tentengan senjata. Perbedaan kota di Palestina dengan di Israel terlalu jomplang. Yerusalem periuh dengan bangunan pencakar langit, tidak demikian dengan Palestina. Orang Palestina mis-kin, sebaliknya Israel kaya. Pemerintah Israel mengembangkan politik apartheid mendiskriminasi etnis Arab.

Khalid yang menjadi guide mengajak Jamal naengunjungi tempat bersejarah 'milik' tiga agama di dunia. Masjid Al-Aqsha riwayat perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sebelah barat daya masjid menempel dinding kapur tempat pemujaan Yahudi yang dikenal Tembok Ratapan. Bagian selatan Yerusalem adalah kota Betlehem yang diyakini tempat lahir Nabi Isa. "Karena itu para peziarah beragama Yahudi, Nasrani, mauipun Islam menganggap tempat itu sebagai tempat suci mereka," papar Khalid. Kembali ke kampus, Azam menegaskan kembali, bagaimana perlakuan Zionis Israel terhadap umat Islam. Negera yang didukung Barat itu tidak konsisten menegakkan HAM. Bahkan mereka sendiri terang-terangan melanggar HAM.

Posisi sebagai ketua PPI Jerman mengantarkan Jamal berangklat ke London. Tujuannya, menghadiri pembentukan PPI se-Eropa yang diikuti perwakilan mahasiswa di negara-negara Eropa. Jamal beruntung terpilih sebagai ketuanya. Acara PPI tujuan utama, sampingannya mengunjungi kawasan bersejarah di London. Dia pun mengunjungi komunitas pemuda Muslim di Birmingham. Menurut Gulam, ketua Pemuda Muslim tersebut, masalah yang dihadapi umat Islam di London, antara lain pendidikan, rumah ibadah, dan makanan halal.

Penelusuran Jamal berlanjut ke Turki, Mesir, Australia, Amerika, bahkan sempat mampir kembali ke Bali, tempat tinggalnya. Di negara-negara tersebut pun banyak pengalaman berharga yang diperolehnya. Apa sajakah? Lanjutkan membaca di buku setebal 346 halaman ini.








Bab akhir buku ini diberi judul 'Air Mata Perpjsahan'. Jamal harus berpisah dengan Azam yang putus kuliah di tengah jalan. Langkah ini ditempuh Azam karena ada tugas negara. Namun, Azam tak mau menjelaskan secara rinci. Rasa penasaran itu terjawab ketika Jamal menyaksikan Azam di layar kaca. Ternyata, di Palestina, Azam bukan orang sembarang. Siapakah Azam?

Ditegaskan kembali bahwa novel ini syarat dengan ilmu pengetahuan dan nilai sejarah. Dipastikan penulis sendirilah yang telah mengarungi negara-negara tersebut. Pengalaman penulis menginjakkan kaki di 30 negara di lima benua memperkaya novel ini. Dia menjelaskan, sejarah peninggalan Nabi-nabi masih bertebaran di negara yang dikunjunginya. Penulis pun mengingatkan kembali betapa hebatnya kejayaan Islam saat menguasai Eropa, Afrika, hingga Asia. Kisah tokoh-tokoh Islam di negara yang dikunjunginya dikupas pula dalam buku ini. Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu. • vie




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes