Tuesday, August 12, 2008



ADU KUAT BERBURU BUKU

Meski perlu upaya besar, Ufuk terus membeli hak penerbitan buku terjemahan, lantaran buku impor ini punya tema yang lebih beragam dan buku yang bagus bisa laku sampai puluhan ribu eksemplar
(Koran Tempo, Agustus 2008).



Pernah tahu Why Men Dont Listen and Women CantRe&d Maps, buku psikologi populer ysng dituiis dengan bernas dan dibalut humor-cerdas? Atau serial Laskar Pelangi mana-yang paling memikat hati Anda? Mohon maaf, “kuper" jika Anda belum baca. Buku-buku ini terkenal sebagai buku laris yang jadi perbincangan dan diburu ratusan ribu. hingga jutaan pembaca. Tidak mengherankan jika penerbit bersedia "berdarah-darah" demi mendapatkan hak terbit (copyright) buku itu. Mereka seolah berpacu di arena balap, menjadi yang terdepan dan terbaik untuk menerbitkannya. Buku laris adalah jaminan arnpuh untuk menangguk untung besar.

Jangan kaget pula jika Bakar Bilfaqih dan teman-temannya bak kebakaran jenggot saat membaca surat elektronik yang isinya seolah-olah "memanas-manasi" Penerbit Ufuk, tempat Direktur Editorial dan Produksi ini bcrnaung. ''Ada yang menawar dengan harga lebih tinggi dari Anda, jadi segera berikan penawaran terbaik Anda." Begitu kira-kira isi surat itu.

Itu pula yang terjadi ketika mereka berniat menerbitkan The Last Lecture, buku laris yang ditulis Randy Pausch, dua bulan silam. Ada enam penerbit yang adu kuat untuk mendapatkan buku yang berkisah tentang perjuangan seorang profesor muda saat menghadapi penyakit mematikan itu. Ufuk akhirnya menang dalam persaingan karena mengajukan penawaran tertinggi. Harganya lumayan mahal untuk ukuran hak terbit. Meski enggan menyebut angka, Bakar mengatakan, mereka "merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah".

Belakangan ini, adu kuat penawaran di kalangan penerbit Indonesia memang semakin sengit lantaran jumlah penerbit semakin banyak dan semua bersaing mendapatkan buku international best seller. Bakar menceritakan harnpir setiap buku bestseller harus diraih. dengan penuh perjuangan. Jika lebih dari satu penawar, pemegang lisensi akan mernbuat sesi penjualan harga menjadi dua putaran.. Pemegang lisensi, kata Bakar, biasanya merahasiakan identitas penerbit dan harga yang diajukan.

Menurut dia, sistem ini lebih baik ketimbang dua tahun lalu ketika penjualan hak pcnerbitan dilakukan dengan sistem lelang dengan penawar tertinggi yang keluar sebagai pemenang. Ufuk pemah beradu dengan penerbit besar dan akhirnya menyerah. .” Kalau sistemnya masih begitu, penerbit kecil pasti kalah terus," ujarnya. Diakui Bakar, menggarap buku tcrjemahan memerlukan modal besar: Selain.uang muka, masih ada biaya penerjemahan, penyuntingan dan promosi yang besar. "Mau tak mau, harus ada tambahan investasi, tapi ya sekalian, soalnya beli (hak cipta)nya mahal." *

Meski perlu upaya besar, Ufuk terus membeli hak penerbitan buku terjemahan, lantaran buku irnpor ini punya tema yang lebih beragam dan buku yang bagus bisa laku sampai puluhan ribu eksemplar. la mencontohkan buku otobiografi pembalap Valentino Rossi, Andai Aku Tak Pernah Mencobanya, terjual 20 ribu eksemplar, sementara buku Why Men Don't Listen and Women Cant Read Maps yang ditulis Allan dan Barbara Pease laku 50 ribu eksemplar. Tidak mengherankan kalau hasil penjualan buku terjemahan ini menjadi salah satu penyebab perusahaan penerbitan ini bisa balik modal dalam dua tahun sejak berdiri. Bakar juga melihat larisnya buku terjemahan sebagai pertanda pasar buku sedang menuju masa keemasan. Ini, tentu saja kabar baik bagi penerbit skala menengah seperti mereka. Pasalnya, beberapa dasawarsa silam, hanya penerbit kelas kakap saja yang bisa menikmati untung dari penerbitan buku-buku laris. Bakar mengumpulkan. informasi penjualan dari berbagai toko buku yang menunjukkan bahwa setiap ta¬hun ada pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen. Karena itu pula Ufuk berani belanja buku di pasar intemasional hingga ratusan juta rupiah setiap tahun, terrnasuk jika harus memburu hingga ke ajang bergengsi semacam Frankfurt Book Festival di Jerman sana. Mereka pun tak ragu jorjoran saat harus bersaing dengan penerbit lain karena, kata Direktur Marketing Ufuk Ahmad Taufiq Hadad, "Dapetin buku berkualitas dan bisa diterima pasar itu nggak gampang." Apalagi buku serial. "Bisa saja di tengah jalan ada penerbit lain yang menyerobot."

Memang, ada semacam peraturan tak tertulis bahwa penerbit yang mencetak buku pertama akan mendapat prioritas untuk buku selanjutnya. '"Tapi kalau penawarannya tak cocok, biasanya agen melepas ke pasar," ujar Taufiq.

Penerbit Gramedia Pustaka Utama pernah mengalaminya. Editor Fiksi Gramedia Hetih Rush ingat agen novelis J.K. Rowling pernah mengabari bahwa ada penerbit lain dari Indonesia yang berniat membeli hak penerbitan seri Harry Potter. Saat itu Gramedia berhasil membendung serangan pesaing itu dengan menaikkan harga sehingga sukses mempertahankan hak cipta Harry Potter hingga jilid terakhir. "Kalau bukunya bagus, kami juga berani bayar mahal," kata Hetih.

Menurut Hetih, upaya merebut hak penerbitan adalah hal biasa. Apalagi hingga kini Gramedia mencatat penjualan buku terjemahan masih mendominasi pasar dan belakangan ini mencetak di angka awal 3.000 eksemplar tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Hetih bercerila, dulu mendapatkan hak cipta buku asing tak terlalu sulit karena jumlah penerbit tak terlalu banyak. Sekarang, setelah perusahaan penerbitan menjamur, ia menilai persaingan tak terelakkan lagi. Selain kekuatan modal yang besar katanya. "Pengalaman kami menerbitkan buku-buku bestseller juga menjadi sebuah jaminan untuk meyakinkan agen pemegang lisensi." Proposal penawaran juga biasa¬nya ia sertai dengan rencana promosi dan pemasaran buku tersebut.

Untuk mengakali ketatnya persaingan, Hetih mengatakan editor harus pandai-pandai membaca buku yang berpotensi menjadi bestseller. Menurut dia, editor Gramedia biasanya menelusuri Internet, mills, toko buku, dan menyambangi Frankfurt Book Fair demi mencari buku bagus. Hetih menyebut contoh, novel Harry Potter diperoleh Gramedia sebelum meledak di pasar. "Soalnya, kalau sudah booming pasti jadi rebutan, apalagi Sekarang penerbit banyak," ujamya. '''Jadi, pas masih telur sudah harus diambil." Soal didahului penerbit lain, toh mereka mengalaminya juga sesekali. "Jadi ini memang adu cepat. Kalau kelewat lama, ya keduluan orang lain," ujarnya.

Jika sejumlah penerbit rela adu kuat dana untuk meraih hak terbit, Dastan Books, salah satu lini Penerbit Zahra, justru meraup untung lewat cara yang tidak biasa. Itu terjadi saat mereka berburu buku memoar Kapten James Yee, For God and Country, yang laris dan jadi pcrbincangan di Amerika dan Eropa serta di banyak negara berpenduduk muslim. Tersentuh oleh penderitaan dan perjuangan Kapten James Yee. Prayudi, Chief Editor Pustaka Zahra, mengirim surat kepada ulama militer yang dizalimi pemerintahnya itu. ''Saya sampaikan padanya bahwa saya dan teman-teman bersimpati atas perjuangannya dan berdoa untuk keberhasilannya," kenang Yudi.

Siapa nyana, surat tanda simpati yang dikirim itu mcnjadi pembuka jalan kerja sama antara Pustaka Zahra dan Yee. Kebetulan, saat itu Yee baru saja meluncurkan memoar tentang perjuangannya menghadapi fitnah dan perlawanan hukumnya tcrhadap negaranya sendiri, "Kami saling berkorespondensi sekitar sebulan dan keluarlah izin dari agen Yee tiga bulan kemudian untuk menerbitkan bukunya," kata Yudi.

Sepanjang masa penantian itu, Yudi mcngakui, pihaknya terus berdebar-debar, khawatir izin tidak keluar. "Pesaing kami adalah penerbit-penerbit besar, mungkin saja izin penerbitan jatuh ke tangan mereka," katanya.

Kisah perburuan hak terbit novel fenomenal Da Vinci Code yang dialami Penerbit Serambi lebih unik lagi. Selain usaha yang sungguh-sungguh untuk memburu novel karya Dan Brown yang menandai babak baru dalam dunia fiksi ini, Serambi juga diuntungkan oleh bergugurannya para penerbit besar di tengah jalan. Rupanya beban moral dan sederet alasan yang lebih bersifat normatif menjadi penghalang bagi mereka. ''Berkali-kali orang bertanya kepada kami, bagaimana mungkin Serambi berhasil mcnerbitkan novel fenomenal itu?" kenang Kepala Redaksi Serambi Qamaruddin S,E Ketika novel ini difilmkan, keuntungan makin berlipat. Pasalnya, mereka mencetak ulang novel ini dengan sampul khusus wajah sang pemeran film, Tom Hanks.

Repotnya dan kerasnya persaingan berburu copyright ini memaksa para penerbit untuk melek dan terus siaga terhadap berbagai kemungkinan. Mereka juga nenggunakan jejaring yang dimiliki untuk memantau kondisi di negara asal sebuah karya yang tengah mereka bidik. Pcnerbil Serambi, misalnya, rajin benselancar di internet, rnenjalin kontak dengan beragam penerbit di luar negeri. Agar tidak ketinggalan berita, mereka juga memanfaatkan jaringan pertemanan di luar negeri dan penilai freelance yang biasanya lihai mengendus buku laris dan cocok untuk pembaca lokal "Penerbit luar negeri yang memegang copyright biasanya menyambut baik siapa saja yang datang menawar, meski mereka juga termasuk ketat soal penawaran dan pemberian hak terbit," kata Qamaruddin.

Lain agen pencrbit barat, lain pula cerita penerbit dari Timur Tengah. Karena alasan dakwah dan agar buku mereka tersebar seluas mungkin, para agen dari Timur Tengah ini umumnya tidak begitu peduli dengan copyright. Tidak aneh jika di Indonesia ada penerbit yang terlibat konflik gara-gara sama-sama memegang hak terbitnya. Sebuah penerbit kecil yang berhasil mendapatkan hak terbit sebuah buku laris tentang nasihat dan motivasi islami pernah dibikin repot gara-gara judul buku itu dipakai banyak penerbit lain, meski pengarangnya berbeda.

"Sebenarnya, hal itu tak sehat sebab penerbitan satu judul buku yang sama oleh beberapa penerbit akan membuat penggarapan pasar menjadi tak maksimal," kata Ketua Kompartemen Organisasi Hubungan Kelembagaan, Hukum, dan Hak Cipta Ikatan penerbit Indonesia Pusat Awod Said. Selain itu, kata dia, hal seperti itu akan membuat pasar buku agama tak akan bcrkembang. Pihaknya berpcndapat, idealnya satu judul buku terjemahan hanya diterbitkan satu penerbit. Masalah hak cipta, menurut Awod, mem;mg perlu terus dibenahi agar penerbit buku-buku agama bisa terus berkembang.












No comments:

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes