Showing posts with label Angela's Ashes. Show all posts
Showing posts with label Angela's Ashes. Show all posts

Monday, December 28, 2009



Membaca buku ini, membuat kita seakan-akan berada disana. Menatap wajah sedih Frank dan Malachy yang menunggu ayahnya pulang dengan membawa uang, namun ternyata uang tersebut sudah habis dipakai untuk minum. Bagaimana tertekannya ia saat harus mendatangi setiap bar mencari ayahnya yang membawa uang hadiah kelahiran bayi. (Truly Rudiono, Goodreads, Desember 2009)

Jika bisa memilih, setiap anak pasti ingin dilahirkan dengan memegang sendok emas! Dilahirkan oleh seorang ibu yang berada dalam kehidupan yang mapan. Tidak perlu memikirkan apakah nanti malam mereka masih bisa makan, dimana bisa mendapatkan uang.Tidak mengenal rasa lapar dan kedinginan, tidak perlu memakai potongan ban untuk sol sepatu. Semua serba tersedia.

Frank Mc Cournt harus menerima takdirnya, dilahirkan di Bulan Agustus, akibat Peristiwa Lutut Gemeretar yang terjadi antara ibunya, Angela dan ayahnya, Malachy. Belum lama Angela menapakkan kakinya di New York ia sudah terpikat oleh muka suram Malachy yang selama tiga bulan memendam sepi di penjara. Empat bulan setelah Peritiwa lutut gemeretar, Malachy menikahi Angela. Walau ia sudah berniat tidak menambah anak, namun satu tahun kemudian lahirlah adik laki-laki yang juga diberi nama Malachy. Saudara sepupu Angela, berkata Angela tak lain tak bukan adalah kelinci, dan mereka tidak mau berurusan dengannya hingga ia waras lagi.

Kondisi keuangan yang morat-marit serta kebiasaan minum ayahnya, membuat Frank dewasa sebelum waktunya. Ia harus membantu ibunya untuk menjaga adik-adiknya . Tak lama anak ke tiga dan keempat lahir, anak kembar yang diberi nama Oliver dan Eugene ikut meramaikan rumah mereka.

Jenuh hidup dengan 4 orang lelaki di rumah, Angela berdoa agar mendapat seorang anak perempuan untuk dirinya sendiri. Lahirlah Margaret, sebagai perwujudan doa Angela. Seorang anak perempuan dengan rambut ikal hitam dan mata birunya mirip ibunya. Sejak Margereta lahir, Malachy sang ayah, sama sekali tidak menyentuh minuman keras, ia teampak begitu menyayangi anak perempuannya.

Namun kebahagian itu hanya berlangsung selama tujuh pekan, usia Margaret. Margaret meninggal! Terpukul karena ditinggal anak permpuannya, Angela hanya berbaring di ranjang dengan wajah menghadap dinding. Sepupunya berinisiatif menyurati ibu Angela yang segera mengirimi ongkos pulang bagi 6 orang anggota keluarga Malachy!
Kehidupan di Irlandia ternyata tidak lebih baik dibadingkan dengan New York. Saat itu Fank baru berumur empat tahun, Malachy tiga tahun dan sikembar belum genap setahun. Tidak saja pekerjaan yang didapat ayahnya, kondisi tempat tinggal mereka juga mengenaskan. Bahkan kasur yang mereka tiduri penuh dengan tungau. Seseorang berbaik hati mengajari cara mengusi tungau yaitu dengan memasangnya terbalik agar mereka bisa saling menggigit. Hal itu lebih hemat dibandingkan dengan cara Malachy yang mengguyur kasur dengan air panas, mengakibatkan persediaan batu bara yang sudah sedikit menipis dengan cepat!
Kemiskinan yang menyebabkan mereka kelaparan, sepertinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Suatu hari Frank mendapat tugas mengantar makan siang dari rumah neneknya untuk Bill Galvin di Dock Road. Untuk kerjanya ia dibayar enam penny seminggu. Sepanjang jalan, bau bacon rebus dengan kubis dan dua kentang putih yang besar yang padat sangat menggoda dirinya yang sedang lapar. Karena tak sanggup menahan lapar, Frank memakan makan siang yang dikirim nenek untuk Bill Galvin. Akibat perbuatannya, sang nenek harus mengirim makan siang ulang dan Frank dihukum selama dua minggu mengantarkan makanan tanpa dibayar.
Buku ini juga berisi mengenai hal-hal yang khas nakalnya anak-anak. Sungguh menyentuh, mereka tetap bisa bermain dan tertawa dalam kondisi seperti itu. Dikisahkan Frank dan Malachy bermain dengan gigi palsu orang tua mereka. Gigi-gigi itu sangat besar sehingga sulit memasukannya dalam mulut Malachy memaksa masuk gigi Dad dalam mulut dan tidak bisa mengeluarkannya lagi. Bibirnya tertarik ke belakang dan membuatnya menyeringai lebar sekali dan air mata muncul dari kedua matanya. Untuk melepaskannya Malachy harus dirawat di rumah sakit, hal yang sebenanya menyenangkan dirinya. Karena di rumah sakit minimal mereka bisa makan teratur tanpa perlu repot-repot mencarinya.
Banyak kisah yang menyentuh sisi kemanusiaan. Misalnya saat Oliver meninggal dan mereka sama sekali tidak punya uang, mereka mendatangi toko demi toko sambil sang ayah meminta makanan atau apa saja yang dapat mereka berikan kepada keluarga yang ditinggal mati. Untunglah masih ada beberapa toko yang mau meberikan sesuatu walau hanya sepotong kentang!Saking laparnya mereka memanfaatkan kematian Oliver guna menghidupi keluarga yang lain.
Membaca buku ini, membuat kita seakan-akan berada disana. Menatap wajah sedih Frank dan Malachy yang menunggu ayahnya pulang dengan membawa uang, namun ternyata uang tersebut sudah habis dipakai untuk minum. Bagaimana tertekannya ia saat harus mendatangi setiap bar mencari ayahnya yang membawa uang hadiah kelahiran bayi. Ikut merasa sedih melihat para tetangga menerima telegram berisi uang dari ayah yang ada bekerja Inggris, sementara ayah mereka walau berda di Inggris tidak juga megirimi uang. Ikut merasa bangga saat Frank untuk pertama kalinya membawa uang hasil kerja kerasnya yang lalu diberikan ke ibunya.
Kondisi mata Frank yang tidak bagus, kemiskinan yang mendera keluarganya serta semangatnya untuk menjadi lelaki dewasa, lelaki yang mencari uang untuk keluarganya membuat kita kian mengagumi keuletan Frank dalam menjalani kehidupan ini. Tekat bulat dan semangat memperjuangkan mimpinya untuk mengubah nasib dengan pergi ke Amerika perlu dicontoh.

Pertama memegang buku ini, mengingatkan saya pada Eyang Nh Dini, yang menulis kisah hidupnya menjadi buku. Frank McCourt menulis kisah hidupnya dan telah meraih Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award dan menduduki puncak berbagai peringkat buku bestseller di dunia selama lebih dari tiga tahun
Buku ini ditutup dengan perjalanan Frank ke Amerika. Sungguh menggelitik rasa ingin tahu, bagaimana sepak terjang Frank selama di Amerika ? Moga-moga kelanjutan buku ini segera terbit (less)

Sunday, November 08, 2009




Buku Angela’s Ashes yang diterbitkan Ufuk Publishing House menjadi icon tayangan KICK ANDY METRO TV pada acara yang tayang pada Jumat, 6 November 2009. KICK ANDY METRO TV pada epiosode tersebut mengambil tema Indonesia Kreatif. Hal ini semakin menegaskan bahwa produk-produk Ufuk Publishing House memiliki nilai kuat untuk disandingkan (co-brand) dengan tayangan-tayangan berkelas yang memiliki rating tinggi di dunia media massa, khususnya media televisi.

Berikut adalah sinopsis tayangan Indonesia Kreatif pada Jumat, 6-11-2009 dengan buku Angela’s Ashes sebagai media gift inspiratif untuk penonton setia KICK ANDY METRO TV :

Keterbatasan, umumnya justru membuat orang terpicu untuk menjadi kreatif dan mampu menciptakan solusi yang hebat. Begitu pula tokoh-tokoh yang hadir menjadi tamu Kick Andy episode ini. Dengan segala kekurangannya, mereka mampu menghadirkan inovasi dan kreatifitas yang membuat orang lain menggeleng-geleng kagum.

Narasumber Kick Andy kali ini juga adalah para tokoh yang diangkat profilnya di ajang kompetisi film pendek Eagle Awards 2009 dan menjadi lima finalis. Ajang kompetisi film pendek Eagle Awards 2009 telah berakhir dan telah ditetapkan pula para pemenangnya dari lima finalis pada 24 Oktober lalu. Mungkin Anda juga sudah tahu dan menyimak profil para sutradara peserta Eagle Awards dan sekilas tokoh yang diangkat. Nah di Kick Andy, tokoh utama 5 film finalis Eagle Awards 2009 dikupas habis di Kick Andy..

Adalah seorang tukang las asal Semarang bernama Kardi, yang mampu mendirikan “outdoor fitness center” di sebuah gang sempit bernama gang Buntu pada 1995. Melihat banyak orang di sekitar bengkel kerjanya tidak mempunyai kegiatan jelas untuk mengisi waktu senggangnya, sebuah ide unik muncul di benak Kardi. Ia berpikir keras membuat alat-alat kebugaran ala body builder seperti layaknya alat-alat di fitness center. Berbekal besi-besi sisa pesanan pagar pelanggannya, secara bertahap dibuatnya satu-persatu alat-alat tersebut. Ia juga mampu merancang desain alat-alat tersebut dengan baik dari sisi bentuk dan beban. Idenya ini disambut baik orang-orang di sekitarnya, yang kebanyakan adalah pekerja informal seperti pedagang pasar, supir becak, buruh pabrik atau bangunan dll. Alhasil, di sempitnya gang Buntu, kini terlihat pemandangan unik. Orang-orang berotot bak binaragawan serius berlatih membentuk badan dengan berbagai peralatan, dan jika ada kendaraan lewat mereka akan sigap menyingkirkan semuanya ke pinggir gang dan berlatih lagi seperti semula jika gang kembali lengang. Yang membuat kagum, sejumlah anggota outdoor fitness center yang mereka juluki Gorilla Power ini, mampu mendulang prestasi di sejumlah ajang kompetisi pamer otot di Semarang..



Dari desa Badegan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, muncul kisah unik tentang sebuah bank yang lain dari biasanya. Bank ini berkutat di urusan segala macam sampah, dan dinamai Bank Sampah Gemah Ripah. Bank sampah ini didirikan oleh seorang dosen, Bambang Suwerda, yang gelisah dengan ketidak pedulian orang di sekitarnya terhadap penanganan sampah. Budaya buang sampah di sembarang tempat yang mengganggu lingkungan, mencuatkan ide nyeleneh di pikirannya. Sistem perbankan konvensional diterapkannya pada gagasannya. Ia membuat sebuah bengkel daur ulang sampah pada tahun 2008, dan di depan bengkel itu dibuatnya konsep layaknya sebuah bank dan juga prosedur menabung sampah daur ulang dengan sederhana. Warga yang ingin menabung di bank sampah dibuatkan nomor rekening dan buku tabungan untuk memudahkan pengadministrasian. Struktur organisasi Bank Sampah pun lengkap mulai dari direktur, teller, sekretaris, bendahara, dan petugas-petugas kolektor sampah yang mengambil sampah di setiap RT. Kini, kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah lebih tinggi dan lingkungan daerah di desa sekitar Bank Sampah jauh lebih bersih dan indah..

Dari desa Cihideung Udik Bogor, muncul kisah Mamad seorang wiraswasta UKM bidang pembuatan arang atau karbon aktif. Mamad yang sejak awal selalu lebih suka berwiraswasta daripada menjadi pegawai atau karyawan, selalu memikirkan dilema usahanya. Di satu sisi ia harus terus menghidupi keluarganya lewat usaha bengkel arangnya. Namun pada saat bersamaan, ia merasa bersalah dengan adanya polusi asap dari bengkel pembakaran batok kelapa miliknya, yang sangat banyak meruap ke sekitar dan mengganggu pemandangan di lingkungan desanya. Ia selalu berusaha mencari solusi untuk bisa “menangkapi” asap dari bengkelnya. Beberapa metode telah dicobanya, namun tak maksimal. Hingga akhirnya ia bertemu seorang dosen dari IPB, Rokhani, yang menawarinya teknologi kondensasi asap, atau konversi asap menjadi cairan atau asap cair. Mamad bersedia mendanai proyek percontohan dari Rokhani dan merelakan bengkelnya menjadi kelinci percobaan alat kondensor asap cair. Upayanya tak sia-sia. Kini asap yang keluar dari tungku pembakaran bengkelnya mampu ditekan menjadi sangat minimal. Dan ternyata ada bonus dari upayanya ini. Asap cair yang dihasilkannya, ternyata mampu dimanfaatkan untuk dijadikan bahan pengawet makanan, obat hama tanaman dan pupuk, penghilang bau pada sampah serta obat..

Sedangkan dari Magelang, ada sebuah TV komunitas yang didirikan sejumlah orang kreatif untuk menyiasati blank spot area di daerah itu dari siaran tv nasional pada tahun 2004. Grabag TV memberikan alternatif hiburan dan pendidikan bagi masyarakat di kecamatan Grabag. Grabag TV menampilkan acara-acara penerangan dan pengajaran tentang pertanian, perkebunan, pendidikan hingga kesehatan bagi warga. Selain itu, Grabag TV juga memproduksi program hiburan seperti pembuatan video klip campursari, ketoprak hingga sinetron. Para personel Grabag TV bekerja secara sukarela alias tanpa bayaran atau gaji sama sekali. Bahkan mereka harus rela merogoh kocek sendiri jika mau memproduksi program acara. Yang unik adalah latar belakang para personil Grabag TV. Kepala divisi pemberitaan atau hardnews Grabag TV adalah seorang guru SD. Sementara creative director untuk program hiburan adalah seorang sopir truk trayek Magelang – Surabaya..






Dan masih ada insan kreatif lainnya dari Jember Jawa Timur. Seorang Dynand Fariz, pendiri Jember Fashion Carnaval, telah mengharumkan nama Jember sebagai salah satu kota kreatif ke tingkat nasional, bahkan juga internasional. Parade peragaan busana di jalanan sepanjang 3,6 km yang diadakan rutin tiap bulan Agustus ini, bahkan telah mendapatkan penghargaan dari museum rekor/ MURI sebagai Catwalk Fashion Show terpanjang. Dan Dynand Fariz bersama tim JFC-nya juga pernah menggelar peragaan busana di London, Mumbay serta beberapa kota di luar negeri lainnya. Seperti apakah penampilan Jakarta Fashion Carnaval jika menampilkan desain-desain terbaiknya di panggung catwalk Kick Andy? Simak selengkapnya kisah-kisah insan Indonesia Kreatif ini hanya di Kick Andy.


Friday, November 06, 2009

TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Mala¬chy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara. Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mpncari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney merninta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Sunday, November 01, 2009


TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Malachy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara.

Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mencari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney meminta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Monday, October 12, 2009


ANGELA’S ASHES

Apa yang menarik dari kisah tentang kemiskinan hingga mampu buku yang ditulis mengenainya memenangi Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award dan menduduki puhcak berbagai peringkat buku bestseller didunia selama lebih dari tiga tahun ?Mungkin itu yang Anda tanyakan kali pertama Anda membaca buku ini.

Buku ini mengangkat kisah nyata kehidupan penulisnya, Frank McCourt, yang menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam keluarga miskin di Irlandia, dan cita-citanya untuk kembali ke Amerika, tempat ia dilahirkan. Sebuah penuturan tentang bagaimana bertahan hidup dikelilingi kemiskinan, cuaca yang tak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama, dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Humor dan kelincahan Frank McCourt bercerita mampu membuat Anda mengabaikan bahwa ini cerita tentang hidup yang suram. Kemenangan demi kemenangan yang kerap diraih Frank McCourt kecil dengan cara tak terduga akan membuat Anda tersenyum dan.tertawa-tawa sendiri, atau haru dan ikut tersindir.(*)

Sunday, October 11, 2009



ANGELA’S ASHES

Apa yang menarik dari kisah tentang kemiskinan hingga mampu memenangi Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award? Buku ini mengangkat kisah nyata kehidupan penulisnya, Frank McCourt, yang menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam keluarga miskin di Irlandia, dan cita-citanya untuk kembali ke Amerika, tempat ia dilahirkan. Sebuah penuturan tentang bagaimana bertahan hidup dikelilingi kemiskinan, cuaca yang tidak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama, dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik. ***

Wednesday, August 12, 2009

ANGELA’S ASHES

Kemenangan demi kemenangan, yang kerap diraih Frank McCourt kecil dengan cara tak terduga, akan membuat Anda tersenyum dan tertawa-tawa sendiri, atau haru dan ikut tersindir.
(Jurnal Nasional, Agustus 2009)


Angela’s Ashes adalah, novel berisi kisah nyata tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan, cuaca yang tak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik

Apa yang menarik dari kisah tentang kemiskinan hingga mampu memenangi Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award dan menduduki puncak berbagai peringkat buku bestseller di dunia selama lebih dari tiga tahun? Mungkin itu yang Anda tanyakan kali pertama Anda mernbaca buku ini.

Buku ini mengangkat kisah nyata kehidupan penulisnya Frank McCourt, yang menghabiskan masa kecil dan rernajanya dalam keluarga miskin di Irlandia, dan cita-citanya untuk kembali ke Amerika, tempat ia dilahirkan. Sebuah penuturan tentang bagaimana bertahan hidup dikelilingi kemiskinan, cuaca yang tak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama, dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Namun, humor dan kelincahan Frank McCourt bercerita mampu membuat Anda mengabaikan bahwa ini cerita tentang hidup yang suram. Kemenangan demi kemenangan, yang kerap diraih Frank McCourt kecil dengan cara tak terduga, akan membuat Anda tersenyum dan tertawa-tawa sendiri, atau haru dan ikut tersindir.

"Sebuah buku yang menakjubkan . . . sungguh-sungguh memukau-Anda nyaris bisa membuka buku ini di sembarang halaman dan menemukan tulisan yang membuat Anda terperengah." Independent

"Angela's Ashes bernyanyi dengan kejenakaan yang lancang khas Limerick. Buku ini membuat Anda tersenyum merasakan .kemenangan sang oenutur kisah." ; The Times/Svifa/Ufuk

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes