Showing posts with label *Koran Bhirawa. Show all posts
Showing posts with label *Koran Bhirawa. Show all posts

Wednesday, November 04, 2009


MENCEGAH DUNIA DARI KIAMAT DINI


Sebagai kota besar yang jadi salah satu pusat peradaban manusia modern, Kota New York seperti gula yang mainpu menarik minat semut untuk datang ke daerahnya. Namun kondisi itu ternyata tak hanya menarik masyarakat biasa, juga memicu terjadinya serangkaian ancaman keamanan dari kelompok tertentu yang ditujukan untuk menghancurkan New York.

Kita tentu ingat tragedi 11 Sepetember 2001, di mana pesawat pembajak berhasil merontokkan menara kembar World Trade Center. Tak hanya itu, 14 Agustus 2003, juga "terjadi peristiwa Great Blackout, yang membuat seluruh penghuni New York, terutama Manhattan berada dalam kegelapan sebab aliran listrik putus sementara waktu.

Seperti diketahui, pemerintah setempat saat itu menyebut hal itu akibat masalah teknis. Padahal kegelapan yang diakibatkan putusnya pasokan listrik ke pusat kota bukan karena unsur teknis semata, melainkan akibat sabotase yang dilakukan makhluk jahat yang berusaha ingin menghancurkan kehidupan umat manusia.

Mengapa memilih New York ? Karena kota yang memiliki ikon Patung Liberty tersebut dianggap sebagai pusat peradaban dunia, tempat kendali perekonomian dunia dijalakan. Sehingga jika mampu melumpuhkan New York, pasti dunia dengan sendirinya akan mampu ditakhlukkan. Be-gitu alasan yang dikemukakan makhluk jahat yang mengidentifikasi dirinya dengan sebutan IWTSTW, yang ingin melenyapkan manusia dari muka bumi.

The Malice Box hadir untuk mengungkap sepak terjang IWNW yang berusaha merebut kekuasaan dunia dari tangan manusia. Novel yang berlatarbelakang kehidupan warga negeri Paman Sam masa kini tersebut berupaya menjabarkan bagaimana upaya sistematis sang superjahat, IWNW, dalam tujuannya membunuh manusia melalui agen manusia yang dikuasinya, Adam Hale. Dan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan kehancuran dunia adalah sang terpilih, Robert Reckliss.

Menyelamatkan Bumi

Setahun pasca Great Blackout, Robert Reckliss, seorang wartawan senior GBN, menerima sebuah paket berisi seperangkat tabung logam kemerahan yang asing. Sejak me¬nerima bingkisan yang dikemudian hari disebut Malice Box -Sang Wahana-yang berarti kotak muslihat penuh dendam dari Adam Hale.

Sejak saat itu, Robert tak menyangka hidupnya bakal berubah drastis. Malam hari setelah me¬nerima paket seorang narasumber yang akan diwawancarainya bunuh diri dalam situasi ganjil, yang menimbulkan berbagai spekulasi terkait kematiannya. Esok harinya, seorang teman lama mengungkap keberadaan sebuah bom misterius yang mampu menyapu habis peradaban barat dari muka bumi.

Tanggungjawab untuk menjinakkan bom berada di tangan Robert. Dirinya harus segera memulai penjelajahan menjalani serangkaian ujian yang berlangsung di berbagai sudut Manhattan, New York, untuk mengumpulkan tujuh kunci dalam waktu tujuh hari dengan merasakan tujuh ujian demi mencegah terjadinya ledakan besar dari Sang Wahana yang dilakukan IWNW.

Dalam situasi yang kritis pen-carian Robert guna mengungkap teka-teki dimulai ketika sebuah komputer milik Adam Hale di tempat yang beralamat West Village dihidupkannya sesuai feeling yang mengantarkannya menuju tempat itu. Tak dinyana, ketika online jaringan komputer di depannya langsung menghubungkan Robert dengan pemilik identitas Terri Cllll. Tanpa diduga, keduanya seperti dipertemukan takdir dengan saling mengungkap segala teka-teki yang ada di benak masing-masing. Akhirnya dari komunikasi via dunia maya didapati bahwa kondisi itu sudah dirancang Adam Hale jika sewaktu-waktu dirinya sedang dalam bahaya. Meskipun tak saling mengenal sesuai petunjuk yang didapatkan, keduanya saling bertukar informasi.

Robert Rickless memulai misi menghentikan kekuatan jahat yang sedang mengancam kehidupan manusia di bumi dan menyelamatkan nyawa Adam, dengan dibimbing Terri seorang cenayang misterius, yang buta tetapi mampu memiliki penglihatan batin. Serta di bawah pengawasan khusus seorang Nadir, yang memiliki kekuatan istimewa yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap langkah yang ditempuhnya agar tak tersesat mengikuti segala petunjuk guna mencegah IWNW mengaktifkan Sang Wahana.

Dalam misi pencarian itu, Robert yang tetap dalam kebingungannya tak kuasa menolak semua petunjuk Terri walaupun dia sendiri belum paham benar apa yang dilakukannya. Karena dia tak yakin sepenuhnya ada makhluk selain manusia di dunia yang berupaya ingin melenyapkan manusia.

Perjalanan mengungkap tabir itu bukannya berjalan mulus sebab ada sesi di mana Robert diserang pria asing yang wajahnya ditutupi balaklava, yang menginginkan benda yang berhasil didapatkannya. Bukannya takut, yang terjadi malah Robert berhasil keluar dari situasi yang mengancam jiwanya tersebut setelah secara tiba-tiba mendapati dirinya menjadi kuat. Maka dia menyadari bahwa dirinya adalah Sang Unicorn yang memiliki kekuatan cahaya murni, yang harus menghadapi Minotaurus, yang berhasil marasuki tubuh Adam. Setelah berhasil melewati semua tahapan, Robert dengan keberaniannya bertemu dan melihat sendiri sosok pemakan jiwa, IWNW. Sebagai parasit yang merasuki jiwa Adam, yang mereka ingin melenyapkan pusat pengendali perekonomian dunia dengan cara meledakkan pikiran milyaran orang dalam beberapa detik melalui Sang Wahana. Robert harus bertindak cepat dengan bertarung melawan 3 makhluk IWNW yang mengendalikan Adam.

Friday, June 12, 2009


KETIKA ORANG MISKIN HIDUPNYA MENDERITA

Semua dikupas satu-persatu agar pembaca tergugah dan tak melewatkan barang satu pun isi buku untuk dibaca.
(Erick Purnama Putra, Harian Bhirawa-Malang, Juni 2009)


Dewasa ini ketika kemodernan semakin kasat mata dan mudah dijumpai simbol kemakmuran, seperti gedung bertingkat menjulang tinggi hingga sarana transportasi modern, ternyata di sisi lain kemiskinan juga tak kunjung hilang.

Meskipun saat ini makin banyak orang yang mengklaim peduli dan berjuang untuk mengangkat harkat dan derajat rakyat kecil, orang pinggiran, atau pun masyarakat marjinal. Namun sebenarnya belum aja yang ikhlas mengabdi demi mengentaskan kemiskinan. Sehingga kemiskinan dan kebodohan jumlahnya terus bertambah.

Berangkat dari fenomena itu, Iwan Sulistiawan yang pendidik dan seniman berupaya membangun empati dengan menghadirkan kisah seru yang sering terjadi di sekitar kita, terutama penderitaan dan ketidakadilan yang kerap diterima kelompok tak mampu yang tertuang dalam buku kumpulan kisah fiksi singkat.berjudul Miskin Tapi Sombong Buku ini menceritakan ketidakberesen orang miskin yang identik dengan kaum hina atau pemalas kerjanya hanya jadi benalu orang-orang kaya. Bahkan menurut Jaya Suprana. dalam pengantar buku ini menilai jika judulnya dinilai paradoksal.agar, miskin yang diulas dalam buku tak ada yang menggambarkan sifat kesombongan malah keprihatinan akibat menerima sikap dipersalahkan maupun dipandang sebelah mata Jika pun ada hanya sebuah bentuk sebuah luapan gengsi dari sifat sombong. meskipun buku ini berisi cerita fiksi singkat, namun bukan berarti pembaca tak menemukan sebuah penyegaran suasana sebagai barang yang dicari. Namun,akan banyak ditemui sebuah wacana bagus yang mengiris hati dan sembilu sebab banyak cerita yang mengundang kekaguman dan keprihatinan akibat keadaan orang miskin yang selalu tersisihkan.

Untuk memulai ulasan kisah penderitaan kaum papa, penulis mengingatkan dengan pertanyaan, benarkah politisi sungguh peduli dan berjuang untuk rakyat miskin dalam kampanyenya? Atau pernahkah kita mencoba membayangkan apa rasanya jadi orang kecil? Tentu sebuah kalimat refleksi yang akan menyadarkan individu untuk segera 'menginjak bumi' agar segera menilai sikap kita selama ini kepada rakyat miskin.

Karena itu, beragam kisah singkat dalam buku ini akan membawa pembaca pada empati dan sampai pada kesimpulan, ternyata jadi orang susah itu 'sangat susah'. Pasalnya fakta membuktikan masih banyak rakyat miskin yang hidupnya serba kekurangan dan tak mendapatkan pelayanan memadai ketika mengurus kesehatan maupun fasilitas publik lainnya yang di disediakan pemerintah. Untuk itu, kita berharap bisa semakin ingat dan peduli jika di lingkungan tempat tinggal masih banyak orang yang hidupnya tak lebih baik dari kita. Dan seyogyanya rasa syukur selalu terucap dari bibir sebagai wujud refleksi diri sebab diberi karunia kehidupan lebih baik oleh Tuhan.

Penulis yang dosen nyentrik ini melengkapi bukunya dengan banyak kisah yang terjadi pada wong cilik, mulai dari yang bertema politik, agama, plesetan dongeng sampai masalah perselingkuhan. Semua dikupas satu-persatu agar pembaca tergugah dan tak melewatkan barang satu pun isi buku untuk dibaca.

Seperti kisah kehidupan karyawan miskin kebingungan setengah mati akibat pada hari dimana gaji seharusnya bisa diambil, si istri terus menanyakan kapan bisa membawa sang bayi yang mengalami demam tinggi hingga harus dibawa ke klinik untuk diperiksa dokter. Dengan kondisi cemas berangkatlah sang bapak ke kantor untuk bekerja sembari menunggu gajian bulanan. Setiba di kantor terpampang pengumuman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, tertulis "Manajer Sedang ke Luar Kota dan Urusan Gaji Bisa Diambil Hari Jumat." Padahal saat itu masih hari Rabu dan perlu dua hari me¬nunggu duit, sementara pengobatan kesehatan anak tak bisa ditunggu k a r e na bisa berbahaya. Kondisi itu jelas membuat hati trenyuh.

Ada pula seorang guru yang setiap sorenya harus tarik omprengan dan kucing-kucingan dengan polisi. Tujuannya hanya satu, yakni mendapat uang tambahan sebagai sarana menyambung hidup keluarga agar dapur tetap mengepul. Karena pendapatan dari mengajar tak mencukupi untuk biaya menghidupi keluarga, jadinya 'nyambi' terpaksa dilaksanakan.

Cerita menggelitik lainnya tersaji dari peristiwa seorang ibu yang harus opname di rumah sakit tua sudah begitu bertempat di bangsal kumuh pula untuk menjalani pengobatan akibat kanker paru dan hati yang menggerogoti kesehatannya. Karena segan un¬tuk merepotkan dokter maupun suster, sang anak yang berbakti dengan telaten mengurus dan menjaga ibunya selama berbaring di situ. Saat nafas sang ibu tersengal-sengal dan dalam kondisi panik si anak bertanya pada dokter jaga, malah hardikan yang diterima. Pasalnya si dokter merasa tidurnya terganggu akan kedatangan si anak tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata sebabkan menjadi pasien Asura Kesehatan (Askes) yang diidetikkan dengan warga miskin hingga malah dinilai sudah unti oleh dokter itu karena ibunya rawat di rumah sakit dengan pemerintah. Karena itu, anak yang berbakti tadi mencaci maki dirinya sendiri dalam hati mengapa hai menjadi pengguna Askes.

Tetapi ada juga cerita menggelikan sekeluarga miskin akan melakukan reuni sekolah. Tak ingin kehilangan wibawa di mata teman-teman maka untuk ke tujuan tempat acara harus menyewa taksi supaya tak dinilai turun derajat. Alhasil, karena ongkos mahal, belum sampai tempat tujuan harus turun setelah uang di kantong semakin menipis. Payahnya, untuk ongkos pulang saja belum tentu mencukupi untuk membayar angkutan umum.

Kehadiran buku ini semoga menguatkan ketabahan hati insan manusia sebab di sisi lain pelajaran berharga yang bisa dipetik dari beberapa kisah ketangguhan kaum miskin dalam mengarungi kehidupan.




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes