Showing posts with label *Koran Kompas. Show all posts
Showing posts with label *Koran Kompas. Show all posts

Monday, April 16, 2012


Dunia Dalam Satu Detik

Bagi kita, satu detik adalah waktu yang sangat singkat. Begitu singkatnya hingga tak merasa jika kita telah membuang-buang waktu. Namun ternyata, banyak sekali yang dapat terjadi dalam waktu satu detik.

Pernahkah menonton film kartun “Woody Woodpecker”? Woody adalah seekor burung pelatuk yang senang sekali mematuk. Ternyata, dalam satu detik burung pelatuk dapat mematuk batang kayu sebanyak 20 kali. Binatang kecil seperti lalatpun tak kalah hebat. Dalam satu detik lalay dapat mengepakkan sayap sebanyak 200-400 kali. Wah, pantas saja susah menangkap lalat. Tahukah kamu bahwa luas gurun gobi di China bertambah 0,1 hektar (sekitar 1.000 meter persegi) dalam satu detik ? Bayangkan jika gurtun it uterus meluas terus-menerus, bisa-bisa seluruh China menjadi gurun

Selain ketiga hal itu, masih ada 111 fakta menarik lainnya dalam buku ini. Fakta tentang satu detik yang menakjubkan akan menjawab rasa penasaran kita. Buku ini mengajak kita belajar menghargai waktu

Wednesday, December 15, 2010


BAHASA INDONESIA MIRIP BAHASA DRAVIDA

JAKARTA, KOMPAS.com--Dalam seminar bertajuk "Indonesia Awal Peradaban Dunia" yang digelar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia hari ini (28/10/10), hadir beberapa pembicara. Salah satunya adalah Subra V.S, anggota 3 Eye Communication yang juga ilmuwan yang mendalami bahasa Dravida, sebuah rumpun bahasa yang digunakan secara luas oleh masyarakat India dan Srilanka.

Dalam wawancaranya dengan kompas.com, Subra mengungkapkan tentang adanya kemiripan antara bahasa Dravida dengan bahasa Melayu modern yang kini berkembang menjadi bahasa Indonesia dan Malaysia. Kemiripan itu bisa dilihat dari beberapa kosakata yang maknanya sama meskipun penulisan dan pengucapannya sedikit berbeda.

Ia memberikan beberapa contoh. Kata "karena" misalnya, dalam bahasa Dravida disebut dengan "karana". Walau penulisannya berbeda pada penggunaan huruf a dan e, namun makna kedua kata tersebut sama. Ada lagi kata "manusia' yang dalam bahasa Dravisda dikenal dengan "manushan". Perbedaan terdapat pada penggunaan hurif i, h dan n, namun makna kedua kata itu juga sama.

Orang-orang Dravida pun, lanjut Subra, telah mengenal kata "Malaya" yang merujuk pada tanah melayu, wilayah yang meliputi Sumatra dan Malaysia. Lucunya, dalam bahasa mereka, malaya berarti "Ill Country" alias negara penyakit. Tidak jelas mengapa disebut demikian, tetapi ia mengungkapkan bahwa adanya kosakata itu pasti menunjuk pada adanya relasi antara bangsa Dravida dan orang-orang Melayu yang juga memungkinkan terjadinya penyebaran bahasa.

Ketika ditanya apakah pihak Melayu atau Dravida yang menyebarkan bahasanya, Subra mengungkapkan adanya banyak kemungkinan. Namun, ia berpendapat bahwa bahasa Dravida sendiri bukan bahasa yang paling kuno di asia. Ada bahasa proto-dravida yang disebut sebagai cikal bakal bahasa Dravida. Selain itu, terdapat penelitian yang mengungkap tentang adanya peradaban-peradaban yang lebih tua dari Dravida.

Namun, saat ditanyakan tentang isi buku "Eden in the East" karangan ahli genetika asal Inggris, Stephen Oppenheimer, yang mennguraikan fakta-fakta yang mendukung pendapat bahwa peradaban dunia berawal di Indonesia, Subra mengungkapkan bahwa jika isi buku tersebut benar bukan tidak mungkin bangsa Indonesialah yang menyebarkan bahasanya pada bangsa dravida.


Thursday, March 04, 2010




JAKARTA, KOMPAS.com--Banyak ilmuan dan peneliti dari berbagai negara mengatakan Atlantis sebenarnya adalah Indonesia, apakah benar Indonesia adalah Atlantis yang sebenarnya? Setelah melakukan penelitian selama kurang lebih 30 tahun dan menemukan bukti-bukti meyakinkan, Prof Arysio Santos, Ph.D. memastikan kepada dunia bahwa situs Atlantis adalah Indonesia. Kemunculan Atlantis, The Lost Continent Finally Found karya Prof Santos secara jelas membuktikan bahwa secara geologis dan penghitungan fisika nuklir serta pendekatan kajian etnolinguistik, tafsir kitab suci, arkeologis, dan filosofis adalah Indonesia.
Hipotesa tersebut menarik banyak penelitian penting yang berhubungan dengan hipotesa Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Seperti yang dikatakan dalam release, Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Prof. Dr. Priyatna Abdul Rasyid malah mengatakan bahwa gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja tentang Deklarasi Djoenda sebagai gagasan yang sangat memahami Indonesia sebagai "pulau" Atlantis yang hilang dengan tetap mengikat Indonesia sebagai satu kesatuan Republik Indonesia (meski terpisah lautan).
Prof. Priyatna Abdul Rasyid yang juga ahli Oceanography Indonesia mengatakan bahwa Sunda Plateau sebagaimana Atlantis The Lost Continent Finally Found Karya Prof. Santos telah dapat dibuktikan secara ilmiah, terutama pendekatan geologi dan oceanography. Dengan begitu banyak aspek ilmiah yang berhubungan dengan Atlantis The Lost Continent Finally Found karya Prof. Santos maka bisa dipastikan bahwa hipotesis tersebut dapat mengangkat penelitian-penelitian yang dilakukan oleh putera-puteri Indonesia dalam berbagai bidang. Diskusi yang membahas buku berjudul Atlantis, The Lost Continent Finally Found karya Prof. Santos ini dihadiri oleh budayawan sekaligus seniman Indonesia, Sujiwo Tejo, wartawan senior, Budiarto Shambazy.

Sunday, November 08, 2009


Oleh Sujiwo Tejo

Sebentar lagi dikukuhkan penguasa periode 2009 sampai direncanakan 2014. Banyak yang waswas, SBY nanti akan memimpin tanpa oposisi. Mereka berandai-andai, dukungan yang sama sekali tanpa pembantah kelak akan memaksa SBY memegang tampuk kekuasaan secara otoriter.

Penulis sebaliknya justru mendukung keotoriteran SBY sejauh ia kembali teguh memegang nilai-nilai yang sekarang mungkin telah kita anggap basi, kedaluwarsa, dan tidak ”seksi”: Pancasila. Tanpa keteguhan SBY kepada Pancasila, dasar negara yang kini tidak saja kita anggap kedaluwarsa tetapi malah kita tertawakan, totalitas dukungan kepada SBY sesungguhnya justru menjadi perangkap.

SBY diperosokkan menjadi tumbal kehancuran Nusantara. Dasar pikiran kaum penjebak masuk akal. Negeri ini memang harus dibiarkan hancur lebih dahulu untuk bangkit dan jaya memasuki babak baru Nusantara setelah tahun 2012.

Titik jumpa

Jalur ilmiah dan nirilmiah seakan mencapai titik jumpa dalam menjelaskan kebangkitan Nusantara itu. Buku Prof Arysio Nunes dos Santos, Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2005), menunjukkan bahwa kerajaan Atlantik yang pernah berjaya dan sampai sekarang masih misterius bisa jadi tempatnya tidak di mana-mana, melainkan, ya, Nusantara ini. Temuan pakar asal Amerika Latin itu seakan memperkukuh studi selama kurang lebih 30 tahun Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya.

Antropologiman Perancis itu menggarisbawahi lebih rinci dan meyakinkan suatu hal yang sebenarnya sama-sama kita sudah tahu sejak di bangku sekolah. Yaitu, tentang betapa istimewa kedudukan Nusantara dulu maupun—seharusnya—nanti. Lalu, para sejarawan banyak yang bilang bahwa setiap tempat punya periode atau siklus sejarahnya sendiri. Nusantara menurut mereka berperiode 700 tahunan.

Seputar tahun 2012 adalah 700 tahun setelah jaya Majapahit dan dua kali 700 tahun setelah jaya Sriwijaya. Rekan-rekan dari dunia paranormal sudah banyak berkasak-kusuk: rentang 2012 ke 2016 adalah tahun-tahun yang patut diramalkan sebagai pemunculan kembali Sabdo Palon- Noyo Genggong. Dalam ramalan Jayabaya disebutkan bahwa sirna Sabdo Palon-Noyo Genggong akan menandai runtuh Majapahit dan kelak Nusantara meraih jayanya kembali sekembali pasangan misterius Sabdo Palon- Noyo Genggong.

”Kalatida” dan ”Kalabendu”

Titik temu jalur ilmiah dan nirilmiah itu bisa dipadukan juga dengan dasar pikiran ramalan Ronggowarsito. Pujangga keraton Surakarta ini membuat siklus tiga zaman. Urutan ketiga adalah zaman kekacauan pribadi, Kalatida, zaman kekacauan pribadi yang memuncak menjadi kekacauan kolektif, Kalabendu, lalu ketenteraman, Kalasuba. Algoritmanya cocok dengan prinsip chaos dalam fisika modern, temuan 1,5 abad berikutnya.

Bahwa chaos akan terdorong ke arah chaos lebih lanjut sampai pada akhirnya ke puncak chaos, Kalabendu karena hanya di dalam Kalabendu-lah terkandung energi internal mendorong keadaan kembali normal. Ekstremnya, bisa dikatakan bahwa tak perlu campur tangan eksternal buat mengembalikan Kalabendu kepada Kalasuba.

Mudah dipahami ketotaliteran SBY nantinya, yang melebihi ketotaliteran Soeharto, akan dipakai para oknum mendorong keadaan Kalatida ke Kalabendu. Soeharto cuma memegang angkatan bersenjata dan Golkar melalui pemilu yang terkesan tak demokratis. Bayangkan, SBY memegang angkatan bersenjata, kepolisian, dan seluruh partai melalui pemilu yang terkesan demokratis.

Pada Kalabendu itu nanti akan muncul energi internal membalik sejarah kepada seputar tahun 2012. Kalau dipas-paskan dengan ramalan suku Maya yang pernah hidup di selatan Meksiko dan prediksi mereka mengguncang dunia ilmiah tahun lalu, bahwa akan terjadi kebangkitan besar di dunia pada 21 Desember 2012, berarti, ya, saat itulah tampil pemimpin agung pengusung babak baru Nusantara, babak Kalasuba.

”Kalasuba”

Dengan dukungan mutlak dan mau tak mau berarti kekuasaan di satu tangan, SBY sesungguhnya bisa berbalik menjebak kaum penjebak. Kaum penjebak menjerumuskan SBY menjadi faktor akseleratif peningkatan Kalatida ke Kalabendu. Namun, pada saat yang sama, dengan keotoriterannya, SBY dapat ”menyihir” diri sendiri menjadi energi internal pembalikan Kalabendu menjadi Kalasuba.

Dengan keotoriterannya, SBY bisa menjadikan diri sebagai teladan yang wajib dicontoh dalam menafsirkan maupun melaksanakan Pancasila yang belakangan ini telah kita anggap basi.

Pancasila

Sekadar usul yang mungkin bisa dipertimbangkan, berikut adalah tafsir Pancasila atas dasar Hasta Brata dari tradisi wayang, tradisi yang oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Ketuhanan Yang Maha Esa berarti seluruh warga, terutama para pemimpinnya, lebih-lebih pemimpin puncaknya, yakni kepala negara, harus suwung. Suwung itu zero, tetapi bukan empty. Pemimpin hanya melekat kepada Tuhan. Ia tidak melekat kepada yang lain, termasuk pada harta benda miliknya. Pemimpin boleh kaya dan berkuasa (berisi), tetapi tak boleh punya kemelekatan pada harta-benda dan kekuasaan tersebut (kosong).

Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti manakala kemaslahatan bersama dunia membutuhkan harta benda dan kekuasaannya, pemimpin—terutama pemimpin tertinggi—yang telah suwung harus merelakannya. Ini bagai Prabu Yudistira yang bahkan merelakan darah dagingnya sendiri diiris, bagaikan Nabi Ibrahim yang bahkan merelakan anak sendiri buat disembelih.

Persatuan Indonesia berarti pembatasan wilayah imajiner kepedulian kita terhadap seluruh makhluk agar keanekaragaman di dunia tetap terpelihara. Tak bisa seluruh dunia kita jadikan satu negara dan satu bangsa. Ini akan menyalahi kodrat lima unsur sumber daya alam: materi, waktu, energi, ruang, dan keanekaragaman.

Selanjutnya, hanya orang- orang yang terbukti mampu menjaga keanekaragaman dunia melalui persatuan Indonesia dalam ranah kemanusiaan atas dasar ketuhanan itulah yang berhak memimpin musyawarah mufakat. Itulah seyogianya makna sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Dengan keotoriterannya, SBY nanti bisa berfatwa: tak boleh ada musyawarah apa pun yang agendanya bukan untuk sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SUJIWO TEJO, Dalang

Monday, May 04, 2009


MEMBONGKAR KONSPIRASI AMRIKA SERIKAT

Sebagai mantan pelaku kejahatan korporatokrasi, dia juga menawarkan solus
(Kompas, Mei 2009).

Tipu muslihat bandit ekonomi dari negara adidaya Amerika Serikat begitu memukau negara berkembang. Caranya, memberi bermacam kemudahan, terutama dana pembangunan. Indonesia yang kaya sumber daya alam, menurut pengakuan John Perkins, menjadi korban pertama.

Presiden Soekarno melararig praktik korporatokrasi Amerika Serikat di Indonesia melalui undang-undang yang menegaskan pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara. Sejumlah konsesi pun dibekukan. Pada era Orde Baru, korporatokrasi leluasa beroperasi di Indonesia. Bantuan mengalir dalam bentuk dana pembangunan, kemanusiaan, bahkan bantuan militer. Semua itu kamuflase untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Perkins mengungkap pengakuan bandit ekonomi, reporter, sukarelawan korps perdamaian, eksekutif korporat, Bank Dunia, IMF, dan pejabat pemerintahan. Sebagai mantan pelaku kejahatan korporatokrasi, dia juga menawarkan solusi.



Monday, October 13, 2008


KETIKA HATI TERBENTUR BUDAYA

Novel ini dianggap telah menistakan gadis Riyadh dan diduga salah menginterpretasikan Al Quran. Akan tetapi, di pasar gelap novel ini terus digandrungi, bahkan menjadi best seller di Timur Tengah dan kini telah diterjemahkan lebih dari dua puluh lima negara.
(Ummi Kulsum, Litbang Kompas, HU Kompas, September 2008)


Hal apakah yang umum ada di benak orang Indonesia tentang Arab Saudi ? Selain negeri yang tandus dan panas, tentunya adalah pakaian orang di sana yang selalu mengenakan abaya (sejenis jubah panjang yang menutupi tubuh) dan perempuan yang mengenakan kerudung besar hingga menutupi separuh tubuhnya. Cara berpakaian seperti ini banyak ditiru oleh sebagian orang Indonesia, termasuk cara berpakaian laki-laki yang berjubah panjang hingga ke mata kaki.

Di Arab Saudi, pergaulan lawan jenis sangat terbatas, bahkan diberlakukan jam malam bagi muda-mudi untuk berada di wilayah umum, seperti mal, pasar, atau kafe. Namun, bagaimanakah kehidupan di balik layar muda-mudi negeri itu ? Apakah mereka selalu disiplin mengenakan abaya dan kerudung? Ataukah mereka masih tertunduk malu ketika menatap lawan jenis ?

Semua imaji itu akan hilang ketika kita membaca novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Novel itu diangkat dari kisah nyata kehidupan dan pengalaman cinta empat orang gadis dari kalangan atas di Arab Saudi. Di Riyadh-lah semua cerita ini berawal, dari bangku sekolah tingkat atas hingga mereka lulus menjadi sarjana.

Adalah Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais yang sering berkumpul dan saling berbagi cerita di rumah Ummy Nuwair, seorang wanita yang ditinggalkan suaminya. Mereka saling berbagi cerita dan mendukung satu sama lain meski terkadang mereka berbeda pendapat. Dari kisah pertemanan sehari-hari seperti itu kisah novel ini terjalin.

Apa yang dilakukan oleh keempat gadis dalam novel ini mungkin biasa bagi kebanyakan orang, khususnya di Asia, apalagi Eropa atau Amerika. Akan tetapi, tidak demikian bagi Arab Saudi, negara yang mendasarkan ini pada ajaran Islam dan sangat membatasi pergaulan lawan jenis. Suatu negara di mana misalnya, seorang perempuan tidak boleh sendirian di ruang publik tanpa ada keluarga yang menemani ataupun bagi wanita mengendarai mobil sendiri.

Bukan hanya aturan negara yang membatasi kehidupan mereka, tetapi budaya juga kuat menekan kehidupan pribadi mereka hingga ke persoalan cinta. Pun bagaimana seseorang menjalani kisah percintaannya harus sesuai dengan tuntutan budaya. Inilah yang dialami oleh empat gadis, seperti dikisahkan oleh narator dalam novel yang judul aslinya Banat al-Riyadh.

Cerita diawali dengan prosesi pernikahan Qamrah yang baru beberapa minggu menjalani kuliah di bidang sejarah. Malangnya, perkawinan itu ternyata semu ! Rasyid menikahi Qamrah hanya sekadar memenuhi keinginan keluarganya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Karen, gadis keturunan Jepang.

Kebahagiaan perkawinan menjadi sangat singkat bagi Qamrah. Yang tertinggal justru kebencian dan dendam kepada mantan suaminya tersebut karena suaminya menceraikannya justru setelah tahu Qamrah hamil.

Saat Qamrah sedang gundah, Shedim, tokoh wanita lain dalam novel ini, justru sedang dimabuk cinta oleh Walid. Cinta yang berbunga dari Shedim justru hancur setelah dia menyerahkan seluruh cintanya secara utuh kepada Walid. Shedim tidak pernah mengerti mengapa Walid yang sangat bergairah dengan persetubuhan mereka malam itu justru langsung membatalkan pertunangan setelahnya.

Sementara itu, Michelle menemukan lelaki hebat bernama Faishal yang berpikiran maju dan mampu menerobos sekat-sekat budaya masyarakat Arab. Namun, Michelle pun akhirnya kecewa setelah tahu keluarga Paishal tidak menyetujui hubungan mereka hanya karena dia keturunan Amerika dan bukan asli Arab. Michelle tidak pernah menduga Faishal yang berpikiran sangat maju tunduk pada keinginan keluarga agar menikahi gadis asli Arab.

Berbagai gugatan pada budaya dan lelaki mengalir dengan lancar dalam novel tersebut, seperti Michelle yang tidak dapat menerima nilai poligami yang akrab dalam masyarakat Arab. Atau sikap seorang istri yang bahkan rela melamar gadis untuk menjadi istri kedua suaminya. Bahkan, Michelle merasa negeri itu keliru dalam menerjemahkan peraturan untuk membedakan mana yang seharusnya diurus oleh negara (ranah publik) dan yang menjadi masalah pribadi (ranah privat).

Jika Qamrah menjadi korban budaya masyarakat lokal yang hanya menerima menantu keturunan Arab, Shedim membenci kemunafikan dan kelemahan laki-laki dalam masyarakatnya. Cinta kedua Shedim dengan Faraz yang telah terjalin selama empat tahun pun harus kandas hanya karena Sedhim bukanlah calon menantu yang tepat bagi keluarga Faraz.

Benang merah budaya masyarakat lokal yang sangat melukai pengalaman cinta ketiga gadis tersebut terungkap dalam novel setebal 406 halaman ini. Kutipan puisi dalam bait-bait yang tertuang dalam novel ini pun sarat dengan pemberontakan dengan nilai-nilai patriarki masyarakat Arab, seperti salah satu bait Nizar Qabany yang dikutip oleh Narator;

Kita masih hidup dalam logika kunci dan gembok

Melipat kaum perempuan dalam gumpalan kapas, Menguburnya dalam pasir, Memilikinya seperti benda,

Kehidupan terus berlanjut hingga akhirnya para gadis-gadis itu menjadi lebih kuat dan mandiri. Ketika Faishal dan Faraz menawarkan hubungan yang ganjil setelah kedua laki-laki itu menikah, dengan tegas Shedim dan Michelle menolaknya. Hal itu karena sama saja dengan membenarkan kepicikan laki-laki untuk mengabaikan istri mereka dengan alasan "pilihan keluarga".

Kisah dalam novel ini pada awalnya adalah surat elektronik (e-mail) dari penulis yang menceritakan tentang pengalaman hidup empat orang temannya yang dikirimkan ke berbagai mailing list di Arab Saudi setiap Jumat siang. Lambat laun kisah ini menjadi perbincangan umum di setiap Sabtu dan Minggu. Berbagai komentar pun muncul, baik yang ikut bersimpati terhadap kisah mereka maupun yang membenci surat-surat itu karena dianggap menyebarkan aib masyarakat. Bahkan, surat kabar lokal menuliskan gejala baru di masyarakat yang berkumpul pa da Sabtu siang di kafe untuk membicarakan surat elektronik dari gadis yang tidak pernah menyebutkan identitas aslinya itu.

Atas persetujuan keempat temannya, Rajaa Al Sanea menuangkan cerita itu dalam novel persis seperti kisah aslinya. Novel pertama kali dicetak tahun 2005 dengan judul asli Banat al-Riyadh oleh Saqi Books di Arab Saudi. Namun tidak lama setelah itu dilarang peredarannya oleh pihak kerajaan Arab Saudi karena menimbulkan kontroversi dan muncul berbagai tudingan miring terhadap novel tersebut meski sebenarnya novel ini membongkar kemunafikan masyarakatnya. Salah satu contoh adalah hubungan seks pramartial bagi pasangan yang baru bertunangan sebenarnya telah menjadi rahasia umum di negeri itu.

Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang bahwa pergaulan antara lawan jenis di Arab Saudi tidaklah berbeda dengan muda-mudi di negara lain di mana tidak ada larangan atau batasan pergaulan antarjenis. Keberanian penulis novel untuk mengungkapkan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Arab Saudi menjadikan keistimewaan novel ini.

Pengungkapan kekecewaan seorang gadis atas pengkhianatan yang dialaminya justru dianggap telah menodai citra gadis Arab Saudi. Pemberontakan akan nilai-nilai konservatif masyarakat terhadap cinta dan seks meresahkan banyak orang. Bahkan, pada 9 Oktober 2006, dua orang warga negara Arab Saudi mengajukan keberatan atas novel tersebut ke pengadilan tinggi di Riyadh. Novel ini dianggap telah menistakan gadis Riyadh dan diduga salah menginterpretasikan Al Quran. Akan tetapi, di pasar gelap novel ini terus digandrungi, bahkan menjadi best seller di Timur Tengah dan kini telah diterjemahkan lebih dari dua puluh lima negara.



Monday, May 12, 2008


B U K U BAKU

ALAN GREENSPAN;SANG MAESTRO

Meski karya terjemahannya baru muncul tahun 2008, publikasi ini tetap menarik untuk disimak. Sepak terjang mantan Ketua Penasihat Dewan Ekonomi Presiden Nixon sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed hingga tahun 2000 dipaparkan secara rinci.
(Ari, Litbang Kompas, 11 Mei 2008)


* Judul: Alan Greenspan: Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia
* Judul asli: Maestro: Greenspan's Fed and the American Boom
* Penulis: Bob Woodward
* Penerbit: Ufuk Press
* Cetakan: I, Maret 2008
* Tebal: xii+310 halaman

Banyak predikat yang disandang Alan Greenspan, mantan pimpinan The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS). Ada yang menyebut sebagai ikon, maestro, dan dewa ekonomi AS, bahkan dunia. Pemberian sebutan dari berbagai kalangan, khususnya para pelaku pasar ekonomi, ini tidak dapat dipisahkan dari sepak terjang Alan Greenspan, seperti yang terekam dalam buku karya Bob Woodward, jurnalis kawakan The Washington Post, tahun 2000.

Meski karya terjemahannya baru muncul tahun 2008, publikasi ini tetap menarik untuk disimak. Sepak terjang mantan Ketua Penasihat Dewan Ekonomi Presiden Nixon sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed hingga tahun 2000 dipaparkan secara rinci.

Masih banyak catatan keberhasilan tokoh moneter dan finansial ulung yang mengakhiri jabatannya pada tahun 2006 ini. Namun, toh dari sepenggal kisahnya (1987-2000) dalam mengendalikan ekonomi negeri Paman Sam tampak jelas sosok seorang Alan Greenspan yang menyandang julukan Sang Maestro itu.

• (ARI/LITBANG KOMPAS)


Monday, March 17, 2008




PERS DAN POLITISI

Pers (NEC, ABC, CBS., Los Angeles Times, New York Times, Washington Post, atau Chicago Tribune) menyenangi Obama karena apa adanya dan perubahan yang ditawarkan bukan mimpi surga (Budiarto Shambazy, Kompas, 1-Maret-2008)

Jika tak ada aral melintang, Sabtu (1/3) ini pukul 14.30 dimaklumatkan pembentukan OFC (Obama Fans' Club) di SDN Besuki, Menteng, Jakarta. Di sinilah Barack Obama sekolah kelas 3 sampai 4 mulai tahun 1970.

Waktu itu nama belakangnya "Soetoro", diambil dari ayah tirinya, Lulu Soetoro. Pak Lulu menikahi ibunya, Ann Dunham yang asal Kansas City, AS (Amerika Serikat).

Barry, begitu ia dipanggil, mengacungkan tangan tiap kali guru minta sukarelawan penghapus papan tulis. "la selalu tersenyum, gigi putihnya berderet rapi seperti permen Chicklets," kenang sahabatnya, Rully Dasaad.

Menurut Rully, Barry gemar main kasti, main ke rumah teman sehabis sekolah, dan mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya di Matraman. "la anak bongsor yang aktif jadi pandu," tambah Rully.

Total ada 27 teman sekelas Obama yang tetap saling kontak. "Kami berharap anak SD Per-cobaan Negeri Besuki terpilih jadi presiden AS," ujar Rully dengan rasa bangga.

Waktu diminta menulis kata pengantar buku Obama, The Audacity of Hope, penerbit Ufuk Press bertanya apa mungkin "Obambi" (julukan lucu untuk dia) jadi presiden AS ? Saya jawab, "Terus terang, saya ragu. Kalau jadi wapres, itu mungkin."

Saya belum bisa membayangkan rakyat AS bisa terima kenyataan Obama yang "separuh hitam" jadi presiden. Namun, kini terbukti Obama capres terfavorit mengalahkan Hillary Clinton dan John McCain.

Menurut jajak pendapat Research Center periode 20-24 Februari, Obama mengungguli Hillary 49-46 persen dalam kompetisi Demokrat. la mengungguli McCain 7 persen untuk pilpres November.

Tak heran AS terjangkit "Obamamania". Bintang film George Clooney, ratu talk show Oprah Winfrey, sampai klan Kennedy mendukungnya. Para pesohor membuat situs "Celebrity Support to Draft Obama" (http://www.drafto-bama.org/celebrities) yang mengajak rakyat mengisi petisi dukungan. Salah satu pendananya Dreamworks, studio top Hollywood milik Steven Spielberg, Jeffrey Katzenberg, dan David Geffen.

Dengar dan lihatlah lagu klip video kampanye Obama ciptaan Black Eyed Peas berjudul Yes We Can. Ikut beraksi di klip itu aktris seksi Scarlett Johansson, mantan bintang basket Kareem Abdul Jabbar, dan penyanyi John Legend.

Grup rock Boston marah kepada capres Republik, Mike Huckabee, yang suka memainkan hit More Than A Feeling dalam kampanye. "Stop menyanyikan lagu Boston, saya pendukung Obama," tegas personel Boston, Tom Scholz.

Ketika jadi tamu di acara talk show Ellen DeGeneres, Obama beraksi dengan goyangan tubuh dan tangan yang mirip dansanya John Travolta. Kini gaya itu laris dimainkan di kelab-kelab dansa.

"Obamamania" menular ke mancanegara. Kota bernama Obama di Jepang ikut bangga, apalagi rakyat Kenya yang tanah airnya. Hari Jumat kemarin rakyat Kenya demonstrasi gara-gara beredarnya foto Obama memakai sorban. Adalah kubu Hillary yang menyebarkan foto itu melalui internet.


Ini desperate tactic karena Hillary sudah 11 kali berturut-turut ditaklukkan Obama. Foto itu diambil saat Obama mengunjungi Kenya tahun 2006.

Kubu Republik pun tak jera menyebut nama "Obama Hussein" dengan demonstratif. Maksudnya agar yang mendengar terasosiasi dengan dua musuh AS, Osama bin Laden dan Saddam Hussein.

Untungnya para calon pemilih tak berubah pendirian. Mereka tetap mengagumi latar belakang internasional Obama yang kaya. "Kakek saya pernah memeluk Kristen, lalu Islam. Ayah saya Islam, saya tinggal empat tahun di negeri berpenduduk mayoritas Islam," kata Obama. Gerejanya di Chicago sempat disidik aparat karena dicurigai jadi tempat kegiatan politik Obama.

Sempat beredar cerita Obama tidak patriotis karena tak memasang pin bendera AS di kerah jasnya. Belakangan muncul kekhawatiran ia bisa dibunuh seperti Martin Luther King atau Robert Kennedy.

Untungnya Obama punya sahabat, yakni pers yang menganggapnya tokoh karismatis yang membangkitkan harapan. Media konservatif memberikan dia porsi wajar, apalagi yang independen seperti NEC, ABC, atau CBS. Koran top seperti Los Angeles Times, New York Times, Was¬hington Post, atau Chicago Tribune idem ditto.

Muncul keluhan dari kubu Hillary yang merasa pers "memanjakan" Obama sekaligus bersikap diskriminatif terhadap istri Bill Clinton itu. Pers menyenangi Obama karena apa adanya dan perubahan yang ditawarkan bukan mimpi surga.

Tabloid gosip memberitakan setiap aspek kehidupannya, mulai dari kebiasaannya berbelanja sampai jenis celana dalam yang dipakainya Kalimat yang sering dipakai, "He's one of us."Wajah Obama menghiasi lebih dari 20 sampul depan majalah top, termasuk Time dan Newsweek. Koresponden The Straits Times Singapura di Washington DC, Derek Pereira, sudah berbulan-bulan menunggu giliran mewawancarai Obama.

Pekan lalu mahasiswa bertanya di kelas, "Jika melihat fenomena Obamania, bagaimana hubungan politisi dengan pers di sini?" Saya jawab menurut "teori" yang benar politisi menganggap pers sebagai mitra. Ada politisi "antiteori" yang percaya pers bukanlah mitranya. Dan ada pula politisi yang "antipers" karena setelah terpilih terbukti tak memenuhi janji-janji muluknya
.



Wednesday, February 13, 2008


AKANKAH MENGGESER BUKU CETAK ?

Oleh Palupi Panca Astuti


Tampaknya menunggu reaksi pasar adalah pertimbangan utama penerbit-penerbit buku dalam memproduksi buku-e. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Penerbit Ufuk dan Mizan, yang saat ini telah mulai memproduksi buku-buku elektronik. Bahkan, seluruh buku terbitan Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing(Pustakaloka Kompas, Februari 2008).


Peluncuran teknologi terbaru yang sangat memudahkan membaca buku secara digital—lebih dikerial dengan istilah e-book (electronic book)— itu kemudian menambah spekulasi akan terjadinya revolusi terhadap budaya cetak oleh budaya digital.

E-book atau buku elektronik —selanjutnya disingkat buku-e— adalah buku yang dibuat dalam format elektronik, tidak dicetak di kertas seperti biasanya. Buku jenis ini hanya bisa dibaca di media-media tertentu seperti komputer, PDA, atau perangkat khusus pembaca buku elektronik (buku-e readers/buku-e devices).

Buku-e pertama dibuat tahun 1971 oleh Michael Hart, inisiator Gutenberg Project (proyek Gutenberg) di Universitas Illinois, Amerika Serikat. Gutenberg Project adalah proyek pembangunan perpustakaan digital untuk umum yang lebih berkonsentrasi pada digitalisasi buku-buku karya pengarang-pengarang kla-sik seperti William Shakespeare, dan Edgar Allan Poe.

Tahun 1981, terbit buku-e komersial pertama di dunia. Penerbit Random House meluncurkan kamus berbentuk buku elektronik yang dijual di pasaran dengan judul The Random House's Electronic Thesaurus. Meski demikian, booming buku-e baru terasa pada awal 2000-an. Kala itu, pengarang fiksi misteri terkenal Stephen King menerbit-kan bukunya yang berjudul Riding The Bullet secara eksklusif di internet melalui penerbit buku elektronik Simon & Schuster.

Di Indonesia, pencinta buku juga sudah mulai menikmati alih teknologi perbukuan dengan adanya buku-e. Diawali ketika Mizan membuka akses gratis di situsnya untuk para pengunjung yang ingin membaca buku berjudul Wasiai Sufi Imam Khomeini kepada Putranya, Afimad Khomeini (Yamani) dalam bentuk elektronik. Proyek yang dikatakan sebagai proyek percobaan itu berhasil menjaring ribuan peminat yang mengunduh buku-e tersebut. Sayangnya, keterbatasan buku yang akan dibuatkan Mizan berhenti memproduksi buku-buku digital selanjutnya. Keterbatasan ini disebabkan tidak adanya pengarang yang bersedia bukunya dibuat dalam versi digital yang dapat diunduh secara gratis oleh pembaca.

Era teknologi informasi saat ini membuka sebuah celah, dan celah itulah yang menjadi peluang bagi penerbitan buku-e. Meski baru bersifat percobaan, Penerbit Mizan telah mengawali memasuki peluang ini pada awal-awal milenium 2000. Kini, hampir satu dekade kemudian, celah bisnis itu kembali digarap. "Era digital memang harus kita hadapi, tak bisa dihindari. Oleh sebab itu, tahun ini kami men-coba kembali menggulirkan buku elektronik di pasar buku Indonesia," kata Putut Widjanarko, Direktur Pelaksana Penerbit Mizan. Saat ini Mizan sudah mem-persiapkan sekitar 30 judul buku, fiksi, dan nonfiksi yang akan dibuat dalam bentuk buku-e.

Ditanya seputar prospek buku-e ke depan, Putut menjawab, jika hal tersebut belum dapat diperkirakan saat ini. Budaya membaca buku yang dicetak di kertas dengan membaca buku bentuk digital tentu memiliki tingkat keasyikan sendiri-sendiri. Apalagi Indonesia yang minat baca masyarakatnya masih tergolong rendah, buku konvensional pun kurang mendapat ternpat. Namun, teknologi buku-e ini tetap harus mulai diperkenalkan, apa pun tanggapan dari masyarakat.

Cukup menarik. Meski masih diragukan peminatnya, toko buku dunia maya yang mengkhususkan menjual buku-e kini semakin mudah ditemukan. Untuk saat ini, jenis koleksi buku-e yang ditawarkan di toko-toko buku online tersebut kebanyakan buku nonfiksi psikologi maupun buku-buku yang mengulas tips dan trik tertentu (how to books).

Khusus untuk buku fiksi, hanya beberapa judul saja yang telah dibuat versi digitalnya. Dan biasanya, buku-e jenis ini lebih banyak beredar di antara komunitas tertentu saja, misalnya, penggemar cerita silat yang pernah membuat versi buku-e cerita silat (cersil) Naga Sasra Sabuk Inten dan Api di Bukit Me-noreh, juga cersil-cersil lainnya karya Asmaraman S Kho Ping Hoo. Di sebuah situs toko buku online lokal yang menjual dua versi buku, cetak dan digital, baru dua judul novel yang tersedia versi elektroniknya, yaitu The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan The Expected One karangan Kathleen McGowan.

Masih minim permintaan

Akankah nantinya peminat buku di Indonesia beralih ke buku-e untuk membaca buku-buku kegemaran mereka? Menurut Direktur Produksi Penerbit Ufuk Baqar Bilfaqih, hal ini disangsikan akan terjadi.
"Kedua jenis buku memiliki pasarnya masing-masing, tergantung cara baca yang lebih disukai orang. Artinya, jenis buku cetak akan tetap diminati dan buku elektronik pun punya penggemarnya seridiri," kata Baqar.

Ketika awal-awal buku-e mulai dikenal publik pencinta buku di Indonesia, keraguan akan bakal berkembangnya buku digital sangat besar. Bagaimanapun, buku konvensional yang simpel dan praktis karena bisa dibaca di mana-mana masih menjadi alasan utama orang lebih memilih membaca buku cetak daripada di media khusus seperti buku-e. Meski kemudahan untuk dapat menemukan kata atau kalimat tertentu dalam buku-e tidak ditawarkan buku konvensional, hal itu belum menjadi pertimbangan besar mereka yang ingin membaca buku-e. Bahkan, harga jual yang lebih murah dari buku cetak pun belum membuatnya memiliki pasar yang nyata di negeri ini. Teknologi digital telah memudahkan buku-e tercipta dengan ongkos produksi yang lebih kecil daripada buku yang dihasilkan dengan teknologi cetak.

Minimnya permintaan, membuat penerbit berpikir seribu kali untuk membuat versi elektronik buku yang diterbitkan.
"Untuk memproduksi jenis buku-e, pada buku-buku yang diterbitkan, terus terang kami belum sampai pada pemikiran itu. Sepertinya pasar belum siap untuk menikmati buku yang hanya bisa dibaca di alat-alat tertentu seperti komputer maupun alat pembaca khusus tersebut," jelas Amin Bakri, Komisaris Utama Penerbit Menara. "Namun, jika demand-nya cukup kuat, pasti kami akan melangkah ke arah itu juga," ujar Amin menambahkan.

Hal serupa juga dikatakan Ahmad Zamroni, Kepala Editor Pustaka Azzam, tentang prospek penerbitan buku-e di perusahaannya. "Saat ini kami belum memikirkan akan membuat buku-e. Semua itu nantinya tergantung pasar. Jika menguntungkan, akan kami lakukan," jelas Ahmad. Namun. Ahmad cukup optimistis buku-e akan memiliki perkembangan yang baik suatu masa nanti.

Tampaknya menunggu reaksi pasar adalah pertimbangan utama penerbit-penerbit buku dalam memproduksi buku-e. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Penerbit Ufuk dan Mizan, yang saat ini telah mulai memproduksi buku-buku elektronik. Bahkan, seluruh buku terbitan Ufuk telah memiliki versi digitalnya masing-masing.

"Kami bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu sebuah situs toko buku online, yang membu- • atkan versi elektronik dari seluruh buku yang telah diterbitkan. Ufuk hanya menerima royalti dari setiap buku-e yang dibeli dari toko buku online tersebut," jelas Baqir dari Penerbit Ufuk.

Kenyataannya, teknologi kini memang semakin cepat berkembang. Dan masyarakat Indonesia termasuk yang cukup senang dengan kehadiran teknologi-teknologi baru, khususnya yang mempermudah hidup. Dan inilah yang ditawarkan buku-e, dengan teknologi nya yang memudahkan pembaca mencari inti cerita atau tulisan dari kata atau kalimat yang bisa dicari dengan fasilitas yang ada di buku jenis ini. Selain itu, kesempatan pengenalan teknologi baru dalam membaca buku ini memang harus dicoba. "Buku-e dapat dianggap sebagai kurva pembelajaran bagi masyarakat. Celah ini harus dicoba. Hasilnya, bisa menjadi pengalaman belajar baru dalam membaca buku," kata Putut dari Penerbit Mizan.

Friday, January 25, 2008


Barack Obama Masuk Best-Seller
Pustakaloka-Kompas


Menerjang Harapan;Dari Jakarta Menuju Gedung Putih Karya Barack Obama mendapat appresiasi dari Harian Kompas sebagai salah satu buku laris Pustakaloka-Kompas kategori non-fiksi. Pemilihan ini berdasarkan perhitungan Pustakaloka-Kompas terhadap penjualan terlaris selama bulan Mei 2007 di toko buku Gramedia di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya dan Timor

Thursday, January 24, 2008




















Barack Obama,
Superstar Politik Jalan Tengah

Oleh : Rizal Mallarangeng

Setiap generasi di Amerika Serikat tampaknya selalu memunculkan seorang superstar politik. Kali ini Barack Obama, 45 tahun, yang tampil mengisi peran itu. la muncul secara tak terduga dan dalam waktu relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru
(Rizal Mallarangeng, Koran Kompas-2007).


Demokrasi Amerika men­jadi semakin hidup. Hillary Clinton telah membuka kemungkinan bagi se­buah sejarah baru, presiden perempuan pertama di negeri Paman Sam. Kini Obama juga menjanjikan hal yang sama: presiden kulit hitam pertama di negeri yang sama.

Konvensi Partai Demokrat dan pemilu presiden memang masih setahun lagi, tapi sejak saat ini pun daya tarik kompetisi politik yang dilakoni oleh tokoh-tokoh menarik dan berbakat (di Partai Republik ada Rudy Gulliani, pah-lawan peristiwa 9/11, dan John McCain, pahlawan Perang Viet­nam) sudah mulai mencuri perhatian publik.

Di kalangan Partai Demokrat sendiri, kemunculan Obama tak urung membuat kubu Hillary Clinton kalang kabut. Semula se­nator dari New York dan mantan First Lady ini dianggap sebagai kandidat terafas. Akan tetapi, sekarang posisi itu mulai goyah, dan momentum politik beralih ke Obama.

Obama yang melewati masa kecilnya di Indonesia ini (dia menyebut dirinya sebagai Jakarta's street kid) sekarang sedang menunggangi gelombang pasang yang terus membawanya ke po­sisi yang semakin tinggi. Di mana letak kekuatan superstar baru ini?

Sama dengan Bill Clinton dan Ronald Reagan sebelumnya, Obama memiliki kemampuan se­bagai orator dengan pribadi yang karismatik. Kefasihan dan caranya berbicara, tekanan suaranya, tatapan matanya, gerak tubuhnya: semua elemen-elemen dasar ini saling memperkuat dan me­munculkan citra seorang pemimpin yang sungguh-sungguh, kredibel, menawan, dan membangkitkan simpati serta harapan sekaligus. Kekuatan karisma inilah yang melebutkan kritik yang banyak ditujukan terhadapnya sebagai seseorang yang masih hijau dalam panggung pemerintahan

Selain itu, pengalaman hidupnya juga merupakan manifestasi The American Dream itu sendiri. Sama seperti Colin Powell, dari keluarga menengah bawah Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hi­tam ke-3 dalam sejarah AS, setelah sebelumnya menjadi dosen di Universitas Chicago, senator di Negara Bagian Illinois, dan pre­siden dari jurnal bergengsi, Har­vard Law Review, sewaktu ia ma­sih belajar di Universitas Har­vard, salah satu perguruan tinggi terbaik di AS. Publik Amerika mudah jatuh hati pada cerita'sukses semacam ini, apalagi oleh seorang anak muda kulit hitam yang tak suka mengeluh dan menyalahkan situasi di sekelilingnya, termasuk sejarah perbudakan di Amerika.

Penulis Besar

Tidak kurang dari semua kelebihan yang dimilikinya, daya tarik Obama terletak pada ide-ide yang dilontarkannya dan kemampuannya sebagai seorang penulis. Memoar yang ditulisnya sepuluh tahun lalu, Dreams from My Father, tentang masa kecilnya hingga menyelesaikan kuliahnya, tentang keluarga dan lingkungan dekatnya di Chicago, kini menjadi bestseller dan oleh kolumnis terkenal majalah TIME, Joe Klein, dianggap sebagai salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis seorang politisi Amerika. Dengan memoar semacam ini, jika Obama tidak meniti karier di du­nia politik, barangkali ia tetap bisa tumbuh dan mengukir nama harum sebagai salah satu penulis besar Amerika.

Bukunya yang terbaru, The Audacity of Hope, dalam waktu singkat juga telah menempati po­sisi bestseller. Sama dengan Dreams, dalam buku ini kita bisa melihat betapa Obama memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap dimensi-dimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya. Ia sabgat peka terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, serta mampu menceritakan semua itu dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir mengenai orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya
.
Namun, berbeda dengan buku sebe­lumnya, kali ini Obama menulis ten­tang dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. la menulis dengan mata yang tertuju pada Gedung Putih, dan karena itu menawarkan sebuah platform ke­bijakan dari seorang kandidat presiden. Dan, dalam melakukannya, ia tidak terjebak dalam analisis-analisis yang kering, tetapi membingkainya dengan anekdot, cerita, dan ungkapan-ungkapan yang memberi jiwa pada analisis-analisis tersebut.

Di situlah terletak salah satu kekuatan buku ini. Setiap persoalan politik atau isu kebijakan selalu dimulai dan diakhiri de­ngan cerita tentang manusia, ten­tang kepedihan dan harapannya, tentang kekuatan dan kelemahannya. Di sini ia memperlihatkan bahwa dunia politik dan kebi­jakan tidak berada di ruang hampa, tetapi berhubungan langsung dengan nasib dan kehidupan manusia-manusia yang riil.

Politik Jalan Tengah

Dari segi substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Barack Obama bisa digolongkan sebagai politisi moderat dari tra­disi liberal Amerika. Atau secara lebih sederhana ia bisa disebut sebagai the third way politician, politisi jalan tengah dalam tradisi yang telah dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal inilah yang membedakan Obama dengan banyak politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrem, baik di kiri (Jesse Jack­son) maupun di kanan (Alan Keyes).

Dalam membangun ekonomi Amerika, ia mengakui pentingnya peran mekanisme pasar, namun ia tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam kehidupan keagamaan, ia bisa bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia mengerti betul bahwa tradisi sekularisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus-menerus diperkuat. Dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin mem­bangun a vital center, sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang bertentangan.

Hampir dalam setiap isu, hal semacam itulah yang kita temui dalam buku setebal 375 halaman ini. Intuisi Obama adalah mencari moderasi dan jalan tengah. la ingin merangkul sebanyak mungkin kalangan. Untuk itu, ia bahkan sanggup mencari kebenaran pada lawan-lawan politiknya dan mengakui bahwa kaum Re­publikan seringkali memiliki pandangan yang lebih baik.

Kaum pengkritik Obama barangkali dapat menemukan titik lemah dalam pandangan dan intuisi seperti itu. Sebagian orang bisa berkata bahwa intuisi demikian sudah menjadi sebuah obsesi. Sementara sebagian lagi dapat menuduh bahwa jalan tengah bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan sebuah pelarian, se­buah jalan pintas untuk menghindari [ilihan-pilihan sulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.

Kritik demikian cukup mengandung kebenaran. Namun, satu tu hal yang jelas: Obama bukanlah seseorang yang tidak mampu menghadapi pilihan-pi-lihan sulit dan selalu menghindari risiko. la adalah salah satu dari sedikit politisi yang secara tegas menentang tindakan Bush di Irak yang waktu itu sangat populer. Sekarang, setelah Perang Irak dianggap gagal, hampir semua orang mengecam Bu­sh—tetapi pada saat awal, Obama imengambil risiko besar dengan memilih untuk melawan arus.

Adapun mengenai j alan tengah •sebagai proposisi kebijakan, barangkali memang saat ini Ame:rika lebih membutuhkannya. Sejarah melahirkan aktor-aktornya sendiri. Setelah zaman Bush, Amerika sekarang dahaga akan datangnya seorang pemimpin yang merangkul, seorang heal-maker, seorang yang sanggup membangun jembatan bagi begitu banyak perbedaan yang ada.

Tentu saja, politisi yang piawai harus mampu menjawab persoalan-persoalan praktis. Seorang heal-maker harus juga sanggup menjadi seorang deal-maker. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi seorang nabi, bukan pemimpin pemerintahan. Karena itu, yang paling penting adalah akal sehat dan kemampuan untuk melihat fakta sebagaimana adanya

Jalan tengah sebagai sebuah proposisi kebijakan dalam praktiknya ternyata sangat fleksibel. Seperti yang bisa dilihat pada pemerintahan Bill Clinton dan Tony Blair, ia terkadang bergeser ke kanan dalam isu-isu ekonomi karena memang tidak ada lagi pilihan yang lebih baik dalam mengatasi persoalan-persoalan praktis untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat di zaman ini. Barack Obama pun akan melakukan hal itu jika ia memang menang dalam pemilu tahun depan. Dan mungkin, kalau membaca tulisan-tulisannya, ia akan melakukannya dengan lebih baik dan simpatik.

Apa pun, cerita tentang Obama masih akan panjang. Untuk saat ini kita patut memberi selamat kepada publik Amerika. Negeri mereka seolah tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin berbakat yang penuh inspirasi. Mereka pantas bersyukur. Dan sebagai sahabat, dari jauh kita turut bertepuk tangan. .

Thursday, November 29, 2007


CHINA UNDERCOVER
MASUK BEST SELLER PUSTAKALOKA
KOMPAS NOVEMBER 2007
Setelah banyak mendapatkan apresiasi berupa resensi dari beberapa media massa akhirnya buku China Undercover terbitan Ufuk Press masuk menjadi salah satu dari buku non fiksi best seller versi Pustakaloka Kompas yang terbit tangggal 19 November 2007.
Data best seller mengacu pada survey dari 27 toko buku Gramedia di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya, dan Timor.
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes