Mengenang Kepemimpinan Bang Ali
Wednesday, July 25, 2012
Monday, April 09, 2012

MEMBACA KEKONYOLAN WAKIL RAKYAT
Namun, sangat sedikit dari janji-janji tersebut yang terealisasi. Kebanyakan wakil rakyat hanya menuntut hak pribadi mereka daripada menunaikan kewajiban lebih dulu
Hak mendapat fasilitas yang serba mewah dengan alas an agar dapat bekerja nyaman, kemudian minta gedung baru yang menghabiskan triliunan rupiah anggaran Negara hanya karena gedung lama dianggap sudah tidak kondusif. Mereka juga pelesiran ke luar negeri dengan judul studi banding
Oleh karena itu, perlu kiranya dilucuti fungsi, kewajiban, serta hak DPR agar tidak selalu hedonis. DPR mempunyai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat. Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang. Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan menyetujui atau tidak terhadap rancangan undang-undang terhadap APBN yang diajukan presiden. Terakhir, pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN
Di samping ketiga fungsi, DPR juga memiliki beberapa hak seperti interpelasi untuk meminta keterangan pemerintah mengenai kebijakan yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hak angket menyelidiki pelkasanaan suatu undang-undang dan atau kebijakan pemerintah yang berdampak luas
Hak imunitas merupakan kekebalan hokum dengan setiap anggota DPR tidak dapat dituntut di hadapan dan di luar pengadilan karena pernyataan atau pendapat yang dikemukakan secara lisan atau tertulis dalam rapat-rapat DPR, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan tata tertib dan kode etik
Yang terakhir adalah hak menyatakan pendapat atas kebijakan pemerintah, tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket, serta dugaan pelanggaran presiden atau wakil presiden. Jika melihat fungsi tersebut, DPR memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Namun, jika boleh diungkapkan, mungkin saat ini rakyat sedang mengalami sakit hati yang mendalam karena melihat perilaku DPR. Lembaga perwakilan itu sekarang menjadi lahan basah untuk korupsi. Mereka malas bersidang. Mereka tidur atau membuka situs porno di ruang siding
Membicarakan tingkah para elite wakil rakyat yang tak ada habisnya, Abu Semar hadir dengan serangkaian cerita konyol dan nyeleneh tentang perilaku anggota DPR. Abu Semar yang merupakan anggota DPR aktif itu membeberkan tingkah laku teman kerjanya yang membuat masyarakat jengkel dan geram.
Namun, dibalik kejengkelan itu, saat membaca buku ini, ada sedikit kegelian karena kisah-kisah yang tertulis dalam buku ini nyeleneh, gemesin dan sontoloyo. Para wakil rakyat yang sangat konyol ini patut diketahui banyak orang. Buku setebal 272 halaman ini bisa menjadi bacaan humoris sebagai selingan untuk sekadar menertawakan anggota DPR, bahkan tertawa geli di sela-sela amarah terhadap para wakil yang selalu membuat ulah.
Namun, mungkin rakyat juga merasa semakin muak dan bertambah marah. Apapun penilaiannya, buku ini hadir sekadar untuk mendokumentasikan tingkah laku wakil rakyat yang tak banyak diketahui orang
Sunday, February 27, 2011
Buku berisi 1.001 kata penyembuh yang memotivasi, menggetarkan hati, dan menyejukkan jiwa. Dalam buku ini, penulis Andi Arias mengangkat kembali kata kata mutiara hikmah orang orang saleh berdasarkan interpretasinya.
Berbagai sisi kehidupan, baik kehidupan dunia maupun akhirat, dicakupnya. Misalnya, tentang mengenal diri hingga mengenal Allah. Juga tentang iman, ilmu, amal, akhlak, dan ibadah. Ditambah tentang keluarga, kesehatan, ekonomi, dan hubungan sosial.
Pembaca tidak perlu mengerutkan dahi untuk memahami kata kata mutiara yang disajikan oleh Andi Arias dalam buku ini karena disajikan dengan bahasa yang luwes dan enak dibaca.
Wednesday, December 15, 2010
Ditemukannya kerangka manusia yang berumur jutaan tahun, seperti jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan berbagai macam homo, seperti Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, kurang membangun teori asal usul peradaban. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.
Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku Atlantis karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku Atlantis kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.
Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.
Dalam sebuah pertemuan di LIPI, Oppenheimer mengatakan teorinya dibangun berdasarkan kajian kedokteran (DNA), geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore. Ilmu-ilmu ini, terutama geologi, mengemukakan alasan adanya Sundaland yang dulu bersatu. Yang pertama dikemukakan adalah naiknya permukaan air laut sebanyak tiga kali di wilayah ini antara 14.500 hingga 7.200 tahun (sebelum Masehi), yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland).
Teori ini merupakan teori umum yang sering dikemukakan para geolog. “Agak sulit untuk melihat mengapa ada beberapa penentangan terhadap konsep ini, yang sebenarnya sudah diterima oleh para geolog dan para sarjana lainnya sejak lama,” katanya. Dari kajian genetika, Oppenheimer menjelaskan dari Paparan Sunda yang terpecah ini, menyebar kehidupan menyeberang laut.
Penyebaran bukan hanya dekat di wilayah ini, namun juga ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hingga ke Euroasia. Dalam pandangan Oppenheimer, orang Sumeria peletak dasar peradaban di Mesopotamia berasal dari Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar dan wajah tipikal orientalis menjadi bukti lainnya.
Teori genetikanya menyebutkan 90 persen penduduk Paparan Sunda telah ada di sana sejak 5.000 hingga 50.000 tahun lalu, bahkan beberapa di antaranya sebelum zaman es mencair dan menenggelamkan wilayah ini. “Derajat keberlanjutan genetik itu membantah pandangan ortodoks bahwa para petani padi Taiwan berbahasa Austronesia secara esensial menggantikan penduduk terdahulu dari Paparan Sunda 3.500 tahun yang lalu,” katanya.
Menurut terori sebelumnya, Sundaland belajar pertanian, peternakan dan mencari ikan dari orang-orang Taiwan yang berbahasa Austronesia sekitar 3.500 tahun yang lalu. Padahal menurut Oppenheimer, sejak ribuan tahun sebelumnya mereka telah memiliki nilai-nilai neolitik.
Oppenheimer mengatakan mereka sejak ribuan tahun lalu telah memiliki keahlian sebagai nelayan. Dari kajian linguistik yang mempelajari bahasa asli dari Sundaland, yaitu bahasa Austronesia, istilah pelayaran berasal dari Asia Tenggara, bukan dari Taiwan. Endapan Rawa Menurut Eko Yulianto, ahli geologi LIPI, apa yang dikemukakan oleh Oppenheimer memiliki bukti yang kuat dari teori geologi. Pengeborannya yang dilakukan di Laut Jawa pada kedalaman 9,7 meter menemukan adanya endapan rawa.
Diperkirakan umur endapan ini 6.000 tahun yang lalu. Di laut sebelah selatan Pulau Jawa, ia menemukan adanya fosil serbuk sari yang merupakan sisa dari tanaman jenis rumput-rumputan (graminae). Ia menduga bisa jadi serbuk sari ini merupakan berasal dari padi atau tumbuhan sejenis. Lebih lanjut, ia mengatakan teori Sundaland benar adanya karena dari kedalaman laut di wilayah terlalu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Aru, dan lainnya.
Kedalaman lautan di bekas wilayah Sundaland ini hanya berkisar 10-30 meter. Di daratan, teori tentang manusia purba dengan peradabannya yang tinggi bisa ditemukan di Gua Pawon di Bandung. Dari penenyam perkakas dan bahan bakunya sangat beragam, mulai dari batuan obsidian yang hanya bisa ditemukan di Nagrek, Garut atau Sukabumi.
Serta gigi ikan hiu yang hanya bisa ditemukan di laut sekitar Subang. Ini artinya mobilitas penghuni Gua Pawon sudah tinggi dan peradabannya sudah sangat maju. Dibandingkan dengan teori Atlantis, menurut Eko, Eden In The East lebih ilmiah. ”Dibandingkan dengan yang ditulis Santos dalam Atlantis, apa yang dikemukakan Oppenheimer lebih masuk akal,” ujarnya. Pasalnya, selama ini Atlantis banyak menautkan teorinya dengan bukti mitologis, dan beberapa bukti yang kurang ilmiah lainnya.
Apalagi Santos belum pernah datang ke Indonesia dalam membangun teorinya dan lebih berdasarkan studi pustaka. Hary Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, mengatakan teori Oppenheimer, meski mendapat banyak dukungan, perlu pembuktian lebih lanjut. Dengan berbagai teknologi yang ada sekarang, bermacam hal yang dikemukakan Oppenheimer dapat dibuktikan.
“Dengan melacak DNA dan teknologi kelautan dan berbagai macam disiplin teori dalam Eden In The East dan Atlantis, dapat dibuktikan,” jelasnya. Menurut Jimly Asshiddiqie yang sejak lama sangat menginginkan buku Eden In The East diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jika teori yang dibangun oleh Profesor Oppenheimer benar, hal ini akan membalikkan seluruh asal usul peradaban. “Sekarang orang Jepang tidak lagi menyebut dirinya saudara tua. Kita yang saudara tua,” pungkasnya.
hay/L-1
Plato juga menceritakan negara Atlantis yang kaya dengan bahan mineral serta memiliki sistem bercocok tanam yang sangat maju. Dasar mandi matahari berarti Atlantis dijadikan alasan bagi para ilmuwan benua ini berada di khatulistiwa. Buku paling anyar mengenai Atlantis yang ditulis oleh Arysio Nunes dos Santos, seorang ilmuwan Brasil, juga mengarah ke sana. Dalam bukunya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found, Santos ingin menunjukkan bahwa Atlantis yang pernah disebutkan oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias berada di Indonesia yang bermandikan surya.
Ia mengatakan Atlantis benua yang hilang itu berada di wilayah Indonesia dan sebagian Malaysia yang dikenal dengan Paparan Sunda atau Sundaland. Santos, dalam kesimpulannya, mengatakan pilar Hercules sebagai Selat Sunda dan Taprobane sebagai benua Atlantis meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Pilar Hercules dan Taprobane adalah dua di antara ciri-ciri Atlantis yang hilang seperti diceritakan oleh Plato.
Dalam konteks Paparan Sunda, Taprobane digambarkan kaya dengan emas, batu mulia, dan berbagai macam binatang. Di sini pula terdapat kota langka tempat ibu kota Kerajaan Atlantis. Sejauh ini memang Atlantis masih misterius, baik letak maupun keberadaannya. Ada yang berpendapat benua yang hilang ini berada di Laut Tengah antara Libia dan Turki. Ada juga yang mengatakan Atlantis berada di dekat Portugal, yaitu Kepulauan Azores yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal.
Santos mengatakan Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan dari India bagian selatan, Sri Lanka, dan Paparan Sunda. Dalam keyakinannya, benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekitar 11.600 tahun lalu. Gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba.
Gunung ini merupakan induk dari Gunung Krakatau sekarang ini yang mampu menenggelamkan Atlantis. Gunung ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. Akibat ledakan, terbentuklah Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan Bumi yang dulu disebut Atlantis. Bencana mahadahsyat membuat punah 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu.
Bahkan ribuan manusia tewas dan sisanya berpencar dengan membawa peradaban mereka di wilayah baru. Santos menelusuri lokasi Atlantis berdasarkan pendekatan ilmu geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan mithologi meski ia tidak pernah datang ke Indonesia. Santos juga membangun teori berdasarkan linguistik dari bahasa Dravida yang menurut teorinya merupakan bahasa yang digunakan penduduk Atlantis berdasarkan temuan linguistik dan arkeologi.
Kini, dengan buku baru karangan Stephen Oppenheimer, Eden in The East, paparan Santos mendapat argumentasi kuat meski Oppenheimer tidak bertutur tentang Atlantis. Buku Eden in The East, berdasarkan isinya, tampak mendukung teori yang dikemukakan Santos yang menyebutkan Asia Tenggara sebagai pusat peradaban kuno dunia dan Atlantis yang hilang berada di Paparan Sunda lewat beberapa teori DNA, linguistik, etnografi , dan arkeologi.
hay/L-1
Monday, December 13, 2010
(Geger Riyanto, Koran Jakarta, November 2010)
Di puncak zaman es, 20.000 hingga 18.000 tahun yang lalu, Asia Tenggara merupakan sebuah pulau yang besarnya dua kali lipat dari India. Nah, yang menjadi pijakan argumen Oppenheimer untuk mengatakan China, India, Eropa, serta berbagai kerajaan besar berakar dari diaspora penduduk Sundaland adalah buktibukti bahwa sejak sekitar 10.000 tahun yang silam orang-orang di benua yang terbenam ini telah menghidupi dirinya dengan pertanian.
Ini jelas sebuah titik balik yang mengubah sejarah manusia. Saya tidak akan pernah ada di sini, menulis sebuah resensi di depan komputer, bila tidak pernah ditemukan cara-cara bertani. Pertanian memungkinkan orangorang mulai hidup menetap, tidak lagi berburu dan meramu.
Tercukupinya stok pangan atau kebutuhan ekonomi yang mendasar masyarakat awal mula ini memungkinkan diversifi kasi pekerjaan, para penduduk tidak lagi terkonsentrasi pada pekerjaan mengumpulkan pangan. Kerajaan sebagai satu bentuk administrasi masyarakat mula-mula hanya dimungkinkan setelah ditemukannya pertanian.
Untuk memberi bangunan penyokong bagi argumennya ini, Oppenheimer memperlihatkan bahwa di berbagai penjuru dunia terdapat mitos tentang banjir dan migrasi besar. Di antara orang Yahudi, berkembang cerita tentang Nabi Nuh yang membangun bahtera untuk menghindari banjir murka Tuhan yang membenamkan seluruh Bumi.
Bandingkan dengan skema berpikir orang-orang Malaysia Barat yang menanggali periode kehidupannya berdasarkan peristiwa banjir. “Saya lahir pada tahun banjir bandang,” ujar satu orang Malaysia. “Keluarga saya pindah kemari sebelum banjir besar,” ujar yang lainnya. Buku Eden in the East menganggap ini terlalu aneh untuk menjadi suatu kebetulan.
Oppenheimer pribadi memang memunyai simpati pada orang-orang Asia Tenggara. Sejak tahun 1970-an, ia bekerja sebagai dokter di sejumlah rumah sakit di wilayah kepulauan ini. Persentuhannya dengan keanekaragaman budaya serta manusia di periode ini membuatnya takjub dan mulai bertanya-tanya. Namun, pandangan radikal dalam Eden in the East ini masih berupa sebuah hipotesis yang rentan terhadap kritik mendasar.
H Pringle, dalam sebuah artikel jurnal, menyebutkan bahwa metode penanaman padi telah ditemukan di China sejak 11.000 SM, mendahului penemuan penanaman padi di Sundaland. Perdebatan masih akan terus mengikuti.
Tetapi di antara semua itu, apa yang paling berarti adalah bagaimana Oppenheimer memperlihatkan bahwa Asia Tenggara lebih dari sekadar pasar buangan produk-produk China. Ada kemungkinan, kepulauan yang tak jarang dipandang remeh dalam peta geopolitik dunia sekarang ini merupakan benih-benih sejarah manusia.
Peresensi adalah Geger Riyanto, alumnus Sosiologi Universitas Indonesia
Lihat :
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=68122
Tuesday, April 27, 2010
Lewat media buku, Bambang Soesatyo meiigungkapkan tentang fakta yang selama ini belum terungkap tentang skandal Bank Century. Ditulis dengan bahasa jurnalistik, Bambang Soesatyo dengan terperinci menunjukkan adanya keganjilan atas kebijakan peluncuran dana rakyat 6,7 triliun triliun, hingga drama rap at di paripurna DPR dan penyelidikan di Pansus DPR.
Bambang Soesatyo menuturkan bahwa mega skandal Bank Century memang benar-benar gila. Gila karena hingga detik ini kasus penanganan skandal Bank Century macet di tangan KPK dan masyarakat belum bisa meiigetahui siapa yang harus bertanggung jawab atas kebijakan peluncuran dana 6,7 triliun rupiah. Selain itu, juga gila karena temuan-temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan hasil rapat paripurna DPR RI yang kedua-duanya merupakan produk konstitusional, belum juga ditindaklanjuti.
Melalui media buku ini Bambang Soesatyo ingin mengungkapkan bahwa ada dua hal yang harus senan-tiasa dikawal dalam kasus Bank Century, dua kasus yang belum terungkap di publik dan di Panitia Khusus Hak Angket DPR yaitu persoalan penyelesain hukum dan penentuan siapa yang harus bertanggung jawab atas mega skandal ini, selain itu juga harus diusut tuntas aliran dana 6,7 triliun rupiah tersebut.
Selain konsen pada persoalan skandal Bank Century buku ini juga menanggapi secara kritis berbagai kasus lain, di antaranya kasus pemanggilan salah satu penginisiatif Hak Angket Century, Muh Misbakhun (politisi PKS) yang menurutnya terlalu cepat keluar izin dari Istana Presiden untuk kepentingan para penegak hukum dalam melakukan pemeriksaan.
Monday, January 18, 2010

Inilah penemuan yang yang sungguh mencengangkan hasil penelitian Prof Arysio Santos. Penemuan itudihasilkan melalui penelitiannya selama 30 tahun lebih hingga menghasilkan kesimpulan bahwa wilayah indonesialah yang disebut sebagai Benua Atlantis yang hilang yang pernah ditulis oleh Plato itu.
Bentuk sistem negara republik yang kini banyak dipakai oleh negara-negara bangsa terhyata hasil adopsi dari pemikiran Plato yang dilhami oleh peradaban puncak masa lampau sebelum terbentuk Negara Indonesia. Hanya saja, Plato menyebut wilayah yang kini menjadi Negara Indonesia itu dengan Benua Atlantis. Benua Atlantis adalah suatu wilayah yang dihuni oleh sekelompok manusia yang memiliki ras super. Mereka manusia keturunan alien yang memiliki tingkat peradaban teknologi yang sangat tinggi. Semua itu digambarkan olehnya dengan jelas dalam sebuah buku yang ditulisnya dengan format dialog, yaitu trilogi "Timaeus" dan "Critias" pada tahun 370 SM. Hanya saja, jejak peradaban itu harus runtuh akibat bencana mahadahsyat berupa letusan gunung beserta banjir bandang yang pernah menimpanya di masa Pleistocene 11.600 tahun silam.
Inilah penemuan yang yang sungguh mencengangkan hasil penelitian Prof Arysio Santos. Penemuan itu dihasilkan melalui penelitiannya selama 30 tahun lebih hingga menghasilkan kesimpulan bahwa wilayah Indonesialah yang disebut sebagai Benua Atlantis yang hilang yang pernah ditulis oleh Plato itu. Dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found itu digambarkan, lokasi Atlantis terletak di wilayah the most volcanic region in the world alias daerah paling banyak gunung berapinya. Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen. Di wilayah itu didapati berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rernpah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi. Tanah Atlantis adalah tanah yang terbaik di dunia
Di wilayah atlantis, curah hujan sangat mendukung, sehingga banya terdapat kayu-kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bangunan dan berbagai macam kebutuhan lainya. Karena itu di sana terdapat banyak para tukang kayu. Begitu melimpahnya kekayaan alan sana sampaikan dalam bab 1 Prof Santos menulis Indonesia the True Site of Eden (Indonesia sebagai situs surga Eden). Di sanalah pernah disebut Plato dalam bukunya bahwa masyarakati terdiri dari tingkatan kelas. Ada yan berstatus sebagai prajurit, masyaral petani, dan golongan para pemimpin Meskipun para prajurit diberi bagian kekayaan melimpah berupa tanah yang sangat luas untuk dibudidayai tetapi mereka tetap tidak menganggap pemberian itu sebagai kepemilikan pribadi. Mereka mengganggap kepimilikanya adalah milik bersama.
Buku ini kini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari banyak pihak. Bahkan, saat ini tercatat sebagai buku terlaris di Indonesia. Sayangnya, negara masih saja terbelakang dalam infornasi dunia perbukuan di tingkat internasional. Karena buku yang baru saja terbit dalam versi terjemahan bahasa Indoesia ini telah terbit sejak 2005 dalam wajah aslinya. Melihat fenomena ini, layakllah bila wilayah Indonesialah yang disebut sebagai wilayah bekas peradaban pu cak dunia tersebut. •
Penulis adalah H Kurniaw
Thursday, November 05, 2009

(Geger Riyanto, Koran Jakarta, Oktober 2009)
Tetapi inilah yang membuatnya dikenal di publik Amerika Serikat (Amerika). Menjelang dekade '80-an, masyarakat Amerika, dalam pengamatan kritikus Christoper Lasch, mengalami deradikalisasi drastis. Pergolakan politik yang luar biasa pada dekade '60-an, sedikit di antaranya, friksi yang keras di antara negara dan masyarakat sipil soal Perang Vietnam, mengkristalnya konflik antara ras kulit hitam dan kulit putih, hingga terbunuhnya Presiden Kennedy, membuat sebagian warga mencari ketenangan spiritual.
Para warga mengambil langkah mundur dari ranah publik yang berkecamuk, berputar ke ranah privatnya, ke urusan pengembangan kejiwaannya sendiri. Warga Amerika mulai beralih ke kebiasaan menyantap makanan sehat, mengambil kursus balet, menganut spiritualisme timur, dan lain-lain. Peck adalah bagian dari generasi yang mengalami deradikalisasi ini, sang psikiater banyak terinspirasi Sufisme, Buddhisme, Kristianitas, dan spiritualisme-spiritualisme lainnya.
Ungkapan Peck, hidup itu sulit, yang membuka buku The Road Less Traveled ini adalah ekspresi masyarakat Amerika, dan buku ini secara keseluruhan adalah upaya sang psikiater menawarkan filosofi kejiwaannya. Pandangan hidup, Weltanschauung, yang memandang kehidupan secara terbalik. The Road Less Traveled sendiri berarti jalan menuju kesempurnaan spiritualitas yang jarang ditempuh, dikontraskan Peck dengan jalan kedurjanaan yang dititi kebanyakan orang.
Dalam merumuskan Ihe Road Less Traveled, Peck mengombinasikan berbagai pendekatan psikologi, spiritualisme, dan pengalaman-pengalaman yang dihadapinya dalam profesi seorang psikiater maupun kehidupan pribadinya sebagai seorang ayah. Mengapa hidup ini sulit? Peck menjelaskan karena menghadapi persoalan hidup adalah proses yang menyakitkan. Penyakit kejiwaan awalnya adalah ketakutan seseorang menghadapi kenyataan hidup, tandas Peck. Sementara The Road Less Traveled didaki dengan keberanian mengha¬dapi hidup dengan segala kesulitannya, menempuh jalan yang berbukit itu menempa spiritualitas seorang manusia. Kedengarannya mudah, tetapi tantangan pertama adalah memalingkan leher yang terbelenggu baja kemalasan untuk menatap bergunung pekerjaan hidup yang belum diselesaikan
Peresensi adalah Geger Riyanto,
alumnus Sosiologi
Universitas Indonesia.
Sunday, September 06, 2009
Kekuatan asing dalam bidang ekonomi yang terjalin dalam korporasi-korporasinya memang telah mendikte bukan saja perekonomian nasional tetapi juga pada kebijakan politik dan pertahanan
(M.Iqbal Dawami, Koran Jakarta, September 2009)
"Pernahkah Anda menyadari, dari bangun tidur, beraktivitas, hingga tidur lagi, semuanya telah dikuasai perusahaan asing ? " (hlm. 13). Begitulah Wawan membuka pembahasannya. Lihat, dari mulai minum Aqua (74 persen sahamnya dikuasai perusahaan Danone asal Prancis), atau minum teh Sariwangi (100 persen sahamnya milik Unilever, Inggris), minum susu SGM (milik Sari Husada yang 82 persen sahamnya dikuasai Numico, Belanda), mandi dengan sabun Lux, sikat gigi pakai Pepsodent (milik Unilever), dan merokok Sampoerna (97 persen sahamnya milik Philips Morris, Amerika Serikat).
Kenyataan lain membuktikan bahwa ternyata sumber daya alam kita digunakan sebagian besar bukan untuk kita, melainkan untuk negara-negara lain. Kekayaan alam dikuras dan dijarah oleh korporasi asing. Bahkan tidak hanya itu, sektor-sektor vital ekonomi lainnya seperti perbankan dan industri juga dikuasai orang asing. Inilah model penjajahan akhir abad ke-20 dan ke-21.
Hampir setiap kebijakan domestik dan kebijakan luar negeri Indonesia selalu terpengaruhi untuk mengikuti aturan yang mereka buat. Hematnya, kepentingan asing selalu melemahkan kepentingan nasional bangsa kita sendiri. Indonesia telah terseret menjadi sekadar subordinat atau agen setia bagi kepentingan asing.
Kekuatan asing dalam bidang ekonomi yang terjalin dalam korporasi-korporasinya memang telah mendikte bukan saja perekonomian nasional—seperti perdagangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran, dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non migas, dan lain-lain—tetapi juga pada kebijakan politik dan pertahanan. Lantas, masihkah Indonesia pantas disebut sudah merdeka?
Kita memang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa. Kemerdekaan yang telah kita lewati ini, mestinya kaum elite Indonesia sudah berhasil membawa Indonesia ke tahapan yang betul-betul merdeka. Tapi, kekayaan alam kita masih tak bisa kita nikmati dan mencukupi kehidupan kita. Padahal, di dalam UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 sangat jelas dinyatakan, "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" Kenyataannya ternyata tidak demikian. Hampir semua aset negara sahamnya telah dikuasai oleh pihak asing.
Jadi, kalau sekarang ini perusahahaan asing bisa merajalela menguasai lahan-lahan di Indonesia, tentu saja hal ini besar kemungkinannya ada unsur kesengajaan dari pihak kita. Dan, hal inilah yang dipertanyakan oleh Wawan: kenapa bisa?
Jadi, disadari atau tidak, negeri kita ini telah mengalami penjajahan gaya baru. Penjajahan itu masuk melalui perusahaan-perusahaan asing yang mengisap kekayaan bangsa Indonesia. Dan, yang menyedihkan, mereka mulai masuk justru melalui pemerintahan atau melalui sistem politik yang berlaku, untuk melakukan pengisapan.
Monday, August 03, 2009

Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif
(Erick Purnama Putra, Koran Jakarta, Agustus 2009)
Buku The Lost Arabian Women mengungkap perjalanan Qanta A Ahmed, seorang muslimah Pakistan yang sempat kuliah di Inggris dan Amerika Serikat (AS), yang mengabdikan diri bekerja di tanah Arab. Pengalaman berinteraksinya hidup di Arab Saudi membuat penulis menjadi lebih paham tentang kisah kelam nasib perempuan di sana.
Gambaran yang ditangkapnya beserta pengalamannya selama setahun kunjungannya di Arab Saudi yang dianggap sebagai dunia rumit, yang memegang tradisi berbeda dengan negara Barat, telah menyadarkan penulis bahwa negara kerajaan itu menyimpan fenomena memuakkan.
Pasalnya, banyak kejadian aneh yang menghambat aktivitas rakyat (perempuan) akibat aturan tradisional yang mengekang. Qanta Ahmed yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit King Fahad National Guard Hospital di Riyadh, yang diperuntukkan bagi kalangan militer yang mengabdi pada Kerajaan Saudi Arabia, menjelaskan bahwa budaya lokal yang dianut masyarakat Arab Saudi kadang malah merepotkan dan tak masuk akal serta menempatkan perempuan berada dalam posisi tertekan.
Perempuan tak boleh pergi tanpa memakai abbayah (cadar). Menurut penulis, perempuan di Arab Saudi yang menganut paham Wahabi sangat keras dalam menerjemahkan pakaian sebagai penutup aurat. Padahal dari perjalanan hidupnya yang besar di Pakistan dan pernah singgah di Afganistan dan Iran, aturannya tak seekstrem di Arab Saudi. Bahkan, dalam rumah, meski tak ada laki-laki pun, perempuan yang diidentiflkasi dalam kelompok superortodoks tersebut tak mau melepaskan cadar yang menutupi tubuhnya. Tak heran, pada peristiwa melahirkan, menikah, dan meninggal dunia pun abbayah yang dipakai tak
akan dilepas.
Pada bagian lain dikisahkan tentang penulis yang memiliki teman bernama Fatima yang memutuskan bercerai akibat suaminya menikah lagi. Tak ingin dimadu, akhirnya Fatima menalak tiga suaminya yang dinilai melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Anehnya, ketika menceritakan rencana perjalanan hidupnya ke depan kepada Qanta Ahmed, Fatima ingin menikah lagi dengan suami yang sudah beristri.
Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif. Para wanita di tanah Saudi, tak terkecuali non-Islam, terkena aturan kaku dengan memakai penutup aurat. *
Putra, aktivis Pers Koran Kampus
Bestari Universitas Muhammadiyah
Malang
Monday, June 22, 2009

Buku berjudul Charisma Effect, Agar Siapa pun Terkesima dan Terkesan kepada Anda ini memberikan gambaran bagaimana mengerahkan semua aspek yang ada dalam diri untuk menciptakan kesan kuat yang membekas di dalam pikiran orang lain
(Sahesty, Koran Jakarta, Juni 2009).
Capres yang berkarisma mampu memukau publik hingga berjam-jam mendengarkan paparan ide dan gagasannya. Mereka memancarkan kepercayaan diri dan daya tank yang luar biasa terhadap orang-orang di sekelilingnya. Oleh karenanya, mereka mendapat kepercayaan, kekaguman, dan persetujuan publik.
Kecenderungan ini menjadikan sebagian orang menganggap karisma sebagai pesona "magis" kekuatan besar dalam diri orang tertentu yang dibawa sejak lahir. Akibatnya, tidak sedikit orang yang enggan mencari dan mendapatkan karisma dalam dirinya. Padahal, dengan memiliki karisma pribadi, orang biasa pun akan bisa menciptakan pengaruh pribadi yang dahsyat.
Buku berjudul Charisma Effect, Agar Siapa pun Terkesima dan Terkesan kepada Anda ini memberikan gambaran bagaimana mengerahkan semua aspek yang ada dalam diri untuk menciptakan kesan kuat yang membekas di dalam pikiran orang lain. Diharapkan kesan kuat tersebut akan terpatri secara emosional, fisik, dan intelektual termasuk dalam pikiran, sikap, dan perilaku orang lain. Dalam buku ini, penulis menjelaskan ada beberapa proses pengembangan efek karisma dirumuskan dalam istilah A - B - C. A atau Aim adalah sebuah proses memantapkan tujuan. Kekuatan tujuan akan menuntun seseorang menganalisis hambatan-hambatan apa saja yang mungkin ada dan menemukan solusinya.
Sementara B atau Be Yourself merupakan arena untuk menampilkan jati diri pribadi kepada publik. Ada tujuh perilaku utama yang patut jadi perhatian meliputi kefasihan, keyakinan diri, penghayatan, keaslian pribadi, keberanian, semangat, dan pembawaan diri. Bereksperimen dan berlatih menampilkan sisi terbaik dari perilaku-perilaku tersebut akan membuat efek karisma terlihat lebih kentara.
Akhirnya C atau Chemistry adalah proses menjalin kecocokan. Ini memang hal yang sulit. Elemen penting yang berpengaruh besar adalah perhatian, saling kebergantungan, pembinaan kedekatan. Ketiganya tak mendukung terciptanya komunikasi dua arah yang intensif guna memun kinkan terciptanya kecocokan.
Seorang guru bijak suatu hari pernah berkata, "Jika kita ingin diri ini berpengaruh seluas mungkin, maka pastikanlah diri ini diterima dengan seluas-luasnya." Tak ingin membuat bingung muri muridnya, dia kembali melanjutkan, "Marilah kita menjadikan diri kita diterima dengan menjadikan orang lain merasa nyaman untuk mengizinkan kita berada di lingkungan mereka. Lalu jadikanlah diri kita disukai dengan menjadikan kehadiran kita pencerah bagi kehidupan orang lain."
Membaca dan mempraktikkan ilmu dalam buku ini akan menjadikan potensi diri untuk diterima seluas-luasnya semakin besar. Apalagi jika kemudian orang lain merasa nyaman dan mengizinkan kita berada di ling¬kungan mereka.«
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universi-
tas Padjajaran, Bandung.
Monday, June 01, 2009

Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan. Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya
(Fenny Aprilia, Koran Jakarta, Mei 2009)
Balian, tokoh utama dalam novel ini, awalnya memiliki dua tujuan ketika menginjakkan kaki di Kairo. Pemerintah Francis menugaskannya untuk memata-matai kekuatan militer Kesultanan Kairo. Kedua, Balian datang ke kota itu untuk menunaikan sumpahnya, melakukan ziarah ke St Catherine di Bukit Sinai. Tetapi, Balian malah menderita penyakit misterius.
Alih-alih menceritakan sepak terjang Balian dalam menuntaskan niatnya di Mesir, novel ini mengajak pembaca untuk menyelami susah-payah yang dialaminya dalam mengobati penyakit misterius tersebut. Balian meninggalkan caravanserai (tenda yang didirikan oleh para peziarah Nasrani dari Eropa) untuk beroleh kesembuhan. Balian terseok-seok di gang-gang kota Kairo yang kumuh, dihantui oleh gosip tentang kebangkitan ' kembali seorang gadis pemotong leher bernama Farida yang beredar di masyarakat Mesir dan dikejar-kejar oleh sejumlah makhluk halus. Usaha Balian untuk sembuh itu dilewatinya dengan tidak tidur sama sekali.
Keunikan dari karya Irwin ini ialah susunan tiap bab yang seolah tidak saling berkait dan berdiri dengan kompleksitasnya sendiri, namun member ikan efek khas yang dirasakan oleh pembaca. Irwin mendedahkan eksistensi dari Alam al-Mithal (kepercayaan tentang mimpi di masyarakat Arab) dengan detail yang mengagumkan.
Tetapi, kita juga bisa memaknai karya Irwin ini sebagai prosa yang membuka tabir dari sebuah kegiatan bernama tidur yang ternyata sangat penting bagi manusia. Hal ini terlihat dari usaha Balian yang tidak sekadar menginginkan kesembuhan dari penyakitnya, namun ia pun mendambakan lagi tidur yang nikmat seperti sebelumnya.
Maka, Balian—yang diliputi keraguan sekaligus takut akan kematian—mendatangi Father of Cats, seorang ahli tidur yang memiliki tempat penyembuhan bertajuk The House of Sleeping. Tapi, ia malah melihat gambaran yang menjijikkan dan mistis. Irwin dengan sangat lincah membawa pembaca untuk menduga sosok Father of Cats terkait dengan "penyakit mimpi buruk" yang menjadi semacam wabah di Kairo.
Kisah Balian menyembuhkan penyakitnya dibalut pula dengan cerita seputar pemberontakan terhadap penguasa dan kekejaman ilmu hitam di Kairo. Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan.
Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya. Mungkinkah Anda juga bisa memperoleh perasaan yang sama dengan saya? Baca saja. m
.
Sunday, September 14, 2008

Teknologi elektrolisa, selain tentunya memberikan manfaat secara finansial karena pengiritan bahan bakar, memberi manfaat besar dalam perawatan kendaraan
(Moh Yasin, Koran Jakarta, September 2008)
Fenomena bahan bakar dengan memanfaatkan air ini telah diterapkan beberapa kalangan dan aerah seperti di Jakarta, Semarang, dan Jawa Timur. Selain karena bahan yang mudah dicari, pembuatan yang sangat sederhana dan efisien, alat pengirit bahan bakar ini bisa mengurangi pengeluaran yang cukup efisien dengan tidak memberi dampak negatif terhadap kendaraan.
Buku karya dua anak bangsa, Poempida Hidayatullah, alumnus University of London, dan F Mustari, lulusan Melbourne University ini, ingin berbagi dengan masyarakat tentang teori dan pembuatan teknologi elektrolisa air. Mereka mengawali karya ini dengan upaya memberikan teori, berbagai informasi penting, dan kontroversi sejarah penemuan pemanfaatan teknologi air. Kemudian penjelasan secara praktis mengenai bagaimana cara membuat alat penghemat BBM tekhnologi air, bahan-bahan dasar dan alat-alat yang dibutuhkan, cara pemasangan di kendaraan, perawatan, serta contoh praktek pembuatan, dan dilengkapi dengan audio visual praktik pembuatannya dalam bentuk CD, yang dipaketkan bersama buku ini.
Secara teoretis, ide pengiritan bensin dan solar dengan menianfaatan air ini bukanlah ide baru. Sejak abad ke-19, tepatnya pada 1884, ide ini telah diterapkan oleh beberapa ilmuwan di Eropa, di antaranya adalah seorang ilmuwan dari Swiss, Isac De Rivas. la merancang dan membuat mesin dengan pembakaran internal, dan ia menggunakan air sebagai bahan bakarnya. Kemudian dikembangkan Jules Gabriel Verne, penulis masa depan The Mysterious Island. la mengungkapkan bahwa air terdiri dari dua unsur sederhana, dan dapat diuraikan dengan menggunakan energi listrik sehingga air bisa menghasilkan daya yang sangat besar dan mudah diatur (hal. 8). Teori pembuatan teknologi penghematan bahan bakar yang dikenal dengan elektrolisa air, sebagaimana diuraikan penulis, merupakan aplikasi dari teori yang dikemukakan oleh Jules Gabriel Verne tersebut.
Teknologi elektrolisa air yang diperkenalkan dalam buku ini merupakan pengembangan atas teori air Jules Gabriel Verne. Poempida Hidayatullah dan F Mustari berpijak pada teori bahwa air memiliki dua unsur, yaitu hidrogen dan oksigen.
Penulis tidak berhenti pada penjelasan secara teoretis, melalui penelitian yang lama, bahwa mereka memberixan pelajaran berharga mengenai bagaimana secara praktis penerapan teknologi ini. Penulis bersama timnya telah mempraktikkan dan menguji secara langsung, bahkan mereka juga menjelaskan secara detail mengenai alat-alat yang dibutuhkan untuk perakitan, mulai dari nama alat, ukuran, jenis, dan alternatif yang dimungkinkan dengan berbagai penjelasan yang sangat baik.
Buku ini tentunya sangat menarik untuk dipelajari siapa pun, baik kalangan akademisi maupun masyarakat secara umum. Bahkan buku ini bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi Anda yang memiliki insting bisnis yang bagus. Sebab alat pengirit BBM ini mungkin akan menjadi kebutuhan pokok kedua setelah bensin dan solar.
Namun, pemberian judul Rahasia Bahan Bakar Air yang melekat dalam buku ini sedikit memberi pandangan yang tidak sedap dan cenderung melebih-lebihkan isi buku. Padahal yang dimaksudkan penulis buku ini bukanlah membuat bahan bakar dari air, sebagaimana kontroversi blue energy yang dikembangkan oleh tim Joko Suprapto bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Penulis adalah Moh Yasin, Pustakawan, tinggal di Ciputat dan Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina, Jakarta.

(Mohamad Asrory Mulki, Koran Jakarta, September 2008)
Novel The Girls of Riyadh buah karya Rajaa Al Sanea, alumnus King Saud University dan kini menyandang gelar dokter gigi, mencoba mendobrak tradisi kelam di Riyadh yang dianggapnya sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, tradisi yang tidak menghargai kebebasan dan hak-hak individu harus dilawan dan dihapuskan, karena itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.
Atas dasar itu, Al Sanea (waktu itu namanya disamarkan) harus membeberkan kisah kelam keempat sahabatnya: Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman, sebagai bahan pertimbangan untuk direnungkan dan diperhatikan masyarakat Riyadh. Melalui kisah nyata ini, penulis mengirimkan e-mail setiap Jumat siang kepada sebagian besar pengguna Internet di seluruh Saudi.
Dalam e-mailnya dikatakan bahwa Qamrah, Shedim, Lumeis, dan Michelle adalah wanita-wanita semiekslusif di tengah pergulatan masyarakat Riyadh, dan sering kali mereka tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang masyarakat dan budaya kecuali yang kebetulan mereka dengar dan saksikan. Kehidupan mereka cenderung dieksklusi dari hal-hal yang berbau modern dan inklusif. Ketaatan pada tradisi harus selalu mereka utamakan apa pun risikonya.
Sehingga, dalam soal pernikahan, keempat sahabat ini harus tunduk pada tradisi keluarga calon suami mereka masing-masing. Michelle misalnya, harus menggagalkan pernikahanya dengan Faishal, lelaki pujaanya, hanya karena keluarga Faishal tidak menerima Michelle yang memiliki darah campuran (Amerika-Saudi). Begitu pula dengan Shedim harus membatalkan pernikahanya dengan Walid hanya karena dianggap tidak sederajat dengan keluarga Walid. Sementara Qamrah harus hidup sebatang kara dengan anak laki-lakinya, Soleh, hanya karena Rasyid (suami Qamrah) menuduh istrinya tidak bisa menjadi pendamping impianya dan tidak taat pada tradisi yang berlaku di Riyadh.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah memilukan dari keempat gadis Riyadh itu. Singkatnya, mereka harus menanggung rentetan penderitaan hanya karena terbentur oleh tradisi yang berlaku. Mereka harus berpisah dengan laki-laki pujaanya dan meratapi cintanya yang kandas di tengah jalan. Hingga pada akhirnya, apa yang terjadi? Untuk mendapatkan seorang suami, mereka harus menerima laki-laki yang mereka tidak cintai. Sungguh tragis dan memilukan jalan hidup yang harus mereka lalui.
Kisah ini cukup menggemparkan jagat Saudi. Sehingga di setiap Sabtu pagi, fenomena heboh ini telah mengubah kantor-kantor pemerintahan, aula perguruan tinggi, teras rumah sakit, dan tempat-tempat lainya menjadi ruang diskusi mempersoalkan e-mail itu. Setiap orang melibatkan diri dalam diskusi ini, dari para dosen, guru, sastrawan, intelektual, mahasiswa, pejabat pemerintahan, hingga masyarakat biasa.
Pro-kontra pun terjadi. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentang perbuatan keempat gadis itu. Bagi yang pro, apa yang dilakukan keempat gadis itu merupakan kewajaran dan alami saja sifatnya. Sementara bagi yang kontra, kemarahan dan kejengkelan dialamatkan kepada keempatnya atas perbuatan bodoh yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilestarikan.
Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang selama ini dianggap sudah mapan dan kebal hukum. Kehadirannya telah memukul banyak pihak, lantaran peristiwa yang terungkap di dalamnya tidak saja dianggap sebagai sebuah pencemaran tetapi juga dianggap sebagai upaya merobek dan mencabik-cabik moral sebuah bangsa.
MohamadAsrori Mulky Peresensi adalah analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta



