Showing posts with label Menjadi Bintang. Show all posts
Showing posts with label Menjadi Bintang. Show all posts

Wednesday, December 17, 2008


EDDIE KARSITO ;
3 SETAN 1 CINTA

Baru saja merilis buku Menjadi Bintang: Kiat Sukses jadi Artis Panggung, Film dan Televisi, Eddie Karsito siap dengan beberapa produksi layar lebar. Sebenarnya, semua film Eddie telah selesai syuting tahun ini. Hanya saja, harus mengantre jadwal tayang di jaringan sinepleks. Tiga horor dan satu drama cinta. Pertama, Hantu Taman Lawang. "Yang paling saya kenang, di film ini saya berperan sebagai tukang nasi goreng langganan para penghuni Taman Lawang. Salah satunya diperankan Ferry Irawan. Suatu ketika dia beli nasi goreng saya tapi nggak punya duit, lalu dia membayarnya dengan...," Eddie enggan melanjutkan.

Film Eddie lainnya, Hantu Biang Kerok. Dari judulnya sudah ketahuan bergenre horor-komedi. Tengok saja lawan mainnya, mulai Opie Kumis, Mpok Nori, Dorce Gamalama, Kamidia Radisti hingga si Ratu Dangdut Elvy Sukaesih. "Grand designnya sih trilogi. Di sekuel keduanya, saya dan Opie Kumis jadi tokoh utama. Semula film ini mau dirilis menjelang Lebaran tahun ini, tapi karena ada beberapa pertimbangan produser, film ini dirilis awal 2009," ujarnya. Hantu Biang Kerok digarap Wiendy Widasari, yang pernah menjadi asisten Monty Tiwa saat membe¬sut Maaf Saya Menghamili Istri Anda. Berikutnya, Anak Setan. Di film ini, Eddie Karsito diarahkan sutradara lulusan Amerika, Allo Geafarry, sementara skenarionya disusun Monthy Tiwa. Dan masih tersisa satu lagi karya Monty Tiwa untuk Eddie, Kalau Cinta jangan Cengeng.

Lalu apa yang dicari dari dua kariernya, aktor dan penulis? "Sewaktu menerima penghargaan Aktor Pendukung Terpuji Festival Film Bandung tahui ini, saya pernah katakan, seandainya masih ada sutradara dan produser yang masih mem percayakan peran kepada saya saya ingin jadi aktor seumui hidup. Jika masih dipercaya sebagai wartawan, saya ingin menjalaninya seumur hidup. Dua medium ini mendukung profesi saya yang sebenarnya guru mengaji," tukas alumnus Pendidikan Guru Agama Islam di Pesantren Cokroaminoto, Asahan, Sumatera Utara. Menyandingkan seni peran dan seni syiar cita cita Eddie sejak lama. Semoga berhasil bang !

Tuesday, December 16, 2008



MENJADI BINTANG, KIAT SUKSES JADI ARTIS PANGGUNG, FILM, dan TELEVISI

Ingat kasus beberapa gadis yang tertipu mengikuti casting iklan sabun mandi hingga rela melepas baju di depan kamera? Seandainya saat itu buku ini telah terbit, dan para gadis itu membacanya, hal tersebut mungkin tak perlu terjadi.

Dunia hiburan memang bagai lampu terang yang menarik ribuan laron. Inilah lapangan pekerjaan yang banyak diminati orang. Lihat saja, setiap hari rumah-rumah produksi didatangi puluhan hingga ratusan orang yang ingin jadi artis. Tapi tak semua orang menguasai lika-liku pekerjaan ini.

Buku ini memberi gambaran cukup lengkap tentang peta industri film dan televisi, manajemen produksi, dasar-dasar akting, bagaimana mengenali bakat, serta strategi dan unsur penting casting.

Bahkan buku ini juga dilengkapi dengan alamat lengkap stasiun televisi dan rumah produksi serta organisasi perfilman, juga contoh kontrak artis, kru film/sinetron, dan model, kontrak manajemen artis. Namun, munculnya beberapa foto yang tak relevan dengan tulisan atau penggunaan sebutan "kamu" untuk pembaca terasa menggurui.

Thursday, December 04, 2008




Buku mewah setebal 208 halaman itu bak oase di tengah gurun pasir yang panas. Di tengah ramainya para artis-artis pendatang baru yang haus akan bacaan tentang seni peran, buku ini langsung hadir menebus dahaga. Tak berlebihan, jauh sebelum diluncurkan pemesanan ke penerbit Ufuk sudah mengalir.
(Bekasipos.com, Desember 2008)


BANYAK artis bermunculan, tapi Eddie Karsito tentu beda. Ia bukan saja artis yang juga wartawan, namun ternyata mampu menunjukkan kemampuan lebihnya sebagai penulis tentang panggung keartisan. Paling tidak ini ia buktikan lewat buku karyanya berjudul "Menjadi Bintang" yang diluncurkan di Jakarta, Senin (1/12) lalu.

Buku mewah setebal 208 halaman itu bak oase di tengah gurun pasir yang panas. Di tengah ramainya para artis-artis pendatang baru yang haus akan bacaan tentang seni peran, buku ini langsung hadir menebus dahaga. Tak berlebihan, jauh sebelum diluncurkan pemesanan ke penerbit Ufuk sudah mengalir.

Bagi Eddie sendiri, hadirnya buku ini sampai ke tangan pembaca perlu perjuangan yang berat. Apalagi setahun terakhir frekuensi syutingnya begitu padat. Tapi, keinginan kerasnya untuk menelurkan karya buku yang diharapkan bisa jadi pegangan generasi sekarang dan yang akan datang seolah mematahkan apa pun rintangan yang menghadang.

Tantangan terberat tentu ketika dummy buku itu sudah selesai, namun belum ketahuan siapa yang mau mencetak. "Saya sangat bersyukur di tengah pesimisme itu, ada penerbit yang dengan mau mencetak dan mengedarkannya," kata ayah satu anak yang sehari-hari masih aktif menulis di suratkabar "GalaMedia" Bandung itu.

Sejumlah artis, praktisi maupun pimpinan organisasi perfilman dan televisi tampak datang pada acara peluncuran buku ini, Senin (1/12) siang. Bahkan secara khusus tiga personel Miss Celebrity SCTV ikut memberikan pernyataan tentang perlunya buku ini bagi dirinya sebagai calon artis.

Akhlis Suryapati, wartawan senior yang juga aktif di keorganisasian perfilman melihat terbitnya buku "Menjadi Bintang" sebagai mengisi peluang yang memang ada. "Sekarang banyak buku baru terbit, tapi yang ini tentu beda. Bisa jadi bekal pengetahuan bagi junior ataupun orang awam yang mau nyemplung ke panggung keartisan," katanya.

Praktisi perfilman yang juga wartawan senior, Kardi Said juga berpendapat senada. Menurutnya, sekarang banyak orang mampu menerbitkan buku teater, tapi soal akting ataupun dunia keartisan belum ada referensinya. "Makanya, kehadiran buku ini bisa jadi referensi bagi semua insan perfilman, baik yang senior, junior, ataupun yang mau terjun ke keartisan."

Sutradara kondang Rudi Sudjarwo melihat buku ini cukup kredibel sebagai panduan bagi yang ingin terjun di industri film dan televisi. Pembahasannya komplit, mulai soal teknis sampai masuk ranah budaya.

Sementara itu Aditya Gumay, pimpinan Teater Ananda mengatakan, membaca buku "Menjadi Bintang" ini seperti membaca kisah perjalanan penulisnya, yang aktivis teater, pekerja film dan sinetron dan wartawan.

Buku "Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi" yang dibandrol Rp189.000/eksemplar ini selain merangkum sejumlah pengalaman manis dan pahit sejumlah artis, dilengkapi dengan berbagai pengetahuan, mulai soal etika syuting sampai dengan urusan kontrak kerja yang sering jadi masalah antara artis dan produser.

Eddie Karsito yang banyak memerankan sosok jahat di film dan sinetron itu kisah hidupnya tak banyak diketahui orang. Jarang yang tahu kalau dia dulu sebelum menjari artis pernah menjadi kernet angkot, penjaga rumah makan, kuli bangunan, tukang parkir, dan sejumlah pekerjaan kelas bawah. Adalah Dorman Borisman yang punya andil menjadi seperti sekarang.

"Ketika lagi ngernet angkot, saya lihat Mas Dorman dan terus ajak aku ikut main teater. Dari situ aku kemudian jadi aktivis teater di Gelanggang Remaja Jaktim," kisahnya.

Keaktorannya yang paling menonjol adalah ketika membintangi film "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda" karya sutradara Monty Tiwa di mana ia meraih predikat Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008. Ia juga pernah meraih predikat serupa pada FFI 2006. Bersama komunitas teaternya, Eddie juga pernah meraih juara I Festival Film Independen SCTV 2003. (may)


VIVAnews - Bintang 'Eiffel I'm in Love', Samuel Rizal, bakal berkibar di negeri Jiran. Samuel akan bergabung dengan jajaran artis Malaysia untuk film terbarunya yang baru rilis 2009.
Dalam film terbaru -yang judulnya pun tak mau dibocorkan Samuel- nanti, keahlian Samuel sebagai seorang penari hip hop bakal ditantang.

"Bedanya di (film) 'Jelangkung' horor, di 'Eiffel I'm in Love' drama, kalau ini gue dancer, hip hop dancer," ujarnya saat berbincang di peluncuran buku 'Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi' Senin 1 Desember 2008 di Gedung Film Jalan M.T Haryono, Jakarta Selatan.

Selama syuting tiga bulan Februari hingga April, di Malaysia, Sammy -panggilan akrabnya- mengaku tak sampai kecantol artis-artis muda Malaysia yang main bareng dengannya.

Sebagai aktor yang sudah main di tiga layar lebar, Samuel bagi-bagi pengalaman untuk para pendatang baru. Baginya, mermpertahankan karir di dunia film dan layar kaca memang gampang-gampang susah. Kadang timbul dan tenggelam. Bagi para pemain di dunia ini, akan sulit jika mereka tidak konstan berkarya.

Kendati sudah jarang tampil di layar kaca, mantan atlet basket klub Satria Muda itu menolak jika dirinya dikatakan sudah tidak laku lagi. Samuel tak ambil pusing dengan anggapan miring yang beredar. Baginya, berprestasi itu jauh lebih penting.

Meski tidak dikejar-kejar tenggat waktu, aktor berdarah Ambon, Padang, Manado itu selama ini masih terus berkarya. Deretan pekerjaan antre, seperti bermain dalam FTV, mini seri, dan layar lebar.
• VIVAnews

Wednesday, December 03, 2008



Tanggal : 03 Dec 2008
Sumber : Harian Terbit

JAKARTA - Selain berprofesi sebagai wartawan, pria yang satu ini wajahnya sering muncul di layar sinetron dan layar lebar. Sebut saja Eddie Karsito, wartawan sebuah surat kabar terbitan daerah yang kini mulai merambah jalur akting. Kendati telah banyak membintangi beberapa judul film dan sinetron, tapi Eddie masih punya obsesi untuk menggarap buku panduan tentang dunia akting.

"Jujur saya bukannya serakah. Tapi sekadar ingin memanfaatkan kesempatan sekaligus menyalurkan bakat yang saya miliki. Kalau saya tampil di sinetron atau film, itu kebetulan saja relasi yang mengajak. Profesi saya yang sebenarnya wartawan, bukan artis," kata Eddie.

Menjawab pertanyaan soal buku yang baru ia luncurkan itu, Eddie mengatakan, keinginan membuat buku panduan menjadi seorang bintang itu muncul dari pengalamannya selama mengikuti berbagai workshop mengenai dunia entertainment. Sebab selama ini ia merasa para peserta, terutama para calon artis hanya mendapatkan wejangan biasa sehingga banyak yang bersikap gamang dan kurang menguasainya. (dar)




Aktor dan wartawan senior Eddie Karsito kembali merilis buku ketiganya berjudul Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi. Buku ini mengulas kiat sukses menjadi artis dan pengusaha industri hiburan teater, film dan televisi.

JAKARTA (1/12/2008) LAHIRNYA beberapa stasiun televisi memberi dampak terhadap tatanan sosial. Masyarakat tidak hanya jadi penikmat hiburan televisi tapi juga mencoba untuk terjun menjadi bintang, produser atau crew.

Sayangnya, para artis pendatang baru terkesan bersikap gamang atau kurang menguasai keadaan. Karena itulah apa yang ditulis aktor dan wartawan senior Eddie Karsito dalam bukunya berjudul Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi, diharapkan dapat memberi gambaran bagi masyarakat yang ingin berkiprah di industri perfilman.

Launching buku Menjadi Bintang ini digelar di Gedung Film, Jl MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin ini. Edi mengaku saat ini belum banyak buku yang membahasa industri perfilman dan pertelevisian secara legakap. Karenanya, Eddie berharap apa yang ditulis dalam buku ini diharapkan dapat memberi gambaran bagi masyarakat yang ingin berkiprah di dunia peran, jangan sampai mereka salah arah dan dimanfaatkan situasi. Sebab, dunia peran semakin komplek, unik dan sedernaha.

Buku setebal 208 halaman yang diterbitkan oleh Ufuk Publishing Houses (Cahaya Insan Suci) dan Yayasan Humaniora ini selain memberi gambaran tentang peta industri film dan televisi, dan sebagainya, buku ini mengulas berbagai tips tahapan menjadi artis, bagaimana mengenali bakat, strategi dan unsur penting casting. Sebab, buku ini dilengkapi wawancara artis, sutradara dan produser Indonesia.

Sutradara Rudi Soedjarwo menilai buku ini bisa menjadi panduan bagi mereka yang ingin terjun di industri film dan televiai. "Penulisnya cukup kredibel karena dia berdiri di beberapa sesi profesi, aktor dan wartawan," katanya. Hal senada juga dikatakan Jenny Rachman, artis dan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia. (PARFI). Menurut dia, yang dibahas buku ini tidak hanya teknis, tetapi film dalam ranah kebudayaan. Dilengkapi hasil wawancara penulisnya dengan para artis, sutradara dan tokoh perfilman nasional. "Dalam buku ini, terangkum sejumlah pemikiran dan gagasan yang layak dijadikan referensi," ujar Jenny.

Eddie Karsito, aktif, dinamis dan 'an enterprising young man'. Predikat yang pas untuk pria kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, 24 November 1961 ini. Edi sering membintangi belasan film dan sinetron, diantaranya film " Maaf, Saya Menghamili Istri Anda'. Melalui film ini Edy mendapat penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB). Sedangkan sinetronya yang cukup menonjol adalah FTV 'Ujang Pantry" yang tayang di ATV. Bagi Eddie, profesi keaktoran dan kewartawanan merupakan wilayah yang unik dan merupakan profesi yang tiada henti untuk mengaktualisasikan diri , terbuka, universal dan humanis. (dju)




Tuesday, December 02, 2008



Kapanlagi.com - Kendati sudah cukup banyak membintangi sinetron dan film layar lebar, Eddie Karsito tak mau disebut artis. Lebih suka disebut wartawan, profesi yang digelutinya sejak 1980-an, Eddie mengakui keinginannya menulis buku tentang akting dan dunia hiburan karena dorongan hatinya untuk mengamalkan ilmu yang selama ini ia peroleh.

"Saya risih kalau disebut bintang. Dalam hati, saya nggak pernah merasa diri saya ini artis," kata bintang film MAAF, SAYA MENGHAMILI ISTRI ANDA itu usai peluncuran bukunya yang berjudul MENJADI BINTANG: KIAT SUKSES JADI ARTIS PANGGUNG, FILM, DAN TELEVISI, di Jakarta, Senin (1/12).

Eddie juga mengatakan, keinginan membuat buku panduan menjadi seorang bintang itu muncul dari pengalamannya mengikuti berbagai workshop mengenai dunia entertainment, di mana ia merasa para peserta, terutama para calon artis hanya mendapatkan wejangan biasa sehingga banyak yang bersikap gamang dan kurang menguasainya.

"Di dalam workshop biasanya cuma omong doang. Saya berpikir, kenapa para peserta tidak diberikan sesuatu yang bisa dibawa pulang, yang nyata. Dan, karena itulah saya membuat buku ini," katanya.

Menjadi seorang bintang dan mendapatkan penghargaan adalah hal yang paling didamba. Namun, bagi peraih penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung 2008 ini penghargaan bukan target utama dalam hidupnya. Asalkan pekerjaan yang dia lakukan bisa maksimal dan dapat memberikan manfaat bagi semua orang, itu sudah cukup. "Saya nggak pernah pengen mau dipuji."

Selain film MAAF, SAYA MENGHAMILI ISTRI ANDA, Eddie yang lahir di Medan, 24 November 1961 juga membintangi film MENGEJAR MAS-MAS, sinetron UJANG PANTRY, yang membuat dirinya meraih nominasi Pemeran Pembantu Terpilih di ajang Festival Film Jakarta 2007.

"Tapi sungguh, saya ini enggak merasa artis. Saya ini wartawan atau bahkan orang biasa," kata reporter koran Gala Media ini. (kpl/boo)





Sunday, November 16, 2008

"Seni peran bukan sebuah kerja kepura-puraan melainkan sebuah kerja penjiwaan mendalam pada lakon"

Jakarta, Suara Indonesia News - Aktor dan wartawan senior Eddie Karsito akan meluncurkan buku berjudul "Menjadi Bintang", yang mengilas kiat sukses menjadi artis dan pengusaha industri hiburan teater, film dan televisi.

"Buku ini berisi berbagai hal yang saya tahu tentang akting, baik di dunia panggung (teater), film layar lebar maupun sinetron atau film televisi," kata penulis yang juga aktor peraih penghargaan Pemeran Pembantu Terpuji Festifal Film Bandung 2008 ini, saat dihubungi ANTARA melalui telepon genggamnya, Kamis.

Menurut Eddie, "Menjadi Bintang" merupakan buku ketiga yang ditulisnya setelah Dasar-Dasar Teater (1986) dan Pembantaian Muslim Bosnia (1992).
Berbicara tentang akting, ia berpendapat bahwa seni peran bukan sebuah kerja kepura-puraan melainkan sebuah kerja penjiwaan mendalam pada lakon. "Tidak mudah untuk dapat menjiwai sebuah peran. Itu sebabnya banyak bintang besar yang 'mencoba hidup sebagai narapidana', hanya untuk mengetahui cara berpikir dan gaya hidup orang tahanan, sebelum berakting sebagai penjahat di depan kamera," katanya.

Diterbitkan PT Cahaya Indah Suci buku "Menjadi Bintang" dijadwalkan peluncurannya di Gedung Film, Jalam MT Haryono, Jakarta, awal Desember 2008. Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja yang berminat menekenuni dunia akting dan bisnis hiburan. "Segmen pembaca umum, tapi saya pikir buku ini penting bagi pelajar dan mahasiswa, terutama mereka yang berminat hidup di dunia hiburan," katanya.

Terdiri dari tujuh bab, Eddie memulai tulisannya dengan membahas panggung, film dan televisi sebagai sebuah peristiwa keaktoran, dimulai dari perenungan tentang bakat, lingkungan, cara berpikir, dan ketekukan seseorang aktor/aktris.
Dalam bab awal itu ia juga memaparkan pandangannya tentang cikal bakal televisi, film, dan seni drama, dan etika lokasi syuting, dilengkapi dengan pendapat sejumlah produser, sutradara, bintang film, dan hasil wawancaranya dengan mereka.
Para sineas itu termasuk Garin Nugroho, Puput Novel, Helmy Yahya, Ayu Azhari, Rieke Diah Pitaloka, Tamara Bleszynski, Wulan Guritno, Remy Sylado, Krisdayanti, Marshanda, Dorman Borisman, Diana Pungky, Rhoma Irama, Deddy Mizwar, Iwan Fals, Agnes Monica, Deddy Corbuzier, Ringgo Agus Rachman, dan Ruben Onsu.

Dalam bab-bab lainnya dibahas tentang manfaat belajar seni peran, latihan dasar, dan manajemen produksi.

"Belajar dari alam"

Lahir di Kisaran, Sumatera Utara, 24 Nopember 1961, Eddie sejatinya seorang wartawan, kini masih tercatat dalam skuad redaksi Galamedia, Pikiran Rakyat group. Namun, tidak jarang ia tampil berakting di dalam film dan sinetron.

Jauh sebelum menjadi wartawan, penulis dan juga aktor, Eddie adalah "orang kecil" yang banyak ditempa kegetiran hidup. Juru parkir, pedagang rokok, pelayan restoran, supir angkutan umum, supir pribadi, hingga pembantu rumah tangga adalah sebagai profesi yang pernah digelutinya, selain buruh perkebunan karet dan kelapa sawit di Asahan.

"Semua itu tanpa sadar telah membentuk diri saya (sebagai aktor)," katanya.
Ketika masih menjadi siswa Pendidikan Guru Agama (PGA) Cokroaminoto di kota kelahirannya, Eddie Karsito bekerja paruh waktu menangani masalah promosi di sebuah bioskop, Ria Theatre. Setiap hari selepas sekolah, ia keliling kota dan berkoar-koar di jalan dengan pengeras suara, mempromosikan film yang akan diputar sambil menyebar brosur film. Tugas lain adalah memasang gambar-gambar film dalam bentuk layar dan poster di depan bioskop. Ia juga bertugas mendisain berbagai pengumuman dan iklan di atas media kaca berukuran kecil. Materi pengumuman dan iklan itu selanjutnya di sorot lewat proyektor film untuk dikomunikasikan ke penonton.
"Sayang, bisokop tempat saya sekolah akting itu kini jadi sarang burung Walet," katanya.

Sejak remaja Eddie juga terbiasa berorganisasi. Mulai dari perkumpulan kepanduan, kepemudaan, profesi, sosial, politik, seni dan budaya, sampai organisasi keagamaan.
Sekarang masih aktif sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Anggota Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), ia juga ketua umum Humaniora, yayasan yang bergerak di bidang pelayanan sosial, pendidikan dan budaya, termasuk mengadakan seminar, lokakarya, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran maupun pendidikan sinematografi. Organisasi lain yang pernah dipimpinnya termasuk Forum Komunikasi dan Informasi Pemuda Islam (FKIPI), Himpunan Penulis Kreatif, Sanggar Anak-Anak Teater Cabra, Ketua Litbang Ikatan Teater Jakarta Timur (IKATAMUR), Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Suaka Budaya, dan Dewan Pendiri Bengkel Kreatif Anak Indonesia (BCAI) Jakarta.

Di layar lebar maupun layar kaca, Eddie dikenal antara lain lewat "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda" karya sutradara Monty Tiwa, yang memberikannya penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008. Lewat film yang sama ia pun dinominasikan sebagai Pemeran Pembantu Pria Terpilih Festival Film Jakarta (FFJ) 2007. Untuk Film Televisi (FTV), Eddie adalah nomine Pemeran Pembantu Pria Festival Film Indonesia (FFI) 2006 lewat sinetron "Ujang Pantry 2" (ANTV).
Bersama komunitas teaternya, Eddie juga pernah meraih Juara 1 Festival Film Independen Indonesia (FFII-SCTV) 2003 lewat film "Di suatu Siang di Sebuah Perkampungan Kali Mati Karet Bivak". Film lain yang dibintangin termasuk "Biarkan Bintang Menari" (2003), "Vina Bilang Cinta" (2005), "Pocong 1" dan "Pocong 2" (2006), "Mengejar Mas Mas" (2007), "Kesurupan" (2008), "Anak Setan" (2008), dan "Hantu Biang Kerok" (2008).

Di dunia kewartawanan, Eddie pernah menjadi Kontributor Harian Umum Jayakarta Jakarta (1988), Redaktur Pelaksana Tabloid Wisata Pos Jakarta (1990), Reporter Tabloid Salam Bandung (1990-1992), Reporter Tabloid Hikmah Bandung (1993-1999), Reporter Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung (1993 - 2006), Reporter Harian Umum Galamedia dan Kontributor Harian Umum Priangan Grup Pikiran Rakyat Bandung, dan Media Online Suara Indonesia News hingga sekarang. (RED)


Label: SOSOK

Diposkan oleh Suara Indonesia News di 11:18

Monday, November 03, 2008


Wartawan Bikin Buku 'Kiat Sukses Jadi Artis'


buku ini adalah pertama yang memuat lengkap dunia artis dengan berbagai aspeknya dan sangat berbeda dengan buku-buku tentang dunia film atau artis yang ada. Inilah kelebihan seorang wartawan jika menulis pengalaman dan pengamatan, seperti yang Eddie Karsito lakukan.
(Kedaulatan Rakyat, Oktober 2008)


Lahirnya beberapa stasiun televisi swasta di tanah air memberi dampak terhadap tatanan sosial. Televisi menjadi sihir baru bagi masyarakat. Masyarakat pun tak sekadar menjadi 'penikmat' suguhan hiburan di televisi. Melainkan coba-coba terjun menjadi praktisi industri pertelevisian, entah sebagai cukong (produser), kreator (crew) atau menjadi bintangnya.

Tak dapat diingkari animo terbesar masyarakat adalah menjadi bintang. Lahirlah para artis pendatang baru dengan berbagai performanya. Dunia seni peran pun semakin sederhana, unik dan kompleks. "Di tengah pergulatan saya sebagai wartawan atau ketika berada di lokasi syuting, seringkah menjumpai para talent pendatang baru bersikap gamang dan kurang menguasai keadaan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang akhirnya salah arah dan dimanfaatkan oleh situasi," ujar Eddie Karsito, seorang wartawan yang banyak pengalaman di dunia teater, sinetron dan film, belum lama ini.

Berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan itulah, lantas Eddie menulis buku. 'Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi'. Buku ini, kata Edi, diharapkan dapat memberi gambaran bagi masyarakat yang ingin berkiprah di industri perfilman dan pertelevisian. Selain memberi gambaran tentang peta industri film dan televisi, manajemen produksi, pemahaman tentang dasar-dasar akting dan manfaat seni peran, buku ini juga mengulas berbagai tips tahapan menjadi artis, bagaimana mengenali bakat, strategi dan unsur penting casting. Memuat alamat lengkap stasiun televisi, rumah produksi dan organisasi perfilman, yang sangat diperlukan bagi calon artis. Melampirkan beberapa contoh kontrak kerja artis, crew film atau sinetron dan model kontrak manajemen artis. "Saya juga melengkapi buku ini dengan komentar dan pandangan para artis, sutradara, tokoh perfilman dan praktisi film lainnya, di mana terangkum sejumlah pemikiran mereka yang layak dijadikan referensi," kata Eddie kepada KR. Tampaknya buku ini adalah pertama yang memuat lengkap dunia artis dengan berbagai aspeknya dan sangat berbeda dengan buku-buku tentang dunia film atau artis yang ada. Inilah kelebihan seorang wartawan jika menulis pengalaman dan pengamatan, seperti yang Eddie Karsito lakukan.

Pria kelahiran Kisaran Sumatera Utara, 24 November 1961, saat ini masih aktif se¬bagai wartawan Pikiran Rak¬yat, Bandung, yang liputan¬nya banyak di dunia entertainmet. Ia banyak terlibat bermain di sinetron, film dan hingga kini masih mengajar teater di Bandung. (Cdr) -c



Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes