Showing posts with label *Tabloid Transformasi. Show all posts
Showing posts with label *Tabloid Transformasi. Show all posts

Monday, December 14, 2009


BELAJAR SUKSES LEWAT SIRKUS

Kedua penulis (Jones Loflin dan Tod Musig) dengan cerdas menempatkan sekaligus menya-makan kehidupan yang kita jalani sebagai permainan sirkus
(Wahyu Arifin, Transformasi, November 2009)

Sirkus adalah pertunjukan yang selalu berubah-ubah. Sirkus adalah keindahan melawan keburukan sehari-hari, dan keceriaan melawan kejenuhan. Sesuai menonton sirkus, penonton yang pulang akan membawa perasaan senang, segar bugar dan siap melawan tantangan kehidupan kehidupan mereka selanjutnya (John Steinbeck, Tentang Amerika dan Orang Amerika)

Kutipan yang diambil dari sosok pengarang besar tersebut merupakan gambaran tentang kehidupan manusia dewasa ini. Di mana manusia mulai kehilangan sifat humanisnya akibat tenggelam dalam aktivitas kerja yang menyita hampir sebagian besar hidupnya.

Terkadang, kesuksesan dalam materi belum tentu mernbuat kehidupan yang kita jalani secara bersamaan tenang dan bahagia. Ini karena sebagian besar waktu kita habis dalam mengejar pemenuhan materi tersebut dan mengabaikan siklus kehidupan kita yang lain,

Buku The Succes Story of Life ini mencobamemberikankiat-kiat sederhana namun berguna dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang kerap menjengkelkan. Berbagai kiat dalam buku ini disampaikan melalui gambaran cerita melalaui ilustrasi permainan sirkus.

Kedua penulis (Jones Loflin dan Tod Musig) dengan cerdas menempatkan sekaligus menya-makan kehidupan yang kita jalani sebagai permainan sirkus. Hidupmu adalah sirkusmu. Hidup yang harus berhubungan dengan banyak relasi kehidupan.

Dalam permainan sirkus, pelaku atau aktornya dituntut untuk mempertunjukan permainan sirkus yang menarik. Karena, tontonan yang menarik akan membuat penonton dan pemain sirkus itu merasa puas.. Untuk melakukan pertunjukan sirkus yang menarik, pemandu sirkus harus bisa mengatur berbagai macam atraksi yang berbeda dalam tiap bagiannya.

Begitu juga dengan kehidupan, diri kita menjadi pemandu sirkus kehidupan kita yang harus bisa mengatur irama hidup yang kita jalani. Buku ini terbagi dalam tiga bagian; awal cerita, cerita utama dan akhir cerita. Ini adalah tentang kisah seorang pria bernama Mark yang mempunyai Istri bernama Lisa dan Jackie, putrinya. Dalam pekerjaannya, Mark tergolong sukses, dia menempati posisi Kepala Divisi di kantornya.

Sayangnya, diluar pekerjaannya kehidupan Mark bisa dibilang berantakan. Waktu untuk keluarganya tersita habis untuk mengurusi pekerjaan di kantor.

Rutinitas tersebut terus menerus ia lakukan, sampai tiba pada waktu dirinya berjanji akan membawa keluarganya menonton pertunjukan sirkus. Kegiatan ini pun hampir-hampir tak terlaksana karena ada urusan kantor yang harus segera Mark tangani.

Namun desakan Lisa istrinya membuat Mark urung membatalkan janjinya dan mengajak keluarganya menonton pertunjukkan sirkus, walaupun dirinya sempat terlambat sampai di rumah. Mark coba membenahi hidupnya dengan tiga aspek dari lingkaran arena penting dalarn sirkus yakni, aspek pribadi, aspek profesi dan aspek relasi. Mark menyadari jika dirinya tidak bisa dan tidak mungkin berada dalam ketiga aspek sekligus dalam waktu yang bersamaan. Harus ada yang diprioritaskan terlebih dahulu. Kunci kesuksesan dari sebuah pertunjukan sirkus kehidupan terletak pada aksi dan atraksi yang berkualitas ditiap masing-masing arenanya. Selain itu, inter mezo atau jeda penting dilakukan dalam sebuah rutinitas guna menyegarkan pikiran yang telah suntuk dan terbebani. Sesekali manusia perlu tertawa, rileks dan keluar dari beban rutinitasnya.





Sunday, June 15, 2008



KEBIJAKAN NEOLIBERAL LIMA PRESIDEN INDONESIA

Penulis: Epung Saepudin

Strategi pemulihan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintahan Indonesia pasca Soeharto sampai SBY, semuanya merupakan strategi yang mengorbankan kelompok masyarakat yang lebih luas demi kepentingan segelintir orang atau kelompok yang lebih kecil tapi menguasai perekonomian Indonesia
(Epung Saepudin, Media Transformasi, Mei 2008)

Sudah lima presiden memimpin Indonesia. Tidak satu pun yang mampu mengantarkan negeri ini untuk makin bermartabat baik secara ekonomi maupun politik. Setiap presiden yang memimpin Indonesia, dalam pandangan penulis buku, selalu saja tunduk pada mekanisme Washington Konsensus yang dikomandoi IMF yang berwatak neoliberal Akibatnya setiap kebijakan selalumeminggirkan masyarakat yang justru telah memilihnya. Inilah potret sesungguhnya dari karakter Presiden di Indonesia terutama Soeharto yang telah memimpin In donesia selama 32 tahun lamanya.

Reformasi memang berhasil memaksa Soeharto lengser, tapi tidak semua masalah langsung bisa dibereskan. Sebagian besar masalah yang sifatnya fundamental justru tidak tersentuh reformasi. Seperti menyusun tata ekonomi baru pasca Soeharto yang kental kepentingan asing. Salah satunya sebabnya adalah hilangnya kesempatan mereformasi sistem ekonomi dengan kreatifitas sendiri. Karena terlalu menggebu ingin mengganti rezim refresif, kurang akuratnya diagnosis kaum reformis dan belum terstrukturnya konsep konsep perbaikan, pemerintah Indonesia waktu itu lebih dulu membeli resep dari mentornya yang lama IMF. Inilah kekalahan awal kaum reformis. IMF kembali lagi digunakan di awal awal reformasi.

Transisi dari sistem otoriter ke sistem demokrasi di Indonesia sesungguhnya tidak membawa manfaat yang besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Lihat saja, proses pemilu maupun pilkada sangat diwarnai dan didominasi oleh politik uang. Jika kecenderungan ini terus berlanjut, akan timbul banyak pertanyaan tentang apakah demokrasi ada manfaatnya untuk rakyat kebanyakan. Dalam kondisi dominasi pragmatisme dan politik uang yang begitu terasa, Indonesia sangat mudah sekali dipengaruhi oleh pandangan ekonomi ortodoks dan neoliberal yang semakin mengecilkan peranan negara dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Negara hanya memperjuangkan kepentingan elit. Sementara rakyat dilepaskan kepada belas kasihan mekanisme pasar. Misalnya, berbagai subsidi di dalam bidang pendidikan dan kesehatan dihapuskan tanpa melihat perbedaan kemampuan ekonomis dari masyarakat. Padahal, di negara kapitalistik sekalipun, seperti di Eropa, tetap ada subsidi maupun bantuan keuangan di bidang pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat yang tidak mampu.

Kekuasaan dan peranan Mafia Berkeley nyaris 40 tahun di Indonesia tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan mewariskan potensi sebagai salah satu negara gagal (failed state) di Asia. Penulis menunjukan bahwa penyebab situasi tersebut dikarenakan kebijakan Orde Baru dalam bidang ekonomi Indonesia terutama didukung oleh eksploitasi sumber daya alam (minyak bumi hutan) serta peningkatan pinjaman luar negeri. Kegagalan itu juga terjadi karena strategi dan kebijakan ekonomi politik akan selalu menempatkan Indonesia sebagai subordinasi alias kepenjangan tangan dari kepentingan global. Padahal tidak ada negara menengah yang berhasil meningkatkan kesejahteraanya dengan mengikuti model Washington Konsensus yang digawangi IMF. Situasi tersebut juga diperparah dengan tidak adanya perubahan dalam arah kepemimpinan nasional ditingkatan Presiden. Semua presiden yang ada masih tunduk pada kepentingan kepentingan pasar yang bercorak neoliberal.

Strategi pemulihan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintahan Indonesia pasca Soeharto sampai SBY, semuanya merupakan strategi yang mengorbankan kelompok masyarakat yang lebih luas demi kepentingan segelintir orang atau kelompok yang lebih kecil tapi menguasai perekonomian Indonesia. Berbagai kebijakaan memang terdengar asing bagi masyarakat awam, namun merekalah yang paling terkena imbasnya dengan pemotongan tingkat kesejahteraan orang miskin melalui pengurangan subsidi, pengurangan nilai upah nil, penghancuran nilai tukar petani dan nelayan, dan penghapusan banyak kondisi kerja yang menguntungkan buruh. Sementara untuk kelompok yang lebih kecil tersebut, kita dapati pemerintah membayari hutang mereka, bahkan sampai pada tahap penghapusan hutang dan pengampunan hutang, masih ditambah lagi adanya pemberian fasilitas pemotongan pajak dan tax holiday. Sebuah ketidakadilan diperlihatkan secara nyata oleh pemerintah.


Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes