Showing posts with label China Undercover. Show all posts
Showing posts with label China Undercover. Show all posts

Wednesday, March 12, 2008



WAJAH BURAM KEMAKMURAN CHINA

Oleh: Edy Firmansyah *)


Sebuah buku yang mencerahkan. Sebab dengan hadirnya buku ini Cina tak lagi dipandang dengan hitam putih. Buku yang layak dibaca saya rasa. Tak hanya oleh mereka yang ingin mengetahui Cina dari berbagai sudut pandang. Tetapi bagi siapapun yang hendak melakukan perubahan (Edy Firmansyah, Majalah Fokus, Januari 2008)


Banyak kalangan yang meramalkan bahwa Cina akan menjadi kekuatan besar berikutnya hingga pada akhirnya Cina akan melampaui Amerika sebagai raksasa ekonomi dunia. Betapa tidak. Kurang dari setengah abad Negara di Asia yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia ini, dan tetap menjadikan Komunis sebagai ideologi, kini melesat menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang maju dengan pesat.


Apa resepnya? Tonggak perubahan itu adalah reformasi agraria sejak 1978. Tanah yang semula dikuasai secara kolektif dibagikan merata pada setiap keluarga. Petani menerima upah pada akhir tahun bukan berdasar keterlibatannya dalam kegiatan kolektif, melainkan menurut tingkat produktivitasnya. Mereka bebas menentukan jenis tanaman yang dibudidayakan, bahkan bisa menguasai tanaman tambahan setelah memenuhi kuota bibit yang ditetapkan. Lebih lanjut, petani membayar pajak ketimbang menyerahkan kuota tertentu kepada kolektivitas. Dengan reformasi agraria ini, petani memiliki akses perorangan, memiliki lebih banyakpilihan dan kebebasan. Hal ini mendorong gairah bekerja, iklim kompetisi dan produktivitas.(Yudi Latif,Kompas 8/01/07).

Tapi buku yang ditulis pasangan suami istri Chen Guidi dan Wu Chuntao yang berjudul China Undercover;Rashasia dibalik Kemajuan Cina ini justru menepis penyataan diatas. Menurut Chen dan Wu kisah kebangkitan Cina yang kini tengah digembar-gemborkan banyak kalangan dan pakar ekonomi dunia justru dibangun dari berbagai penindasan terhadap petani.

Pada tahun 1993, misalnya, tulis Chen dan Wu, badan legislatif Cina bersumpah akan membatasi pajak-pajak menjadi lima persen dari pendapatan petani, tetapi dalam waktu satu tahun, berbagai pajak dan biaya justru menjerumuskan petani dalam utang. Sepuluh tahun sebelumnya, pemerintah berjanji menyisihkan 18 persen anggarannya untuk layanan-layanan pedesaan. Tetapi kenyataannya, jumlahnya bakan tidak pernah mendekati angka tersebut; di tahun 2005 yang disisihkan hanya 9 persen. Sementara itu, pejabat birokrasi Cina, yang sebagian besar dari mereka bekerja di pedesaan, berkembang jumlahnya dari 2,2 juta di tahun 1979 menjadi lebih dari 10 juta pada saat ini. Perdana Menteri Wen tidak mengatakan bagaimana sekarang mereka akan dibiayai mengingat para petani tidak harus membayar pajak lagi. Tetapi kesimpulan logis yang bisa didapat siapapun, petanilah yang harus membayarnya.(John Pomfret, xxii).

Tapi anehnya, suara-suara perlawanan kaum tani justru tak terdengar oleh media (atau sengaja tidak diungkap?). Karenanya menurut penulis buku ini, China Undercover merupakan sebuah pengungkapan terhadap ketidaksamaan dan ketidakadilan yang mendera rakyat jelata, para petani, yang jumlahnya sekitar 900 juta jiwa. Buku ini menggambarkan lingkaran setan yang menjerat rakyat jelata, terutama para petani di Cina, dimana penerapan pajak yang tidak adil dan tindakan sewenang-wenang kadang-kadang menimbulkan kekejaman yang ekstrim terhadap mereka. Meski begitu tidak semua masalah menjadi bahasan utama buku ini. Buku ini hanya memuat serangkaian masalah yang secara umum merujuk pada Triple-Agri (San-Nong): masalah pertanian, masalah wilayah pedesaan dan masalah petani. Semua masalah yang dibahas telah melewati penelitian dan investigasi yang mendalam. Meskipun demikian buku ini tidak kaku dan 'berat' sebagaimana buku penelitian pada umumnya. Sebab buku ini dikemas dalam bentuk cerita sastra. Sehingga kisah yang disajikan dalam buku ini sungguh memikat. Maklum Chen dan Wu sebenarnya bukan orag asing dalam dunia tulis menulis. Keduanya adalah anggota dan penulis terkemuka dalam asosiasi sastra Hefei.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Dari semua bagian itu hampir semuanya berkisah tentang penindasan yang dilakukan penguasa setempat terhadap petani. Seperti pada bagian pertama buku ini. Bab itu berkisah kisah sang martir bernama Ding Zioming, petani biasa yang berasal dari desa Luying, Kecamatan jiwangchang, Kabupaten Luxin, Propinsi Anhui. Dialah sang pemula. Orang pertama yang melakukan perlawanan dengan melaporkan beban pajak yang berlebihan yang dibebankan pada petani di wilayahnya. Dan Ding harus berhadapan dengan tangan besi kekuasaan. Dia dipukuli sampai tewas.

Membaca buku ini seakan-akan kita sedang membaca tentang negeri sendiri. Penindasan terhadap rakyat miskin dan petani yang dilakukan penguasa masih berlangsung hingga saat ini. Mulai dari perampasan lahan, penggusuran dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Tapi bukan buku yang baik jika semua isinya hanyalah keritikan tanpa memberi solusi. Dan buku ini terhindar dari semua itu. Pada bagian akhir yang berjudul mencari jalan keluar Chen dan Wu memberikan sedikit solusi. Semua solusi merupakan hasil wawancara dari para pakar baik pakar ekonomi maupun sosiologi. Seakan-akan buku ini tak hendak bertindak jumawa. Sebab keputusan untuk merubah keadaan, berada di tangan pemerintah. Sebuah buku yang mencerahkan. Sebab dengan hadirnya buku ini Cina tak lagi dipandang dengan hitam putih. Buku yang layak dibaca saya rasa. Tak hanya oleh mereka yang ingin mengetahui Cina dari berbagai sudut pandang. Tetapi bagi siapapun yang hendak melakukan perubahan.*) Ketua FORDEM (Forum Demokrasi) Pamekasan-Madura. Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK). Penulis Lepas media lokal maupun Nasional.

Wednesday, February 13, 2008



KISAH TRAGIS DIBALIK KEMAJUAN CHINA


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penjelasan di atas, buku Chen dan Wu ini memperlihatkan sebuah penolakan terhadap kebangkitan Cina. Buku ini adalah penawar terhadap berbagai gembar-gembor dukungan yang dilakukan oleh banyak pakar Cina belakangan ini. Chen dan Wu menyajikan pandangan dari bawah, dan sisi gelap, kekuatan ekonomi Cina (Koran Tempo, 10-2-2008)



Cina kini memegang posisi strategis dalam pertarungan ekonomi dan polltik global. Penetrasi negara itu terlihat dengan menjamurnya produk Cina di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Indonesia. Lihat saja, berbagai produk yang tersebar di negara ini pasti mayoritas berlabel "Made in China".

Suatu ketika, tatkata Cina masih tertinggal dari negara lain, Deng Xiaoping berujar, "Kucing hitam atau kucing putih, yang penting adalah kucing yang bisa menangkap tikus.'? Kata tersebut bisa ditafsirkan bahwa Cina sudah tidak mempersoalkan ideologi apa pun, yang penting mampu mengangkat harga dirinya.

Michael Potter, penulis Competitive Advantage of Nation (1990), mengatakan perubahan drastis Cina dikarenakan mereka memiliki kultur produktivitas. Kultur ini bangkit dari luapan memori masa lalu yang suram manakala Cina kalah dalam Perang Candu pada 1840. Cina tak kuasa menahan gempuran kapitalisme intemasipnal yang digalang ne-gara-negara Barat.

Perang ini benar-benar memberi pelajaran penting bagi Cina, sehingga muncul semangat bersaing dan tak ingin dipermalukan untuk kedua kalinya. Hasilnya, Cina sekarang bukan lagi negara yang terisolasi, bukan lagi negara gagap teknologi.

Ada lima faktor yang menunjang sukses Cina, yakni desentralisasi, "marketisasi", diversirikasi kepemilikan, liberalisasi, dan internasionalisasi. Desentralisasi yang dilakukan Cina terutama dalam hal kontrol politik. Pemimpin desa yang dulu ditunjuk partai kini dipilih warga desa.

Peraih Nobel Joseph Stiglizt dalam bukunya Globalization and /ts Discontent menyatakan, untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan, Cina mendahulukan kompetisi perusahaan-perusahaan baru dan lapangan kerja, sedangkan privatisasi dan restrukturisasi .dari perusahaan ditunda.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penjelasan di atas, buku Chen dan Wu ini memperlihatkan sebuah penolakan terhadap kebangkitan Cina. Buku ini adalah penawar terhadap berbagai gembar-gembor dukungan yang dilakukan oleh banyak pakar Cina belakangan ini. Chen dan Wu menyajikan pandangan dari bawah, dan sisi gelap, kekuatan ekonomi Cina

Dalam buku ini, Anda akan menemukan karakter-larakter yang tidak punya suara dalam hiruk-pikuk kebangkitan Cina. Fakta-fakta yang disampaikan di sini hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari "wilayah-wilayah terlarang" yang menakutkan. Di wilayah ini terjadi kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang telah disembunyikan rapat-rapat dari publik.

Buku Chen dan Wu juga membantu kita memandang kebijakan Komunis terbaru dalam perspektif yang sebenarnya. Chen dan Wu mengambil bahan buku mereka dari kampung halaman mereka, Provinsi An-hui Sebuah provinsi termiskin di Cina.. Bertahun-tahun setelah sebagian besar Cina terbuka bagi pelancong Barat, orang asing dilarang mendatangi Anhui karena pemerintah tidak ingin mereka melihat kemiskinan di sana

Buku setebal 362 halaman ini merupakan kumpulan cerita nyata yang ditulis oleh sepasang suami-istri. Mereka nekat menulis dan mempublikasikan kisah-kisah yang menggambarkan kebobrokan pemerintah wilayah yang tidak berpihak kepada petani kecil.

Berkat kaiyanya itu, kedua penulis Chen Guidi dan Wu Chuntao mendapat penghar-gaan dari Contemporary Age sebagai reportase yang inovatif. Buku ini sempat dilarang beredar di Cina karena dianggap sebagai provokator untuk rakyat memberontak dan membenamkan citra Cina di mata dunia.

Buku ini bercerita, di balik semua kesuksesan pembangunan, ternyata praktek otoriter, premanisme, penindasan, dan nepotisme merebak di desa-desa dan yang menjadi korbannya adalah para petani. Diceritakan juga perjuangan para petani dalam mem-perjuangkan keadilan dan nasib mereka di tengah-tengah penindasan fisik dan impitan pajak yang melambung.

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang terdapat di Cina. Sebuah provinsi yang saking miskinnya hingga tidak boleh dikunjungi pihak luar kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu,

Tidak kecil masalah yang mereka hadapi akibat menerbitkan buku ini edisi resminya dilarang beredar di Cina, ' salah satu bab yang membahas "kejahatan" seorang pejabat membuat mereka dikenai tuduhan pencemaran nama baik dan dimejahijaukan, ru- < mah mereka dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal selama lebih dari 20 hari berturut-turut, dan petugas keamanan tidak menghiraukan permintaan mereka untuk dilindungi. Chen Guidi juga disuruh mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta disampaikan dengan ermainan plot, deskripsi, yang benar-benar mendekatkan pembaca dengan latar belakang dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog yang semakin memudahkan pembaca mcmbavangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Revolusi Cina yang dideangang-dengungkan sebagai bentuk reformasi ternyata merupakan bencana bagi mayoritas masyarakat Cina

Kisah Tragis Dibalik Kemajuan China

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang terdapat di China. Sebuah provinsi yang saking miskinnya—serta menjadi aib bagi China—tidak boleh dikunjungi pihak luar, kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu(Media Indonesia, 9-Februari-2008).


Siapapun pun tidak menyangkal China kini memegang posisi strategis dalam percaturan ekonomi dan politik global. Secara perlahan dan pasti, China menguasai berbagai sektor dalam ekonomi global. Penetrasi yang paling utama terlihat dari menjamumya produk China di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Suatu ketika, tatkala China masih tertinggal dengan negara lain, Deng Xiao Ping berujar mantap, "Kucing hitam atau kucing putih yang penting adalah kucing yang bisa menangkap tikus. " Kata tersebut bisa ditafsirkan sebagai penanda bahwa China sudah 'tidak mempersoalkan' ideologi apa pun yang penting mampu mengangkat harga dirinya. Kemajuan China seperti sekarang tentu tidak terjadi dalam satu malam. Proses panjang sejarah, mentalitas, berpadu dengan 'fleksibilitas ideologi menjadi faktor penunjang yang cukup penting dalam kemajuan China

Michael Potter, penulis Competitive Advantage of Nation (1990), mengatakan perubahan drastis China disebabkan mereka memiliki productivity culture. Productivity culture tidak hadir begitu saja, namun muncul dari luapan memori masa lalu yang suram dan dikontraskan dengan kemajuan yang sudah didapat kelompok atau negara lain.Sejarah kelam yang mereka alami memberi inspirasi China untuk bangkit. Itu terjadi tatkala China kalah dalam Perang Candu pada 1840. Ketika itu, China tidak kuasa menahan gempuran kapitalisme internasional yang digalang negara-negara Barat. Perang itu benar-benar memberi pelajaran penting bagi China bagaimana bersikap terhadap mereka yang berada diluar dirinya. Momen historis itulah yang membekas sehingga memunculkan semangat bersaing dan tak ingin dipermalukan untuk kedua kali.

China sekarang sudah berubah total. Dia bukan lagi negara yang terisolasi dari dunia luar, bukanlagi negara gagap teknologi, bahkan semua pertandingan olahraga intemasional dikuasai Cina. Ke-mampuan meyakinkan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 memberi bukti kuatnya pengaruh China.

Ironi Kemajuan

Berbeda 180 derajat dari data dan penjelas di atas, buku Chen dan Wu memperlihatkan sebuah penolakan terhadap kebangkitan China. Dari Pentagon hingga Wall Street, kemunculan China sebagai sebuah kekuatan global dipandang dengan suatu kombinasi ketakutan dan kegairahan. Dalam tahun-tahun belakangan ini, serangkaian buku telah dipublikasikan di Barat. Buku-buku tersebut meramalkan semuanya, mulai dari perang yang sudah dekat hingga pada akhirnya China akan melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai raksasa ekonomi dunia yang berikutnya. Publisitas mengenai China muncul tak henti-hentinya.

Buku ini adalah penawar yang penting terhadap berbagai gembar-gembor dukungan yang dilakukan banyak pakar China belakangan ini. Buku ini memberikan pandangan dari bawah dan sisi gelap mengenai kekuatan ekonomi China.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan karakter-karakter yang secara umum tidak punya suara dalam hiruk-pikuk yang mengiringi kebangkitan Cina. Fakta-fakta yang disampaikan di sini hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari 'wilayah-wilayah terlarang' yang menakutkan dalam penulisan dan jurnalisme, termasuk kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah perdesaan, ka-sus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang telah disembunyikan rapat-rapat dari publik.

Buku Chen dan Wu juga membantu kita memandang kebijakan Komunis terkini dalam perspektif yang sebenarnya. Chen dan Wu mengeset buku mereka di kampung halaman mereka, Provinsi Anhui. Para pembaca AS mungkin tidak asing dengan Anhui karena di tempat itulah pemenang hadiah Nobel Perarl Buck mengeset karyanya yang paling terkenal, The Good Earth yakni kisah sebuah keluarga China yang sangat miskin. Anhui adalah salah satu provinsi termiskin di China. Sesungguhnya, selama bertahun-tahun, setelah sebagian besar China terbuka bagi pelancong dariBarat, orang asing dilarang mendatangi Anhui karena pemerintah komunis tidak ingin mereka melihat kemiskinan yang tersebar luas di sana.

Pasangan suami istri, Chen dan Wu, sebelumnya juga menuliskan sebuah laporan mengenai polusi di Sungai Huai, sungai terpanjang keenam di Cina sekaligus yang terkotor. Mereka mengunjungi 48 kota di sepanjang sungai itu dan melaporkan di 191 anak sungai yang besar, 80% airnya telah berubah menjadi hitam. Polutan yang masuk sungai dari berbagai pabrik berkumpul menjadi gunungan-gunungan sampah yang mirip kapal tongkang yang membusukkan sungai. Adakalanya buih-buih kecokelatan, campuran limbah yang berbahaya, dan sampah kasar membentang lebih dari 96 kilometer dengan tinggi hampir 2 meter di beberapa tempat. Penduduk setempat memakai topeng dan handuk basah yang menurupi wajah mereka supaya tidak muntah-muntah. Air minumnya begitu membahayakan kesehatan mereka yang hnggal di sepanjang sungai sehingga Tentara Pembe-basan Rakyat berhenti mengerahkan penduduk setempat karena mereka tidak kuat bertugas. Peringatan terhadap sungai Huai tulisan Chen terbukti merupakan kisah teguran tentang kehidupan di Republik Rakyat China. Sebagaimana yang dilakukan Perdana Menteri Wen di Maret 2006 kepada para petani China, pemerintah berjanji akan menanggulangi masalah polusi tersebut. Hanyasaja, semua janji itu tak terpenuhi.

Petani tertindas

Buku setebal 362 halaman ini merupakan kumpulan cerita nyata yang ditulis sepasang suami istri. Mereka nekat menulis dan memublikasikan kisah-kisah yang menggambarkan kebobrokan pemerintah wilayah yang tidak berpihak kepada petani kecil. Peristiwa itu terjadi di salah satu provinsi miskin di China. Dari karyanya, sang penulis Chen Guidi dan Wu Chuntao mendapatkan penghargaan dari Contemporary Age sebagai reportase yang inovatif. Buku ini sempat dilarang beredar di China karena dianggap sebagai provokator untuk rakyat memberontak dan mencoreng China di mata dunia.

Buku ini bercerita di balik semua kesuksesan pembangunan, ternyata praktik otoriter, premanisme, penindasan, dan nepotisme merebak terjadi di desa-desa dan yang menjadi korbannya adalah para petani. Diceritakan juga, perjuangan para petani dalam memperjuangkan keadilan dan nasib mereka di tengah-tengah penindasan fisik dan impitan pajak yang melambung.

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang terdapat di China. Sebuah provinsi yang saking miskinnya—serta menjadi aib bagi China:—tidak boleh dikunjungi pihak luar, kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu.

Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta itu disampaikan dengan permainan plot, deskripsi yang benar-benar mendekatkan kita dengan latar dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog-dialog yang semakin memudahkan pembaca membayangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Jadi, revolusi China yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, ternyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyat China.***







Thursday, January 03, 2008



Kisah di Balik Tirai Kebesaran

Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi (Indo Pos, 31-12-2007)

CERITA tentang keagungan negeri Tiongkok dalam buku-buku sejarah dan pelajaran di sekolah tidak seratus persen benar. Selama ini, asumsi tentang negeri komunis itu berkait erat dengan keagungan peninggalan sejarahnya, kekaisarannya yang mentradisi, kemajuannya bak "macan Asia", dan atribut keagungan lainnya. Tetapi, semua itu dibantali buku China Undercover ini.

Buku ini melihat sisi lain dan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui masyarakat dunia tetapi dirasakan oleh rakyat di negara itu. Tak lain karena adanya pembatasan informasi yang sengaja dilakukan untuk dunia luar. Dengan demikian, kabar tentang negara berpenduduk terbesar di dunia itu hanya sebagian kecil yang keluar.

Tak heran buku ini pernah membuat gerah pemerintah Tiongkok. Akibat pelarangan peredaran buku ini, edisi bajakannya justru terjual 10 juta kopi. Jadi, Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi

Mayoritas masyarakat Tiongkok adalah petani. Tetapi petani di negara itu (sebagaimana jiiga di negara-negara lain), tidak ditempatkan pada posisi yang semestinya. Mereka dieksploitasi tidak saja dengan cara memainkan harga gabah, tetapi juga banyaknya pungutan liar dan penggelapan pajak. Anehnya, itu semua dilakukan oleh pejabat di tingkat lokal.

Karena itu, buku ini mengungkap ketidakadilan yang menimpa 900 jiwa petani di Provinsi Anhui (provinsi paling miskin di Tiong¬kok). Dari sanalah berbagai persoalan ketidakadilan diungkap dan dari sana pula angin perubahan siap diembuskan dengan martir-martir para petani.

Salah satu martir itu bernama Ding Zuoming. Dia seorang petani miskin dari Desa Luying, Kecamatan Jiwangchang, Kabupaten Lixin, Anhui. Meskipun petani, dia sangat berbeda dengan petani kebanyakan. Dia cerdas, punya akses informasi banyak, dan yang pasti punya keberanian. Ding dan kawan-kawan memprotes para kader desa yang telah memeras petani di bidang pajak.

Itu jelas kebijakan yang berten-tangan dengan partai. Karena itu, Ding minta audit keuangan desa. Tentu saja kengototan dia mendapat tentangan pejabat yang berkuasa. Ding terlibat perkelahian de¬ngan Ding Yanle, salah seorang antek pejabat. Tetapi bukan dia yang dibela meski benar, dia bahkan diwajibkan membayar pengobatan Ding Yanle dan membayar biaya angkutan untuk pengobatannya. Akhiraya, Ding Zuoming menemui ajalnya.

Dalam sejarah Anhui kejadian itu dikenal dengan "Peristiwa Ding Zuoming". Peristiwa yang terjadi pada 21 Februari 1993 dan berakhir dengan kematian Ding Zuoming keesokan harinya itu tidak pemah dilupakan masyarakat setempat. Seorang petani yang mengorbankan kehidupan mudanya untuk memprotes ketidakadilan. Kisah Ding bisa didapatkan dalam tulisan berjudul Sang Martir.

Lain lagi dengan kisah Sebuah Lingkaran Setan yang nienceritakan dua orang warga mati terbunuh dan seorang luka berat. Insiden yang terkenal dengan istilah "Cadangan Kas Desa" tersebut terjadi pada 4 November 1995. Insiden itu meletus karena perlawanan akibat penggelapan pajak dan pemerasan atas rakyat jelata di Shensai.

Tak heran buku yang ditulis selama tiga tahun ini begitu membuka mata lebar-lebar masyarakat dunia. Buku China Undercover pemali menggemparkan Beijing Book Fair. Itu terbukti dengan pe-sanan 60.000 eksamplar langsung habis dalam waktu tiga hari. Tidak itu saja, cetakan pertama terjual 100 ribu eksamplar dalam waktu satu bulan.

Chen dan Wu, dua penulis buku ini, bukan tanpa periawanan dari pejabat yang dikritik. la bahkan sempat diadili, dikeluarkan dari pekerjaannya, dan rumahnya dilempari batu oleh gerombolan orang. Yang membuat mereka hampir frustasi, mereka tidak boleh mempublikasikan dan menerima wawancara media massa di Tiongkok. De¬ngan pertimbangan matang dan siap menerima risiko, keduanya bersedia menerima wawancara wartawan dari luar negeri. Tak lain agar gaung penindasan di Tiongkok bisa terse-bar ke seluruh dunia.

Jika diamati lebih jeli, buku ini memuat serangkaian kjsah yang secara umum merujuk pada istilah Triple-Agri (San-Nong), yakni masalah pertanian, wilayah pedesaan, dan petani. Triple-Agri men¬jadi ciri khas masalah di Tiong¬kok. Bahkan Triple-Agri sebenarnya bukan semata-mata persoalan pertanian maupun ekonomi saja, tetapi ia sudah menjadi masalah terbesar yang dihadapi penguasa negeri itu. Sebab, masyarakat Ti¬ongkok mayoritas hidup di bidang pertanian dan tinggal di pedesaan.

Selama bertahun-tahun, kesan yang didapatkan tentang Tiongkok dari media massa hanyalah ber¬bagai laporan yang mengembar-gemborkan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Pengetahuan orang-orang kota tentang petani di Tiongkok jauh dari kenyataan.

Buku ini memang dilarang di ne-garanya, tetapi justru terus tersebar secara diam-diam di luar. Dampaknya begitu luar biasa. Tidak saja karena penyampaian nyata atas fakta yang menimpa, para petani dan orang miskin Tiongkok. Tetapi, pembaca akan digiring untuk bersimpati kepada mereka yang "terbuang". Yakni para petani sebagai tulang pungung negara, seperti di Indonesia

Fakta-fakta yang disampaikan, Chen dan Wu hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari wilayah-wilayah "terlarang" yang manakutkan dengan teknik penulisan jurnalisme Termasuk kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang mereka sembunyikan dalam rapat-rapat publik, terutama oleh pejabat tingkat kecamatan dan provinsi. Kenyataannya, kebenaran dilumpuhkan, kebohongan bertambah subur

Buku ini manantang setiap asumsi atas kisah orang-orang Tongkok selama ini. Buku ini harusnya menjadi bacaan penting bagi siapa saja yang tertarik mengenai apa yang terjadi sebenarnya di RRT

Chen dan Wu telah memberikan contoh, kita di Indonesia sebennya bisa ikut tergugah. Kenapa ? Rakyat miskin di negeri ini juga masih sangat banyak. Petani terus dicekik. Harga gabah yang rendah sementara pemerintah seolah duduk "di menara gading" tak pernah melihat ke bawah. (*)

Nuriidin
Dosen Progran Pascasarjana dan Wapemrec Koran Kampus Beslari UMM
DI BALIK BUKU

Monday, December 10, 2007

China Undercover: RAHASIA diBalik Kemajuan China
Oleh: Jonathan Sofian Lusa

Buku ini menarik perhatian saya ketika sedang nongkrong di toko buku beberapa hari yang lalu. Kalo sebelumnya booming buku bertajuk Jakarta Undercover, sekarang ada Chinna Undercover “Rahasia Di balik Kemajuan Chinna”. Buku setebal 362 halaman ini merupakan kumpulan cerita nyata yang ditulis oleh sepasang suami istri. Mereka nekad menulis dan mempublikasikan kisah2 yang menggambarkan kebobrokan pemerintah wilayah yang tidak berpihak kepada petani kecil. Peristiwa ini terjadi di salah satu propinsi miskin di Chinna. Dari karyanya, sang penulis Chen Guidi dan Wu Chuntao mendapatkan penghargaan dari Contemporary Age sebagai reportase yang inovatif. Buku ini sempat dilarang beredar di Chinna karena dianggap sebagai provokator untuk rakyat memberontak dan mencoreng Chinna di mata dunia.

Chinna sebagai raksasa Asia menyimpan banyak cerita yang mengagumkan terutama pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Contohnya saja kemampuan Chinna dalam membangun jalan tol yang menghubungkan hampir semua kota-kota di semua propinsi d sekalipun kota tersebut masih belum laik di sebut kota metropolitan. Dalam kunjungan terakhir ke sana, saya sempat bertanya dengan seorang teman mengapa Chinna membangun jalan tol secara besar2an di semua kota. Dugaan awal saya ternyata salah, jalan tol yang dibangun secara spektakuler memiliki tujuan lagi selain menghubungkan kota2 di seluruh propinsi, ternyata jalan tol tersebut diperuntukan sebagai landasan pesawat terbang dan helikopter untuk mengantarkan bantuan secara cepat jika terjadi bencana alam atau hal-hal yang membutuhkan pertolongan cepat. Banyak lagi cerita menarik sehubungan dengan budaya di sana.

Buku ini bercerita, dibalik semua kesuksesan pembangunan ternyata praktek otoriter, premanisme, penindasan dan nepotisme merebak terjadi di desa-desa dan yang menjadi korbannya adalah para petani. Diceritakan juga perjuangan para petani dalam memperjuangkan keadilan dan nasib mereka ditengah2 penindasan fisik dan himpitan pajak yang melambung. Kepiawaian oknum pemerintah dalam memutarbalikan fakta sangat kental dalam buku ini, tidak heran siapun yang berhadapan dengan oknum pemerintah akan menjadi korban bulan2an sampai menjadi martir. Peristiwa ini terjadi dalam satu dekade terakhir ini, dan tidak menutup kemungkinan ini masih terjadi sampai sekarang. Memang ada harga yang harus dibayar dari sebuah pembangunan, minimal dari buku ini mengajarkan untuk lebih bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan karena pada akhirnya kekuasaan ada di tangan rakyat.

Bagaimana dengan negeri tercinta Indonesia? Apakah berimbang antara pembanguan yang diperoleh dengan “harga” yang harus di bayar dari rakyat? Rasa2nya kita tidak memerlukan adanya “Chen Guidi & Wu Chuntao “untuk mengungkapnya. Lihat dan saksikan sendiri!

Thursday, November 29, 2007


CHINA UNDERCOVER
MASUK BEST SELLER PUSTAKALOKA
KOMPAS NOVEMBER 2007
Setelah banyak mendapatkan apresiasi berupa resensi dari beberapa media massa akhirnya buku China Undercover terbitan Ufuk Press masuk menjadi salah satu dari buku non fiksi best seller versi Pustakaloka Kompas yang terbit tangggal 19 November 2007.
Data best seller mengacu pada survey dari 27 toko buku Gramedia di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya, dan Timor.

Friday, November 16, 2007

China Undercover: Getir Hidup dibalik Tirai Bambu
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Chen Guidi dan Wu Chuntao

Label “Made in China” di berbagai produk yang kita beli telah menjadi penegas bahwa Cina adalah penguasa ekonomi dunia. Berbagai produk Cina mulai dari kendaraan bermotor hingga produk makanan ringan yang baru-baru ini ditarik dari peredaran karena dicurigai ‘kelebihan’ bahan pengawet pun gampang ditemui dimana-mana. James Kynge, jurnalis Financial Times, pernah membeberkan dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina bagaimana negara ini tumbuh dari Cina yang rawan kelaparan menjadi raksasa kuat dan lapar yang berpotensi menyantap habis jatah minyak AS dari Venezuela dan Iran. Tapi bersiap-siaplah untuk mengubah kekaguman Anda terhadap Cina setelah membaca China Undercover.

Cina masih menyandang sebutan ‘tirai bambu’. Apa-apa yang ada di Cina tetap belum jelas dari luar. Saking rapatnya tirai bambu itu, masih saja ada sejumlah provinsi yang masih terlarang bagi pihak luar. Salah satunya adalah Anhui, sebuah provinsi termiskin di dataran luas Cina. Adalah sepasang suami-istri Chen Guidi dan Wu Chuntau yang mempertaruhkan keselamatannya untuk menceritakan sejumlah cacat yang ditutupi tirai bambu Cina.

Dalam China Undercover yang baru-baru ini diterbitkan Ufuk Press, kita bisa melihat bahwa ada yang ditumbalkan di balik kegagahan Cina di pentas ekonomi dunia. Mereka adalah para petani yang ketimpa abu panas untuk bekerja keras demi memenuhi kebutuhan negara akan pangan. Paradoks dengan bakti yang tak terkira itu, mereka mendapat perlakuan yang serba tidak mengenakkan dari kader-kader partai di tingkat lokal. Para petani dikenai berbagai rupa pajak yang sebenarnya adalah hasil akal-akalan para kepala desa korup beserta para perangkatnya.

Dalam investigasi yang dilakukannya di beberapa kabupaten provinsi Anhui, Chen dan Wu mendapati sejumlah kasus menyayat hati. Pada bab pertama, kita akan dibikin geram oleh kisah pembunuhan seorang warga cerdas yang menuntut diadakannya audit keuangan desa. Si warga cerdas bernama Ding Zuoming ini mengendus korupsi yang dilakukan kepala desa dan berhasil memojokkan kepala. Namun, sebelum menyetujui audit, kepala desa dengan bantuan tenaga keamanan kecamatan memberinya pelajaran yang kebablasan hingga dia pun menjadi martir demi kebenaran.

Pada bab selanjutnya, kita akan temui lagi kisah pembunuhan yang kali ini korbannya lebih dari satu orang, dan kejadiannya terjadi dalam hitungan menit! Empat orang warga yang telah ditunjuk para petani untuk mengaudit keuangan kepala desa korup—yang sebenarnya terjerat masalah hukum—dibunuh si kepala desa dan anak-anaknya. Warga yang geram pun akhirnya mendapat alasan untuk memenjarakan si kepala desa.

Kemudian, kita akan dibikin harap-harap cemas dengan kisah penangkapan besar-besaran warga desa oleh petugas keamanan kabupaten. Desa yang tenang tiba-tiba dikejutkan oleh pasukan keamanan yang berbondong-bondong dan menangkapi para warga yang keringatnya masih belum kering setelah bekerja sepagian di sawah. Dengan gaya penceritaan sekelas novel dalam alur mundur, Chen dan Wu pada bagian ini mengajak pembaca berharap-harap cemas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik drama penangkapan besar-besaran ini. Dan kita pun akan lega sekaligus miris ketika tahu bahwa penyebabnya adalah karena aparat desa memfitnah para petani telah melecehkan aparat! Ya, kepala desa memfitnah rakyatnya sendiri dan mengakibatkan ditahannya hampir separuh warga desa.

Selain ketiga kisah, masih ada beberapa kisah lagi yang pasti membikin kita geram.

Kita pun akan kaget dan tersenyum kecut ketika tahu bagaimana para aparat desa itu menarik pajak dari petani. Petani yang hidup serba kekurangan itu ternyata memiliki beban pajak yang sangat banyak dan berliku-liku. Chen dan Wu menghabiskan tiga halaman sendiri (halaman 238-240) untuk mengurutkan jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan para petani, mulai pajak yang bertedeng ‘pengumpulan dana’ hingga pajak yang dalihnya untuk ‘pelayanan sosial’. Tak cuma tiga halaman itu, masih ada dua setengah halaman lagi di mana Wu dan Chen menyebutkan jenis-jenis pungutan lain dalam paragraf-paragraf narasi. Berikut adalah salah dua contoh kalimat yang bisa mewakili bagaimana ‘pintarnya’ aparat menarik pajak: “Apabila [...] hendak memelihara seekor babi, maka [petani] harus membayar pajak ‘babi hidup,’ pajak pembunuhan babi, pajak ‘perolehan modal,’ pajak pendapatan dan PAJAK PEMELIHARAAN KECAMATAN. Di beberapa tempat, warga akan dikenakan pajak pemeliharaan babi, TAK PEDULI DIA MEMELIHARANYA ATAU TIDAK [CAPS LOCK dari saya]” (hal. 241).
* * *
Tak perlu didebat, keunggulan utama buku ini memang terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang rapat terbebat tirai bambu. Sebuah provinsi yang saking miskinnya—serta menjadi aib bagi Cina—hingga tidak boleh dikunjungi pihak luar, kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu. Tidak kecil masalah yang mereka tuai dari buku ini: edisi resminya dilarang beredar di Cina, salah satu bab yang membahas ‘kejahatan’ seorang pejabat di bab 4 membuat mereka dikenai tuduhan pencemaran nama baik dan dimejahijaukan, rumah mereka dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal selama lebih dari duapuluh hari berturut-turut dan petugas keamanan tidak menghiraukan permintaan mereka untuk dilindungi, dan Chen Guidi diminta mengundurkan diri dari pekerjaan yang menjadi sandang-pangannya.

Namun, mereka tetap menang karena buku ini telah dibaca berjuta-juta orang. Memang tujuan Chen dan Wu adalah agar orang-orang tahu apa yang sebenarnya menimpa kaum petani. Sebulan pertama setelah diluncurkannya buku ini, 150.000 eksemplar terjual habis. Di Indonesia, angka ini mungkin baru pernah menjadi mimpi para pemilik penerbitan. Di Cina yang penduduknya lebih dari 1,2 milyar pun angka ini terbilang luar biasa. Dan setelah pelarangan, masih 10 juta eksemplar lagi edisi bajakannya yang terjual di pasaran.

Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta itu disampaikan dengan permainan plot, deskripsi yang benar-benar mendekatkan kita dengan latar dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog-dialog yang semakin memudahkan pembaca membayangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Pramoedya Ananta Toer, dalam wawancara dengan Jurnal Prosa, pernah mengatakan bahwa dia menulis novel karena tidak ada yang mau membaca sejarah secara murni. Chen dan Wu mengisahkan kejadian-kejadian itu dengan plot dan deskripsi selayak novel, kecuali sebagian besar bab 5 yang lebih bersifat analitis. Dan banyak yang tertarik dengan penyampaian seperti itu. Kiranya, inilah yang membuat mereka memenangkan penghargaan Lettre Ulysses Award untuk Seni Reportase.
* * *
Setelah terbawa oleh pedihnya hidup para petani Cina kita pasti akan berpikir dua tiga kali lagi sebelum menyebut Cina sebagai negara yang besar. Dan dari provinsi Anhui, yang diketahui masyarakat internasional sebagai simbol kemajuan Cina karena menjadi tempat perakitan dan peluncuran roket angkasa “Made in Cina”, kita akan tiba pada kesimpulan getir: bahwa kesuksesan di kancah (ekonomi) internasional tidaklah selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat negara yang bersangkutan.

Data Buku:
Judul : China Undercover: “Rahasia” di Balik Kemajuan Cina
Penulis : Chen Guidi dan Wu Chuntao
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xxvi + 362 halaman
ISBN : 979-1238-51-9

Thursday, October 25, 2007

China Under Cover
Masuk Buku Laris
Jawa Pos, 23 September 2007

"Kedua penulisnya kini mengalami tekanan yang hebat. Mereka dipaksa untuk keluar dari pekerjaan. Keluarganya diteror. Mereka dinilai telah membocorkan "rahasia" negara"

Kemajuan dan pesat Tiongkok (China) rupanya penuh misteri dan rahasia yang tidak boleh "orang luar" tahu bagaimana kiat dan pesat untuk mencapainya. Karena itu, ketika ada buku yang membuka tabir "rahasia" di balik kemajuan Tiongkok, China Undercover (Ufuk, Jakarta, September 2007), pemerintah setempat langsung seperti kebakaran jenggot.

Buku karya Chen Guadi dan Wu Chuntauo itu pun langsung di cekal. Tidak boleh diedarkan dan ditarik yang sudah beredar. Meski begitu, buku yang berisi kisah-kisah nyata tentang bagaimana Tiongkok "disulap" menjadi negara supermaju dalam sekejap, sudah terlanjur beredar dan bajakannya, konon telah terjual lebih dari 10 juta copy di Tiongkok.

Kedua penulisnya kini mengalami tekanan yang hebat. Mereka dipaksa untuk keluar dari pekerjaan. Keluarganya diteror. Mereka dinilai telah membocorkan "rahasia" negara.
Marginalisasi Petani, Ironi ”Pembangunanisme”

"Buku ini banyak dihujat dan dilarang oleh pemerintah setempat juga karena dengan berani mengungkapkan fakta apa adanya"

(25 Oktober 2007)

Judul buku: China Undercover: Rahasia di Balik Kemajuan Cina

Pengarang: Chen Guidi dan Wu Chuntao

Cetakan:Pertama, September 2007 Tebal: 362 + xxvia

CHEN Guidi dan Wu Chuntao tidak pernah menyadari, bahwa ketika mereka berusaha mengungkapkan suatu fakta apa adanya, buku mereka yang semula laris di pasaran, malah dilarang pemerintah. Pasangan suami istri ini menuliskan sebuah buku reportase dalam bentuk yang menarik, terutama karena pola bertuturnya yang mengungkapkan secara detail kondisi para subjek utama dari masing-masing kisah yang diungkapkan.

Buku berjudul “China Undercover”: Rahasia di Balik Kemajuan Cina ini menarik awalnya, karena sampul bukunya yang mencuri perhatian. Lebih mengejutkan lagi ketika sampulnya ditelusuri dan didapati bahwa buku yang mengupas negri Cina ini, ternyata dilarang beredar di Cina, meski tetap terjual edisi bajakannya sampai 10 juta kopi. Apa gerangan yang diungkapkan buku ini hingga menarik atensi pembaca?

Buku ini mentuturkan beberapa kisah tentang kehidupan petani, yang sejak masa Revolusi Kebudayaan dikatakan akan menjadi pihak yang kesejahteraannya benar-benar diperhatikan. Para petani didukung, karena dianggap sebagai tulang punggung perekonomian Cina yang maju pesat di kalangan negara-negara Asia. Janji-janji pun disampaikan, bahwa kehidupan petani akhirnya akan memperoleh tempat yang sepantasnya.

Tetapi, penyelidikan yang dilakukan Chen Guidi dan Wu Chuntao menunjukkan hal-hal sebaliknya. Petani, berada dalam strata terbawah masyarakat China, banyak diperas dan ditekan. Di daerah-daerah terpencil dan termiskin, para petani ini diperas untuk bekerja memenuhi berbagai kuota hasil panen. Toh, mereka juga dikenai berbagai macam pajak yang betul-betul menyulitkan hidup mereka. Misalnya saja, biaya untuk pembangunan bioskop di kecamatan pun, ditanggungkan pada para petani!

Hal ini diperparah oleh gaya hidup para pejabat, terutama di jenjang-jenjang terbawah yang korup dan dengan seenaknya memeras para petani. Mereka kerap membuat-buat alasan agar bisa menambahkan satu pajak dengan yang lainnya. Bahkan, pajak yang harus dibayarkan petani lebih besar daripada pajak masyarakat kota!

Pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan petani pun, seringkali dibalas dengan sikap yang penuh kekejaman dan hinaan. Dalam salah satu kisah di buku ini, di suatu desa bernama Desa Zhang, empat orang tewas terbunuh dan satu orang terluka hanya karena para petani ini diberikan hak untuk melakukan audit terhadap penggunaan uang mereka oleh pejabat setempat. Mereka tewas dibacok di siang bolong, hanya karena pejabat bersangkutan kesal atas tindakan para petani tersebut.

Buku ini banyak dihujat dan dilarang oleh pemerintah setempat juga karena dengan berani mengungkapkan fakta apa adanya. Di dalamnya termasuk pencantuman nama-nama pejabat yang melakukan kekerasan atau tindakan korup. Beberapa nama itu hanya memperoleh hukuman ringan dan bahkan beberapa tetap menjabat.

Reportase yang mereka sampaikan melalui buku ini benar-benar menunjukkan bahwa seringkali perubahan-perubahan yang dijanjikan oleh pemerintah --dengan embel-embel perubahan menyeluruh-- seringkali akhirnya hanya mencapai orang-orang yang ada di daerah-daerah pucuk, manusia perkotaan, misalnya. Ironisnya, anggota masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan, justru sama sekali tak terangkat dari kondisi kemiskinannya. Seolah perubahan yang dijanjikan memang hanya untuk kaum berada untuk semakin menjadi berada.
Terjemahan buku ini, secara keseluruhan tetap membuat buku ini enak dibaca. Tidak ada gangguan berarti yang menyulitkan saat membaca. Kondisi para petani yang diungkapkan melalui buku ini bisa tergambarkan dengan cukup baik bagi orang-orang yang belum pernah mengetahui bagaimana kehidupan petani di Cina. Penyusunan buku pun cukup apik dan membuat proses membaca menjadi lebih nyaman.

Buku ini kembali mencoba menggugah birokrasi pemerintahan. Bukan hanya di Cina, tapi bisa juga diaplikasikan di negeri lainnya, termasuk di sini. Intinya, keberhasilan dalam skala besar; angka-angka yang terlihat hebat dan menunjukkan perbaikan ekonomi yang luar biasa, tidak akan ada artinya kalau hanya untuk “menggemukkan” mereka-mereka yang memang sudah berada. Keberhasilan baru bisa disebut demikian, bila rakyat di desa-desa terpencil, di pelosok-pelosok negeri, sudah bisa hidup dan memenuhi kebutuhan sandang-pangan-papan mereka, memperoleh pendidikan, serta pekerjaan yang layak. Itu harga mati yang tak bisa ditawar lagi.

(Ulfah Mardhiah alumni SITH ITB dan anggota unit literer, Aksara Salman)***
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes