Showing posts with label *Koran Bisnis Indonesia. Show all posts
Showing posts with label *Koran Bisnis Indonesia. Show all posts

Monday, May 07, 2012


NASIONALISASI SUMBER DAYA ALAM

Secara de jure Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, ketika Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Pada September 1950 Indonesia juga resmi bergabung menjadi anggota PBB yang ke-60. Hal ini merupakan indikasi kemerdekaan Indonesia absolute diakui oleh dunia Internasional.

Sayangnya, secara de facto Indonesia masih belum merdeka dari imperialisme dan kolonialisme bangsa asing. Penjajahan model baru ini lazim disebut dengan Neokolonialisme. Penjajahan model baru ini tidak lagi memandang kolonialisme sebagai penjajahan fisik, dimana pemerintahan dan penguasaan atas semua sumberdaya dilakukan secara paksa suatu bangsa terhadap bangsa lain.

Neokolonialisme ini berwujud hegemoni suatu bangsa terhadap bangsa lain dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Alih-alih menjalin hubungan diplomatik, bangsa asing mencengkeram Indonesia dan menguras habis kekayaan alamnya. Walhi mencatat tidak kurang 85 persen potensi sumber daya alam strategis dari Sabang sampai Merauke dikuasai asing. Kehadiran buku ini menjadi penting dan sangat mendesak melihat realitas yang terjadi di Negara ini. Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam, namun tidak mampu menikmati kekayaan sendiri. Lantaran ulah kolonialisasi modern, bangsa kita dilanda defisit kenegaraan luar biasa. Naasnya, bahkan tidak jarang kita harus menjadi buruh di rumah (negeri) sendiri dan memperkaya bangsa lain. Sungguh miris memang, namun inilah kenyataan yang harus kita terima.

Berdasarkan pasal 33 UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa bumi dan seisinya dikuasai oleh Negara. Pasal ini mengindikasikan bahwa sumber daya alam (SDA) dikelola sendiri oleh Negara. Hasil pengelolaan tersebut diprioritaskan untuk kesejahtraan rakyat. Sayangnya, fakta berkata sebaliknya. Kekayaan SDA kita hampir semuanya dikelola oleh pihak asing. Sudah berapa besar investor asing meraup keuntungan dari Freeport, Blok Cepu, hingga Gas Alam Aru, dan berapa banyak yang kembali kepada bangsa ini, tentu tidak sebanding.

Pihak asing melakukan tindakan ini bukan tanpa payung hukum. Beberapa produk undang-undang dan peraturan di Negara kita nyata-nyata lebih memihak terhadap kepentingan mereka dibandingkan kepentingan nasional. Keberpihakan ini dapat kita lihat antara lain pada UU Migas, UU Sumber Daya Air, RUU Penanaman Modal Asing (PMA) dan berbagai peraturan di bidang PMA. Penulis buku, menawarkan sebuah solusi jika ingin menikmati kekayaan kita, yaitu nasionalisasikan SDA.

Wednesday, April 25, 2012


Menguliti Gurita Korupsi

Penyakit korupsi di Indonesia sudah menjalar kemana-mana. Ironisnya, aparat penegak hukum tak mampu membendungnya. Sehingga, membuat berbagai persoalan hukum melimpah ruah. Penyakit yang menyerang para pejabat negara itu sulit di basmi karena sistemik. Wajar, jika aktor intelektualnya sulit tertangkap. Walaupun toh, berbagai gerakan antikorupsi yang di pimpin Presiden sendiri sudah berjalan selama 7 tahun menjabat, hingga kini belum mampu membuat ciut para koruptor.

Justeru pemerintah yang di komandani Presiden banyak mengalami kendala dalam memberantas korupsi. Lebih parahnya lagi, orang-orang didikan Presiden maupun pejabat di bawahnya banyak tersandung korupsi. Sehingga, membuat persoalan penegakan hukum semakin kompleks. Misalnya yang sedang terhangat, kasus Wisma Atlet dan suap di Kementrans. Tentunya, membuat kita semakin merinding saja. Sampai kapankah penyakit korupsi di negeri ini dapat di berantas?

Menurut penulis buku ini” Bambang Soesatyo”, supermasi hukum yang selama ini di gembor-gemborkan hanyalah pepesan kosong. Janji orang nomor satu di negeri ini pun sewaktu kampanye untuk menumpas koruptor hingga kini tak bisa di pegang. Sebaliknya, justeru bermain-main dengan pedang-pedangan dalam berperang melawan koruptor. Ironisnya, para kader-kadernya juga banyak tersandung kasus korupsi. Dari catatan BPK, selama tujuh tahun pemerintahan SBY tidak kurang dari Rp 103 triliun dana pembangunan dirampok.(hal, xiii)
Dalam buku ini, ada 12 bab yang di beberkan Bambang terkait masalah korupsi. Yakni, Kanker Korupsi di Indonesia, Terlibatnya Orang-orang Presiden, Remisi untuk sang Besan, Tragedi Bernama BLBI, Mega Skandal Bank Century, Kesaktian Mafia Pajak, dll. Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika memang penegakan hukum di lakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor.

Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika penegakan hukum dilakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor. Bukankah, korupsi sudah merajalela? Jika dahulu korupsi berpilar pada penguasa korup dan pengusaha hitam. Kini, korupsi mengharuskan adanya perselingkuhan abadi antara dua unsur tersebut. Bahkan, mereka”koruptor’ selalu tampil kreatif dan inovatif.

Menurut salah satu ketua KPK Busro Moqodas, pilar baru para koruptor sekarang ini yakni, calo kasus dan calo politik, cukong dana, cukong politik, aktor politik pusat maupun daerah serta berbagai jaringan lainnya.(hal, 324) Cara paling ampuh untuk mencegah generasi koruptor adalah melalui pendidikan di lingkungan sekolah dan keluarga.

Thursday, August 27, 2009

BAHAGIA TANPA EMOSI JAHAT

Jika Anda termasuk seorang pencari (spiritual seeker), buku ini mung-kin bisa menghapus dahaga Anda.
(Bisnis Indonesia, Agustus 2009)

Banyak dan beragam jawaban yang diberikan jika orang ditanya apa yang ingin diraih dalam hidup ini, mulai dari ingin memiliki rumah, kendaraan mewah, anak-anak yang pandai, karier yang menjanjikan, dan lain-lain.

Semua jawaban tersebut jika ditelurusi lebih jauh akan bermuara pada satu jawaban, yakni bahagia. Semua orang ingin bahagia dalam hidupnya. Memiliki rumah yang bagus diharapkan mendapatkan kesenangan dan pada akhirnya dia berpikir bahwa hal itu akan mendatangkan kebahagiaan.

Ironisnya, ketika semua hal itu didapat, kebahagiaan tidak serta-merta hadir. Orang mengejar kebahagiaan tetapi sedikit sekali yang bisa meraihnya. Termasuk yang pernah dialami Lester Levenson yang mene-mukan Metode Sedona.

Levenson adalah ahli fisika dan pengusaha sukses. Dia mencapai puncak kesuksesan saat berusia 42 tahun pada 1952, tetapi dia tidak bahagia dan sakit-sakitan. Dia dirundung banyak masalah kesehatan seperti pembesaran lever, batu ginjal, limpa, kelebihan kadar asam, bisul yang melubangi dadanya serta depresi.

Dia juga terkena serangan jantung koroner hingga dua kali, sehingga dokter mengirimnya ke apartemen Central Park South Penthouse di New York City untuk kematiannya.

Untungnya Levenson adalah orang yang menyukai tantangan. Dalam putus asanya dia mendedikasikan dirinya untuk kembali ke laboratorium dan mencoba mencari jawaban.

Akhirnya, dia menemukan suatu cara yang ampuh untuk pengembangan diri, suatu cara melepaskan semua pembatasan diri yang kemudian dia gunakan dalam periode 3 bulan berikutnya.

Pada akhir periode tubuhnya benar-benar sehat kembali dan memasuki kondisi yang benar-benar damai sebelum ajal menjemputnya pada 18 Januari 1994.

Dia menemukan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak terbatas. Terbatas hanya karena konsep dari keterbatasan yang dipegang dalam pikiran. Konsep batasan tersebut tidak benar.

Pelepasan kekuatan pada Metode Sedona karena Levenson mempraktikkannya untuk dirinya sendiri. Dia menjadi sumber dari pemecahan masalah, sehingga dia mampu mengajarkannya kepada orang lain dengan sama baiknya. Salah satu inti dari metode ini adalah pelepasan.

Metode Sedona adalah suatu teknik yang bisa digunakan setiap hari saat waktu luang. Terdapat tiga cara pendekatan dalam proses pelepasan dan semuanya menghasilkan hal yang sama yakni membebaskan kemampuan alami Anda untuk melepaskan beberapa emosi yang tidak diinginkan seketika dan mengizinkan beberapa energi yang ditekan di bawah sadar menghilang.

Kehadiran buku ini tentu makin melengkapi buku sejenis yang menyangkut pengembangan kepribadian dengan cara dan metode yang lebih spesifik. Jika Anda termasuk seorang pencari (spiritual seeker), buku ini mung-kin bisa menghapus dahaga Anda.

Metode Sedona diklaim menawarkan cara terapi yang sederhana yang bisa membantu keberhasilan banyak orang di berbagai bidang. Bagi Anda yang serius menekuni masalah ini tidak menjadi hambatan. Namun, bagi Anda yang menginginkan cara pal¬ing praktis, buku ini terlalu tebal untuk sekadar mendapatkan kiat-kiat tersebut.

Monday, February 18, 2008


MENGUAK RAHASIA PENERBANGAN MURAH

Munawar Kasan
Ketua Indonesia Reader’s Society

Sulit dinalar, bagaimana mungkin naik pesawat Kuala Lumpur-Jakarta hanya Rp 4.975. Lebih fantastis lagi, menawarkan 60.000 kursi penerbangan gratis !
(Munawar Kasan, Bisnis Indonesia, 17-2-2008)


Membuka tiga halaman pertama buku ini, langsung disajikan sederet penghargaan untuk AirAsia. Ada 33 jenis pengakuan sejak 2003 dan ditutup dengan Airline of The Year 2007. AirAsia juga menjadi maskapai pertama di Asia dengan sistem tanpa tiket dan yang pertama di dunia dengan pesan tiket via SMS.

Brand AirAsia sangat kuat. Ketika orang menyebut maskapai asal Malaysia ini, langsung yang hadir dibenak adalah maskapai penerbangan murah (low cost car-rie/LCC). Sulit dinalar, bagaimana mungkin naik pesawat Kuala Lumpur-Jakarta hanya Rp 4.975. Lebih fantastis lagi, menawarkan 60.000 kursi penerbangan gratis !

Hanya dalam tujuh bulan setelah dioperasikan manajemen ba¬ru, AirAsia untung Rp48,5 miliar. Padahal maskapai yang didirikan DRB-Hicom Bhd pada 1996 ini merugi karena krisis manajemen. Tony Fernandes, melalui Tune Air, membeli AirAsia hanya dengan 1 Ringgit Malaysia (Rp2.500).

Efisiensi ! Itulah strategi klasik yang melambungkan maskapai yang diluncurkan ulang awal 2002 ini. Penasaran orang terhadap bagaimana operasionalisasinya, terjawab di buku ini. Salah satu taktiknya adalah menjaga biaya tetap rendah sampai tingkat minimum. Caranya dengan melayani rute pendek (3-3,5 jam), sehingga bisa meng-gunakan awak kabin yang sama.

Meniadakan makanan, membeli tiket via Internet, tanpa garbarata, dan mencari landasan dan terminal termurah, itu adalah cara efisiensi yang lain. Tidak heran jika Tony, bos AirAsia, lebih suka bandara di Subang yang murah daripada Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Buku ini akan mampu menginspirasi suatu strategi bisnis. Embel-embel yang tidak perlu, harus ditinggalkan untuk bisa survive, bahkan mengeruk untung.

Yang terjadi di Malaysia tidak beda jauh dengan Indonesia, penerbangan nasional Garuda beberapa tahun lalu masih merugi, meskipun pada 2007 sudah bangkit. Padahal LCC seperti Lion Air justru bakal ekspansi ke Thailand, Vietnam, Malaysia, bahkan Australia.

Sayangnya, buku yang ditulis ahli strategi bisnis dan wartawan ini hanya memuat sisi manis AirAsia. Keterlambatan yang sering dialami oleh sebagian besar LCC hanya disinggung sepintas. Padahal AirAsia sempat terlambat sembilan jam. Catalan ketepatan AirAsia juga kurang bagus, se¬bagian besar di bawah 80% untuk Desember 2007.

Buku ini juga tidak membeberkan komitmen AirAsia terhadap keselamatan padahal ada stigma bahwa LCC mengabaikan faktor keselamatan. Untungnya pembaca di Indonesia bisa mendapat info berdasarkan peringkat Departemen Perhubungan per September 2007, Indonesia AirAsia termasuk bagus karena masuk kategori satu, selevel dengan Garuda.

Pembaca mungkin masih penasaran 'akhir' kisah AirAsia yang memasuki jalur baru dengan membuka rute panjang ke Eropa. Mampukah rute ini untung ? Suksesnya saat ini karena AirAsia melayani rute jarak pendek. Kita tunggu saja babak selanjutnya.


















Thursday, October 04, 2007

Membedah Lintah Darat

Judul buku : Pengakuan Bandit EkonomiPenulis : John Perkins
Penerbit : Ufuk Press
Tebal : 465 halaman
"Perkins membawa kisahnya jauh lebih hidup sehingga mengusap imajinasi pembaca. Mengajak membayangkan kondisi Jakarta di awal 1970-an. "
(Bisnis Indonesia, Minggu, 30 September 2007)
Sebuah suara dari perwakilan Ufuk Press di ujung telepon membuat saya tertarik untuk segera membaca buku terjemahan John Perkins terbaru, The Secret History of The American Empire: Economic Hit Men, Jackals and The Truth About Global Corruption.
Memang harus diakui magnet Perkins terlalu kuat bagi saya setelah melahap dua buku terdahulunya, Confessions of an Economic Hit Men dan satu buku kolaborasinya dengan A Game As Old As Empire: The Secret of Economic Hit Men and the Web of Global Corruption.
Sayang baru membuka halaman informasi buku saya sudah menemukan kesalahan pengetikan judul asli buku ini. Jackals ditulis Jakals sementara Global ditulis Golbal.
Sempat terbersit bagaimana jika dalam buku yang dialihbahasakan Wawan Eko Yulianto dan Meda Satrio ini bertebaran kekeliruan serupa. Boleh dibilang buku ini pertaruhan bagi pasangan penyunting Mehdy Zidane dan Bahfein Linovar.

Beruntung skeptisme itu tak terbukti. Justru saya kemudian betul-betul tenggelam oleh sihir Perkins sejak paragraf awal bab pertama. Proses alihbahasanya harus diakui sanggup mengiringi kelincahan tutur bahasa asli penulis yang dibawakan sangat naratif.

Kehidupan metropolitan
Menarik karena bab awal buku ini langsung menapak Jakarta, metropol sesak yang sejak dahulu memang padat sesak dan salah urus karena berbagai sebab politik dan ekonomi.
Tanpa banyak basa-basi Perkins membawa pembaca menyelami kehidupan abu-abu ibu kota.
Yang membuat buku ini menyenangkan, Perkins membawa kisahnya jauh lebih hidup sehingga mengusap imajinasi pembaca. Mengajak membayangkan kondisi Jakarta di awal 1970-an.
Sayang pengelanaan Perkins mendadak harus terhenti dalam perjalanan ke Sulawesi dan langsung melompat pada kekejaman korporasi sepatu Nike pada buruhnya. Perkins masih menelanjangi Indonesia hingga bab 9.
Setelah itu kisah Perkins lebih banyak pada pengelanaan, perenungan akan sintesis dan antitesis teori dan pengalaman yang dia ketahui dan keadaan di tempat-tempat yang di kunjungi. Mulai dari dataran tinggi Nepal hingga tandusnya gurun Afrika. Alur cerita masa kini dan masa lalu saling berhimpitan dan berkejaran.
Meski demikian Perkins mampu menjaga ritme tuturnya dengan baik hingga akhir kisah buku ini.
Meski demikian buku kedua ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Bagi yang telah membaca buku pertama tentu akan terasa akrab dengan kisah yang dituturkan Perkins sementara bagi yang belum pernah membaca bisa agak kesulitan mengikuti.
Tapi terdapat benang merah dari seluruh buku Perkins yakni korporasi asing dan negara maju sebagai segerombolan lintah darat yang disembah negara berkembang.
(algooth.putranto@bisnis.co.id)
Algooth Putranto
Bisnis Indonesia
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes