Showing posts with label Edoardo Agnelli. Show all posts
Showing posts with label Edoardo Agnelli. Show all posts

Tuesday, June 01, 2010


Penanganan kematian Edoardo tak semestinya. Tak ada otopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian
(Hendri F Isnaeni)

DI Eropa, Agnelli adalah nama besar. Sebuah dinasti. Perintisnya Giovanni Agnelli Sr, seorang pensiunan tentara yang banting stir jadi pebisnis otomotif. Pada 1 Juli 1899, Agnelli Sr. menjadi bagian dari kelompok pendiri Fabbrica Italiana Automobili di Torino, yang kemudian menjadi Fiat (Fabbrica Italiana Automobili Torino). Dia menginvestasikan 400 lira, patungan dengan sejumlah rekannya. Satu tahun kemudian, dia menjadi direktur lalu chairman pada 1920. Pabrik Fiat pertama dibuka pada 1900 dengan 35 staf untuk membuat 24 unit mobil. Produksinya terbatas. Keuntungannya juga masih kecil. Fiat mencapai puncak produksi pertamanya, lebih dari 1 juta unit mobil, pada 1974. Fiat kemudian go public di bursa efek Milan. Agnelli Sr. membeli semua sahamnya. Setelah Perang Dunia I, Fiat melompat dari urutan ke-30 ke peringkat ke-3 di antara perusahaan industri Italia.

Pabrik pertama Fiat adalah fasilitas produksi komponen dan perakitan mobil di Lingotto, Italia, yang didirikan pada 1921. Pabrik ini meniru perakitan mobil Ford. Pabrik kedua, jauh lebih modern dan mulai beroperasi pada 1932. Orang menyebutnya sebagai sebuah keajaiban arsitektur dan industri. Ia menjadi yang terbaik dan termewah di seantero Eropa. Agnelli Sr meninggal tak lama ketika Perang Dunia II berkecamuk. Tapi perang malah membawa berkah. Fiat memperluas usahanya. Sebelum tahun 1945, Fiat memproduksi segala hal yang mengandung mesiu, baja, baling-baling, dan roda, baik darat maupun udara. Bahkan, Fiat memproduksi tujuh dari sepuluh kendaraan perang Benito Mussolini. Setelah Agnelli Sr meninggal, kontrol bisnis jatuh ke tangan Edoardo Agnelli. Tapi bisnis Fiat sendiri menjadi besar dan merambah ke luar negeri ketika kontrol bisnis berada di tangan Gianni Agnelli, yang berusia 46 tahun. Sebelumnya Gianni tak punya minat untuk mengelola Fiat. Setelah ayahnya, Edoardo Agnelli, meninggal dalam kecelakaan pesawat, dia pun mengambil-alih manajemen Fiat.

Dengan tangan dinginnya, Fiat merambah luar negeri. Dia mengambil Citroen dari Keluarga Michelin di Prancis. Eropa Timur juga dilirik. Tito di Yugoslavia merakit Fiat dalam sebuah lisensi. Polandia segera mengekor dengan memproduksi Polski Fiats. Belakangan, Rusia menggaji Fiat untuk menjalankan sebuah pabrik mobil senilai US$800 juta di Togliattigrad, dekat Volga, dengan kapasitas 600.000 unit per tahun. Fiat juga mengontrol koran La Stampa dan La Repubblica. Diversifikasi bisnis adalah pondasi utama sebuah konglomerasi. Dengan itulah Dinasti Agnelli menjangkau nyaris seluruh bisnis di Italia dan dunia. Beberapa di antaranya adalah Ferrari dan klub sepakbola Juventus.

Harapan pelanjut bisnis Dinasti Agnelli berada di tangan anak pertama Gianni Agnelli, Edoardo Agnelli –nama yang diambil dari kakeknya. Pada 1970-an, dia dikirim sekolah ke Inggris. Setelah lulus, dia memutuskan studi di Princeton University, Amerika Serikat. Pilihannya jelas bukan sesuatu yang diinginkan orangtuanya, bisnis. Dia malah mengambil jurusan filsafat dan studi perbandingan agama. Di kampus, dia membangun dunianya sendiri: dunia yang sepi, hanya berteman buku.

Dia pernah ke India untuk mencari tahu ajaran Buddha dan Hindu. Dia tak kesulitan mempelajari Katolik maupun Protestan. Yang asing justru Islam. Sampai suatu hari, di sela-sela rak buku perpustakaan Princeton, dia menemukan Al Qur’an. Bahkan dia kemudian memutuskan masuk Islam, pilihan yang membuat Gianni Agnelli murka. Kala itu usianya baru 20 tahun. Dia pun punya nama baru, Hisyam Azis, yang dia sembunyikan dari siapa pun untuk waktu lama.

Pada 1981, Edoardo menginjakkan kaki di Iran dan bertemu Imam Khomeini. Hasyemi Rafsanjani, mantan presiden Iran, jadi saksi. Dalam memoarnya, Khaterat, Rafsanjani menulis: “27 Maret 1981, hanya ada empat orang yang menyaksikan. Edoardo sempat mengecup tangan Khomeini. Konon Khomeini balas mencium kening Edoardo. Dari mulut pejuang renta itu terucap pesan singkat: banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati.” Di masa akhir hidupnya, dia merasa terancam. Manajemen Fiat berulang kali memaksa dia untuk meneken selembar dokumen pelepasan haknya di Fiat. Atas saran Marco Bava, penasihat keuangan keluarga Agnelli, dia menolaknya.

Pada 1996, kerajaan bisnis Fiat bernilai 46,5 milyar dolar AS, mencakup perusahaan dari penerbitan hingga makanan, asuransi hingga otomotif. Ini membuat bisnisnya menjadi salah satu usaha terbesar di Eropa. Saat itu pula Gianni divonis mengidap kanker dan memutuskan mundur dari Fiat. Posisinya digantikan oleh orang kepercayaannya, Cesare Romiti. Penunjukkan Romiti jelas mengabaikan hak Edoardo sebagai ahli waris.

Tapi sisi gelap Dinasti Agnelli justru mengemuka ketika Edoardo mati mengenaskan di kaki jembatan Generale Franco Romano. Mayatnya ditemukan pada 15 November 2000, sekitar pukul 10.15. Penanganan kematian Edoardo tak semestinya. Tak ada otopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian. Kurang dari satu hari setelah jasad itu ditemukan, polisi mengambil kesimpulan: Edoardo mati bunuh diri. Buku ini menunjukkan bahwa kematian Edoardo tak lagi misterius: dia dibunuh. Jasad Edoardo dikebumikan di pekuburan keluarga Agnelli, di Villar Perosa, sebagai seorang Katolik.[HENDRI FISN]

Tuesday, April 27, 2010


MENYOAL KEMATIAN PUTRA BOS FIAT EDOARDO

..dalam buku itu disebutkan, pelajaran dari kehidupan Edoardo, bukan agar memeluk Islam atau agama tertentu. Justru yang terpenting adalah saat menemukan kebenaran, maka bertahanlah dengan kebenaran itu, meski harus dibayar dengan nyawa
(M IzzulM Masyhadi, Indo Pos, 2010)

Tubuh telungkup itu terlihat sekitar pukul 10.00 pada 15 No¬vember 2000 di kaki jembatan Generale Franco Romano, sekitar 40 km lepas kota Torino, Italia. Franco Romano adalah jembatan double track terpanjang kedua di Italia yang membentang di jalan tol La Vardemare. Luas jembatan tersebut 3 km di atas daratan tinggi Stura di Demonte. Kali pertama yang melihat adalah Carlo Franchini, 51, pegawai Autosrada A-6. Autosrada A-6, sejenis Jasa Marga di Indonesia, adalah perusahaan yang bertanggung jawab atas lalu lintas di Italia. Bagian kecil dari tanggung jawabnya adalah mengelola 126 km tol La Vardemare yang memisahkan Torino dan Savona.

Sebelumnya, kecurigaan Carlo Franchini bermula dari mobil Fiat Croma yang berlapis baja yang terhenti di jalur darurat, tanpa pengemudi. Dia telah mencari sebisa mungkin. Sayang, hasilnya nihil. Tubuh telungkup yang dievakuasi dari lokasi kejadian itu adalah seorang pria setengah baya. Tingginya hampir dua meter. Wajahnya berjenggot. Ada beberapa luka yang mengeluarkan darah di kepalanya. Tapi, secara keseluruhan fisiknya utuh. Ketika itu, tak ada yang tahu siapa dia. Tapi, sebagian polisi seperti mengenali lelaki itu. Belakangan, polisi menemukan identitas pengendara Fiat Croma. Di surat identitas berwarna merah jambu itu, tertera nama Edoardo Agnelli. Lahir di New York, 9 Juni 1954. Berita yang beredar ketika itu, Edoardo bunuh diri.
Ayah Edoardo adalah Giovanni Agnelli yang lebih tenar dipanggil Gianni, generasi ketiga Agnelli sekaligus pemimpin besar kelompok bisnis Fiat. Orang di Italia menyebut Il Re, Sang Raja. Suatu ketika dia pernah mengatakan, Agnelli adalah Fiat, Fiat adalah Torino, dan Torino adalah Italia. Ini sebuah penegasan merasuknya kerajaan bisnis Agnelli dalam kehidupan Italia modern. Dan Edoardo adalah putra pertamanya, sosok yang di mata orang banyak di Italia dipandang sebagai putra mahkota. Dinasti Agnelli telah berumur satu abad. Perintisnya adalah kakek Edoardo, seorang pensiunan tentara yang banting setir menjadi pebisnis otomotif. Fiat mulai mencuri perhatian banyak orang kaya Eropa setelah mobil-mobil yang mereka produksi memenangkan banyak lomba Grand Prix. Dari bisnis mobil tersebut, nama Agnelli kian melambung, bak layangan diterjang angin. Selanjutnya, Fiat terlibat dalam produksi pasta gigi dan toilet, sernua peralatan rumah tangga yang mengandung mur dan baut, perbankan dan perkreditan, dan asuransi, pembanguanan jalan raya, serta perumahan dan real estate.Usaha Fiat terus melejit setelah kontrol bisnis Fiat jatuh ke tangan Gianni Agnelli pada 1966.
Menurut Thomas L. Friedmen, jurnalis The New York Times, kerajaan bisnis Agnelli adalah yang terbesar di Eropa modern...... Kekayaannya memang berlimpah. Selain Fiat, ada Juventus dan Ferrari. Perusahaan keluarga ada seribu lebih. Buku ini meragukan bunuh diri Edoardo. Kalau kau teliti, akan segera tahu kalau Edoardo mati dibunuh. Kau ingat jasad Edoardo ditemukan nyaris masih utuh ? Tidakkah menurutmu ini aneh untuk seseorang yang divonis bunuh diri dengan melompat dari jembatan setinggi 80 meter ? Hasil penelitian ahli menyebutkan, seseorang yang lompat dari ketinggian 80 meter, dengan berat badan seperti Edoardo—120 kg—, akan menghu-jam tanah dengan kecepatan 150 km per jam (127). Saat Edoardo ditemukan, polisi mendapati sepatu Tod's masih terpasang di kakinya? Tidakkah sepatu itu seharusnya copot dari kakinya mengingat sepatu itu tak bertali dan begitu mudah tanggal setelah melompat dari ketinggian tersebut ? Dan beberapa kejanggalan lain juga disajikan dalam buku karya Musa Kazhim & Alvian Hamzah yang mempunyai tebal 144 halaman.
Dokter yang tercantum namanya dalam surat autopsi, belakangan— setelah delapan tahun sejak kejadian—bersaksi ke Giuseppe Puppo, wartawan investigatif ternama Italia yang pada 2008 silam menerbitkan buku kontroversial dan proaktif menyelediki kematian Edoardo. Dokter itu bilang. dia tak pernah datang ke kamar mayat di Fassano untuk memeriksa jasad Edoardo (130). Sahabat Edoardo. Marco Bava, yang pernah melihat dokumen itu juga memberi kesaksian," dari awal saya menduga ini bukan bunuh diri... Banyak hal yang tak masuk akal......."(131). Sebagian meyakini kalau Edoardo dibunuh. Baik karena keyakinan agamanya, keteguhan mempertahankan apa yang menjadi haknya sebagai pewaris Fiat atau terutama perlawanannya terhadap mafia narkoba yang merajalela di Torino. Dalam sebuah wawancara, Bava menuturkan, kalau Edoardo merasa terancam dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya. Sebagian yang mengenal Edoardo menggambarkan bahwa sosok miliarder.itu adalah pribadi yang menghimpun nilai-nilai kemanusiaan universal. Dia adalah pribadi yang terbuka dan fair. Meski anak orang kaya raya, kendaraannya kesukaannya adalah skuter. Dia juga ikut dalam barisan Luigi Ciotti, seorang pendeta yang mendirikan asosiasi bagi pecandu narkoba yang tak punya rumah. Edoardo menyatukan barisan untuk melawan mafia narkoba yang banyak beroperasi di Torino. Sayang, di keluarganya dia "dipinggirkan". Bahkan, saat Giovanni lengser dari Fiat, bukan Edoardo yang dipilih meneruskan bisnisnya.

Benarkah Edoardo dibunuh? Entahlah, yang jelas, dalam buku itu disebutkan, pelajaran dari kehidupan Edoardo, bukan agar memeluk Islam atau agama tertentu. Justru yang terpenting adalah saat menemukan kebenaran, maka bertahanlah dengan kebenaran itu, meski harus dibayar dengan nyawa. (*)


Tuesday, March 30, 2010

Untuk kesekian kalinya, Ufuk Publishing House akan tampil “mengudara” pada gelombang FM 88,0 Mhz. Bersama Mustang FM, Ufuk Publishing House akan hadir menyapa audience-nya melalui kerrjasama co-branding Ufuk Publishing House dan Mustang FM. Pada kerjasama kali ini, tema yang akan dibahas adalah Edoardo Agnelli. Sebuah buku yang menyibak “penyingkiran” putra mahkkota raksasa bisnis Fiat, Ferrari dan Juventus. Acara yang akan berlangsung pada pukul 19.00 WIB tersebut akan menghadirkan penulis buku tersebut secara langsung, yaitu Musa Kazhim & Alfian Hamzah.

Musa Kazhim & Alfian Hamzah adalah penulis yang juga berprofesi sebagai wartawan. Selain buku Edoardo Agnelli, keduanya telah menulis buku best seller yang berjudul Iran, Skenario Penghabisan Perang Dunia III Di Pelupuk Mata. Selain itu, penulis yang selalu berpasangan dalam menghasilkan karya best seller juga pernah menulis buku seputar isu kontroversi Fitna, keajaiban DNA manusia, dan tema-tema keagungan dan keesaan Tuhan YME. Bagi Anda yang ingin mendengarkan langsung, bertanya bahkan berdialog langsung dengan penulis buku tersebut dapat mendengar langsung pada Kamis, 1-4-2010 di Mustang FM, 88,0 Mhz Pk.19.00 WIB
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes