Showing posts with label 3.2. Koran-Fiction. Show all posts
Showing posts with label 3.2. Koran-Fiction. Show all posts

Friday, November 06, 2009

TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Mala¬chy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara. Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mpncari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney merninta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Sunday, November 01, 2009


TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Malachy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara.

Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mencari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney meminta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Thursday, September 03, 2009


LOVE IN A TORN LAND

"KAU ada dalam setiap halaman yang kubaca. Dalam setiap kata yang kutulis. Semua burung menyenandungkan namamu. Aku tidak berarti tanpa kehadiranmu." Ini kisah cinta yang luar biasa. Penulis bestseller Trilogy Princess, Jean P. Sasson, menceritakan petualangan pribadi Joanna tentang ketakutan dan ketabahan semenjak masa kecilnya di Baghdad dan hidup sebagai seorang pejuang kemerdekaan selama Perang Iran-Irak. ***

Wednesday, August 12, 2009

THE FIFTH SALLY

SALLY Porter — seorang yang pemurung, penyendiri, dan membosankan — mendapati empat orang tengah berada di dalam dirinya. Setiap kali ia merasa sakit kepala dan tidak sadarkan diri, saat itulah keempat orang tadi silih berganti mengambil alih. la akan jadi Bella si penggila seks yang berbakat menyanyi dan menari, Nola seniman intelek namun dingin; Deny si pengkhayal tomboi di ceria, serta Jinx si maniak penuh kebencian. ***

Monday, August 03, 2009



KISAH KELAM PEREMPUAN ARAB

Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif
(Erick Purnama Putra, Koran Jakarta, Agustus 2009)


Kehidupan masyarakat, terutama perempuan, di Arab Saudi selalu menarik untiik dikupas, sebab keberadaannya terjepit dalam aturan budaya tradisional ketat yang membuatnya terkungkung. Padahal di saat bersamaan, laju kemodernan hidup melaju kencang, membawa perubahan di seluruh belahan dunia. Maka, fenomena itu pasti sangat menarik untuk dikuak agar masyarakat dunia tahu apa yang terjadi terkait realitas kehidupan perempuan di negara tempat Ka'bah berada.

Buku The Lost Arabian Women mengungkap perjalanan Qanta A Ahmed, seorang muslimah Pakistan yang sempat kuliah di Inggris dan Amerika Serikat (AS), yang mengabdikan diri bekerja di tanah Arab. Pengalaman berinteraksinya hidup di Arab Saudi membuat penulis menjadi lebih paham tentang kisah kelam nasib perempuan di sana.

Gambaran yang ditangkapnya beserta pengalamannya selama setahun kunjungannya di Arab Saudi yang dianggap sebagai dunia rumit, yang memegang tradisi berbeda dengan negara Barat, telah menyadarkan penulis bahwa negara kerajaan itu menyimpan fenomena memuakkan.

Pasalnya, banyak kejadian aneh yang menghambat aktivitas rakyat (perempuan) akibat aturan tradisional yang mengekang. Qanta Ahmed yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit King Fahad National Guard Hospital di Riyadh, yang diperuntukkan bagi kalangan militer yang mengabdi pada Kerajaan Saudi Arabia, menjelaskan bahwa budaya lokal yang dianut masyarakat Arab Saudi kadang malah merepotkan dan tak masuk akal serta menempatkan perempuan berada dalam posisi tertekan.

Perempuan tak boleh pergi tanpa memakai abbayah (cadar). Menurut penulis, perempuan di Arab Saudi yang menganut paham Wahabi sangat keras dalam menerjemahkan pakaian sebagai penutup aurat. Padahal dari perjalanan hidupnya yang besar di Pakistan dan pernah singgah di Afganistan dan Iran, aturannya tak seekstrem di Arab Saudi. Bahkan, dalam rumah, meski tak ada laki-laki pun, perempuan yang diidentiflkasi dalam kelompok superortodoks tersebut tak mau melepaskan cadar yang menutupi tubuhnya. Tak heran, pada peristiwa melahirkan, menikah, dan meninggal dunia pun abbayah yang dipakai tak
akan dilepas.

Pada bagian lain dikisahkan tentang penulis yang memiliki teman bernama Fatima yang memutuskan bercerai akibat suaminya menikah lagi. Tak ingin dimadu, akhirnya Fatima menalak tiga suaminya yang dinilai melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Anehnya, ketika menceritakan rencana perjalanan hidupnya ke depan kepada Qanta Ahmed, Fatima ingin menikah lagi dengan suami yang sudah beristri.

Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif. Para wanita di tanah Saudi, tak terkecuali non-Islam, terkena aturan kaku dengan memakai penutup aurat. *


Peresensi adalah Erik Purnama
Putra, aktivis Pers Koran Kampus
Bestari Universitas Muhammadiyah
Malang

Monday, June 01, 2009





MENYELAMI HOROR SIHIR MESIR

Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan. Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya
(Fenny Aprilia, Koran Jakarta, Mei 2009)


Kalau selama ini, Mesir dikenai sebagai negeri yang memiliki rupa alam nan eksotis dan dibalut dengan seni dari peradaban tertua di dunia, maka kita tidak akan mendapatkan hal itu ketika membaca halaman lepas halaman karya Robert Irwin ini. The Arabian Nightmare menyuguhkan hamparan Mesir yang penuh sihir. Begitu banyak kejadian mistis dan misterius, ditambah lagi dengan kisah peran dukun dan pengaruh setan membuat karya yang pertama kali terbit di tahun 1983 ini benar-benar menarik untuk dibaca.

Balian, tokoh utama dalam novel ini, awalnya memiliki dua tujuan ketika menginjakkan kaki di Kairo. Pemerintah Francis menugaskannya untuk memata-matai kekuatan militer Kesultanan Kairo. Kedua, Balian datang ke kota itu untuk menunaikan sumpahnya, melakukan ziarah ke St Catherine di Bukit Sinai. Tetapi, Balian malah menderita penyakit misterius.

Alih-alih menceritakan sepak terjang Balian dalam menuntaskan niatnya di Mesir, novel ini mengajak pembaca untuk menyelami susah-payah yang dialaminya dalam mengobati penyakit misterius tersebut. Balian meninggalkan caravanserai (tenda yang didirikan oleh para peziarah Nasrani dari Eropa) untuk beroleh kesembuhan. Balian terseok-seok di gang-gang kota Kairo yang kumuh, dihantui oleh gosip tentang kebangkitan ' kembali seorang gadis pemotong leher bernama Farida yang beredar di masyarakat Mesir dan dikejar-kejar oleh sejumlah makhluk halus. Usaha Balian untuk sembuh itu dilewatinya dengan tidak tidur sama sekali.

Keunikan dari karya Irwin ini ialah susunan tiap bab yang seolah tidak saling berkait dan berdiri dengan kompleksitasnya sendiri, namun member ikan efek khas yang dirasakan oleh pembaca. Irwin mendedahkan eksistensi dari Alam al-Mithal (kepercayaan tentang mimpi di masyarakat Arab) dengan detail yang mengagumkan.

Tetapi, kita juga bisa memaknai karya Irwin ini sebagai prosa yang membuka tabir dari sebuah kegiatan bernama tidur yang ternyata sangat penting bagi manusia. Hal ini terlihat dari usaha Balian yang tidak sekadar menginginkan kesembuhan dari penyakitnya, namun ia pun mendambakan lagi tidur yang nikmat seperti sebelumnya.

Maka, Balian—yang diliputi keraguan sekaligus takut akan kematian—mendatangi Father of Cats, seorang ahli tidur yang memiliki tempat penyembuhan bertajuk The House of Sleeping. Tapi, ia malah melihat gambaran yang menjijikkan dan mistis. Irwin dengan sangat lincah membawa pembaca untuk menduga sosok Father of Cats terkait dengan "penyakit mimpi buruk" yang menjadi semacam wabah di Kairo.

Kisah Balian menyembuhkan penyakitnya dibalut pula dengan cerita seputar pemberontakan terhadap penguasa dan kekejaman ilmu hitam di Kairo. Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan.

Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya. Mungkinkah Anda juga bisa memperoleh perasaan yang sama dengan saya? Baca saja. m
.


Tuesday, April 21, 2009



PETUALANGAN MENAPAK PERADABAN ISLAM


Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu.
(Republika, April 2009)


Safari merupakan novel yang mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa Indonesia melanglang buana: Eropa, Afrika, Australia, Amerika, dan Asia. Di setiap negara, tokoh utamanya, Jamal bin Mujahid, tak hanya mengunjungi tempat wisata, melainkan pula tempat-tempat bersejarah, masjid, serta bertemu aktivis Muslim. Setiap lokasi yang diknjungi digambarkan secara detail seakan-akan pembaca dilibatkan turut serta melanglang buana.

Kisah yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Republika ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Sarat il¬mu pengetahuan dan nilai-nilai sejarah. Di sisi lain, kisah ini mengupas kenyataan gesekan politik yang terjadi antara kelompok Barat dan kawasan Timur Tengah. Barat yang selalu engagungkan hak asasi manusia, realitanya nothing. Diskriminasi terhadap umat Islam terang-benderang dilakukan kelompok Barat. Hal sederhana, larangan berkerudung bagi pelajar masih berlaku di beberapa negera Eropa. Cap Islam teroris terus didengungkan Barat.

Kisah ini diawali kebahagiaan Jamal meraih beasiswa melanjutkan S2 di universitas ternama di Jerman. Pria yang tinggal di Pulau Dewata ini kuliah di Aachen University of Technology, kampus bonafide tempat mantan presiden RI, BJ Habibie, menimba ilmu pesawat terbang. Sebelum berangkat, Amal mendapat warisan dari ayahnya yang sedang dipenjara di Grobokan, Denpasar: Sebuah Alquran kecil. "Bacalah selalu! Dan jangan tinggalkan shalat. Insya Allah kau akan terjaga," pesan ayah Jamal.

Ayah Jamal seorang aktivis Mujahidin yang ikut angkat senjata ke Afghanistan melawan komunis Soviet. Ketika terjadi kasus.bom Bali, ayahnya dianggap terlibat, akhirnya dipenjara. Kebutuhan hidup keluarga ditopang ibunya membuka toko roti.

Kesibukan utama Jamal adalah kuliah. Kegiatan lainnya aktif mengikuti kajian ilmiah di kampus. Kegiatan ini membuatnya semakin berwawasan dan menambah teman Muslim dari berbagai negara. Sedangkan di luar kampus, lulusan ITB ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan Kedubes RI di Berlin. Kesibukannya bertambah ketika dia dipilih sebagai ketua umum PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jerman. Semua kegiatan ini menjadi gerbang terbuka bagi Jamal menyambangi berbagai negara di dunia.

Perjalanan dimulai dari Aachen, kota tempatnya kuliah. Kota lain di Jerman yang dikunjungi adalah Berlin sebagai pusat kepengurusan PPI. Tak hanya tempat bersejarah seperti Tembok Ber¬lin yang didatangi, Jamal pun sangat tertarik berkunjung ke Islamic Center dan masjid-masjid di kota tersebut. Di antaranya, Masjid Sehitlik yang merupakan masjid terbesar di Berlin. Masjid itu dikenal sebagai masjid Turki, karena pengelolanya komunitas Turki. Ada pula masjid lain yang dikelola komunitas Arab dan Pakistan. Dari Jerman, perjalanan dilanjutjutkan ke Palestina. Kesempatan berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, karena kedekatannya dengan Azam habat karibnya di kampus. Azam aktivis pengajian di kampus, asli dari Palestina. Azam menawarkan,kapan Amal bisa pergi ke Palestina. Modalnya hanya tiket pesa¬wat, sedangkan selama di Negeri Yasser Arafat, Azam yang akan menanggung akomodasinya.

Di kampus, Azam sangat antusias menceritakan bagaimana perlawanan masyakat Palestina menghadapi Zionis Yahudi. "Maaf jangan gunakan istilah bom bunuh diri. Itu istilah yang diciptakan musuh. Gunakan istilah bom syahid," tegas Azam saat di kampus. Rangkaian cerita Azam terekam kuat di pi-kiran Jamal. Saat berkunjung ke Palestina, Jamal bagaikan menapak tilas membuktikan semua penjelasan Azam.

Menuju Palestina Jamal melalui Amman, Yordania, lalu melewati Israel. Pemeriksaan sangat ketat lengkap dengan tentengan senjata. Perbedaan kota di Palestina dengan di Israel terlalu jomplang. Yerusalem periuh dengan bangunan pencakar langit, tidak demikian dengan Palestina. Orang Palestina mis-kin, sebaliknya Israel kaya. Pemerintah Israel mengembangkan politik apartheid mendiskriminasi etnis Arab.

Khalid yang menjadi guide mengajak Jamal naengunjungi tempat bersejarah 'milik' tiga agama di dunia. Masjid Al-Aqsha riwayat perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sebelah barat daya masjid menempel dinding kapur tempat pemujaan Yahudi yang dikenal Tembok Ratapan. Bagian selatan Yerusalem adalah kota Betlehem yang diyakini tempat lahir Nabi Isa. "Karena itu para peziarah beragama Yahudi, Nasrani, mauipun Islam menganggap tempat itu sebagai tempat suci mereka," papar Khalid. Kembali ke kampus, Azam menegaskan kembali, bagaimana perlakuan Zionis Israel terhadap umat Islam. Negera yang didukung Barat itu tidak konsisten menegakkan HAM. Bahkan mereka sendiri terang-terangan melanggar HAM.

Posisi sebagai ketua PPI Jerman mengantarkan Jamal berangklat ke London. Tujuannya, menghadiri pembentukan PPI se-Eropa yang diikuti perwakilan mahasiswa di negara-negara Eropa. Jamal beruntung terpilih sebagai ketuanya. Acara PPI tujuan utama, sampingannya mengunjungi kawasan bersejarah di London. Dia pun mengunjungi komunitas pemuda Muslim di Birmingham. Menurut Gulam, ketua Pemuda Muslim tersebut, masalah yang dihadapi umat Islam di London, antara lain pendidikan, rumah ibadah, dan makanan halal.

Penelusuran Jamal berlanjut ke Turki, Mesir, Australia, Amerika, bahkan sempat mampir kembali ke Bali, tempat tinggalnya. Di negara-negara tersebut pun banyak pengalaman berharga yang diperolehnya. Apa sajakah? Lanjutkan membaca di buku setebal 346 halaman ini.








Bab akhir buku ini diberi judul 'Air Mata Perpjsahan'. Jamal harus berpisah dengan Azam yang putus kuliah di tengah jalan. Langkah ini ditempuh Azam karena ada tugas negara. Namun, Azam tak mau menjelaskan secara rinci. Rasa penasaran itu terjawab ketika Jamal menyaksikan Azam di layar kaca. Ternyata, di Palestina, Azam bukan orang sembarang. Siapakah Azam?

Ditegaskan kembali bahwa novel ini syarat dengan ilmu pengetahuan dan nilai sejarah. Dipastikan penulis sendirilah yang telah mengarungi negara-negara tersebut. Pengalaman penulis menginjakkan kaki di 30 negara di lima benua memperkaya novel ini. Dia menjelaskan, sejarah peninggalan Nabi-nabi masih bertebaran di negara yang dikunjunginya. Penulis pun mengingatkan kembali betapa hebatnya kejayaan Islam saat menguasai Eropa, Afrika, hingga Asia. Kisah tokoh-tokoh Islam di negara yang dikunjunginya dikupas pula dalam buku ini. Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu. • vie




Wednesday, January 28, 2009


MENGANGKAT BUDAYA BETAWI
DALAM KHASANAH SASTRA INDONESIA

Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia
(Investor Daily, Januari 2009)


Novel-novel yang melibatkan aspek sosiologi atau realitas masyarakat tampaknya kini makin digemari. Lihat saja, Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata terjual lebih dari satu juta eksemplar. Novel ini mengangkat realitas masyarakat dan budaya Pulau Belitung. Begitu pula novel Ayat-Ayat Cinta yang mengangkat realitas mahasiswa Indonesia di Mesir, terjual 450.000 eksemplar.

Kendati tidak sefenomenal dua novel tersebut, novel Da Peci Code mencuri perhatian pasar novel Indonesia. Novel karangan Ben Sohib itu terjual 30.000 eksemplar sejak dirilis pada September 2006. "Saya bersyukur dengan penjualan sebesar itu," kata Ben Sohib kepada Investor Dailyusai peluncuran sekuel kedua novel ini Rosyid dan Delia, di Jakarta, Jumat (19/12).

Sepintas, novel ini 'mendompleng' ketenaran novel Da Vinci Code, karangan penulis Amerika Serikat Dan Brown Tapi isinya beda sekali. Da Vinci Code mengisahkan misteri legenda cawan suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Sementara itu, Da Peci Code mengisahkan perseteruan antara ayah (Mansur) dan anaknya (Rosyid). Di novel best seller itu, Rosyid menjungkalkan tradisi memakai peci putih di masyarakat Betawi-Arab. Permasalahan itu dihadirkan Ben dengan cerita yang lucu dan menghibur namun kritis.

Pengamat budaya Betawi Hikmat Darmawan mengacungkan jempol buat Ben Sohib. Menurutnya, Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia. "Ini poin yang menarik karena Betawi adalah sebuah budaya yang dinamis," kata Hikmat.

Ben, lanjutnya, juga mencatat pergulatan yang terjadi antara Betawi tradisional dan modern. Bahkan, beberapa pergulatan yang diangkatnya itu termasuk masalah yang gawat dan sensitif.
“Persoalan preci, itu masalah gawat. Belum lagi di buku kedua dia mengangkat pernikahan beda agama,” ujar Hikmat.

Ya, di buku kedua, Rosid&Delia, Ben kembali menghadirkan rosyid yang kritis bersama pacarnya, Delia. Keduanya hadir dengan persoalan yang lebih berat: perkawinan beda agama.

"Generasi muda Betawi-Arab kini berinteraksi dengan beragam budaya dan agama, bukan tidak mungkin perkawinan beda agama terjadi kata Ben yang menyilakan pembaca mengambil sikap sendiri atas permasalahan yang diangkatnya itu. Mengapa Betawi ? Bukan kebetulan bila Ben Sohib mengangkat budaya Betawi ke dalam khazanah sastra. Betawi, kata Ben, sangat dekat dengan kesehariannya, yang sudah 20 tahun tinggal di daerah Condet-Cililitan, Jakarta Timur. Dari pengamatannya, ada fenomena yang menarik dari masyarakat Condet. Condet, kata .Ben, adalah sebuah prototipe yang sempurna untuk masyarakat Betawi yang bisa dibilang tertinggal, kalau tidak mau dibilang terpinggirkan dari pergerakan zaman.

Dalam perkembangannya, ada perbenturan antara tradisi yang terus dipertahankan dengan budaya yang makin berkembang. “Termasuk tradisi memakai peci putih dan budaya Arab yang berakulturasi dengan budaya Betawi di mana peci putih menjadi simbol identifikasi agama Islam," tutur lelaki kelahiran Jember, 1967 itu.

Ben berharap, buku keduanya ini juga laris seperti buku pertamanya. Harapan ini juga dilambungkan Fahmi, dari penerbit Ufuk Publishing House yang menerbitkan dua buku itu. "Mudah-mudahan Rosyid & Delia jadi best seiler lagi seperti Da Peci Code" katanya.

Bahkan, Fahmi juga sudah bersiap-siap mengadaptasi Da Peci Code ke layar lebar. "Beberapa production house sudah menawar, tapi belum ada yang cocok," kata Fahmi.

Bila novel ini siap difilmkan, Ben berharap dirinya dilibatkan . dalam produksi film ini, termasuk bila diperlukan dalam penulisan skenarionya.”Ini supaya cerita di film nggak melenceng dari novelnya.” kata Ben yang belajar menulis secara otodidak.



Tuesday, December 30, 2008



SAAT REALITAS BENTURAN BUDAYA DIBUNGKUS JENAKA

Happy(Salma) memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.
(Media Indonesia, 27 Desember 2008)

Seandainya boleh memilih, pastinya kita akan menghindari konflik. Lalu bagaimana bila di tengah konflik terdapat satu kata lain, yakni cinta? Bingung? Itulah sekilas gambaran novel kedua Ben Sohib. Dinamika konflik yang kompleks akibat benturan latar belakang agama dan budaya menjadi bahasan menarik. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul The Da Peci Code. Bestseller yang menjungkalkan tradisi memakai peci putih.

Konflik bermula ketika Rosid dan Delia yang berbeda keyakinan memutuskan untuk menikah. Kentalnya tradisi serta kepercayaan keluarga Rosid yang keturunan Arab-Betawi berbentur dengan latar belakang Delia yang notabene Katolik. Alhasil, percintaan dengan latar belakang Betawi Condet ini mendapat penolakan ayah Rosid, Mansur al-Gibran yang muslim tulen.

"Kegelisahan Mansur berujung dengan memburu ramuan ajaib untuk memisahkan hubungan percintaan Rosid dengan Delia. Saya namakan ramuan Bui Jabal Bui," kata pemain sinetron Happy Salma di sela peluncuran novel kedua Ben Sohib, Rosid dan Delia, di kawasan Menteng, Jakarta (19/12).

Menurut Happy, novel kedua karya sosok kelahiran Condet ini mengandung realitas seni yang multiinterpretasi. Happy memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.

Di sisi lain Hikmat Kurniawan, pengamat Kebudayaan Betawi, menilai novel ini mampu mengisahkan khasanah sastra dunia, terutama Indonesia lewat sosok Rosid dan Delia. Pada kesempatan itu pula, Hikmat memuji keberanian Ben Sohib mengisahkan realitas sosial dan budaya yang dinilainya sebagai masalah yang gawat.

Gawat karena masyarakat jarang membicarakan hal tersebut. Ben mampu menggambarkan realitas benturan, seperti benturan jodoh, agama, serta budaya dengan bahasa yang simpel. Apalagi novel ini dikemas dengan tata bahasa yang dilematis, menggelitik, jenaka, sekaligus menggoda. (*/M-l)

Friday, October 31, 2008



UPAYA MENDOBRAK TRADISI ARAB

Kehidupan empat tokoh Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais menjadi wujud nyata yang menunjukkan perilaku manusia adalah sama saja hampir di semua negara
(Radar Yogya, September-2008)


Negara Arab yang terkenal dengan ajaran Islam yang kuat sempat digegerkan oleh buku The Girls of Riyadh ini. Alhasil buku karangan Rajaa Al Sanea ini dilarang beredar di Arab sampai sekarang.

Bahkan penulisnya sempat dihujat oleh warga Arab karena dianggap telah membuka aib melalui cerita yang berasal dari kiriman email teman-temannya yang mencoba mendobrak tradisi atau kultur yang selama ini penuh kekakuan. Terutama bagi kaum wanita. Kehidupan empat tokoh Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais menjadi wujud nyata yang menunjukkan perilaku manusia adalah sama saja hampir di semua negara. Hanya saja,budaya keras yang melingkupi seringkali menjadi belenggu yang menyebabkan seseorang terkekang dan tidak bisa memecahkan kebuntuan budaya itu sendiri.

Pergaulan remaja masa kini terdorong oleh modernisasi yang seakan berusaha memecahkan budaya lama yang berbau kolot. Bahkan di Negara Arab yang ajaran Islamnya sangat kuat ternyata ada juga model pergaulan modem yang mirip dengan Negara-negara barat. Rajaa Al Sanea seakan menjadi nama samaran bagi penulis yang masih misterius. Apakah dia adalah salah satu gadis dari empat tokoh yang diceritakan atau dia sendirilah orang yang selalu mengirimkan email kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Arab. Bukan sebaliknya yang memposisikan penulis adalah orang yang selalu mendapatkan kiriman email dari sosok misterius. Cerita tentang empat gadis arab yang melakukan pergaulan modern dianggap tabu oleh pemerintah Arab. Buku ini pun dilarang beredar. Bahkan Rajaa Al Sanea sempat dihujat oleh orang-orang Arab dalam situs-situs internet.

Perjuangan para wanita ini bisa disebut emansipasi. Namun upaya memecah budaya tirani justeru membuat mereka hampir dicampakkan. Meski cerita berakhir dengan happy ending. (yog)


Sunday, September 14, 2008


RIYADH UNDERCOVER

Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang Selama Ini Dianggap Sudah Mapan dan Kebal Hukum
(Mohamad Asrory Mulki, Koran Jakarta, September 2008)

Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi yang terus menerjang setiap inci kehidupan manusia, tradisi tidak sekadar dianggap sebagai warisan nenek moyang, tapi juga sebagai nilai-nilai luhur yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Dalam keyakinan sebagian orang, hanya dengan mematuhi tradisi, kemuliaan dan kebahagiaan hidup akan dicapai.

Novel The Girls of Riyadh buah karya Rajaa Al Sanea, alumnus King Saud University dan kini menyandang gelar dokter gigi, mencoba mendobrak tradisi kelam di Riyadh yang dianggapnya sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, tradisi yang tidak menghargai kebebasan dan hak-hak individu harus dilawan dan dihapuskan, karena itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.

Atas dasar itu, Al Sanea (waktu itu namanya disamarkan) harus membeberkan kisah kelam keempat sahabatnya: Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman, sebagai bahan pertimbangan untuk direnungkan dan diperhatikan masyarakat Riyadh. Melalui kisah nyata ini, penulis mengirimkan e-mail setiap Jumat siang kepada sebagian besar pengguna Internet di seluruh Saudi.

Dalam e-mailnya dikatakan bahwa Qamrah, Shedim, Lumeis, dan Michelle adalah wanita-wanita semiekslusif di tengah pergulatan masyarakat Riyadh, dan sering kali mereka tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang masyarakat dan budaya kecuali yang kebetulan mereka dengar dan saksikan. Kehidupan mereka cenderung dieksklusi dari hal-hal yang berbau modern dan inklusif. Ketaatan pada tradisi harus selalu mereka utamakan apa pun risikonya.

Sehingga, dalam soal pernikahan, keempat sahabat ini harus tunduk pada tradisi keluarga calon suami mereka masing-masing. Michelle misalnya, harus menggagalkan pernikahanya dengan Faishal, lelaki pujaanya, hanya karena keluarga Faishal tidak menerima Michelle yang memiliki darah campuran (Amerika-Saudi). Begitu pula dengan Shedim harus membatalkan pernikahanya dengan Walid hanya karena dianggap tidak sederajat dengan keluarga Walid. Sementara Qamrah harus hidup sebatang kara dengan anak laki-lakinya, Soleh, hanya karena Rasyid (suami Qamrah) menuduh istrinya tidak bisa menjadi pendamping impianya dan tidak taat pada tradisi yang berlaku di Riyadh.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah memilukan dari keempat gadis Riyadh itu. Singkatnya, mereka harus menanggung rentetan penderitaan hanya karena terbentur oleh tradisi yang berlaku. Mereka harus berpisah dengan laki-laki pujaanya dan meratapi cintanya yang kandas di tengah jalan. Hingga pada akhirnya, apa yang terjadi? Untuk mendapatkan seorang suami, mereka harus menerima laki-laki yang mereka tidak cintai. Sungguh tragis dan memilukan jalan hidup yang harus mereka lalui.

Kisah ini cukup menggemparkan jagat Saudi. Sehingga di setiap Sabtu pagi, fenomena heboh ini telah mengubah kantor-kantor pemerintahan, aula perguruan tinggi, teras rumah sakit, dan tempat-tempat lainya menjadi ruang diskusi mempersoalkan e-mail itu. Setiap orang melibatkan diri dalam diskusi ini, dari para dosen, guru, sastrawan, intelektual, mahasiswa, pejabat pemerintahan, hingga masyarakat biasa.

Pro-kontra pun terjadi. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentang perbuatan keempat gadis itu. Bagi yang pro, apa yang dilakukan keempat gadis itu merupakan kewajaran dan alami saja sifatnya. Sementara bagi yang kontra, kemarahan dan kejengkelan dialamatkan kepada keempatnya atas perbuatan bodoh yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilestarikan.

Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang selama ini dianggap sudah mapan dan kebal hukum. Kehadirannya telah memukul banyak pihak, lantaran peristiwa yang terungkap di dalamnya tidak saja dianggap sebagai sebuah pencemaran tetapi juga dianggap sebagai upaya merobek dan mencabik-cabik moral sebuah bangsa.



MohamadAsrori Mulky Peresensi adalah analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta


Thursday, July 10, 2008


MEDIA INDONESIA • SABTU, 5 JULI 2008 • HALAMAN 17

ROBIN HOOD ARABIA

Menariknya lagi, buku ini menceritakan kisah cerita sejarah yang berlawanan dengan mainstream tentang berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang telah berkembang menjadi negara kaya.
(Abu Khaer, Media Indonesia, 5-Juli-2008)`

Siapa yang tak kenal dengan Arab Saudi ? Di negeri itulah produsen minyak terbesar di dunia bersumber. Negeri tempat air zamzam berada ini, tujuan pelaksanaan tiap tahun jutaan masyarakat yang beragama Islam dari Indonesia dan seantero dunia melaksanakan ibadah haji ataupun umroh. Di negeri para emir ini pula tiap tahun dari negara kita mengirim ratusan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk mengais rezeki dinar. Namun, tahukah kita sejarah tentang berdirinya negara Arab Saudi ini?

Kerajaan Arab Saudi, nama resminya AI-Mamlakah AI-Arabiyah Al-Saudiyah, adalah negara yang berdasarkan syariat Islam yang bersumber pada Alquran dan sunah (hadis). Kerajaan Arab Saudi diproklamasikan Abdul Aziz bin Abdurrahman yang terkenal dengan nama Ibnu Saud, pada 23 September 1932. Sejak itulah, tanggal tersebut menjadi hari nasional Kerajaan Arab Saudi. Buku Sang Penjegal; Kisah Ibnu Saud Menguasai Arabia, yang ditulis HC Armstrong ini mengajak pembacanya untuk mengetahui sejarah jatuh-bangunnya perjuangan menegakkan Kerajaan Arab Saudi oleh sang founding father-nya

Menariknya lagi, buku ini menceritakan kisah cerita sejarah yang berlawanan dengan mainstream tentang berdirinya Kerajaan Arab Saudi yang telah berkembang menjadi negara kaya. Penulis menceritakan sisi patriotisme, romantisme, kegeniusan, heroisme, dan kekukuhan sang Ibnu Saud secara alamiah dari seorang bocah sampai menjadi 'Robin Hood' Arabia. Pendek kata, dalam cerita novel ini Anda akan diajak mengambil hikmah bahwa untuk belajar mandiri dan meraih semua asa harus kita perjuangkan dengan pantang menyerah, penuh kewaspadaan, dan kearifan diri, sebagai-mana Ibnu Saud membuktikannya.

Abu Khaer, mahasiswa pascasarjana ICAS-Paramadina Jakarta


Monday, April 14, 2008



SISI KEHIDUPAN PEREMPUAN ARAB

Buku ini adalah sebuah kisah nyata yang ditulis dengan cukup memikat
dalam bentuk novel sehingga pembacanya dapat merasakan emosi dari
masing-masing tokoh dalam buku ini
(Edy Firmansyah, Media Indonesia, 12 April 2008)

Membicarakan penindasan terhadap perempuan memang tak akan pernah usai. Menurut sebuah riset, setiap 6 jam terjadi kasus perkosaan seksual terhadap perempuan. Belum lagi kasus yang tidak pernah disadari orang sebagai kasus yakni pelecehan seksual, tampaknya sudah menjadi kegiatan spontanitas yang dilakukan di mana-mana.

Parahnya kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, nyaris di semua negara mengalami hal serupa. Termasuk di Arab Saudi. Benarkah? Sepintas tudingan bahwa Arab Saudi merupakan negeri yang turut serta dalam penindasan terhadap perempuan diragukan.

Dalam tradisi Arab, seorang perempuan tidak diperkenankan membuka jilbab (baca: cadar) sejak menginjak masa puber. Nah, jilbab itulah yang menjadi perisai bagi perempuan dari 'tangan jail' laki-laki

Faktanya tidaklah demikian. Menurut Jean Sasson, penulis buku The Princess Sultana's Daughters ini, di balik jilbab yang serba ketat, perempuan Arab justru mengalami penderitaan akibat penindasan dari sistem patriarkat yang tak kalah pedihnya dengan penderitaan perempuan Indonesia yang cenderung pluralis.

Sejatinya buku ini merupakan kelanjutan dari buku laris berjudul Princess: Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi. Jika buku pertama menggambarkan kehidupan masa kecil Putri Sultana, buku ini menggambarkankisah kehidupan anak-anak perempuannya dan perempuan Arab lain dalam nuansa ketatnya sistem patriarkat secara lebih personal. Buku ini adalah sebuah kisah nyata yang ditulis dengan cukup memikat dalam bentuk novel sehingga pembacanya dapat merasakan emosi dari masing-masing tokoh dalam buku ini
.
Edy Firmansyah, pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK)


Tuesday, March 25, 2008


TUBUHMU CERMIN DIRIMU


Ini adalah sebuah buku yang komprehensif dan sangat menarik. Memuat setiap bagian tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk membantu Anda menguraikan pesan-pesan misterius hingga sinyal-sinyal bahaya yang dikirimkan tubuh Anda kepada Anda(Media Indonesia, 22-Maret-2008).

Tahukah Anda bahwa kehilangan indra penciuman bisa berakibat pula pada hilangnya indra pengecap. Tahukah Anda paparan sinar matahari tidak hanya memicu kanker kulit, tapi juga salah satu penyebab katarak. Tahukah Anda kemungkinan botak pada lelaki Jepang lebih kecil jika dibandingkan dengan lelaki kulit putih ? Tahukah Anda, merokok bisa menyebabkan hilangnya indra penciuman dan tentu saja berbagai penyakit yang sudah dikenal. Tahukah Anda, lingkar pinggang 100 cm pada laki-laki dan 80 cm pada perempuan mem-buat mereka berisiko terkena penyakit jantung. Sementara itu, perempuan dengan lingkar pinggang 90 cm berisiko terkena batu empedu.

Ini adalah sebuah buku yang komprehensif dan sangat menarik. Memuat setiap bagian tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki untuk membantu Anda menguraikan pesan-pesan misterius hingga sinyal-sinyal bahaya yang dikirimkan tubuh Anda kepada Anda.

Mulai dari rambut yang mudah patah hingga rambut yang tumbuh di mana-mana, gigi kecokelatan, mata yang tidak sama, kuku retak, puting terbalik, dan gas perut yang berlebihan. Semua menyampaikan sinyal yang berhubungan dengan kesehatan.

Bering kali kita merespons tanda-tanda ini dengan lari ke toko obat, atau malah tidak berbuat apa-apa sama sekali. Bersumber dari berbagai penelitian terbaru dan diawasi sebuah panel yang berisi pakar-pakar kese¬hatan, buku ini berisi berbagai informasi penting dan sering kali mengtiibur mengenai segala sesuatu yang ingin Anda ketahui soal tubuh dan ke¬sehatan.

Joan Liebmann-Smith, seorang penulis dan sosiolog kesehatan serta pakar pencegahan penyakit pada perempuan dan anak-anak. la adalah salah satu penerima Medical Reporting Award dari Asosiasi Kedokteran Amerika.

Jacqueline Nardi Egan seorang jurnalis kesehatan dengan spesialisasi pengembangan dan penulisan program-program edukasi dengan dan untuk para dokter, profesional kesehatan, pasien, dan konsumen.

(Lintang, wartawan Media Indonesia)







Monday, March 17, 2008


KEGILAAN SESAAT


Apa yang Anda lakukan jika menemukan uang US$1 juta ? Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Joey, pengangguran dan pecandu narkoba, bersama dua temannya tanpa sengaja menemukan US$1 juta di jalan dan hidupnya tiba-tiba berubah.

Mereka dikejar-kejar ketakutan, kebingungan, juga keinginan untuk memiliki. Ketegangan dan ketakutan tidak pernah berhenti, apalagi Joey berada di bawah pengaruh obat bius. Terlebih ketika seluruh Kota Philadelphia hanyut dalam pencarian uang. Akankah Joey berakhir di penjara? Kenapa ia dianggap pahlawan?

Dalam setiap kehidupan, peran penjahat dan pahlawan selalu ada. Saat membaca novel ini, terserah, Anda akan menempatkan Joey di posisi mana. Kisah nyata ini cukup menarik, namun pengupasan dalam novel terasa kurang dalam. Mungkin karena kisah ini dibuat film terlebih dahulu pada 1992, baru kemudian dijadikan sebuah novel.

Penggalian saat persidangan, juga psike Joey ketika ditangkap, dan, disidang kurang tergam bar. Pun bagaimana Joey menjalani hidup selanjutnya serta ke mana sisa uang yang belum ditemukan. Novel ini menyodorkan sesuatu yang detail sekaligus tidak detail.

Di akhir novel, diceritakan, sebelum kisah ini diangkat ke layar lebar dengan judul Money for Nothing, John Cusack, aktor pemerannya, beberapa kali bertemu Joey. Mereka cukup akrab, dan itu membantu Cusack memahami karakter Joey sebelum memerankan tokoh tersebut. Tapi setelah film ini selesai, beberapa kali Joey menolak menonton karena enggan melihat dirinya digambarkan sebagai pecandu narkoba. la khawatir bisa memunculkan anggapan negatif pada penduduk sekitar tempat tinggalnya yang dalam persidangan banyak memberi dukung psikis kepada dirinya.

Lintang Rowe: Wartawan Media Indonesia.




Thursday, November 08, 2007

Metafor Kebutaan dalam Konflik Kelas Sosial

Judul :Kebutaan (Blindness)
Penulis :Jose Saramago
Penerjemah :Arif B Prasetyo
Penerbit :Ufuk

Cetakan : Pertama, Maret 2007
Tebal :447 halaman


"Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang perubahan sosial"
(Suara Merdeka)


Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya.


NOVEL ini bertutur tentang kebutaan massal yang melanda penduduk kota tak bernama. Satu per satu penduduk kota teridap kebutaan dengan cara yang sungguh tak bisa diterima hukum medis.

Seseorang akan demikian menjadi buta setelah kontak pandang satu sama lain. Dokter yang menangani pasien buta, lelaki yang menolong lelaki pertama yang buta, pasien yang antri di tempat praktik dokter, dan tetangga yang tak sengaja menatap si pasien buta tiba-tiba menjadi buta. Pejabat pemerintah setempat cemas dan untuk mengatasi krisis kepercayaan masyarakat, mereka yang teridap kebutaan dimasukkan paksa ke bekas gedung rumah sakit jiwa. Hanya satu yang terbebas dari kebutaan dalam cerita tersebut sekalipun di akhir cerita akhimya ia pun buta: isteri lelaki yang pertama kali buta mendadak.

Di dalam bekas gedung rumah sakit jiwa ini pembaca akan mengetahui bagaimana sebuah ekperimentasi mengenai manusia dalam membentuk sistem sosial terlihat. Tokoh-tokoh yang mengidap kebutaan tersebut dipaksa oleh peraturan yang membuat mereka harus memperlakukan dirinya secara sangat hati-hati. Jika tidak mereka bukan hanya terancam kematian yang disebabkan oleh kebutaan mereka sendiri, tetapi lebih dan itu, terdapat sistem yang lebih efektif dalam membinasakan mere­ka selama di dalam tembok rumah sakit jiwa. Konsekuensinya, satu sisi mereka harus mengatasi kebutaan yang mereka idap, pada sisi lainnya mereka mesti mengantisipasi sis­tem yang ditetapkan pejabat negara yang dengan sistemnya tersebut menghendaki mereka musnah. Mereka tidak ditolong dari kebutaan, tetapi justru dipaksa sedemikian rupa untuk mati pelan-pelan. Hidup-Mati.

Dalam tegangan antara bertahan hidup di tengah kebutaan yang menimpa dan aturan yang memaksa dalam lingkungan rumah sakit jiwa, dapat diketahui bagaimana tokoh-tokoh mempertahankan diri. Tokoh-tokoh buta tersebut secara paksa mesti mengorganisakan dirinya untuk menghadapi kelompok lain dalam bangunan rumah sakit jiwa agar jatah makannya tidak disabotase.

Digambarkan ada ratusan penghuni gedung bekas rumah sakit jiwa tersebut dan terbagi-bagi dalam berbagai kelompok. Namun ada satu kelompok berandalan yang dengan caranya ingin mengusai kelompok lain, diantaranya kepada kelompok lelaki yang pertama kali teridap virus kebutaan. Di antaranya anggota perempuan dengan sadar rela dijadikan pemuas nafsu sebagai syarat yang diajukan para kelompok buta berandaian. Anggota perempuan buta ini pada awalnya menyepakati persyaratan itu untuk bertahan hidup meski kemudian memberontak dengan membunuh pimpinannya.

Dari peristiwa tersebut kita dapat membayangkan bagaimana kelompok yang perta­ma kena virus kebutaan ini mengorganisasikan dirinya dari kebutaan agar mereka sebagai satu kelompok sosiai bisa padu, satu suara, dan bertindak demi kelangsungan hidupnya. Satu hal yang paling nyata dalam hal ini adalah, bagaimana seseorang yang terbiasa menggunakan matanya hams mengalami kebutaan dan dalam kebutaan tersebut harus mengorganisasikan dirinya agar bisa bertahan dari serangan dari kelompok lain dan yang utama dari pemilik otoritas, negara. Di sini jelas kata . kuncinya: membentuk dan menguatkan kelas sosiai adalah sesuatu yang mutlak.

Karena itulah, pembaca novel ini tidak akan menemukan sosok tokoh yang berdiri sendiri dengan perwatakan yang cukup kuat. Tokoh-tokoh dalam novel ini tak lain dari bagian sebuah unit-unit sosiai yang saling mendukung demi terbangunnya sebuah kelas sosiai yang kuat. Kekuatan kelas sosiai ini mengandalkan individu pendukung memperoleh kompensasi berupakeselamatan yangberupa jatah makanan maupun jaminan keselamatan dari serangan kelompok lain.

Pelacur

Pembaca novel ini memang akan mendapatkan tokoh semacam bekas pelacur bukan dalam perwatakannya sebagaimana pembaca kenal dalam kehidupan keseharian, tetapi mendapati pelacur hanya sebuah peran yang tidak ada bedanya dengan peran sosiai lainnya. Sebab bukan pelacur yang secara sosiai dipahami sampah masyarakat tetapi pelacur hanya sebagai sebutan.

Dalam konteks kebutaan yang melanda tersebut, peran sosiai semacam dokter, istri dokter, pengarang, sopir, anak kecil, lenyap. Mereka disatukan oleh wabah kebu­taan dan di sinilah sebuah eksprimentasi sosial dibawa kembali ke dasar-dasamya : berbeda dengan hewan yang secara alamiah diberi organ-organ untuk bertahan hidup, manusia yang tak diberi organ-organ semacam hewan memiliki kemampuan untuk membuat sistem sosiai untuk bertahan.

Namun novel ini tidak hanya ingin mengajak pembaca mengais pemikiran yang sudah kiasik ini. Novel ini ingin menghunjam ke hal yang paling dasar dalam kaitannya dengan pembentukan kelas sosiai dan konflik-konflik yang menyertainya. Kebutaan dalam novel ini tak lebih dari sebuah metafor untuk menyatakan adanya sebuah kelas sosiai tertentu. Peran dokter, pelacur, istri dokter, pengarang, anak kecil, tak lebih dari bungkusan yang sesungguhnya akan lenyap ketika mereka dalam kondisi teroojok oleh kebutaan, mengalami konflik dengan kelompok lain, dan terutama ketika mereka menghadapi sebuah kelas yang lebih berkuasa, Negara.

Dalam pertarungan ini kelompok yang per­tama terkena virus kebutaan dipaksa untuk bisa mempertahankan kelompoknya jikalau mereka ingin bertahan hidup. Negara bersama aparatusnya sebagai otoritas resmi tidak lebih dari sebuah kelas lain yang akan bersikap ekstrem jika kasus sosiai yang ada dalam wilayahnya membahayakan sendi-sendi kuasanya.

Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya. Pandangan semacam ini memang mengundang kembali pemikiran Marx tentang pertentangan kelas sebagai satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan kelompok tertin-das keluar dari ketertindasannya. Konflik antarkelas dan sesama kelas sebagai sesuatu yang sifatnya tak terelakkan dan disanalah harapan secara revolusioner terbentuk.

Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang penjubahan sosial. Ini juga cara yang ditempuh George Orwell dalam Animal Farm dengan metafor binatang atau Franz Katka dalam Metamorphose tentang sosok menyerupai serangga.

Selamat membaca!

(Imam Muhtarom-35)
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes