Showing posts with label #Ufuk Fiction. Show all posts
Showing posts with label #Ufuk Fiction. Show all posts

Tuesday, May 08, 2012




KERJASAMA MAJALAH PESONA DAN UFUK FICTION

Pada Edisi 44, Pembaca Majalah Pesona mendapatkan sajian khusus. Sajian kusus tersebut dikarenakan pada edisi kali ini, para pembaca Majalah Pesona yang beruntung akan mendapatkan 2 (dua) buku Pretty Liars dengan cuma-cuma. Hadiah tersebut merupakan hasil kerjasama Majalah Pesona dan Ufuk Fiction (Ufuk Publishing House). Budhi Prianto sebagai Chief Editor Ufuk Fiction mengatakan bahwa buku Pretty Liars merupakan salah satu novel terjemahan yang paling banyak di cari di Indonesia. Beliau juga mengatakan bahwa novel tersebut mendapat sambutan hangat dari para pembaca di seluruh dunia dan seri kelanjutannya telah di tunggu-tunggu tanggal penerbitannya.

Budi Prianto mengatakan bahwa kerjasama dengan Majalah Pesona tersebut merupakan kerjasama jangka panjang yang memiliki potensi keuntungan besar bagi kedua belah pihak. Melihat jumlah oplah majalah yang besar serta buku-buku Ufuk Fiction yang menarik dibaca maka besar kemungkinan kerjasama tersebut akan terus berlanjut dan mengalami perpanjangan hingga dua kali berturut-turut



Tuesday, May 25, 2010

Hush Hush


JUARA I LOMBA RESENSI HUSH, HUSH


Scared, Angel?”
I clenched the metal bar drilled into the front of the car as I felt my weight tip forward.
A shaky laugh slipped out of me.

Masih ingat dengan jelas bagaimana demam Bella dan Edward dari Twilight menyerbu banyak orang dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia? Siap-siap, karena Nora dan Patch telah hadir dengan kisah dan romantisme ala remaja yang setara. Nora Grey hanyalah seorang pemain cello sekaligus penggemar musik klasik berusia 16 tahun yang tinggal di Maine bersama ibunya. Hidup Nora cenderung datar dan biasa-biasa saja, kematian Ayahnya nyaris setahun yang lalu membuatnya sedikit paranoid dan jauh lebih tertutup daripada remaja kebanyakan. Kisah dimulai ketika dalam pelajaran Biologi, Nora harus berpisah dari sahabat sekaligus partnernya Vee, dan bekerja dengan murid pindahan yang misterius Patch Capriciano.

Berbagai kejadian aneh terus terjadi di sekitar Nora sejak Patch menjadi partnernya, dimulai dari tabrakan aneh, lalu Patch yang dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada dirinya, pergantian psikolog sekolah yang menanganinya, hingga munculnya Elliot Saunders yang juga menunjukkan ketertarikannya pada Nora dan tidak mempedulikan Marcie Miller yang notabene merupakan gadis terpopuler di sekolah. Tak terbiasa dengan banyaknya perhatian yang tiba-tiba datang kepadanya, membuat Nora semakin paranoid sekaligus penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menyelidiki tentang Patch dan juga Elliot bersama dengan sahabatnya Vee. Hingga akhirnya dia mengetahui satu kenyataan bahwa Patch adalah seorang fallen angel, dan mendekati dirinya, bahkan rela menjadikan Nora sebagai persembahan demi keuntungan pribadinya.

Kesan pertama yang timbul setelah membaca buku ini adalah “Second Twilight”, mungkin karena Twilight boom yang begitu besar dan mendunia, hingga semua buku yang menampilkan romansa antara dua anak manusia dari dunia yang berbeda sering disamakan dengan Twilight. Akan tetapi, Hush Hush sedikit lebih realistis daripada Twilight, walaupun konsep fallen angel yang ditawarkan memiliki kesan tidak nyata yang setara dengan vampirism ala Twilight, tapi Becca Fitzpatrick berhasil meramu adegan demi adegan lebih rapi dan mengeksplorasi perasaan serta kebingungan Nora lebih dalam.
Tokoh Patch juga digambarkan lebih manusiawi, walaupun ada beberapa hal misterius yang tidak terjelaskan dengan baik, tapi dapat tertutupi dengan narasi Nora yang digambarkan sering berada dalam keadaan bingung sehingga keterangan serta ingatannya tentang Patch terlihat cukup samar. Akan tetapi, ada beberapa kejanggalan yang sayangnya tidak terjelaskan dengan baik, atau mungkin tidak cukup tersampaikan. Seperti tentang siapa Chauncey dan detail lebih lengkap tentang hubungannya dengan Nora. Dan juga tentang alasan Patch yang memilih untuk menjadi fallen angel, serta tentang kematian ayah Nora serta hubungan Nora dengan keluarganya.

Tidak menutup kemungkinan munculnya sekuel Hush Hush dan akan menjadi boom seperti halnya Twilight, mengingat masih ada banyak hal atau poin-poin yang terlihat krusial dalam buku ini dan berpotensi menjadi satu buku tersendiri. Atau mungkin Hush Hush akan menjadi satu seri tersendiri, who knows? Yang pasti, bagi pecinta novel roman remaja yang menampilkan kisah cinta dunia layaknya Twilight, Hush Hush bisa menjadi satu pilihan.


'hush, hush' bahkan memiliki nilai moral tersendiri. Kita belajar dari Nora untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan dalam menilai orang karena kadang seseorang tidak selalu seperti dugaan kita
(Marcella Febriaty)

Salahkah mencintai seorang fallen angel? Itulah fokus karya perdana Becca Fitzpatrick ini. Romansa berbalut sedikit nuansa fantasi thriller menjadikannya bacaan memikat sekaligus seru. Ilustrasi sampul yang nyaris hitam putih dengan sedikit warna merah memberikan nuansa gelap dan misterius pada kisah 'hush,hush'. 'hush, hush' dibuka sebuah prolog yang mengisahkan pertemuan seorang malaikat terbuang dengan seorang Nephil, ras setengah manusia setengah malaikat. Pertemuan itu berakhir ketika Nephil itu dipaksa bersumpah menjadi budak malaikat tersebut. Cerita beralih ke kehidupan Nora Grey, siswi SMA yang cerdas namun tidak mudah mempercayai orang lain. Awal pertemuannya dengan Patch yang misterius menjadi awal perubahan hidupnya. Baginya, Patch sulit ditebak dan menyebalkan, namun ia justru semakin memikirkan Patch. Patch dengan mudah mengetahui begitu banyak tentang Nora, membuatnya takut sekaligus penasaran. Keingintahuan dan akal sehatnya saling bersaing. Dia merasa Patch berbahaya karena menyimpan terlalu banyak rahasia, namun sebagian dirinya ingin membuka rahasia-rahasia tersebut.


Kejadian-kejadian aneh mulai menimpanya. Sahabatnya, Vee, sampai terluka dan dirawat di rumah sakit ketika mencoba menyamar sebagai Nora. Jelas sasarannya Nora. Kemudian Nora tahu Patch ternyata seorang fallen angel - malaikat terbuang, dan Nora mengira Patch berniat membunuhnya untuk mendapatkan tubuh manusia. Keberadaan Elliot dan Jules serta Dabria yang muncul belakangan makin mempersulit Nora. Dengan fakta demi fakta yang dia temukan, dia tidak tahu pada siapa dia harus percaya. Becca membawa pembaca dalam alur yang tidak terburu-buru. Deskripsi tiap kejadian dirangkai dengan detail sehingga pembaca seakan mengalami sendiri dan larut dalam pikiran Nora. Perubahan perasaan Nora digambarkan perlahan, bagaimana awalnya dia kesal namun penasaran terhadap Patch, bagaimana pandangannya terhadap Patch berubah dan akhirnya mencintai Patch. Semua disusun apik sehingga pembaca tidak bosan membuka halaman demi halaman. Plot 'hush, hush' tidak terduga, berbeda dengan novel percintaan lain. Pembaca dibuat sulit menebak pelaku penyerangan Nora sebab Nora terus merasa ketakutan dan berspekulasi macam-macam. Plot seperti ini mirip plot cerita detektif yang cenderung membuat penasaran dan ini memberikan keunikan tersendiri pada 'hush, hush'. Karakterisasi juga menjadi nilai plus, para tokoh bertindak konsisten dan sifat mereka memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan sehingga mereka terkesan 'real'.


Keunggulan lain adalah konsep fallen angel yang digambarkan secara menarik. Mereka punya luka berbentuk V terbalik di punggung, tanda sayap mereka dicabut. Mereka tidak bisa merasakan sentuhan seperti halnya manusia, namun setiap awal bulan Ibrani Chesvan malaikat bisa memasuki tubuh seorang Nephil selama dua minggu untuk merasakan sensasi tersebut. Namun dua minggu tidaklah cukup bagi Patch, maka dia menginginkan tubuh manusia permanen. Sayangnya, di bagian kesimpulan cerita ada beberapa detail yang tidak dijelaskan. Mungkin Becca menyimpannya untuk novel sekuel. Terlepas dari itu, masalah-masalah Nora diselesaikan dengan masuk akal sekaligus tidak terduga. Bahasa penuturan novel sederhana dan tidak berbelit. Penerjemahan novel ke dalam Bahasa Indonesia cukup baik karena kalimatnya mudah dicerna, tidak seperti novel terjemahan lain yang umumnya lebih bertele-tele. 'hush, hush' bahkan memiliki nilai moral tersendiri. Kita belajar dari Nora untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan dalam menilai orang karena kadang seseorang tidak selalu seperti dugaan kita. Secara keseluruhan, novel ini cocok dinikmati remaja maupun dewasa yang menyukai cerita romansa dengan sedikit fantasi thriller.


Sejak awal bab pertama, novel ini sudah mengajak kita berteka-teki. Selalu ada suspense/kejutan dalam setiap babnya, sepertinya tersebar secara merata
(Iva Avianty)


Novel setebal 488 halaman ini mungkin tak tampak eye-catching jika melihat covernya sekilas. Tampak dark dan muram, sekilas membuat kita bisa menerka isinya. Namun saya jadi tertarik setelah membaca sekilas isi ceritanya di back cover. Kisah diawali dengan sebuah peristiwa beberapa abad lalu di Perancis, dimana telah terjadi perjanjian rahasia antara seorang pemuda dengan ‘seorang’ malaikat yang terbuang. Perjanjian ini kemudian menjadi semacam ‘kutukan’ yang tak usang termakan zaman. Hingga takdir menetapkan sebuah momen di Coldwater, Maine. Seorang gadis dengan trauma psikologis, harus berpasangan dalam pelajaran biologi reproduksi manusia dengan seorang cowok yang sejak awal membuatnya takut, namanya Patch. Di sisi lain, Nora adalah seorang cewek yang sulit jatuh cinta. Baginya, hari-hari dengan sahabatnya, Vee, dan ibunya, sudah cukup mengisi kehidupannya. Projek ini ternyata merubahnya. Nora perlahan menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Patch, dan demikian pula sebaliknya. Rasa ketertarikan itu dirasakan Nora sebagai bahaya yang siap mengancamnya. Dia merasa Patch terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya, bahkan hingga ke perasaan paling rahasia sekalipun.Bersama itu, hidupnya kemudian dipenuhi dengan banyak hal misterius. Banyak orang yang tampaknya mencoba mengancamnya. Di saat-saat seperti itu, anehnya, seperti ada keterlibatan Patch. Nora harus menemukan jawaban yang pasti. Dan ini membuat dirinya semakin terseret jauh ke dalam permasalahan yang melibatkan dirinya, Patch, orang-orang baru dalam hidupnya, dan takdir masa lalu tentang Nephil, separuh manusia, separuh malaikat.

Sejak awal bab pertama, novel ini sudah mengajak kita berteka-teki. Selalu ada suspense/kejutan dalam setiap babnya, sepertinya tersebar secara merata. Ini menjadikan kita yang membaca tak ingin meletakkan buku ini hingga selesai membacanya. Alur yang cepat juga menjadi salah satu poin yang menjadikan novel ini menarik. Pergantian antar scene dibuat seolah-olah kita sedang menyaksikan sebuah film bergenre thrilleryang beralur cepat. Satu lagi poin novel ini. Tokoh-tokohnya begitu hidup. Seolah kita sedang mengalami sendiri berbagai kejadian itu, sebagai salah satu tokohnya. Entah itu sebagai Nora, Patch, Vee, Jules, dan Dabria. Dengan kata-katanya sendiri, Becca bahkan sukses membuat kita membayangkan betapa menawan dan memikatnya Patch yang ‘dark but charming’ itu. Hm-hm, ada lagi poin yang lain. Novel ini sexy lho. Maksudnya, jangan membayangkan bahwa di novel ini akan bertaburan kata-kata atau kalimat romantis seperti membaca serial Harlequin. Atau membayangkan adegan-adegan mesra yang terekspos secara vulgar. Becca cukup piawai membungkus adegan-adegan mesra antara Nora dan Patch dengan kata-kata yang tidak seronok dan vulgar.

Jadi, saya sih merekomendasikan novel ini termasuk criteria Young Adults, alias remaja dewasa. Atau dewasa sekalian. Saya juga angkat topi pada penerjemah yang berhasil membawa amanat novel ini kepada pembacanya. Cara penerjemahan yang flowing dan tidak kaku membuat kita nyaman membaca sekaligus memahami buku ini. Amanat tentang kekuatan cinta dan pengorbanan demi yang kita cintai, meskipun harus melepas nyawa misalnya, sampai kepada pembaca dengan mulus.

Friday, November 06, 2009

TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Mala¬chy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara. Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mpncari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney merninta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Wednesday, November 04, 2009


MENCEGAH DUNIA DARI KIAMAT DINI


Sebagai kota besar yang jadi salah satu pusat peradaban manusia modern, Kota New York seperti gula yang mainpu menarik minat semut untuk datang ke daerahnya. Namun kondisi itu ternyata tak hanya menarik masyarakat biasa, juga memicu terjadinya serangkaian ancaman keamanan dari kelompok tertentu yang ditujukan untuk menghancurkan New York.

Kita tentu ingat tragedi 11 Sepetember 2001, di mana pesawat pembajak berhasil merontokkan menara kembar World Trade Center. Tak hanya itu, 14 Agustus 2003, juga "terjadi peristiwa Great Blackout, yang membuat seluruh penghuni New York, terutama Manhattan berada dalam kegelapan sebab aliran listrik putus sementara waktu.

Seperti diketahui, pemerintah setempat saat itu menyebut hal itu akibat masalah teknis. Padahal kegelapan yang diakibatkan putusnya pasokan listrik ke pusat kota bukan karena unsur teknis semata, melainkan akibat sabotase yang dilakukan makhluk jahat yang berusaha ingin menghancurkan kehidupan umat manusia.

Mengapa memilih New York ? Karena kota yang memiliki ikon Patung Liberty tersebut dianggap sebagai pusat peradaban dunia, tempat kendali perekonomian dunia dijalakan. Sehingga jika mampu melumpuhkan New York, pasti dunia dengan sendirinya akan mampu ditakhlukkan. Be-gitu alasan yang dikemukakan makhluk jahat yang mengidentifikasi dirinya dengan sebutan IWTSTW, yang ingin melenyapkan manusia dari muka bumi.

The Malice Box hadir untuk mengungkap sepak terjang IWNW yang berusaha merebut kekuasaan dunia dari tangan manusia. Novel yang berlatarbelakang kehidupan warga negeri Paman Sam masa kini tersebut berupaya menjabarkan bagaimana upaya sistematis sang superjahat, IWNW, dalam tujuannya membunuh manusia melalui agen manusia yang dikuasinya, Adam Hale. Dan satu-satunya orang yang dapat menyelamatkan kehancuran dunia adalah sang terpilih, Robert Reckliss.

Menyelamatkan Bumi

Setahun pasca Great Blackout, Robert Reckliss, seorang wartawan senior GBN, menerima sebuah paket berisi seperangkat tabung logam kemerahan yang asing. Sejak me¬nerima bingkisan yang dikemudian hari disebut Malice Box -Sang Wahana-yang berarti kotak muslihat penuh dendam dari Adam Hale.

Sejak saat itu, Robert tak menyangka hidupnya bakal berubah drastis. Malam hari setelah me¬nerima paket seorang narasumber yang akan diwawancarainya bunuh diri dalam situasi ganjil, yang menimbulkan berbagai spekulasi terkait kematiannya. Esok harinya, seorang teman lama mengungkap keberadaan sebuah bom misterius yang mampu menyapu habis peradaban barat dari muka bumi.

Tanggungjawab untuk menjinakkan bom berada di tangan Robert. Dirinya harus segera memulai penjelajahan menjalani serangkaian ujian yang berlangsung di berbagai sudut Manhattan, New York, untuk mengumpulkan tujuh kunci dalam waktu tujuh hari dengan merasakan tujuh ujian demi mencegah terjadinya ledakan besar dari Sang Wahana yang dilakukan IWNW.

Dalam situasi yang kritis pen-carian Robert guna mengungkap teka-teki dimulai ketika sebuah komputer milik Adam Hale di tempat yang beralamat West Village dihidupkannya sesuai feeling yang mengantarkannya menuju tempat itu. Tak dinyana, ketika online jaringan komputer di depannya langsung menghubungkan Robert dengan pemilik identitas Terri Cllll. Tanpa diduga, keduanya seperti dipertemukan takdir dengan saling mengungkap segala teka-teki yang ada di benak masing-masing. Akhirnya dari komunikasi via dunia maya didapati bahwa kondisi itu sudah dirancang Adam Hale jika sewaktu-waktu dirinya sedang dalam bahaya. Meskipun tak saling mengenal sesuai petunjuk yang didapatkan, keduanya saling bertukar informasi.

Robert Rickless memulai misi menghentikan kekuatan jahat yang sedang mengancam kehidupan manusia di bumi dan menyelamatkan nyawa Adam, dengan dibimbing Terri seorang cenayang misterius, yang buta tetapi mampu memiliki penglihatan batin. Serta di bawah pengawasan khusus seorang Nadir, yang memiliki kekuatan istimewa yang bertugas menjaga dan mengawasi setiap langkah yang ditempuhnya agar tak tersesat mengikuti segala petunjuk guna mencegah IWNW mengaktifkan Sang Wahana.

Dalam misi pencarian itu, Robert yang tetap dalam kebingungannya tak kuasa menolak semua petunjuk Terri walaupun dia sendiri belum paham benar apa yang dilakukannya. Karena dia tak yakin sepenuhnya ada makhluk selain manusia di dunia yang berupaya ingin melenyapkan manusia.

Perjalanan mengungkap tabir itu bukannya berjalan mulus sebab ada sesi di mana Robert diserang pria asing yang wajahnya ditutupi balaklava, yang menginginkan benda yang berhasil didapatkannya. Bukannya takut, yang terjadi malah Robert berhasil keluar dari situasi yang mengancam jiwanya tersebut setelah secara tiba-tiba mendapati dirinya menjadi kuat. Maka dia menyadari bahwa dirinya adalah Sang Unicorn yang memiliki kekuatan cahaya murni, yang harus menghadapi Minotaurus, yang berhasil marasuki tubuh Adam. Setelah berhasil melewati semua tahapan, Robert dengan keberaniannya bertemu dan melihat sendiri sosok pemakan jiwa, IWNW. Sebagai parasit yang merasuki jiwa Adam, yang mereka ingin melenyapkan pusat pengendali perekonomian dunia dengan cara meledakkan pikiran milyaran orang dalam beberapa detik melalui Sang Wahana. Robert harus bertindak cepat dengan bertarung melawan 3 makhluk IWNW yang mengendalikan Adam.

Sunday, November 01, 2009


TAK SALAH MEMELIHARA HARAPAN

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan
(Dian R.Basuki, Koran Tempo, Oktober 2009)

Angela berangkat dari Irlandia ke New York, sebab ia tidak bisa menguasai gerak hormat dengan mcnekuk kaki. "Kau tidak punya bakat. Kau benar-benar tak berguna ! Mengapa tidak pergi saja ke Amerika, di mana ada tempat untuk segala macam ketakbergunaan? Aku akan mengongkosimu," kata ibunya. Maka berangkatlah Angela remaja, yang saat dilahirkan kepalanya muncul di tahun lama dan bagian tubuh sclebihnya muncul di tahun baru membuat orangtuanya bingung mesti dicatat tahun berapa kelahirannya.

Pertemuannya dengan Malachy, pejuang yang mengorbankan satu matanya untuk kemerdekaan Irlandia, dalam sebuah pesta di Brooklyn tak lama selelah Angela turun kapal menyebabkan lutut mereka gemeretar, sebab Angela terpikat oleli si muka suram itu dan Malachy kesepian setelah tiga bulan mcndekam di penjara. Maka, lewat perkawinan yang tergesa, lahirlah si sulung Frankie (McCourt, penulis kisah ini), adiknya Malachy junior, dua anak lelaki kembar, dan si bungsu percmpuan Maigareta yang dipuji rambut ikal hitam dan mata birunya ini mirip ibunya.

Kematian Margareta, yang kelahirannya membuat Malachy berhenti 'minum', membuat keluarga Malachy pulang ke Irlandia. Pulang ke Irlandia memang bukan berarti setiap hari makan roti, minum susu, dan mandi air hangat yang dipanaskan dcrigan batubara.

Ini adalah awal perjalanan dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Kemiskinan yang tanpa belas kasihan dan tak kunjung sirna, penyakit yang terus mengintai. “Aku tidak tahu apa yang akan kau kerjakan, Malachy,” tutur ibu Malachy menyambut kedatangannya.”Keadaan di sini lebih buruk daripada di Amerika. Di sini tidak ada pekerjaan dan, Tuhan Maha Tahu, kami tidak punya tempat untuk enam orang lagi di rumah ini,"

Ujian datang lagi. Kali ini salah satu dari si kembar mati karena sakit: Oliver —kcmatian yang membuat Eugene, saudara kem-barnya, mencari-cari di mana 0llie. Malachy tenggelam lagi dalam minuman keras, rnenghabiskan seluruh uang tunjangan untuk mabuk. "Wajahku basah oleh air matanya, ludahnya, dan ingusnya, dan aku kelaparan," cerita Frankie setiap kali menjumpai ayahnya pulang larut malam.

Di balik kemalangan demi kemalangan toh selalu ada kebaikan yang menghampiri; pcmiliki toko yang memberikan sepotong bawang, merica, untuk diseduh bersama susu; dokter yang menolong tanpa bayaran ; paman yang menawarkan semangkuk sup hangat. Kebaikan-kebaikan kecil di tengah kesukaran hidup yang memberi semangat dan harapan pada Angela dan anak anaknya.

Enam bulan sesudah Ollie pergi, di suatu pagi yang sangat dingin di bulan November, Eugene menyusul. Kata dokter, anak itu meninggal akibat pneumonia. "Tuhan meminta terlalu banyak, amat sangat terlalu banyak," kata dokter yang mengetahui kematian anak-anak Angela. Hingga akhiniya lahir Michael, seorang adik baru bagi Frankie dan Malachy. Lalu, setelah beberapa tahun, lahir lagi seorang adik baru, Alphie. "Alphie yang terakhir. Aku sudah lelah. Habis perkara! Tidak ada anak lagi," kata Angela kepada suaminya yang sukar keluar dari kebiasaannya mabuk.

"Aku lapar. tapi aku harus mencari ayahku dari satu pub ke pub yang lain," tutur Frankie. Di balik kegctiran toh sclalu ada sedikit kegernbiraan dan keberuntungan. Frankie scnang bisa memberi ibunya enam penny yang ia peroleh karena tak sengaja Tuan Timoney meminta tolong membacakan koran.

Dari sudut pandangnya, Frank McCourt (Frankie) mewamai cerita tentang kehidupan masa kecilnya yang suram dengan rasa humor yang getir. Selama hujan masih sering turun, keluarga Malachy tinggal di lantai atas agar tetdp hangat selama musim dingin. "Dad berkata, ini seperti liburan ke negara yang hangat, seperti Italia. Sejak saat ini, itulah sebutan kami untuk lantai atas: Italia." Barangkali itulah salah satu yang membuatnya sanggup hidup hingga usia tua dan menuliskan memoar ini.

Ini memang cerita tentang bagaimana bertahan hidup dan mengalahkan segala rintangan. Ini memang cerita perihal bagaimana senantiasa menyalakan api harapan di tengah himpitan kemiskinan yang tak kenal belas kasihan. Bahkan, ketika Angela kerap kali menghadapi suaminya menghabiskan upah mingguannya di kedai minuman, ia masih memelihara harapan. Semacarn adonan penderitaan, kekesalan, kekecewaan. tapi juga kegembiraan dan rasa humor. Sebuah memoar yang hidup.

Ketika suaminya memperoleh pekerjaan di pabrik amunisi di Inggris, yang dibayangkan Angela adalah "Kami semua bisa makan masing-masing satu telur pada hari Minggu pagi." Bahkan, Frankie rnenyusun rencana untuk telurnya: ketuk-ketuk bagian atasnya, pelan-pelan pecahkan kulitnya, angkat dengan scndok, masukkan sedikit mentega ke dalam kuning telur, garam, pelan-pelan, masukkan sendok, ambil telur sesendok, tambah garam, tambag, mentega, masukkan ke mulut.”Oh, Tuhan di surga.” Frankie membayangkan kenikmatan itu



Thursday, September 03, 2009


LOVE IN A TORN LAND

"KAU ada dalam setiap halaman yang kubaca. Dalam setiap kata yang kutulis. Semua burung menyenandungkan namamu. Aku tidak berarti tanpa kehadiranmu." Ini kisah cinta yang luar biasa. Penulis bestseller Trilogy Princess, Jean P. Sasson, menceritakan petualangan pribadi Joanna tentang ketakutan dan ketabahan semenjak masa kecilnya di Baghdad dan hidup sebagai seorang pejuang kemerdekaan selama Perang Iran-Irak. ***


THE FIFTH SALLY : SALLY DAN EMPAT TEMAN RAHASIA

Kisah Sally Porter dengan lima kepribadian. Sally adalah seorang janda pemurung, penyendiri, dan membosankan. Setiap kali Sally merasa sakit kepala dan tak sadarkan diri, saat itulah keempat kepribadian yang lain silih berganti mengambil alih perannya. la akan jadi Bella si penggila seks yang berbakat menyanyi dan menari jika berhadapan dengan lelaki. la akan jadi Nola si seniman intelek tapi dingin jika memiliki masalah intelektualitas. la jadi Derry si pengkhayal baik hati, tomboi, dan ceria, jika harus berhadapan dengan orang banyak. Dan ia jadi Jinx si maniak penuh kebencian, brutal, dan ganas, jika berhadapan dengan lelaki bajingan

Monday, August 24, 2009


BENCANA JAWA 2011; KONSPIRASI INTERNASIONAL MENGHANCURKAN JAWA

Sebagai satu kesatuan, Bencana Jawa 2011 mengemukakan ide yang cukup jarang di tengah menghamburnya fiksi dengan topik nyaris setali tiga uang di perbukuan Indonesia.
(Rini Nurul Badariah, Wisata Buku.Com, Agustus 2009)

Bahan baku novel bernapaskan konspirasi ini adalah ramalan Jayabaya, bahwa Pulau Jawa akan tenggelam dan terbelah menjadi dua. Waktunya diperkirakan jatuh pada tahun 2011. Nuansa mistis tidak dibiarkan berlama-lama menetap dalam perjalanan cerita, sebab yang menjadi sorotan adalah aspek politik. Ditengarai, jaringan pemasok Israel menanam detonator yang dapat disamarkan sebagai bencana alam kala meledak. Perusahaan-perusahaan pengeboran mempermudah kedok mereka, salah satunya Damai Bersaudara Internasional tempat Honggo Kim bekerja. Dalam sebuah kecelakaan di lapangan, sejumlah korban tewas kecuali Honggo Kim sendiri. Hanya saja, bakteri-bakteri di sekitar lokasi menyusup ke tubuhnya sehingga DNA lelaki muda ini mengalami perubahan.

Penulis memaparkan unsur geologi yang pekat disajikan dalam novelnya secara lancar, mengindikasikan bahwa ia memiliki pengetahuan luas di bidang itu. Menariknya, cerita dihubungkan dengan isu-isu akurat semisal menyemburnya lumpur di Jawa Timur dan gas beracun di sumur penduduk. Honggo Kim, yang semula hanya berkonsentrasi pada tugas dan membahagiakan keluarganya, menjadi aset buruan sejumlah jaringan untuk mensukseskan misi masing-masing. Ia dilanda kebingungan guna menentukan pilihan terbaik, sementara ibu, adik dan pembantunya yang telah bertahun-tahun mengabdi terancam bahaya.

Sebagai satu kesatuan, Bencana Jawa 2011 mengemukakan ide yang cukup jarang di tengah menghamburnya fiksi dengan topik nyaris setali tiga uang di perbukuan Indonesia. Penuturan yang kental bernuansa non fiksi tidak mengganggu kenikmatan baca, namun akan lebih paripurna jika kesalahan ejaan dan tanda baca dibenahi lebih saksama. Di samping itu, penjelasan beberapa bagian terlalu rinci dan diulang-ulang sehingga pembaca tidak leluasa menerka. Ada kesan bab satu dengan lainnya kurang terkait erat karena lagi-lagi pembaca disuguhi deskripsi fisik dan pemilihan nama Honggo Kim. Akan semakin rupawan apabila paragraf-paragraf yang mengusik kejutan dipangkas saja. Sudut pandang orang ketiga pun menjadi kabur karena sebutan beberapa karakter, antara lain Pak Richard dan Pak Robby.

Walaupun demikian, novel Bencana Jawa 2011 (yang sempat menimbulkan dugaan sebagai karya non fiksi) mampu mencuatkan greget dari pemikiran-pemikiran tertentu. Sebut saja dugaan bahwa tsunami dan gempa Aceh 2004 disebabkan oleh bom termonuklir. Satu pertanyaan yang masih melayang-layang: siapakah Pak Setiawan yang menghadiri seminar di awal kisah? (rini)

Wednesday, August 12, 2009

THE FIFTH SALLY

SALLY Porter — seorang yang pemurung, penyendiri, dan membosankan — mendapati empat orang tengah berada di dalam dirinya. Setiap kali ia merasa sakit kepala dan tidak sadarkan diri, saat itulah keempat orang tadi silih berganti mengambil alih. la akan jadi Bella si penggila seks yang berbakat menyanyi dan menari, Nola seniman intelek namun dingin; Deny si pengkhayal tomboi di ceria, serta Jinx si maniak penuh kebencian. ***

Monday, August 03, 2009



KISAH KELAM PEREMPUAN ARAB

Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif
(Erick Purnama Putra, Koran Jakarta, Agustus 2009)


Kehidupan masyarakat, terutama perempuan, di Arab Saudi selalu menarik untiik dikupas, sebab keberadaannya terjepit dalam aturan budaya tradisional ketat yang membuatnya terkungkung. Padahal di saat bersamaan, laju kemodernan hidup melaju kencang, membawa perubahan di seluruh belahan dunia. Maka, fenomena itu pasti sangat menarik untuk dikuak agar masyarakat dunia tahu apa yang terjadi terkait realitas kehidupan perempuan di negara tempat Ka'bah berada.

Buku The Lost Arabian Women mengungkap perjalanan Qanta A Ahmed, seorang muslimah Pakistan yang sempat kuliah di Inggris dan Amerika Serikat (AS), yang mengabdikan diri bekerja di tanah Arab. Pengalaman berinteraksinya hidup di Arab Saudi membuat penulis menjadi lebih paham tentang kisah kelam nasib perempuan di sana.

Gambaran yang ditangkapnya beserta pengalamannya selama setahun kunjungannya di Arab Saudi yang dianggap sebagai dunia rumit, yang memegang tradisi berbeda dengan negara Barat, telah menyadarkan penulis bahwa negara kerajaan itu menyimpan fenomena memuakkan.

Pasalnya, banyak kejadian aneh yang menghambat aktivitas rakyat (perempuan) akibat aturan tradisional yang mengekang. Qanta Ahmed yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit King Fahad National Guard Hospital di Riyadh, yang diperuntukkan bagi kalangan militer yang mengabdi pada Kerajaan Saudi Arabia, menjelaskan bahwa budaya lokal yang dianut masyarakat Arab Saudi kadang malah merepotkan dan tak masuk akal serta menempatkan perempuan berada dalam posisi tertekan.

Perempuan tak boleh pergi tanpa memakai abbayah (cadar). Menurut penulis, perempuan di Arab Saudi yang menganut paham Wahabi sangat keras dalam menerjemahkan pakaian sebagai penutup aurat. Padahal dari perjalanan hidupnya yang besar di Pakistan dan pernah singgah di Afganistan dan Iran, aturannya tak seekstrem di Arab Saudi. Bahkan, dalam rumah, meski tak ada laki-laki pun, perempuan yang diidentiflkasi dalam kelompok superortodoks tersebut tak mau melepaskan cadar yang menutupi tubuhnya. Tak heran, pada peristiwa melahirkan, menikah, dan meninggal dunia pun abbayah yang dipakai tak
akan dilepas.

Pada bagian lain dikisahkan tentang penulis yang memiliki teman bernama Fatima yang memutuskan bercerai akibat suaminya menikah lagi. Tak ingin dimadu, akhirnya Fatima menalak tiga suaminya yang dinilai melakukan perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Anehnya, ketika menceritakan rencana perjalanan hidupnya ke depan kepada Qanta Ahmed, Fatima ingin menikah lagi dengan suami yang sudah beristri.

Buku yang terdiri 38 cerita hasil pengalaman langsung Qanita Ahmed selama bekerja di negeri kerajaan monarki tersebut membuka fakta baru yang selama ini tertutupi, terutama terkait kehidupan perempuan yang selalu terkekang beragam aturan diskriminatif. Para wanita di tanah Saudi, tak terkecuali non-Islam, terkena aturan kaku dengan memakai penutup aurat. *


Peresensi adalah Erik Purnama
Putra, aktivis Pers Koran Kampus
Bestari Universitas Muhammadiyah
Malang

Tuesday, July 07, 2009


THE LOST ARABIAN WOMEN

Qanta, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Inggris dan Amerika, mengalami gegar budaya yang hebat saat hijrah ke Arab Saudi. Perempuan berdarah Pakistan ini mengisahkan pengalamannya menjadi dokter di King Fahd National Guard Hospital sepanjang dua tahun.

Ada lebih dari 30 cerita pengalaman Qanta, dari mengoperasi perempuan sesepuh suku Badui yang mesti tetap bercadar saat dibedah hingga saat ia berurusan dengan polisi agama Mutawaeen karena makan dalam ruangan bercampur antara lelaki dan perempuan. Semua pengalaman itu membuat Qanta heran mengapa peraturan agama di negara itu justru membuat perempuan di Saudi terkekang dan tertindas. "Meskipun aku seorang muslim, aku merasa seperti orang asing di kerajaan ini," tulisnya. Qanta juga bercerita tentang tumbuhnya modernisasi di negeri itu. la menemui perempuan-perempuan yang berupaya mendobrak kungkungan dan segelintir suami yang mendukung ide-ide mereka serta mengupayakan perubahan lewat anak-anak mereka.

Ini adalah buku kelima terbitan Ufuk yang mengangkat kisah nyata perempuan di Arab Saudi. Sebelumnya, penerbit ini telah merilis buku trilogi princess dan The Girls Of Riyadh

Monday, June 01, 2009





MENYELAMI HOROR SIHIR MESIR

Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan. Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya
(Fenny Aprilia, Koran Jakarta, Mei 2009)


Kalau selama ini, Mesir dikenai sebagai negeri yang memiliki rupa alam nan eksotis dan dibalut dengan seni dari peradaban tertua di dunia, maka kita tidak akan mendapatkan hal itu ketika membaca halaman lepas halaman karya Robert Irwin ini. The Arabian Nightmare menyuguhkan hamparan Mesir yang penuh sihir. Begitu banyak kejadian mistis dan misterius, ditambah lagi dengan kisah peran dukun dan pengaruh setan membuat karya yang pertama kali terbit di tahun 1983 ini benar-benar menarik untuk dibaca.

Balian, tokoh utama dalam novel ini, awalnya memiliki dua tujuan ketika menginjakkan kaki di Kairo. Pemerintah Francis menugaskannya untuk memata-matai kekuatan militer Kesultanan Kairo. Kedua, Balian datang ke kota itu untuk menunaikan sumpahnya, melakukan ziarah ke St Catherine di Bukit Sinai. Tetapi, Balian malah menderita penyakit misterius.

Alih-alih menceritakan sepak terjang Balian dalam menuntaskan niatnya di Mesir, novel ini mengajak pembaca untuk menyelami susah-payah yang dialaminya dalam mengobati penyakit misterius tersebut. Balian meninggalkan caravanserai (tenda yang didirikan oleh para peziarah Nasrani dari Eropa) untuk beroleh kesembuhan. Balian terseok-seok di gang-gang kota Kairo yang kumuh, dihantui oleh gosip tentang kebangkitan ' kembali seorang gadis pemotong leher bernama Farida yang beredar di masyarakat Mesir dan dikejar-kejar oleh sejumlah makhluk halus. Usaha Balian untuk sembuh itu dilewatinya dengan tidak tidur sama sekali.

Keunikan dari karya Irwin ini ialah susunan tiap bab yang seolah tidak saling berkait dan berdiri dengan kompleksitasnya sendiri, namun member ikan efek khas yang dirasakan oleh pembaca. Irwin mendedahkan eksistensi dari Alam al-Mithal (kepercayaan tentang mimpi di masyarakat Arab) dengan detail yang mengagumkan.

Tetapi, kita juga bisa memaknai karya Irwin ini sebagai prosa yang membuka tabir dari sebuah kegiatan bernama tidur yang ternyata sangat penting bagi manusia. Hal ini terlihat dari usaha Balian yang tidak sekadar menginginkan kesembuhan dari penyakitnya, namun ia pun mendambakan lagi tidur yang nikmat seperti sebelumnya.

Maka, Balian—yang diliputi keraguan sekaligus takut akan kematian—mendatangi Father of Cats, seorang ahli tidur yang memiliki tempat penyembuhan bertajuk The House of Sleeping. Tapi, ia malah melihat gambaran yang menjijikkan dan mistis. Irwin dengan sangat lincah membawa pembaca untuk menduga sosok Father of Cats terkait dengan "penyakit mimpi buruk" yang menjadi semacam wabah di Kairo.

Kisah Balian menyembuhkan penyakitnya dibalut pula dengan cerita seputar pemberontakan terhadap penguasa dan kekejaman ilmu hitam di Kairo. Irwin memang sangat brilian dalam menating kisah tentang Mesir dari perspektif yang lain dari kebanyakan.

Saya sendiri merasa terbuai oleh novel yang disesaki hawa horor dan dipenuhi intrik politik itu, hingga saya tidak sanggup meletakkan buku ini sebelum tuntas membacanya. Mungkinkah Anda juga bisa memperoleh perasaan yang sama dengan saya? Baca saja. m
.


SAFARI

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail
(Nyimas Gandasari, Annida, Mei 2009)

Mau cari buku panduan traveling yang nggak ngebosenin? Buku karya Muhammad Najib yang diangkat dari cerita bersambung di harian Republika ini mungkin jawabannya. Loh7 kok cerita? Yap, karena informasi mengenai berbagai tempat di dunia yang diisajikan dalam buku ini berbalut fiksi yang penuh konflik yang menarik dan menegangkan. Mudahnya, kita sebut saja buku ini sebagai journey fiction.

Safari bertutur tentang Jamal bin Mujahid alias Amal, mahasiswa Indonesia peraih beasiswa dari Aachen University of Technology di Jerman. Kehidupan dan pengalamannya di negeri orang membawanya pada pertemuan dengan sesama aktivis dan mahasiswa Muslim dari berbagai Negara. Dari sinilah petualangannya dimulai. Petualang menegakkan kebenaran dan keadilan yang menjadi nafas hidupnya.

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail. Lebih dari itu, buku yang diangkat dari kisah nyata ini juga memuat berbagai informasi situasi politik, sosial, dan budaya yang pernah terjadi di sejumlah negara tersebut. Pokoknya dijamin nyesel banget kalau sampai terlewatkan! [nyimas]


THE PRINCESS, SULTANA’S CIRCLE


The Princess, Sultana's Circle, bagian terakhir dari trilogi Princess ini menyajikan cerita yang menegangkan. Sultana, sang tokoh utarna terus berjuang mempertajam sensitivitas melihat ketidakadilan konsep paternalistik sekaligus feodalisme Arab yang menempatkan derajat pejempuan di titik nadir terendah. Islam sebagai agama rahmatan lilalamin (tentunya bagi laki-laki dan perempuan) diinterpretasikan dengan sangat buruk oleh lelaki Arab yang menggenggam perempuan dengan tahta dan harta.

Parahnya, salah satu dari putri kerajaan Arab ini berhadapan dengan lingkaran kerajaan itu sendiri ketika meneriakan perlawanan. Termasuk ketika kakak laki-lakinya, Faruq mempersembahkan Munira, anak kandungnya untuk dipersunting lelaki bengal yang mempertuhankan nafsu. Sultana dan saudara perempuannya tak bisa berbuat apa-apa, pun ketika Faddel sang sepupu diketahui menyimpan banyak perempuan di harem pribadinya.

Perlawananan kolektif ternyata lebih realistis daripada diam menyesali takdir. So, kisah lebih lengkap novel yang diadaptasi dari kisah nyata ini sepertinya memang harus kamu baca sendiri. [Elzam]

Tuesday, April 21, 2009



PETUALANGAN MENAPAK PERADABAN ISLAM


Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu.
(Republika, April 2009)


Safari merupakan novel yang mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa Indonesia melanglang buana: Eropa, Afrika, Australia, Amerika, dan Asia. Di setiap negara, tokoh utamanya, Jamal bin Mujahid, tak hanya mengunjungi tempat wisata, melainkan pula tempat-tempat bersejarah, masjid, serta bertemu aktivis Muslim. Setiap lokasi yang diknjungi digambarkan secara detail seakan-akan pembaca dilibatkan turut serta melanglang buana.

Kisah yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Republika ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Sarat il¬mu pengetahuan dan nilai-nilai sejarah. Di sisi lain, kisah ini mengupas kenyataan gesekan politik yang terjadi antara kelompok Barat dan kawasan Timur Tengah. Barat yang selalu engagungkan hak asasi manusia, realitanya nothing. Diskriminasi terhadap umat Islam terang-benderang dilakukan kelompok Barat. Hal sederhana, larangan berkerudung bagi pelajar masih berlaku di beberapa negera Eropa. Cap Islam teroris terus didengungkan Barat.

Kisah ini diawali kebahagiaan Jamal meraih beasiswa melanjutkan S2 di universitas ternama di Jerman. Pria yang tinggal di Pulau Dewata ini kuliah di Aachen University of Technology, kampus bonafide tempat mantan presiden RI, BJ Habibie, menimba ilmu pesawat terbang. Sebelum berangkat, Amal mendapat warisan dari ayahnya yang sedang dipenjara di Grobokan, Denpasar: Sebuah Alquran kecil. "Bacalah selalu! Dan jangan tinggalkan shalat. Insya Allah kau akan terjaga," pesan ayah Jamal.

Ayah Jamal seorang aktivis Mujahidin yang ikut angkat senjata ke Afghanistan melawan komunis Soviet. Ketika terjadi kasus.bom Bali, ayahnya dianggap terlibat, akhirnya dipenjara. Kebutuhan hidup keluarga ditopang ibunya membuka toko roti.

Kesibukan utama Jamal adalah kuliah. Kegiatan lainnya aktif mengikuti kajian ilmiah di kampus. Kegiatan ini membuatnya semakin berwawasan dan menambah teman Muslim dari berbagai negara. Sedangkan di luar kampus, lulusan ITB ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan Kedubes RI di Berlin. Kesibukannya bertambah ketika dia dipilih sebagai ketua umum PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jerman. Semua kegiatan ini menjadi gerbang terbuka bagi Jamal menyambangi berbagai negara di dunia.

Perjalanan dimulai dari Aachen, kota tempatnya kuliah. Kota lain di Jerman yang dikunjungi adalah Berlin sebagai pusat kepengurusan PPI. Tak hanya tempat bersejarah seperti Tembok Ber¬lin yang didatangi, Jamal pun sangat tertarik berkunjung ke Islamic Center dan masjid-masjid di kota tersebut. Di antaranya, Masjid Sehitlik yang merupakan masjid terbesar di Berlin. Masjid itu dikenal sebagai masjid Turki, karena pengelolanya komunitas Turki. Ada pula masjid lain yang dikelola komunitas Arab dan Pakistan. Dari Jerman, perjalanan dilanjutjutkan ke Palestina. Kesempatan berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, karena kedekatannya dengan Azam habat karibnya di kampus. Azam aktivis pengajian di kampus, asli dari Palestina. Azam menawarkan,kapan Amal bisa pergi ke Palestina. Modalnya hanya tiket pesa¬wat, sedangkan selama di Negeri Yasser Arafat, Azam yang akan menanggung akomodasinya.

Di kampus, Azam sangat antusias menceritakan bagaimana perlawanan masyakat Palestina menghadapi Zionis Yahudi. "Maaf jangan gunakan istilah bom bunuh diri. Itu istilah yang diciptakan musuh. Gunakan istilah bom syahid," tegas Azam saat di kampus. Rangkaian cerita Azam terekam kuat di pi-kiran Jamal. Saat berkunjung ke Palestina, Jamal bagaikan menapak tilas membuktikan semua penjelasan Azam.

Menuju Palestina Jamal melalui Amman, Yordania, lalu melewati Israel. Pemeriksaan sangat ketat lengkap dengan tentengan senjata. Perbedaan kota di Palestina dengan di Israel terlalu jomplang. Yerusalem periuh dengan bangunan pencakar langit, tidak demikian dengan Palestina. Orang Palestina mis-kin, sebaliknya Israel kaya. Pemerintah Israel mengembangkan politik apartheid mendiskriminasi etnis Arab.

Khalid yang menjadi guide mengajak Jamal naengunjungi tempat bersejarah 'milik' tiga agama di dunia. Masjid Al-Aqsha riwayat perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sebelah barat daya masjid menempel dinding kapur tempat pemujaan Yahudi yang dikenal Tembok Ratapan. Bagian selatan Yerusalem adalah kota Betlehem yang diyakini tempat lahir Nabi Isa. "Karena itu para peziarah beragama Yahudi, Nasrani, mauipun Islam menganggap tempat itu sebagai tempat suci mereka," papar Khalid. Kembali ke kampus, Azam menegaskan kembali, bagaimana perlakuan Zionis Israel terhadap umat Islam. Negera yang didukung Barat itu tidak konsisten menegakkan HAM. Bahkan mereka sendiri terang-terangan melanggar HAM.

Posisi sebagai ketua PPI Jerman mengantarkan Jamal berangklat ke London. Tujuannya, menghadiri pembentukan PPI se-Eropa yang diikuti perwakilan mahasiswa di negara-negara Eropa. Jamal beruntung terpilih sebagai ketuanya. Acara PPI tujuan utama, sampingannya mengunjungi kawasan bersejarah di London. Dia pun mengunjungi komunitas pemuda Muslim di Birmingham. Menurut Gulam, ketua Pemuda Muslim tersebut, masalah yang dihadapi umat Islam di London, antara lain pendidikan, rumah ibadah, dan makanan halal.

Penelusuran Jamal berlanjut ke Turki, Mesir, Australia, Amerika, bahkan sempat mampir kembali ke Bali, tempat tinggalnya. Di negara-negara tersebut pun banyak pengalaman berharga yang diperolehnya. Apa sajakah? Lanjutkan membaca di buku setebal 346 halaman ini.








Bab akhir buku ini diberi judul 'Air Mata Perpjsahan'. Jamal harus berpisah dengan Azam yang putus kuliah di tengah jalan. Langkah ini ditempuh Azam karena ada tugas negara. Namun, Azam tak mau menjelaskan secara rinci. Rasa penasaran itu terjawab ketika Jamal menyaksikan Azam di layar kaca. Ternyata, di Palestina, Azam bukan orang sembarang. Siapakah Azam?

Ditegaskan kembali bahwa novel ini syarat dengan ilmu pengetahuan dan nilai sejarah. Dipastikan penulis sendirilah yang telah mengarungi negara-negara tersebut. Pengalaman penulis menginjakkan kaki di 30 negara di lima benua memperkaya novel ini. Dia menjelaskan, sejarah peninggalan Nabi-nabi masih bertebaran di negara yang dikunjunginya. Penulis pun mengingatkan kembali betapa hebatnya kejayaan Islam saat menguasai Eropa, Afrika, hingga Asia. Kisah tokoh-tokoh Islam di negara yang dikunjunginya dikupas pula dalam buku ini. Jika melihat dari kandungan sejarah, siapa pun layak membaca novel yang diterbitkan Penerbit Ufuk Press, Jakarta, itu. • vie




Monday, April 06, 2009

KISAH MISTERIUS YANG MENGGUNCANG ARAB
Yayat Cipasang
INILAH.COM, Jakarta - Sesuatu yang misterius terjadi di sebuah negeri di Timur Tengah. Misteri ini semula tidak dipercaya, namun tidak memakan waktu lama, menjadi buah bibir banyak orang.

Ia tidak hanya mengguncang penghuni dusun, tapi juga anggota kerajaan, dan para turis asal Inggris, Italia, dan Amerika. Seperti apa misteri itu? Bagaimana para tokoh utamanya keluar dari kemelut misteri itu? Anda mesti membaca hingga akhir untuk mengetahui jawabannya.

Buku yang ditulis orang 'orang luar' ini mendapat pujian banyak media asing. The Observer misalnya menulis, “Bentuk cerita pintar ini layak dijadikan sebagai suguhan cerita setaraf kisah Seribu Satu Malam. Setiap adegan selalu bersinggungan dan berhubungan erat satu sama lainnya. Hasilnya adalah novel unik dan menantang ini.”

Sedangkan The Rough Guide to Egypt menyebut novel ini, "Fantasi paranoid yang brilian. Gabungan antara realita dan kungkungan ilusi menerobos masuk seperti opium dan bergerak menembus rongga otak."

Monday, March 23, 2009


KISAH PASANGAN DI MABUK ASMARA

Cerita yang lugas dengan mengambil kejadian yang benar terjadi di sekitar kita membuat buku ini menjadi menarik dan dapat dibilang bukan fiksi. (Erick Purnama Putra, Malang Post, Maret 2009)

Cinta itu buta. Kalimat itu sangat pas untuk menggambarkan cerita tokoh utama dalam novel Rosid & Delia karya Ben Sohib. Isi buku ini secara keseluruhan menceritakan konflik individu yang terjadi. dalam sebuah keluarga keturunan Arab yang memiliki anak bemama Rosid, yang mencintai warga pribumi (Betawi) yang berlainan agama (Kristen).

Latar belakang kehidupan masyarakat Arab-Betawi yang bertempat di Ibu Kota dengan segala aktivitasnya membuat setting ceritanya menjadi dinamis, tetapi menimbulkan dilematik bagi pembaca.

Cerita yang lugas dengan mengambil kejadian yang benar terjadi di sekitar kita membuat buku ini menjadi menarik dan dapat dibilang bukan fiksi. Mengingat seluruh jalannya cerita dan content yang terkandung di dalamnya menampilkan realita kehidupan sehairi-hari masyarakat Indonesia.

Kisah bermula ketika Rosid berani menentang babenya, Mansur bin Salim al-Gibran, karena tidak diizinkan menjalin hubungan dengan kekasihnya yang cantik, Delia. Rosid yang menganggap ayahnya kolot dan tidak mempunyai cara pandang anak muda menuduh bahwa babenya hanya ingin menang sendiri tanpa pernah mau mendengar keluh kesah anaknya.

Mansur yang tahu Rosid sudah punya pacar makin mendidih otaknya dan bereaksi dengan segala cara untuk memisahkan anaknya dari wanita yang tak di sukainya. Rosid yang kritis meskipun tak menempuh pendidikan tinggi terus berusaha meyakinkan kedua orang-tuanya bahwa Delia adalah jodohnya dan tentu akan dinikahinya kelak. Dan di lain pihak Mansur al-Gibran makin mempercepat memisahkan Rosid dari Delia dan berusaha menjodohkan anaknya dengan gadis pilihannya. Itu dilakukan Mansur karena dia tidak ingin anaknya lengket dengan wanita yang menurutnya tidak sesuai dengan penilaiannya.

Pasalnya, setelah Mansur mengetahui bahwa anaknya punya pacar yang beda agama, dia merasa gusar dan menolak mentah-mentah pilihan anaknya yang ingin menikahi putri yang tak seagama dengan klannya.

Mansur Bin Salim yang mewarisi ajaran nenek moyangnya tidak ingin anaknya tersesat dan keluar dari jalan kebenaran akibat kecantol gadis manis yang berbeda kepercayaan terhadap Sang Pencipta dengan agama yang dianutnya. Sehingga membuat dirinya merasa sudah menjadi kewajibannya untuk 'menyelamatkan' anaknya dari cengkeraman 'setan perempuan' cantik.'Sebab dalam tradisi leluhur keluarganya pernikahan beda agama sangat dilarang.

Persoalan rumit itu akhirnya membuat suasana keluarga Mansur al-Gibran memanas. Kondisi itu juga membawa Rosid pada suatu pilihan dilematis. Pasalnya pernikahan beda agama pasti menimbulkan dampak serius dan itu bukannya tak disadari Rosid. Tetapi dia siap menanggung segala konsekuensi logis yang harus dihadapinya terutama dari babenya. Yang penting dirinya bisa menikahi Delia sang pujaan hatinya.

Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu melakukan lobi khusus kepada orangtua masing-masing dengan tujuan agar hubungan kasih sayang yang sudah dipertahankannya bisa terus berlanjut. Karena mereka yakin akan kebenaran tentang jodoh di tangan Tuhan. Sehingga tidak bakal ada yang bisa memisahkan ketentuan Tuhan. Yang berarti keduanya pasti tetap menikah meskipun tanpa restu orangtua.

Darah muda yang menyelimuti Rosid membuatnya berani menerjang badai penolakan dari keluarganya dan 'mengultimatum' orang tuanya agar merestui hubungan keduanya. Bahkan, Delia, si cewek manis berani beradu argumen dengan ayahnya ketika dia mengutarakan kisah cintanya kepada ayahnya yang juga menolak hubungan dua insan muda tersebut. Dan bisa ditebak kemarahan ayah Delia membuncah dan dia harus menerima kenyataan pahit, serta harus menabahkan dirinya sendiri supaya tetap tegar karena orangtuanya melarang untuk menikah.

Pada waktu bersamaan, Mansur meminta bantuan saudaranya, Rodiyah, untuk memisahkan anaknya dengan pacarnya yang berlainan agama. Rodiyah dengan segala cara akhirnya membuat taktik supaya Rosid bisa lepas dari Delia. Rodiyah melakukan perbuatan ekstrem hingga minta bantuan paranormal supaya Rosid, meminjam istilah sang babe, bisa 'disembuhkan' Rosid dari gangguan setan cantik. Karena Mansur menganggap hubungan anaknya itu sebuah kiamat yang harus dihindari demi mencegah kerusakan lebih parali dalam silsilah keluarganya jika sampai menjalin hubungan dan menikah dengan Delia yang beda agama.

Setelah Rodiyah berhasil memperoleh rahasia dari paranormal. Mansur melakukan segala upaya sesuai permintaan Rodiyah atas saran 'orang pintar' yang diternuinya.

Di samping menggunakan cara instans, cara nyata juga dilakukan Mansur, seperti mengenalkan Rosid pada Nabila, anak saudara jauhnya yang masih satu marga di bawah naungan al-Gibran. Semua itu dilakukannya demi memisahkan hubungan pasangan muda yang beda agama dan suku bangsa tersebut dan Rosid bisa melupakan Delia.

Setelah lelah menunggu hasil kerja kerasnya, akhirnya Mansur mendapati kabar bahwa anaknya akan putus dengan Delia. Bukan main kepalang senang hatinya. Saat itu juga dia merasa bersyukur bahwa tawakalnya tidak sia-sia

Namun keadaan berubah sehari setelahnya. Kegembiraan hatinya yang sudah senang melihat hubungan anaknyadi ujung tanduk dengan Delia lenyap seketika saat keduanya terlintas bersama di atas perahu karet yang datang menolong keluarganya saat rumahnya terkena musibah banjir yang menggenangi seluruh wilayah Jakarta.

Sejak saat itu, kedua insan muda itu makin lengket dan tidak bisa dpisahkan. Hal itu makin membuat Mansur stress berat dan tak bisa habis pikir dengan keadan tersebut. Apalagi secara tersirat Mansur mendapati Muzna, istrinya dengan Rawina, kakaknya Rosid yang sudah menikah ikut setuju dengan hubungan mereka dengan alasan Delia memiliki hati baik.

Walaupun novel ini dituturkan dengan gaya sederhana, namun benturan nilai dan cara pandang ayah dan anak yang mempunyai karakter yang sama sama ngotot dan ingin pendapatnya di kedepankan membuat novel ini menjadi menghibur. Dan secara tak langsung membuat pembaca (remaja) menjadi tersindir jika merasa bahwa dirinya selama ini melakukan hal sama kepada orang tuanya.

Di samping itu, Ben Sohib seolah ingin mengajak kita untuk merefleksi dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita selama ini tidak melakukan perbuatan yang sama dengan karakter utama dalam novel ketika memutuskan sesuatu tidak secara bijak? Karena kadang tanpa pembaca sadari bahwa dalam kehidupan nyata kita sering menuruti keinginan dan melakukan pembenaran untuk memperkuat argument supaya yang kita lakukan itu tampak benar.

ERICK PURNAMA PUTRA
Mahasiswa Psikologi dan pegiat pers kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang
erikeyikumm@yahoo.co.id
Gedung Student Centre Lt.1
Bestari Kampus III UMM, Jl.Raya Tlogomas No.246 Malang

Wednesday, January 28, 2009


MENGANGKAT BUDAYA BETAWI
DALAM KHASANAH SASTRA INDONESIA

Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia
(Investor Daily, Januari 2009)


Novel-novel yang melibatkan aspek sosiologi atau realitas masyarakat tampaknya kini makin digemari. Lihat saja, Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata terjual lebih dari satu juta eksemplar. Novel ini mengangkat realitas masyarakat dan budaya Pulau Belitung. Begitu pula novel Ayat-Ayat Cinta yang mengangkat realitas mahasiswa Indonesia di Mesir, terjual 450.000 eksemplar.

Kendati tidak sefenomenal dua novel tersebut, novel Da Peci Code mencuri perhatian pasar novel Indonesia. Novel karangan Ben Sohib itu terjual 30.000 eksemplar sejak dirilis pada September 2006. "Saya bersyukur dengan penjualan sebesar itu," kata Ben Sohib kepada Investor Dailyusai peluncuran sekuel kedua novel ini Rosyid dan Delia, di Jakarta, Jumat (19/12).

Sepintas, novel ini 'mendompleng' ketenaran novel Da Vinci Code, karangan penulis Amerika Serikat Dan Brown Tapi isinya beda sekali. Da Vinci Code mengisahkan misteri legenda cawan suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Sementara itu, Da Peci Code mengisahkan perseteruan antara ayah (Mansur) dan anaknya (Rosyid). Di novel best seller itu, Rosyid menjungkalkan tradisi memakai peci putih di masyarakat Betawi-Arab. Permasalahan itu dihadirkan Ben dengan cerita yang lucu dan menghibur namun kritis.

Pengamat budaya Betawi Hikmat Darmawan mengacungkan jempol buat Ben Sohib. Menurutnya, Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia. "Ini poin yang menarik karena Betawi adalah sebuah budaya yang dinamis," kata Hikmat.

Ben, lanjutnya, juga mencatat pergulatan yang terjadi antara Betawi tradisional dan modern. Bahkan, beberapa pergulatan yang diangkatnya itu termasuk masalah yang gawat dan sensitif.
“Persoalan preci, itu masalah gawat. Belum lagi di buku kedua dia mengangkat pernikahan beda agama,” ujar Hikmat.

Ya, di buku kedua, Rosid&Delia, Ben kembali menghadirkan rosyid yang kritis bersama pacarnya, Delia. Keduanya hadir dengan persoalan yang lebih berat: perkawinan beda agama.

"Generasi muda Betawi-Arab kini berinteraksi dengan beragam budaya dan agama, bukan tidak mungkin perkawinan beda agama terjadi kata Ben yang menyilakan pembaca mengambil sikap sendiri atas permasalahan yang diangkatnya itu. Mengapa Betawi ? Bukan kebetulan bila Ben Sohib mengangkat budaya Betawi ke dalam khazanah sastra. Betawi, kata Ben, sangat dekat dengan kesehariannya, yang sudah 20 tahun tinggal di daerah Condet-Cililitan, Jakarta Timur. Dari pengamatannya, ada fenomena yang menarik dari masyarakat Condet. Condet, kata .Ben, adalah sebuah prototipe yang sempurna untuk masyarakat Betawi yang bisa dibilang tertinggal, kalau tidak mau dibilang terpinggirkan dari pergerakan zaman.

Dalam perkembangannya, ada perbenturan antara tradisi yang terus dipertahankan dengan budaya yang makin berkembang. “Termasuk tradisi memakai peci putih dan budaya Arab yang berakulturasi dengan budaya Betawi di mana peci putih menjadi simbol identifikasi agama Islam," tutur lelaki kelahiran Jember, 1967 itu.

Ben berharap, buku keduanya ini juga laris seperti buku pertamanya. Harapan ini juga dilambungkan Fahmi, dari penerbit Ufuk Publishing House yang menerbitkan dua buku itu. "Mudah-mudahan Rosyid & Delia jadi best seiler lagi seperti Da Peci Code" katanya.

Bahkan, Fahmi juga sudah bersiap-siap mengadaptasi Da Peci Code ke layar lebar. "Beberapa production house sudah menawar, tapi belum ada yang cocok," kata Fahmi.

Bila novel ini siap difilmkan, Ben berharap dirinya dilibatkan . dalam produksi film ini, termasuk bila diperlukan dalam penulisan skenarionya.”Ini supaya cerita di film nggak melenceng dari novelnya.” kata Ben yang belajar menulis secara otodidak.



Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes