Showing posts with label Barack Obama. Show all posts
Showing posts with label Barack Obama. Show all posts

Monday, January 19, 2009


20/01/2009 - 13:27

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa penerbitan buku memanfaatkan momentum pelantikan Presiden Barack Obama, Selasa (20/1), untuk meningkatkan penjualan buku-buku bermerek Obama.

Buku yang dirilis adalah buku yang ditulis langsung Presiden ke-44 Amerika itu ataupun berupa tulisan kompilasi atau kodifikasi dari berbagai sumber.

Penerbit Ufuk Press Jakarta, misalnya yang pertama kali menerbitkan buku Obama Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih terus membukukan penjualan dan pendapatan yang meningkat drastis.

"Kami yang pertama menerbitkan buku Obama. Saat itu memang risiko lumayan tinggi karena belum tentu Obama menang," ujar Mohammad Sadan, promosi Ufuk Press kepada INILAH.COM, Selasa (20/1).

Buku yang ditulis Obama, Menerjang Harapan, menurut Sadan, sejak pertengahan 2007 sudah dicetak sebanyak lima kali. Kemudian buku berupa kompilasi dari berbagai sumber yang mengangkat istri Obama Michelle Obama Lebih Pintar dari Obama juga sudah memasuki cetakan kedua.

"Total buku tentang Obama kami sudah cetak sebanyak 30.000 eksemplar," kata Sadan.

Sadan juga mengatakan, peningkatan yang sangat signifikan sudah dimulai sejak Obama secara definitif memenangi pemilihan Presiden Amerika. "Peningkatannya mencapai 70%," katanya.

Penerbit lain yang juga mendulang untung di tengah demam Obama adalah Mizan Pustaka. Penerbit yang berpusat di Bandung, Jawa Barat, ini bahkan sangat gencar menerbitkan buku yang berkaitan dengan Obama.

Mizan mencetak buku Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya Muslim Connection karya Anwar Holid, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah, dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan.

Manajer Redaksi Penerbit Mizan, Ahmad Baiquni menilai sosok Obama memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia karena pernah menjalani masa kecil di Jakarta. Latar belakang Obama yang tumbuh dalam keluarga Islam juga dinilainya punya daya tarik sendiri bagi orang Indonesia.

"Kita tertarik menerbitkan buku Obama itu karena ada faktor Indonesia dan Islam dalam diri Obama," kata Baiquni.

Tidak hanya itu saja, Mizan juga menerbitkan disertasi program doktor almarhumah ibu Obama, Ann Dunham di University of Hawaii at Manoa berjudul Pendekar-pendekar Besi Nusantara. Buku itu berisi kajian antropologis Dunham tentang perajin pandai besi di Indonesia.

Friday, December 05, 2008


OBAMA LARIS MANIS


Lonjakan penjualan juga dialami Ufuk Publishing House untuk buku Barrack Obama, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih yang ditulis sendiri oleh Obama. Manajer Pemasaran Ufuk, Taufiq Hadad, mengatakan, pemesanan buku yang sudah terjual sekitar 20 ribu eksemplar ini langsung meningkat setelah Obama terpilih menjadi presiden.
(Koran Tempo, Ruang Baca November 2008)


'Gegap gempita pemilihan Presiden Amerika Serikat sudah berakhir, tapi demam Barrack Obama di Indonesia baru saja dimulai. Kemenangan Obama pada pemilihan umum tersebut membuat perusahaan penerbitan dan toko buku di Indonesia bungah karena penjualan buku seputar presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat itu meroket

Penerbit Mizan mencatat bahwa penjualan buku langsung melonjak segera setelah Obama dinyatakan memenangi kursi kepresidenan pada awal November lalu. Community Relations Mizan, Pangestuningsih, mengatakan, buku Andai Obama Presiden Amerika: Harapan atau Ancaman karya Hermawan Aksan hingga pertengahan November sudah terjual 900 eksemplar, padahal sebulan sebelumnya hanya laku sekitar 300 eksemplar.


"Kenaikannya sampai 191 persen,", ujar Pangestuningsih. "Jadi,: buku itu sebentar lagi masuk daftar best seiler Mizan."

Awalnya Mizan sempat ragu menerbitkan buku ini menjelang pe¬milihan presiden. Tapi, ketika penerbit lain menahan diri, Mizan justru memberanikan diri menerbitkan buku Obama berbekal optimisme bahwa senator asal Illinois itu akan menang—keputusan yang belakangan terbukti tepat.

Fenomena yang sama juga terjadi pada buku terbitan Mizan Pustaka, Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya. "Muslim Connection" yang ditulis Anwar Holid. Pada Oktober lalu buku ini terjual 400 eksemplar dan selama November laku lebih dari 900 eksemplar.

Mizan sendiri memang penerbit yang paling getol mengeluarkan buku soal Obama. Selain dua buku tadi, Kelompok Mizan juga memiliki dua judul lain, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Sayangnya, Mizan tak memiliki catatan penjualan buku-buku ini

Lonjakan penjualan juga dialami Ufuk Publishing House untuk buku Barrack Obama, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih yang ditulis sendiri oleh Obama. Manajer Pemasaran Ufuk, Taufiq Hadad, mengatakan, pemesanan buku yang sudah terjual sekitar 20 ribu eksemplar ini langsung meningkat setelah Obama terpilih menjadi presiden.

Ufuk pun sampai kebingungan memenuhi permintaan yang terus-menerus datang dari toko buku. "Kami sampai sempat kehabisan stok,' ujarnya. Ufuk pun akhirnya mencetak ulang buku ini sebanyak 5.000 eksemplar. Buku yang sebelumnya berformat hardcover ini diubah menjadi softcover yang sekaligus menurunkan harganya.

Begitu dilepas ke pasar, buku ini langsung terjual sekitar 1000 eksemplar. Menurut Taufiq, angka penjualan selama satu minggu tersebut terbilang fantastis, karena biasanya jumlah itu baru bisa diperoleh setelah buku dijual selama sebulan.

Meledaknya penjualan buku ini tentunya kabar gembira bagi Ufuk, yang sebelumnya sempat ketar-ketir mengikuti pemilihan presiden di Amerika Serikat. Kekalahan Obama dapat menjadi gong kematian penjualan buku itu, padahal modal yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak ciptanya terbilang lumayan besar.

Taufiq pun mencatat bahwa penjualan buku itu sem¬pat turun ketika Obama hampir dikalahkan Hillary Clinton pada konvensi Partai Demokrat dan saat kampanye pemilihan presiden melawan calon dari Partai Republik, John McCain.

Dengan terpilihnya Obama, Taufiq optimistis tingginya minat pembaca tersebut akan bertahan ama. Bahakan, ia memperkirakan ledakan penjualan akan terjadi lagi jika Obama berkunjung ke Indonesia.”Buku-buku Obama ini bisa panjang umurnya,” ujarnya

Tingginya penjualan itu mengundang bermunculan berbagai buku soal Obama. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, misalnya, menerbitkan Obama in His Own Words; Ucapan dan Pikiran Barack Obama tentang Segala Hal yang ditulis "Lasa Rogak.

Ganeca Exact juga menerbitkan Barack Obama Sang Presiden. Buku yang ditulis Budi Santoso ini sebenarnya tak terlalu berbeda dengan buku biografi Obama, kecuali ada bab yang mengisahkan kesuksesan Obama memenangkan pemilihan presiden.

Buku-buku Obama di luar negeri pun menjadi buruan penerbit lokal. Salah satu yang banyak diperebutkan adalah memoar Obama yang berjudul Dreams of My Father, A Story of Race and Inheritance. Seorang sumber Tempo yang mengikuti proses penawaran buku tersebut menceritakan bahwa hak cipta buku tersebut akhirnya dilepas Oktober lalu kepada sebuah penerbit lokal seharga sekitar US$ 6.000 atau sekitar Rp 72 juta.

Selain buku seputar Obama, para penerbit juga mulai menggarap buku-buku yang tidak menampilkan sosoknya, tapi orang-orang di seputar Obama. Ufuk Publishing House meluncurkan buku profil Michelle Obama, Lebih Pintar Dari Obama!!

Buku yang ditulis Wasis Wibowo ini mengupas sosok istri Obama, Michelle LaVaughn Robinson. Dalam buku ini diceritakan sekelumit kisah hidup Michelle dan perannya dalam meyakinkan suaminya untuk maju dalam pencalonan Presiden Amerika Serikat ke-44.

Sementara itu, Mizan menerbitkan disertasi ibu Obama, Stanley Ann Dunham, yang berjudul Pendekar-pendekar Besi Nusantara — Buku yang Memuat Pandangan Ibunda Barack Obama tentang Indonesia. "Sekarang ini apa pun menyangkut Obama itu laku keras," ujar Pangestuningsih.

Selain penerbit, pihak yang menangguk untung besar dari demam Obama adalah toko buku. Mereka menyiasati dengan menyediakan area dan rak khusus buku Obama.

Salah satunya adalah toko buku Leksika di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menurut Branch Manager Leksika Lenteng, Agung Manuntun, menjelang pemilihan presiden di negeri Abang Sam tersebut, tokonya sudah menyiapkan satu rak khusus untuk buku Obama.

Seperti toko buku lainnya, Leksika juga telah memesan stok lebih banyak, termasuk mengimpor buku Obama untuk mengantisipasi jika .pria yang pernah menetap di Jakarta itu memenangi kursi presiden. "Kami sudah ada feeling ini akan laku keras,".ujarnya.

Selepas kemengan Obama, Agus menyulap salah satu sudut di lantai dasar tokonya menjadi pojok khusus Obama. Hasilnya, buku-buku terkait sang pemenang pemilihan presiden itu pun laku keras. "Yang beli lumayan banyak," kata Agus.

Agus menceritakan, jauh sebelum kemenangn Obamapun penjualan bukunya sudah cukup tinggi dan kini jumlah penjualannya berlipat ganda. Ia tak tahu pasti berapa jumlah penjualan buku tersebut, namun dalam setiap hari ada saja pelanggan yang membeli buku Obama

Tuesday, June 03, 2008


Buku ini menunjukkan pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri -kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas

(Ruang Baca, Koran Tempo, Ed.50, Mei 2008)

Sedemikian banyak buku tentang Obama, pada dasarnya semua terpusat pada cerita tentang kedekatan Obamadengan Indonesia, serta analisa kebijakan politiknya. Banyak yang menilai sedikit banyaknya kedekatan masa lalu Obama dengan Indonesia ikut mempengaruhi pandangannya tentang dunia Islam dan Muslim. Uniknya, ada satu buku yang menakar nasib apa yang akan menimpa Obama jika ia jadi presiden Amerika Serikat. Termasuk kemungkinan terbunuhnya Obama.

Kecuali satu buku terbitan Ufuk Press yang diterjemahkan dari buku berbahasa Inggris karya asli Obama, buku-buku lain yang beredar di toko buku adalah karya penulis lokal. Sebagian ditulis dengan bersandar pada penelusuran dan wawancara dengan orang-orang yang berkaitan dengan masa kecil Obama, sebagian lainnya berupa kompilasi dari beragam artikel tentang Obama.

Kami ajak Anda melongok isi buku tentang Obama itu.

Judul buku : MENERJANG HARAPAN: DARI JAKARTA MENUJU GEDUNG PUTIH
Penulis : Barack Obama
Penerbit : Ufuk Press
Tahun terbit ::2007

Ini buku kedua karya Obama, namun buku pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku hard-cover ini aslinya diluncurkan pada 2006, ketika Obama memastikan diri sebagai salah satu kandidat dari partai Demokrat untuk berlaga menuju Gedung Putih. Setahun kemudian, Ufuk mendapat hak edarnya dalam bahasa Indonesia.

Buku setebal 527 halaman ini berisi gagasan, pikiran, dan pandangan pria kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961 ini. Bab tentang Indonesia ditaruh paling depan di bawah judul, Dunia di Luar Tapal Batas Kita. Ufuk sengaja memilih strategi ini agar pembaca Indonesia yang punya ikatan emosi dengan kisah Obama bisa langsung menikmati cerita masa kecilnya di Jakarta.

Diterjemahkan dari edisi aslinya,The Audacity of Hope, yang diambil dari frasa yang kerap digunakan Obama saat ia berkampanye,buku ini diterbitkan Ufuk Press dengan judul Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Keputusan penerbit untuk memilih sub-judul yang memikat ini terbukti jitu mengingat kedekatannya dengan Indonesia.

Buku ini dibuka dengan bab kenangan masa kecil Barry -panggilan Obama di Jakarta saat ia berusia 6 hingga 10 tahun. la ikut sang ibu, Ann Dunham ke Jakarta setelah menikah lagi dengan Seotoro, usai berpisah dengan ayah kandung Obama, barack Hussein Obama Senior.

Dalam bab Dunia di Luar Tapal Batas Kita itu, Obama bercerita bagaimana keluarganya hidup serba sederhana, tapi dalam situasi yang menyenangkan. Sedemikian sederhananya, ayah tiri dan ibunya tidak mampu menyekolahkan Obama ke sekolah internasional bagi anak ekspatriat. Jadilah Obama bersekolah di sekolah negeri dan berbaur dengan anak-anak tukang jahit, petani, dan pelayan.

Soal terorisme juga menarik perhatian Obama. la menulis kenangannya akan Bali saat berbicara tentang terorisme. la menyebut keinginannya untuk kembali ke Indonesia dan Bali, namun dunia yang mengecil karena kemudahan teknologi justru membuat Obama melihat "Indonesia terasa lebih jauh sekarang dibandingkan tiga puluh tahun yang lalu."

Buku ini menunjukkan pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri -kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas ("apa yang tidak dapat saya dukung adalah sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melainkan oleh nafsu, yang bukan didasari oleh prinsip, melainkan oleh politik").

Berganti-ganti dengan kisah tentang kehidupan pribadinya, Obama juga menyelinapkan pikiran dan pandangannya tentang nilai-nilai terus berubah: orang tua tunggal, peliknya bertahan dengan satu penghasilan, istri yang keluar rumah untuk menunjang penghasilan keluarga, isu aborsi, dan persoalan pernikahan sejenis, yang menjadi isu sensitif bagi kalangan Republiken. • ANGELA

Friday, March 28, 2008



OBAMANIA !


Yap. Dari awal Obama udah lebih unggul dibandingkan dengan Hillary. Menurut sebuah survey tentang pemilu di Amrik, Obama ibarat rockstar yang selalu ditunggu fans-nya (Majalah HAI, Maret 2008).

Kenapa sih Barack Obama bisa ngetop ? Perjalanan Senator Illinois ini dalam pemilihan umum Amrik tahun 2008, emang mantep banget. Mewakili partai Demokrat, dia mengalahkan saingannya, Hillary Clinton, 11 kali berturut-turut Sekarang, bisa dibilang hanya John McCain dari Partai Republik yang mungkin bisa mencegahnya menduduki singgasana kepresidenan AS.

Yap. Dari awal Obama udah lebih unggul dibandingkan dengan Hillary. Menurut sebuah survey tentang pemilu di Amrik, Obama ibarat rockstar yang selalu ditunggu fans-nya.

Masih menurut hasil survey itu, nama Hillary dasarnya emang kurang populer. Namanya baru terangkat kalo direndengin dengan nama Clinton di belakangnya. Makanya, nggak tanggung-tanggung, sekarang ada istilah yang menyepelekan Hillary dengan sebutan Biliary, hehehe....

Balik ke Obama! Dari sisi sosok, Obama juga punya nilai tinggi. Lantaran kulitnya hitam, kalo kepilih dia bakal jadi presiden kulit hitam pertama sepanjang sejarah berdirinya negeri Paman Sam, brur. Tapi..., itu kan berat?! Secara di Amrik perbedaan warna kulit merupakan isu yang sensitif sampe sekarang. Maklum, orang-orang Amrik masih suka rasis sih!

Upssss, nggak juga kok. So far Obama udah berhasil mengikis pelan-pelan persepsi tentang perbedaan warna kulit tersebut. Buktinya, hasil penghitungan suara memperlihatkan kalo dia justru populer di negara-negara bagian yang didominasi penduduk kulit putih! Artinya, harapan bisa jadi orang yang bisa menghapus isu rasial di negara ini lumayan gede.

Most of all, yang paling mengagumkan dari Obama, apalagi kalo bukan kemampuannya berorasi. Sebagai orator, dia jago membuat pernyataan yang bisa dikenang sepanjang masa. Lewat sfafemenf-nya yang pedas namun nggak nyela, Obama lihai mengeluarkan pendapat anti-kebijakan Bush tentang pengiriman tentara ke Irak. Lanjut ngomongin sepak terjang Obama di kancah perpolitikan, dia sebenarnya udah mulai "keliatan" sejak tahun 2004. Cuma, saat itu yang dikejarnya masih kursi senator negara bagian Illinois. Obama akhirnya berhasil meraih apa yang dikejarnya dan terkenal dengan statement terkenalnya tentang perubahan yang menurutnya sangat diperlukan rakyat Amrik."Pada akhirnya, ini lah anugerah Tuhan terbesar untuk kita. Sebuah landasan untuk negera ini: kepercayaan terhadap hal-hal yang tak terlihat. Kepercayaan tentang masa depan yang lebih cerah," ujar Obama di depan massa Democratic Convention waktu itu.

Kelar fight buat merebut kursi senator negara bagian Illinois, wacana tentang majunya Obama ke pemilu presiden mulai bergaung. "Obama for President!" begitu yell yang selalu terdengar saban kampanye dimulai. Kampanye Partai Demokrat selalu menjadikan Obama sebagai sorotan utama. Ribuan orang tumpah ruah saban dia naik mimbar. Contohnya pas pesta Demokrat atas kemenangan pertengahan musim pada tahun 2006 di Manchester, New Hampshire. Saat itu, rencananya grup rock gaek Rolling Stones bakal meramaikan. Tapi panitia akhirnya sadar kalo Obama yang muncul, pasti tiketnya sold out.

Sampe-sampe, panitia sempat kepikiran begini: "Sepertinya kami harus membatalkan Rolling Stones. Karena Obama pasti akan menjual tiket paling banyak," kata John Lynch. Untung Rolling Stones nggak jadi dibatalin. Sehingga, duet Obama dengan Rolling Stones jadi kenyataan!


Pertanyaan selanjutnya, siapa yang lebih kenceng diteriakin penonton? Jelas Obama! Obama yang berorasi sambil sekaligus merayakan perilisan bukunya yang berjudul The Audicity of Hope (ssst..., nggak tanggung-tanggung, buku ini didukung presenter kenamaan Oprah Winfrey dalam hal publikasinya Iho!), berhasil membuat sekitar 2500 orang mengelu-elukannya!

Situasi yang sama diterima Obama bukan malem itu aja. Tapi, setiap kali melakukan tur launching bukunya ke tempat-tempat lain.Acara launching buku ini selalu jadi berita di berbagai media. Soalnya, ritual penandatanganan buku oleh Obama udah kayak konser rock! Lengkap dengan 60 jurnalis dan 22 kru kameramen IV yang siap ngeberitain apapun yang terjadi hari itu.

Tur di Marin Civic Centre, San Rafael, California, membuktikan kalo bisnis rumahan berupa pin bertuliskan Barack Obama for President bisa laku keras bila ada tur buku semacam ini. Abis, penonton Obama saat itu nggak kurang 1200 orang, bro

Di hari berikutnya lebih rame. Tur bukunya sampe ke Bellevue Community College yang dihadiri oleh 2500 orang. Banyak di antara mereka yang mengangkat majalah Time edisi terbaru dengan coverline: Why Barack Obama Could Be the Next President?

Tiga bulan setelah Seattle, Obama langsung mendaftarkan diri di Federal Election Commission sebagai salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat. Dimulailah petualangannya sebagai "peserta lomba"! Dan, Obama langsung nonjok ya gara-gara jadi satu-satunya calon Presiden Amerika Serikat dari warga kulit hitam.

"Aneka kebijakan yang diputuskan di Washington selama enam tahun terakhir, dan masalah-masalah yang kita abaikan selama itu, telah menempatkan negara kita dalam situasi yang mengkhawatirkan. Perang yang memakan korban dan dana besar harusnya nggak kita tanggung," ujarnya dalam pesan yang direkam ke dalam video pada tanggal 16 Januari 2007, yang menjelaskan kenapa dia memutuskan ikutan dalam presidential race ini.

Tapi sebagai salah satu kontestan, tentunya Obama harus punya ciri khas. Biar terlihat lebih menonjol lagi, plus lebih banyak disukai orang! Bagusnya, Obama pinter mencari kelebihan diri. Karena mengusung perubahan, Obama justru nggak mengikuti kebiasaan kontestan terdahulu.

"Bukan gaya saya menyerang orang atau bersikap kontroversial. Itu sangat nggak produktif. Itu hanya membuat rakyat jadi defensif dan justru bersikap menolak perubahan," begitu Obama menjelaskan gaya berkampanyenya.

Gara-gara sikapnya, Obama langsung dibanding-bandingkan dengan klan Kennedy, terutama Bobby Kennedy, yang memulai karirnya mirip dengan Obama. Lalu, tentu aja ada yang menyamakannya dengan pemimpin kulit hitam tahun 60-an, Martin Luther King Jr., dari segi pembawa perubahan. Well, moga-moga aja nggak sama nasibnya juga! Soalnya dua orang itu mati tertembak, hiiiyyyy....

Karena kerap jadi sorotan publik, Obama pun makin lengket dengan selebriti. Di setiap event - walaupun bukan event berbau politik - dia selalu didekati para pesohor. Sebut aja kayak Tom Cruise, George Clooney, Ben Affleck, dan tentunya Bono. Asal tau aja, semua artis itu udah mengaku kalo dirinya adalah Obamania. Oke kan?















Monday, March 17, 2008




PERS DAN POLITISI

Pers (NEC, ABC, CBS., Los Angeles Times, New York Times, Washington Post, atau Chicago Tribune) menyenangi Obama karena apa adanya dan perubahan yang ditawarkan bukan mimpi surga (Budiarto Shambazy, Kompas, 1-Maret-2008)

Jika tak ada aral melintang, Sabtu (1/3) ini pukul 14.30 dimaklumatkan pembentukan OFC (Obama Fans' Club) di SDN Besuki, Menteng, Jakarta. Di sinilah Barack Obama sekolah kelas 3 sampai 4 mulai tahun 1970.

Waktu itu nama belakangnya "Soetoro", diambil dari ayah tirinya, Lulu Soetoro. Pak Lulu menikahi ibunya, Ann Dunham yang asal Kansas City, AS (Amerika Serikat).

Barry, begitu ia dipanggil, mengacungkan tangan tiap kali guru minta sukarelawan penghapus papan tulis. "la selalu tersenyum, gigi putihnya berderet rapi seperti permen Chicklets," kenang sahabatnya, Rully Dasaad.

Menurut Rully, Barry gemar main kasti, main ke rumah teman sehabis sekolah, dan mengadakan pesta ulang tahun di rumahnya di Matraman. "la anak bongsor yang aktif jadi pandu," tambah Rully.

Total ada 27 teman sekelas Obama yang tetap saling kontak. "Kami berharap anak SD Per-cobaan Negeri Besuki terpilih jadi presiden AS," ujar Rully dengan rasa bangga.

Waktu diminta menulis kata pengantar buku Obama, The Audacity of Hope, penerbit Ufuk Press bertanya apa mungkin "Obambi" (julukan lucu untuk dia) jadi presiden AS ? Saya jawab, "Terus terang, saya ragu. Kalau jadi wapres, itu mungkin."

Saya belum bisa membayangkan rakyat AS bisa terima kenyataan Obama yang "separuh hitam" jadi presiden. Namun, kini terbukti Obama capres terfavorit mengalahkan Hillary Clinton dan John McCain.

Menurut jajak pendapat Research Center periode 20-24 Februari, Obama mengungguli Hillary 49-46 persen dalam kompetisi Demokrat. la mengungguli McCain 7 persen untuk pilpres November.

Tak heran AS terjangkit "Obamamania". Bintang film George Clooney, ratu talk show Oprah Winfrey, sampai klan Kennedy mendukungnya. Para pesohor membuat situs "Celebrity Support to Draft Obama" (http://www.drafto-bama.org/celebrities) yang mengajak rakyat mengisi petisi dukungan. Salah satu pendananya Dreamworks, studio top Hollywood milik Steven Spielberg, Jeffrey Katzenberg, dan David Geffen.

Dengar dan lihatlah lagu klip video kampanye Obama ciptaan Black Eyed Peas berjudul Yes We Can. Ikut beraksi di klip itu aktris seksi Scarlett Johansson, mantan bintang basket Kareem Abdul Jabbar, dan penyanyi John Legend.

Grup rock Boston marah kepada capres Republik, Mike Huckabee, yang suka memainkan hit More Than A Feeling dalam kampanye. "Stop menyanyikan lagu Boston, saya pendukung Obama," tegas personel Boston, Tom Scholz.

Ketika jadi tamu di acara talk show Ellen DeGeneres, Obama beraksi dengan goyangan tubuh dan tangan yang mirip dansanya John Travolta. Kini gaya itu laris dimainkan di kelab-kelab dansa.

"Obamamania" menular ke mancanegara. Kota bernama Obama di Jepang ikut bangga, apalagi rakyat Kenya yang tanah airnya. Hari Jumat kemarin rakyat Kenya demonstrasi gara-gara beredarnya foto Obama memakai sorban. Adalah kubu Hillary yang menyebarkan foto itu melalui internet.


Ini desperate tactic karena Hillary sudah 11 kali berturut-turut ditaklukkan Obama. Foto itu diambil saat Obama mengunjungi Kenya tahun 2006.

Kubu Republik pun tak jera menyebut nama "Obama Hussein" dengan demonstratif. Maksudnya agar yang mendengar terasosiasi dengan dua musuh AS, Osama bin Laden dan Saddam Hussein.

Untungnya para calon pemilih tak berubah pendirian. Mereka tetap mengagumi latar belakang internasional Obama yang kaya. "Kakek saya pernah memeluk Kristen, lalu Islam. Ayah saya Islam, saya tinggal empat tahun di negeri berpenduduk mayoritas Islam," kata Obama. Gerejanya di Chicago sempat disidik aparat karena dicurigai jadi tempat kegiatan politik Obama.

Sempat beredar cerita Obama tidak patriotis karena tak memasang pin bendera AS di kerah jasnya. Belakangan muncul kekhawatiran ia bisa dibunuh seperti Martin Luther King atau Robert Kennedy.

Untungnya Obama punya sahabat, yakni pers yang menganggapnya tokoh karismatis yang membangkitkan harapan. Media konservatif memberikan dia porsi wajar, apalagi yang independen seperti NEC, ABC, atau CBS. Koran top seperti Los Angeles Times, New York Times, Was¬hington Post, atau Chicago Tribune idem ditto.

Muncul keluhan dari kubu Hillary yang merasa pers "memanjakan" Obama sekaligus bersikap diskriminatif terhadap istri Bill Clinton itu. Pers menyenangi Obama karena apa adanya dan perubahan yang ditawarkan bukan mimpi surga.

Tabloid gosip memberitakan setiap aspek kehidupannya, mulai dari kebiasaannya berbelanja sampai jenis celana dalam yang dipakainya Kalimat yang sering dipakai, "He's one of us."Wajah Obama menghiasi lebih dari 20 sampul depan majalah top, termasuk Time dan Newsweek. Koresponden The Straits Times Singapura di Washington DC, Derek Pereira, sudah berbulan-bulan menunggu giliran mewawancarai Obama.

Pekan lalu mahasiswa bertanya di kelas, "Jika melihat fenomena Obamania, bagaimana hubungan politisi dengan pers di sini?" Saya jawab menurut "teori" yang benar politisi menganggap pers sebagai mitra. Ada politisi "antiteori" yang percaya pers bukanlah mitranya. Dan ada pula politisi yang "antipers" karena setelah terpilih terbukti tak memenuhi janji-janji muluknya
.






KARISMA OBAMA ?

Oleh : R. William Liddle

Obama menyadari sesuatu yang tidak dimengerti oleh Clinton. Pemilih Partai Demokrat (dan mungkin pemilih Amerika Serikat umumnya) ternyata mengharapkan sesuatu yang le¬bih dahsyat ketimbang hanya beberapa kebijakan baru.(R.William Liddle, Kompas, Februari 2008)


Dalam serentetan pemilihan internal partai, primary elections, tahim ini untuk pencalonan presiden Amerika, Barack Obama berkali-kali mengalahkan lawannya, Hillary Clinton. Baru pada tanggal 4 Maret di Negara Bagian Rhode Island, Ohio, dan Texas, Senator Clinton meraih kemenangan dan memberi kesan bangkit kembali.

Meski kita belum bisa memastikan siapa yang bakal dicalonkan, bagi saya, munculnya Obama sebagai calon yang mampu menyaingi Clinton adalah suatu keberhasilan luar biasa dan mengejutkan. Bagaimana menjelaskannya?

Alasan yang paling sering dikemukakan teman-teman saya (termasuk dari Indonesia) adalah karisma, daya tarik luar biasa yang dimiliki seseorang sebagai bakat bawaan. Bagi saya, penjelasan itu lebih mengaburkan ketimbang mencerahkan.

Konsep karisma diperkenalkan kepada dunia ilmu sosial awal abad lalu oleh sosiolog terkenal Jerman, Max Weber, yang bermaksud menyoroti sejenis kekuasaan istimewa yang dimiliki hanya oleh para nabi dan raja yang mampu merombak total dunia mereka. Dengan sendirinya, konsep itu sulit diterapkan pada sistern politik mapan masa kini, tempat para pemain adalah manusia biasa yang dibatasi berbagai rintangan dan kendala.

Meski saya akui peran sifat-sifat pribadi politisi, munculnya seorang great man dalam pengertian historis sulit dibayangkan dalam masyarakat modern.

"Demand and supply"

Kerangka analitis yang lebih masuk akal adalah kerangka demand and supply, tuntutan dan penawaran politik yang memengaruhi dan dipengaruhi setiap aktor. Dalam kasus Amerika Serikat, para calon presiden dituntut untuk memecahkan sejumlah tantangan yang dihadapi pemerintah. Tantangan paling umum adalah keluhan massa yang kian luas dan dalam, menurut hasil polling ilmiah, bahwa our government is on the wrong track, pemerintahan kami sudah berada di luar rel yang benar.

Keluhan umum itu tentu bisa dirinci. Sebagian besar warga Partai Demokrat (dan banyak anggota Partai Republik serta kaurn independen) menolak keterlibatan tentara Amerika Serikat di Irak.

Namun, kami menyadari, Presiden Bush tidak bersedia mengubah kebijakannya. Kami juga tahu, calon penggantinya dari Partai Republik, Senator John McCain, ingin bertahan di Irak, bahkan bila mungkin selama se-ratus tahun dengan tujuan politik yang kian buram dan ongkos, manusia dan materi, yang tak terhitung jumlahnya.

Masalah pekerjaan

Bagi banyak anggota. Partai Demokrat, masalah paling pelik yang dihadapi langsung adalah kehilangan pe¬kerjaan. Mungkin mayoritas anggota partai percaya, arus globalisasi ekonomi selama pemerintahan Bush berdampak buruk bagi kaum buruh dan kelas menengah bawah, basis utama Partai De¬mokrat.

Kaum buruh yang masih bekerja mengeluh, pendapatan bos-bos mereka melejit tinggi sementara upah mereka sendiri cenderung stagnan atau menurun terpukul inflasi. Tambahan pula, asuransi kesehatan untuk semua warga belum dijamin negara. Bagi yang kehilangan pe¬kerjaan, asuransi mereka ikut hilang dengan sendirinya.

Apa yang ditawarkan Barack Obama kepada warga Partai De¬mokrat, dan masyarakat Amerika Serikat pada umumnya, sampai ia mampu mengungguli Hillary Clinton?


Jawaban spesifik tentang berbagai usul kebijakan tentu ada. Namun, jawaban tuntas dan memuaskan hams me-nyentuh gaya dan visi yang secara sengaja diciptakannya. Hal-hal itu lebih sulit dipegang secara empiris, tetapi jelas menentukan.

Tentang perang Irak, Obama termasuk suara langka pada tahun 2003 yang mencurigai adanya weapons of mass destruction, senjata pemusnah massal, di negara yang masih dikuasai Saddam Hussein saat itu. Lagi pula, ia meyakini, masyarakat Irak sulit menciptakan negara-kebangsaan yang utuh serta demokratis mengingat sejarahnya sebagai negara buatan dengan banyak konflik suku dan agama.

Sebaliknya, Hillary Clinton mendukung perang itu, terdorong ambisi berlebihan untuk menjadi presiden dan mungkin termakan propaganda Bush.

Tantangan ekonomi

Mengenai tantangan-tantangan ekonomi, Obama dan Clinton tidak banyak beda meski Clinton mengklaim bahwa ta-waran solusinya jauh lebih baik dari usul-usul Obama. Dalam kenyataannya, keduanya mengerti— meski sama-sama enggan mengakui secara terang-terangan— bahwa arus globa¬lisasi harus ditunggangi, bukan dibendung. Mereka juga sepakat, buruh yang terpinggirkan harus dibantu dengan prog¬ram-program pendidikan, pelatihan, dan asuransi kesehatan universal memadai.

Namun, Obama menyadari sesuatu yang tidak dimengerti oleh Clinton. Pemilih Partai Demokrat (dan mungkin pemilih Amerika Serikat umumnya) ternyata mengharapkan sesuatu yang le¬bih dahsyat ketimbang hanya beberapa kebijakan baru. Kami mengharapkan sebuah Amerika yang tidak terpolarisasi lagi oleh pemisahan ras, kelas, dan politik partisan yang setajam sekarang. Tak kurang penting, kami meng¬harapkan sebuah kebijakan luarr negeri yang lebih peka dan ter-buka terhadap kemauan dan kepentingan bangsa lain.

Obama berjanji, dia akan memulai proses pembaruan yang kami tuntut la dipercayai banyak, orang karena tiga hal. Gaya pidatonya memukau. Kehidupan pribadi dan politiknya terbukti menjembatani kesenjangan hitam-putih, miskin-kaya, dan Demokrat-Republik. Terakhir, ia masih muda sehingga pendekatan dan ide-idenya lebih segar dan tingkat energinya tinggi.

Namun, umur belianya mengingatkan kita, dia populer antara lain karena belum berbuat ba¬nyak, belum sempat menciptakan segerombolan musuh seperti Clinton. Alhasil, tanpa terjebak kepastian berlebihan tentang ma¬sa depan, untuk sementara ini kita bisa bersikap optimistis.

R WILLIAM LIDDLE ProfesorIlmu Politik,The Ohio State University^ Columbus Amerika Serikat



Wednesday, February 13, 2008

Barack Obama; Menerjang Harapan
Dari Jakarta Menuju Gedung Putih

Penulis : Barack Obama
Penerjemah : Ruslani dan Lulu Rahman
Penerbit : Ufuk
Terbit : 2007
Tebal : 528 halaman


Barack Obama adalah politisi langka yang benar-benar mampu menulis tentang dirinya dengan cara yang menarik dan orisinal. Dalam buku ini, dia berjuang untuk membumikan pemikirannya ihwal kebijakan dalam akal sehat yang sederhana sembari mengartikulasikan gagasan-gagasan dalam ungkapan yang mudah dipahami dan non partisa(Seputar Indonesia, 10-Februari-2008)

BARACK Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hitam kelima dalam sejarah Amerika Serikat (AS) setelah sebelumnya menjadi dosen di Universitas Chicago, senator junior di Negara Bagian Illinois, dan presiden Afrika-Amerika pertama kalinya pada jurnal bergengsi, Havard Law Review, sewaktu ia masih belajar di Universitas Havard. Kini ia adalah salah satu calon kuat wakil partai Demokrat dalam pemilihan Presiden AS pada 2008.

Barack Obama lahir di Hawaii pada 4 Agustus l961, dari pasangan Barack Hussein Obama Senior, seorang mahasiswa ekonomi dan penganut Islam dari Kenya dan AnnDunham, seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Kedua orangtuanya bercerai ketika Obama berumur dua tahun. Ibunya menikah kembali dengan orang Indonesia bernama Lolo Soetoro dan pindah ke Indonesia ketika Obama berumur enam tahun. la dan ibunya tinggal di Jakarta selama empat tahun.

Seiring dengan meningkatnya popularitas dirinya secara intemasional, Obama menuliskan riwayat dan pandangan hidupnya. Dreams from My Father adalah karya pertamanya. Sedangkan buku Barack Obama; Menerjang Harapan dari Jakart aMenuju Gedung Putih adalah buku keduanya. Dalam buku ini, dia menyampaikan berbagai hal; mulai kehidupan pribadinya (termasuk saat ia tinggal di Indonesia), kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan intemasional.
***'
Barack Obama adalah politisi langka yang benar-benar mampu menulis tentang dirinya dengan cara yang menarik dan orisinal. Dalam buku ini, dia berjuang untuk membumikan pemikirannya ihwal kebijakan dalam akal sehat yang sederhana sembari mengartikulasikan gagasan-gagasan dalam ungkapan yang mudah dipahami dan non partisan.. ..-


MichikoKakutani, New York Times

Friday, February 08, 2008


Oprah Winfrey Mendukung Barack Obama


Pembawa acara talk show berpengaruh AS, Oprah Winfrey, menghangatkan suasana kampanye calon presiden dari Partai Demokrat, Barack Obama, Sabtu, dengan memulai tur ke berbagai negara bagian penting lewat pidato yang membangkitkan semangat di depan lautan penggemarnya.

Sebanyak 18.500 orang berdesakan di sebuah balai pertemuan di Iowa untuk mendengarkan pidato pertama Winfrey bagi seorang calon presiden.

“Saya di sini bukan untuk mengatakan kepada kalian apa yang harus dipikirkan, saya di sini untuk meminta kalian berpikir,” katanya di depan khalayak yang bersorak-sorai menyambutnya, beberapa di antara mereka bahkan berteriak menginginkan dia menjadi calon wakil presiden.

Oprah mendesak mereka yang hadir agar mendukung “visi baru” Obama untuk AS.

Obama, yang semasa kanak-kanak pernah tinggal selama empat tahun di Indonesia, terpaksa memindahkan tempat kampanyenya, Minggu, dari sebuah stadion bola basket berkapasitas 18.000 tempat duduk ke stadion sepakbola yang mampu menampung 80.000 orang akibat begitu meluapnya sambutan calon pemilih.

Winfrey, yang dipandang sebagai salah satu penghibur paling berpengaruh di dunia, konon menduduki urutan kedua sebagai wanita paling dikagumi di AS, hanya setingkat berada di belakang mantan Ibu Negara Hillary Clinton, demikian menurut Gallup Poll belum lama ini.

Hillary Clinton adalah pesaing utama Obama dalam perebutan sebagai calon presiden dari kubu Demokrat.

Belum Teruji

Kelompok bukunya yang legendaris pada acara talk show petang telah mengubah para pengarang tak terkenal menjadi pengarang buku yang laris.

Kini Obama berharap jutaan pemirsanya, terutama kaum wanita, akan membantu mendongkrak peluangnya dalam menghadapi Hillary Clinton, wanita pertama dengan peluang realistik untuk memenangi Pemilihan Presiden 2008.

Pengaruh Winfrey di dunia politik belum teruji. Jajak pendapat yang diadakan USA Today dan Gallup yang dirilis Oktober lalu mencatat delapan persen responden dewasa menyatakan dukungan Winfrey membuat mereka kemungkinan besar memberikan suara pada Obama, sedang 10 persen lainnya mengatakan sebaliknya mereka boleh jadi tak akan memilih Obama.

Dalam pidatonya, Winfey mengemukakan sikap Obama sebagai calon perubahan lebih penting ketimbang anggapan kurangnya pengalaman politik Obama seperti yang dilontarkan kubu Hillary Clinton. ant

Wednesday, January 30, 2008




















KENNEDY DUKUNG OBAMA


Barack Obama, kandidat calon Presiden Amerika Serikat, patut bersukur. Senator Edward Kennedy, yang disebut-sebut sebagai dekan sayap liberal Partai Demokrat, secara terang-terangan mendukung Obama.


Kata Edward lagi, "Dengan Obama, kita akan menutup lembaran lama politik salah persepsi dan penyimpangan-penyimpangan itu."


Dukungan Edward tentu sangat pantas disukuri Obama mengingat Edward sangat berpengaruh di kalangan serikat pedagang blasteran Irlandia-Amerika dan latin di sana.


Edward tak sendirian membelot. Peraih nobel, Toni Morrison, yang pada 1998 menyebut Bill Clinton "presiden kulit hitam pertama" juga mengalihkan dukungan pada Obama


Obama balas memuji jlan Kennedy denagn mengatakan keluarga Kennedy selalu menjadi pertimbangan bagi mereka yang menginginkan "yang terbaik untuk Amerika"


Edwards memastikan Obama bakal menembus Gedung Putih. "Dia akan menjadi presiden yang bukan merupakan bagian dari masa lalu," tuturnya.

Monday, January 28, 2008



Obama Ungguli Hillary

Jajak Pendapat Terakhir Jelang Primary SC

Popularitas Barack Obama dan Hillary Rodham Clinton diuji di South Carolina (SC). Dua kandidat presiden dari Partai Demokrat itu bersaing dalam primary (pemilihan pendahuluan) di Negara Bagian South Carolina (SC). Pemilihan tingkat partai itu akan menghasilkan pemenang tunggal pada Sabtu (26/1) malam waktu setempat (Minggu pagi WIB).

Hingga saat ini, untuk pemilihan-pemilihan yang banyak didominasi warga kulit hitam, Barack Obama melesat jauh meninggalkan Hillary Clinton. Berdasar hasil poling MSNBC dan McClatchy, Obama unggul 38 persen banding 30 persen atas mantan first lady AS itu. Bisa ditebak, Obama unggul 63 persen banding 23 persen atas Hillary di antara para pemilih kulit hitam di AS.

Berusaha untuk mendongkrak dukungan dari warga kulit hitam, Hilllary muncul dengan didampingi beberapa tokoh kulit hitam setempat.
Obama:100 orang yang paling Berpengaruh Versi Time

Obama termasuk salah satu dari beberapa orang yang cukup berpengaruh versi Majalah Time. Selain Obama, nama lain yang juga masuk adalah Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud. Archbishop Peter Akinola, Omar Hassan al-Bashir, Pope Benedict XVI, Osama bin Laden, Michael Bloomberg, Raul Castro, dan lain sebagainya


Bukan tidak mungkin ia akan menjadi icon atau tokoh majalah ini tahun depan, jika dalam pemilihan nanti mampu membuat gebrakan menjadi kandidat partai demokrat melawan Republik.

Sampai saat berita ini diturunkan, Obama masih imbang dengan Hilary Clinton. Ia menang di pembukaan di Iowa dan yang terakhir di South Carolina. Sedangkan Hilary menang di Nevada dan New Hampshire.

Blog terkait :

http:/muhsinlabib.wordpress.com

Saturday, January 26, 2008



Seorang Pembaru Bernama Obama

Buku ini menunjukkan bagaimana pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri—kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu—hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas(Koran Tempo-2007)

Bintang rock itu bernama Obama. Semua lampu kamera dan perhatian publik kini mengarah padanya. Pintar (keluaran Harvard), muda, bersuara bariton dengan intonasi yang terjaga dan pilihan kata yang selalu jitu, serta sentuhan darah Afro-Amerika, Obama sudah memenuhi untuk menjadi idola. la kini sedang berdiri di panggung pertunjukan besar poli­tik Amerika. Targetnya satu : Kursi kepresidenan.

buku yang memuat pikiran senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat untuk Illionois ini menunjuk­kan satu lagi kepiawaian laki-laki kelahiran Hawaii, 4 Agustus 1961 itu: menulis. Ketimbang memilih bahasa retorik, Obama justru memasukkan selera hidupnya yang menyenangkan serta contoh-contoh yang langsung menohok perhatian Kelihaiannya memilih kalimat itu mungkin sudah terasah ketika ia menjadi presiden Afrika-Amerika pertama kalinya pada jurnal bergengsi, Harvard Law Reviewed.

Diterjemahkan dari edisi aslinya, The Audacity of Hope, yang diambil dari frase yang kerap digunakan Obama saat ia berkampanye, buku ini diterbitkan Ufuk Press dengan judul Menerjang Harapan: Dari Ja-karta Menuju Gedung Putih. Keputusan penerbit untuk memilih sub-1 judul yang memikat ini mungkin saja jitu (di luar judul utamanya yang terdengar agak aneh) mengingat kedekatannya dengan Indonesia.

Ketika nama Obama naik ke panggung politik setelah ia terpilih sebagai senator pada 2004, publik Indonesia sudah memperhatikannya. Masa kecilnya di Indonesia dan pikiran-pikiran demokratnya yang jelas berseberangan dengan rezim Bush, terutama hal-hal yang menyangkut perasaan kornunitas muslim—termasuk soal Irak dan Timur Tengah—adalah daya pikat Obama.

Buku ini dibuka dengan bab ke­nangan masa kecil Berry-Panggilan Obama—di Jakarta saat ia ber­usia 6 hingga 10 tahun. Pemilihan bab ini sebagai pembuka—berbeda dengan urutan versi aslinya—lagi-lagi pilihan yang jitu. Dalam banyak berita sudah pernah diceritakan bahwa Berry kecil ikut ibunya, Ann Dunham, warga Amerika berkulit putih yang menikah lagi dengan se­orang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro, ke Jakarta. Masa kecil di Jakarta pada awal berkuasanya Orde Baru rupanya berkesan betul di benak Obama.

Dalam bab Dunia di Luar Tapal Batas Kita itu, Obama bercerita ba­gaimana keluarga serba sederhana, tapi dalam situasi yang menyenangkan. la bahkan menyebut sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, Kami tidak mempunyai mobil—ayah tiri saya mengen-darai sepeda motor, sedangkan ibu saya naik bus jurusan lokal setiap pagi ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Inggris, Tak punya uang un-tuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya berseko­lah di sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis

Sebagai seorang bocah berusia tujuh tahun atau delapan tahun hal ini tidak terlalu merisaukan saya: Saya ingat tahun.itu sebagai masa-masa yang menyenangkan, penuh dengan petualangan dan misteri-hari-hari mengejar-ngejar ayam dan berlari menghindari kerbau, malam-malam menonton wayang kulit dan kisah-kisah hantu serta penjual kaki lima yang menjajakan gula-gula yang lezat ke rumah kami.

Obama juga menyinggung kerisauannya akan isu terorisme dan menariknya kedalam kenangan saat ia berada di Bali

“Di sebuah pantai, hanya beberapa mil dari tempat pengeboman itulah saya tinggal untuk terakhir kalinya saat mengunjungi Bali. Ketika saya emmikirkan pulau itu, dan seluruh Indonesia, pikiran saya dipenuhi berbagai kenangan...Saya ingin mengajak Michelle dan anak anak perempuaj saya yang itu....”

Di luar isu tentang Indonesia, Obama membuktikan dirinya seba­gai pembaca, pemerhati, dan pembicara ulung, di balik bungkusan pakaian politikus yang ia kenakan. Dalam sejarah Amerika, tidak banyak memang politikus—kemudian berangkat menuju pertarungan ke-presidenan—yang menguasat banyak hal sekaligus. Bahkan tidak Franklyn D. Roosevelt sekalipun.

Buku ini menunjukkan bagaimana pemahaman berbagai isu yang dimiliki Obama merentang dari masalah politik dalam negeri—kisah susahnya memperoleh akses pendidikan murah tapi bermutu—hingga masalah internasional yang membutuhkan ketajaman berpikir- dan bacaan yang banyak: soal Rusia, Timur Tengah, perang yang digelorakan kalangan konservatif demi tujuan yang tidak jelas ("apa yang tidak dapat saya dukung adalah sebuah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melamkan oleh nafsu, yang bukan didasari oleh prinsip, melainkan oleh politik").

Dengan pandangannya yang mungkin mencengangkan dan membikin gusar kubu Republiken, Oba­ma juga menyorot bagaimana nilai-nilai terus berubah: orang tua tunggal, peliknya bertahan dengan satu penghasilan, istri yang keluar dari rumah untuk menunjang penghasil­an keluarga, isu aborsi, dan persoalan pernikahan sejenis.

Dengan cara sama memikatnya— dan ini mungkin bagian terbaik da­ri buku tersebut—Obama menyorot hubungannya dengan banyak sena­tor dan lawan politiknya. Dengan gaya satire, ia menggambarkan ba­gaimana suatu kali ia bersua dengan Presiden George W. Bush di suatu kesempatan di musim dingin. Bush menggenggam tangannya dengan hangat dan mereka terlibat percakapan sesaat. Tidak lama kemudian, seorang anggota staf menyorongkan cairan pencuci tangan dan memoleskannya ke telapak tangan sang presiden. Dengan wajah tanpa ekspresi ia berkata, "Ini lumayan membantu untuk menghangatkan ta­ngan di musim dingin."

Buku yang mengena di hati kaum muda dan kelas menengah Amerika ini menunjukkan kualitas Obama— di luar tentu saja ambisinya yang berapi-api untuk maju ke pemilihan presiden pada 2008—sebagai sosok yang berwarna dengan ide pembaruan. Sebuah penawar yang segar di tengah kejenuhan orang pada rezim Bush yang membikin lelah































Friday, January 25, 2008


Barack Obama Masuk Best-Seller
Pustakaloka-Kompas


Menerjang Harapan;Dari Jakarta Menuju Gedung Putih Karya Barack Obama mendapat appresiasi dari Harian Kompas sebagai salah satu buku laris Pustakaloka-Kompas kategori non-fiksi. Pemilihan ini berdasarkan perhitungan Pustakaloka-Kompas terhadap penjualan terlaris selama bulan Mei 2007 di toko buku Gramedia di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya dan Timor










KISAH MENARIK

KANDIDAT PRESIDEN AS


Barack — anak yatim yang pernah dibesarkan di Jakarta — muncul bagai meteor yang secara relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru di kalangan rakyat AS(Koran Indo Pos-2007).

Ini buku yang sangat menarik, yang ditulis oleh seorang kandidat presiden AS, Barack Hussein Obama. la seorang tokoh yang muncul secara tidak terduga, di tengah banjir kritik terhadap ketidakbecusan Bush dalam memimpin AS. Barack — anak yatim yang pernah dibesarkan di Jakarta — muncul bagai meteor yang secara relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru di kalangan rakyat AS. Dikemas dalam gaya bertutur yang renyah dan komunikatif, buku 'semi oto-biografi' ini mengisahkan perjalanan karir Barack Ohama, dari Jakarta menuju Gedung Putih. "Barack Obama adalah politisi yang benar-benar mampu menulis tentang dirinya dengan cara menarik dan orisinal," komentar Michiko Kakutani, dari New York Times. Buku yang dalam waktu singkat mencatat best seller d\ AS ini adalah karya keduanya. Buku pertamanya, Dreams from My Father, juga menarik dan best se//er. Dalam buku keduanya ini, Barrack menulis berbagai hal, sejak kehidupan pribadinya, politik, sosial, agama, hingga hubungan internasional. Barack dan ibunya pernah tinggal di Jakarta selama empat tahun, dan pernah menyebut dirinya sebagai Jakarta's street kid. Lelaki kelahiran Hawai tahun 1961 ini, sekarang dikenal sebagai pemimpin yang merangkul (heal maker) pemimpin yang mampu menjawab persoalan-persoalan praktis (deal maker).
Menerjang Harapan
dari Jakarta Menuju Gedung Putih
Barack Obama

Ukuran : 155x235 mm Tebal : 528 halaman
Penerbit : Ufuk, Jakarta 'Cetakan : April 2007

“Di tengah-tengah amukan dan serangan publik dunia terhadap ketidakbecusan Bush memimpin Amerika, lahir seorang heal-maker (pemimpin yang merangkul) sekaligus deal-maker (seorang yang mampu menjawab persoalan-persoalan praktis). (Seputar Indonesia-2007)

BARACK Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hitam kelima dalam sejarah Amerika Serikat(AS), Sebelumnya, dia adalah dosen di Universitas Chicago, senator junior di Negara Bagian Illinios, dan presiden Afrika-Amerika pertama kalinya pada jurnal bergengsi, Harvard Law Review, sewaktu dia masih belajar di Universitas Havard. Kini dia adalah salah satu calon kuat dari Partai Demokrat dalam pemilihan Presiden AS 2008.

Obama lahir di Hawaii pada 4 Agustus 1961, dari pasangan Barack "Hussein" Obama Senior, seorang mahasiswa ekonomi dan penganut Islam yang taat dari Ke­nya, dan Ann Dunham, seorang perempuan kulit putih dari Kansas. Kedua orangtuanya bercerai ketika Obama berumur dua tahun. Setelah perceraian itu, ayahnya memutuskan untuk menempuh studi doktoral di Harvard University sebelum akhirnya kembali ke Kenya. Sementara itu, ibunya menikah kembali dengan orang Indo­nesia yang bernama Lolo Soetoro dan pindah ke Indonesia ketika Obama berumur enam tahun. Dia dan ibunya tinggal di Jakarta selama empat tahun, dia pun pernah menyebut dirinya sebagai Jakarta Street Kid. Barack kembali ke Hawaii seorang diri dan tinggal bersama kakek-neneknya hingga dia menamatkan sekolah menengah atas pada 1979.

Pada 1982, Obama mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Kenya. Kematian ayahnya begitu memukul dirinya dan membawanya dalam sebuah belenggu. Nyatanya, dia hanya sekali melihat ayah­nya sejak kedua orangtuanya bercerai, ke­tika Barack berusia sepuluh tahun.

Seiring meningkatnya popularitas secara nasional, Barack menuliskan riwayat dan pandangan hidupnya Dreams from My Father adalah karya pertamanya, sedangkan buku dalam genggaman Anda ini adalah yang kedua. Dalam buku ini, dia menyampaikan berbagai hal. Mulai dari kehidupan pribadi (satu bab khusus membahas saat dia tinggal di Jakarta), dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. Di tengah-tengah amukan dan serangan publik dunia terhadap ketidakbecusan Bush memimpin Amerika, lahir seorang heal-maker (pemimpin yang merangkul) sekaligus deal-maker (seorang yang mampu menjawab persoalan-persoalan praktis).

Dia muncul secara tak terduga dan da­lam waktu relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru. Selamat menyelami dunia pikiranObama!(*)

sumber: bukukita.com

















Sang Senator Harapan Amerika
Dalam buku teranyarnya ini, Obama mampu membahasakan politik yang berat menjadi ringan. Pilihan katanya tertata dengan ting­kat penghayatan yang masuk ke jiwa dari topik-topik yang dibahas. Sebagai penulis Obama berhasil menyihir publik Amerika untuk menyelami pikiran dan sikapnya
(Moh.Samsul Arifin, Jawa Pos-2007)

NAMA yang satu ini akan selalu menghubungkan Indonesia dengan Amerika Serikat. Ada dua alasan mengapa dia "terhubung" dengan Indonesia. Pertama, pernah tinggal di Indonesia selama 3,5 tahun antara 1967 hingga 1971. Kedua, tokoh ini mewakili tradisi baru dalam politik Amerika dengan pikiran dan sikap politik moderat dan lincah. Maklum, dia secara genealogis mewarisi per-silangan ras kulit hitam (ayahnya berasal dari Kenya, Afrika) dan ras kulit putih (sang ibu berasal dari Kansas City, Amerika).

Berafiliasi dengan Partai Demokrat, ia memiliki pandangan-pandangan yang terbilang moderat: membelah konservatisme dan progresivisme politik Amerika, sekaligus memakai keduanya secara kontekstual. Jalan moderat yang dipilihnya itu memberi harapan kepada warga Amerika menapaki jalan sejarah tanpa teror dan lepas dari kebijakan yang mendorong terbitnya teror dan kekerasan baru. Dan harapan itu mekar pada ma-syarakat Indonesia, yang kebetulan pernah mengenalnya sewaktu sekolah di SD 1 Menteng serta mereka yang mendamba adanya perubahan mendasar kebijakan luar negeri Amerika pada Indonesia.

Sang pemilik nama, Barack Obama atau Barry — demikian pang-gilan kawan-kawan sekelasnya di SD 1 Menteng Jakarta— adalah nama yang menjulang tinggi menjelang pemilihan presiden AS, No­vember 2008. Di samping Hillary Clinton, putra pasangan Barack Hussein Obama Senior Ann Dunham ini adalah kandidat serius capres Partai Demokrat pada Pilpres 2008. Obama dan Hillary kini bersaing ketat dalam konvensi di Par­tai Demokrat. Lihatlah popularitas Obama dan bekas first lady AS (1992-2000) di kalangan Afro-Amerika. Kalangan ini termasuk kantong suara Bill Clinton dalam Pilpres 1992, momen manis Partai Demokrat ketika menggangsir Par­tai Republik dari Gedung Putih.

Hasil jajak pendapat ABC News/ Washington Post menunjukkan terjadi perpindahan "suara" (ingat ini bukan electoral vote) kepada Oba­ma dan Hillary. Di awal Maret lalu, Hillary yang mengincar sejarah menjadi presiden perempuan pertama dalam sejarah AS mengatasi Obama dengan perolehan suara 36 persen berbanding 24 persen. Survei terakhir Washington Post, masih dalam Maret 2007, memperlihatkan kenaikan popularitas Obama, de­ngan perbandingan 44 persen untuk Obama dan 33 persen untuk Hillary. Akhir April 2007, Hillary unggul kembali dengan selisih tipis. Diperkirakan persaingan Obama dan Hillary akan terus sengit, hingga konvensi di Demokrat rampung enam bulan menjelang Pilpres 2008. Spekulasi yang berkembang, jika Obama kalah, dia bakal tetap maju dalam Pilpres 2008 sebagai cawa-pres Hillary Clinton
.
Setamat dari pascasarjana Har­vard Law School pada 1991, Oba­ma menjadi senator di negara bagian Illinois selama delapan tahun. Setelah itu, 2005, dia terpilih se­bagai senator di tingkat federal mewakili Illinois yang berkedudukan di Capitol Hill, Washington DC. Di Senat, tokoh kelahiran Ho­nolulu 4 Agustus 1961 ini duduk sebagai anggota Komisi Hubungan Luar Negeri, Masalah-Masalah Veteran, Kesehatan, Pendidikan, Buruh, Pensiunan, Keamanan Da­lam Negeri dan Pemerintahan. Rekam jejak Obama boleh dibilang lengkap di jalur legislatif, tapi tidak di eksekutif sebagaimana Bill Clinton dan George Walker Bush pernah menjadi gubernur Arkansas serta Florida sebelum memerintah AS.

Buku Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih ini diterjemahkan dari The Audacity of Hope, yang bertengger pada daftar buku terlaris versi harian The New York Times. Semi-otobiografi ini mempertegas kepiawaian Obama sebagai penulis andal yang kebetulan berkiprah di jalur poli­tik. Dalam buku teranyarnya ini, Obama mampu membahasakan politik yang berat menjadi ringan. Pilihan katanya tertata dengan ting­kat penghayatan yang masuk ke jiwa dari topik-topik yang dibahas. Sebagai penulis Obama berhasil menyihir publik Amerika untuk menyelami pikiran dan sikapnya.

Kecuali menjadi simbol berseminya harapan warga Amerika, adakah tawaran baru dari Obama? Apa komentar Obama atas sepak terjang Bush ? Obama bersetuju dengan ke­bijakan Bush yang menyerang Ta-liban untuk memburu Osamah bin Laden, akhir 2001. Sebutnya, "Awal yang baik oleh pemerintah, pikir saya mantap, terukur, dan cerdas dengan jumlah korban yang sedikit." Namun, Obama tak dapat menyaksikan harapannya diwujudkan Bush. "...Saya menunggu-nunggu apa yang saya duga akan menyusul: kebijakan yang tidak hanya akan menerapkan perencanaan militer, operasi intelijen, dan pertahanan dalam negeri kita dalam menghadapi jaringan teroris, tapi juga akan membangun sebuah kon-sensus internasional baru di sekitar tantangan terhadap ancaman ancaman transnasional" (hhn.62).

Sebaliknya, menurut Obama, Bush meracik kebijakan-kebijakan yang sudah kuno yang diangkat, disatukan, dan dibubuhi label-label baru. "Kerajaan Setan" pada masa Ronald Reagen kini menjadi Poros Setan. Doktrin Monroe versi Theo­dore Roosevelt, yakni gagasan bahwa Amerika dapat menggeser pe-merintahan yang tak disukai secara pre-emptif, kini diganti doktrin Bush. Tindakan pre-emptif itu di-perluas Bush dari belahan dunia Barat ke seluruh dunia. Doktrin pre-emptif yang diperluas itu dide-monstrasikan secara sangat buruk saat Bush menggulingkan Saddam Hussein pada 2003. Bush juga me-rekayasa opini warga Amerika sehingga 66 persen yakin bahwa Saddam terlibat dalam serangan 11 September 2001
.
Obama sependapat dengan analis yang menyebut Saddam me­miliki senjata kimia dan biologis serta mendambakan senjata nuklir. Namun, ujar Obama, apa yang ti­dak dapat saya dukung adalah "se­buah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melainkan nafsu, yang bukan didasari prinsip melainkan oleh politik." Obama percaya politiklah yang akan me-nyelesaikan persoalan di Irak. Karena itu, bagi Obama, sudah waktunya untuk memulai fase penarikan pasukan AS dari Negeri 1001 Malam tersebut. Namun, apa harapan Obama itu manifes dalam kebijakan Bush soal Irak? Sekali lagi, hampir pasti tidak.

Pada 1 Mei lalu, Bush memveto RUU yang antara lain mengatur batas waktu penarikan pasukan AS antara 1 Oktober 2007 hingga Ma­ret 2008. Sebuah rancangan yang juga berisi rencana anggaran pe­rang sebesar 124 miliar dolar AS. Bush belum mau menyudahi pe­rang di Irak yang sudah menelan 3.500 tentara AS. Tapi, jangan bayangkan Obama selalu seturut dengan perspektif populis. Dalam banyak kasus, dia sekadar memodifikasi dan bahkan mengamini kebijakan sejumlah presiden AS. Akan diuji seberapa bernas visi politik, ekonomi, hingga pertahan­an dan keamanannya yang bermanfaat bagi dunia jikalau dia betul-betul maju dalam Pilpres 2008 dan terpilih sebagai presiden pertama AS dari kulit hitam. (*)


Moh. Samsul Arifin
Pencinta buku dan jurnalis televisi, tinggal di Jakarta.

Thursday, January 24, 2008




















Barack Obama,
Superstar Politik Jalan Tengah

Oleh : Rizal Mallarangeng

Setiap generasi di Amerika Serikat tampaknya selalu memunculkan seorang superstar politik. Kali ini Barack Obama, 45 tahun, yang tampil mengisi peran itu. la muncul secara tak terduga dan dalam waktu relatif singkat mampu mengubah peta politik, menumbuhkan harapan dan gairah baru
(Rizal Mallarangeng, Koran Kompas-2007).


Demokrasi Amerika men­jadi semakin hidup. Hillary Clinton telah membuka kemungkinan bagi se­buah sejarah baru, presiden perempuan pertama di negeri Paman Sam. Kini Obama juga menjanjikan hal yang sama: presiden kulit hitam pertama di negeri yang sama.

Konvensi Partai Demokrat dan pemilu presiden memang masih setahun lagi, tapi sejak saat ini pun daya tarik kompetisi politik yang dilakoni oleh tokoh-tokoh menarik dan berbakat (di Partai Republik ada Rudy Gulliani, pah-lawan peristiwa 9/11, dan John McCain, pahlawan Perang Viet­nam) sudah mulai mencuri perhatian publik.

Di kalangan Partai Demokrat sendiri, kemunculan Obama tak urung membuat kubu Hillary Clinton kalang kabut. Semula se­nator dari New York dan mantan First Lady ini dianggap sebagai kandidat terafas. Akan tetapi, sekarang posisi itu mulai goyah, dan momentum politik beralih ke Obama.

Obama yang melewati masa kecilnya di Indonesia ini (dia menyebut dirinya sebagai Jakarta's street kid) sekarang sedang menunggangi gelombang pasang yang terus membawanya ke po­sisi yang semakin tinggi. Di mana letak kekuatan superstar baru ini?

Sama dengan Bill Clinton dan Ronald Reagan sebelumnya, Obama memiliki kemampuan se­bagai orator dengan pribadi yang karismatik. Kefasihan dan caranya berbicara, tekanan suaranya, tatapan matanya, gerak tubuhnya: semua elemen-elemen dasar ini saling memperkuat dan me­munculkan citra seorang pemimpin yang sungguh-sungguh, kredibel, menawan, dan membangkitkan simpati serta harapan sekaligus. Kekuatan karisma inilah yang melebutkan kritik yang banyak ditujukan terhadapnya sebagai seseorang yang masih hijau dalam panggung pemerintahan

Selain itu, pengalaman hidupnya juga merupakan manifestasi The American Dream itu sendiri. Sama seperti Colin Powell, dari keluarga menengah bawah Obama berhasil meniti tangga sukses menjadi senator kulit hi­tam ke-3 dalam sejarah AS, setelah sebelumnya menjadi dosen di Universitas Chicago, senator di Negara Bagian Illinois, dan pre­siden dari jurnal bergengsi, Har­vard Law Review, sewaktu ia ma­sih belajar di Universitas Har­vard, salah satu perguruan tinggi terbaik di AS. Publik Amerika mudah jatuh hati pada cerita'sukses semacam ini, apalagi oleh seorang anak muda kulit hitam yang tak suka mengeluh dan menyalahkan situasi di sekelilingnya, termasuk sejarah perbudakan di Amerika.

Penulis Besar

Tidak kurang dari semua kelebihan yang dimilikinya, daya tarik Obama terletak pada ide-ide yang dilontarkannya dan kemampuannya sebagai seorang penulis. Memoar yang ditulisnya sepuluh tahun lalu, Dreams from My Father, tentang masa kecilnya hingga menyelesaikan kuliahnya, tentang keluarga dan lingkungan dekatnya di Chicago, kini menjadi bestseller dan oleh kolumnis terkenal majalah TIME, Joe Klein, dianggap sebagai salah satu memoar terbaik yang pernah ditulis seorang politisi Amerika. Dengan memoar semacam ini, jika Obama tidak meniti karier di du­nia politik, barangkali ia tetap bisa tumbuh dan mengukir nama harum sebagai salah satu penulis besar Amerika.

Bukunya yang terbaru, The Audacity of Hope, dalam waktu singkat juga telah menempati po­sisi bestseller. Sama dengan Dreams, dalam buku ini kita bisa melihat betapa Obama memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap dimensi-dimensi manusiawi dari setiap persoalan yang ditemuinya. Ia sabgat peka terhadap ironi dan tragedi dalam interaksi sosial, serta mampu menceritakan semua itu dalam penuturan yang sederhana namun cerdas dan mengalir mengenai orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya
.
Namun, berbeda dengan buku sebe­lumnya, kali ini Obama menulis ten­tang dunia kebijakan, politik, masalah sosial, agama, hingga hubungan internasional. la menulis dengan mata yang tertuju pada Gedung Putih, dan karena itu menawarkan sebuah platform ke­bijakan dari seorang kandidat presiden. Dan, dalam melakukannya, ia tidak terjebak dalam analisis-analisis yang kering, tetapi membingkainya dengan anekdot, cerita, dan ungkapan-ungkapan yang memberi jiwa pada analisis-analisis tersebut.

Di situlah terletak salah satu kekuatan buku ini. Setiap persoalan politik atau isu kebijakan selalu dimulai dan diakhiri de­ngan cerita tentang manusia, ten­tang kepedihan dan harapannya, tentang kekuatan dan kelemahannya. Di sini ia memperlihatkan bahwa dunia politik dan kebi­jakan tidak berada di ruang hampa, tetapi berhubungan langsung dengan nasib dan kehidupan manusia-manusia yang riil.

Politik Jalan Tengah

Dari segi substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Barack Obama bisa digolongkan sebagai politisi moderat dari tra­disi liberal Amerika. Atau secara lebih sederhana ia bisa disebut sebagai the third way politician, politisi jalan tengah dalam tradisi yang telah dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal inilah yang membedakan Obama dengan banyak politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrem, baik di kiri (Jesse Jack­son) maupun di kanan (Alan Keyes).

Dalam membangun ekonomi Amerika, ia mengakui pentingnya peran mekanisme pasar, namun ia tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam kehidupan keagamaan, ia bisa bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia mengerti betul bahwa tradisi sekularisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus-menerus diperkuat. Dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin mem­bangun a vital center, sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang bertentangan.

Hampir dalam setiap isu, hal semacam itulah yang kita temui dalam buku setebal 375 halaman ini. Intuisi Obama adalah mencari moderasi dan jalan tengah. la ingin merangkul sebanyak mungkin kalangan. Untuk itu, ia bahkan sanggup mencari kebenaran pada lawan-lawan politiknya dan mengakui bahwa kaum Re­publikan seringkali memiliki pandangan yang lebih baik.

Kaum pengkritik Obama barangkali dapat menemukan titik lemah dalam pandangan dan intuisi seperti itu. Sebagian orang bisa berkata bahwa intuisi demikian sudah menjadi sebuah obsesi. Sementara sebagian lagi dapat menuduh bahwa jalan tengah bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan sebuah pelarian, se­buah jalan pintas untuk menghindari [ilihan-pilihan sulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.

Kritik demikian cukup mengandung kebenaran. Namun, satu tu hal yang jelas: Obama bukanlah seseorang yang tidak mampu menghadapi pilihan-pi-lihan sulit dan selalu menghindari risiko. la adalah salah satu dari sedikit politisi yang secara tegas menentang tindakan Bush di Irak yang waktu itu sangat populer. Sekarang, setelah Perang Irak dianggap gagal, hampir semua orang mengecam Bu­sh—tetapi pada saat awal, Obama imengambil risiko besar dengan memilih untuk melawan arus.

Adapun mengenai j alan tengah •sebagai proposisi kebijakan, barangkali memang saat ini Ame:rika lebih membutuhkannya. Sejarah melahirkan aktor-aktornya sendiri. Setelah zaman Bush, Amerika sekarang dahaga akan datangnya seorang pemimpin yang merangkul, seorang heal-maker, seorang yang sanggup membangun jembatan bagi begitu banyak perbedaan yang ada.

Tentu saja, politisi yang piawai harus mampu menjawab persoalan-persoalan praktis. Seorang heal-maker harus juga sanggup menjadi seorang deal-maker. Tanpa itu, ia hanya akan menjadi seorang nabi, bukan pemimpin pemerintahan. Karena itu, yang paling penting adalah akal sehat dan kemampuan untuk melihat fakta sebagaimana adanya

Jalan tengah sebagai sebuah proposisi kebijakan dalam praktiknya ternyata sangat fleksibel. Seperti yang bisa dilihat pada pemerintahan Bill Clinton dan Tony Blair, ia terkadang bergeser ke kanan dalam isu-isu ekonomi karena memang tidak ada lagi pilihan yang lebih baik dalam mengatasi persoalan-persoalan praktis untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat di zaman ini. Barack Obama pun akan melakukan hal itu jika ia memang menang dalam pemilu tahun depan. Dan mungkin, kalau membaca tulisan-tulisannya, ia akan melakukannya dengan lebih baik dan simpatik.

Apa pun, cerita tentang Obama masih akan panjang. Untuk saat ini kita patut memberi selamat kepada publik Amerika. Negeri mereka seolah tidak pernah berhenti melahirkan pemimpin berbakat yang penuh inspirasi. Mereka pantas bersyukur. Dan sebagai sahabat, dari jauh kita turut bertepuk tangan. .



















Obama, Dari Jakarta
Menuju Gedung Putih

Oleh Muhammad Ja'far
Peneliti Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Jakarta

JUDUL BUKU :
The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream.
(Barack Obama Menerjang Harapan: Dari Jakarta menuju Gedung Putih)
PENULIS
: Barack Obama
PENERBIT :
UFUK, Jakarta
CETAKAN :
I, April 2007
TEBAL
: 526 halaman

Bagi publik AS, buku ini ibarat media untuk mengenali Obama secara lebih konkret dan komprehensif. Baik pribadi maupun visinya. Bahwa buku ini merupakan salah satu media Obama dalam berkampanye, jelas hal itu tidak dapat dipungkiri (Media Indonesia)

Panggung politik Amerika Serikat (AS) menyuguhkan sebuah fenomena anyar. Terutama terkait dengan agen­da pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) mendatang. Yaitu munculnya dua calon presiden (capres) yang kehadirannya akan menorehkan fakta baru dalam sejarah politik 'Negeri Paman Sam' tersebut. Keduanya sama-sama berasal dari Partai Demokrat dan akan bersaing menjadi capres dari partai ter­sebut di ajang pemilihan presiden nanti.

Tokoh capres yang pertama adalah Hillary Clinton. Jika berhasil tampil sebagai presiden AS, istri mantan Presiden AS terdahulu, Bill Clinton, itu akan menjadi presiden perempuan pertama di AS. Adapun capres yang kedua kini popularitasnya demikian meroket, yaitu Barack Obama. Tokoh yang satu ini de­mikian energik, relatif muda, namun sangat visioner dan matang. Nilai fenomenal Obama adalah pada fakta bahwa jika berhasil terpilih, Obama akan men­jadi presiden pertama AS dari kalangan kulit hitam. Cukup fenomenal dan fantastis.

Fenomena di atas demikian menarik, karena mengindikasikan geliat baru dalam jagat politik AS. Lalu, fakta politik apa yang dapat kita tafsir di balik feno­mena baru tersebut ? Munculnya sosok Hillary, dalam perspektif tertentu, dapat diinterpretasikan sebagai indikasi kerinduan rakyat AS pada kelembutan sentuhan 'feminimitas' dalam jagat politik negeri mereka. Sebab secara faktual, di bawah kepemimpinan George W Bush dua periode terakhir ini, AS benar-benar menampakkan wajah politik 'maskulinnya': garang, keras, dan cenderung akrab dengan pendekatan militeristik.

Lalu, tafsir apa yang bisa diajukan untuk memahami fenomena Obama? Sederhananya, apa daya tarik utama seorang Obama? Untuk memahami feno­mena Obama, tentu ada banyak sudut pandang yang bisa digunakan. Dan sangat mungkin sekali, kesimpulan yang didapat tidak sama. Atau mungkin saling melengkapi dan saling mendukung. Satu dari beberapa perspektif yang bisa digunakan mungkin bisa didapat dengan menjadikan buku karya Obama yang diterbitkan penerbit Ufuk ini sebagai peta petunjuk. Sebab dengan meninjau bukunya, kita bisa mendapatkan beberapa informasi, persepsi serta perspektif tentang si penulis yang bernama lengkap Barack Hussein Obama.

Judul asli buku ini adalah The Audac­ity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream. Pada edisi Indonesianya, dipilih judul Barack Obama: Menerjang Harapan; Dari Jakarta Menuju Gedung Putih. Secara kategoris, substansi buku ini dapat dipilah menjadi beberapa aspek:

Pertama, buku ini semacam memoar sang penulis, yang di dalamnya ia menuturkan sebagian dari kisah perjalanan hidupnya. Obama menuliskan bagian ini dengan cukup baik. Gaya tuturnya perlahan-perlahan, namun menyiratkan kepastian yang mendalam. Dalam menceritakan relung terdalam dari ruang pribadinya, tampak sekali bahwa sosok yang satu ini jauh lebih matang daripada umurnya. Yaitu bagaimana statusnya sebagai seorang suami bagi Michelle, sang istri; perannya bagi anak-anaknya, serta juga posisinya di antara keluarga besarnya.

Satu hal yang cukup menarik dari kehidupan Obama adalah fakta bahwa ia pernah berdomisili di Jakarta, Indonesia. Tepatnya di daerah Menteng selama kurang lebih empat tahun. Ketika itu Obama berusia 6 tahun. Ibunya bercerai dan kebetulan menikah kembali dengan pria Indonesia yang bersekolah di AS dan keduanya kemudian pindah ke Jakarta.

Pada awal bab buku ini, di bawah ju­dul 'Dunia di Luar Tapal Batas Kita', para pembaca disuguhkan dengan cerita pertualangan Obama kecil bersama-sama teman Indonesianya. Secara lebih luas, Obama kemudian merefleksikan pengalamannya semasa di Indonesia, dengan sebuah pandangan yang cukup mendalam dan matang. Di sini, kekuatan refleksinya tampak jelas.

Kedua, selain sebagai guratan kenangan akan perjalanan hidupnya, buku ini juga merupakan dokumentasi atas hasil refleksi Obama dalam menyikapi berba­gai problematika yang dihadapi serta harapan yang didambanya. Buku ini secara umum merupakan hasil refleksi atas tiga dimensi kehidupannya; perta­ma, dimensi kehidupan pribadinya. Ke­dua, dimensi pada tingkat negara. Hasil refleksi Obama atas berbagai fenomena yang dihadapi dan dilihatnya di negaranya. Baik mencakup aspek sosial, budaya, politik, dan juga ekonomi. Ketiga, dimensi pada tingkat global. Wawasan globalnya cukup luas dan relatif tidak terlalu dangkal. Kita dapat melihat ketajaman visi tokoh muda itu dalam me­mahami dan menyikap fenomena global dengan berbagai problematika yang diidapnya.

Ketiga, pada saat yang sama, sebuah memoar dan catatan reflektif seseorang, mencakup juga di dalamnya sebuah garis visioner dari pandangan atau pemikiran-pemikirannya. Baik mencakup sa­tu aspek kehidupan, maupun beragam.di buku ini, baik langsung maupun tidak, kita akan menangkap visi obama tentang tata kehidupan bernegara, berbangsa, dan juga tata kehidupan pada tingkat global. Bagaimana Obama me­lihat dan memahami berbagai persoalan tersebut serta apa solusi yang ditawarkan. Buku ini sedikit banyak akan memberikan kita jawaban.

Dengan melongok pada kedalaman buku ini, salah satu kesan yang dapat kita tangkap tentang penulisnya adalah bahwa ia seorang politisi yang visioner, berwawasan luas, dan menganut pan­dangan politik yang bisa dikategorikan moderat. Di sini Obama mengangkat berbagai isu dan tema, mulai dari politik, sosial, ekonomi, budaya hingga persoalan keagamaan. Obama lalu me-lontarkan pemahaman, pandangan, serta visinya tentang persoalan-persoalan tersebut. Namun menariknya, Obama mengemas semua itu dalam bentuk narasi yang cukup ringan, namun sebenarnya memiliki bobot intelektual yang mendalam. Sehingga secara tidak langsung, pembaca diajak berkenalan de­ngan pikiran dan sikap-sikap si penulisnya.

Bagi publik AS, buku ini ibarat media untuk mengenali Obama secara lebih konkret dan komprehensif. Baik pribadi maupun visinya. Bahwa buku ini merupakan salah satu media Obama dalam berkampanye, jelas hal itu tidak dapat dipungkiri. Tapi lebih dari itu, buku ini adalah sebuah karya intelektual. Pandangan-pandangan yang dituliskan di dalamnya, bukan pada level rendah sebuah kampanye murahan. Setidaknya, jika ini dianggap sebagai cara seseorang untuk memperkenalkan atau mempromosikan dirinya secara politis. Maka Obama telah melakukannya dengan cara yang sangat elegan, meyakinkan, dan menyiratkan kapasitas intelektualnya yang memadai. Bekal intelektualitasnya, menempatkan Obama sebagai bukan sekedar politisi yang hanya sekedar terobsesi dengan kekuasaan

Tuesday, December 25, 2007



Otobiografi dan Percikan Pemikiran Obama

Judul buku : Menerjang Harapan, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih
Penulis : Barack Obama
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : 526 halaman

Dengan prestasi itu, Obama ingin meraih harapan lebih tinggi untuk menjadi orang nomor satu di AS. Dengan latar belakang perpaduan dua ras dalam diri Obama, dia menjual visi (pernah dilontarkan saat tampil di Konvensi Nasional Partai Demokratr 2004) yang ternyata mengundang rasa simpati, "Tak ada orang Amerika hitam atau Amerika putih, orang Amerika Latino atau Amerika Asia -yang ada hanya Amerika Serikat" (etalasebuku.com)

SETELAH menduduki jabatan sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara Bagian Illinois dan berkantor di Capitol Hill, Washington DC (tahun 2005), nama Barack Obama mulai diperhitungkan di kancah politik Amerika Serikat. Ia boleh dibilang sukses meniti karir dengan gemilang, tercatat sebagai senator kulit hitam kelima dalam sejarah AS, kritis terhadap pemerintahan Bush, dikenal peduli dengan masalah kesejahteraan sosial rakyat miskin dan pendidikan anak. Tak salah, jika nama Obama semakin bersinar terang dan dikenal luas oleh rakyat Amerika bahkan dunia internasional.

Tapi, sinar terang itu tampaknya belum membuat Obama puas. Dia pun kemudian menggebrak gelanggang perpolitikan Amerika Serikat untuk jabatan politik lebih tinggi dengan "mengumumkan diri" sebagai calon presiden dari partai Demokrat di dalam pemilihan presiden AS pada 2008. Meski dari hasil jajak pendapat, tingkat popularitas Obama masih berada di bawah senator Hillary Clinton (calon terkuat dari partai Demokrat) sekitar 8-10 persen, tapi ia tetap berani menerjang harapan.

Buku Menerjang Harapan; Dari Jakarta menuju Gedung Putih ini, selain mengisahkan tentang riwayat hidup Barack Obama sejak kecil (yang sempat tinggal di Indonesia), perjuangannya menangani hak-hak sipil, perjalanan politik jadi senator, pandangan Obama tentang masalah politik, agama, sosial hingga dunia internsional dan alasan kenapa ia terjun ke dunia politik bahkan mencalonkan diri sebagai calon presiden. Tak pelak lagi, jika buku ini bukan sekadar outobiografi, melainkan juga sebuah atribut kampanye dari Obama.

Lahir di Hawai, 4 Agustus 1961 dari pasangan Barack Husein Obama Senior (seorang penganut Muslim dari Kenya) dengan Ann Dunham (wanita kulit putih dari Kansas) Obama tumbuh dalam kabut dua warna kulit, juga gunjang-ganjing rumah tangga yang tidak benderang. Kedua orangtua Obama bercerai saat ia berusia 2 tahun. Ibu Obama lantas menikah dengan orang Indonesia, Lolo Soetoro. Konsekuensi itu membuat Obama yang saat itu berusia 6 tahun (pada 1967) hijrah ke Indonesia.

Tak pelak Obama pun sempat mengenyam pendidikan di Jakarta, di SD Franssiscus Assisi dan SDN Menteng dengan riuh duka dan kenangan yang sampai kini masih tak terlupakan. "Tak punya uang masuk sekolah international, saya masuk sekolah lokal dan bermain dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit dan juru tulis," kenang Obama (hal. 37). Sewaktu ekonomi ayah tirinya membaik, selepas dari angkatan bersenjata lalu bekerja di perusahaan minyak Amerika, dia baru menikmati jok empuk sedan. Tetapi hal itu tak berlangsung lama karena tahun 1971, ibunya mengirim Obama ke Hawai untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Setahun kemudian, ibu dan adik tirinya menyusul (hal 39).

Di sana, Obama menghabiskan masa remaja hingga lulus pendidikan SLTA. Selepas SLTA, dia kuliah di Columbia University, New York City dan sempat bekerja di bursa saham, di Wall Street. Tahun 1985 ia bergabung di community organizer (di Chicago). Dia bertemu dengan Michelle tahun 1988 ketika keduanya bekerja di Sidley & Austin kemudian menikah, dan kini, sudah dikaruniai dua putri, Malia dan Sasha. Setelah Obama berhasil menamatkan pasca sarjana di Harvard Law School (1991), dia terjun ke dunia politik.

Awalnya ia terpilih sebagai senator di Negara Bagian Illinois. Setelah berkantor selama delapan tahun di Chicago, tahun 2005 ia terpilih sebagai senator tingkat federal mewakili Negara Bagian Illinois, di Capitol Hill, Washington DC. Kini, tahun 2007, dia menerjang harapan mencalonkan diri sebagai calon presiden AS dari partai Demokrat yang akan digelar pada 2008. Apakah Obama bisa menerjang harapan itu? Hanya sejarah yang nanti bisa menjawab!

Tapi sebagai senator dan calon presiden AS, Obama bukanlah seorang politisi yang tidak punya nilai jual. Selama delapan tahun di Senat Negara Bagian Illinois, prestasi Obama juga tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan getol ia telah memperjuangkan program kesejahteraan sosial bagi rakyat miskin, perluasan program pendidikan anak dan dikenal cukup menggebu-gebu memperjuangkan undang-undang etika politik yang kerap menjadi celah untuk sebuah skandal korupsi. Lebih dari itu, dia sempat menjadi anggota di sejumlah Komisi yang tidak bisa anggap tanpa prestasi.

Dengan prestasi itu, Obama ingin meraih harapan lebih tinggi untuk menjadi orang nomor satu di AS. Dengan latar belakang perpaduan dua ras dalam diri Obama, dia menjual visi (pernah dilontarkan saat tampil di Konvensi Nasional Partai Demokratr 2004) yang ternyata mengundang rasa simpati, "Tak ada orang Amerika hitam atau Amerika putih, orang Amerika Latino atau Amerika Asia -yang ada hanya Amerika Serikat." (hal. 196-197). Dengan visi itu Obama ingin membawa AS ke arah yang dicita-citakan pendiri bangsa AS. Karena ia mencintai AS! Ia berharap, dengan sumbangan yang diberikan, AS menjadi yang lebih baik!

Buku yang aslinya berjudul The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaiming the Amirican Dream ini tak dapat disangkal lagi, meski merupakan kelanjutan dari buku pertama Obama Dream My Father; A Story of Race and Inheritance yang ditulis sekitar sebelas tahun lalu, tetap tidak bisa dilepaskan sebagai 'obor perjuangan politik' Obama untuk mewujudkan harapan itu. Memang pada satu sisi, buku ini adalah atribut kampanye Obama tapi di sisi lain tetap sebuah perjalanan hidup sang fajar baru bernama Obama sebagai pemimpin masa depan Amerika yang bisa ditepis menginspirasi sejuta orang.

Karena, di buku ini ia menjelaskan pandangan politik baru yang menggali pemahaman bersama yang bisa menyatukan warga Amerika dengan tanpa memandang ras dalam memberi penilaian terhadap seseorang. Sebuah keberanian yang bisa meneteskan harapan akan masa depan AS sebagai bangsa dan polisi dunia. (n mursidi adalah alumnus Filsafat UIN Yogyakarta)

Diposting oleh n mursidi di 03:05



Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes