Showing posts with label 7.1.Blog - Ufuk. Show all posts
Showing posts with label 7.1.Blog - Ufuk. Show all posts

Thursday, May 03, 2012

Siklus Rezeki



Judul buku: Siklus Rezeki dengan Metode Silva
Penulis: Rd. Lasmono Abdulrify Dyar
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Tahun: I, Juli 2011
Tebal: 422 halaman
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

“Setiap diri atau individu sebenarnya telah dibekali kekuatan hebat dan luar biasa, namun selama ini diabaikan oleh sebagian orang. Selama ini pula, manusia hanya mengagungkan penggunaan otak kiri dan mengabaikan otak kanan sehingga mengakibatkan ketimpangan hidupnya.” begitulah ujar Jose Silva, sang penemu ilmu baru: psychorientology.
Perbincangan perihal keistimewaan otak kanan dibanding otak kiri rasanya semakin mendapat tempat banyak akhir-akhir ini. Banyak penemuan yang dihasilkan oleh para ahli (psikologi) yang menjelaskan pentingnya memaksimalkan peran otak kanan dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi, sederet kelatahan banyak teori yang ditemukan itu, terdapat penemuan yang layak untuk dijadikan referensi utama. Yakni bagaimana cara memosisikan otak kanan dalam kondisi Alpha. Dengan Alpha, sesuai penelitian yang dikembangankan oleh Silva, manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusi seutuhnya. Implikasi dari kondisi ini adalah membawa seperangkat situasi yang tenang dan damai. Pikiran akan jauh lebih jernih dan merasakan kenyamanan yang menakjubkan. Bahkan segala bentuk macam rasa frustasi dan stres mampu dinetralisasi oleh gelombang Alpha ini. Kondisi Alpha sendiri bisa ibaratkan ketika manusia sedang dalam keadaan santai (rileks). Secara ilmiah, Alpha terletak pada gelombang dengan frekuensi di bawah 15 Hertz pada ukuran EEG (Electro Enchephalo Graph).
Prestasi besar Silva adalah kemampuannya dalam menemukan teknik khusus atau menciptakan sistem yang dapat mengkondisikan seseorang berada pada tingkat kesantaian atau Alpha. Mula-mula penemuan ini dia kembangkan kepada anak-anaknya untuk menguasai mata pelajaran sekolah. Silva kemudian menyuruh mereka memejamkan mata. Setelah melalui teknik khusus ala Silva, dan dirasa sudah dalam tingkatan Alpha, Silva lalu membacakan materi pelajaran mereka. Awalnya memang persentase (hasil) daya ingat akan materi itu hanya terserap sekitar 15 persen saja oleh anak-anaknya. Namun, kegiatan itu secara bertahap terus dilangsungkan dalam beberapa hari dan jam. Walhasil, dalam tempo 21 hari, daya ingat serta intuisi mereka melejit. Materi pelajaran yang ditanyakan oleh Silva, dijawab oleh mereka dengan tepat. Bahkan, si anak mampu menebak pertanyaan yang akan diiajukan oleh ayahnya sebelum pertanyaan diajukan pada mereka.
Keunggulan Metode Silva dengan metode yang sejenis terletak pada sisi penerimaan secara luas, dengan artian mmapu diterima dan dijalankan berskala internasional. Pun bersifat original, ilmiah, serta mencoba upaya pengembangan potensi manusia secara total. Sedangkan kebanyakan metode sejenis lainnya hanya bisa diterima pada level lokal semata. Kadang metodenya malahan hasil dari peniruan atau adopsi dari berbagai teori. Sebagian lagi berangkat atas label agama, aliran, atau kepercayaan tertentu. Dan, kebanyakan hanya berfokus pada satu bidang kehidupan saja: kesehatan atau relaksasi.
Jose Silva sendiri dilahirkan di Loredo, sebuah kota kecil di wilayah Texas, Amerika Serikat. Semenjak kecil, ia harus menjadi tulang punggung keluarganya karena ayahnya telah meninggal. Di usia 6 tahun, ia telah menjadi pengantar koran dan tukang semir sepatu. Namun, ada yang teristimewa dari sosok Silva ini. Yakni kemampuan intuisinya yang luar biasa semenjak kecil. Ia tak perlu mondar-mandir mencari pelanggan. Ia sudah tahu mana calon pelanggan yang akan meminta jasanya.
Narasi hidupnya kemudian berlanjut ketika ia mulai merintis usaha elektronik. Ketekunan belajar dan membaca buku-buku elektronik yang ia pinjam dekat tempatnya “mangkal”, membuat ia fasih tehadap bidang yang satu ini sampai akhirnya membuka tempat reparasi alat-alat elektronik bersama teman-temannya.
Ketika Perang Dunia II berkecamuk, Silva turut maju di medan pertempuran namun bukan mengangkat senjata, melainkan sebagai relawan rehabilitasi mental para prajurit Amerika Serikat. Berkat ‘faktor bawaan’ yang ia punyai berupa pengetahuan tentang psikologi, cara kerja Silva itu mengundang rasa decak kagum dari para prajurit perang. Bahkan para ahli psikologi yang tergabung dalam tim rehabilitasi turut senang melihat hal itu dengan memberikan buku-buku bacaan seputar dunia psikologi pada Silva sebagai bentuk apresiasi. Nah, dari situlah, dia memulai penyelidikan-penyelidikan terkait kejiwaan manusia.
Sebenarnya, gelombang Alpha telah ditemukan oleh Dr. Hans Berger pada tahun 1926 yang sempat membuat heboh dunia psikologi kala itu. Namun, pada tahun 1944 saat Silva beranjak di usia 30 tahun, ia terus-menerus mencoba mendalami gelombang tersebut serta mengembangkannya. Dan, sampai akhirnya dia menemukan sendiri teknik jitu untuk memasuki kondisi Alpha.
Buku ini bukanlah terjemahan dari karya Jose Silva, melainkan ditulis oleh trainer Silva bersertifikat asal Indonesia. Dengan kurang lebih 8000-an orang hasil didikannya, Rd. Lasmono Abdulrify Dyar berharap metode Silva ini bisa didapatkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak orang lagi. Oleh karena itulah beliau menulis buku tersebut. Fokusnya pada dunia satu ini sudah dijalani sejak 1983 silam. Di usianya yang sudah 85 tahun, semangat hidup serta produktivitasnya justru tidak mengendur. Berbagai jabatan prestisius telah didapatkannya serta ratusan karya tulis telah dihasilkannya. Tampaknya ada kesan kuat yang ingin beliau sampaikan: ini semua merupakan efek dari Metode Silva.
Buku ini disajikan dengan lengkap perihal perincian teknis dari Metode Silva itu sendiri. Bahkan disajikan secara gamblang dan sangat detail. Tahapan-tahapan yang diinstruksikan dalam metode ini di jelaskan dengan bahasa yang sederhana. Sehingga membuat masyarakat umum lebih mudah memahami serta mempraktikkannya.
Jose Silva dari kecil sudah terlahir dengan pribadi yang luar biasa. Di usia dewasanya, ia juga berhasil membuat penemuan hebat terkait aktivasi otak kanan. Dan sudah jutaan orang di seluruh dunia mengecap penemuannya itu. Walhasil, tidak ada salahnya, jika metode ini dijadikan referensi alternatif pengembangan otak kanan. Dan buku ini telah membuka jalan untuk menapakinya. Selamat membaca dan mencoba untuk mengoptimalkan hidup.

Sunday, October 18, 2009




Sebelum berita penangkapannya diberitakan di HU kompas , saya sama sekali tidak mengenal nama Victor Bout, yang saya kenal adalah Adnan Kashoggy, tapi rupanya era Adnana Kashoggy sudah lama memudar, digantikan oleh era Victor Bout ini(yang karena tertangkap, sudah bisa dipastikan eranya juga memudar), ketika disebutkan oleh HU Kompas bahwa film Lord of War yang dibintangi oleh Nicholas Cage ini diilhami oleh kisah nyata Victor Bout, saya langsung tertarik pada tokoh ini karena saya menyukai filam Lord of War ini.

ketika saya main ke Gramedia MTA malam minggu ini, saya melihat buku ini, penasaran dengan nama Victor Bout, saya baca sedikit pada buku yang sudah dibuka, ternyata mebat penasaran saya bertambah, langsung saya beli dengan bandrol Rp39.900. buku dengan jumlah halaman 229 ini saya baca tidak kurang dari 24 jam, tamat sudah. Malam saya baca sampe jam 2, bangun tidur jam 8 saya baca lagi sampe jam 2 siang.

Kenapa buku ini saya baca begitu cepat ? Karena jalinan cerita yang dijalin membuat saya penasaran membaca terus menerus membacanya, jalinan cerita dimulai dengan memceritakan pribadi Victor Bout yang sangat menawan untuk menarik perhatian kliennya, tetapi disamping pribadi yang menawan itu dia juga dikenal sebagai pribadi yang kurang baik oleh para pegawainya, Victor juga dikabarkan mematok harga yang sangat tinggi untuk sebuah senjata (saya jadi ingat pembelian tank Inggris yang dibeli oleh Indonesia dengan harga selangit lewat perantara pedagang senjata), tapi harga yang tinggi itu sepadan dengan pelayanan yang diberikan oleh Victor kepada para Klien nya.

Diceritakan juga bahwa Victor yang juga mantan anggota AU Uni Soviet ini (dia diduga adalah mantan KGB yang bekerja pada GRU(dinas intelijen militer Uni Soviet), semua GRU adalah KGB tapi tidak semua KGB adalah GRU) lewat maskapai cargonya bahkan dibayar oleh Pemerintah AS untuk menerbangkan senjata dan suplai bagi militer AS di Irak dan Afghanistan. Cerita pada buku ini ditutup dengan penangkapannya di Bangkok,
Thailand pada 6 Maret 2008.


Jalinan cerita yang dibuat oleh Haris Priyatna sangat menarik sekaligus sistimatis untuk menggambarkan betapa gigihnya sang Pedagang Kematian ini. Julukan pedagang Kematian sendiri diberikan oleh Peter Hain, Seorang Assisten Menteri untuk urusan Afrika, departemen Luar Negeri Inggris. Benar benar julukan yang sungguh romantik.oh yah, jangan samakan jalinan cerita film Lord of War dengan kisah nyata Victor Bout ini yah, memang benar benar beda kisah nyata dengan film, kisah nyata Victor hanya mengilhami saja pembuatan filam ini.

Saya rekomendasikan buku ini kepada Teman teman dengan dengan lima bintang.



Sunday, May 03, 2009


Oleh
Fenny Aprilia

Judul Asli : The Secret History of The American Empire; Economic Hit Men, Jakals and The Truth About Global Corruption
Penulis : John Perkins
Penerjemah : Wawan Eko Yulianto & Meda Satrio
Penerbit : Ufuk Press
Tebal Buku : xxvi, 465 halaman
Tahun Terbit : Cet. I, Maret 2009
ISBN : 602-8224-15-4


....melalui buku ini, Perkins tak lagi sekadar mengaku bahwa ia pernah menjadi serigala ekonomi; namun ia tetap melolong untuk mengajak seluruh umat manusia menjadikan bumi sebagai rumah yang nyaman bagi semua makhluk.
(Fenny Aprillia, HU Sinar Harapan, Mei 2009)

Publik dunia, di tahun 2004, terperanjat ketika John Perkins menerbitkan buku berjudul Confessions of An Economic Hit Man (CAEHM). Melalui buku tersebut, Perkins membeberkan kerjanya sebagai ekonom perusak yang menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara miskin. Ia menjadi salah satu aktor utama dalam proses penghisapan negara miskin melalui politik utang dan neoimperialisme.

Sejak buku itu terbit, Perkins pun kerap menerima ancaman pembunuhan dan tawaran uang jutaan dolar agar ia berhenti menulis dan berceramah tentang kejahatan korporasi internasional. Tapi, Perkins tak pernah mau bungkam. Ia tetap setia membongkar “tindakan kriminal” yang dilakukan oleh para agen ekonomi-imperialis. Keberhasilan luar biasa yang diperoleh CAEHM, membuat Perkins sering diundang untuk mengisi ceramah di berbagai tempat. Sambil berceramah, ia pun kerap melakukan dialog untuk menajamkan pemikiran kritisnya tentang kejahatan yang ditimbulkan globalisasi, utang internasional dan “kapitalisme-jubah-baru”. Katanya (hal:xxv), “Aku telah berjanji untuk menulis sebuah buku lagi, untuk menyoroti kerusakan yang ditimbulkan orang-orang sepertiku dan memberi harapan baru akan sebuah dunia yang lebih baik.” Dan benar saja, Perkins membuktikan janjinya di buku yang berjudul asli The Secret History of The American Empire dan terbit pertama kali tahun 2007.

Rasanya, tiap orang sepakat jika pemerintah Amerika Serikat (AS) tergambarkan dalam satu kalimat ini: “Pemerintah yang selalu membangun negeri dan memenuhi kesejahteraan rakyatnya sembari memicu keresahan, kekisruhan bahkan kemiskinan di seluruh dunia.” Kalimat tersebut muncul sebagai kesimpulan atas penjelasan Perkins tentang negeri yang dihuninya sejak lahir itu. Amerika Serikat, di mata Perkins, tengah giat bermetamorfosis menjadi sebuah Imperium.

Sembari mempromosikan buku CAEHM, sekitar tahun 2005-2006, Perkins pun rajin berdiskusi untuk memperoleh ciri-ciri dari sebuah Imperium. Ia berhasil memformulasikan ciri-ciri Imperium sebagai berikut: 1) mengeksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi, 2) menghabiskan sumber daya dalam jumlah yang tidak sebanding dengan populasi penduduknya, 3) memiliki militer yang canggih dan besar yang dapat digunakan ketika upaya mendominasi secara halus sebuah negara menemui kegagalan, 4) menyebarkan bahasa dan budaya ke seluruh penjuru negeri yang berada di bawah pengaruhnya, 5) menarik pajak bukan hanya dari warganya sendiri, tetapi juga dari orang-orang di negara lain, dan 6) mendorong penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.

Ciri-ciri dari Imperium itu memang tidak hanya mengarah kepada AS saja, sebab usaha mendirikan Imperium telah dilakukan oleh berbagai negara-bangsa sejak zaman dahulu. Perkins meyakinkan pembaca bahwa AS menggunakan kaidah Imperium itu dalam pengertian modern. Maka, kerja-kerja para “serigala ekonomi” merupakan bagian terpenting dalam episode pembangunan Imperium AS. Namun, ciri-ciri Imperium itu tidak berhenti pada enam bentuk saja. Ciri ketujuh ialah Imperium dipimpin oleh seorang penguasa atau raja yang menguasai pemerintahan dan memimpin rakyat secara absolut. Pemerintahan di AS boleh saja berganti ketika National Election dihelat tiap empat tahun sekali. Hanya saja, para korporasi tetaplah menjadi dalang untuk tiap kebijakan yang dilahirkan oleh presiden terpilih, entah itu berasal dari Partai Demokrat atau Partai Republik. Kekuasaan korporatokrasi yang menjadi ruh pemerintah AS tidak berbatas waktu. Selain itu, para korporasi kebal hukum dan tidak tunduk kepada kehendak rakyat.

Perkins (hlm 57-59) mengisahkan kegagalan dari korporasi yang berdomisili di AS. Misalnya, Stone and Webster Engineering Company (SWEC) yang mengalami kebangkrutan di tahun 2006. The Boston Globe edisi 15 Maret 2006 mengungkap kehancuran dari perusahaan yang berdiri sejak tahun 1889 itu karena adanya “memo kritis yang membeberkan suatu usaha rahasia perusahaan secara detail, yakni membayar suap senilai 147 juta dolar kepada seorang kerabat Presiden Soeharto untuk mengamankan kontrak terbesar sepanjang sejarah Stone & Webster.”

Perkins dalam CAEHM mengisahkan bahwa seorang petinggi SWEC, pada tahun 1995, pernah meminta pendapatnya tentang teknik memuluskan proses pembangunan kompleks pabrik bahan kimia di Indonesia. Perkins, yang ketika itu masih belum bertobat sebagai serigala ekonomi, mengajukan satu usul: “Suap.” Kemudian, ia menjelaskan bahwa Presiden Soeharto dan kroninya senang menerima suap dalam bentuk biaya pendidikan untuk anak-anaknya, tender dengan harga di luar batas normal, fasilitas mewah atau berdolar-dolar uang cash. Tak dinyana, usul Perkins—yang dijalankan oleh pihak SWEC itu—malah membuat korporasi berumur lebih dari seabad itu wafat.

Namun, masih begitu banyak korporasi yang hidup sampai kini dan mengancam kelestarian lingkungan hidup, mengacaukan kerukunan antar manusia hingga memiskinkan penduduk di suatu negara secara sistemik. Perkins tidak mengajukan usulan jalan kekerasan untuk menumbangkan Imperium AS yang dijalankan oleh korporatokrasi itu. Masih tersedia banyak jalan tanpa-kekerasan untuk melawan Imperium AS dan melindungi bumi dari kepunahan yang diakibatkan oleh korporatokrasi. Akhirnya, melalui buku ini, Perkins tak lagi sekadar mengaku bahwa ia pernah menjadi serigala ekonomi; namun ia tetap melolong untuk mengajak seluruh umat manusia menjadikan bumi sebagai rumah yang nyaman bagi semua makhluk.

Peresensi adalah alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Penerjemah dan penyunting buku lepas.




Copyright © Sinar Harapan 2003

Monday, January 19, 2009


20/01/2009 - 13:27

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa penerbitan buku memanfaatkan momentum pelantikan Presiden Barack Obama, Selasa (20/1), untuk meningkatkan penjualan buku-buku bermerek Obama.

Buku yang dirilis adalah buku yang ditulis langsung Presiden ke-44 Amerika itu ataupun berupa tulisan kompilasi atau kodifikasi dari berbagai sumber.

Penerbit Ufuk Press Jakarta, misalnya yang pertama kali menerbitkan buku Obama Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih terus membukukan penjualan dan pendapatan yang meningkat drastis.

"Kami yang pertama menerbitkan buku Obama. Saat itu memang risiko lumayan tinggi karena belum tentu Obama menang," ujar Mohammad Sadan, promosi Ufuk Press kepada INILAH.COM, Selasa (20/1).

Buku yang ditulis Obama, Menerjang Harapan, menurut Sadan, sejak pertengahan 2007 sudah dicetak sebanyak lima kali. Kemudian buku berupa kompilasi dari berbagai sumber yang mengangkat istri Obama Michelle Obama Lebih Pintar dari Obama juga sudah memasuki cetakan kedua.

"Total buku tentang Obama kami sudah cetak sebanyak 30.000 eksemplar," kata Sadan.

Sadan juga mengatakan, peningkatan yang sangat signifikan sudah dimulai sejak Obama secara definitif memenangi pemilihan Presiden Amerika. "Peningkatannya mencapai 70%," katanya.

Penerbit lain yang juga mendulang untung di tengah demam Obama adalah Mizan Pustaka. Penerbit yang berpusat di Bandung, Jawa Barat, ini bahkan sangat gencar menerbitkan buku yang berkaitan dengan Obama.

Mizan mencetak buku Barack Hussein Obama: Kandidat Presiden Amerika yang Punya Muslim Connection karya Anwar Holid, Obama, Tentang Israel, Islam, dan Amerika yang disusun Tim Hikmah, dan Jangan Bunuh Obama! yang ditulis oleh Hermawan Aksan.

Manajer Redaksi Penerbit Mizan, Ahmad Baiquni menilai sosok Obama memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia karena pernah menjalani masa kecil di Jakarta. Latar belakang Obama yang tumbuh dalam keluarga Islam juga dinilainya punya daya tarik sendiri bagi orang Indonesia.

"Kita tertarik menerbitkan buku Obama itu karena ada faktor Indonesia dan Islam dalam diri Obama," kata Baiquni.

Tidak hanya itu saja, Mizan juga menerbitkan disertasi program doktor almarhumah ibu Obama, Ann Dunham di University of Hawaii at Manoa berjudul Pendekar-pendekar Besi Nusantara. Buku itu berisi kajian antropologis Dunham tentang perajin pandai besi di Indonesia.

Thursday, June 19, 2008


HABIS BLUE ENERGY;TERBITLAH BROWN ENERGY

oleh : Rudi Ariffianto

Belakangan begitu santer orang membicarakan banyugeni atau yang dikenal luas dengan sebutan Blue Energy dengan segala kontroversinya. Blue Energy, yang konon merupakan sumber energi alternatif berbahan baku air, sebenarnya masih misterius dan banyak kalangan pakar energi dan akademisi mencibir sebagai bentuk penipuan.

Tidak tanggung-tanggung jika benar itu penipuan, korbannya adalah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang ikut melepas tour mobil berbahan bakar Blue Energy ini ke acara United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali Desember tahun lalu.

Bahkan, kala itu SBY didampingi staf khusus presiden Heru Lelono, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Negara Ristek Kusmayanto Kadiman, menimang-nimang Blue Energy yang dikemas dalam botol.

Setelah dikabarkan menipu Presiden, dan beberapa 'objek penipuan' lainnya terkait proyek Pembangkit Listrik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Joko Suprapto angkat bicara dan membantah secara keras.

Alasannya, dia masih dalam proses penyelesaian pembuatan 'pabrik' Blue Energy sebelum bahan bakar itu diperkenalkan dan diproduksi secara massal kepada masyarakat.

"Tidak benar saya menipu. Semuanya masih dalam proses penyelesaian. Nanti, kalau tidak percaya, masyarakat bisa datang ke sini laboratorium Joko dengan membawa airnya dan akan dibuktikan bagaimana air itu bisa menjadi Blue Energy," kata Joko.

Seandainya memang benar Blue Energy itu bisa dibuktikan secara ilmiah keberadaannya, tentu akan sangat menguntungkan bagi bangsa ini, yang sekarang dililit oleh masalah energi. Apalagi, air merupakan sumber daya yang sangat melimpah.

Sayangnya, sampai sekarang, Joko masih merahasiakan proses air itu bisa diubah menjadi Blue Energy. Dia beralasan khawatir ramuannya jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab yang justru hanya mengomersialkan temuannya yang dinilai melenceng dari tujuan semula, untuk kesejahteraan bangsa.

Namun, kerahasiaan itulah yang justru menjadi pemicu spekulasi terutama di kalangan masyarakat yang mengerti energi.

Bahkan, Menristek yang pada saat peluncuran pertama kali Blue Energy sempat menonton dari dekat seremonial itu lantas mengubah haluan dan 'berani' mengatakan pada 'bos'-nya, "Blue Energy tidak lebih dari bahan bakar sintetis yang setara dengan solar yang proses pembuatannya justru mahal dan tidak ekonomis. Kecuali kalau ada campur tangan magic...saya tidak tahu...."

Berdasarkan hasil analisis di lingkungan ristek, Blue Energy yang berbahan bakar air dan membutuhkan proses elektrolisa untuk memisahkan hydrogen sebelum dilakukan fusi dengan karbon untuk menghasilkan senyawa hidrokarbon [senyawa minyak], membutuhkan biaya US$40 per mmBtu.

Padahal, harga produk BBM dengan patokan harga minyak mentah US$130 per barel hanya setara dengan US$25 per mmBtu.

Selain itu, penelitian Ristek juga menunjukkan gas buangan dari Blue Energy hampir mirip dengan solar bahkan lebih buruk dibandingkan dengan Pertadex. "Jadi Blue Energy bukan sesuatu yang aneh, tapi hanya varian dari hidrokarbon," terang Kusmayanto.

Belum tuntas kontroversi Blue Energy, kini muncul istilah baru yang disematkan, lagi-lagi untuk air. Brown Energy demikian disebutkan oleh Poempida Hidayatullah dan Futung Mustari.

Bedanya, bila Blue Energy diistilahkan untuk air yang dikonversi menjadi bahan bakar secara langsung, Brown Energy diistilahkan untuk air murni yang bisa menghemat penggunaan bahan bakar pada mobil diesel ataupun premium.

Penghematan yang bisa dilakukan tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai antara 10%-100% terhadap bahan bakar, baik premium maupun solar, tergantung berapa perangkat Brown Energy yang digunakan.

Menurut Mustari, perangkat ini sangat sesuai untuk mobil bermesin V8 dan telah digunakan secara luas di Eropa dan Amerika sejak 2006.

Brown Energy merupakan perangkat tambahan pada bagian mesin mobil berupa tabung kaca berpenutup baja nirkarat yang di dalamnya diisi air murni.

Terhubung dengan penutup baja di atasnya, menjulur akrilik yang dililit oleh kumparan baja nirkarat yang terpuntir. Pada penutup baja itu tertempel beberapa bagian penting, yaitu katup pengaman dan sebuah valve.

Cara kerja Brown Energy sepintas lalu terlihat seperti cara pembuatan Blue Energy, di mana di dalam Brown Energy yang telah dipasok listrik dari aki mobil tersebut akan membuat reaksi elektrolisis yang menghasilkan hidrogen.

Hidrogen itu dalam posisi siap sedia. Bila dibutuhkan oleh mesin hydrogen dalam bentuk gas akan mengalir melalui valve yang terhubung pipa vakum ke dalam mesin pembakaran.

Di dalam mesin itu, hidrogen akan menjalankan perannya sebagai reaktan pada reaksi fusi untuk mengikat karbon. Peran hidrogen inilah yang membuat bahan bakar menjadi hemat. Hidrogen yang tidak terpakai akan mencair kembali.

"Tidak berbahaya, sejauh tidak ada pemicu, misal rokok," jelas Mustari.

Brown Energy diakui Poempida bukan hal yang baru, melainkan dilihami oleh penemuan oleh Stainley M. pada 1920 yang raib tidak diketahui rimbanya setelah menghasilkan temuan ini. Konon raibnya Stainley dipicu oleh kekhawatiran penemuan itu akan merusak eksistensi pelaku industri migas kala itu.

Uniknya, barang yang katanya bisa dibuat dengan tangan dan siapa pun bisa membuatnya dengan hanya merogoh kocek Rp400.000 per set itu datang melalui seremoni mirip Blue Energy, sekalipun berbeda orang.

Bila Blue Energy diluncurkan dengan tour yang dilepas oleh Presiden, Brown Energy diluncurkan dalam tour yang dilepas oleh Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso, yang kini paling keras menyuarakan perubahan haluan posisi Partai Golkar terhadap pemerintah.

Belum Jelas

Brown Energy ini datang untuk menggantikan Blue Energy yang belum jelas itu.

"Saya akan dorong melalui FPG di Komisi VII ke Menteri ESDM untuk dimanfaatkan bagi bangsa ini secara masif, dengan tingkat keamanan lebih tinggi," kata Priyo yang mengakui awal ungkapannya itu bagian nada politis.

Maklum, selain pribadi Presiden yang melekatkan nama Blue Energy untuk banyugeni itu, nama Blue konon dikait-kaitkan dengan warna bendera Partai Demokrat yang dominan biru. Lalu, kalau memang politis kenapa tidak disebut Yellow Energy....?

Apa pun sebutan warna bagi energi alternatif dan inovatif yang kemungkinan kelak akan bermunculan, memang patut dihargai.

Namun, hendaknya temuan atau inovasi itu benar-benar bisa diimplementasikan untuk kemaslahatan bangsa, rasional, tidak misterius, dan yang tidak kalah penting jangan sekadar seremoni apalagi diembel-embeli dengan selera politik yang tajam... (rudi.ariffianto@bisnis.co.id)


Monday, May 05, 2008





...tidak dimungkiri jika buku ini merupakan "investigasi mumpuni" yang dapat dijadikan dokumentasi tentang raport merah yang ditorehkan oleh lima presiden Indonesia dalam membawa bangsa ini.
(N.Mursidi.etalasebuku, Mei 2008)



Sudah enam puluh tiga tahun Indonesia merdeka. Tapi, hingga detik ini Indonesia belum tinggal landas. Canangan Orde Baru dengan rencana pembangunan lima tahun yang dulu didengung-dengungkan Soeharto ternyata kandas. Akibatnya Indonesia bukannya jadi negara maju, megah dan disegani di dunia. Sebaliknya, justru terpuruk. Indonesia dibelit utang bertumpuk dan kapal yang dimuati 200 juta jiwa lebih ini pun oleng.

Nilai rupiah anjlok, pengangguran dan kemiskinan meningkat. Rakyat di negeri ini didera busung lapar, kurang gizi dan tingginya tingkat angka putus sekolah. Lebih ironis, bangsa ini dijuluki bangsa korup, dan bangsa kuli yang hanya mampu menyediakan tenaga murah keluar negeri.
SungguhIronis!

Keadaan parah itu, tentu mengundang sejuta pertanyaan. Apa yang salah dengan pengelolaan negeri ini sampai gagal tinggal landas? Kenapa negeri yang dilimpahi kekayaan alam, justru jadi bangsa kuli dan kekurangan pangan? Lebih menukik, kesalahan kebijakan apa yang diperbuat pemimpin bangsa ini, sehingga Indonesia harus karam cukup dalam ?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab Ishak Rafick, wartawan majalah Global Asia dalam buku Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia; Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia ini. Meski hanya memotret kondisi Indonesia selama 10 tahun terakhir, tetapi tidak dimungkiri jika buku ini merupakan "investigasi mumpuni" yang dapat dijadikan dokumentasi tentang raport merah yang ditorehkan oleh lima presiden Indonesia dalam membawa bangsa ini.

Dengan rencana pembangunan yang berkesinambungan, Soeharto seharusnya mampu membawa Indonesia tinggal landas pasca-repelita VII. Apalagi, selama 30 tahun
sebelumnya pembangunan yang ditegakkan Soeharto lancar dan dunia sempat memujinya. Tetapi "cita-cita" itu ternyata kandas. Indonesia bukannya tinggal landas,
justru terpuruk. Akibat krisis moneter yang mengakibatkan nilai tukar rupiah anjlok setelah band intervensi terhadap kurs mengambang terkendali itu dicabut, Indonesia pun limbung.

Maksud hati, Soeharto mau memeluk gunung untuk menghemat devisa, tapi yang terjadi, justru celaka. Ekonomi Indonesia kacau. Indonesia urung tinggal landas dan kembali digiring ke titik nol dalam pelukan IMF (hal 69). Soeharto yang sejak 1967 menopang

pembangunan dari dana pinjaman IMF, seperti tak bisa mengelak. Dengan iming-iming umpan US$ 43 miliar, IMF lantas memaksa Soeharto menandatangani kesepakatan terdiri 50 paragraf yang kemudian dikenal sebagai 50 point Letter of Intent (LoI) dan ironisnya, kini jadi bumerang bagi siapa pun yang memimpin negeri ini.

Meski sejak tahun 1967-1998, Indonesia telah menelan resep-resep yang ditawarkan IMF dan terbukti "gagal tinggal landas", anehnya arsitek (ekonomi) dibalik Soharto meminta lagi obat IMF. Padahal tak ada satu negara berkembang (seperti di Amerika Latin dan Ekuador) berhasil meningkatkan kesejahteraannya setelah mengikuti "model Washington Konsensus".Sebaliknya negara-negara yang menyimpang (seperti Jepang, Taiwan, Malaysia dan China), justru bisa berhasil memperbesar kekuatan ekonomi.

Tak pelak lantaran resep IMF itu tak manjur, ujungnya Soeharto jatuh. Tapuk pimpinan beralih ke pundak Habibie, yang ironisnya mewarisi negeri yang bangrut, utang di ambang batas US$ 100 miliar karena menjelang Soeharto jatuh negeri ini menanggung utang –Maret 1998- sekitar 137,424 miliar US$. Habibie, jadi korban pertama. Setiap tahun setelah itu, terpaksa harus "menganggarkan" seratus triliun lebih untuk cicilan utang dalam dan luar luar negeri ditambah bunganya.

Seperti Soeharto, Habibie pun bangga dengan dana pinjaman IMF dan tak punya pilihan lain lantaran jalan yang ditempuh sudah ditentukan IMF lewat 50 point kesepakatan yang telah ditandatangani Soeharto. Jika pun ada yang patut dicatat dari kelebihan Habibie,maka itu terkait tuntutan dari arus bawah dan kaum reformis lewat program redistribusi aset di tangan Tanri Abeng, dan juga rajutan ekonomi kerakyatan yang dinahkodai Adi Sasono.

Tapi ironisnya, dua kelebihan Habibie itu diruntuhkan Gus Dur. Memang terpilihnya Gus Dur, semula diramalkan akan jadi "obat mujarab". Apalagi, Gus Dur berani membuka poros Jakarta-Peking dan menggertak Amerika.Tapi gebrakan Gus Dur ternyata Mengundang badai dan tekanan dari dunia luar. Gus Dur jatuh. Tapi Gus Dur telah membuktikan bahwa Indonesia bisa diurus tanpa bantuan IMF.

Megawati yang menggantikan Gus Dur, sayangnya melunak. Tak pelak jika Indonesia tak kunjung sembuh justru semakin kambuh. Mega kembali meminta obat generik (pinjaman) IMF dengan konsekuensi menjual aset-aset negara. Indonesia pun secara pelan tapi pasti, telah terpuruk lewat pintu krisis yang diarahkan jadi pasar menuju liberalisasi ekonomi tanpa batas.

Kini "kehancuran negeri" ini jatuh di pundak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Tetapi pemerintah sekarang rupanya belum kapok berhutang dan tak kreatif membuat terobosan-terobosan baru untuk mengatasi krisis dan masih memakai paradigma lama dalam mengelola negeri ini.

Padahal, menurut Ishak Rafick, kalau negeri ini masih dikelola dengan paradigma lama dengan "menyerahkan masa depan" bangsa ini kepada trinitas IMF (International Monetery Fund), World Trade Organization (WTO), dan Wordl Bank (Bank Dunia), bukan saja merupakan langkah tak bijak tapi juga membahayakan.

Lalu, "langkah apa" yang harus diambil oleh pemerintah sekarang untuk merintis jalan baru dalam membangun Indonesia? Eshak Rafick, tak ingin dikata kurang bijak jika sekadar mengevaluasi catatan hitam lima presiden Indonesia. Maka, ia pun menawarkan gagasan baru untuk membangun Indonesia di masa depan.

Pertama, pemerintah Indonesia harus berani meniru langkah yang pernah diambil oleh Pakistan, Nigeria, dan Argentina untuk meringankan utang. Kedua, menguatkan otot rupiah terhadap dollar/valuta asing. Ketiga berani mengajukan penghapusan utang 30 persen utang luar negeri yang najis (pernah dikorup) dan menyatakan obligasi rekap tak berlaku. Ketiga pilihan itu, menurutnya, adalah jalan pintas yang paling rasional guna membangun negara Indonesia. Bila tidak --segala upaya yang sedang berjalan (termasuk pemberantasan korupsi) tak akan berarti (hal. 33-40).

Buku ini, tak dapat dimungkiri merupakan karya yang cukup prestisius. Karena, penulis berani "menelanjangi" kelemahan lima presiden Indonesia dalam mengelola bangsa ini. Dengan ditunjang pengalaman yang dimiliki oleh penulis bertahun-tahun bekerja sebagai jurnalis yang bergelut masalah ekonomi-politik, manajemen dan korporasio -di majalah SWA dan GlobalAsia-, tentunya "hasil investigasi" yang dikemukakan dalam buku ini bisa menjadi dokumentasi dan rujukan bagi pemegang kebijakan ekonomi di negeri ini. Di sisi lain, buku ini ditulis seperti hasil investigasi sebuah majalah, tak rumit, tak jlimet dan mudah dimengerti bahkan oleh pembaca awam sekali pun.

Hanya saja, buku ini tak disusun dengan sistematika penulisan seperti buku ilmiah. Tak salah, pembaca akan memerlukan waktu lama untuk bisa menarik benang merah buku ini sebab tak dikerucutkan dalam sebuah kesimpulan. Penulis hanya memaparkan duduk perkara serta langkah yang diambil lima presiden dalam mengatasi krisis dengan tohokan dari penulis yang tak kehilangan daya kritis.

Sayang, karya bagus ini harus dinodai banyak kesalahan ejaan lantaran penerbit abai memakai peran editor.

***


*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN Yogyakarta




Wednesday, April 23, 2008



....bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya
(Hernadi Tanzil, bukuyangakubaca.blogspot.com)



Hidup berubah cepat,
Hidup berubah seketika,
Kau duduk makan malam,
Lalu hidup yang kau jalani berakhir,


Kematian seseorang yang dikasihi adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Kapan waktunya masih merupakan misteri dan rahasia sang pemberi kehidupan. Kadang kita bisa menduga-duga jika orang yang kita kasihi itu telah menderita penyakit akut yang telah lama dideritanya, namun tak jarang kematiannya datang begitu tiba-tiba sehingga kita tak siap menerima kenyataan itu.

Joan Didion (74 thn), jurnalis dan penulis novel asal Amerika adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang harus menerima kenyataan bagaimana kematian orang yang dikasihinya datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau firasat apapun sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Natal 2003, Joan Didion beserta suaminya yang juga seorang novelis : John Gregory Dunne baru saja menjenguk putri semata wayang mereka Quintana (36 thn) yang menderita pneunomia di Pusat Pengobatan Beth Israel di East End Avenue. Tak ada yang janggal dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah. Setiba di rumah sementara John duduk di samping perapian sambil minum wiski, Didion sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Semua tampak normal. Mereka membicarakan berbagai topik yang ringan. Tiba-tiba tangan kiri John terangkat dan terkulai lemas. Awalnya Didion menyangka suaminya bercanda, namun segera ia mnyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.

Setelah memanggil petugas paramedis, John segera dilarikan ke rumah sakit, malangnya nyawanya tak tertolong. John didiagnosa mendapat serangan jantung yang hebat yang menghantarnya pada kematian mendadak. Hal ini membuat kehidupan Didion berubah seketika. Bagaimana tidak, kebersamaan dengan John yang telah terbina dengan baik selama empat puluh tahun tiba-tiba terhenti seketika. Didion harus berjuang sendiri menghadapi kematian suaminya, sementara putri semata wayang mereka masih terbaring di ICU RS Beth Israel.

Empat minggu kemudian Quintana dinyatakan sembuh. Namun dua bulan sesudah itu, Quintana terjatuh ketika hendak bepergian bersama suaminya. Ia kemudian dibawa ke UCLA Medical Center dan harus menjalani pembedahan otak karena didiagnosa menderita penyakit hematoma yang parah. Ini berarti terdapat bekuan darah sehingga menyebabkan gangguan neurologis karena terjadi penekanan di otak.

Joan Didion kini hidup dalam kesendirian ditengah cobaan yang bertubi-tubi. Tahun-tahun ini disebutnya sebagai “The Year of Magical Thinking”, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tabah sambil mencoba menapak kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama John dan Quintana.

Pada tanggal 4 Oktober 2004, tepat sembilan bulan lebih lima hari setelah kematian sauminya Didion menggoreskan penanya untuk mencatat hari-hari terberat dalam hidupnya. Catatan-catatan inilah yang akhirnya diterbitkan pada tahun 2005 dengan judul “The Year of Magical Thinking”.

Walau tema utama memoar ini adalah kematian dan kedukaan, namun Didion menuliskannya tidak dengan cengeng. Mungkin saja isi buku ini tak memberikan ‘makna’ pada kematian suami dan anaknnya, tapi dengan gamblang buku ini menjelaskan efek yang ditimbulkan pada hati dan perasaan Didion, sehingga bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya.

Pengalamannya sebagai jurnalis dan novelis senior membuat hal-hal yang dia alami sebelum dan setelah kematian John, maupun diskripsi mengenai penyakit dan penanganan medis terhadap John dan Quintana terurai secara detail dan kronologis melalui penyajian yang bersifat reportase. Alur cerita terus bergerak antara masa lalu dan masa kini sehingga pembaca memiliki gambaran yang utuh seperti apa keluarga Didion dan merasakan bagaimana pedihnya hubungan harmonis yang telah terbina selama 40 tahun itu tiba-tiba harus tercerabut dari kehidupannya.

Buku ini juga menyajikan bagaimana detailnya gambaran medis lengkap dengan istilah-istilah kedokteran yang bertaburan di lembar-lembar buku ini. Di satu sisi hal ini mungkin bermanfaat bagi pembaca yang mungkin pernah bersentuhan dengan pengobatan medis atau mereka yang berprofesi sebagai petugas medis, namun bagi pembaca awam hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu kelancaran membacanya walau di halaman terakhir tersaji catatan penjelasan mengenai istilah-istilah medis yang terdapat di buku ini

Di halaman-halaman akhir ada sedikit yang mengejutkan yaitu dengan masuknya frasa mengenai Tusnami yang melanda pesisir Sumatera. Hal ini terungkap ketika suatu saat Didion membaca kembali novel pertamanya yang berjudul Democracy yang mengungkap mengenai gempa. “Aku membaca uraian tersebut setelah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter mengguncang zona bawah laut Sumatera sepanjang enam ratus mil dan memicu tsunami yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir yang membatasi Samudera Hindia” (hal 239).

Pada akhirnya buku yang merupakan pengalaman nyata penulisnya yang sangat personal namun bersifat universal ini tentunya diharapkan dapat memberikan potret tentang sebuah keluarga yang harmonis yang keutuhannya secara tiba-tiba harus terpisah satu dengan lainnya karena kematian sehingga menyentuh setiap pembacanya yang diharapkan tak pernah berhenti mencintai suami atau istri atau anak mereka.

Tampaknya buku yang memprroleh penghargaan National Book Award 2005 dan Powell’s Pudly Award 2006 dan dinominasikan dalam National Book Critics Circle Awards untuk kategori nonfiksi ini memang sangat baik dibaca untuk mereka yang mungkin baru saja atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang dikasihinya, atau setidaknya pengalaman Didion yang tertuang dalam buku ini akan menyadarkan orang akan arti kehilangan dan memberikan gambaran bagaimana pengaruh kehilangan bagi orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya.


Sedikit tentang Joan Didion

Bagi pembaca Indonesia nama Joan Didion (lahir 5 Desember 1943) mungkin masih terasa asing ditelinga. Tidak demikian dengan publik Amerika. Ia adalah penulis legendaris beberapa novel diantaranya ; Run, River (1963), Play It As It Lays (1970), A Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984), The Last Thing He Wanted (1996), selain itu Didion juga kerap menulis beberapa tulisian non fiksi seperti kumpulan essai Slouching Towards Bethlehem (1968) and The White Album (1979), dll

Didion juga dikenal sebagai seorang jurnalis senior. Ia merupakan kontributor tetap The New York Review of Books dan The New Yorker. Bersama suaminya John Gregory Dunne (1932 – 2003) yang juga seorang penulis mereka berkoloborasi membuat beberapa naskah skenario film. Ia kini tinggal di New York City

The Year of Magical Thinking merupakan karya terbaru Didion. Buku ini diterbitkan pada Oktober 2005 yang lalu dan langsung mendapat respon yang baik dari para kritikus perbukuan Amerika, hal ini terbukti pada bulan November 2005, (satu bulan setelah bukunya terbit), buku yang dibaca oleh para ibu rumah tangga hingga ibu negara ini diganjar sebagai pemenang National Book Award 2005 untuk kategori non fiksi. Award ini merupakan salah satu penghargaan sastra terkemuka di Amerika, dimana pemenangnya memperoleh uang hadiah sebesar 10.000 dolar atau sekitar 100 juta rupiah dan sebuah patung kristal dari The National Book Foundation.

Dua minggu setelah buku ini selesai diekerjakan, putri semata wayang Didion, Quintana akhirnya meninggal dunia. The New York Times dalam reportasenya mengungkapkan bahwa Didion tak berniat merevisi atau mengubah bukunya setelah kematian putrinya. "It's finished," ujarnya.

@h_tanzil








Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak(www.lemaribuku.com)



Alan Greenspan kali pertama ditunjuk sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, atau Federal Reserve (The Fed) pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter, Greenspan mempertahankan jabatan ketua Bank Sentral AS hingga empat kali periode, tanpa terpengaruh presiden AS yang terus berganti.

Catatan prestasi Greenspan yang menonjol antara lain keberhasilannya menangani krisis pasar saham Black Monday, meledaknya bisnis internet dot.com, gelembung pasar saham bulan Maret 2000, dan resesi akhir tahun 2000, tahun 2002, dan peristiwa-peristiwa pasar terkini.

Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Hingga ada joke di kalangan pasar dunia, suara batuk Greenspan saja bisa memengaruhi gejolak ekonomi dunia.

Sejak Greenspan menjabat ketua Bank Sentral AS, setiap pengumumannya selalu diliput media cetak dan elektronik. Bahkan stasiun televisi menyiarkan langsung detik-detik pengumuman kebijakannya—persis seperti peluncuran pesawat antariksa, di layar televisi terlihat hitungan mundur jam, detik demi detik, hingga tiba saatnya pengumumannya.

Buku ini mengupas tuntas liku-liku dan sepak terjang Alan Greenspan menjadi ketua Bank Sentral AS. Bagaimana konflik dan intrik pembuatan keputusan Bank Sentral AS? Bagaimana pemikiran Greenspan? Syahdan, sebagai bangsa yang bijak, seharusnya para ekonom Indonesia bisa belajar banyak dari sosok Alan Greenspan dalam mengeluarkan kita dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.

***

“Jika Anda ingin tahu siapa salah seorang yang membuat ekonomi dunia berguncang, baca buku ini.”
—The New York Times

“Greenspan bak maestro di sebuah
pertunjukan orkestra…piawai dan tepat.”
—The Washington Post

Tuesday, April 01, 2008



Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya kita selalu berinteraksi dengan orang sekitar yang mempunyai bentuk rupa, wajah, dan nama yang berbeda. Termasuk variabel-variabel lain, seperti tindak-tanduknya yang aneh serta karakter kepribadian yang mungkin sedikit tidak umum.

Sedikit-banyak faktor-faktor dimaksud sanggup berdampak terhadap ruang memori kita secara langsung. Memang jarang terpikirkan, bahwa hal-hal semacam ini sanggup membuat kita terpaksa mengernyitkan dahi untuk berpikir lebih keras dalam mengingat siapa gerangan nama teman dengan rupa dan wajah atau tingkah-polah yang seperti itu –semisalnya.

Atau mungkin juga kita kerap menemukan kondisi yang antara sadar dan tak sadar sepertinya pernah kita alami sebelumnya. Yup, De Javu demikian istilah yang selama ini kita kenal. Nah, buku ini menjelaskan semua fakta-fakta unik itu dengan logika dan permainan cara berfikir otak kita.

Selain itu, buku ini juga menguak peristiwa-peristiwa lainnya yang sering dialami oleh manusia –dimana melibatkan langsung alam pikirannya. Dan, jika direnungkan ternyata sangat istimewa. Banyak cerita sederhana, namun kita dibuatnya terkecoh oleh kesimpulan kisah tersebut. Penuh kejutan dan refleksi perbuatan yang keluar secara tidak sadar.

Kalau mau tahu sepenggal misteri kehidupan yang ada di sekitar kita, buku ini mampu berinteraksi untuk menjelaskan kenyataan “konyol” dari dimensi teori dan praktik yang ada.

Sebuah buku menarik yang membuka tabir kehidupan keseharian yang belum banyak kita ketahui. Karena apa yang kita pikirkan selama ini sudah benar, ternyata bisa melenceng dari penjelasan-penjelasan ilmiah yang ada. Kerennya, this book explains us about how our brain really works on things. (muluk)





Monday, January 28, 2008

Obama:100 orang yang paling Berpengaruh Versi Time

Obama termasuk salah satu dari beberapa orang yang cukup berpengaruh versi Majalah Time. Selain Obama, nama lain yang juga masuk adalah Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud. Archbishop Peter Akinola, Omar Hassan al-Bashir, Pope Benedict XVI, Osama bin Laden, Michael Bloomberg, Raul Castro, dan lain sebagainya


Bukan tidak mungkin ia akan menjadi icon atau tokoh majalah ini tahun depan, jika dalam pemilihan nanti mampu membuat gebrakan menjadi kandidat partai demokrat melawan Republik.

Sampai saat berita ini diturunkan, Obama masih imbang dengan Hilary Clinton. Ia menang di pembukaan di Iowa dan yang terakhir di South Carolina. Sedangkan Hilary menang di Nevada dan New Hampshire.

Blog terkait :

http:/muhsinlabib.wordpress.com

Wednesday, January 23, 2008
















Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia


Ini adalah hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun. Catatan yang tajam dan paling komprehensif yang membedah kegagalan demi kegagalan presiden kita dalam membawa Indonesia tinggal landas

Yang akan Anda baca ini memang bukan sesuatu yang manis.Buku ini juga tentu tidak ditujukan untuk menyenangkan setiap orang seperti cerita pengantar tidur. Di dalamnya, memuat rekaman hitam bersejarah yang boleh jadi belum pernah terungkap di media.Ini adalah hasil penelusuran jurnalistik selama 10 tahun. Catatan yang tajam dan paling komprehensif yang membedah kegagalan demi kegagalan presiden kita dalam membawa Indonesia tinggal landas. Satu hal yang pasti, ada solusi dan pencerahan yang ditawarkan sang penulis kepada kita dengan cara memberi gambaran apa adanya tentang tanah air tercinta. Setidaknya agar muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikanya.

Tuesday, December 25, 2007



Otobiografi dan Percikan Pemikiran Obama

Judul buku : Menerjang Harapan, Dari Jakarta Menuju Gedung Putih
Penulis : Barack Obama
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : 526 halaman

Dengan prestasi itu, Obama ingin meraih harapan lebih tinggi untuk menjadi orang nomor satu di AS. Dengan latar belakang perpaduan dua ras dalam diri Obama, dia menjual visi (pernah dilontarkan saat tampil di Konvensi Nasional Partai Demokratr 2004) yang ternyata mengundang rasa simpati, "Tak ada orang Amerika hitam atau Amerika putih, orang Amerika Latino atau Amerika Asia -yang ada hanya Amerika Serikat" (etalasebuku.com)

SETELAH menduduki jabatan sebagai senator di tingkat federal mewakili Negara Bagian Illinois dan berkantor di Capitol Hill, Washington DC (tahun 2005), nama Barack Obama mulai diperhitungkan di kancah politik Amerika Serikat. Ia boleh dibilang sukses meniti karir dengan gemilang, tercatat sebagai senator kulit hitam kelima dalam sejarah AS, kritis terhadap pemerintahan Bush, dikenal peduli dengan masalah kesejahteraan sosial rakyat miskin dan pendidikan anak. Tak salah, jika nama Obama semakin bersinar terang dan dikenal luas oleh rakyat Amerika bahkan dunia internasional.

Tapi, sinar terang itu tampaknya belum membuat Obama puas. Dia pun kemudian menggebrak gelanggang perpolitikan Amerika Serikat untuk jabatan politik lebih tinggi dengan "mengumumkan diri" sebagai calon presiden dari partai Demokrat di dalam pemilihan presiden AS pada 2008. Meski dari hasil jajak pendapat, tingkat popularitas Obama masih berada di bawah senator Hillary Clinton (calon terkuat dari partai Demokrat) sekitar 8-10 persen, tapi ia tetap berani menerjang harapan.

Buku Menerjang Harapan; Dari Jakarta menuju Gedung Putih ini, selain mengisahkan tentang riwayat hidup Barack Obama sejak kecil (yang sempat tinggal di Indonesia), perjuangannya menangani hak-hak sipil, perjalanan politik jadi senator, pandangan Obama tentang masalah politik, agama, sosial hingga dunia internsional dan alasan kenapa ia terjun ke dunia politik bahkan mencalonkan diri sebagai calon presiden. Tak pelak lagi, jika buku ini bukan sekadar outobiografi, melainkan juga sebuah atribut kampanye dari Obama.

Lahir di Hawai, 4 Agustus 1961 dari pasangan Barack Husein Obama Senior (seorang penganut Muslim dari Kenya) dengan Ann Dunham (wanita kulit putih dari Kansas) Obama tumbuh dalam kabut dua warna kulit, juga gunjang-ganjing rumah tangga yang tidak benderang. Kedua orangtua Obama bercerai saat ia berusia 2 tahun. Ibu Obama lantas menikah dengan orang Indonesia, Lolo Soetoro. Konsekuensi itu membuat Obama yang saat itu berusia 6 tahun (pada 1967) hijrah ke Indonesia.

Tak pelak Obama pun sempat mengenyam pendidikan di Jakarta, di SD Franssiscus Assisi dan SDN Menteng dengan riuh duka dan kenangan yang sampai kini masih tak terlupakan. "Tak punya uang masuk sekolah international, saya masuk sekolah lokal dan bermain dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit dan juru tulis," kenang Obama (hal. 37). Sewaktu ekonomi ayah tirinya membaik, selepas dari angkatan bersenjata lalu bekerja di perusahaan minyak Amerika, dia baru menikmati jok empuk sedan. Tetapi hal itu tak berlangsung lama karena tahun 1971, ibunya mengirim Obama ke Hawai untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Setahun kemudian, ibu dan adik tirinya menyusul (hal 39).

Di sana, Obama menghabiskan masa remaja hingga lulus pendidikan SLTA. Selepas SLTA, dia kuliah di Columbia University, New York City dan sempat bekerja di bursa saham, di Wall Street. Tahun 1985 ia bergabung di community organizer (di Chicago). Dia bertemu dengan Michelle tahun 1988 ketika keduanya bekerja di Sidley & Austin kemudian menikah, dan kini, sudah dikaruniai dua putri, Malia dan Sasha. Setelah Obama berhasil menamatkan pasca sarjana di Harvard Law School (1991), dia terjun ke dunia politik.

Awalnya ia terpilih sebagai senator di Negara Bagian Illinois. Setelah berkantor selama delapan tahun di Chicago, tahun 2005 ia terpilih sebagai senator tingkat federal mewakili Negara Bagian Illinois, di Capitol Hill, Washington DC. Kini, tahun 2007, dia menerjang harapan mencalonkan diri sebagai calon presiden AS dari partai Demokrat yang akan digelar pada 2008. Apakah Obama bisa menerjang harapan itu? Hanya sejarah yang nanti bisa menjawab!

Tapi sebagai senator dan calon presiden AS, Obama bukanlah seorang politisi yang tidak punya nilai jual. Selama delapan tahun di Senat Negara Bagian Illinois, prestasi Obama juga tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan getol ia telah memperjuangkan program kesejahteraan sosial bagi rakyat miskin, perluasan program pendidikan anak dan dikenal cukup menggebu-gebu memperjuangkan undang-undang etika politik yang kerap menjadi celah untuk sebuah skandal korupsi. Lebih dari itu, dia sempat menjadi anggota di sejumlah Komisi yang tidak bisa anggap tanpa prestasi.

Dengan prestasi itu, Obama ingin meraih harapan lebih tinggi untuk menjadi orang nomor satu di AS. Dengan latar belakang perpaduan dua ras dalam diri Obama, dia menjual visi (pernah dilontarkan saat tampil di Konvensi Nasional Partai Demokratr 2004) yang ternyata mengundang rasa simpati, "Tak ada orang Amerika hitam atau Amerika putih, orang Amerika Latino atau Amerika Asia -yang ada hanya Amerika Serikat." (hal. 196-197). Dengan visi itu Obama ingin membawa AS ke arah yang dicita-citakan pendiri bangsa AS. Karena ia mencintai AS! Ia berharap, dengan sumbangan yang diberikan, AS menjadi yang lebih baik!

Buku yang aslinya berjudul The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaiming the Amirican Dream ini tak dapat disangkal lagi, meski merupakan kelanjutan dari buku pertama Obama Dream My Father; A Story of Race and Inheritance yang ditulis sekitar sebelas tahun lalu, tetap tidak bisa dilepaskan sebagai 'obor perjuangan politik' Obama untuk mewujudkan harapan itu. Memang pada satu sisi, buku ini adalah atribut kampanye Obama tapi di sisi lain tetap sebuah perjalanan hidup sang fajar baru bernama Obama sebagai pemimpin masa depan Amerika yang bisa ditepis menginspirasi sejuta orang.

Karena, di buku ini ia menjelaskan pandangan politik baru yang menggali pemahaman bersama yang bisa menyatukan warga Amerika dengan tanpa memandang ras dalam memberi penilaian terhadap seseorang. Sebuah keberanian yang bisa meneteskan harapan akan masa depan AS sebagai bangsa dan polisi dunia. (n mursidi adalah alumnus Filsafat UIN Yogyakarta)

Diposting oleh n mursidi di 03:05



Monday, December 10, 2007

China Undercover: RAHASIA diBalik Kemajuan China
Oleh: Jonathan Sofian Lusa

Buku ini menarik perhatian saya ketika sedang nongkrong di toko buku beberapa hari yang lalu. Kalo sebelumnya booming buku bertajuk Jakarta Undercover, sekarang ada Chinna Undercover “Rahasia Di balik Kemajuan Chinna”. Buku setebal 362 halaman ini merupakan kumpulan cerita nyata yang ditulis oleh sepasang suami istri. Mereka nekad menulis dan mempublikasikan kisah2 yang menggambarkan kebobrokan pemerintah wilayah yang tidak berpihak kepada petani kecil. Peristiwa ini terjadi di salah satu propinsi miskin di Chinna. Dari karyanya, sang penulis Chen Guidi dan Wu Chuntao mendapatkan penghargaan dari Contemporary Age sebagai reportase yang inovatif. Buku ini sempat dilarang beredar di Chinna karena dianggap sebagai provokator untuk rakyat memberontak dan mencoreng Chinna di mata dunia.

Chinna sebagai raksasa Asia menyimpan banyak cerita yang mengagumkan terutama pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Contohnya saja kemampuan Chinna dalam membangun jalan tol yang menghubungkan hampir semua kota-kota di semua propinsi d sekalipun kota tersebut masih belum laik di sebut kota metropolitan. Dalam kunjungan terakhir ke sana, saya sempat bertanya dengan seorang teman mengapa Chinna membangun jalan tol secara besar2an di semua kota. Dugaan awal saya ternyata salah, jalan tol yang dibangun secara spektakuler memiliki tujuan lagi selain menghubungkan kota2 di seluruh propinsi, ternyata jalan tol tersebut diperuntukan sebagai landasan pesawat terbang dan helikopter untuk mengantarkan bantuan secara cepat jika terjadi bencana alam atau hal-hal yang membutuhkan pertolongan cepat. Banyak lagi cerita menarik sehubungan dengan budaya di sana.

Buku ini bercerita, dibalik semua kesuksesan pembangunan ternyata praktek otoriter, premanisme, penindasan dan nepotisme merebak terjadi di desa-desa dan yang menjadi korbannya adalah para petani. Diceritakan juga perjuangan para petani dalam memperjuangkan keadilan dan nasib mereka ditengah2 penindasan fisik dan himpitan pajak yang melambung. Kepiawaian oknum pemerintah dalam memutarbalikan fakta sangat kental dalam buku ini, tidak heran siapun yang berhadapan dengan oknum pemerintah akan menjadi korban bulan2an sampai menjadi martir. Peristiwa ini terjadi dalam satu dekade terakhir ini, dan tidak menutup kemungkinan ini masih terjadi sampai sekarang. Memang ada harga yang harus dibayar dari sebuah pembangunan, minimal dari buku ini mengajarkan untuk lebih bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan karena pada akhirnya kekuasaan ada di tangan rakyat.

Bagaimana dengan negeri tercinta Indonesia? Apakah berimbang antara pembanguan yang diperoleh dengan “harga” yang harus di bayar dari rakyat? Rasa2nya kita tidak memerlukan adanya “Chen Guidi & Wu Chuntao “untuk mengungkapnya. Lihat dan saksikan sendiri!

Friday, November 16, 2007

China Undercover: Getir Hidup dibalik Tirai Bambu
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Chen Guidi dan Wu Chuntao

Label “Made in China” di berbagai produk yang kita beli telah menjadi penegas bahwa Cina adalah penguasa ekonomi dunia. Berbagai produk Cina mulai dari kendaraan bermotor hingga produk makanan ringan yang baru-baru ini ditarik dari peredaran karena dicurigai ‘kelebihan’ bahan pengawet pun gampang ditemui dimana-mana. James Kynge, jurnalis Financial Times, pernah membeberkan dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina bagaimana negara ini tumbuh dari Cina yang rawan kelaparan menjadi raksasa kuat dan lapar yang berpotensi menyantap habis jatah minyak AS dari Venezuela dan Iran. Tapi bersiap-siaplah untuk mengubah kekaguman Anda terhadap Cina setelah membaca China Undercover.

Cina masih menyandang sebutan ‘tirai bambu’. Apa-apa yang ada di Cina tetap belum jelas dari luar. Saking rapatnya tirai bambu itu, masih saja ada sejumlah provinsi yang masih terlarang bagi pihak luar. Salah satunya adalah Anhui, sebuah provinsi termiskin di dataran luas Cina. Adalah sepasang suami-istri Chen Guidi dan Wu Chuntau yang mempertaruhkan keselamatannya untuk menceritakan sejumlah cacat yang ditutupi tirai bambu Cina.

Dalam China Undercover yang baru-baru ini diterbitkan Ufuk Press, kita bisa melihat bahwa ada yang ditumbalkan di balik kegagahan Cina di pentas ekonomi dunia. Mereka adalah para petani yang ketimpa abu panas untuk bekerja keras demi memenuhi kebutuhan negara akan pangan. Paradoks dengan bakti yang tak terkira itu, mereka mendapat perlakuan yang serba tidak mengenakkan dari kader-kader partai di tingkat lokal. Para petani dikenai berbagai rupa pajak yang sebenarnya adalah hasil akal-akalan para kepala desa korup beserta para perangkatnya.

Dalam investigasi yang dilakukannya di beberapa kabupaten provinsi Anhui, Chen dan Wu mendapati sejumlah kasus menyayat hati. Pada bab pertama, kita akan dibikin geram oleh kisah pembunuhan seorang warga cerdas yang menuntut diadakannya audit keuangan desa. Si warga cerdas bernama Ding Zuoming ini mengendus korupsi yang dilakukan kepala desa dan berhasil memojokkan kepala. Namun, sebelum menyetujui audit, kepala desa dengan bantuan tenaga keamanan kecamatan memberinya pelajaran yang kebablasan hingga dia pun menjadi martir demi kebenaran.

Pada bab selanjutnya, kita akan temui lagi kisah pembunuhan yang kali ini korbannya lebih dari satu orang, dan kejadiannya terjadi dalam hitungan menit! Empat orang warga yang telah ditunjuk para petani untuk mengaudit keuangan kepala desa korup—yang sebenarnya terjerat masalah hukum—dibunuh si kepala desa dan anak-anaknya. Warga yang geram pun akhirnya mendapat alasan untuk memenjarakan si kepala desa.

Kemudian, kita akan dibikin harap-harap cemas dengan kisah penangkapan besar-besaran warga desa oleh petugas keamanan kabupaten. Desa yang tenang tiba-tiba dikejutkan oleh pasukan keamanan yang berbondong-bondong dan menangkapi para warga yang keringatnya masih belum kering setelah bekerja sepagian di sawah. Dengan gaya penceritaan sekelas novel dalam alur mundur, Chen dan Wu pada bagian ini mengajak pembaca berharap-harap cemas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik drama penangkapan besar-besaran ini. Dan kita pun akan lega sekaligus miris ketika tahu bahwa penyebabnya adalah karena aparat desa memfitnah para petani telah melecehkan aparat! Ya, kepala desa memfitnah rakyatnya sendiri dan mengakibatkan ditahannya hampir separuh warga desa.

Selain ketiga kisah, masih ada beberapa kisah lagi yang pasti membikin kita geram.

Kita pun akan kaget dan tersenyum kecut ketika tahu bagaimana para aparat desa itu menarik pajak dari petani. Petani yang hidup serba kekurangan itu ternyata memiliki beban pajak yang sangat banyak dan berliku-liku. Chen dan Wu menghabiskan tiga halaman sendiri (halaman 238-240) untuk mengurutkan jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan para petani, mulai pajak yang bertedeng ‘pengumpulan dana’ hingga pajak yang dalihnya untuk ‘pelayanan sosial’. Tak cuma tiga halaman itu, masih ada dua setengah halaman lagi di mana Wu dan Chen menyebutkan jenis-jenis pungutan lain dalam paragraf-paragraf narasi. Berikut adalah salah dua contoh kalimat yang bisa mewakili bagaimana ‘pintarnya’ aparat menarik pajak: “Apabila [...] hendak memelihara seekor babi, maka [petani] harus membayar pajak ‘babi hidup,’ pajak pembunuhan babi, pajak ‘perolehan modal,’ pajak pendapatan dan PAJAK PEMELIHARAAN KECAMATAN. Di beberapa tempat, warga akan dikenakan pajak pemeliharaan babi, TAK PEDULI DIA MEMELIHARANYA ATAU TIDAK [CAPS LOCK dari saya]” (hal. 241).
* * *
Tak perlu didebat, keunggulan utama buku ini memang terletak pada keberaniannya menyingkap borok yang rapat terbebat tirai bambu. Sebuah provinsi yang saking miskinnya—serta menjadi aib bagi Cina—hingga tidak boleh dikunjungi pihak luar, kini akhirnya menjadi konsumsi publik karena keberanian Chen dan Wu. Tidak kecil masalah yang mereka tuai dari buku ini: edisi resminya dilarang beredar di Cina, salah satu bab yang membahas ‘kejahatan’ seorang pejabat di bab 4 membuat mereka dikenai tuduhan pencemaran nama baik dan dimejahijaukan, rumah mereka dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal selama lebih dari duapuluh hari berturut-turut dan petugas keamanan tidak menghiraukan permintaan mereka untuk dilindungi, dan Chen Guidi diminta mengundurkan diri dari pekerjaan yang menjadi sandang-pangannya.

Namun, mereka tetap menang karena buku ini telah dibaca berjuta-juta orang. Memang tujuan Chen dan Wu adalah agar orang-orang tahu apa yang sebenarnya menimpa kaum petani. Sebulan pertama setelah diluncurkannya buku ini, 150.000 eksemplar terjual habis. Di Indonesia, angka ini mungkin baru pernah menjadi mimpi para pemilik penerbitan. Di Cina yang penduduknya lebih dari 1,2 milyar pun angka ini terbilang luar biasa. Dan setelah pelarangan, masih 10 juta eksemplar lagi edisi bajakannya yang terjual di pasaran.

Satu hal lain yang menjadikan China Undercover enak dilahap adalah gaya penyampaiannya yang sastrawi. Fakta-fakta itu disampaikan dengan permainan plot, deskripsi yang benar-benar mendekatkan kita dengan latar dan tokoh-tokoh cerita, serta rekonstruksi dialog-dialog yang semakin memudahkan pembaca membayangkan musibah yang menimpa para petani tersebut. Pramoedya Ananta Toer, dalam wawancara dengan Jurnal Prosa, pernah mengatakan bahwa dia menulis novel karena tidak ada yang mau membaca sejarah secara murni. Chen dan Wu mengisahkan kejadian-kejadian itu dengan plot dan deskripsi selayak novel, kecuali sebagian besar bab 5 yang lebih bersifat analitis. Dan banyak yang tertarik dengan penyampaian seperti itu. Kiranya, inilah yang membuat mereka memenangkan penghargaan Lettre Ulysses Award untuk Seni Reportase.
* * *
Setelah terbawa oleh pedihnya hidup para petani Cina kita pasti akan berpikir dua tiga kali lagi sebelum menyebut Cina sebagai negara yang besar. Dan dari provinsi Anhui, yang diketahui masyarakat internasional sebagai simbol kemajuan Cina karena menjadi tempat perakitan dan peluncuran roket angkasa “Made in Cina”, kita akan tiba pada kesimpulan getir: bahwa kesuksesan di kancah (ekonomi) internasional tidaklah selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat negara yang bersangkutan.

Data Buku:
Judul : China Undercover: “Rahasia” di Balik Kemajuan Cina
Penulis : Chen Guidi dan Wu Chuntao
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xxvi + 362 halaman
ISBN : 979-1238-51-9
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes