Showing posts with label *Koran Investor Daily. Show all posts
Showing posts with label *Koran Investor Daily. Show all posts

Wednesday, January 28, 2009


MENGANGKAT BUDAYA BETAWI
DALAM KHASANAH SASTRA INDONESIA

Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia
(Investor Daily, Januari 2009)


Novel-novel yang melibatkan aspek sosiologi atau realitas masyarakat tampaknya kini makin digemari. Lihat saja, Tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata terjual lebih dari satu juta eksemplar. Novel ini mengangkat realitas masyarakat dan budaya Pulau Belitung. Begitu pula novel Ayat-Ayat Cinta yang mengangkat realitas mahasiswa Indonesia di Mesir, terjual 450.000 eksemplar.

Kendati tidak sefenomenal dua novel tersebut, novel Da Peci Code mencuri perhatian pasar novel Indonesia. Novel karangan Ben Sohib itu terjual 30.000 eksemplar sejak dirilis pada September 2006. "Saya bersyukur dengan penjualan sebesar itu," kata Ben Sohib kepada Investor Dailyusai peluncuran sekuel kedua novel ini Rosyid dan Delia, di Jakarta, Jumat (19/12).

Sepintas, novel ini 'mendompleng' ketenaran novel Da Vinci Code, karangan penulis Amerika Serikat Dan Brown Tapi isinya beda sekali. Da Vinci Code mengisahkan misteri legenda cawan suci (Holy Grail) dan peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, teori-teori yang oleh Kristen dipertimbangkan sebagai ajaran sesat dan telah dikritik sebagai sejarah yang tidak akurat.

Sementara itu, Da Peci Code mengisahkan perseteruan antara ayah (Mansur) dan anaknya (Rosyid). Di novel best seller itu, Rosyid menjungkalkan tradisi memakai peci putih di masyarakat Betawi-Arab. Permasalahan itu dihadirkan Ben dengan cerita yang lucu dan menghibur namun kritis.

Pengamat budaya Betawi Hikmat Darmawan mengacungkan jempol buat Ben Sohib. Menurutnya, Ben mencoba mengenalkan lebih lanjut budaya Betawi dalam khazanah sastra yang belum banyak dilakukan, penulis Indonesia. "Ini poin yang menarik karena Betawi adalah sebuah budaya yang dinamis," kata Hikmat.

Ben, lanjutnya, juga mencatat pergulatan yang terjadi antara Betawi tradisional dan modern. Bahkan, beberapa pergulatan yang diangkatnya itu termasuk masalah yang gawat dan sensitif.
“Persoalan preci, itu masalah gawat. Belum lagi di buku kedua dia mengangkat pernikahan beda agama,” ujar Hikmat.

Ya, di buku kedua, Rosid&Delia, Ben kembali menghadirkan rosyid yang kritis bersama pacarnya, Delia. Keduanya hadir dengan persoalan yang lebih berat: perkawinan beda agama.

"Generasi muda Betawi-Arab kini berinteraksi dengan beragam budaya dan agama, bukan tidak mungkin perkawinan beda agama terjadi kata Ben yang menyilakan pembaca mengambil sikap sendiri atas permasalahan yang diangkatnya itu. Mengapa Betawi ? Bukan kebetulan bila Ben Sohib mengangkat budaya Betawi ke dalam khazanah sastra. Betawi, kata Ben, sangat dekat dengan kesehariannya, yang sudah 20 tahun tinggal di daerah Condet-Cililitan, Jakarta Timur. Dari pengamatannya, ada fenomena yang menarik dari masyarakat Condet. Condet, kata .Ben, adalah sebuah prototipe yang sempurna untuk masyarakat Betawi yang bisa dibilang tertinggal, kalau tidak mau dibilang terpinggirkan dari pergerakan zaman.

Dalam perkembangannya, ada perbenturan antara tradisi yang terus dipertahankan dengan budaya yang makin berkembang. “Termasuk tradisi memakai peci putih dan budaya Arab yang berakulturasi dengan budaya Betawi di mana peci putih menjadi simbol identifikasi agama Islam," tutur lelaki kelahiran Jember, 1967 itu.

Ben berharap, buku keduanya ini juga laris seperti buku pertamanya. Harapan ini juga dilambungkan Fahmi, dari penerbit Ufuk Publishing House yang menerbitkan dua buku itu. "Mudah-mudahan Rosyid & Delia jadi best seiler lagi seperti Da Peci Code" katanya.

Bahkan, Fahmi juga sudah bersiap-siap mengadaptasi Da Peci Code ke layar lebar. "Beberapa production house sudah menawar, tapi belum ada yang cocok," kata Fahmi.

Bila novel ini siap difilmkan, Ben berharap dirinya dilibatkan . dalam produksi film ini, termasuk bila diperlukan dalam penulisan skenarionya.”Ini supaya cerita di film nggak melenceng dari novelnya.” kata Ben yang belajar menulis secara otodidak.



Monday, September 08, 2008

RENCANA USAHA ALA ERNST&YOUNG

Membaca buku ini seolah mengajarkan kita untuk membuat sebuah prospektus perusahaan, di mana pada awalnya menjelaskan apa perusahaan dan usaha tersebut serta produk apa yang ditawarkan/dijual ke pasar
(Investor Daily, Agustus 2008)


Bagian pertama buku ini, berisi penjelasan apa itu rencana usaha, yang menurut penulis buku ini dapat disusun berdasarkan tiga fungsi,yaitu menetapkan masa depan, menetapkan seberapa baik sasaran telah terpenuhi, dan mendapatkan uang. Membuat rencana usaha, dapat dikatakan upaya
mengembangkan gagasan, sehingga kalaupun salah hanya di atas kertas. Karenanya proyek usaha merupakan dokumen dari bagian proyek yang pragmatis, selain juga perencanaan merupakan awal dari pungsroses mendapatkan uang.

Karena usaha ditujukan untuk mendapatkan uang, maka rencana itu harus sedemikian menarik, meyakinkan pemilik modal, yaitu pemberi pinjaman dan investor. Baik pemberi pinjaman maupun investor biasanya merujuk pada 4K, yaitu karakter, kolateral, kas, dan juga kontribusi atas rencana usaha tersebut.

Dalam bab ini banyak diulas bagaimana menyusun rencana usaha, mulai dari bagaimana menjalankan usaha, bagaimana mempereoleh sumber dana, menata arus kas, serta lainnya.

Bab ini juga mengupas, bagaimana sebaiknya badan hukum usaha itu dibentuk, dengan memperhatikan pada variabel liabilities, kontrol, kemudahan mendatangkan investor, dan perpajakan. Pada bagian ini juga dilengkapi dengan tabel berbagai tipe kepemilikan usaha berikut konsekuensi dari tipe kepemilikan itu.

Bagian kedua dari buku ini dibagi dalam 12 bab dan mengulas lebih detail lagi tentang rencana usaha.Setiap bab dari bagian ini dilengkapi dengan rencana usaha yang disusun usahawan lalu diberi komentar tentang rencana usaha. Memang sekilas bagian ini sepertinya menggambarkan bagaimana proses Ernst & Young dalam menilai usahawan yang dapat disebut sebagai young eunterprenuer.

Bab ini menggambarkan perkembangan usaha di abad 21, tentang kecenderungan para penjual usaha untuk menyewa analis guna melakukan uji tuntas (due dilligence) agar semua pembeli mendapatkan akses informasi yang sama. Selain juga tentunya berhati-hati untuk mengantisipasi kemungkinan pembeli potensial menggangu kegiatan dari perusahaan yang hendak dijual.

Pada bagian ini juga dikedepankan mengenai contoh dan model rencana usaha yang dianggap sukses dan dijadikan sebagai studi untuk mengulasnya. Pada setiap bab yang mengulas suatu bagian tertentu dari rencana usaha dilengkapi dengan berbagai usulan dan saran dari lembaga yang bernama Ernst & Young. Sebagai studi kasus, dibahas rencana usulan dari Good Food Inc (GFI) sebuah perusahaan makanan bayi dan anak anak.

Membaca buku ini seolah mengajarkan kita untuk membuat sebuah prospektus perusahaan, di mana pada awalnya menjelaskan apa perusahaan dan usaha tersebut serta produk apa yang ditawarkan/dijual ke pasar, rencana, dan strategi pemasaran, serta berbagai hal yang pada intinya bagaimana menjual dan mendapatkan uang. Hanya saja dalam buku ini, setiap item dibahas secara detil dengan penjelasan yang definitif.

Pada intinya, buku ini hadir selain membantu pembaca mengenai dan memahami bagaimana membuat rencana usaha, terpenting memperkenalkan Ernest & Young serta jasa-jasa yang ditawarkannya. Mengingat dari apa yang diulas, dalam buku ini hanya sekadar menawarkan teori bagaimana cara berwirausaha di atas kertas. Memang dalam halaman-halaman berikutnya Anda dapat menemui penjelasan apa dan bagaimana merancang usaha. Sekali lagi, itu hanya definitif, bukan penjelasan yang ringkas dan praktis



PENGAKUAN POLITISI, BOBROKNYA ULAH ANGGOTA PARLEMEN

Setelah membaca buku ini, bisa saja Anda menduga inilah gambaran tentang carut-marutnya parlemen dan Pemerintahan Indonesia. Karena itu pula, diharapkan setelah membaca buku ini Anda dapat berkaca dan akan memiliki tanggung jawab moral lebih besar lagi, sehingga saat memilih anggota parlemen yang akan menduduki gedung rakyat tersebut tidak asal pilih
(Investor Daily, Agustus 2008)

Dalam buku yang diklaim penerbitnya sebagai kisah nyata, nama anggota parlemen yang menuturkan kisah ini dikaburkan dengan nama lain (anonymous) dan negaranya pun menjadi Negara Indosiasat. Sehingga, parlemen pun menjadi Parlemen Rakyat Negeri Indosiasat

Buku yang digarap dalam bentuk tulisan naratif ini, banyak dipenuhi gaya bahasa yang agak santun dan sedikit humor dalam mengungkap pengalaman menarik anggota parlemen di batik tembok gedung yang bernama parlemen rakyat.

Karena mayoritas anggota parlemen di Republik Indosiasat pria, maka pintu pertama yang dibuka dari cerita parlemen ini berkaitan dengan Wanita, yang lebih tegasnya syahwat. Mulai dari kisah perekrutan sekretaris anggota parlemen, kondom bekas di tempat sampah, hingga artis yang digandeng anggota parlemen yang kebetulan juga kiai. Bahasan syahwat ternyata banyak menghiasi kalangan anggota parlemen. Mulai dari yang di kantor, ruang karaoke di dalam negeri, maupun di luar negeri. Pemaparan dalam buku ini, jika benar adanya, kian mentasbihkan, bahwa politikus, wanita, uang, dan selebritas menjadi kesatuan yang menghiasi Negeri Indosiasat.

Pada ulasan lain, juga terungkap bagaimana enaknya menjadi anggota parlemen dengan menikmati gaji negara, fasilitas layanan dari pemerintah dan para pengusaha yang butuh dukungan politik, serta penghormatan kedudukan. Apalagi, saat masa reses memperoleh dana, gaji ke-13, dan fasilitas perumahan pun bisa diperoleh dengan mudah.

Wajar saja, jika posisi anggota parlemen menjadi idaman dan rebutan bagi mereka yang ingin menikmati jalan pintas. Ruh suci anggota parlemen sebagai pembela atau suara rakyat, sangat kentara kering sekali. "Hari gini masih mikirin rakyat?'

Sikap sebagian anggota parlemen semacam ini, dapat dikatakan sebagai refleksi dari kondisi partai-partai yang ada di Republik Indosiasat. Dalam cerita buku ini, ada partai yang menerapkan kebijakan menjual tempat nomor urut calon anggota DPR hingga harga satu miliar rupiah. Ada juga berdasarkan kolegial dan nepotisme, berdasarkan suara terbanyak, dan berbagai ketentuan lainnya. Yang jelas dari semua itu, ujung-ujungnya juga butuh dana besar untuk menjadi seorang anggota parlemen.

Cerita menarik lain juga terkuak dalam buku ini, termasuk para anggota parlemen mengomentari sang presidennya yang percaya dengan pemikiran instan. Program energi biru laut yang diklaim presidennya dapat mengubah air menjadi minyak, ten tang demo 1 Juni yang membenturkan dua kelompok, yang bertujuan untuk mengalihkan demo-demo protes kenaikan BBM, hingga salah seorang ulah anggota parlemen yang takut istri menjadi pembicaraan sehari-hari para anggota dewan yang terhormat, selain membicarakan proyek-proyek yang dapat mendatangkan fulus.

Masih lagi cerita-cerita yang sebenarnya sudah beredar dan berkembang di masyarakat. Sebenarnya buku ini lebih pada menjelaskan kepada pembacanya apa yang telah beredar di masyarakat dan bagaimana proses keputusan dikeluarkan oleh parlemen. Semisal bagaimana proses hak interplasi dalam kasus dana Tunai Bank Indosiasat, yang dalam kondisi nyata di negeri ini BLBI. Kisah ini akhirnya melahirkan kasus yang menguak hingga menampar beberapa petinggi negara, petinggi partai dan juga anggota parlemen. Buku yang hanya ditulis dalam waktu 30 hari oleh sang anggota parlemen, merupakan sebagian kecil saja dari cerita para lakon anggota parlemen yarig terhormat. Dan penulisan cerita dalam buku ini sangat menarik dan bahasariya" cukup singkat dalam setiap judul, serta tanpa ada batasan dan ketergantungan terhadap judul lain.

Setelah membaca buku ini, bisa saja Anda menduga inilah gambaran tentang carut-marutnya parlemen dan Pemerintahan Indonesia. Karena itu pula, diharapkan setelah membaca buku ini Anda dapat berkaca dan akan memiliki tanggung jawab moral lebih besar lagi, sehingga saat memilih anggota parlemen yang akan menduduki gedung rakyat tersebut tidak asal pilih. (muhammad ali)

Tuesday, August 05, 2008




MENGUNGKAP KEMBALI KEDIGDAYAAN ASIA


Pada masa Ibn Fadlan, usia Islam belum genap tiga abad, tapi kepemimpinannya telah mengendalikan wilayah yang amat luas, mulai dari Bagdhad-ibu kota kekhalifahan Dinasti Abbasiyah-hingga pada abad ke-10 mampu menyebar ke Delhi, Beijing, dan Konstantinopel sebagai kota terluas, terkaya, dan terkemuka di dunia pada masa itu
(Investor Daily, Juli 2008)

Stewart Gordon sang penulis buku Asia Menguasai Dunia ini mengakui perdaban dan budaya Asia yang telah lebih dulu menguasai inovasi dan berjaya dalam segala bidang-ekonomi, iptek, dan politik-serta menguasai jaringan kunci yang membentang dari Arab hingga India, dari Tiongkok hingga Hindia.

Diawali dari Asia kawasan Timur, tepatnya dari Tiongkok, buku ini mengungkap perjalanan Xuanzang-seorang biarawan asal wilayah utara Tiongkok hingga ke India, guna mempelajari ajaran Budha. Perjalanan Xuanzang bagai misi diplomatis isubagai pembuka hubungan antara Tiongkok dan India. Dan juga memperkenalkan ajaran Budha di kawasan Tiongkok yang telah lebih dulu mengenal ajaran Taoisme dan Konfusianisme. Namun Budhisme mampu tegak sebagai suatu tantangan spiritual dan intelektual bagi prilaku Tiongkok yang kerap berpuas diri dan angkuh (hal 27).

Sementara itu, di kawasan Asia lainnya, pola peradaban kepumimpinan ala khalifah di Baghdad yang bersumber dari agama Islam juga berkembang pesat. Pada masa Ibn Fadlan, usia Islam belum genap tiga abad, tapi kepemimpinannya telah mengendalikan wilayah yag amat luas, mulai dari Bagdhad-ibu kota kekhalifahan Dinasti Abbasiyah-hingga pada abad ke-10 mampu menyebar ke Delhi, Beijing, dan ' Konstantinopel sebagai kota terluas, terkaya, dan terkemuka di dunia pada masa itu,

Kebudayaan pun marak berkembang, berl teks berbahasa Yunani yang texkait dengan matematika, geografi, astronomi, agrikultur. kedokteran diterjemahkan. Pada masa Kekhalifahan Baghdad, berbagai bidang ilmu pengetahuan memang sangat berkembang.

Salah satunya ilmu filsafat dan kesehatan digandrungi Ibnu Sina. Pada masa itu pula, ketenaran ilmuwan islam mulai menguak. Sebut saja pakar matematika Al-Khawarizmi (algaritma), Al-Jabar dengan berbagai perkembangan ilmu matematikanya serta penemuanya yang pada akhirnya menjadikan kawasan Asia bagian Timur Tengah sangat terkenal dengan ahli matematikanya. Pada masa itu, pasar buku perpustakaan menjadi salah satu tanda kemajuan peradaban di salah satu kawasan Asia tersebut

Sementara itu dari sisi perekonomian, di belahan Asia lainnya telah berkembang berbagai pedagangan komoditas Mulai dari komditas tambang, seperti bijih timah yang dijadikan pembuatan perunggu, hingga pedagangan sutra yang akhirnya dikenal dengan jalur sutra.

Asia pada abad 500 hingga 1500 M, memang diakui memiliki berbagai keunggulan dan kemajuan yang belum dimiliki benua lainnya. Mulai dari perkembangan agama, kekaisaran kerajaan, keilmuan, sumber kekayaan alam perdagangan komoditas dan lainnya. Berbagai kekaisaran/kerajaan hamper hadir di berbat Negara di Asia. Di Asia Tenggara terdapat kerajaan Sriwijaya, Angkor, Campa, dan banyak lainnya. Di Timur Tengah dikenal sistem kekhalifahan, di Tiongkok terkenal dengan dinasti

Kawasan Asia raya disuburkan oleh dua agama besar, yaitu Islam dan Budha, serta Kekaisan/Kerajaan Mongol. Berbeda dengan Michael Backman yang menggambarkan kemajuan Asia hingga membawa dampak yang sangat menakutkan bagi Eropa dan Amerika yang telah lama menguasai perekonomian dunia. Buku ini justru menguak sejarah bagaimana Asia pernah menguasai dunia.(am) '

I




BISA KAYA DARI KEBIASAAN BERBUAT LEBIH

Penulis buku berharap, dengan membaca buki ini Anda dapat mengubah kegagalan menjadi suatu aset yang tak ternilai dan meraih kesuksesan yang luar biasa, atau dalam buku ini dikenal dengan Dua Belas Kekayaan Besar.
(Investor Daily, Agustus 2008)

The Master Key to Riches ini merupakan salah satu buku yang bukan saja memaparkan ajaran, tapi juga dengan pembuktian dari cerita-cerita menarik seorang yang sukses, kaya, dan bahagia. Buku yang ditulis Hill ini mengacu kepada cerita perjalanan sang guru yang juga seorang motivator terkenal Andrew Carnegie, yang banyak memberikan warisan kekayaan untuk Hill.

Buku ini menawarkan sebuah kekayaan yang bukan hanya diukur dari segi materi. Akan tetapi kekayaan berupa kebebasan, kemerdekaan, materi, kekayaan akses, dan kekayaan relasi. Jadi, kekayaan kehidupan luas yang hanya dapat diraih dengan sedikit upaya. Dalam bahasa Hill, kekayaan yang tidak bisa dibeli pun, dapat Anda raih. Dan untuk mencapai itu, Hill menawarkan 12 Kunci Pembuka Kekayaan. antara lain kunci untuk membuka pintu kesehatan prima, kunci untuk membuka pintu cinta dan kasih sayang, kunci pembuka pintu persahabatan yang langgeng, pembuka metioide pengubah kesalahan, kekeliruan, kekecewaan, dan kegagalan.

Salah satu kunci yang sangat menarik dikupasdalam buku ini adalah Kebiasaan Berbuat Lebih (KBL) dan sangat banyak contoh-contoh menaril diungkapkan. Mulai dari cerita seorang pemuda. di mana ketika semua orang tidak peduli kepada seorang nenek yang mondar-mandir di depan toko, hanya pemuda itulah yang berbuat lebih hingga membantu sang nenek menyeberang jalan dan mengantarkannya ke kendaraan. Apa yang diperbuat si pemuda tadi, pada akhirnya membawa sesuatu kekayaan yang tidak pernah terpikirkan, dia memperoleh warisan dari sang nenek. Dan banyak lagi kisah-kisah sukses yang membuat ornag menjadi kaya karena berbuat lebih. Buku ini juga memberikan harapah bagi Anda yang menjadi karyawan, untuk tetap bisa menjadi kaya, hanya dengan menerapkan prinsip KBL.

Penulis buku berharap, dengan membaca buki ini Anda dapat mengubah kegagalan menjadi suatu aset yang tak ternilai dan meraih kesuksesan yang luar biasa, atau dalam buku ini dikenal dengan Dua Belas Kekayaan Besar.

Penulis buku ini mengajarkan untuk menjadikan semua sarana bisa membantu Anda menuju kesuksesan. Mulai dari sarana pendidikan, pengalaman, dan keterampilan teknis yang semua akhirnya bergantung pada diri Anda dan jalinan kerja sama. Setiap kesuksesan yang langgeng pasti diawali dengan pengaruh positif individu lain melalui suatu bentuk berbagi. (M All)



Friday, February 01, 2008


NEGARA DI BAWAH KUNGKUNGAN IMF

Buku ini juga menyoroti bagaimana terjadinya metamorfosis Majelis Amanat Rakyat (MARA)- yang didirikan Amien beserta cendikawan reformis, seperti Faisal Basri, Arbi Sanit, dan Muchtar Pabotinggi menjadi Partai Amanat Nasional (PAN), sebagai keberhasilan Amerika dan CIA-nya mengandangkan kaum reformis ke dalam wadah partai sehingga kekuatannya tidak lagi tanpa batas (Investor Daily, Januari 2008)



Membaca buku yang ditulis rekan saya (Ishah Rafick) ini. asanya seperti membaca novel yang sangat sayang bila tidak dituntaskan segera. Karirnya sebagai jurnalis membuktikan betapa mengalir dan derasnya tulisan Ishak dalam mengulas permasalahan ekonomi dan politik yang dihadapi bangsa ini. Bukan saja fakta dan analisis yang dikemukakan, seolah lembaran gambar yang mudah dilihat dan dirasa.

Buku yang diklaim penulis sebagai hasil investigasi secara keseluruhan menunjukkan betapa rapuhnya dan dependnya republik ini dalam hal kebijakan di bidang ekonomi dan politik. Terutama dalam menghadapi tindakan dari kolonialisme modern yang bernama IMF dan negara-negara kapi­talis.

Dengan bahasa yang santun penulis memaparkan bagaimana peran dan kokohnya IMF dalam menata negeri ini dengan menempatkan antek-anteknya yang dikenal dengan Mafia Barckley untuk menduduki posisi strategis. Seperti menteri keuangan dan menteri BUMN.

Dalam beberapa bab, selain memaparkan, penulis juga mengritik dan membandingkan kebijakan antarsatu presiden dengan presiden lainnya. Termasuk pemaparan bagaimana IMF tidak segan melanggar etika politik dengan menginterfensi keputusan presiden satu negara, contohnya saat Presiden Abdurrahman Wahid, Henry Fisher Direktur IMF tidak malu meminta Gus Dur untuk memutus urat dana IPTN dan Texmaco. Sementara 27 proyek listrik swasta di mana perusahaan MNC ikut terlibat masih boleh jalan terus.

Hal yang sama dilakukan Duta Besar AS di Indonesia meminta secara halus agar Menkeu saat itu - Bambang Sudibyo tidak mengganti Kepala BPPN GlennMSYusuf. (Halaman 346, Tekanan Dunia Luar Terhadap Gus Dur)

Buku ini juga memaparkan dengan tegas bagaimana peran IMF dalam memberikan jalan mulus bagi multi nasional corporation melahap semua kekayaan milik rakyat. Semua strategi itu dirumuskan dalam Lol yang me-muat 51 item juklak yang harus dijalankan pemerintah. Dalam buku ini penulis mengistilahkan dengan GBHN Super dari Bawah Meja IMF, yang intinya kebijakan itu menyerahkan negara kepada asing (hal 123-125).

Yang juga sangat menarik, isi LOI itu, sepertinya menyediakan kuburan bagi rakyat dan memberikan jalan bebas hambatan bagi asing untuk menguasai semua kekayaan yang ada di republik ini. Anehnya kebijakan IMF ini, menurut penulis ditanggapi pemerintah bak memberi karpet merah bagi asing yang memangsa semua perusahaan BUMN maupun swasta yang memang sedang dililit utang dengan harga yang jauh sangat murah
Semua pimpinan yang pernah menampuk jabatan presiden melakukan semua itu. ketimbang membela kepentingan rakyat. Dan hasilnya, terbukti saat ini, semua bank besar sudah dikuasai asing.

Dalam buku ini, begitu gamblang diungkapkan kasus-kasus bagaimana pihak IMF, asing, dan para kapitalis menguasai kekayaan yang menjadi kebutuhan hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh, bagaimana SBY dengan mudahnya memberikan Blok Cepu ke tangan Exxon Mobil Corpora­tion, sekalipun Pertamina bersikeras menolak. Yang ada justru direktur utama Pertamina menjadi korban dipecat, satu hari sebelum Menlu AS, Condoleza Rice tiba di Jakarta, (hal 24).

Penulis juga mengupas bagaimana penderitaan rakyat atas kebijakan yang diambil pemerintah, terutama dalam restrukturisasi perbankan. Mulai dari bagaimana utang para konglomerasi senilai Rp 600 triliun akibat restrukturisasi perbankan, yang kemudian diubah menjadi utang rakyat. Dilanjutkan kemudian langkah IMF memaksa pemerintah menjual bank-bank, salah satunya Bank BCA yang telah menelan dana pemerintah Rp 58 triliun dan pembelinya kemudiaan menikmati bunga obligasi rekap.

Visi Kerakyatan yang Dibungkam

Keberanian pemerintah hanya tampak pada masa Habibie yang hanya berkuasa 512 hari

Dua menteri saat itu, Meneg BUMN Tanri Abeng dan Menteri Koperasi Adi Sasono berani mengabaikan APBN bawah meja susunan Lol IMF. Ketika Habibie berkuasa dan tampuk kepemimpinan BUMN di tangan Tanri, telah berhasil menjalankan kebijakan reformasi BUMN.

Sekalipun IMF rnenekan agar BUMN segera dilepas, Tanri selaku menteri yang telah berpengaiaman mengendalikan perusahaan multinasional, dengan tegas menolak. Alasannya, BUMN harus direstrukturisasi dulu hingga memiliki daya saing, selain itu harus profit kepada Negara, setelah itu baru bisa dilepas (hal 243).

Lain lagi yang dijalankan Adi Sasono. Dalam sub judul Merajut ekonomi Ke­rakyatan (hal 244), menteri yang telah berkecimpung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat berhasil menggagas dan menjalankan program ekonomi kerakyatan di luar skenario IMF.

Karena itu, untuk memberdayakan ekonomi rakyat, Adi meminta pemerin­tah menyisihkan anggaran Rp 10 tri­liun untuk pendirian Lembaga Permodalan Nasional Madani (LPMN) yang kemudian hingga kini bernama PNM. Adi beralasan, jika untuk restrukturisasi perbankan ratusan triliun IMF mendorong, kenapa untuk rakyat yang hanya 1/3-nya saja dipermasalahkan ? Akhirnya PNM pun berdiri dengan modalnya pun diciutkan hanya sepersepuluhnya dari rencana Rp 10 triliun.

Adi pun saat itu. berhasil memaksa pemerintah menyediakan dana Rp 10,8 triliun untuk kredit pengusaha kecil dan koperasi, dan bunganya pun hanya ditetapkan 10-15%, saat itu bunga komesial 37%. Tidak sampai di situ untuk benar-benar membangun ekonomi rakyat, Adi berencana membangun Pos Ekonomi Rakyat (PER) di 4.721 kecamatan yang ada di Indonesia,

Jelas saja langkah ini mendapat kritikan tajam, bukan saja dari IMF, tapi juga pengamat dan pelaku bisnis konglomerasi di Indonesia
Berbagai opini negatlf terhadap kebijakan Adi Sasono, mulai dari pengamat dan pe­laku bisnis konglomerasi di bawah komando Sofyan Wanandi, jubir Kelompok Jimbaran (kelompok konglomerat masa Soeharto), diciptakan. Hingga majalah kelas dunia Far Eastern Eco­nomic Review (PEER) menjuluki Adi Sasono sebagai 'The most dangerous man', (hal 248).

Ekonomi kerakyatan dianggap seba­gai upaya untuk memusuhi pengusaha besar. Dan pengamat sekelas Sri Mulyani dan Elka Pangestu menilai pemberian kredit murah kepada usaha kecil dan koperasi dianggap sebagai upaya menghambur-hamburkan uang. Menurut mereka untuk memberdayakan rakyat, telebih dahulu harus mempriorotaskan peningkatan SDM. Anehnya ketika sang pengamat menjadi Menteri Keuangan saat ini, justu kebijakan yang dinilai negatif itu malah dijalankan. Seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tanpa tahu sasaran dan hasilnya untuk pemberdayaan ekonomi. Selain itu juga, ternyata APBN di bawah susunan Ani panggilan Sri Mulyani hanya menganggarkan dana pendidikan 9% atau Rp 34 triliun, padahal TAP MPR menetapkan 20%. Ani justru malah berani menganggarkan dana untuk bayar utang IMF dan lembaga donor lainnya Rp 140,22 triliun (hal 257).
Kaum Reformis Tertunggangi

Dalam buku ini penulis juga menyoroti bidang politik, terutama bagaimana peran kaum reformis yang akhirnya kandas di tengah jalan dan tak memiliki arah. Amien Rais yang dinilai penulis sebagai tokoh reformis ternyata tidak bisa memanfaatkan runtuhnya orde baru dengan tampil sebagai pemimpin. Dalam pandangan penulis, hampir semua pemimpin reformasi di berbagai Negara, setelah berhasil menurunkan penguasa tampil mengendalikan pemerintahan. Bagaimana Khomaini ketika menjatuhkan Reza Pahlevi, Qorazzon Aquino tampil ketika menggulingkan Marcos, dan banyak lagi.

Tahu betapa posisi Amien dapat menjadi ancaman bagi pengusaha konglomerat, IMF, dan MNC lainnya, terutama untuk kepentingan bisnis AS di Indonesia, kaki tangan kapitalis memainkan perannya. Maklum Amien dalam orasinya kerap mengancam un­tuk
meninjau kembali kontrak-kontrak pertambangan yang dikuasai asing terutama Freeport. Dibandingkan Amien, Gus Dur menurut penulis lebih meyakinkan kaum kapitalis dan Amerika, apalagi keterlibatannya dalam Yayasan Simon Peres

Buku ini juga menyoroti bagaimana terjadinya metamorfosis Majelis Amanat Rakyat (MARA)- yang didirikan Amien beserta cendikawan reformis, seperti Faisal Basri, Arbi Sanit, dan Muchtar Pabotinggi menjadi Partai Amanat Nasional (PAN), sebagai keberhasilan Amerika dan CIA-nya mengandangkan kaum reformis ke dalam wadah partai sehingga kekuatannya tidak lagi tanpa batas.

Setelah mengetahui persoalan struktural yang dihadapi negara ini, penulis seolah mengajak pembaca memahami, merenung, dan bersimpati terhadap keadaan republik ini, di mana dari lima presiden yang pernah ada, tidak satu pun yang berani mengambil tindakan yang berpihak kepada rakyat, termasuk presiden SBY-JK yang saat ini berkuasa.

Buku ini layak dibaca para pelajar, mahasiswa, kaum cendikiawan, para politikus (DPR, DPRD, DPD dan MPR) pengusaha, petinggi negara, serta pengambil keputusan, karena merekalah yang akan menentukan nasib bangsa ini ke depan

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes