Showing posts with label *Majalah-Adil. Show all posts
Showing posts with label *Majalah-Adil. Show all posts

Monday, January 12, 2009


MORALITAS DARI SENAYAN

Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover
(Majalah ADIL, Desember 2008)

Abu Semar adalah nama samaran seorang anggota parlemen negeri ini yang mengutarakan kisahnya dan kisah teman-temannya sesama wakil rakyat. Lahirlah buku Parlemen Undercover yang menceritakan kisah-kisah sontoloyo wakil rakyat. Buku ini lucu, menggelitik, namun terkadang menyebalkan. Lucu karena para wakil rakyat ternyata juga manusia. Ambil kisah "toilet kafir". Kiai Badruzzaman adalah anggota parlemen dari daerah terpencil yang terkaget-kaget masuk ke hotel mewah dan tak tahu cara menggunakan toilet.

Menggelitik sebab berbagai kisah mereka yang memancing rasa ingin tahu atau membuat kita tersenyum. Seperti kisah "karaoke karo kowe" dimana sang wakil rakyat diajak untuk berkaraoke plus-plus. Anggota parlemen ini panas dingin karena tak terbiasa dan menolak halus. Juga cerita parlementarian yang membakar fotonya menghadiri tarian perut karena pers "akan berpikir pekerjaan anggota parlemen hanya kelayapan di kafe-kafe untuk menonton tari perut" (h.36)

Menyebalkan karena para wakil rakyat terkesan lebih banyak membuang waktu untuk bersenang-senang tinimbang berdarma bakti untuk rakyat dan negeri. Mulai dari pengangkatan "sekretaris selembar benang" yang dipilih karena lekuk badan yang aduhai. Atau kisah wakil rakyat yang memiliki artis pemain sinetron sebagai "anak asuh". Demikian pula kisah pemerasan oleh asisten atau selingkuh para wakil rakyat. Pun cerita tentang bagaimana staf Departemen Luar Negeri mengeluh karena susah melayani para istri anggota parlemen yang sibuk berbelanja barang bermerek dan hanya "menjadi beban para diplomat kita di luar negeri" (h.69).

Abu Semarjuga menggambarkan bagaimana masalah kebijakan publik hanya berujung pada masalah duit. Lihatlah kisah "Nuklir No, Jalan-jalan Yes". Negeri ini khawatir soal kelangkaan energi. Maka tenaga nuklir mulai dilirik untuk menyuplai listrik. Lalu diusulkanlah kunjungan bagi anggota dewan ke Korea Selatan dan Jepang sebagai dua negara yang sukses dengan program PLTN. Sejumlah nama parlementarian pun diusulkan untuk berangkat. Tiba-tiba, program kunjungan studi ke luar negeri itu menuai protes keras. Tuduhan berdatangan, dari tuduhan pelanggaran etik hingga keberangkatan yang dibiayai oleh para pembuat reaktor. Juga datang keberatan dari LSM dan organisasi non-pemerintah (ornop).

Namun ternyata kehebohan masalah itu bukan disebabkan oleh kepedulian kepada rakyat atau bahaya reaktor nuklir. Melainkan semata karena kecemburuan beberapa anggota dewan yang tidak diajak berangkat studi ke Jepang dan Korea Selatan. Mereka lah yang menggerakkan protes yang lebih besar dari bahaya bencana nuklir itu. Duh, celaka.

Parlemen Undercover mengungkapkan banyak sisi yang kerap disembunyikan dan sering ditabukan namun lantas disajikan dengan paparan setajam pisau silet. Kelakuan dan kejahatan para wakil rakyat dipampangkan lebar-lebar. Skandal demi skandal diulas dengan lugas, bernas, dan membuat kita menahan nafas. Wajar saja bila kemudian buku ini disajikan dengan nama samaran di negeri samaran, Abu Semar dari negeri Indosiasat.

Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover. Andai dikelola lebih mendalam dan ditelusuri lebih seksama boleh jadi dan bukan tak mungkin buku ini nantinya dapat menguak lebih banyak hal dan menjadikannya sejajar dengan "Ali President's Men" yang menguak tabir persekongkolan politik dalam kasus Watergate dan menurunkan Presiden Nixon.

Tetapi Parlemen Undercover sepertinya memang tak didesain untuk itu melainkan sekadar pemotretan realita yang ada di Senayan dalam konteks ringan dan bersahaja laksana obrolan santai di sore hari. Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Bahasa yang santai, ringan, dan renyah menjadi kekuatan buku ini. Alur yang disajikan pun tak kalah menarik. Kisah-kisah dibagi-bagi dari mulai yang paling ringan dan sensasional ke masalah-masalah persidangan. Satu demi satu kisah diutarakan dengan cara yang lancar disertai gambaran panoramis di awal plus sedikit kejutan di belakang. Belum lagi pengikutsertaan ilustrasi apik di sela-sela setiap kisah yang benar-benar membantu kita menikmati buku ini dengan santai tanpa kerut kening sembari menyeruput kopi dan sesekali tertawa terbahak-bahak atau pun menyimpul senyum.

Namun Parlemen Undercover juga membawa pesan moral yang sangat berharga. Parlemen negeri Indosiasat sepertinya banyak dihuni oleh orang-orang yang tak kompeten, tak cakap, dan hanya sibuk saling menelikung, berbuat culas, berlomba bejat, beradu siasat. Di gedung mulia itu, para wakil rakyat Indosiasat seakan tak henti mengumbar syahwat: entah syahwat sanggama atau syahwat kuasa. Rakyat masuk konsideran akhir atau malah tak dipedulikan sama sekali. Para wakil rakyat dalam Parlemen Undercover gagal menjadi suara rakyat apalagi mewakili rakyat. Tak heran negeri ini terus tertinggal. ■ md



ADIL No.39 | III | 20 November-17 Desember 2008

57


Tuesday, March 11, 2008


PERKINS-WANNA-BE

Catatan hitam bagi lima presiden Indonesia sesudah Sukarno berpangkal pada satu kata: IMF. Hanya Habibie dan Abdurrahman Wahid yang berani melawan. Habibie dianggap berhasil mereformasi BUMN melalui Tanri Abeng dan menjalankan ekonomi kerakyatan dengan Adi Sasono. Sedangkan Gus Dur dicermati mampu menolak campur tangan asing dan menggagas poros ekonomi Jakarta-New Delhi-Beijing. Namun kedua presiden itu akhirnya tersingkir.

Keluasan cakupan pembahasan buku ini perlu ditilik dari kesubtilan yang membuatnya menjadi karya besar. Sayangnya, Rafick mencitrakan buku ini sebagai kumpulan komentar tentang suatu peristiwa yang terkesan basi. Rafick masih berbicara mengenai "bila reshuffle kabinet kedua ini" dan anjuran agar "SBY-JK tidak ragu melakukannya demi memperbaiki nasib rakyat" (h.39-40) ketika perombakan ka¬binet itu telah menjadi kisah post-factum. Demikian juga optimisme Rafick pada gerakan cabut mandat yang bakal "menjelma menjadi api yang membakar republik" (h.47-48). Api tersebut keburu padam dan mencabut mandat gerakan cabut mandat.

Rafick juga sepertinya bingung dengan penempatan "p" dan "f, seperti "refresif (h.xvii) atau "pait a compli" h.igs). Bahkan andai pembaca membalik halaman buku ini secara acak akan dijumpai kejanggalan seperti "Mavia", "belanjda", "bord", "impeachement", atau"disktator".

Malah nama ekonom yang menjadi anggota Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi Keuangan, Steve H Hanke, ditulis "Steve Hanky" (h.64) seakan dia adalah nama pendek dari sapu tangan ("hanky") atau dari selingkuh ("hanky-panky"). Diktator Romania Ceausescu ditulis "Chou Ces Koe" (h.106) seakan satu marga dengan Chou En Lai. Ini tentu menunjukkan kelalaian besar, kalau tidak kemiskinan literatur yang akut, sehingga alis mata terpaksa terangkat curiga dan kening berkerut penuh pertanyaan ketika Rafick menganalisis konsep yang lebih besar atau berkisah tentang kejadian di balik suatu peristiwa.

Segepok kecurigaan dan setumpuk pertanyaan itu mengabsah ketika Catatan Hitam juga kerap mengumbar kesalahan faktual. Ambil contoh yang paling gampang dan telanjang. Rafick menengarai bahwa Presiden Musharraf berhasil "dengan cerdik memainkan posisinya yang strategis untuk meringankan beban negara dan rakyatnya". Washington mengabulkan permintaan Musharraf untuk memotong "utang luar negeri Pakistan sampai 50%, sedangkan sisanya dia meminta bunganya diturunkan sampai menjadi o% sebagai syarat" (h.33). Pada kenyataannya, Pakistan makin mengalami kesulitan ekonomi akibat sanksi yang diberikan berbagai negara dan lembaga keuangan internasional sejak kudeta Musharraf pada 1999. Perubahan terjadi saat Pakistan turut membantu perang melawan teror sesudah Musharraf, menurut biografinya, mengaku dibentak Richard Armitage, deputi menteri luar negeri AS. Bush perlu boneka seperti Musharraf seperti AS perlu Zia ul-Haq. Washington lalu menghapus tiga sanksi ekonomi terhadap Islamabad. AS mengucurkan bantuan 1,2 miliar dolar sejak 2002 ke Pakistan dengan 600 juta di antaranya adalah transfer tunai untuk menghapus utang. Utang bilateral AS terhadap Islamabad melalui Klub Paris sebesar 379 juta dolar dijadwalulangkan.

Pun yang sama untuk 12,5 miliar dolar utang Pakistan terhadap berbagai anggota Klub Paris. Itu tak berarti "pemotongan utang luar negeri Pakistan sampai 50%". Malahan Bank Negara Pakistan (SBP), melaporkan Islamabad meminjam lebih dari 15 miliar dolar sejak 2003 sehingga, untuk pertama kalinya dalam sejarah ekonomi negeri itu, Pakistan terbebani utang luar negeri di atas 40 miliar dolar di 2007.

Ditilik lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Pakistan kini didorong dua faktor penting: pengiriman uang (remittance) dan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment, FDI). Remittance bisa mengalir karena sanksi yang dicabut Gedung Putih dan FDI lancar sebab restu Washington. Sementara simpanan dalam negeri turun dari hampir 18 ke 16 persen semasa Musharraf. Artinya, Musharraf justru membuat ekonomi Pakistan lebih bergantung kepada asing tinimbang masa krisis ekonomi Pakistan pada iggoan. Ketergantungan ini membuat Islamabad tidak saja bergantung pada sokongan politik pemerintahan Barat dan lembaga keuangan seperti Bank Dunia dan IMF, tetapi dependen juga pada perusahaan asing. Tak pelak "kecerdikan" Musharraf bukan "mendorong pertumbuhan ekonomi" tetapi membuat rakyat dan negara Pakistan lebih bergantung pada kekuatan asing.

Bagaimana masalah periferal ini dibahas bisa memberikan petunjuk bagaimana masalah lebih besar dibahas. Buku ini didaku sebagai "hasil penelurusan jurnalistik selama 10 tahun" sekaligus menawarkan "analisis kritis yang komprehensif mengenai setiap peristiwa yang berlangsung selama itu" (h.xviii). Namun yang didapat seperti hasil pengumpulan tulisan jurnalistik sedekade untuk majalah sekaligus analisis trivial yang selektif mengenai beberapa peristiwa dalam cermatan fragmentaris nan oratoris.

Mungkin Ishak Rafick berniat mengekor sukses John Perkins sang economic hitman sebagai pendedah praktik keji di bidang ekonomi terhadap negara seperti Indonesia. Atau seperti Joseph Stiglitz yang kritis terhadap IMF dan Bank Dunia. Sayangnya, Rafick kekurangan kekayaan pengalaman sebab sekadar pengamat dari luar dan bukan pelaku seperti Perkins. Pun jauh dari lumbung data dan kepakaran ekonomi semacam Stiglitz sehingga Rafick terbesut pada analisis berdasarkan insinuasi dan innuendo. • hdmd 76ADIL No 30 I II I 21 Februari -19 Maret 2008

Saturday, December 29, 2007



RESENSI BUKU


Judul : My Faith : Kesaksian Iman Seorang Kristen Liberal
Penulis : Anne Lamott
Penerbit : Ramala Books
Halaman : 272

Kunci kesuksesan sang pcnulis adalah keahliannya untuk mengedepankan pengalaman sehari-hari dan pemaknaan religius yang disertai canda menghina diri. Andai dicarikan padanannya di negeri ini, Lamott se-perti perpaduan Tukul Arwana dan Aa Gym (Majalah Adil, edisi 28. Desember 2007)

Buku yang sempat tcrgolong laris di papan tangga versi New York Times ini aslinya berjudul Plan B: Further Thoughts on Faith. "Pikiran lanjut" bukan berarti pemikiran abstrak nan rumit, melainkan merujuk pada kesinambungan buku ini dengan karya Anne Lamott sebelumnya, Travelling Mercies (Kasih Berkelana).

Lamott memulai pemaknaan hidupnya dengan memutuskan untuk tidak bunuh diri di suatu pagi. Ia ingin mati di hari ulang tahunnya karena "hidup adalah hari-hari pembuangan". Apalagi waktu tak pula bersahabat dengannya. "Lebih baik mati di tanganmu sendiri daripada menghadapi kematian perlahan di tangan pemerintahan Bush"(h.i3). Namun justru karena Bush jualah ia memu¬tuskan untuk terus hidup guna memprotes sang presiden dan Gedung Putih, di samping karena Lamott "tak ingin mati sebagai seorang wanita tua bungkuk jelek".

Kisah lalu berlanjut melalui suara seorang ibu tunggal yang bergelut dengan keseharian dengan sentuhan pemikiran agama. Misalnya cerita Lamott menghadapi anaknya yang sudah remaja, Sam. Lamott pernah suatu saat berpikir untuk niendorong Sam jatuh dari tangga karena kenakalannya. Kemudian dengan sedikit meminjam hukum Alkitab, Lamott sempat berpikir untuk merajam si anak bandel. Tentu tindakan itu tak ada. Yang ada malah kiat sang ibu mengikat erat tali kasih yang hampir lepas.

Kunci kesuksesan sang pcnulis adalah keahliannya untuk mengedepankan pengalaman sehari-hari dan pemaknaan religius yang disertai canda menghina diri. Andai dicarikan padanannya di negeri ini, Lamott se-perti perpaduan Tukul Arwana dan Aa Gym.

Ketcrikatan erat ini kerap menimbulkan pernyataan atau sontakan pemikiran yang tak umum. Keimanan, bagi Lamott misalnya, bermakna "memerhatikan kekacauan, kekosongan, ketidaknyamanan, dan merela-kannya hingga sebersit cahaya bersinar kembali" (h.2i4). Tuhan di matanya begitu personal sehingga "aku mulai meyakini bahwaTuhan juga ada dikamar mandi"(h.43).

Pendapatnya kerap bersingungan de¬ngan ortodoksi agama namun juga tak terlalu bebas untuk menjadikannya liberal. Dan memang My Faith tak mcsti harus dihadapi dengan keseriusan dan kcrut alis karena "bersantai dan tertawa adalah tindakan yang paling spiritual dan subversif' (h.26o).

Esai-esai berisi pengalaman hidup dalam buku ini mcnjadi menarik karena menyuarakan satu bcnang mcrah optimisme: "harapan bukan berarti membuktikan sesuatu, melainkan memilih untuk meyakini sesuatu: bahwa cinta lebih bcsar dari semua kesulitan yang kita alami"(h..231).hd

Tuesday, November 06, 2007

Mengungkap "Rahasia Besar"

JUDUL : Rahasia di Balik Al-Aqsha
PENULiS : Abu Aiman
PENERBIT : Ramala Books
Cetakan : Pertama, September 2007
TEBAL : 255 halaman

"Dengan gaya bahasa naratif dan argumentatif, buku ini mampu menyajikan kajian serius namun enteng dicerna" (Adil No. 26, Oktober 2007)

Termasuk dalam tahap-tahap perusa­kan tersebut adalah penghancuran Pintu al-Buraq atau pintu al-Magharibah. Pintu yang pernah dilalui oleh Rasulullah Saw saat melakukan isra' ke Masjid al-Aqsha

Sejak menduduki Palestina dan mendirikan negara ilegal Israel pada 1947, kaum Zionis tak henti-hentinya melakukan berbagai teror, yang tidak hanya menimpa warga Palestina, melainkan juga situs-situs bersejarah umat Muslim. Salah satunya adalah upaya perusakan berkedok "penggalian arkeologis" terhadap area Bait al-Maqdis, yang meliputi Masjid al-Aqsha dan Qubbah as-Sakhra.

Proyek perusakan ini mereka lakukan tak lama setelah kemenangan Israel atas Arab dalam perang enam hari 1967. Tahap pertama perusakan dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Profesor Benjamin Meizar. Kemudian dilanjutkan dengan tahap-tahap berikutnya, yang total seluruhnya memberi dampak kerusakan cukup besar pada fondasi Masjid al-Aqsha dan Qubbah as-Sakhra.

Termasuk dalam tahap-tahap perusa­kan tersebut adalah penghancuran Pintu al-Buraq atau pintu al-Magharibah. Pintu yang pernah dilalui oleh Rasulullah Saw saat melakukan isra' ke Masjid al-Aqsha. Diberitakan bahwa Israel diperkirakan telah menghancurkan 100 meter jalan akses ke Pintu al-Magharibah. Israel juga melenyapkan semua bebatuan bersejarah di lokasi itu. Padahal, jalan akses tersebut merupakan salah satu penyangga penting bagi pagar yang mengelilingi Masjid al-Aqsha. Sehingga, bila penyangga ini hancur, maka pagar akan mudah runtuh. Dan keruntuhannya itu akan sangat berpengaruh bagi keruntuhan Masjid al-Aqsha.

Mengenai klaim Israel bahwa di area Bait al-Maqdis terdapat situs bersejarah peninggalan Yahudi, ini merupakan mitos yang dibantah melalui penelitian sejarah Israel sendiri. Sebuah lembaga penelitian modern milik Israel, Jerusalem Center, pernah melakukan penelitian detail di sekitar Tembok Ratapan, dekat lokasi Pintu al-Magharibah. Hasilnya, mereka menegaskan bahwa seluruh area Masjid al-Aqsha, termasuk Tembok Ratapan, merupakan situs bersejarah milik Muslimin saja, tidak ada kaitannya dengan sejarah Yahudi. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Samuel Berigo, seorang doktor arkeologi Israel.

Pada 1930, sejumlah utusan Muslim membentuk tim segitiga untuk membahas lokasi Tembok Ratapan. Hasil kajian mereka menyebutkan bahwa hanya sejarah Muslimin saja yang seharusnya memiliki area Tembok Ratapan. Karena, lokasi tembok ini merupakan bagian dari area Bait al-Maqdis (Haram al-Quds asy-Syarif) yang merupakan peninggalan sejarah Islam. Rekomendasi tim segitiga itu memperoleh apresiasi dari lembaga internasional, karena hasil penelitiannya dianggap sesuai dengan standarilmiah, netral, dan objektif.

Namun, semua itu tak dihiraukan oleh Israel. Karena, memang proyek perusakan yang bertujuan untuk meratakan area Bait al-Maqdis dengan tanah ini sebenarnya tak lain hanyalah demi membangun Kuil Mesianik Ketiga, dalam rangka menyongsong meletusnya perang besar Armagedon dan datangnya figur Mesiah Yahudi. Bahkan, Israel kini sedikit lebih berani dalam melakukannya, termasuk tak menggubris kritik tegas UNESCO terhadap aksi penggalian ilegalnya itu.

Imam Khomeini, sejak masa awal kemenangan Revolusi Islam, sebenarnya telah memperingatkan Muslimin tentang hal ini. Dalam Pesan Hajinya (6 September 1981), beliau berkata, "la (Anwar Sadat) telah membentuk aliansi dengan Israel yang saat ini, di samping melakukan kejahatan-kejahatan di kawasan, juga melakukan kejahatan besar lainnya, yaitu penggalian di area Masjid al-Aqsha, kiblat pertama umat Muslim. Sehingga, dengan melemahnya fondasi masjid ini, kiblat pertama Muslimin wal 'iyadzu billah akan hancur dan Israel akan mencapai keinginan busuknya”. Namun sayangnya, seruan ini tidak memperoleh tanggapan serius dari para pemimpin negara-negara Muslim, terutama negara-negara Arab.

Isu perusakan inilah yang ingin disajikan penulis dalam buku ini, tentunya dengan pembahasan yang lebih detail. Penulis memang lihai dalam mengangkat isu yang mungkin terlupakan dari benak sebagian Muslimin itu, dikarenakan begitu gencarnya aksi-aksi teror fisik Israel terhadap warga Palestina, yang cukup menyita perhatian dan memadati media massa dunia.

Dengan gaya bahasa naratif dan argumentatif, buku ini mampu menyajikan kajian serius namun enteng dicerna. Ditambah lagi dengan beragam foto pendukung, yang menjadikan buku ini tidak membosankan, meskipun dibaca berkali-kali. Apalagi ditunjang oleh kepakaran penulis di bidang kristologi, sehingga buku ini pun mampu menghadirkan argumen-argumen bertenaga, dengan merujuk pada Bibel dan tentu saja al-Qur'an sebagai rujukan utama.

Selain tema perusakan Bait al-Maqdis, buku ini juga dengan gagah membahas tinjauan historis seputar peristiwa-peristiwa yang terukir di Yerusalem sejak zaman purba hingga modern, yang nampaknya menjadi bonus tersendiri bagi pembaca. Belum lagi, bukti-bukti yang mengungkap relasi antara Dinasti Bush dan beberapa pemimpin negara lainnya dengan gerakan Zionisme Internasional. Sehingga, nampaknya penulis ingin menyampaikan pesan "beli satu dapat tiga" sekaitan dengan bukunya ini.

Meskipun menurut saya tampilannya masih perlu dikembangkan lagi, namun secara keseluruhan muatan buku ini bagus, ilmiah, dan perlu dibaca. Terutama, yang perlu digarisbawahi adalah misi buku ini, yaitu mengungkap "rahasia besar" model lain penghinaan Zionis terhadap Muslimin. Wallahul Musta'an. • anis maulachela

ADIL No26 II I Oktober2007

Wednesday, September 26, 2007

Pengakuan Sekadar Dakuan

"Bacalah buku ini untuk membuka perspektif baru"
(Majalah Adil, Edisi September 2007)

Buku ini aslinya berjudul The Secret History of The American Empire dengan subjudul Economic Hit Men, Jackals, and the Truth about Global Corruption. Karya kedua John Perkins, penulis sekaligus dukun (kalau shamanism bisa dimaknai sebagai perdukunan) itu lalu diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi dengan subjudul Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga. Pengubahan ini bukan tidak signifikan.

Edisi Indonesianya masih ingin memperlihatkan bahwa buku kedua ini masih terkait dengan buku pertama Perkins, Confessions of an Economic Hit Man, sehingga buku kedua yang semestinya diberikan tajuk Sejarah Rahasia Kemaharajaan Amerika dialihkan menjadi terjemahan literer dari judul buku Perkins yang pertama. Menarik.

Penggunaan subjudul Kelanjutan Kisah daripada Korupsi Global (Global Corruption) merupakan pengulangan dan penegasan keterkaitan buku ini dengan Confessions karya Perkins yang laris manis. Semua atribut mesti digunakan untuk memperjelas kedekatan ini. Di samping itu, pemakaian Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga ketimbang Global menunjukkan usaha untuk lebih memperlihatkan bahwa buku ini bersifat lebih khusus pada masalah Indonesia dan negara-negara dunia ketiga sembari memarjinalkan sifat kemenduniaan yang ingin diutarakan Perkins. Lagi-lagi ini merupakan taktik menarik yang membuat buku ini bukan saja terasa dekat dengan buku Perkins sebelumnya yang bestseller melainkan juga membikin buku ini memiliki kedekatan khusus dengan pembaca Indonesia.

Pendekatan jenial ini bukan tanpa kekurangan. Sifat global menguat di Bagian 5: Mengubah Dunia, seiring dengan pembahasan Perkins mengenai agenda perubahan yang mesti dibawa ke jantung si pembuat onar itu sendiri: Amerika Serikat. Sehingga Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga, suatu pilihan kata yang mirip judul buku Tintin itu, menjadi terkesan melenceng serta, meminjam pilihan kata Wapres Jarwo Kuat di Republik Mimpi, tak lagi relevan dan signifikan. Perkins juga kerap menegaskan globalitas ini dengan menggunakan perumpamaan yang asing buat orang Indonesia, misalnya ketika menggambarkan seorang perempuan Indonesia yang menatap "seperti seekor kelinci betina di lapangan New Hampshire" (h.24). Alamak.

Tetapi penggunaan Kelanjutan Kisah memang absah. Membaca buku ini tanpa terlebih dahulu menyimak pendahulunya seperti menyantap hidangan penutup sebelum menikmati menu utama. Ambil contoh bagaimana Perkins menggambarkan pergeseran standar mata uang dari emas ke dolar yang dibantu dengan percepatannya oleh konflik Arab-Israel dan bisnis minyak (h.215-220). Celakanya, detil strategi yang dikerjakan sang economic hit man tak dijelaskan sebab "sudah disajikan dalam buku "Confessions". Dan Perkins melakukan itu berulang kali. Beruntung mereka yang sudah membaca Confessions, malang mereka yang belum. Kocek harus lebih dalam dirogoh demi kedua buku ini. Terasa sekali profesi sebagai economic hitman ternyata masih melekat pada Perkins. Sebagaimana Confessions, Pengakuan (atau Secret History agar tak membingungkan) bersandar pada kisah pengalaman John Perkins meruntuhkan ekonomi negara-negara demi kepentingan kekuasaan perusahaan. Economic Hit Man (EHM) bukan mirip dengan terjemahannya sebagai bandit ekonomi. Mengingat tugas EHM adalah mengubah negara miskin menjadi pecandu utang maka mungkin lebih pas bila hit man ditafsirkan sebagai pelibas. Melibas berarti memukul seperti hit, juga menipu sebagaimana fungsi seorang hitman. Pelibas ekonomi macam Perkins direkrut bukan oleh dinas intelijen CIA melainkan Badan Keamanan Nasional (NSA); menerima gaji bukan dari pemerintah tetapi dari sektor swasta. Tak jelas kemana EHM mesti memberikan loyalitas: negara (AS) atau perusahaan (korporasi). Tetapi Perkins seakan ingin menyiratkan bahwa kemaharajaan Amerika dikuasai elite korporasi dalam satu hirarki korporatokrasi.

Perkins cukup detil menceritakan pengalaman tetapi terhambat dalam pembahasan. Seperti Confessions, Secret History memberikan banyak informasi tentang kebijakan yang menguntungkan kepentingan korporat Amerika. Tetapi bukti dakuan yang diberikan jauh dari memadai sehingga susah membedakannya dengan diari. Walau kisah EHM boleh jadi benar adanya namun interpretasi dan analisis yang disodorkannya tak lantas menjadi benar pula.

Demikian halnya dengan rahasia yang dijanjikan melalui judul agung The Secret History ternyata lebih terkait pada banyaknya sumber yang Perkins rahasiakan, seperti koruptor kakap asal Indonesia yang disamarkan sebagai "Emil" (h.59-61). Baiktokoh Emil maupun ceritanya tak bisa dikonformasikan oleh Perkins. Lebih fantastis lagi adalah cerita invasi AS semasa Bush tua ke Panama yang dikarenakan Noriega menyimpan foto Bush muda tengah "mengisap kokain dan melakukan hubungan seks tidak wajar" (h.i66). Atau Monica Lewinsky sebenarnya suruhan Linda Tripp yang ditugaskan "untuk menghancurkan seorang presiden yang ditakuti sebagai reformis, yang bisa menghancurkan korporatokrasi" (h.iyi). Tanpa argumen atau data yang kuat, semua itu bisa tak lebih sekadar isapan jempol.

Perkins pun terlalu disibukkan dengan kisah pribadi yang lagi-lagi tak relevan dan signifikan terhadap keseluruhan isi buku. Salah satu contoh adalah bab Carioca yang cantik (h.i69-174) bercerita bagaimana Perkins menghadiri World Social Forum di Brazil untuk berbicara tentang Confessions dan godaan wanita cantik yang ia tampik.

Mungkin benar belaka bahwa "laporan ekonomi susunan [Pe­libas] Ekonomi adalah senjata yang jauh lebih ampuh diban-dingkan pedang serdadu Perang Salib" (h.257). Apabila karya Perkins yang dijadikan tolak ukur bakal banyak keraguan timbul. Tetapi bacalah buku ini untuk membuka perspektif baru. •
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes