Showing posts with label *Majalah Rolling Stones. Show all posts
Showing posts with label *Majalah Rolling Stones. Show all posts

Thursday, April 10, 2008



SELAMAT BERJUANG BARRY


la bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy, namun dielu-elukan sebagai penjelmaan
John Fitzgerald Kennedy.
(Budiarto Shambazy, Majalah Rolling Stones, April 2008)



Dalam berbagai literatur, budaya pop tahun 197O-an disebut dengan "the me decade" karena semuanya"serba saya." Jika generasi "the baby boomer” memuja gaya hidup komunalisme ala hippie, kami "the post baby boomers" lebih nekat dan lebih egois. Berkelahi pun kami satu lawan satu (duel). Atau mencuri mobil orang tua yang dipakai ngcbut saat subuh, praktik seks bebas, atau melakukan eksperimentasi narkoba hingga tak sedikit yang mati konyol karena overdosis
.
"The post baby boomers" melakoni dekade 1970 yang mengalami puncak dekadensi moral ala Jakarta. Kehidupan di Ihukota amat permisif. Judi dilegalkan, klab malam dan panti pijat bertebaran, Bina Ria jadi pusat maksiat. Korupsi merajalela berkat bisnis "Ali-Baba" (kongkalikong cukong dan pejabat), begitu pula skandal antara "oom seriang" dan "tante girang"yangbagai tak habis habisnya.

Usia saya hanya terpaut beberapa tahun di atas Barack Hussein Obama. Barry, begitu ia dipanggil, sekolah di SD Negeri 04 Percobaan di Jalan Besuki, Jakarta Pusat. Saya baru masuk SMP Negeri 1 di Jalan Cikini Raya dan, saking bandelnya, dipindahkan orang tua ke SMP PSKD di Jalan Sam Ratulangi. Jakarta Pusat, khususnya daerah Menteng, sentra kultural remaja terpenting Jakarta yang kala itu masih berpenduduk di bawah lima juta jiwa. Kami kelas menengah yang relatif cepat menyesuaikan diri dengan budaya Barat.

Saya tak pernah mengenal Barry, baru tiga tahun kenal dia lewat perjumpaan kebetulan. Akhir 2006, Ufuk Press menghubungi saya menulis kata pengantar buku kedua Barry, The Audacity of Hope (2006). Akhir Fcbruari 2008, mereka kembali menghubungi saya untuk menulis Kata Pengantar buku Barry yang pertama, Dreams From My Father (1995).

Di kedua buku itu, Barry banyak menyinggung periode dia tinggal di Jakarta tahun 1968-1971. "Ia termasuk anak yang hiperaktif. Kami tak berhenti bermain kelereng, tak gebok, tak lari, dan gambar SD Besuki. Waktu tiga bulan pertama, Barry anak alim. Tctapi, setelah itu nakal. Tmgkat kebandelan kami masih wajar," ujar Rully, yang kini seorang fotografer profesional.

Bagi Barry dan Rully — juga saya — salah satu sumber kehidupan remaja Jakarta tentu TVRI. Saat itu ada sejumlah film serial yang populer, seperti Voyage to the Bottom of the Sea, I Spy, The Man from UNCLE, Kimba atau Shintaro. "Saya ingat kalau bermain detektif ala film serial I Spy, Barry memilih peranan aktor kulit hitam di film itu, Bill Cosby. Padahal, Barry itu tak terlalu hitam karena ibunya bule," kenang Rully
.

Berbicara tentang ibunya, suatu kali Ann Dunham datang ke SD Besuki untuk memrotes guru siapa yang usil melempar kepala anaknya dengan batu sampai bocor. "Barry ikut Pramuka bersarna saya, kami baru tingkat Siaga Mungkin karena nakal, dia dihukum dengan cara diikat di pohon. Ya, biasalah kami sering melawan kakak-kakak Pramuka," kata Rully tertawa.

Apa bakat Barry yang menonjol? "la senang menggambar. Saya suka bawa komik-komik impor ke kelas, Barry suka meniru gambar Superman, Batman, atau Spiderman. Kami sering bertukar koleksi kornik, ia suka membaca komik yang waktu itu terkenal, Wiro Si Anak Rimba. Pernah dia disuruh guru nyanyi lagu untuk mengenang pahlawan, “Syukur” Wah, lucu banget," kenang Rully lagi

Ketika. terbit, Hope bertengger selama sembilan pekan di Daftar Buku Terlaris. Bangsa Amerika Serikat tak pcrnah bosan didongengi kisah “Obambi” ini. Film Bambi bercerita tentang seeker anak rusa lugu yang berkenalan dengan kejamnya rimba belantara. Barry adalah calon presiden terfavorit Demokrat, meskipun dianggap "mentah" alias kurang bcrpengalaman.

Ibu Barry asal Kansas, ayahnya orang Kenya. Bapak tirinya Lulu Soetoro. Waktu kecil, Barry hidup sederhana di Jakarta, saat dewasa pengacara top lulusan Harvard. Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebut namanya, Barry Hussein Obama (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden), sambil mengulurkan tangan saat kampanye jadi anggota Senat di Springfield, Illinois.

Hope ibarat skripsi bcrpredikat summa. cum laude yang meluluskan Barry sebagai pemimpin masa depan. la terpilih sebagai Senator Negara Bagian Illinois setelah meniti karier dari bawah. la bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy, namun dielu-elukan sebagai penjelmaan John Fitzgerald Kennedy. Nama Barry meroket ketika dipilih sebagai pengucap pidato kunci Konvensi Partai Demokrat 2004.

"Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika. Dan orang Latin Amerika dan orang Asia Amerika. Yang ada hanyalah Amerika Serikat. Saya tak punya pilihan lain visi Amerika. Sebagai lelaki hitam dan pcrempuan putih yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama saudara tiri yang separuh Indonesia, punya ipar dan keturunan China, punya saudara-saudara mirip Margaret Thatcher... saya tak biasa setia pada sebuah ras saja”

Di Hope. Barry menulis esai mengenai tanah airnya yang ketiga, Indonesia. Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung besar, lalu jadi antek AS, kemudian mengalami krisis moneter dan reformasi, sampai jadi negara yang tak toleran lagi.

Rumahnya di Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa ekor ayam ayam peliharaan, dan didekat jendela banyak jemuran bergelantungan. “Jenderal-jenderal membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi. Tak ada uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk ke sekolah biasa dan bermaij dengan anak anak jongos, tukang jahit dfan pegawai rendahan,” tulisnya. Bagi Barry, Indonesia kini sudah tak sama lagi “Indonesia terasa jauh dibandingkan 3o-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang asing,’ tulisnya.

Di buku Dreams, ia banyak bercerita tentang ayah kandungnya University of Hawaii (UH) yang menjadi anggota Phi Beta Kappa — komunitas akademis elitis yang susah diterobos masuk orang luar AS. Ia diterima di Harvard dan pulang meninggalkan Barry kecil untuk mengabdi kepada negaranya. Ayahnya dari suku Luo yang lahir di Alego, menikahi ibu Barry di Honolulu pada tahun 1959 saat miscegenation (pernikahan antar ras) yang banyak dilarangdi banyak negara bagian AS

la penerima beasiswa pertama asal Afrika di UH dan belajar econometri dengan menggaet terbaik di angkatannya. Barry Junior juga lulus dari Harvard Law School dan jadi presiden kulit hitam pertama di Harvard Law Review—jurnal hukum berwibawa. Ia senator kulit hitam yang ketiga dalam sejarah AS


Wednesday, April 09, 2008


SEBUAH HARAPAN BARU

Obama menolak citra patriotisme palsu dengan memakai pin bendera di kerahnya juga menolak anggapan bahwa Demokrat harus terjun ke daJam omong kosong Perang Melawan Teror menimba rasa takut - menjadi Iebih Republik dibanding Partai Republik ~ sehingga menjadi "Bush-Chcney sebagaimana dia menggambarkan sikap macho Hillary Clinton di bidang kebijakan luar negeri(Jann S.Wenner, Rolling Stones April 2008),


Kini gelombang sejarah semakin tinggi dan cepat. Simak baik baik dan mengalirlah, atau kita akan terhempas. Lalu tibalah Barack Obama pemilik bakat-bakat yang hanya muncul beberapa generasi sekali di dunia politik. Ada kehorrnatan dan kemegahan pada dirinya, di samping disiplin yang ketat. Dia tak hanya fasih berbicara — dengan kemampuan untuk dipahami kami dan mewakili kami — tapi juga memillki kualitas pemikiran dan kejujuran emosional yang luar biasa.

Saya pcrtama kali menyetahui tentang Barack Obama dari scorang pna yang berada di tmgkat tcrtmggi organisasi politik George W. Bush selama dua kampanye kepresidenan. Dia menggambarkan senator muda dari Illinois itu sebagai "mesin harapan berjalan" dan berkata kalau dia takkan bekerja untuk kandidat Partai Republik di tahun 2008 andaikata Obama dinominasikan. Dia menantang saya untuk membaca Dreams From My Father, otobiografi Obama.

Buku itu adalah pcnccrahan. Inilah seorang pria dengan kejujuran akan dirinya sendiri serta pemahaman akan kondisi manusia yang begitu dalam dan penuh kasih sayang. Putra dari ibu berkulit putih dan ayah dan Afrika ini dibesarkan di Hawaii yang multpetnis dan di Indonesia selama beberapa tahun. Dia melalui masa remaja yang diwarnai narkotika - tanpa menyesalinya - sebelum menjadi mahasiswa teladan di Harvard Law School. Dia memilih untuk menjadi organisator komunitas di kawasan-kawasan kumuh Chicago ketimbang bergabung dengan dunia corporate law yang tertutup dan kaya. Sebagai pria dewasa muda, dia mencari ayah dan keluarga yang tak dikenalnya di desa-desa terpencil di Kenya

Sambil rnembaca tulisan yang clegan ini, otak saya terus berpikir: Apakah ini mungkin? Mungkinkah ada takdir di mana pria ini menjadi presiden Amerika Serikat?

Selama pemilihan primary dan dalam kunjungannya ke kantor kami, kami lebih mengenal Barack Obama, ketegarannya serta keanggunannya. Dia tak terintimidasi dan mundur ketika Senator Clinton menyebutnya "sejujurnya, nail' karena kerelaannya untuk bertemu dengan para pemimpin negara-negara musuh AS Ketika salah satu pejabat teratas kampanye Clinton berusaha mencemarkan namanya akibat konsumsi narkotikanya di masa lalu, dia tidak menyangkalnya. Dalam hal pengalaman dan kemampuan, dia telah menjalankan kampanye yang mengesankan dan nyaris tanpa cela — yang mampu mengalahkan para pejuang politik Amerika yang paling berpengalaman. Memang, Obama jauh lebih siap untuk menjalankan kampanye kepresidenan — sejak Hari Pertama — ketimbang Senator Clinton. Dia tak pernah melakukan tindakan ncgatif melalui serangan personal dan pembunuhan kepribadian; wajau dia patut melakukannya, dia tidak tergoda

Obama melesat karena menunjukkan karakter dan penilaian yang kami butuhkan dalam diri seorang presiden: mengutuk politik ketakutan, berbicara jujur mengenai masalah-masalah utama yang dihadapi negara dan tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya. Dia sadar bahwa berkampanye untuk menjadi presiden adalah kesempatan untuk mengilhami seluruh negeri.

Semua ini tampak semakin jelas akibat kontras dengan Hillary Clinton, senator mampu dan bersahaja yang justru menjalankan kampanye yang mengingatkan kami pada apa yang membuat kami membenci politik. Kampanyenya menunjukkan bahwa pengalaman tak begitu berarti: Dia adalah manajer dan strategist yang buruk, yang dengan mudahnya terlibat dalam politik pengalihan perhatian, trivialitas dan serangan personal. Dia tak pernah meyakinkan kami bahwa dukungannya terhadap perang Irak bukan sekadar strategi politik yang mementingkan ambisi kepresidenannya daripada konsekuensi perang yang meresahkan. Perubahan sikapnyad dalam tiga tahun terakhir menyakitkan untuk dilihat. Seperti John Kerry - yang juga mendukung perang itu sambil merencanakan kampanye kepresidenan - itu turut menghambatnya dalam mencapai tujuan.

Walau Obama mcnolak untuk nenyerangnya secara personal atas dukungannya terhadap perang di Irak, dia menyebutnya sebagai contoh yang jelas dari pengalaman dan "penilaian"nya. Dia juga berbicara tentang perlunya lepas dari genggaman para pelobi di saat Clinton adalah penerima donasi-donasi terbesar di Kongres dari perusahaan obat-obatan. Clinton tak dapat mengelak dari isu ini sama dan begitu pun juga John McCain merupakan pemajn utama di kultur Washington

Obama juga mengutuk kampanye ketakutan yang dilakukan Partai Republik. Di awal kampanye, John Edi memimpin dengan menyebut Perang Melawan Teror sebagai semboyan ! Kampanye, bukan kebijakan. Obama menolak citra patriotisme palsu dengan memakai pin bendera di kerahnya juga menolak anggapan bahwa Demokrat harus terjun ke daJam omong kosong Perang Melawan Teror menimba rasa takut - menjadi Iebih Republik dibanding Partai Republik ~ sehingga menjadi "Bush-Chcney sebagaimana dia menggambarkan sikap macho Hillary Clinton di bidang kebijakan luar negeri,

Mudah untuk melihat adanya persamaan antara john Kennedy dan Barack Obama: usia muda, karisma, keanggunan, kefasihan, humor, kecerdasan harapan sebuah generasi baru.

Tapi mungkin lebih cocok apa memandang Obama lebih rninp Lincoln dalam hal asal usulnya dan apa dituntut oleh sejarah sekarang Kami memillki negara yang tcrpecah belah akibat kebijakan perekonomian yang telah menciptakan kesenjangan

pendapatan tcrbesar dalam sejarah, di mana yang terkaya mendapat keringanan pajak yang luar biasa dan industri-industri raksasa mendapat subsidi. Pendapatan warga biasa menjadi stagnan, dan kualitas hidup terus terkikis akibat inflasi.

Kami geram dan pincang akibat perang yang gagal dan tak dibutuhkan di Irak. Kami sudah lelah dengan strategi politik penuh ketakutan dan kebencian selama bertahun-tahun, serangan terhadap kebebasan konstitusional, serta tingkat kerakusan dan sinisme yang— begitu dilihat apa adanya — tak dapat ditolenr oleh masyarakat dengan nilai-nilai moral dan etika.

Seorang presiden baru harus menyembuhkan perpecahan itu, menghadapi kemunafikan dan ketidakadilan subsidi pemerintahan kepada perusahaan minyak bumi, obat-obatan dan sebagainya. Di samping itu, sang presiden baru harus mengubah perekonomian energi kami yang berbahaya —menggantikan minyak, batu bara dan etanol yang mempu dengan alternatif-alternatif yang ramah lingkungan, pelestarian hutan hujan dan standar-standar internasional yang ketat sebelum planet ini tak memadai lagi bagi kehidupan manusia. Walau Obama termasuk lamban dalam menyinggung pemanasan global, saya yakin bahwa kecerdasan dan moralitasnya akan menuntunnya dengan jelas pada isu ini.

Kami harus memulihkan arah spiritual dan moral yang seharusnya menggambarkan negara ini dan warga-warganya. Kami melihat ini pada diri Obama, dan kami melihat potensi yang dimilikinya untuk dapat menyatukan semua pihak dan kembali mencapai persatuan yang memacu terjadinya perubahan besar serta menghadapi kenyataan dan bahaya yang menyulitkan.

Kami harus mengirim pesan kepada diri sendiri dan dunia bahwa kami memang menjunjung tinggi kehidupan, kebebasan dan pencarian kebahagiaan. Dengan memilih seorang warga Afrika-Amerika, kami juga mengutuk keburukan dan kekerasan pada k'arakter nasional yang semakin dipicu oleh presiden kami dalam delapan tahun terakhir.

Seperti halnya Abraham Lincoln, Barack Obama menantang Amerika un¬tuk bangkit dan melakukan apa yang telah lama dinantikan qleh begitu banyak orang: to summon "the fyetter angels of our nature." (has) ©


Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes