Showing posts with label *Koran Indo Pos. Show all posts
Showing posts with label *Koran Indo Pos. Show all posts

Tuesday, April 27, 2010


MENYOAL KEMATIAN PUTRA BOS FIAT EDOARDO

..dalam buku itu disebutkan, pelajaran dari kehidupan Edoardo, bukan agar memeluk Islam atau agama tertentu. Justru yang terpenting adalah saat menemukan kebenaran, maka bertahanlah dengan kebenaran itu, meski harus dibayar dengan nyawa
(M IzzulM Masyhadi, Indo Pos, 2010)

Tubuh telungkup itu terlihat sekitar pukul 10.00 pada 15 No¬vember 2000 di kaki jembatan Generale Franco Romano, sekitar 40 km lepas kota Torino, Italia. Franco Romano adalah jembatan double track terpanjang kedua di Italia yang membentang di jalan tol La Vardemare. Luas jembatan tersebut 3 km di atas daratan tinggi Stura di Demonte. Kali pertama yang melihat adalah Carlo Franchini, 51, pegawai Autosrada A-6. Autosrada A-6, sejenis Jasa Marga di Indonesia, adalah perusahaan yang bertanggung jawab atas lalu lintas di Italia. Bagian kecil dari tanggung jawabnya adalah mengelola 126 km tol La Vardemare yang memisahkan Torino dan Savona.

Sebelumnya, kecurigaan Carlo Franchini bermula dari mobil Fiat Croma yang berlapis baja yang terhenti di jalur darurat, tanpa pengemudi. Dia telah mencari sebisa mungkin. Sayang, hasilnya nihil. Tubuh telungkup yang dievakuasi dari lokasi kejadian itu adalah seorang pria setengah baya. Tingginya hampir dua meter. Wajahnya berjenggot. Ada beberapa luka yang mengeluarkan darah di kepalanya. Tapi, secara keseluruhan fisiknya utuh. Ketika itu, tak ada yang tahu siapa dia. Tapi, sebagian polisi seperti mengenali lelaki itu. Belakangan, polisi menemukan identitas pengendara Fiat Croma. Di surat identitas berwarna merah jambu itu, tertera nama Edoardo Agnelli. Lahir di New York, 9 Juni 1954. Berita yang beredar ketika itu, Edoardo bunuh diri.
Ayah Edoardo adalah Giovanni Agnelli yang lebih tenar dipanggil Gianni, generasi ketiga Agnelli sekaligus pemimpin besar kelompok bisnis Fiat. Orang di Italia menyebut Il Re, Sang Raja. Suatu ketika dia pernah mengatakan, Agnelli adalah Fiat, Fiat adalah Torino, dan Torino adalah Italia. Ini sebuah penegasan merasuknya kerajaan bisnis Agnelli dalam kehidupan Italia modern. Dan Edoardo adalah putra pertamanya, sosok yang di mata orang banyak di Italia dipandang sebagai putra mahkota. Dinasti Agnelli telah berumur satu abad. Perintisnya adalah kakek Edoardo, seorang pensiunan tentara yang banting setir menjadi pebisnis otomotif. Fiat mulai mencuri perhatian banyak orang kaya Eropa setelah mobil-mobil yang mereka produksi memenangkan banyak lomba Grand Prix. Dari bisnis mobil tersebut, nama Agnelli kian melambung, bak layangan diterjang angin. Selanjutnya, Fiat terlibat dalam produksi pasta gigi dan toilet, sernua peralatan rumah tangga yang mengandung mur dan baut, perbankan dan perkreditan, dan asuransi, pembanguanan jalan raya, serta perumahan dan real estate.Usaha Fiat terus melejit setelah kontrol bisnis Fiat jatuh ke tangan Gianni Agnelli pada 1966.
Menurut Thomas L. Friedmen, jurnalis The New York Times, kerajaan bisnis Agnelli adalah yang terbesar di Eropa modern...... Kekayaannya memang berlimpah. Selain Fiat, ada Juventus dan Ferrari. Perusahaan keluarga ada seribu lebih. Buku ini meragukan bunuh diri Edoardo. Kalau kau teliti, akan segera tahu kalau Edoardo mati dibunuh. Kau ingat jasad Edoardo ditemukan nyaris masih utuh ? Tidakkah menurutmu ini aneh untuk seseorang yang divonis bunuh diri dengan melompat dari jembatan setinggi 80 meter ? Hasil penelitian ahli menyebutkan, seseorang yang lompat dari ketinggian 80 meter, dengan berat badan seperti Edoardo—120 kg—, akan menghu-jam tanah dengan kecepatan 150 km per jam (127). Saat Edoardo ditemukan, polisi mendapati sepatu Tod's masih terpasang di kakinya? Tidakkah sepatu itu seharusnya copot dari kakinya mengingat sepatu itu tak bertali dan begitu mudah tanggal setelah melompat dari ketinggian tersebut ? Dan beberapa kejanggalan lain juga disajikan dalam buku karya Musa Kazhim & Alvian Hamzah yang mempunyai tebal 144 halaman.
Dokter yang tercantum namanya dalam surat autopsi, belakangan— setelah delapan tahun sejak kejadian—bersaksi ke Giuseppe Puppo, wartawan investigatif ternama Italia yang pada 2008 silam menerbitkan buku kontroversial dan proaktif menyelediki kematian Edoardo. Dokter itu bilang. dia tak pernah datang ke kamar mayat di Fassano untuk memeriksa jasad Edoardo (130). Sahabat Edoardo. Marco Bava, yang pernah melihat dokumen itu juga memberi kesaksian," dari awal saya menduga ini bukan bunuh diri... Banyak hal yang tak masuk akal......."(131). Sebagian meyakini kalau Edoardo dibunuh. Baik karena keyakinan agamanya, keteguhan mempertahankan apa yang menjadi haknya sebagai pewaris Fiat atau terutama perlawanannya terhadap mafia narkoba yang merajalela di Torino. Dalam sebuah wawancara, Bava menuturkan, kalau Edoardo merasa terancam dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya. Sebagian yang mengenal Edoardo menggambarkan bahwa sosok miliarder.itu adalah pribadi yang menghimpun nilai-nilai kemanusiaan universal. Dia adalah pribadi yang terbuka dan fair. Meski anak orang kaya raya, kendaraannya kesukaannya adalah skuter. Dia juga ikut dalam barisan Luigi Ciotti, seorang pendeta yang mendirikan asosiasi bagi pecandu narkoba yang tak punya rumah. Edoardo menyatukan barisan untuk melawan mafia narkoba yang banyak beroperasi di Torino. Sayang, di keluarganya dia "dipinggirkan". Bahkan, saat Giovanni lengser dari Fiat, bukan Edoardo yang dipilih meneruskan bisnisnya.

Benarkah Edoardo dibunuh? Entahlah, yang jelas, dalam buku itu disebutkan, pelajaran dari kehidupan Edoardo, bukan agar memeluk Islam atau agama tertentu. Justru yang terpenting adalah saat menemukan kebenaran, maka bertahanlah dengan kebenaran itu, meski harus dibayar dengan nyawa. (*)


Monday, January 18, 2010


TERNYATA ATLANTIS ITU DI INDONESIA

Teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia
(Mohamad Asrori Mulky, Indo Pos, 2010)

Cerita mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, "Timaeus" dan "Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.

Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, TimurTengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Jnggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.

Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis dan sangat mengejutkan kita datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, mpmiliki iarinean irieasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik. dan olahraga itu adalah Indonesia.
Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato's Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.

Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.

Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.
Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir maha dahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.
Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaIdera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai "Heinrich Events".

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yarg diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhimya zaman es pleistosen secara dramatis.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali "tidak meyakinkan" untuk dapat dikatakan. Sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa. (*)

Mohamad Asrori Mulkypeneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universi-tas Paramadina Jakarta

Friday, November 13, 2009


RAHASIA ORANG YAHUDI

Inilah buku yang kali pertama mengiiak rahasia berabad-abad bagaimana para tokoh bangsa Yahudi memaksimalkan i'ungsi otak mereka. Juga sekaligus memberi tahu kita bagaimana menerapkan prinsip-prinsip mereka untuk meningkatkan ingatan dan pemahaman terhadap segala macam persoalan hidup sehari-hari. Eran Katz, pemegang Guinness Book of World Record sebagai orang yang mampu mengingat banyak hal dengan kecepatan supertinggi, memperkenalkan suatu kerangka berpikir yang sederhana dan mudah tentang tata cara para nabi atau tokoh Yahudi menanamkan kebijakan mereka kepada masyarakat umum. Buku Jerome Becomes A Genius (Ufuk Jakarta, Oktober 2009) ini sekaligus mematahkan mitos yang berkembang sclama ini tentang Yahudi dan kepintaran mereka. (*)

Tuesday, September 29, 2009



TIGA BUKU BARU UFUK PUBLISHING HOUSE
MASUK BERTURUT-TURUT SEBAGAI BUKU BARU DIREKOMENDASIKAN
HU INDO POS

Buku Teman Saya Yang Fanatik karya Sadanand Dhume, A Crazy Global Enterpreneur karya Richard Branson dan Love In A Torn Land karya Jean P Sasson masuk sebagai 3 (tiga) buku baru yang paling direkomendasikan oleh HU Indo Pos untuk di konsumsi. Pemilihan tersebut berdasarkan review yang bersumber dari data responden serta pengelola modern outlet pada toko buku JPBooks Surabaya, TB Uranus Surabaya dan TB Social Agency, Jogjakarta

Thursday, September 03, 2009


SELLING YOU karya NAPOLEON HILL

Buku Selling You karya Napoleon Hill masuk sebagai salah satu buku baru yang direkomendasikan oleh HU Indo Pos untuk di konsumsi. Pemilihan tersebut berdasarkan review yang bersumber dari data responden serta pengelola modern outlet pada toko buku JPBooks Surabaya, TB Uranus Surabaya dan TB Social Agency, Jogjakarta

Tuesday, August 12, 2008


THE ERNST & YOUNG

Berbeda dengan buku-buku sejenis, buku ini jauh lebih komprhensif
(Indo Pos, 10-Agustus-2008)

ERNST & YOUNG adalah salah satu perusahaan jasa profesional terkemuka yang bergerak dalam bidang jasa konsultan bisnis, perencanaan usaha, dan konsultan pajak untuk ribuan individu dan usaha berskala nasional dan internasional. Lewat buku The Ernst & Young Business Plan (Ufuk Jakarta, Juli 2008), penulisnya—Brian R. Ford, Jay M. Born Stein, dan Patrick T. Pruitt— menuntun kita untuk menelaah setiap aspek dalam meneliti, menulis, dan mempresentasikan rencana usaha. Buku ini tidak sekadar mendiskusikan rencana usaha, tetapi juga disertai contoh yang realistis.

Berbeda dengan buku-buku sejenis, buku ini jauh lebih komprehensif karena ia menjelaskan mengapa informasi tertentu sangat diperlukan, bagaimana sehanisnya menyajikan rencana usaha, dan apa yang harus Anda ketahui sebagai pembuat atau pengkaji proposal semacam itu. Buku ini juga inspiratif bagi mereka yang sedang merinstis usaha. (*)

Thursday, July 17, 2008




MEMOAR KEMATIAN DAN KESUNYIAN

Tak perlu menunggu lama, memoar ini akhirnya mendapat penghargaan The National Book Award dan The National Book Foundation Medal tahun 2005. Karena buku memoar ini pula tahun ini, sang penulis, Joan Didion, diganjar penghargaan prestisius dari Francis, The Prix de Medicis Award 2008. Tak banyak penulis yang berhasil mendapatkan penghargaan ini.
(Muhammad Syafiq, Indo Pos/Jawa Pos, 6-Juli-008)

Hanya beberapa hari setelah menjenguk putri mereka yang sedang koma di rumah sakit, sang suami tersungkur karena serangan jantung. Saat itu mereka sedang makan malam. Beberapa bulan kemudian sang istri memulai memoarnya dengan tulisan: "Kau duduk menyantap makan malam, lalu hidup yang biasa kau jalani pun berakhir. "Setahun kemudian memoar itu selesai, disusul kematian sang putri.

Maka lahirlah sebuah memoar tentang duka cita, cinta, dan kematian dalam latar masyarakat urban Amerika. Bertentangan dengan kebiasaan di sana, yang lebih memberikan tempat pada tema-tema populer seperti cinta dan seks atau kerja dan cara pengasuhan anak, buku ini mendapat sambutan luar biasa. Dua bulan sejak pener-bitannya, buku ini telah terjual 200.000 copy. Sementara berbagai artikel surat kabar dan majalah bahkan program TV berlomba-lomba mengulasnya.

Tak perlu menunggu lama, memoar ini akhirnya mendapat penghargaan The National Book Award dan The National Book Foundation Medal tahun 2005. Karena buku memoar ini pula tahun ini, sang penulis, Joan Didion, diganjar penghargaan prestisius dari Francis, The Prix de Medicis Award 2008. Tak banyak penulis yang berhasil mendapatkan penghargaan ini. Many a penulis-penulis dunia yang dipandang brilian seperti Umberto Eco, Milan Kundera, dan Orhan Pamuk yang pernah menerimanya.

Menimbang apresiasi yang luar biasa terhadap buku memoar ini tidaklah aneh jika muncul pertanyaan tentang apa arti pentingnya. Dalam latar superioritas masyarakat Amerika dan Eropa yang berkelimpahan dan nyaris sempurna saat ini, kematian menjadi sesuatu yang terpencil. Kematian menjadi fakta yang hanya dibicarakan diam-diam untuk kemu¬dian dilupakan. Berbagai tawaran produk dan jasa anti penuaan (anti-aging) yang laku keras di kedua belahan dunia itu hanyalah salah satu contoh betapa kematian menjadi suatu yang ingin ditolak bahkan dilawan
.
Dalam latar masyarakat semacam itu, buku ini berhasil memberi kejutan dengan menampilkan secara vulgar dan blak-blakan proses sebuah kematian berlangsung. Buku ini juga berhasil memanggil kembali kesadaran yang coba diabaikan tentang kerentanan manusia di hadapan maut yang bisa datang kapan saja tanpa mampu dicegah.

Kematian dan duka cita memang telah melahirkan begitu banyak ekspresi. Mulai ekspresi artistik seperti drama, musik, nyanyian, puisi, roman, dan film hingga ritual kultural seperti selamatan dan upacara-upacara tradisional lainnya. Bahkan ekspresi terhadap kematian bisa menjadi ritual spiritual seperti aksi umat Syi'ah yang memukuli punggungnya sendiri dengan cemeti berduri memperingati Tragedi Karbala hingga umat Yesus yang memaku dirinya di salib memperingati Hari Penyaliban.

Ekspresi kolektif atas kedukaan personal dan komunal dalam bentuk seni, ritual kultural, dan spiritual semacam ini barangkali berguna sebagai saluran pelepas beban duka. Namun, yang terpenting, ritual-ritual ini menunjukkan bahwa kematian perlu dirayakan dan diperingati. Hal semacam ini sangatlah lumrah dalam masyarakat yang masih memegang tradisi.

Namun, masyarakat modern yang individualis sangatlah asing dengan cara menghadapi kematian dan pengalaman pelepasan beban semacam itu. Buku ini menjadi penting karena mampu mengangkat pengalaman yang amat intim dan personal dari seorang perempuan paro baya Amerika dalam menghadapi kedukaan karena kematian suami dan ketidakberdayaan putrinya yang mengidap sakit parah ke dalam ranah publik.

Dalam latar masyarakat Amerika, kedukaan Didion tampak terasa sunyi dan dingin. Ekspresi kedukaan bukan gelora kesedihan yang meluap-luap melalui tangisan dan ratapan pada momen-momen kematian, tetapi rasa kehampaan yang membuat dunia menjadi tak lagi berarti dan bersenang-senang menjadi sebuah dosa yang tercela.

Dalam perkabungannya, ia terdorong untuk menyendiri. la cemas dan bingung bersikap atas simpati keluarga dekat dan teman-temannya. la sulit mempercayai kematian suaminya sekadar sebagai jasad yang berhenti berfungsi seperti ditulis dalam berkas-berkas medis yang kaku tanpa emosi. la mengandaikan terjadi keajaiban bahwa laporan medis itu salah dan suaminya hanya sedang koma untuk kemudian bangun kembali.

Begitu intim dan dalamnya gambaran Didion atas rasa dukanya hingga pembaca bisa turut merasakan tanpa terpaku pada deretan kalimat-kalimat yang ditulisnya. Bukan makna harafiah tulisannya yang menderas kita dengan cerita kesedihan, tetapi suasana halus yang suram yang berhasil ditancapkan tulisan itu.

Tulisan Didion memang tidak dinarasikan secara mengalir kronologis tapi penuhflashback tajam hingga menyerupai fragmen-fragmen prosa. Namun alur narasi semacam ini justru berhasil menggambarkan gejolak perasaan sedih dan nyeri yang selalu muncul menyertai berbagai potongan kenangan yang datang dan pergi silih berganti bersama mendiang semasa hidup. Kenangan-kenangan bersama mendiang inilah yang membuat rasa duka tidak benar-benar bisa lenyap.

Perjalanan waktu barangkali bisa membuat rasa duka tidak lagi bergejolak, tetapi rasa duka itu tetap tinggal. Didion menulis: "Dalam periode yang disebut masa berkabung yang lamanya tak pasti itu, kita seolah-olah berada dalam kapal selam, sunyi di dasar samudera, waspada dengan tekanan air, kadang dekat dan kadang jauh, menyapu-nyapu kita dengan kenangan" (hlm.31).

Dalam masyarakat modern di mana ekspresi kedukaan secara kolektif jarang muncul, karya literer seperti buku ini bisa menjadi saluran alternatif pelepas beban. Baik penulis maupun pembaca yang mengalami duka serupa, akan merasa disatukan oleh pengalaman yang sama. Selain itu, buku ini menegaskan sebuah kesadaran yang sudah sangat tua bahwa ingatan akan kematian tidak perlu dipendam diam-diam. Kematian layak diperbincangkan dan dirayakan sebagai bagian sah dari kehidupan. (*)

Muhammad Syafiq
pengajar psikologi Universitas Negeri Surabaya






Friday, June 06, 2008


SANG MAESTRO KEBIJAKAN MONETER AS

Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.
(Syamsul Arifin, Indo Pos, Mei 2008)


Herbert Greenspan menulis, "Barangkali ini adalah upaya awal Ayah untuk membuatmu dapat mengembangkari diri secara optimal sebagaimana upaya yang pernah Ayah lakukan. Pada saat kamu dewasa, segala upaya tersebut diharapkan akan menjadi pembelajaran dan kamu dapat menafsirkan alasan di balik suatu perkiraan yang logis. Dan dengan cara itu kamu dapat menyukai pekerjaanmu sendiri. Ayahmu."

Begitulah pesan yang dibubuhkan Herbert dalam Recovery Ahead (1935) untuk Alan Greenspan, sang anak yang nantinya mengarsiteki kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) pada 1987-2006. Sepucuk pesan yang amat intim ini tak mungkin dimengerti Alan —yang saat itu baru berusia delapan tahun. Namun, puluhan tahun selepasnya, pesan itu menjadi "obat mujarab" —lantaran memberikan ide bagi setiap permasalahan yang ia hadapi.

Herbert adalah penganut mazhab ekonomi Keynesian, yang salah satunya meyakini bahwa belanja pemerintah dapat merangsang pemulihan perekonomian. Warisan sang ayah ini sempat menjadi "batu bata" pertama cara pandang ekonominya. Belakangan ia bergeser menjadi penganut paham/ filosofi Ayn Rand.

Meski begitu, ia menangkis teori Rand bahwa eksistensinya sendiri di luar dugaan tidak dapat dibuktikan. Menurut Alan, kepastian absolut tidak mungkin. Dan, yang dapat dihitung adalah derajat kemungkinan. Alan berpendirian demikian lantaran ia ahli matematika dengan IQ tinggi. Baginya, tak ada satu pun yang dapat diketahui secara rasional dengan kepastian yang total. Di atas segalanya, Alan juga penganjur kapitalis laissezfaire.

Sebagai ekonom, Alan terbilang lengkap. Kariernya bermula dari analis industri baja di National Industrial Conference Board, penasihat kebijakan ekonomi Richard Nixon sejak masih kandidat presiden dari Partai Republik hingga memerintah AS (1969-1974).

Lalu ketua penasihat Presiden Gerald Ford (1974). Fordlah yang dipuji Alan sebagai orang yang paling berani dan paling benar tatkala ia tidak campur tangan dalam urusan pasar bebas selama masa resesi 1974-1975. Bahkan ketika hal itu berisiko pada masa depan politik Ford.

Pada 1980, ia merancang pidato ekonomi kandidat Presiden Ronald Reagen, lalu kepala dari bipartisan Komisi Nasional untuk Reformasi Keamanan Sosial (1983).

Pengalaman panjang inilah yang mengajari Alan menjadi salah satu ketua Dewan The Fed paling berhasil. Saat baru 72 hari memimpin The Fed misalnya, ia hampir "diruntuhkan" Black Monday (19 Oktober 1987), saat pasar saham menurun lebih dari 20 persen dalam sehari. Akibatnya, 1 triliun dolar AS pun musnah seketika dan publik terguncang. Menghadapi itu Alan tetap bersikap tenang, namun berwibawa. Seperti tertera pada buku Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia ini.

Alan berujar, "The Federal Reserve konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai bank sentral dan hari ini menegaskan kesiapannya untuk bertindak sebagai sumber likuiditas guna mendukung sistem ekonomi dan keuangan." Itu berarti The Fed akan melepas banyak uang di pasar untuk meyakinkan publik bahwa mereka bisa mendapatkan uang dalam bentuk likuiditas atau kredit. Setengah jam setelah itu, Indeks Pasar Utama berada pada posisi paling tinggi dalam sejarah Amerika (him. 14-29). Alan juga mengeluarkan Amerika dari krisis seperti saat meledaknya bisnis dotcom, gelombang pasar saham (Maret 2000), resesi akhir 2000 dan 2002.

Alan tak berjarak dengan partai politik, termasuk dengan para kandidat presiden. Namun demikian, ia bisa menempatkan lembaga yang dipimpinnya secara proporsional dan independen. la mendukung George Bush pada Pemilu 1992. Meski begitu, sebagai ketua The Fed ia tak terlibat dalam politik. Pemerintahan Bush menghendaki agar The Fed menurunkan suku bunga sebesar satu persen dengan alasan agar resesi ekonomi dapat dicegah. Tapi Alan bergeming. la baru menurunkan suku bunga ketika mendapati fakta bahwa tingkat pengangguran di Amerika naik 7,8 persen pada 2 Juli 1992. Itu pun The Fed menurunkan setengah persentase bukan satu persen seperti diminta Pemerintahan Bush yang perlu dukungan bank sentral agar kinerja ekonominya tak menggagalkan pencalonannya kembali menjadi presiden. Alan menurunkan kembali suku bunga sebesar seperempat per¬sen sehingga kini tinggal 3 persen pada 4 September atau tiga bulan jelang pilpres.

Sebagai pejuang super inflasi, Alan tak sembarangan menurunkan suku bunga. la akan mempertaruhkan berapa pun biayanya, termasuk pemilihan kembali Bush (him. 87-94). Dengan cara itu Alan tak tersandera kepentingan politik partisan. Setiap presiden Amerika, dari Reagen, Bush senior, Clinton hingga Bush junior selalu mempercayainya. Begitu pula Clintor yang menumbangkan Bush seni pada 1992. Selama menjabat The Fed, Alan tak pernah berkomentar bahwa inflasi dan pengangguran sangat mempengaruhi tingkat suku bunga. Alan berupaya memberi kepercayaan pasar terhadap mata uang dolar AS sebagai senjata untuk memerangi inflasi. Dan ia selalu "pelit" dalam menurunkan tingkat suku bunga, karena ingin betul membuat pasar obligasi tidak panik dan terhindar dari resesi ekonomi.

Analisisnya yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu seluruh pihak. Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.

Sekarang, jumlah orang miskin dan pengangguran bakal bertambah. Itu berarti Bank Indonesia harus meresponsnya secara memadai dengan mengutak-atik tingkat suku bunga yang kini berada di posisi 8,25 persen. Boediono sebagai nakhoda seyogyanya piawai membaca keadaan dan merumuskan ke¬bijakan moneter secara akurat. (*)


M. Samsul Arifin
Salah satu penulis "Perempuan Punya Pilihan!".




Monday, June 02, 2008


JALAN PANJANG MEMUPUS KEDUKAAN
MASUK SEBAGAI recommended books
HU INDO POS, MEI 2008.

Jalan Panjang Memupus Kedukaan karya Joan Didion masuk sebagai salah satu recommended books versi koran Indo Pos pada edisi 18 Mei 2008. Bersama dengan karya lainnya, buku yang mendapatkan banyak penghargaan bergengsi di Perancis dan tingkat Eropa serta direkomendasikan oleh Kick Andy-Metro TV tersebut hadir dengan karya yang memukau pembacanya. Recommended books Indo Pos ini bersumber dari data yang dihimpun redaksi Indo Pos di toko buku Uranus Surabaya, JP Books Surabaya, toko buku Social Agency-Jogja dan toko buku Toga Mas Malang

Friday, February 08, 2008


"Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia" Masuk Buku Baru recommended di INDO POS


Buku "Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia" karya Ishak Rafick yang diterbitkan Ufuk Publishing House, Desember 2007 merupakan buku sejarah politik yang paling di-recommended oleh Harian Umum Indo Pos.

Sementara itu, untuk kategori agama, Indo Pos merekomendasikan Memahami Syiah dan untuk kategori novel, HU Indo Pos merekomendasikan Nirzona untuk di baca pecinta buku.

Friday, January 25, 2008

















Sang Senator Harapan Amerika
Dalam buku teranyarnya ini, Obama mampu membahasakan politik yang berat menjadi ringan. Pilihan katanya tertata dengan ting­kat penghayatan yang masuk ke jiwa dari topik-topik yang dibahas. Sebagai penulis Obama berhasil menyihir publik Amerika untuk menyelami pikiran dan sikapnya
(Moh.Samsul Arifin, Jawa Pos-2007)

NAMA yang satu ini akan selalu menghubungkan Indonesia dengan Amerika Serikat. Ada dua alasan mengapa dia "terhubung" dengan Indonesia. Pertama, pernah tinggal di Indonesia selama 3,5 tahun antara 1967 hingga 1971. Kedua, tokoh ini mewakili tradisi baru dalam politik Amerika dengan pikiran dan sikap politik moderat dan lincah. Maklum, dia secara genealogis mewarisi per-silangan ras kulit hitam (ayahnya berasal dari Kenya, Afrika) dan ras kulit putih (sang ibu berasal dari Kansas City, Amerika).

Berafiliasi dengan Partai Demokrat, ia memiliki pandangan-pandangan yang terbilang moderat: membelah konservatisme dan progresivisme politik Amerika, sekaligus memakai keduanya secara kontekstual. Jalan moderat yang dipilihnya itu memberi harapan kepada warga Amerika menapaki jalan sejarah tanpa teror dan lepas dari kebijakan yang mendorong terbitnya teror dan kekerasan baru. Dan harapan itu mekar pada ma-syarakat Indonesia, yang kebetulan pernah mengenalnya sewaktu sekolah di SD 1 Menteng serta mereka yang mendamba adanya perubahan mendasar kebijakan luar negeri Amerika pada Indonesia.

Sang pemilik nama, Barack Obama atau Barry — demikian pang-gilan kawan-kawan sekelasnya di SD 1 Menteng Jakarta— adalah nama yang menjulang tinggi menjelang pemilihan presiden AS, No­vember 2008. Di samping Hillary Clinton, putra pasangan Barack Hussein Obama Senior Ann Dunham ini adalah kandidat serius capres Partai Demokrat pada Pilpres 2008. Obama dan Hillary kini bersaing ketat dalam konvensi di Par­tai Demokrat. Lihatlah popularitas Obama dan bekas first lady AS (1992-2000) di kalangan Afro-Amerika. Kalangan ini termasuk kantong suara Bill Clinton dalam Pilpres 1992, momen manis Partai Demokrat ketika menggangsir Par­tai Republik dari Gedung Putih.

Hasil jajak pendapat ABC News/ Washington Post menunjukkan terjadi perpindahan "suara" (ingat ini bukan electoral vote) kepada Oba­ma dan Hillary. Di awal Maret lalu, Hillary yang mengincar sejarah menjadi presiden perempuan pertama dalam sejarah AS mengatasi Obama dengan perolehan suara 36 persen berbanding 24 persen. Survei terakhir Washington Post, masih dalam Maret 2007, memperlihatkan kenaikan popularitas Obama, de­ngan perbandingan 44 persen untuk Obama dan 33 persen untuk Hillary. Akhir April 2007, Hillary unggul kembali dengan selisih tipis. Diperkirakan persaingan Obama dan Hillary akan terus sengit, hingga konvensi di Demokrat rampung enam bulan menjelang Pilpres 2008. Spekulasi yang berkembang, jika Obama kalah, dia bakal tetap maju dalam Pilpres 2008 sebagai cawa-pres Hillary Clinton
.
Setamat dari pascasarjana Har­vard Law School pada 1991, Oba­ma menjadi senator di negara bagian Illinois selama delapan tahun. Setelah itu, 2005, dia terpilih se­bagai senator di tingkat federal mewakili Illinois yang berkedudukan di Capitol Hill, Washington DC. Di Senat, tokoh kelahiran Ho­nolulu 4 Agustus 1961 ini duduk sebagai anggota Komisi Hubungan Luar Negeri, Masalah-Masalah Veteran, Kesehatan, Pendidikan, Buruh, Pensiunan, Keamanan Da­lam Negeri dan Pemerintahan. Rekam jejak Obama boleh dibilang lengkap di jalur legislatif, tapi tidak di eksekutif sebagaimana Bill Clinton dan George Walker Bush pernah menjadi gubernur Arkansas serta Florida sebelum memerintah AS.

Buku Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih ini diterjemahkan dari The Audacity of Hope, yang bertengger pada daftar buku terlaris versi harian The New York Times. Semi-otobiografi ini mempertegas kepiawaian Obama sebagai penulis andal yang kebetulan berkiprah di jalur poli­tik. Dalam buku teranyarnya ini, Obama mampu membahasakan politik yang berat menjadi ringan. Pilihan katanya tertata dengan ting­kat penghayatan yang masuk ke jiwa dari topik-topik yang dibahas. Sebagai penulis Obama berhasil menyihir publik Amerika untuk menyelami pikiran dan sikapnya.

Kecuali menjadi simbol berseminya harapan warga Amerika, adakah tawaran baru dari Obama? Apa komentar Obama atas sepak terjang Bush ? Obama bersetuju dengan ke­bijakan Bush yang menyerang Ta-liban untuk memburu Osamah bin Laden, akhir 2001. Sebutnya, "Awal yang baik oleh pemerintah, pikir saya mantap, terukur, dan cerdas dengan jumlah korban yang sedikit." Namun, Obama tak dapat menyaksikan harapannya diwujudkan Bush. "...Saya menunggu-nunggu apa yang saya duga akan menyusul: kebijakan yang tidak hanya akan menerapkan perencanaan militer, operasi intelijen, dan pertahanan dalam negeri kita dalam menghadapi jaringan teroris, tapi juga akan membangun sebuah kon-sensus internasional baru di sekitar tantangan terhadap ancaman ancaman transnasional" (hhn.62).

Sebaliknya, menurut Obama, Bush meracik kebijakan-kebijakan yang sudah kuno yang diangkat, disatukan, dan dibubuhi label-label baru. "Kerajaan Setan" pada masa Ronald Reagen kini menjadi Poros Setan. Doktrin Monroe versi Theo­dore Roosevelt, yakni gagasan bahwa Amerika dapat menggeser pe-merintahan yang tak disukai secara pre-emptif, kini diganti doktrin Bush. Tindakan pre-emptif itu di-perluas Bush dari belahan dunia Barat ke seluruh dunia. Doktrin pre-emptif yang diperluas itu dide-monstrasikan secara sangat buruk saat Bush menggulingkan Saddam Hussein pada 2003. Bush juga me-rekayasa opini warga Amerika sehingga 66 persen yakin bahwa Saddam terlibat dalam serangan 11 September 2001
.
Obama sependapat dengan analis yang menyebut Saddam me­miliki senjata kimia dan biologis serta mendambakan senjata nuklir. Namun, ujar Obama, apa yang ti­dak dapat saya dukung adalah "se­buah perang yang tolol, perang yang gegabah, perang yang bukan didasari oleh alasan, melainkan nafsu, yang bukan didasari prinsip melainkan oleh politik." Obama percaya politiklah yang akan me-nyelesaikan persoalan di Irak. Karena itu, bagi Obama, sudah waktunya untuk memulai fase penarikan pasukan AS dari Negeri 1001 Malam tersebut. Namun, apa harapan Obama itu manifes dalam kebijakan Bush soal Irak? Sekali lagi, hampir pasti tidak.

Pada 1 Mei lalu, Bush memveto RUU yang antara lain mengatur batas waktu penarikan pasukan AS antara 1 Oktober 2007 hingga Ma­ret 2008. Sebuah rancangan yang juga berisi rencana anggaran pe­rang sebesar 124 miliar dolar AS. Bush belum mau menyudahi pe­rang di Irak yang sudah menelan 3.500 tentara AS. Tapi, jangan bayangkan Obama selalu seturut dengan perspektif populis. Dalam banyak kasus, dia sekadar memodifikasi dan bahkan mengamini kebijakan sejumlah presiden AS. Akan diuji seberapa bernas visi politik, ekonomi, hingga pertahan­an dan keamanannya yang bermanfaat bagi dunia jikalau dia betul-betul maju dalam Pilpres 2008 dan terpilih sebagai presiden pertama AS dari kulit hitam. (*)


Moh. Samsul Arifin
Pencinta buku dan jurnalis televisi, tinggal di Jakarta.

Thursday, January 03, 2008



Kisah di Balik Tirai Kebesaran

Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi (Indo Pos, 31-12-2007)

CERITA tentang keagungan negeri Tiongkok dalam buku-buku sejarah dan pelajaran di sekolah tidak seratus persen benar. Selama ini, asumsi tentang negeri komunis itu berkait erat dengan keagungan peninggalan sejarahnya, kekaisarannya yang mentradisi, kemajuannya bak "macan Asia", dan atribut keagungan lainnya. Tetapi, semua itu dibantali buku China Undercover ini.

Buku ini melihat sisi lain dan apa yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui masyarakat dunia tetapi dirasakan oleh rakyat di negara itu. Tak lain karena adanya pembatasan informasi yang sengaja dilakukan untuk dunia luar. Dengan demikian, kabar tentang negara berpenduduk terbesar di dunia itu hanya sebagian kecil yang keluar.

Tak heran buku ini pernah membuat gerah pemerintah Tiongkok. Akibat pelarangan peredaran buku ini, edisi bajakannya justru terjual 10 juta kopi. Jadi, Revolusi Tiong¬kok yang didengung-dengungkan sebagai bentuk reformasi, temyata menjadi bencana bagi mayoritas rakyatnya sendiri. Anda boleh tidak percaya mengenai kenyataan ini, tetapi luangkan waktu untuk membaca kisah nyata buku ini. Pikiran kita tentang negeri itu perlu direvisi

Mayoritas masyarakat Tiongkok adalah petani. Tetapi petani di negara itu (sebagaimana jiiga di negara-negara lain), tidak ditempatkan pada posisi yang semestinya. Mereka dieksploitasi tidak saja dengan cara memainkan harga gabah, tetapi juga banyaknya pungutan liar dan penggelapan pajak. Anehnya, itu semua dilakukan oleh pejabat di tingkat lokal.

Karena itu, buku ini mengungkap ketidakadilan yang menimpa 900 jiwa petani di Provinsi Anhui (provinsi paling miskin di Tiong¬kok). Dari sanalah berbagai persoalan ketidakadilan diungkap dan dari sana pula angin perubahan siap diembuskan dengan martir-martir para petani.

Salah satu martir itu bernama Ding Zuoming. Dia seorang petani miskin dari Desa Luying, Kecamatan Jiwangchang, Kabupaten Lixin, Anhui. Meskipun petani, dia sangat berbeda dengan petani kebanyakan. Dia cerdas, punya akses informasi banyak, dan yang pasti punya keberanian. Ding dan kawan-kawan memprotes para kader desa yang telah memeras petani di bidang pajak.

Itu jelas kebijakan yang berten-tangan dengan partai. Karena itu, Ding minta audit keuangan desa. Tentu saja kengototan dia mendapat tentangan pejabat yang berkuasa. Ding terlibat perkelahian de¬ngan Ding Yanle, salah seorang antek pejabat. Tetapi bukan dia yang dibela meski benar, dia bahkan diwajibkan membayar pengobatan Ding Yanle dan membayar biaya angkutan untuk pengobatannya. Akhiraya, Ding Zuoming menemui ajalnya.

Dalam sejarah Anhui kejadian itu dikenal dengan "Peristiwa Ding Zuoming". Peristiwa yang terjadi pada 21 Februari 1993 dan berakhir dengan kematian Ding Zuoming keesokan harinya itu tidak pemah dilupakan masyarakat setempat. Seorang petani yang mengorbankan kehidupan mudanya untuk memprotes ketidakadilan. Kisah Ding bisa didapatkan dalam tulisan berjudul Sang Martir.

Lain lagi dengan kisah Sebuah Lingkaran Setan yang nienceritakan dua orang warga mati terbunuh dan seorang luka berat. Insiden yang terkenal dengan istilah "Cadangan Kas Desa" tersebut terjadi pada 4 November 1995. Insiden itu meletus karena perlawanan akibat penggelapan pajak dan pemerasan atas rakyat jelata di Shensai.

Tak heran buku yang ditulis selama tiga tahun ini begitu membuka mata lebar-lebar masyarakat dunia. Buku China Undercover pemali menggemparkan Beijing Book Fair. Itu terbukti dengan pe-sanan 60.000 eksamplar langsung habis dalam waktu tiga hari. Tidak itu saja, cetakan pertama terjual 100 ribu eksamplar dalam waktu satu bulan.

Chen dan Wu, dua penulis buku ini, bukan tanpa periawanan dari pejabat yang dikritik. la bahkan sempat diadili, dikeluarkan dari pekerjaannya, dan rumahnya dilempari batu oleh gerombolan orang. Yang membuat mereka hampir frustasi, mereka tidak boleh mempublikasikan dan menerima wawancara media massa di Tiongkok. De¬ngan pertimbangan matang dan siap menerima risiko, keduanya bersedia menerima wawancara wartawan dari luar negeri. Tak lain agar gaung penindasan di Tiongkok bisa terse-bar ke seluruh dunia.

Jika diamati lebih jeli, buku ini memuat serangkaian kjsah yang secara umum merujuk pada istilah Triple-Agri (San-Nong), yakni masalah pertanian, wilayah pedesaan, dan petani. Triple-Agri men¬jadi ciri khas masalah di Tiong¬kok. Bahkan Triple-Agri sebenarnya bukan semata-mata persoalan pertanian maupun ekonomi saja, tetapi ia sudah menjadi masalah terbesar yang dihadapi penguasa negeri itu. Sebab, masyarakat Ti¬ongkok mayoritas hidup di bidang pertanian dan tinggal di pedesaan.

Selama bertahun-tahun, kesan yang didapatkan tentang Tiongkok dari media massa hanyalah ber¬bagai laporan yang mengembar-gemborkan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Pengetahuan orang-orang kota tentang petani di Tiongkok jauh dari kenyataan.

Buku ini memang dilarang di ne-garanya, tetapi justru terus tersebar secara diam-diam di luar. Dampaknya begitu luar biasa. Tidak saja karena penyampaian nyata atas fakta yang menimpa, para petani dan orang miskin Tiongkok. Tetapi, pembaca akan digiring untuk bersimpati kepada mereka yang "terbuang". Yakni para petani sebagai tulang pungung negara, seperti di Indonesia

Fakta-fakta yang disampaikan, Chen dan Wu hampir tanpa kecuali dikumpulkan dari wilayah-wilayah "terlarang" yang manakutkan dengan teknik penulisan jurnalisme Termasuk kasus-kasus kejahatan besar di berbagai wilayah pedesaan, kasus-kasus yang telah memperingatkan Komite Pusat Partai Komunis mengenai apa yang mereka sembunyikan dalam rapat-rapat publik, terutama oleh pejabat tingkat kecamatan dan provinsi. Kenyataannya, kebenaran dilumpuhkan, kebohongan bertambah subur

Buku ini manantang setiap asumsi atas kisah orang-orang Tongkok selama ini. Buku ini harusnya menjadi bacaan penting bagi siapa saja yang tertarik mengenai apa yang terjadi sebenarnya di RRT

Chen dan Wu telah memberikan contoh, kita di Indonesia sebennya bisa ikut tergugah. Kenapa ? Rakyat miskin di negeri ini juga masih sangat banyak. Petani terus dicekik. Harga gabah yang rendah sementara pemerintah seolah duduk "di menara gading" tak pernah melihat ke bawah. (*)

Nuriidin
Dosen Progran Pascasarjana dan Wapemrec Koran Kampus Beslari UMM
DI BALIK BUKU

Thursday, November 22, 2007

Sang Bandit Menemukan Nurani

JUDUL BUKU
Pengakuan Bandit Ekonomi, Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia&Negara Dunia Ketiga

PENULIS
John Perkins

PENERJEMAH
Wawan Eko Yulianto & Meda Satrio

PENERBIT
Ufuk Press, Jakarta

CETAKAN
Agustus 2007

TEBAL
xxvi + 465 Halaman


“Dalam buku terbarunya The Secret History of the American Empire (diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi oleh Ufuk Press) Perkins lebih telanjang membuka kedok bandit ekonomi. Segala cara ditempuh, mulai perempuan hingga pembunuhan”.
(Indo Pos, 18 November 2007)

ALKISAH, pada 1971, seorang ekonom yang bekerja pada MAIN Boston diutus untuk mengkaji ke-mungkinan pemerintah Soeharto mendapatkan bantuan dana dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan badan pemberi bantuan AS (USAID). Lembaga konsultan ini diorder mengembangkan sistem kelistrikan terpadu yang dapat dimanfaatkan Soeharto dari kroninya menggerakkan industrialisasi, menambah kekayaan dan memastikan dominasi Ame-rika Serikat di Indonesia.

Di mata Washington saat itu, Jakarta merupakan "pagar" untuk menahan meluasnya paham komunisme di Asia Tenggara. Posisi politik Soeharto yang keras terhadap komunisme segaris dengan kebijakan politik Amerika. Apalagi Indonesia sangat strategis, terutama untuk memasok kebutuhan minyak negeri Paman Sam. Pre-siden Richard M. Nixon meng-inginkan Soeharto melayani Washington seperti halnya Shah Pahlevi di Iran yang melenggang ke tampuk kekuasaan Iran setelah Mossadegh digulingkan.

Ekonom ini dibantu jaringannya di birokrasi berhasil menjerat Soeharto. Dolar pun deras masuk ke tanah air, sehingga membikin Indonesia terjerembab utang luar negeri. Kompensasinya Soeharto memberikan kontrak karya dengan sistem PSA (profit sharing agreement) kepada korporasi asal AS. Hingga saat ini, perusahaan seperti Freeport McMoran hingga ExxonMobil menikmati sumber daya alam Indonesia mulai Aceh, Papua hingga Blok Cepu. Dolar yang dibawa pulang korporasi AS. Itu jauh lebih tebal ketimbang yang masuk ke kas pemerintah.Begitulah sepak terjang John Perkins, seorang the ecomic hitman (bandit ekonomi) yang menyebut "Indonesia adalah korban pertama saya. Bandit ekonomi adalah "umpan" untuk membuka proyek-proyek yang didanai Bank Dunia, IMF dan lembaga keuangan lain di negara-negara berkembang. Tentu saja tak ada "makan siang gratis", karena negara tersebut wajib memberikan proyek itu kepada korporasi-korporasi Amerika Serikat. Dus, mengamankan kepentingan AS dari menyewakan lokasi untuk pangkalan militer atau mendukung negeri adidaya itu dalam voting di Dewan Keamanan PBB. Ringkas-nya, bandit ekonomi mengabdi pada tujuan membangun imperium Amerika.

Dalam buku terbarunya The Secret History of the American Empire (diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi oleh Ufuk Press) Perkins lebih telanjang membuka kedok bandit ekonomi. Segala cara ditempuh, mulai perempuan hingga pembunuhan. Yang terakhir ini adalah operasi khusus yang dikerjakan para "srigala" dukungan CIA (Dinas Rahasia Amerika). Perkins menyebut me-reka "jackal", seorang yang melakukan perbuatan terlarang atau melanggar hukum atas perintah orang lain. Korbannya berderet dan terbesar adalah pemimpin-pemimpin Afrika. Tersebutlah Presiden Ekuador Jaimes Roldos, Presiden Panama OmarTorrijos atau pejuang lingkungan Nigeria Saro Wiwa.

Perkins memperpanjang "pengakuan dosa"-nya dalam buku ini. Paling tidak 23 negara di Asia, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika. Akibat kerja bandit ekonomi itu, kini lebih dari separo populasi dunia harus bertahan hidup dengan kurang dari 2 dolar sehari (jumlah itu kira-kira sama dengan penghasilan riil yang mereka peroleh pada tiga puluh tahun lalu). Lebih dari dua miliar penduduk dunia tak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas mendasar, termasuk listrik, air bersih, sanitasi, hak atas tanah, telepon, polisi, dan perlindungan dari kebakaran.

Data fiktif para bandit ekonomi menyumbang atas kegagalan proyek-proyek yang disponsori Bank Dunia, antara 55-60 persen versi penelitian Joint Economic Comittee dalam Kongres AS. Sebaliknya, biaya cicilan utang Dunia Ketiga lebih besar daripada keseluruhan pengeluaran mereka untuk kesehatan dan pendidikan. Utang Dunia Ketiga pun melonjak hingga mendekati empat triliun dolar AS.

Yang membedakan dengan Confession of an Economic Hitman, buku pertamanya, Perkins kini lebih banyak mengeksploitasi nurani yang diacuhkannya sejak ia menerima tawaran Claudine, mentornya di MAIN Boston, menjadi bandit ekonomi pada usia 26 tahun. Di bab-bab akhir buku ini, Perkins tersentuh saat menyaksikan rakyat Ekuador harus antre panjang di bawah guyuran hujan lebat hanya untuk membayar listrik; warga kota Cocabamba harus membayar rekening air minum setelah Bank Dunia dan IMF pada 1991 mendesak Bolivia menjual sistem air minum ke Bechtel (perusahaan teknik raksasa asal Amerika); atau nasib perempuan peng-idap lepra yang tak memiliki akses terhadap kesehatan di pinggir sebuah sungai di Jakarta yang kotor.

Bentuk konkret kembalinya nurani itu misalnya, Perkins kini lan-tang menyeru kepada warga bumi ini untuk kritis terhadap sepak terjang korporasi Amerika dan negara barat lainnya. Seruan itu mirip para pengkhotbah politik hijau, penyantun ekonomi lokal, penga-yom kemanusiaan dan penentang eksploitasi manusia.
Tengoklah daftar seruannya (him. 443-445): Berbelanja dengan akal sehat. Jika ada sesuatu yang harus Anda miliki, belilah barang yang kemasan, bahan dasar dan metode produksinya berkelanjutan dan mendukung kehidupan. Lakukan protes menentang perjanjian perdagangan bebas dan pabrik pemeras keringat. Tulis surat untuk memberi tahu Monsanto, De Beers, ExxonMobil, Adidas, Ford, GE, Coca-Cola, Wal-Mart, serta peng-eksploitasi buruh dan perusak lingkungan lainnya mengapa Anda menolak membeli dari mereka.


Daftar seruan—untuk tak menga-takan agenda— itu semakin panjang jika kita membuka situs pribadinya, www. JohnPerkins.com. Tepat di sini, saya mendapati bentuk perlawanan yang kurang otentik dari Perkins. la hanya mengulang sebuah gerakan politik yang disebut Ulrich Beck sebagai subpolitik. Langkah yang kelewat lemah di tengah supe-rioritas korporatokrasi dalam pergaulan global.


Moh Samsul Arifin
Praktisi pertelevisian

Thursday, November 08, 2007

Memetik Makna dalam Absurditas

Judul : Blindness, Ketika Negeri Tanpa NamaDilanda Kebutaan Massal
Penulis : Jose Saramago
Tebal : 448 halaman
Penerbit : Ufuk Press , Jakarta
Terbit : Maret2007


"Saramago hendak memotret keadaan manusia di kolong langit ini yang dilanda buta nurani. Mayoritas manusia saat ini mementingkan diri sendiri, dan hanya sedikit saja yang peduli orang lain"
(Indopos)

Para pengidap kebutaan yang dikarantina (interniran) itu mencapai 300 jiwa. Mereka hidup nyaris tanpa fasilitas. Jumlah ranjang tak mencukupi. Pasokan makanan sangat langka dan datang tidak teratur. Instalasi kebersihan sangat menyedihkan sehingga tidak memungkinkan mereka untuk membersihkan diri dan membuang kotoran secara wajar. Akibatnya, orang-orang yang dikarantina itu hidup tak ubahnya binatang

Suatu hari di sebuah kota tanpa nama di negeri anonim, seorang pria mendadak menghebohkan para pengemudi kendaraan bermotor. Mobil yang dia setir mogok sehingga kemacetan tak terbendung. Klakson mobil bersahut-sahutan seolah membentak si pengemudi agar mobil tersebut segera berjalan.Tapi, mobil itu tetap di tempat. Pria nahas yang menyetir mobil itu mengaku kebutaan telah menyergapnya sehingga dia tak mampu lagi melajukan kendaraan.

Yang aneh, pria matang berumur 38 tahun itu tak mendapati di sekelilingnya sebagai kegelapan—sebagaimana galibnya kebutaan. Pria ini menderita"butaputih"! "Kulihat segalanya putih," ujar pria ini merangkum penyakitnya yang di luar kebiasaan
.
Begitulah Jose Saramago membuka novelnya, Blindness. Sebuah karya yang mengantar dia meraih The Nobel Prize in Literature 1998. Sastrawan yang lahir di tepi Sungai Alomanda, ratusan kilometer dari Lisbon, Portugal, ini langsung menghadirkan absurditas sejak awal kepada pembaca Blindness. Cara ini "memaksa" pembaca, melahap lembar demi lembar hingga tuntas. Dalam novel ini, Sarama­go memelihara absurditas (baca: keganjilan atau hal yang mustahil) itu hingga akhir.

Karena ada indikasi bahwa penyakit ini menular, maka orang-orang buta dan mereka yang diduga telah tertular dikarantina di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai. Tentara mengawal tempat ini dengan ketat agar tak seorang pun bisa keluar.

Para pengidap kebutaan yang dikarantina (interniran) itu mencapai 300 jiwa. Mereka hidup nyaris tanpa fasilitas. Jumlah ranjang tak mencukupi. Pasokan makanan sangat langka dan datang tidak teratur. Instalasi kebersihan sangat menyedihkan sehingga tidak memungkinkan mereka untuk membersihkan diri dan membuang kotoran secara wajar. Akibatnya, orang-orang yang dikarantina itu hidup tak ubahnya binatang. Saling berburu dan berebut makanan, membuang kotoran seenaknya, bahkan—merasa tak ada yang melihat—berhubungan seks di sembarang tempat.

Siapa sangka di tengah-tengah wabah kebutaan ini masih ada satu orang yang dapat mempertahankan penglihatanya. Dia, seorang perempuan, istri dokter mata yang sejak awal berpura-pura buta demi bisa menemani suaminya di tempat karantina. Dialah yang selama ini—tanpa disadari oleh interniran lain kecuali suaminya—te­lah dengan sekuat tenaga memudahkan hidup mereka. Pe­rempuan ini adalah jenis pemimpin sejati yang beker ja tanpa lencana. Perempuan ini jua yang secara tak langsung me-nuntun seluruh tokoh utama lain dalam novel ini mencapai transformasi diri hingga penglihatan mereka semua kembali.

Cerita Saramago adalah se­buah kisah alegoris. Saramago hendak memotret keadaan manusia di kolong langit ini yang dilanda buta nurani. Mayoritas manusia saat ini mementingkan diri sendiri, dan hanya sedikit saja yang peduli orang lain. "Sesungguhnya belum lahir manu­sia yang tak punya kulit kedua yang kita sebut egoisme. Kulit yang tahan lebih lama dibanding kulit satunya lagi yang begitu mudahnya berdarah," sergah Saramago, (hal 233-234).

Dalam kondisi demikian, sesuatu yang salah—secara moral dan etis—terlihat seperti benar (diceritakan Saramago sebagai putih dengan kilau-kemilau cahaya). Sesuatu terlihat baik, padahal buruk. Dunia manusia dipenuhi fakta dan makna yang kerap terbolak-balik. Ketika menerima Nobel Sas-tra, 7 Desember 1998, Saramago berkata jujur, "...(saya) menulis Blindness untuk mengingatkan mereka yang mungkin membacanya bahwa kita menodai akal sehat saat kita menghina kehidupan, bahwa martabat manusia dilecehkan setiap hari oleh kuatnya dunia kita, bahwa kebohongan universal telah menggantikan kebenaran plural, bahwa manusia berhenti menghormati dirinya sendiri ketika dia kehilangan rasa hormat terhadap sesamanya."(*)

Eka Kurnia Hikmat
Beker ja di Lazuardi Global Islamic School Cinere,Depok
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes