Showing posts with label The Road Less Travelled. Show all posts
Showing posts with label The Road Less Travelled. Show all posts

Thursday, November 05, 2009



CARA LAIN MEMANDANG HIDUP


The Road Less Traveled sendiri berarti jalan menuju kesempurnaan spiritualitas yang jarang ditempuh, dikontraskan Peck dengan jalan kedurjanaan yang dititi kebanyakan orang.
(Geger Riyanto, Koran Jakarta, Oktober 2009)

Hidup itu sulit, demikian M Scott Peck membuka buku The Road Less Traveled yang terbit pertama kali pada 1978. Buku ini yang membuat almarhum Peck dikenal sebagai psikiater yang mengambil jalan berbeda dengan teman-teman seprofesinya, jalan spiritualitas, jalan yang dapat dianggap melenceng ketika dipandang dari mazhab-mazhab ilmu psikologiyang mapan.

Tetapi inilah yang membuatnya dikenal di publik Amerika Serikat (Amerika). Menjelang dekade '80-an, masyarakat Amerika, dalam pengamatan kritikus Christoper Lasch, mengalami deradikalisasi drastis. Pergolakan politik yang luar biasa pada dekade '60-an, sedikit di antaranya, friksi yang keras di antara negara dan masyarakat sipil soal Perang Vietnam, mengkristalnya konflik antara ras kulit hitam dan kulit putih, hingga terbunuhnya Presiden Kennedy, membuat sebagian warga mencari ketenangan spiritual.

Para warga mengambil langkah mundur dari ranah publik yang berkecamuk, berputar ke ranah privatnya, ke urusan pengembangan kejiwaannya sendiri. Warga Amerika mulai beralih ke kebiasaan menyantap makanan sehat, mengambil kursus balet, menganut spiritualisme timur, dan lain-lain. Peck adalah bagian dari generasi yang mengalami deradikalisasi ini, sang psikiater banyak terinspirasi Sufisme, Buddhisme, Kristianitas, dan spiritualisme-spiritualisme lainnya.

Ungkapan Peck, hidup itu sulit, yang membuka buku The Road Less Traveled ini adalah ekspresi masyarakat Amerika, dan buku ini secara keseluruhan adalah upaya sang psikiater menawarkan filosofi kejiwaannya. Pandangan hidup, Weltanschauung, yang memandang kehidupan secara terbalik. The Road Less Traveled sendiri berarti jalan menuju kesempurnaan spiritualitas yang jarang ditempuh, dikontraskan Peck dengan jalan kedurjanaan yang dititi kebanyakan orang.

Dalam merumuskan Ihe Road Less Traveled, Peck mengombinasikan berbagai pendekatan psikologi, spiritualisme, dan pengalaman-pengalaman yang dihadapinya dalam profesi seorang psikiater maupun kehidupan pribadinya sebagai seorang ayah. Mengapa hidup ini sulit? Peck menjelaskan karena menghadapi persoalan hidup adalah proses yang menyakitkan. Penyakit kejiwaan awalnya adalah ketakutan seseorang menghadapi kenyataan hidup, tandas Peck. Sementara The Road Less Traveled didaki dengan keberanian mengha¬dapi hidup dengan segala kesulitannya, menempuh jalan yang berbukit itu menempa spiritualitas seorang manusia. Kedengarannya mudah, tetapi tantangan pertama adalah memalingkan leher yang terbelenggu baja kemalasan untuk menatap bergunung pekerjaan hidup yang belum diselesaikan


Peresensi adalah Geger Riyanto,
alumnus Sosiologi
Universitas Indonesia.

Thursday, September 03, 2009


MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERMAKNA

Dengan bahasa yang cerdas dan jelas, penulis yang bergelut di bidang psikiatri klinis ini mengantarkan ribuan petuahnya dengan kasih sayang dengan tanpa menggurui
(Permata Kusumadewi, Seputar Indonesia, Aguistus 2009)


Manusia sejatinya berusaha menjadi seorang yang bijaksana dengan mencari dan mengejar kebijaksanaan sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya. Pencarian kebijaksanaan itu dilakukan dengan memaknai hidup dan sejatinya ada di dalam kehidupan sendiri. Diri manusia senantiasa tumbuh dan berkembang, baik raga maupun jiwanya. Raga manusia terlihat secara fisik sehingga pertuinbuhan dan perkembangannya terlihat dan terukur. Lalu bagaimana dengan jiwa manusia ? Dapatkah terlihat dan terukur ?

Kita semua perlu memahami perkembangan jiwa kita masing-masing. Perkembangan jiwa manusia dicirikan dengan adanya perkem¬bangan mental dan spiritual. Perkenibangan mental dan spiritual ini memengaruhi cara pandang manusia dalam mehhat makna hidup. Semua orang setuju bahwa hidup itu memiliki serangkaian masalah tanpa akhir yang senantiasa ditemani dan dipenuhi oleh rasa sakit maupun rasa senang. Pihhan selanjutnya ada pada diri manusia itu sendiri, mau menyerah pada keadaan dengan mengeluh atau berjuang untuk terus hidup dengan memecahkan segala masalah yang ada. Lantas apa perbedaan di antara pilihan-pilihan tersebut ?

Pada hakikatnya, hidup benar-benar membutuhkan suatu pengakuan, pemahaman, dan penerimaan. Mereka yang menyikapinya dengan berkeluh hanya akan mendapatkan sesuatu yang tidak menguntungkan dan tidak menye-nangkan. Hal itu tentu hanya akan membuat hidup menjadi sulit karena proses untuk menghadapi berbagai persoalan dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan. Orang yang mengeluh tidak mengakui hidup itu memiliki serangkaian masalah karena mereka mengartikan dari sudut pandang bahwa seolah-olah hidup itu seharusnya mudah. Alhasil, mereka menerima bahwa kesulitan yang dihadapi semata-mata hanya sebagai simbol dari bentuk rasa sakit tersendiri.

Adapun bagi mereka yang menghadapinya dengan mencari penyelesaian dan memecahkan masalah akan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan. Bahwa hidup memiliki maknanya apabila segala kesulitan untuk memecahkan masalah dipahami sebagai suatu proses untuk membantu manusia tetap tumbuh dan berkembang. Menjalani hidup lebih mudah dimulai dengan bagaimana sudut pandang kita melihat suatu kebenaran terbesar, bahwa hidup itu sulit. Kebenaran itu harus dilihat secara utuh dengan sebuah pemahaman dan penerimaan sehingga hal itu tidak lagi menj adi masalah. Karena hidup memang bukan untuk mengeluh.

Buku The Road Less Travelled merupakan buku psikologi, tepatnya psikoterapi, yang terdiri dari 4 bab. Pada bab pertama, penulis M Scott Peck menggunakan instrumen disiplin sebagai perangkat dasar memecahkan atau menyelesaikan semua masalah yang dihadapi sehingga untuk memecahkan semua permasalahan, manusia harus mampu berdisiplin secara total (hlm.34) Artinya, jangan pernah mengabaikan masalah. Prioritas utama adalah berani meng¬hadapi masalah yang sudah men¬jadi tanggung jawab kita untuk memecahkannya. Sama seperti deklarasi hidup yang disampaikan filsuf Nietzche: hadapilah hidup dengan penuh keberanian.

Sebagai alat evolusi spiritual manusia, tentu disiplin tidak hadir begitu saja. Dibutuhkan suatu motif dan energi untuk mewujudkannya. Kekuatan inilah yang disebut cinta dan menjadi inti pembahasan bab 2. Cinta adalah sebuah tindakan, sebuah aktivitas, bukan sebuah perasaan. Bagaimana kita bertindak untuk membuat suatu keputusan yang bijak dan tepat. Contohnya, ketika kita mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berkonsentrasi penuh terhadap orang lain, itu merupakan suatu wujud cinta, Deskripsi tentang cinta ini tentulah menarik karena selama im terjadi kesalahaii konsepsi tentang cmta, yaitu fenomena cinta yang se¬nantiasa erotis terkait dengan seks dan fenomena cinta yang seialu bersifat sementara (him 102). Cinta adalah kerja atau keberanian yang diarahkan untuk menumbuhkan perkembangan spiritual diri kita atau orang lain. Itulah mengapa cinta dikatakan membutuhkan pengembangan diri. Manusia yang hidup senantiasa mengalami per¬kembangan. Dengan ajaran disiplin dan cinta, ia dapat rnelihat berkah dalarn kehidupannya itu.

Bab ketiga menjelaskan perkembangan eksistensi diri ma¬nusia. Manusia diajari untuk berkembang, bergerak, dan tumbuh dalam dimensi apa pun. Bab 4 membahas kebermaknaan hidup. Karena kehidupan yang lengkap adalah ketika kebermaknaan hi¬dup ditemukan di mana rasa sakit dan Kebahagiaan akan menjadi imbaiannya.Tugas utama dan esensial daiam proses perkembangan spiritual seseorang adaiah usaha terus-menerus untuk mernbawa konsep-diri sadar seseorang agar secara progresif sernakin sesuai denganrealitas (him.348).

Apa yang dilakukan penulis melalui buku mi merupakan suatu bentuk psikoterapi. Dengan bahasa yang cerdas dan jelas, penulis yang bergelut di bidang psikiatri klinis ini mengantarkan ribuan petuahnya dengan kasih sayang dengan tanpa menggurui. Penulis berusaha mengajak pembaca mengarungi perjalanan spiritual dan dengan membaca buku ini niscava perkembangan spiritual kita akan terlihat nyata.

Terkait dengan keunikan setiap manusia dengan segala sikap hidupnya, tentu setelah membaca buku ini tidak semua orang dapat memahami dan merespons psiko¬terapi dengan baik karena per¬bedaan penangkapan makna. Hal-hal terkait masalah psikiatris memang tidak dapat dirumuskan menjadi satu rnacam obat mujarab saja.

Setelah membaca buku ini, saya tersadarkan bahwa dengan menemukan kebermaknaan dalam hidup manusia menemukan kesejatian hidup dan kepenuhan diri sebagai pribadi yang utuh. Sejati¬nya hidup adalah untuk senantiasa aktif dan emansipatif dalam me¬maknai setiap pengalaman yang membentuk diri sebagai manusia yang utuh dan sebagai langkah nyata memperlakukan diri dengan mampu mengadakan diri apa ada¬nya. Sudahkah Anda menemukan kebermaknaan hidup Anda ? (*)

Permata Kusumadewi, alumnus FH UI dan peneliti di
Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS)

Wednesday, July 01, 2009

MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERMAKNA

Setelah membaca buku ini, saya tersadarkan bahwa dengan menemukan kebermaknaan dalam diri mamisia menemukan kesejatian hidup dan kepenuhan diri sebagai pribadi yang utuh
(Permata Kusumadewi, Seputar Indonesia, Juni 2009)

Manusia sejatinya berusaha menjadi seorang yang bijaksana dengan mencari dan mengejar kebijaksanaan sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya. Pencarian kebijaksanaan itu dilakukan dengan memaknai hidup dan sejatinya ada di dalam kehidupan sendiri. Diri manusia senantiasa tumbuh dan berkembang, baik raga maupun jiwanya. Raga manusia terlihat secara fisik sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terlihat dan terukur. Lalu bagaimana dengan jiwa manusia? Dapatkan terlihat dan terukur?

Kita semua perlu memahami perkembangan jiwa kita masing-masing. Perkembangan jiwa manusia dicirikan dengan adanya perkembangan mental dan spiritual. Perkembangan mental dan spiritual ini memengaruhi cara pandang manusia dalam melihat makna hidup. Semua orang setuju bahwa hidup itu memiliki serangkaian masalah tanpa akhir yang senantiasa ditemani dan dipenuhi oleh rasa sakit maupun rasa senang. Pilihan selanjutnya ada pada diri manusia itu sendiri, mau menyerah pada keadaan dengan mengeluh atau berjuang untuk terus hidup dengan memecahkan segala masalah yang ada. Lantas apa perbedaan di antara pilihan-pilihan tersebut?

Pada hakikatnya, hidup benar-benar membutuhkan suatu pengakuan, pemahaman, dan penerimaan. Mereka yang menyikapinya dengan berkeluh hanya akan mendapatkan sesuatu yang tidak menguntungkan dan tidak menyenangkan. Hal itu tentu hanya akan membuat hidup menjadi sulit karena proses untuk menghadapi berbagai persoalan dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan. Orang yang mengeluh tidak mengakui hidup itu memiliki serangkaian masalah karena mereka memahami dari sudut pandang bahwa mudah. Alhasil, mereka menerima bahwa kesulitan yang dihadapi semata-mata hanya sebagai simbol dari bentuk rasa sakit tersendiri.

Adapun bagi mereka yang menghadapinya dengan mencari penyelesaian dan memecahkan masalah akan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan. Bahwa hidup memiliki maknanya apabila segala kesulitan untuk memecahkan masalah dipahami sebagai suatu proses untuk membantu manusia tetap tumbuh dan berkembang. Menjalani hidup lebih mudah dimulai dengan bagaimana sudut pandang kita melihat suatu kebenaran terbesar, bahwa hidup itu sulit. Kebenaran itu harus dilihat secara utuh dengan sebuah pemahaman dan penerimaan sehingga hal itu tidak lagi menjadi masalah .Karena hidup memang bukan untuk mengeluh.

Buku The Road Less Travelled merupakan buku psikologi, tepatnya psikoterapi, yang terdiri dari 4 bab. Pada bab pertama, penulis M Scott Peck menggunakan instrumen disiplin sebagai perangkat dasar memecahkan atau menyelesaikan semua masalah yang dihadapi sehingga untuk memecahkan semua permasalahan, manusia harus mampu berdisiplin secara total (him 4). Artinya, jangan pernah mengabaikan masalah. Prioritas utama adalah berani menghadapi masalah yang sudah menjadi tanggung jawab kita untuk memecahkannya. Sama seperti deklarasi hidup yang disampaikan filsuf Nietzche: hadapilah hidup dengan penuh keberanian.

Sebagai alat evolusi spiritual manusia, tentu disiplin tidak hadir begitu saja. Dibutuhkan suatu motif dan energi untuk mewujudkannya. Kekuatan inilah yang disebut cinta dan menjadi inti pembahasan bab 2. Cinta adalah sebuah tindakan, perasaan. Bagaimana kita bertindak untuk membuat suatu keputusan yang bijak dan tepat. Contohnya, ketika kita mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berkonsentrasi penuh terhadap orang lain, itu merupakan suatu wujud cinta. Deskripsi tentang cinta ini tentulah menarik karena selama ini terjadi kesalahan konsepsi tentang cinta, yaitu fenomena cinta yang senantiasa erotis terkait dengan seks dan fenomena cinta yang selalu bersifat sementara (hlm. 102). Cinta adalah kerja atau keberanian yang diarahkan untuk menumbuhkan perkembangan spiritual diri kita atau orang lain. Itulah mengapa cinta dikatakan membutuhkan pengembangan diri. Manusia yang hidup senantiasa mengalami perkembangan. Dengan ajaran disiplin dan cinta, ia dapat melihat berkah dalam kehidupannya itu.

Bab ketiga menjelaskan perkembangan eksistensi diri manusia. Manusia diajari untuk berkembang, bergerak, dan tumbuh dalam dimensi apa pun. Bab 4 membahas kebermaknaan hidup. Karena kehidupan yang lengkap adalah ketika kebermaknaan hidup ditemukan di mana rasa sakit dan kebahagiaan akan menjadi imbalannya.Tugas utama dan esensial dalam proses perkembangan spiritual seseorang adalah usaha terus-menerus untuk membawa konsep diri sadar seseorang agar secara progresif semakin sesuai dengan realitas (hlm 348).

Apa yang dilakukan penulis melalui buku ini merupakan suatu bentuk psikoterapi. Dengan bahasa yang cerdas dan jelas, penulis yang bergelut di bidang psikiatri klinis ini mengantarkan ribuan petuahnya dengan kasih sayang dengan tanpa menggurui. Penulis berusaha mengajak pembaca mengarungi perjalanan spiritual dan dengan kembangan spiritual kita akan terlihat nyata.

Terkait dengan keunikan setiap manusia dengan segala sikap hidupnya, tentu setelah membaca buku ini tidak semua orang dapat memahami dan merespons psikoterapi dengan baik karena perbedaan penangkapan makna. Hal-hal terkait masalah psikiatris memang tidak dapat dirumuskan menjadi satu macam obat mujarab saja.

Setelah membaca buku ini, saya tersadarkan bahwa dengan menemukan kebermaknaan dalam diri mamisia menemukan kesejatian hidup dan kepenuhan diri sebagai pribadi yang utuh. Sejatinya hidup adalah untuk senantiasa aktif dan emansipatif dalam memaknai setiap pengalaman yang membentuk diri sebagai manusia yang utuh dan sebagai langkah nyata memperlakukan diri dengan mampu mengadakan diri apa adanya. Sudahkah Anda menemukan kebermaknaan hidup Anda? (*)

Permata Kusumadewi, alumnus FH U dan peneliti diPusat Kajian Strategik dan Pertahanan(CSDS)-PascarajanaUI

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes