Showing posts with label Rosid-Delia. Show all posts
Showing posts with label Rosid-Delia. Show all posts

Monday, March 23, 2009


KISAH PASANGAN DI MABUK ASMARA

Cerita yang lugas dengan mengambil kejadian yang benar terjadi di sekitar kita membuat buku ini menjadi menarik dan dapat dibilang bukan fiksi. (Erick Purnama Putra, Malang Post, Maret 2009)

Cinta itu buta. Kalimat itu sangat pas untuk menggambarkan cerita tokoh utama dalam novel Rosid & Delia karya Ben Sohib. Isi buku ini secara keseluruhan menceritakan konflik individu yang terjadi. dalam sebuah keluarga keturunan Arab yang memiliki anak bemama Rosid, yang mencintai warga pribumi (Betawi) yang berlainan agama (Kristen).

Latar belakang kehidupan masyarakat Arab-Betawi yang bertempat di Ibu Kota dengan segala aktivitasnya membuat setting ceritanya menjadi dinamis, tetapi menimbulkan dilematik bagi pembaca.

Cerita yang lugas dengan mengambil kejadian yang benar terjadi di sekitar kita membuat buku ini menjadi menarik dan dapat dibilang bukan fiksi. Mengingat seluruh jalannya cerita dan content yang terkandung di dalamnya menampilkan realita kehidupan sehairi-hari masyarakat Indonesia.

Kisah bermula ketika Rosid berani menentang babenya, Mansur bin Salim al-Gibran, karena tidak diizinkan menjalin hubungan dengan kekasihnya yang cantik, Delia. Rosid yang menganggap ayahnya kolot dan tidak mempunyai cara pandang anak muda menuduh bahwa babenya hanya ingin menang sendiri tanpa pernah mau mendengar keluh kesah anaknya.

Mansur yang tahu Rosid sudah punya pacar makin mendidih otaknya dan bereaksi dengan segala cara untuk memisahkan anaknya dari wanita yang tak di sukainya. Rosid yang kritis meskipun tak menempuh pendidikan tinggi terus berusaha meyakinkan kedua orang-tuanya bahwa Delia adalah jodohnya dan tentu akan dinikahinya kelak. Dan di lain pihak Mansur al-Gibran makin mempercepat memisahkan Rosid dari Delia dan berusaha menjodohkan anaknya dengan gadis pilihannya. Itu dilakukan Mansur karena dia tidak ingin anaknya lengket dengan wanita yang menurutnya tidak sesuai dengan penilaiannya.

Pasalnya, setelah Mansur mengetahui bahwa anaknya punya pacar yang beda agama, dia merasa gusar dan menolak mentah-mentah pilihan anaknya yang ingin menikahi putri yang tak seagama dengan klannya.

Mansur Bin Salim yang mewarisi ajaran nenek moyangnya tidak ingin anaknya tersesat dan keluar dari jalan kebenaran akibat kecantol gadis manis yang berbeda kepercayaan terhadap Sang Pencipta dengan agama yang dianutnya. Sehingga membuat dirinya merasa sudah menjadi kewajibannya untuk 'menyelamatkan' anaknya dari cengkeraman 'setan perempuan' cantik.'Sebab dalam tradisi leluhur keluarganya pernikahan beda agama sangat dilarang.

Persoalan rumit itu akhirnya membuat suasana keluarga Mansur al-Gibran memanas. Kondisi itu juga membawa Rosid pada suatu pilihan dilematis. Pasalnya pernikahan beda agama pasti menimbulkan dampak serius dan itu bukannya tak disadari Rosid. Tetapi dia siap menanggung segala konsekuensi logis yang harus dihadapinya terutama dari babenya. Yang penting dirinya bisa menikahi Delia sang pujaan hatinya.

Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu melakukan lobi khusus kepada orangtua masing-masing dengan tujuan agar hubungan kasih sayang yang sudah dipertahankannya bisa terus berlanjut. Karena mereka yakin akan kebenaran tentang jodoh di tangan Tuhan. Sehingga tidak bakal ada yang bisa memisahkan ketentuan Tuhan. Yang berarti keduanya pasti tetap menikah meskipun tanpa restu orangtua.

Darah muda yang menyelimuti Rosid membuatnya berani menerjang badai penolakan dari keluarganya dan 'mengultimatum' orang tuanya agar merestui hubungan keduanya. Bahkan, Delia, si cewek manis berani beradu argumen dengan ayahnya ketika dia mengutarakan kisah cintanya kepada ayahnya yang juga menolak hubungan dua insan muda tersebut. Dan bisa ditebak kemarahan ayah Delia membuncah dan dia harus menerima kenyataan pahit, serta harus menabahkan dirinya sendiri supaya tetap tegar karena orangtuanya melarang untuk menikah.

Pada waktu bersamaan, Mansur meminta bantuan saudaranya, Rodiyah, untuk memisahkan anaknya dengan pacarnya yang berlainan agama. Rodiyah dengan segala cara akhirnya membuat taktik supaya Rosid bisa lepas dari Delia. Rodiyah melakukan perbuatan ekstrem hingga minta bantuan paranormal supaya Rosid, meminjam istilah sang babe, bisa 'disembuhkan' Rosid dari gangguan setan cantik. Karena Mansur menganggap hubungan anaknya itu sebuah kiamat yang harus dihindari demi mencegah kerusakan lebih parali dalam silsilah keluarganya jika sampai menjalin hubungan dan menikah dengan Delia yang beda agama.

Setelah Rodiyah berhasil memperoleh rahasia dari paranormal. Mansur melakukan segala upaya sesuai permintaan Rodiyah atas saran 'orang pintar' yang diternuinya.

Di samping menggunakan cara instans, cara nyata juga dilakukan Mansur, seperti mengenalkan Rosid pada Nabila, anak saudara jauhnya yang masih satu marga di bawah naungan al-Gibran. Semua itu dilakukannya demi memisahkan hubungan pasangan muda yang beda agama dan suku bangsa tersebut dan Rosid bisa melupakan Delia.

Setelah lelah menunggu hasil kerja kerasnya, akhirnya Mansur mendapati kabar bahwa anaknya akan putus dengan Delia. Bukan main kepalang senang hatinya. Saat itu juga dia merasa bersyukur bahwa tawakalnya tidak sia-sia

Namun keadaan berubah sehari setelahnya. Kegembiraan hatinya yang sudah senang melihat hubungan anaknyadi ujung tanduk dengan Delia lenyap seketika saat keduanya terlintas bersama di atas perahu karet yang datang menolong keluarganya saat rumahnya terkena musibah banjir yang menggenangi seluruh wilayah Jakarta.

Sejak saat itu, kedua insan muda itu makin lengket dan tidak bisa dpisahkan. Hal itu makin membuat Mansur stress berat dan tak bisa habis pikir dengan keadan tersebut. Apalagi secara tersirat Mansur mendapati Muzna, istrinya dengan Rawina, kakaknya Rosid yang sudah menikah ikut setuju dengan hubungan mereka dengan alasan Delia memiliki hati baik.

Walaupun novel ini dituturkan dengan gaya sederhana, namun benturan nilai dan cara pandang ayah dan anak yang mempunyai karakter yang sama sama ngotot dan ingin pendapatnya di kedepankan membuat novel ini menjadi menghibur. Dan secara tak langsung membuat pembaca (remaja) menjadi tersindir jika merasa bahwa dirinya selama ini melakukan hal sama kepada orang tuanya.

Di samping itu, Ben Sohib seolah ingin mengajak kita untuk merefleksi dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita selama ini tidak melakukan perbuatan yang sama dengan karakter utama dalam novel ketika memutuskan sesuatu tidak secara bijak? Karena kadang tanpa pembaca sadari bahwa dalam kehidupan nyata kita sering menuruti keinginan dan melakukan pembenaran untuk memperkuat argument supaya yang kita lakukan itu tampak benar.

ERICK PURNAMA PUTRA
Mahasiswa Psikologi dan pegiat pers kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang
erikeyikumm@yahoo.co.id
Gedung Student Centre Lt.1
Bestari Kampus III UMM, Jl.Raya Tlogomas No.246 Malang

Tuesday, December 30, 2008



SAAT REALITAS BENTURAN BUDAYA DIBUNGKUS JENAKA

Happy(Salma) memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.
(Media Indonesia, 27 Desember 2008)

Seandainya boleh memilih, pastinya kita akan menghindari konflik. Lalu bagaimana bila di tengah konflik terdapat satu kata lain, yakni cinta? Bingung? Itulah sekilas gambaran novel kedua Ben Sohib. Dinamika konflik yang kompleks akibat benturan latar belakang agama dan budaya menjadi bahasan menarik. Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul The Da Peci Code. Bestseller yang menjungkalkan tradisi memakai peci putih.

Konflik bermula ketika Rosid dan Delia yang berbeda keyakinan memutuskan untuk menikah. Kentalnya tradisi serta kepercayaan keluarga Rosid yang keturunan Arab-Betawi berbentur dengan latar belakang Delia yang notabene Katolik. Alhasil, percintaan dengan latar belakang Betawi Condet ini mendapat penolakan ayah Rosid, Mansur al-Gibran yang muslim tulen.

"Kegelisahan Mansur berujung dengan memburu ramuan ajaib untuk memisahkan hubungan percintaan Rosid dengan Delia. Saya namakan ramuan Bui Jabal Bui," kata pemain sinetron Happy Salma di sela peluncuran novel kedua Ben Sohib, Rosid dan Delia, di kawasan Menteng, Jakarta (19/12).

Menurut Happy, novel kedua karya sosok kelahiran Condet ini mengandung realitas seni yang multiinterpretasi. Happy memuji keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar tanpa harus mengekor novel bestseller lainnya.

Di sisi lain Hikmat Kurniawan, pengamat Kebudayaan Betawi, menilai novel ini mampu mengisahkan khasanah sastra dunia, terutama Indonesia lewat sosok Rosid dan Delia. Pada kesempatan itu pula, Hikmat memuji keberanian Ben Sohib mengisahkan realitas sosial dan budaya yang dinilainya sebagai masalah yang gawat.

Gawat karena masyarakat jarang membicarakan hal tersebut. Ben mampu menggambarkan realitas benturan, seperti benturan jodoh, agama, serta budaya dengan bahasa yang simpel. Apalagi novel ini dikemas dengan tata bahasa yang dilematis, menggelitik, jenaka, sekaligus menggoda. (*/M-l)

Sunday, December 21, 2008

TIPU DAYA RAMUAN AJAIB BUL JABUL

Oleh: Happy Salma


Saya yakin novel ini pasti akan laris
(Happy Salma, Press Conference Rosid & Delia, Café Au Lait, 19 Desember 2008)


Saya ingin menyebut novel ini sebagai novel petualangan. Bukan petualangan mencari jawaban atas teka-teki besar yang habis-habisan menguras stamina baca sebagaimana yang lazim disuguhkan oleh pengarang novel-novel thriller, melainkan sebuah petualangan unik dan khas tent mg pencarian ramuan Bul Jabal Bul yang dipercayai berkhasiat dapat meretakkan hubungan asmara. Adalah Mansur al-Gibran, muslim tulen, kelahiran Condet, yang dipasang sebagai tokoh utama dalam novel berlatar perkampungan Betawi-Arab ini. Hampir separuh dari buku ini menceritakan tentang daya-upaya Mansur memburu ramuan ajaib itu guna memisahkan hubungan percintaan Rosid (anak laki-laki Mansur) dengan Delia—perempuan yang dicintai Rosid, lebih dari mencintai dirinya sendiri—lantara hubungan itu tidak lazim (bila tidak bisa disebut 'terlarang').

Betapa tidak? Rosid, turunan langsung dari marga al-Gibran, Arab-Betawi kental, menjalin hubungan asmara dengan Delia yang jelas-jelas tumbuh dan besar dari keluarga katolik taat. Perbedaan di antara mereka begitu kentara. Seumur-umur Mansur tidak bisa membayangkan bahwa kelak ia bakal punya menantu orang yang berbeda keyakinan. Membayangkan saja ia tak sanggup, apalagi merestui hubungan terlarang itu. Karena itu, ia sudah mengerahkan bermacam-macam bujukan dan nasehat agar Rosid bisa melupakan Delia, tapi semakin dihalangi, cinta Rosid pada Delia semakin tak terpermanai. Rosid bahkan tak segan-segan kehilangan orangtuanya, asalkan ia tidak kehilangan perempuan pujaan hatinya.

Itu sebabnya pengarang kisah romantika khas Betawi-Condet ini merancang sebentuk jalan magis untuk menjawab kegelisahan Mansur. Dihadirkannya tokoh Rodiyah, adik kandung Mansur (lagi-lagi marga al-Gibran), perempuan yang dipercayainya punya banyak taktik dan trik-trik jitu untuk memisahkan Rosid dan Delia. Di titik inilah munculnya kisah perburuan ramuan minyak Bui Jabal Bul. Adalah Usman, dukun yangdidatangi Mansur dan memintanya untuk mencari ramuan ajaib itu. Bila sudah diperoleh—tentunya setelah dimantrai-mantrai—minyak itu akan dioleskan di bagian tubuh Rosid. Setelah itu, niscaya Rosid, si gondrong-kribo bakal melepaskan Del ia. Cara kerja yang terbilang gampang ketimbang kompleksitas persoalan yang muncul akibat senjangnya perbedaann antara Rosud dan Delia.

Sebagai kesinambungan dari novel pertama Ben Sohib (THE DAPECI COCLE, 2006), kecendrungan literer novel ini rasanya belum memperlihatkan sebuah kebaruan yang mencengangkan. Kalaupun ada gairah kebaruan, itu terlihat pada sisi keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar. Ia tak lagi meniru-niru kecenderungan suspensif dengan mengacu pada novel-novel BEST-SELLER, tapi mulai membangun pijakan kisah yang mandiri, tanpa harus mengekor pada novel-novel laku.

Ramuan Bui Jabal Bul hanyalah modus yang ditempuh pengarang untuk memperlihatkan kekolotan cara berfikir kaum salafi-fundamentalis dalam menyikapi pelbagai masalah keislaman kontemporer yang semakin tak terhindarkan. Pencarian ramuan ajaib itu seperti menggambarkan semacam lelaku pelarian dari masalah yang sejatinya tidak bisa terselesaikan secara gampangan macam itu. Sementara itu, Rosid dan Delia yang terus memperjuangkan hubungan terlarang itu menikam semacam gairah perlawanan yang tiada kunjung padam terhadap ortodoksi keislaman dan kebetawian yang selama ini jarang diperbincangkan—meski telah banyak memunculkan masalah. Saya kira, di titik inilah pentingnya petualangan prosaik buku ini.

Namun, karena ekspektasi saya terlalu banyak terhadap novel ini—sebagaimana pengalaman baca saya terhadap prosa-prosa berlatar Betawi seperti TERANG BULAN TERANG DI KALI (SM.Ardan), CAMBANG JAKARTE (Firman Muntaco), dll—saya menemukan banyak sekali celah yang rasa-rasanya belum terisi. Barangkali karena pengarang begitu sibuk mengurus konflik segitiga antara Rosid, Delia, dan Mansur Al-Gibran yang begitu rinci dan kompleks sehingga ia abai menggarap karakter tokoh-tokoh lain yang sebenarnya juga berperan sangat penting dalam novel ini. Rodiyah misalnya, ia punya riwayat sendiri, utamanya riwayat perihal kegandrungannya pada laki-laki muda. Suami

didatangi Mansur, dan memintanya untuk mencari ramuan ajaib itu. Bila sudah diperoleh—tentunya setelah dimantrai-mantrai—minyak itu akan dioleskan di bagian tubuh Rosid. Setelah itu, niscaya Rosid, si gondrong-kribo bakal melepaskan Del ia. Cara kerja yang terbilang gampang ketimbang kompleksitas persoalan yang muncul akibat senjangnya perbedaann antara Rosud dan Delia.

Sebagai kesinambungan dari novel pertama Ben Sohib (THE DAPECI COCLE, 2006), kecendrungan literer novel ini rasanya belum memperlihatkan sebuah kebaruan yang mencengangkan. Kalaupun ada gairah kebaruan, itu terlihat pada sisi keberanian pengarang dalam mendedahkan gagasan yang lebih besar. Ia tak lagi meniru-niru kecenderungan suspensif dengan mengacu pada novel-novel BEST-SELLER, tapi mulai membangun pijakan kisah yang mandiri, tanpa harus mengekor pada novel-novel laku.

Ramuan Bui Jabal Bui hanyalah modus yang ditempuh pengarang untuk memperlihatkan kekolotan cara berfikir kaum salafi-fundamentalis dalam menyikapi pelbagai masalah keislaman kontemporer yang semakin tak terhindarkan. Pencarian ramuan ajaib itu seperti menggambarkan semacam lelaku pelarian dari masalah yang sejatinya tidak bisa terselesaikan secara gampangan macam itu. Sementara itu, Rosid dan Delia yang terus memperjuangkan hubungan terlarang itu menikam semacam gairah perlawanan yang tiada kunjung padam terhadap ortodoksi keislaman dan kebetawian yang selama ini jarang diperbincangkan—meski telah banyak memunculkan masalah. Saya kira, di titik inilah pentingnya petualangan prosaik buku ini.

Namun, karena ekspektasi saya terlalu banyak terhadap novel ini—sebagaimana pengalaman baca saya terhadap prosa-prosa berlatar Betawi seperti TERANG BULAN TERANG DI KALI (SM.Ardan), CAMBANG JAKARTE (Firman Muntaco), dll—saya menemukan banyak sekali celah yang rasa-rasanya belum terisi. Barangkali karena pengarang begitu sibuk mengurus konflik segitiga antara Rosid, Delia, dan Mansur Al-Gibran yang begitu rinci dan kompleks sehingga ia abai menggarap karakter tokoh-tokoh lain yang sebenarnya juga berperan sangat penting dalam novel ini. Rodiyah misalnya, ia punya riwayat sendiri, utamanya riwayat perihal kegandrungannya pada laki-laki muda. Suami terakhirnya, yang memang kerap diungkap, namun kesannya seolah-olah tidak penting, hingga diberi nama pun tidak. Begitu juga dengan latar belakang keluarga Delia yang secara bulat-bulat juga menolak hubungan asmara anak gadisnya dengan Rosid bin Mansur Al-Gibran itu, juga tidak terolah dan terasah sebagaimana mestinya.

Bagaimana dengan prediksi "kemungkinan best-seller" yang termaktub di cover depan buku ini? Bagi saya, ini cukup menantang, sebab buku pertama (THE DAPECI CODE) pun menggunakan modus yang sama, dan ternyata perkiraan itu benar adanya. Konon, buku itu sudah mengalami berkali-kali cetak ulang, dan Ben Sohib menjadi "tajir" berkat buku itu. Saya berharap prediksi yang sama pada novel ROSID DAN DELIA ini juga tidak meleset, meski ramuan Bui Jabal Bui nyata-nyata tidak mempan, hanya tipu-daya dukun palsu belaka. Bul, bul, bul jabal bul...


Jakarta, 2008
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes