Showing posts with label The Last Lecture. Show all posts
Showing posts with label The Last Lecture. Show all posts

Thursday, January 22, 2009


CATATAN AKHIR PERJALANAN, SEBUAH CATATAN KECIL DARI DISKUSI
THE LAST LECTURE


Untuk pertama kalinya Kick Andy Book Club menggelar sebuah diskusi buku, yaitu buku The Last Lecture. Kali ini bekerja sama dengan Universitas Paramadina dan Ufuk Publishing House, dengan tema “Catatan Akhir Perjalanan”, menghadirkan Prof Komarudin Hidayat serta Esti Nugraheni sebagai pembicaranya. Diskusi yang dipandu oleh host Andy F. Noya ini dihadiri oleh sekitar 100 audience. Seluruh peserta yang hadir menyimak dengan penuh antusias, bahkan para peserta juga tidak terganggu dengan suara petir dan hujan. Prof. Komarudin justru berseloroh bahwa suara hujan dan petir itu adalah nyanyian alam yang turut mengiringi diskusi sore itu.

Untuk sebagian orang, kisah The Last Lecture tentu sudah tidak asing lagi. Sebagian peserta diskusi yang hadir telah menyaksikan kisah Randy Pausch ini melalui rekaman video di youtube atau melalui bukunya.

Bagi banyak orang, nama Prof. Komarudin Hidayat sudah sangat familiar. Penulis buku Psikologi Kematian, yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (sebelumnya dikenal dengan nama IAIN). Lalu siapakah Esti Nugraheni? Dialah anak angkat keluarga Pausch, adik angkat Randy Pausch. Esti menceritakan kisahnya bagaimana pertama kali bertemu dengan Randy dan keluarga Pausch. Esti yang saat itu masih tinggal di Gunung Kidul, Yogyakarta bertemu dengan keluarga Pausch pada 1985. Saat itu kebetulan salah seorang tetangganya adalah penerima beasiswa dari keluarga Pausch. Keluarga Pausch yang saat itu menjadi foster parents, datang ke Yogyakarta untuk melihat siapa saja anak-anak yang mereke bantu.

Esti kecil saat itu baru duduk di kelas 2 SMP dan baru mulai belajar Bahasa Inggris kemudian merasa tertantang untuk mencoba mempraktekkan secara langsung kemampuan bahasa Inggrisnya. Hal ini ternyata membuat suami istri Pausch tersebut terkejut, di negara kecil dan terpencil seperti Indonesia ternyata ada anak kecil yang dapat berbicara dalam bahasa Inggris kepada mereka. Selulusnya dari SMP pada 1986, Esti kemudian diminta untuk ikut bersama keluarga Pausch untuk sekolah dan tinggal di Amerika, hingga selesai kuliah. Saat itu, Randy masih mengambil program Ph.D. Esti kemudian tinggal bersama keluarga Pausch di Amerika.

Dimata Esti, Randy adalah orang yang menyenangkan. Seorang kakak yang baik. Randy yang telah mengajarkan banyak hal pada Esti. Meskipun keluarga Randy termasuk keluarga yang sangat mampu, tetapi mereka hidup dalam kesederhanaan. Salah satu kenangan bersama Randy yang selalu diingat Esti adalah saat ia mohon restu untuk menikah. Randy baru akan memberikan restu setelah ia bertemu langsung dan berbicara langsung dengan calon suami Esti saat itu. Alhasil, calon suami Esti saat itu harus rela dinterogasi Randy. Setelah rangkaian panjang interogasi tersebut, Randy akhirnya memberikan restunya seraya berujar, “He’s a good guy, you will be happy with him”, alasannya adalah karena calon suami Esti saat itu mengerti akan makna “hidup”. Dan apa yang diucapkan Randy saat itu terbukti, “Saya sangat bahagia saat ini”, ujar Esti saat ditanyakan tentang perasaannya hidup dengan pria yang akhirnya memberinya anak-anak yang lucu.

Terakhir kali Esti bertemu dengan Randy pada desember 2007. Randy meminta Esti untuk datang selagi ia masih dalam keadaan sehat, masih dalam kondisi yang cukup baik untuk ditemui. Sejak saat itu, komunikasi berlangsung melalui imel dan telepon. Dua minggu sebelum kematiannya, Esti masih bisa berkomunikasi langsung dengan Randy, bahkan Randy masih ke kantor pos sendiri untuk mengirim paket buku untuk Esti.

Saat mengetahui Randy sedang dying, Esti sempat berkeinginan untuk datang, tetapi dilarang oleh Randy. Randy tidak ingin ia datang dari jauh hanya untuk melihat kondisinya yang sedang sekarat. Dalam pertemuan terakhir itu, Esti masih membantu Randy untuk memilih cover untuk bukunya, memilih foto-fotonya, bersama ibunya Randy, kakaknya Randy, dan kakak iparnya. Menurut Esti, buku The Last Lecture sudah memberikan lebih dari apa yang ingin diberikan oleh Randy.

Sementara itu, Prof. Komarudin menjelaskan dengan sangat gamblang kepada seluruh yang hadir kalau kematian itu bukanlah sebuah pilihan yang harus ditakuti. Bahkan kematian bukanlah pilihan, tapi sebuah kepastian. Menariknya adalah, kadangkala karena adanya kesadarana akan mati ini maka banyak karya tercipta. Banyak diantara mereka yang menyadari kalau “waktunya” sudah dekat, kemudian menjadi lebih banyak berbuat baik, memperbaiki kualitas hidupnya, berbagi pada banyak orang, menjadi lebih berguna untuk banyak orang. Hal ini juga yang tampaknya terjadi pada Randy. Randy membalik situasinya yang tidak menyenangkan akibat kanker menjadi menjadi lebih baik dan lebih berguna. Diakhir hidupnya, Randy memberikan warisan yang begitu besar pada banyak orang, tidak terbatas pada keluarganya saja.

Lalu mengapa psikologi kematian? Kematian selalu menjadi sebuah ketakutan bagi banyak orang. Lalu orang akan berlindung dibalik agama untuk menjadikan hidup lebih tenteram dan menyelamatkan diri dari kematian. Padahal kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dielakkan setiap orang.

Prof. Komarudin juga membahas perihal masalah mati suri. Mereka yang pernah mengalami mati suri, setelah kembali sadar biasanya akan sangat berbeda dalam memandang hidup. Hidup dijalani dengan lebih ringan dan tidak lagi takut pada kematian. Seperti sebuah metamorphosis untuk kehidupan yang lebih baik.

Pengalaman dari mereka yang pernah mengalami mati suri mengatakan bahwa saat ruh meninggalkan jiwa maka yang akan meringankan adalah saat keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan tidak menangisi ataupun meratapi. Tetapi mereka yang ditinggalkan akan merelakan dengan ikhlas dan melepaskan dengan doa. Analoginya adalah seperti balon udara yang lepas, maka akan semakin ringan perjalanannya saat diiringin dengan doa dan penuh keikhlasan.

Hal ini juga yang diinginkan oleh Randy. Ia tidak ingin kepergiannya ditangisi, ia ingin dikenang sebagai Randy yang sehat. Ia tidak ingin Esti datang dari jauh hanya untuk menangis karena melihat kondisinya yang sedang sekarat. Kepada Esti, Randy menyatakan bahwa satu-satunya hal yang ia tidak siap adalah saat ia kritis, tidak berdaya, dan dilihat oleh anak-anaknya. Bagi Randy, keluarga adalah hal terpenting dalam hidupnya.

Sebuah pertanyaan menggelitik di awal diskusi diajukan oleh sang host, Andy F. Noya, “Siapa yang anda inginkan untuk hadir saat pemakaman anda kelak? Lalu saat seseorang meninggal, apakah jumlah orang yang menghadiri pemakamannya menunjukkan siapa orang tersebut? Apakah jumlah orang yang menghadiri pemakaman menunjukkan kualitas orang tersebut”, dan setiap orang yang hadir dalam diskusi saat itu mencoba mencerna pertanyaan tersebut dan mencari jawaban dalam diri masing-masing.

Saat sesi interaktif, para peserta diskusi menanggapi dengan sangat antusias. Waktu yang ada hampir tidak mencukupi untuk melayani semua pertanyaan yang diberikan. Diantara peserta yang hadir, ada salah seorang peserta yang menceritakan pengalamannya yang “hampir mati”. Berliana, seorang ibu yang sempat divonis menderita kanker tulang, bahkan kanker tulang yang dideritanya termasuk jenis yang sangat langka, dan jarang orang yang dapat bertahan hidup. Hanya karena sebuah keajaibanlah, maka Berliana sampai saat ini masih dapat hidup. Berliana menjadi saksi hidup kalau keinginannya untuk hidup mengalahkan vonis dokter tentang batas usianya.

Diakhir diskusi kembali terlintas sebuah pertanyaan yang sama, yang pernah diajukan oleh Randy, "kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?". (iu)

“Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall. Experience is what you get when you didn't get what you wanted” (Randy Pausch, 2007)









Untuk pertama kalinya Kick Andy Book Club menggelar sebuah diskusi buku, yaitu buku The Last Lecture. Kali ini bekerja sama dengan Universitas Paramadina dan Ufuk Publishing House, dengan tema “Catatan Akhir Perjalanan”, menghadirkan Prof Komarudin Hidayat serta Esti Nugraheni sebagai pembicaranya. Diskusi yang dipandu oleh host Andy F. Noya ini dihadiri oleh sekitar 100 audience. Seluruh peserta yang hadir menyimak dengan penuh antusias, bahkan para peserta juga tidak terganggu dengan suara petir dan hujan. Prof. Komarudin justru berseloroh bahwa suara hujan dan petir itu adalah nyanyian alam yang turut mengiringi diskusi sore itu.

Untuk sebagian orang, kisah The Last Lecture tentu sudah tidak asing lagi. Sebagian peserta diskusi yang hadir telah menyaksikan kisah Randy Pausch ini melalui rekaman video di youtube atau melalui bukunya.

Bagi banyak orang, nama Prof. Komarudin Hidayat sudah sangat familiar. Penulis buku Psikologi Kematian, yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (sebelumnya dikenal dengan nama IAIN). Lalu siapakah Esti Nugraheni? Dialah anak angkat keluarga Pausch, adik angkat Randy Pausch. Esti menceritakan kisahnya bagaimana pertama kali bertemu dengan Randy dan keluarga Pausch. Esti yang saat itu masih tinggal di Gunung Kidul, Yogyakarta bertemu dengan keluarga Pausch pada 1985. Saat itu kebetulan salah seorang tetangganya adalah penerima beasiswa dari keluarga Pausch. Keluarga Pausch yang saat itu menjadi foster parents, datang ke Yogyakarta untuk melihat siapa saja anak-anak yang mereke bantu.
Esti kecil saat itu baru duduk di kelas 2 SMP dan baru mulai belajar Bahasa Inggris kemudian merasa tertantang untuk mencoba mempraktekkan secara langsung kemampuan bahasa Inggrisnya. Hal ini ternyata membuat suami istri Pausch tersebut terkejut, di negara kecil dan terpencil seperti Indonesia ternyata ada anak kecil yang dapat berbicara dalam bahasa Inggris kepada mereka. Selulusnya dari SMP pada 1986, Esti kemudian diminta untuk ikut bersama keluarga Pausch untuk sekolah dan tinggal di Amerika, hingga selesai kuliah. Saat itu, Randy masih mengambil program Ph.D. Esti kemudian tinggal bersama keluarga Pausch di Amerika.

Dimata Esti, Randy adalah orang yang menyenangkan. Seorang kakak yang baik. Randy yang telah mengajarkan banyak hal pada Esti. Meskipun keluarga Randy termasuk keluarga yang sangat mampu, tetapi mereka hidup dalam kesederhanaan. Salah satu kenangan bersama Randy yang selalu diingat Esti adalah saat ia mohon restu untuk menikah. Randy baru akan memberikan restu setelah ia bertemu langsung dan berbicara langsung dengan calon suami Esti saat itu. Alhasil, calon suami Esti saat itu harus rela dinterogasi Randy. Setelah rangkaian panjang interogasi tersebut, Randy akhirnya memberikan restunya seraya berujar, “He’s a good guy, you will be happy with him”, alasannya adalah karena calon suami Esti saat itu mengerti akan makna “hidup”. Dan apa yang diucapkan Randy saat itu terbukti, “Saya sangat bahagia saat ini”, ujar Esti saat ditanyakan tentang perasaannya hidup dengan pria yang akhirnya memberinya anak-anak yang lucu.
Terakhir kali Esti bertemu dengan Randy pada desember 2007. Randy meminta Esti untuk datang selagi ia masih dalam keadaan sehat, masih dalam kondisi yang cukup baik untuk ditemui. Sejak saat itu, komunikasi berlangsung melalui imel dan telepon. Dua minggu sebelum kematiannya, Esti masih bisa berkomunikasi langsung dengan Randy, bahkan Randy masih ke kantor pos sendiri untuk mengirim paket buku untuk Esti.

Saat mengetahui Randy sedang dying, Esti sempat berkeinginan untuk datang, tetapi dilarang oleh Randy. Randy tidak ingin ia datang dari jauh hanya untuk melihat kondisinya yang sedang sekarat. Dalam pertemuan terakhir itu, Esti masih membantu Randy untuk memilih cover untuk bukunya, memilih foto-fotonya, bersama ibunya Randy, kakaknya Randy, dan kakak iparnya. Menurut Esti, buku The Last Lecture sudah memberikan lebih dari apa yang ingin diberikan oleh Randy.

Sementara itu, Prof. Komarudin menjelaskan dengan sangat gamblang kepada seluruh yang hadir kalau kematian itu bukanlah sebuah pilihan yang harus ditakuti. Bahkan kematian bukanlah pilihan, tapi sebuah kepastian. Menariknya adalah, kadangkala karena adanya kesadarana akan mati ini maka banyak karya tercipta. Banyak diantara mereka yang menyadari kalau “waktunya” sudah dekat, kemudian menjadi lebih banyak berbuat baik, memperbaiki kualitas hidupnya, berbagi pada banyak orang, menjadi lebih berguna untuk banyak orang. Hal ini juga yang tampaknya terjadi pada Randy. Randy membalik situasinya yang tidak menyenangkan akibat kanker menjadi menjadi lebih baik dan lebih berguna. Diakhir hidupnya, Randy memberikan warisan yang begitu besar pada banyak orang, tidak terbatas pada keluarganya saja.

Lalu mengapa psikologi kematian? Kematian selalu menjadi sebuah ketakutan bagi banyak orang. Lalu orang akan berlindung dibalik agama untuk menjadikan hidup lebih tenteram dan menyelamatkan diri dari kematian. Padahal kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dielakkan setiap orang.

Prof. Komarudin juga membahas perihal masalah mati suri. Mereka yang pernah mengalami mati suri, setelah kembali sadar biasanya akan sangat berbeda dalam memandang hidup. Hidup dijalani dengan lebih ringan dan tidak lagi takut pada kematian. Seperti sebuah metamorphosis untuk kehidupan yang lebih baik.

Pengalaman dari mereka yang pernah mengalami mati suri mengatakan bahwa saat ruh meninggalkan jiwa maka yang akan meringankan adalah saat keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan tidak menangisi ataupun meratapi. Tetapi mereka yang ditinggalkan akan merelakan dengan ikhlas dan melepaskan dengan doa. Analoginya adalah seperti balon udara yang lepas, maka akan semakin ringan perjalanannya saat diiringin dengan doa dan penuh keikhlasan.

Hal ini juga yang diinginkan oleh Randy. Ia tidak ingin kepergiannya ditangisi, ia ingin dikenang sebagai Randy yang sehat. Ia tidak ingin Esti datang dari jauh hanya untuk menangis karena melihat kondisinya yang sedang sekarat. Kepada Esti, Randy menyatakan bahwa satu-satunya hal yang ia tidak siap adalah saat ia kritis, tidak berdaya, dan dilihat oleh anak-anaknya. Bagi Randy, keluarga adalah hal terpenting dalam hidupnya.

Sebuah pertanyaan menggelitik di awal diskusi diajukan oleh sang host, Andy F. Noya, “Siapa yang anda inginkan untuk hadir saat pemakaman anda kelak? Lalu saat seseorang meninggal, apakah jumlah orang yang menghadiri pemakamannya menunjukkan siapa orang tersebut? Apakah jumlah orang yang menghadiri pemakaman menunjukkan kualitas orang tersebut”, dan setiap orang yang hadir dalam diskusi saat itu mencoba mencerna pertanyaan tersebut dan mencari jawaban dalam diri masing-masing.

Saat sesi interaktif, para peserta diskusi menanggapi dengan sangat antusias. Waktu yang ada hampir tidak mencukupi untuk melayani semua pertanyaan yang diberikan. Diantara peserta yang hadir, ada salah seorang peserta yang menceritakan pengalamannya yang “hampir mati”. Berliana, seorang ibu yang sempat divonis menderita kanker tulang, bahkan kanker tulang yang dideritanya termasuk jenis yang sangat langka, dan jarang orang yang dapat bertahan hidup. Hanya karena sebuah keajaibanlah, maka Berliana sampai saat ini masih dapat hidup. Berliana menjadi saksi hidup kalau keinginannya untuk hidup mengalahkan vonis dokter tentang batas usianya.

Diakhir diskusi kembali terlintas sebuah pertanyaan yang sama, yang pernah diajukan oleh Randy, "kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?". (iu)
“Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall. Experience is what you get when you didn't get what you wanted” (Randy Pausch, 2007)



Wednesday, October 08, 2008




GAIRAH HIDUP DALAM SEKARAT

Keceriaan, ketulusan, serta kalimat -kalimat yang bernas dan jenaka adalah pemikat utama buku ini
(Majalah Tempo, September 2008)

Ia membukukan kuliah terakhirnya, The Last Lecture, sebelum kanker pankreas stadium akhir merenggut nyawanya pada Juli lalu. Randy Pausch, penulis buku itu, adalah profesor di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania. Ada yang bilang penerbitan buku itu mirip antiklimaks "drama" hidupnya yang singkat—47 tahun saja. Tapi pilihan itu tidak sia-sia. Kuliah terakhirnya—videonya kemudian ditayangkan di Internet—telah diunduh lebih dari enam juta orang.

Randy Pausch menampilkan sisi emosional yang lebih menohok dalam bukunya ketimbang saat ia berada di podium ruang kuliah pada September 2007. Dia mengajukan pertanyaan di sela-sela kuliah terakhir itu: "Jika kita mati esok hari, apa yang akan kita wariskan?" Dokter memperkirakan harapan hidupnya tak akan sampai setahun saat itu. Oprah Winfrey kemudian mengundang dia sebagai tamu di acaranya. Nama dia masuk daftar 100 Orang Paling Berpengaruh 2007 versi majalah Time.

Buku setebal 300 halaman—terjemahannya dirilis bulan lalu—ini berkisah tentang impian masa kecil Pausch, kisah-kisah pribadinya, serta bagaimana ia melewati waktu yang tersisa bersama istrinya, Jai, dan ketiga anak mereka yang masih kecil. Pausch acap bilang buku ini tak akan berarti andai ia tak divonis mati hanya dalam hitungan bulan.

The Last Lecture dibuka dengan kebimbangan Pausch saat ia diminta menyampaikan kuliah terakhir. Itu bukan persoalan yang mudah karena istrinya memintanya meluangkan lebih banyak waktu bagi keluarga. Tapi Pausch menggambarkan tubuhnya yang sedang sekarat tak bisa mengerem keinginan hati untuk mengajar. "Sepanjang karier akademis, saya sudah menyampaikan ceramah-ceramah cukup bagus. Tapi dipandang sebagai pembicara terbaik di jurusan ilmu komputer rasanya seperti dikenal sebagai yang paling tinggi di antara Tujuh Kurcaci. Dan tepat saat itulah muncul perasaan bahwa diri saya lebih dari itu..." (halaman 7).

la berharap buku ini dapat menjadi "buku petunjuk" bagi anak-anaknya, yang tak sempat mengenalnya dengan mendalam. "Anda harus mengatasi ketertinggalan menjadi orang tua dalam waktu amat sedikit dengan contoh yang benar-benar berarti," tulisnya.

Keceriaan, ketulusan, serta kalimat-kalimat yang bernas dan jenaka adalah pemikat utama buku ini. Dia menyingkap impian masa kecilnya—dalam ceramah di podium itu ia beri judul Kiat Agar Berhasil Mencapai Impian Masa Kecil Anda. Dia menyampaikan petuah tentang pentingnya mencurahkan lebih banyak waktu untuk orang di sekitar kita dan memandang hal-hal kecil yang selama ini dianggap remeh.

Dengan kalimat yang lucu, ia mencontohkan orang acap terbelenggu oleh status yang melekat pada dirinya lewat materi tertentu: mobil bagus, perangkat komunikasi terbaru. la juga mengungkap hubungan emosionalnya dengan Jai, istrinya. Dengan selera humor yang terasah baik, Pausch berkisah tentang "malapetaka" pada hari pernikahan mereka.

Pasangan ini naik balon udara melintasi Pittsburgh dan, celakanya, balon itu harus mendarat darurat di sebuah lapangan. Sebelum mencapai lapangan, balon udara yang mereka tumpangi itu hampir saja menabrak kereta. Pengemudi balon berteriak agar, saat menyentuh landasan, mereka lari secepat mungkin. "Bayangkan, inilah kalimat yang tak ingin didengar pengantin baru mana pun di dunia di malam pengantin mereka."

Alih-alih buku ini menjadi curahan hati yang dipenuhi ratapan dan penyesalan, Pausch justru menunjukkan manusia mampu mengemas sisa waktunya menjadi perjalanan berharga—meskipun pada akhirnya tak berdaya terhadap maut. "Kita tak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya," kata Pausch.

Angela Dewi







Wednesday, September 24, 2008


.....HANYA BAGAIMANA MEMAINKAN KARTU


Ada banyak kuliah, ceramah, bahkan buku tentang topik serupa —bagaimana memompa semangat hidup sekalipun ajal telah dekat. Tapi, berbeda dari semua itu, yang justru mengundang banyak pertanyaan dan keraguan, Pausch jujur dan tulus. Dan itulah kelebihannya`
(Ruang Baca Koran Tempo, Agustus 2008)


Selama sejam lebih sedikit, pada pertengahan September tahun lalu, Randy Pausch sebenarnya hanya berbicara tentang "bagaimana rasanya bisa benar-benar mewujudkan impian masa kanak-kanak". Tapi ceramah guru besar ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Amerika Serikat, itu begitu menggetarkan dan menggerakkan: muatan optimismenya mengundang sekaligus gelak tawa dan air mata haru audiensnya. Ruangan yang penuh sesak oleh 500-an hadirin menjadi begitu emosional —adegan yang mungkin mengingatkan orang pada film Dead Poet Society.

Apa yang terjadi hari itu tak lama kemudian masuk ke ranah publik, menjadi bahan pembicaraan. berbagai kalangan dj Amerika. Antara lain hal itu dimungkinkan oleh hasil kerja Jeff Zaslow. Wartawan The Wall Street Journal ini menuliskan kesannya setelah menghadiri "kuliah" Pausch. Dia juga membubuhkan cuplikan video di website koran ekonomi kondang itu. "(Saya) seperti menyaksikan. Michael Jordan melakukan jump shot-nya pada akhir babak final NBA. Seperti ada setrum di ruang itu. Saya tahu semua orang di sana terpengaruh. Tapi saya tak bisa membayangkan apa yang terjadi kemudian, bahkan dalam mimpi saya yang paling gila," katanya.

Yang terjadi kemudian adalah pembaca mengirimkan cuplikan video itu kepada teman-temannya. Dan seperti efek yang biasa terjadi dalam kasus serupa, seperti virus yang menyebar cepat: dalam hitungan beberapa jam saja ratusan ribu orang telah menontonnya, di YouTube maupun di berbagai platform lainnya; versi utuhnya di YouTube telah dikunjungi lebih dari enam juta orang. Dengan bantuan Zaslow, Pausch pun menerbitkan The Last Lecture pada April 2008, yang sejauh ini telah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa (Ufuk Press menerbitkannya ke dalam bahasa Indonesia).

Dan kemudian pula, dari Pausch, ayah tiga anak yang didiagnosa menderita kanker pankreas yang mematikan, orang Amerika dan dunia pun berkesempatan belajar, atau setidaknya diingatkan, tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Dengan kanker yang dideritanya, dokter memperkirakan Pausch hanya bisa bertahan 3-6 bulan. Diagnosa seperti itu, bagi kebanyakan orang, adalah alasan yang cukup untuk kehilangan harapan dan bahkan putus asa. Pausch adalah perkecualian, satu di antara sedikit saja orang yang bisa bersikap begitu. Dia tak berpikir tentang mati. Dalam kuliah pamungkasnya —suatu kelaziman, akademisi terkemuka diminta memikirkan dan berbagi tentang topik yang paling menarik minatnya seolah-olah itulah kesempatan terakhirnya —dia bicara tentang hal sederhana. Kita tidak tahu persis kekuatan apa yang menjadi pendorong. Mungkin keluarganya, istri dan anak-anaknya yang belum cukup umur untuk mandiri, yang akan kehilangan dirinya, sebagaimana selalu dia kemukakan. Mungkin ada hai lain yang bahkan dia sendiri tak tahu.

Bisa jadi juga latar belakang keluarganya berperan di situ. Keluarga seperti apa? Salah satu slide yang dia sisipkan dalam ceramahnya adalah foto yang memperlihatkan ibunya yang sedang bermain gokart pada hari ulang tahunnya yang ke-70. Foto yang lain memperlihatkan ayahnya sedang bergembira menumpang roller-coaster pada usianya yang ke-80.

Ada banyak kuliah, ceramah, bahkan buku tentang to¬pik serupa —bagaimana memompa semangat hidup sekalipun ajal telah dekat. Tapi, berbeda dari semua itu, yang justru mengundang banyak pertanyaan dan keraguan, Pausch jujur dan tulus. Dan itulah kelebihannya: dia tak menyinggung ihwal spritualitas atau agama; dia bicara semata dengan "otoritas" seseorang yang dengan berani menghadapi maut dan membuat penilaian tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup; dan, lebih-lebih lagi, dia tak pernah kehilangan humor.

"Dia hanya mengatakan apa adanya. Banyak orang tahu ada seseorang yang sedang sekarat, atau mereka sendiri sedang menjelang ajal. Kita semua ingin hidup dan menjalani hidup sepenuhnya. Dia mengartikulasikan hal itu dengan cara yang sanggup mengusik imajinasi orang," kata Zaslow.

Dan semua itu, seperti kita bisa tahu, dia lakukan tanpa berusaha menafikan kenyataan bahwa ada saatnya manusia benar-benar tak berdaya di hadapan takdir — Pausch akhirnya meninggal di usia 48 tahun pada 25 Juli 2008. Dalam kata-katanya, "Kita tak bisa mengubah kartu yang kita ambil, hanya bagaimana kita memainkannya." •






BILA USIA KITA TINGGAL SEHARI

Buku ini layak dimiliki karena tak sekadar berisi kisah yang mengharukan, tapi juga berisi semangat untuk mengisi hidup yang tersisa agar menjadi berarti seakan hidup kita tinggal sehari
(Wasis Wibowo, Seputar Indonesia, 18-September-2008).

Apa yang akan Anda lakukan jika mengetahui usia hidup Anda tinggalsehari lagi ?Apakah Anda akan berdoa sepanjang waktu memohon ampunan kepada Tuhan? Menghabiskan setiap detik menanti embusan napas terakhir bersama orang yang dicintai? Atau malah mungkin Anda berputus asa dan marah menerima takdir karena merasa belum siap berpisah dengan segala yang fana?

Beruntunglah Anda yang tidak pernah mengetahui kapan ajal akan menjemput karena bisa menjalani hidup dengan ringan. Berbeda dengan orang yang sudah divonis usianya hanya tinggal beberapa bulan lagi, minggu, atau bahkan dalam hitungan hari. Itu karena sebelum maut itu benar-benar tiba, mereka sudah merasakan bahwa dunia seperti sudah runtuh.

Anda boleh menyangkal bahwa itu hanya ada dalam kisah sinetron atau roman picisan. Namun, sesungguhnya tidak. Itu benar-benar terjadi. Tragisnya hal itu dialami orang-orang baik dan berprestasi yang masih memiliki segudang cita-cita dan cinta. Namun, mereka sudah divonis berumur pendek karena penyakit kronis.

Seperti kisah yang dialami Randy Pausch seorang profesor di bidang komputer Universitas Carnegei Mellon, Amerika Serikat.Begitu dokter mendiagnosis dirinya mengidap kanker pankreas, usianya diprediksi tak bertahan lebih dari enam bulan. Sepuluh titik kanker di pankreasnya seakan bukan hanya menggerogoti tubuhnya, tapi juga telah menggerus mimpi-mimpinya bersama istri dan tiga anaknya yang masih balita.

Kanker pankreas merupakan salah satu penyakit yang mematikan karena belum di temukan obatnya. Di Amerika Serikat setiap tahun ada sekitar 37.000 orang didiagnosis mengalami kanker pankreas. Hampir 50% orang yang didiagnosis mengalami kanker pankreas usianya tak bisa bertahan dari enam bulan.Hanya keajaiban yang bisa membuat sebagian lagi bertahan sampai lima tahun.

Bagaimana reaksi Randy ketika diprediksi berumur pendek karena mengidap kanker pankreas? Pertama kali menerima kabar buruk itu Randy langsung memeluk istrinya Jai (baca: Jay) yang lebih shock dibandingkan dirinya. Randy pun merahasiakan itu kepada tiga anaknya. Bahkan, saat putra pertamanya, Dylan, berulang tahun keenam, dia sempat mengajak menonton film di bioskop untuk merayakannya.

Film yang ditonton berjudul Mr Magorium Wonder Emporium bercerita perjuangan pemilik toko mainan yang divonis berusia pendek dan menyerahkan warisan kepada anak buahnya. Ketika pemilik toko itu sekarat, ada dialog yang menyentuh. "Seharusnya kamu tak boleh mati," kata sang anak buah pemilik toko dalam film itu yang diperankan Natalie Portman. Pemilik toko, Mr Magorium (Dustin Hoffman) menjawab, "Itu Sudan kulakukan."

Randy yang memangku Dylan saat menonton, menyaksikan putranya itu berderai air mata, Randy sekuat tenaga mengontrol emosinya. Dia tak ingin putranya mengetahui hal serupa sedang dialami ayahnya. Hal itu dilakukan Randy karena dia ingin memberikan kenangan terindah bersama keluarganya tanpa harus dikasihani. Dia berpacu dengan waktu seakan-akan hidupnya tinggal sehari lagi. Pengalaman dan perjuangan Randy menghadapi nasibnya ini, disampaikan begitu menyentuh dalam bukunya berjudul The Last Lecture, Pesan Terakhir yang diterbitkan Ufuk Press. Buku ini layak dimiliki karena tak sekadar berisi kisah yang mengharukan, tapi juga berisi semangat untuk mengisi hidup yang tersisa agar menjadi berarti seakan hidup kita tinggal sehari.

Dalam usia yang sudah terkunci takdir, Randy menolak untuk menyerah apalagi berputus asa. Dia selalu mencari cara agar setiap waktu yang tersisa menjadi momen dan kenangan yang membahagiakan keluarganya. Walaupun dia tahu anak-anaknya, Dylan, Logan (2) dan Chloe (1), pasti tidak bisa mengingat secara baik sosok ayahnya jika telah tiada."Apa yang bisa kita ingat kala berusia enam tahun?," tanyanya kepada istrinya.

Keinginan Randy memberi kenangan indah bersama keluarganya banyak menghadirkan momen-momen yang emosional dan menguras air mata. Ditambah dengan dialog-dialog yang begitu menyentuh sehingga semakin mengaduk-aduk perasaan. Disisipi pula pengalaman Randy yang kocak sehingga membuat kita tertawa sesaat setelah mata berkaca-kaca.

Seperti ketika dia akan ditilang polisi lalu lintas karena menerobos lampu merah. Randy beralasan usianya sudah tak panj ang lagi. Polisi tak percaya apalagi Randy tampak begitu bugar dan muda.

Namun, ketika dia membuka baju dan menunjukkan tubuhnya banyak bekas lubang dan jahitan—karena bekas operasi kecil dan kemoterapi untuk menghilangkan gejala kanker pankreas—polisi itu langsung terbelalak dan luluh

(wasiswibowo)





Wednesday, September 10, 2008

Wednesday, September 03, 2008


KISAH HARI BERAT DAN MENGGUGAH

Buku ini menunjukkan betapa gigihnya ia mencoba bertahan hidup dan alasan di balik sikap kerasnya untuk menang dari kanker.
(Ruang Baca Koran Tempo, Agustus 2008)

Malam menjelang pergantian tahun, 2003. Mulanya adalah sebuah makan sebagaimana biasanya.. Joan Didion menyiapkan perapian dan suaminya, John Gregory Dunne, duduk di kursi di ruang tamu, tempat biasa ia membaca. Mereka baru saja menjenguk putri tunggal mereka, Quintana, yang dirawat di lantai enam ruang intensif rumah sakit Berth Israel North. Mulanya flu lalu didiagnosis radang paru, lalu berkembang menjadi keracunan darah, Quintana kemudian koma, tepat sebelum mereka merayakan .

Makan malam diselingi obrolan tentang wiski dan Perang Dunia Pertama dan diskusi buku dan karya Didion, yang bekerja sebagai penulis, hingga beberapa menit kemudian John berubah lemas, jatuh tersungkur dengan tubuh membentur meja. Hanya beberapa saat setelah dilarikan ke rumah sakit, John menemui ajalnya. Selebihnya adalah sejarah.

Dua tahun setelah itu, Didion menuangkan hari-hari beratnya itu dalam memoar The Year Of Magical Thinking. Alih-alih menuangkan perjalanannya dalam kalimat yang sarat kesedihan dan perasaan sentimental, Didion memilih merekamnya serupa catatan harian yang dipenuhi istilah medis, yang dibalut pergolakan pikirannya saat itu. Kalimat-kalimatnya detail, bemas, cerdas, dan padat. Penggambaran yang nyaris datar tanpa keterlibatan emosi karena kemalangan yang datang bertubi-tubi itu justru yang menjadi kekuatan buku ini. Tidak heran ke tika baru diluncurkan, buku ini mendapat sambutan hangat di Amerika Serikat. :

Kemampuan Didion bertahan di tengah badai yang menerpanya itu mendatangkan pelajaran berharga bagi para pembacanya dan menjadi penyemangat bagi mereka yang tengah mengalami nasib serupa. Lewat buku ini, Didion juga meraih penghargaari National Book Award 2005.

Kehadiran buku Didion yang laris itu membangkitkan lagi kisah orang-orang yang bertahan menjalani dan melewati penderitaan hidupnya. Di pasar, buku jenis ini tidak sedikit. Sayang, jarang yang dituus dengan gaya yang menarik dan menggugah. Sebaliknya, sebagian besar buku bercerita dengan gaya seperti berkutbah dan menggurui, atau jika tidak, terlalu njelmet dalam membahas persoalan yang menyangkut penyakit.

Buku Randy Pausch kemudian hadir tahun ini mengisi ladang kering itu. Buku berjudul The Last Lecture itu menunjukkan bagaimana sebuah kisah pribadi bisa menggugah banyak orang. Buku itu awalnya adalah materi mata kuliah Pausch yang berjudul 'Really Achieving Your Childhood Dream atau Mewujudkan Impian Masa Kecil Anda.

Pausch kebanjiran lusinan surat elektronik dari berbagai perusahaan penerbitan. Itu terjadi setelah wartawan The Wall Street Journal, Jeff Zaslow, memuat kisah soal penderita kanker pankreas ini dan kuliahnya yang menggugah banyak orang.

Isi surat itu senada, yakni tawaran untuk menulis buku. Randy sebenarnya sudah lama rnemernikirkan semacam tulisan yang akan ia wariskan kepada ketiga anaknya setelah ia meninggal. Istri Randy, Jai, menyukai ide itu dan merasa penulisan buku akan membuat Randy lebih semangat untuk bertahan Hidup.Namun ia meminta aktivitas itu tak terlalu menyita waktu Randy bersama keluarga.

Randy memulai penulisan buku itu dengan meminta Zaslow sebagai partner yang membantunya menulis buku. Hasil kolaborasi mereka melahirkan buku yang barangkali satu-satunya yang ditulis sambil mengendarai sepeda. Setiap hari selama satu jam Randy bersepeda sambil mendiktekan isi buku kepada Jeff lewat telepon seluler. "Zeff sangat ahli menggali, banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkah oleh saya untuk ditulis," ujar Randy. "Ia penulis yang hebat, kalau saya sih payah untuk yang satu itu.”

Buku tersebut rampung awal tahun 2008 dan Randy memberikan hak penerbitannya pada Hyperion, anak perusahaan Disney di bidang penerbitan. Tidak heran kalau ia memilih penerbitan ini, pasalnya Randy telanjur jatuh cinta pada Disney dan Disneyland. Buku berjudul The Last Lecture ini dicetak sebanyak dua juta kopi dan langsung laris. Dalam bulan yang sama dengan penerbitannya, buku tersebut menjadi pemuncak daftar buku terlaris di Amerika Serikat

Ufuk Publishing House membeli hak penerbitan buku ini pada Juni lalu dan menerbitkan versi bahasa Indonesia pekan lalu. Menurut Direk tur Marketing Ufuk Ahmad Taufiq Hadad, cetakan pertama sebanyak 5.000 eksemplar sudah hampir habis. "Ini terbilang cepat, dalam waktu se minggu kami sudah harus menyiapkan cetakan keduanya," ujar Taufiq.

Meski buku ini berisi kisah hidup seorang yang asing bagi masyarakat Indonesia, Taufiq berpendapat pesan dalam buku ini bersifat universal sehingga bisa diterima pembaca di seluruh dunia. "Sederhana tapi pesannya benar-benar mengena," kata dia.

Misalnya soal keluarganya dan bagaimana mereka berjuang menghadapi kanker yang setiap tahun membunuh 33 ribu orang di Amerika Serikat itu. la merasa tak akan kuat menahan emosinya jika harus bicara soal keluarga di depan orang banyak, sementara dalam buku ini ia menceritakan kehidupan keluarga kecil Pausch yang berubah setelah ia divoris menderita kanker.

Tapi Pausch tak sekedar bersiap menghadapi kematian. Buku ini menunjukkan betapa gigihnya ia mencoba bertahan hidup dan alasan di balik sikap kerasnya untuk menang dari kanker. Ada banyak tips yang dibagikan pakar realitas virtual ini agar mereka yang berjuang melawan penyakit ganas seperti dirinya bisa mengisi hari-hari dengan keceriaan dan tidak kelewat terfokus pada penyakit.

Buku ini juga memuat kisah-kisah menggembirakan sekaligus memilukan di balik kuliah umum Pausch yang rekamannya diunduh enam juta orang di seluruh dunia. Randy, bercerita betapa tak mudah baginya menerima tawaran menyampaikan kuliah meski ia sendiri sangat berminat membagikan pemikirannya sebelum ajal menjemput.

Sosok Pausch yang bugar, segar, dan penuh humor saat menyampaikan kuliah sangat bertolak belakang dengan kesedihannya karena harus melewatkan ulang tahun istrinya yang mungkin tak sempat lagi dirayakan. Beberapa saat sebelum memulai kuliahnya, efek samping kemoterapi juga menyerangnya. Sulit memang untuk tak terharu ketika Pausch membahas kisah cintanya dengan Jai dan hari-hari yang ia habiskan mengamati pertumbuhan anaknya Dylan, Logan, dan Chloe.

Berbeda dengan Pausch yang tak mau mengumbar soal penyakitnya, Dahlan Iskan justru menceritakan soal sakit dan operasi yang dijalaninya secara blak-blakan. Proses yang ia istilahkan sebagai "turun mesin" itu dituangkan ke dalam buku Ganti Hati yang diterbitkan oleh JP Books.

Sakit pemimpin Grup Jawa Pos ini berawal dari kanker pada liver. Kanker itu merusak fungsi liver yang memunculkan efek domino pembesaran limpa sehingga proses daur ulang sel darah mati tak berjalan dan munculnya semacam varieses pada pembuluh darah di seluruh saluran pencernaan. Perdarahan bisa terjadi kapan saja, karena itu hidup yang yang lahir pada 1951 ini ditaksir tinggal tiga tahun saja.

Dalam buku ini Dahlan menjelaskan penyebab sakitnya dan alasan ia memutuskan menjalani transplantansi liver. Ia juga menguraikan persiapannya menuju operasi transplantasi dan jalannya proses pencangkokan itu sendiri

Cerita yang ditulis wartawan senior ini dikemas dalam dalam 32 artikel singkat antara lima sampai tujuh halaman saja yang pemah dimuat di harian Jawa Pos. Ini membuat buku setebal 328 halaman itu bisa dilahap dengan mudah apalagi Dahlan menulisnya dengan santai dan jenaka.

Ketika luka operasi membuat sebagian orang gelisah, pria asal Magetan, Jawa Timur, ini justru membahas bekas jahitan mirip simbol mobil Mercedes Benz itu dengan canda. "Kini saya punya dua Mercy, yang satu seri S500 seharga Rp 3 miliar, satunya lagi Mercy di kulit perut saya, tidak tahu seri berapa tapi kira-kira sama harganya," tulis Dahlan dalam bukunya. .

Seperti ditulis dalam bukunya, Dahlan mengungkapkan kalau ia tak suka menun¬jukkan sakitnya kepada orang banyak kare¬na itu ia menceritakan dengan cara yang ti¬dak membuat orang iba. Kuncinya, kata dia, menceritakan dengan cara yang menyenangkan.

Meski diulas secara jenaka kengerian dari penyakit dan operasi tak dapat ditutupi, apalagi proses pencangkokan organ tubuh tak selalu berjalan mulus. Dahlan menyinggung soal operas! transplantasi cendekiawan Nurcholish Madjid yang tak sukses. Sempat pula muncul kekhawatiran proses cangkok organ tak sukses ketika badan Dahlan membengkak dan wajahnya menghitam.

Cerita Dahlan yang apa adanya ini menarik perhatian banyak orang dan mereka yang merasa terinspirasi dengan semangat Dahlan mengirimkan surat elektronik dan pesan singkat yang juga dimuat dalam bagian akhir buku ini. Bertahun-tahun sebelum itu, kisah hidup penulis muda Gola Gong juga memikat hati banyak orang. Dengan kruk yang menyangga satu kakinya, ia dengan gagah perkasa bertualang dan menemukan kekuatan hidupnya lewat dunia menulis. Kisah-kisah pencandu narkoba yang lepas dari jerat masa lalunya juga tidak kurang banyaknya.

Sayangnya, di luar sana, di rak-rak di toko buku, bisa dihitung dengan jari kisah kisah menggugah yang ditulis dengan menyenangkan. Padahal orang yang bergelut dengan penyakit ganas merasa buku-buku ini bisa membantu mereka" melewati masa-masa sulit. "Kalau saja dulu ada buku yang menceritakan soal penderita kanker, pasti penderitanya tak akan melakukan banyak kebodohan," ujar Ani, perempuan berusia 31 tahun yang baru saja memenangi pertarungan dua tahun melawan kanker payudara. Ia memutuskan menulis buku tentang penderitaannya agar orang bisa bersiap menghadapi kanker seperti yang diidapnya

Monday, September 01, 2008




KARENA WAKTU BEGITU BERHARGA

Randy mampu menginspirasi orang lain untuk belajar bagaimana memaksimalkan potensi di sisa waktu hidup dan tidak menyerah kepada keadaan justru membalikkan keadaan menjadi lebih baik
(Epung Saepdudin, Media Indonesia, Agustus 2008)

Bukan lah kematian yang seharusnya kita takuti, melainkan sebuah kehidupan yang “tanpa makna” ujar Randy Pausch. Setiap yang hidup akan mati. Begitulah janji Tuhan. Meski demikian, dengan perkembangan ilmu medis, manusia bisa 'memperlambat' kematian. Tentu dengan obat, operasi, dan sekian 'perawatan yang memakan biaya tidak sedikit.

Namun dengan sekian obat dan operasi pun, pada akhirnya akan datang satu titik akhir ketika vonis dokter tiba. Seperti dialami Randy Pausch, seorang profesor muda Universitas Carnegie Mellon, yang di vonis dokter usianya akan memiliki sisa umur tiga hingga enam bulan lagi mengingat kanker pankreas stadium akhir sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Namun, berbeda dengan mereka yartg menghadapi kematian dengan muram, Randy memilih menghadapi sisa umur tersebut dengan cinta dan aktivitas yang menginspirasi manusia lain. la menginspirasi mereka yang masih hidup, yang patah semangat, untuk mewujudkan mimpi masa kecil dan menghadirkannya menjadi nyata dalam kehidupan. Dalam buku ini, Randy bercerita mengenai pelajaran yang ia resapi dalam perjalanan hidup dan memberikan arahan dan dorongan bagaimana belum bisa mencapai apa yang kita cita-citakan di dalam hidup, selama kita bisa tetap selalu berada di jalur kebaikan, semua impian-impian di dalam hidup kitalah yang akan menghampiri diri kita. Beberapa kampus di Amerika memiliki tradisi menarik yaitu last lecture. Tradisi itu biasanya diberikan kepada profesor yang akan pensiun dari kampus. Mendapatkan last lecture tidak mudah. Karena, sang profesor mesti meringkaskan lifelong lessons kepada audiensinya, dari pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi profesor. Randy mendapat kesempatan memberi kuliah terakhir karena kegigihannya dalam menghadapi penyakit kanker pankreas stadium akhir, tapi dengan tetap mengabdi dan memi¬liki karier cemerlang di institusinya. Randy Pausch adalah seorang dosen sekaligus anggota Walt Disney Imagineering yaitu sebuah tim kreatif yang bertugas untuk membangun wahana-wahana di Disneyland. Randy dinobatkan majalah Time sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang 2007 karena kemampuannya menginspirasi orang lain untuk bangkit dan mau memaksimalkan potensi yang ada dalam diri masing-masing.

VONIS DOKTER

Buku kecil ini menceritakan berbagai pengalaman keseharian Randy setelah vonis dokter tentang sisa waktu hidupnya dijatuhkan. Ada banyak cerita yang akan membuat kita terharu. Seperti yang dialami Randy untuk bisa memilih yang terbaik dari sekian kemungkinan yang bisa diambil. Tentu saja hadirnya perdebatan dari setiap pilihan yang akan diambil. Randy mengalami hal itu ketika istrinya tidak begitu antusias saat Randy mendapat kesempatan menyampaikan kuliah terakhir dari kampusnya. Sebab, fokus Randy akan terbelah antara menyiapkan kuliah terakhir dan keinginan istrinya untuk. memfokuskan Randy pada keluarga dan anak-anaknya di sisa waktu yang sempit sebelum kematiannya. Namun, Randy mampu menjembatani perbebatan di keluarga dengan memilih mendokumentasikan seluruhnya aktivitas bersama keluarga di sisa waktunya melalui video sebagai kenang-kenangan bagi buah hatinya ketika ia sudah meninggal. Kuliah terakhir Randy yang menghebohkan itu disampaikan 19 November 2007. Kuliah yang diprediksi mahasiswanya akan haru biru oleh tangis karena disampaikan seorang dosen yang divonis sebentar lagi mangkat itu berbalik 180 derajat.

Di aula tempat berlangsung ama sekali tidak menghadirkan ceramah yang njelimet seperti dalam spesialisasi akademiknya yaitu mata kuliah perancangan dunia maya. "Saya tak hendak bicara soal kanker, juga tidak tentang keluarga saya, saya akan bicara soal impian masa kanak-kanak," katanya di hadapan audiensi yang terdiri dari mahasiswa dan rekan kerja. Bahkan, Randy membuka kuliah terakhirnya dengan sebuah push-up. la memberi pesan bahwa vonis kematianyang didera terhadap dirinya tidak membawa pengaruh apa-apa pada stamina tubuhnya. Seperti diungkapkan Randy "Kalau ada yang mau menangis dan iba, silakan lakukan push-up seperti saya tadi. Baru setelah itu boleh iba kepada saya."

Video kuliah terakhir Randy yangberdurasi 76 menit dan di-posting ke situs Youtube, Google-video oleh Universitas Carniege telah dilihat hampir 4 juta orang mengalahkan video ceramah milik Barack Obama. Bahkan The Last Lecture diunduh tak kurang oleh 6 juta orang di seluruh dunia. Itu artinya apa yang disampaikan Randy mampu menginspirasi orang lain untuk belajar bagaimana memaksimalkan potensi di sisa waktu hidup dan tidak menyerah kepada keadaan justru membalikkan keadaan menjadi lebih baik untuk mewujudkan berbagai mimpi masa kecil.

Seperti dikatakan Randy, "Saya selalu yakin bahwa jika kita ambil seper-sepuluh dari eriergi yang kita curahkan untuk mengeluh lalu kita gunakan untuk memecahkan masalah, kita akan terkejut melihat betapa lancarnya segala sesuatu berjalan."

Mimpi dan optimisme Di masa kecilnya Randy adalah anak yang pemimpi, Namun, melalui bimbingan ayahnya yang inspirasional. Randy kecil pada akhirnya sadar kerja keras adalah jawaban dari setiap keinginan dan mimpi yang dibangun semasa masa kecil. Seperti ditegaskannya, "Tembok itu ada untuk membiarkan kita membuktikan seberapa kuatnya kemauan kita untuk mendapatkan sesuatu." la mengakui melalui bimbingan ayahnya itulah ia menjadi senang bekerja keras, selalu optimistis, dan sangat menghargai waktu.

Melalui sang avah juga, Randy sadar menjadi elitis yang hanya duduk di beIakang meja. Prinsip yang diajari ayahnya sewaktu kecil pada akhirnya memberi dorongan untuk terus mewujudkan mimpi kecilnya hingga pada akhirnya mampu menjadi imageneer di Disney World yang merupakan satu dari sekian mimpi kecilnya yang mewujud menjadi nyata.

Dalam buku ini, Randy menuliskan berbagai kisah dan pengalamann layaknya catatan harian. Dengan model penyampaian itu pembaca mudah mencerna setiap bab yang disajikan yang pada akhirnya bisa dicema berbagai pelajaran dan inspirasi yang disampaikan penulis. Menurut Randy, setiap kegagalan-kegagalan yang kita alami pada akhirnya akan memberi kepada kita sebuah pelajaran berharga yaitu sebuah pengalaman. Karena itu, dengan key akinan i tu seseorang akan terus sadar perjalanan panjang dari. suatu proses itulah yang terpenting. Perjuangan untuk mera cita-cita hidup adalah satu hal besar. Namun, di baliknya tersembunyi hal lain yang lebih besar yaitu bagaimana menjalani hidup itu sendiri.

Dorongan dari berbagai kolega dan pihak-pihak yang bersimpati kepada dirinya membuat Randy selalu memandang positif terhadap penyakit yang menderanya. Hingga dalam dirinya muncul kesadaran bahwa vonis dokter yang mematahkan harapan hidupnya memberi kesempatan kepada dirinya untuk menata segala sesuatu sebelum pergi terkhusus bagi keluarga dan ana anak yang sangat dicintainya.

Tak lupa pula sebagai seorang ayah yang akan meninggalkan ketiga anak yang masih kecil. Randy memberi pesan bahwa seorang ayah harus menyemangati agar anak mengembangkan kegembiraan hidup dan dorongan yang sangat kuat untuk mengejar impian 'anak itu sendiri kemudian menyiapkan seperangkat untuk mewujudkan setiap mimpi seorang anak.

Setelah membaca buku ini, kita akan sadar bahwa sebagai makhluk yang diberi sedikit waktu kita menenggunakan waktu sebaik mungkin meraih keinginan selagi bisa diwujudkan, menikmati kebersamaan selagi ada.


Thursday, August 28, 2008



PETUAH BIJAK SEORANG PROFESOR

Pesan Terakhir Randy Pausch yang Menikmati Saat Terakhirnya Tanpa Berpikir Tentang Kematian

Buku ini dikembangkan dari kuliah terakhir The Last Lecture yang diberikan oleh Randy Pausch di hadapan mahasiswa Universitas Carnegie Mellon pada 18 September 2007 silam. Sebuah kuliah yang amat menyentuh yang membuat kisah Pausch menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia.
(Jurnal Nasional, 24-Agustus-2008)


Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka kita? " Demikian Randy Pausch membuka bagian pertama buku The Last Lecture.

Randy Pausch, adalah profesor jurusan Ilmu Komputer, Interaksi Manusia dan Komputer dan Desain dari Carnegie Melon University. Sebagai seorang dosen karier Pausch cukup cemerlang, juga dipercaya mengembangkan software untuk banyak perusahaan besar semisal Walt Disney dan Electronic Arts. Hingga suatu hari dokter memvonis matinya pada Agustus 2007 bahwa kanker Pankreas yang dideritanya telah menyebar ke seluruh tubuh

Pausch mengetahui bahwa dirinya terkena kanker pankreas sejak 2006. Untuk mencegah penyebarannya ia telah menjalani serangkaian operasi. Namun operasi ini gagal melenyapkan sel kanker yang bersarang di tubuhnya. Hingga akhirnya, suatu hari pada Agustus 2007, diagnosa dokter menemukan bahwa kankernya gagal disembuhkan. Di pankreasnya telah tumbuh sepuluh buah tumor, yang tak lama lagi akan menyebar ke seluruh tubuh. Hidup Randy Pausch diperkirakan tidak sampai tiga bulan lagi.

Buku ini dikembangkan dari kuliah terakhir The Last Lecture yang diberikan oleh Randy Pausch di hadapan mahasiswa Universitas Carnegie Mellon pada 18 September 2007 silam. Dalam kuliah yang ia beri judul Really Achieving Your Child Hood Dream tersebut membuat terkesan 400 audiens yang hadir di sana. Sebuah kuliah yang amat menyentuh yang membuat kisah Pausch menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia.

Di Universitas Carnegie Mellon, kuliah terakhir The Last Lecture ini telah menjadi semacam tradisi, di mana para profesor memberikan kuliah dengan membayangkan seandainya kuliah tersebut adalah kuliah terakhir yang akan mereka berikan.

"Hari ini kita tidak akan membicarakan tentang Kanker," ujar Pausch dalam pidato tersebut. "Karena, saya sudah terlalu banyak menghabiskan waktu membicarakan hal yang satu itu, dan kita juga tidak akan membicarakan tentang hal-hal yang sebenarnya amat penting bagi saya, misalnya tentang istri dan anak saya, sebab saya tak mampu membicarakan tentang mereka tanpa berurai air mata," kata Pausch.

Dalam pidato itu, Pausch mengungkapkan bagaimana vonis mati yang diberikan dokter malah membuatnya makin bersemangat hidup, dan alih-alih memusatkan diri berpikir tentang kematian, ia mengatakan akan melakukan semua yang menjadi impiannya dalam sisa waktu yang ia punya.

Saat kecil menurut Pausch ia memiliki impian-impian yang cukup konkret: ia ingin berada dalam ruang. bergravitasi nol, bermain sepak bola di National Football League, menulis artikel untuk World Book Encyclopedia, menjadi Kapten Kirk di Startrek, juga bekerja untuk Disney.

Sebagian besar keinginan itu benar-benar jadi nyata sebelum kematiannya. Proyek Virtual Reality yang dikembangkan Pausch membuat dirinya dan murid-muridnya mendapatkan izin untuk naik ke cockpit pesawat yang dikenal dengan nama Vomit Comet. Di dalamnya ada mekanisme khusus yang menciptakan ruangan pesawat ini bebas gravitasi. la juga berhasil membujuk Disney untuk memberikan kesempatan padanya merancang permainan Virtual Reality Magic Carpet Rides dan The Pirates of the Caribean di wahana bermain Disney.

Sutradara JJ. Abrams yang mendengar tentang keinginan Pausch juga mengundangnya untuk memainkan sebuah peran kecil dari firm Star Trek yang sedang dikerjakannya. Cerita Pausch yang inspirasional kemudian membuat ia diundang oleh dua acara bincang-bincang terkemuka di Amerika, Diane Sawyer dan the Oprah Winfrey Show.

Buku ini ditulis oleh Pausch bersama-sama dengan Jeffrey Zaslow, seorang kolumnis dari The Wall Street Journal. Ide untuk menjadikan kuliah terakhir Pausch sebuah buku muncul ketika Zaslow ikut menyaksikan kuliah terakhir yang menyentuh itu.

Pausch setuju membuat buku ini lantaran ia ingin meninggalkan pesan bagi anak-anaknya kelak. "Di balik pesan yang bersifat akademis, sebenarnya saya mencoba memasukkan diri saya ke dalam sebuah botol yang suatu hari nanti akan terdampar di pantai untuk anak anak saya. Seandainya saya ini pelukis, saya akan melukis untuk mereka. Jika saya musisi, saya akan menggubah lagu. Tetapi saya adalah dosen. Maka saya memberikan kuliah. “(hal.VIII)

Selain berupa semi otobiografi, buku ini juga berisi pandangan-pandangan Pausch mengenai kehidupan, tentang integritas dan apa yang menurutnya harus dimiliki seseorang dalam karakternya. Nasihat-nasihat sederhana bagaimana seseorang seharusnya menjalani kehidupan tanpa harus terlalu mempedulikan pendapat orang misalnya.

Seandainya tidak seorangpun mencemaskan apa yang ada dalam pikiran orang lain, kita semua akan 33 persen lebih efektif dalam hidup dan pekerjaan kita (hal.200)

Buku ini ditulis dalam waktu 53 hari. Menurut Zaslow selama ini pengerjaan buku ini, Pausch selalu bersemangat. Namun pada saat menulis bab akhir, Pausch menjadi lebih emosional. “Karena baginya ini sama artinya dengan akhir kuliahnya, buku, juga hidupnya,” ujar Zaslow dalam sebuah wawancara dengan Associated Press tak berapa lama setelah kematian Pausch.

Zaslow menikmati setiap harinya.”Proses pembuatan buku itu adalah 53 hari paling menyenangkan dalam hidup saya. Saya seolah-olah menampilkan sebuah pertunjukan,” ujar Pausch kepada Associated Press suatu hari. “Seolah-olah saya mendengarkan 53 kuliah yang ia berikan.”

Semangat hidup yang tinggi membuat Pausch hidup lebih lama daripada yang diperkirakan oleh dokter. Namun akhirnya, Pausch menyerah pada penyakitnya. Ia mreninggal di usia 47 tahun pada 25 Juli 2008 lalu
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes