Showing posts with label *Majalah-Annida. Show all posts
Showing posts with label *Majalah-Annida. Show all posts

Tuesday, April 20, 2010


UPH LUNCURKAN SKANDAL GILA BANK CENTURY


Annida-Online—Lama tak terdengar nasib dan ujung dari kisruh Bank Century yang sempat memanas, Ufuk Publishing House (UPH) seperti ingin mengingatkan kita kembali pada skandal senilai Rp. 6,7 triliun dengan meluncurkan buku Skandal Gila Bank Century, Ahad (11/4) di Doekoen Café, Jakarta Selatan. Menurut Muhammad Sadan, Marketing Communication UPH, buku ini menjadi cukup relevan dan berimbang karena ditulis oleh Bambang Soesatyo, politisi Golkar yang juga menjadi anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century.

“Pak Bambang selain politisi dan anggota dewan, beliau juga mantan wartawan. Jadi, dia paham, sekali apa yang ditulisnya harus sesuai data dan fatka. Dan buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara faktual, karena Pak Bambang memang menulis fenomena Century ini sesuai fakta yang ia temukan,” jelas pria yang akrab disapa Sadan ini. Hal ini pulalah yang menjadi kekuatan buku setebal 304 halaman tersebut dari buku-buku yang membahas kisruh Century lainnya. Sadan menjelaskan, sang penulis sebenarnya sudah “mencicil” tulisannya sejak skandal Bank Century menjadi perhatian masyarakat.

“Pak Bambang mengikuti perkembangan Bank Century secara detil,. Beliau kan yang mengikuti rapat demi rapat, persidangan demi persidangan, proses investigasi, dan serangkaian proses lainnya, sehingga ia tahu betul apa-apa yang tak terungkap ke publik dari proses penyidikan Bank Century,” lanjut Sadan. Sadan menambahkan, UPH maupun Bambang Soesatyo tidak sedang mencari sensasi dari buku yang telah diluncurkannya itu. UPH, melalui Sadan menegaskan, justru menghadirkan alternatif bacaan bagi masyarakat untuk lebih memahami kisruh Century ini.

“Kalau selama ini masyarakat jenuh dengan pemberitaan Century di media, barangkali inilah salah satu buku yang bisa menjelaskan duduk persoalan Century dan kegilaan-kegilaan di dalamnya secara seimbang,” ujar Sadan. Sadan sadar, betapapun Bambang Soesatyo adalah orang yang terlibat secara langsung dalam penyidikan skandal Bank Century, ada beberapa pihak yang mungkin merasa tidak puas dengan apa yang ditulis oleh Bambang. Karena itu, Sadan justru tak merasa khawatir bila kelak akan ada buku tandingan dari pihak-pihak yang merasa tak puas dengan isi buku Skandal Gila Bank Century ini.

“Justru bagus, masyarakat punya banyak rekomendasi untuk melihat kasus skandal Bank Century. Asalkan buku tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan data juga fakta, nggak sekadar “tanding-tandingan” dengan buku yang sudah ada,” pungkas Sadan.
Selain Bambang Soesatyo, hadir pula anggota DPR komisi III Desmond J. Mahesa, pakar hukum tata negara Irman Putra Sidin, mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli, anggota Dewan Pembina Gerindra Permadi, serta aktivis Petisi 28 Haris Rusli dalam peluncuran buku tersebut. [nyimas]

Wednesday, March 03, 2010



Annida-Online—Lima bulan sebelum kematiannya di tahun 2005 silam, Arsyio Nunos del Santos, ahli fisika nuklir dari Brazil menerbitkan buku fenomenalnya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Buku ini menyajikan fakta dan data yang ditemukan oleh sang penulis tentang misteri keberadaan benua Atlantis yang tidak lain tidak bukan adalah Indonesia. Menganggap bahwa buku ini cukup penting untuk diketahui oleh publik Indonesia, Ufuk Publishing House (UPH) menghadirkannya dalam versi bahasa Indonesia. “Santos sendiri melakukan penelitian terhadap kemungkinan Indonesia yang diduga sebagai benua Atlantis ini selama 30 tahun. Jadi, kami harap buku ini bukan sekadar mengundang kontroversi namun juga motivasi para ahli untuk mengungkapkan kebenaran temuan-temuan Santos secara lebih ilmiah,” ujar Muhammad Sadan, Manager Marketing Ufuk di sela-sela acara Seminar Nasional “Indonesia, Atlantis yang Sesungguhnya”.Acara tersebut, menurut Sadan, merupakan upaya dan tanggungjawab ilmiah dari penerbit untuk mengantarkan pembaca memahami argumen-argumen yang dituangkan Santos dalam bukunya. Dengan menghadirkan empat pembicara, Dr. Radhar Panca Dahana, Dr. Awang H. Satyana, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, dan Dr. Oman Abdurrahman, serta satu keynote speaker; Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, buku ini dikupas melalui pendekatan yang lebih komprehensif.“Secara ilmu arkelogi dan etnolinguistik, temuan-temuan Santos dalam bukunya tentang Indonesia yang merupakan benua Atlantis itu, mungkin saja benar.
Tapi I dont care about Santos, karena pada kenyataannya, nenek moyang Indonesia jauh sebelum Padjadjaran ada, Majapahit, Sriwijaya, atau kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, Islam, dan lainnya ada, mereka memang sudah memiliki peradaban yang tinggi,” jelas Radar yang membahas buku Santos dari kacamata antropologi dan kebudayaan.Meskipun keraguan sempat dilontarkan oleh dua pembicara lainnya; Dr. Awang H. Satyana dan Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, namun Ahmad Taufik, editor buku sekaligus manajer produksi UPH, yakin bahwa buku Santos merupakan pintu gerbang untuk masyarakat Indonesia mengorek lebih dalam sejarah dan asal-usul bangsanya.“Ya, saya sepakat, meskipun buku ini akan mengundang kontroversi. Ada yang setuju ada juga yang mungkin menolak kebenaran hal yang dikemukakan oleh Santos, tapi saya rasa masyarakat juga jangan skeptis dengan kehadiran buku ini,” harap Taufik.Atlantis, The Lost Continent Finally Found, adalah karya Santos yang berisi tentang temuan-temuan baru tentang keberadaan Atlantis, benua yang diduga telah tenggelam jutaan ribu tahun lalu. Melalui serangkaian tanda-tanda yang ditunjukkan seperti bencana alam yang terjadi di Indonesia, bahasa kuno Indonesia yang konon berasal dari bangsa Dravida, gugusan Sundaland yang tenggelam, dan beberapa fakta lainnya menjadi dasar Santos berpendapat bahwa Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Walahualam. [nyimas]

Tuesday, February 23, 2010


INDONESIA:ATLANTIS YANG PERNAH HILANG ?
Annida-Online—Akhir tahun lalu, tepatnya November 2009, publik Indonesia dihebohkan oleh kehadiran buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang dialihbahasakan oleh Ufuk Publishing House dengan judul yang sama. Buku setebal 677 halaman ini mengundang kontroversi karena di dalamnya, sang penulis; Prof. Arsyio Santos, menjelaskan bahwa Atlantis—surga yang pernah hilang, seperti kisah ciptaan Plato—adalah Indonesia; negara kita. Temuan Santos ini rupanya menarik perhatian para ahli untuk mencari tahu misteri asal-usul sejarah Indonesia di masa lampau dengan pendekatan geologis, perhitungan fisika nuklir, arkeologis, filosofis, hingga pendekatan etnolinguistik. “Salah satu indikasi temuan Santos mendekati kebenaran adalah kenyataan dan fakta bahwa pernah ditemukannya Pithecanthropus Erectus, sebagai manusia terpurba di Indonesia,” jelas Prof. Dr. Jimly Assidiqie, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, pada Seminar Nasional: Indonesia, Atlantis yang Sesungguhnya, Sabtu (20/2) lalu, di Museum Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Jimly—yang juga hadir bersama Dr. Radar Panca Dahana (budayawan), Prof. Dr. Harry Truman (Ketua Ikatan Arkeologi Indonesia), Dr. Oman Abdurrahman (Badan Geologi Bandung), dan Dr. Awang H Stayana (Geolog dari Bandung) sebagai pembicara dalam seminar itu—mengatakan bahwa bukti Pithecantropus tersebut menunjukkan peradaban hebat bangsa Indonesia di masa lalu. Radar, yang menganalisis temuan Santos dengan pendekatan filologi, antropologis dan arkeologis, sepakat bahwa relief-relief, bangunan-bangunan dan artefak bersejarah peninggalan manusia menjelaskan adanya kehidupan modern jutaan tahun lalu di Indonesia. Namun demikian, Prof. Dr. Harry Truman dan Dr. Awang H Satyana justru meragukan kebenaran temuan Santos di bukunya.
Meski Harry mengakui adanya pendapat dari pakar geologi dunia yang mengemukakan teori tentang asal muasal penyebaran ras Austronesia (ras yang menempati hampir setengah luas bumi dan memiliki lebih dari 1.200 rumpun bahasa) adalah dari sundaland yang tenggelam di akhir zaman es. Menurut Harry, Sundaland atau yang lebih dikenal dengan Paparan Sunda inilah yang diduga Santos sebagai Atlantis, benua yang punya peradaban tinggi, yang keberadannya selalu menjadi misteri. “Atlantis yang hilang itu tidaklah di mana-mana, itu hanya sebuah fiksi. Berbagai data dan fakta empirik melalui pendekatan geologik mengenai hal tersebut tidak bisa menjelaskan keberadaan Atlantis di Indonesia," tandas Ketua Ahli Ikatan Arkeologi Indonesia ini. Senada dengan Prof Harry, Dr. Awang juga berpendapat bahwa wacana Atlantis yang hilang adalah Indonesia terlalu dini untuk disimpulkan. Menurutnya, Santos menggunakan pendekatan kontemplasi dalam penetian yang dilakukannya selama 30 tahun ini. Tak ada argumentasi yang faktual dan aktual yang mendukung kebenaran teorinya mengenai Atlantis yang tak lain adalah Indonesia.“Bila dibandingkan dengan buku Eden in the East, karya Stephen Oppenheimer, buku ini masih sangat jauh memberikan gambaran fakta dan data geologi yang akurat. Paparan Santos hanya berangkat dari dongeng yang sumber kebenarannya nggak ada,” kata Dr. Awang. Dr. Awang mencontohkan, wacana yang menyebutkan 11.600 tahun yang lalu terjadi letusan gunung Krakatau, yang dipaparkan oleh Santos dalam bukunya tidak memiliki bukti geologi yang kuat. Keraguan Dr. Awang dan Prof. Harry juga dijelaskan pada fakta bahwa peradaban Atlantis paling cocok dengan kebudayaan tengah, kebudayaan Minoa, karena menurut penelitian geologi, pernah ada gunung meletus yang besar. Dan di sanalah terdapat kesesuaian ciri dan data geografis tentang letak Atlantis seperti yang dipaparkan Plato dalam buku berjudul Timeaus.Atlantis merupakan sebuah kawasan benua yang pertama kali dikenal dari dua karya Plato, Timeaus dan Critias. Dalam dua buku ini, Plato menjelaskan bahwa Atlantis adalah Negara yang makmur yang menjadi induk peradaban dunia dari budaya, sumber daya alam, teknologi, dll. Menurut Dr. Awang, bagi orang awam wacana atau teori santos yang menyebutkan Indonesia merupakan benua Atlantis dianggap sebagai hal yang membanggakan. “Karena di era Atlantis itu katanya masa di mana puncaknya kemajuan dan peradaban dunia. Namun harap diingat pula bahwasanya masa Atlantis itu masa di mana degradasi moral juga mencapai puncaknya. Jadi, menurut saya ada plus-minusnya, jadi jangan terlalu bangga juga dengan isu bahwa Indonesia merupakan benua Atlantis,” pungkas Dr. Awang. [nyimas]

Monday, October 12, 2009


PENERBIT UFUK SEGERA TERBITKAN KISAH INSPIRATIF OBAMA INDONESIA

Annida-Online-- Ilham Anas nggak bakal sepopuler sekarang kalau Barrack Obama nggak mencalonkan diri menjadi presiden dan terpilih menjadi orang nomor satu Amerika. Gara-gara punya tampang mirip Obama, Ilham mendadak jadi selebritis dan tampil di berbagai acara televisi. Bahkan perusahaan obat sakit perut Filiphina mengontrak Ilham Obama sebagai bintang iklan produk mereka. Kisah-kisah jenaka, unik, dan pengalaman Ilham yang disangka Obama ini akan menjadi sebuah buku berjudul Gara-Gara Obama. Penerbit Ufuk Publishing House akan melaunching buku tersebut Oktober ini.

"Ilham menulis tentang peristiwa-peristiwa jenaka dan inspiratif yang dia alami. Peristiwa lucu yang tidak sengaja karena mirip Barrack Obama. Jadi ini kisah nyata yang termasuk di lini Isu Baru Penerbit Ufuk," kata Muhammad Sadan, Manajer Marketing dan Promosi Ufuk Publishing House. Sebenarnya menurut Sadan pihaknya telah mempersiapkan launching, namun mesti diubah kembali karena Ilham "Obama" Anas sedang di Padang. Sang nenek belum jelas kabarnya dalam musibah gempa Sumatera Barat.

Sebelumnya buku yang ditulis langsung oleh Obama Impersonator ini telah beredar di Thailand dalam Kampanye Perubahan Iklim Internasional yang disponsori Greenpeace International di Bangkok (18-19 September 2009). Dengan ringan, Ilham Obama bertutur kisah perjalanan kariernya dari "kecelakaan" peristiwa, yakni keseriusannya berperan sebagai Barrack Obama sekaligus tetap menekuni profesi fotografer di sebuah majalah, hingga berusah terlibat dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan mendukung literasi Indonesia.

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang ditulis pendek-pendek. Termasuk masa lalu Obama Indonesia tersebut ketika masih kecil. "Pembaca bisa belajar banyak dari buku ini. Bahwa rejeki Tuhan datang dari arah yang tak terduga dan bisa dilihat dengan bijak. Misalnya ketika fotonya diminati dan ditawari membintangi iklan minyak goreng dan obat sakit perut di Filiphina," ujar Sadan. [Elzam]


Monday, June 01, 2009

SAFARI

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail
(Nyimas Gandasari, Annida, Mei 2009)

Mau cari buku panduan traveling yang nggak ngebosenin? Buku karya Muhammad Najib yang diangkat dari cerita bersambung di harian Republika ini mungkin jawabannya. Loh7 kok cerita? Yap, karena informasi mengenai berbagai tempat di dunia yang diisajikan dalam buku ini berbalut fiksi yang penuh konflik yang menarik dan menegangkan. Mudahnya, kita sebut saja buku ini sebagai journey fiction.

Safari bertutur tentang Jamal bin Mujahid alias Amal, mahasiswa Indonesia peraih beasiswa dari Aachen University of Technology di Jerman. Kehidupan dan pengalamannya di negeri orang membawanya pada pertemuan dengan sesama aktivis dan mahasiswa Muslim dari berbagai Negara. Dari sinilah petualangannya dimulai. Petualang menegakkan kebenaran dan keadilan yang menjadi nafas hidupnya.

Membaca Safari seperti membuka jendela dunia. Mengajak pembacanya menyelami eksotisme satu negara ke negara lainnya di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika hingga Eropa dan Amerika, dengan sangat detail. Lebih dari itu, buku yang diangkat dari kisah nyata ini juga memuat berbagai informasi situasi politik, sosial, dan budaya yang pernah terjadi di sejumlah negara tersebut. Pokoknya dijamin nyesel banget kalau sampai terlewatkan! [nyimas]


THE PRINCESS, SULTANA’S CIRCLE


The Princess, Sultana's Circle, bagian terakhir dari trilogi Princess ini menyajikan cerita yang menegangkan. Sultana, sang tokoh utarna terus berjuang mempertajam sensitivitas melihat ketidakadilan konsep paternalistik sekaligus feodalisme Arab yang menempatkan derajat pejempuan di titik nadir terendah. Islam sebagai agama rahmatan lilalamin (tentunya bagi laki-laki dan perempuan) diinterpretasikan dengan sangat buruk oleh lelaki Arab yang menggenggam perempuan dengan tahta dan harta.

Parahnya, salah satu dari putri kerajaan Arab ini berhadapan dengan lingkaran kerajaan itu sendiri ketika meneriakan perlawanan. Termasuk ketika kakak laki-lakinya, Faruq mempersembahkan Munira, anak kandungnya untuk dipersunting lelaki bengal yang mempertuhankan nafsu. Sultana dan saudara perempuannya tak bisa berbuat apa-apa, pun ketika Faddel sang sepupu diketahui menyimpan banyak perempuan di harem pribadinya.

Perlawananan kolektif ternyata lebih realistis daripada diam menyesali takdir. So, kisah lebih lengkap novel yang diadaptasi dari kisah nyata ini sepertinya memang harus kamu baca sendiri. [Elzam]

Thursday, February 12, 2009



TIDAK ADA REGULASI PASTI

Bakar Bilfagih,
Editorial & Production Director Ufuk Publishing House

Kalau kita berbicara masalah best seiler, maka yang akan kita bahas ya... tentang "selling"-nya; kuantitasnya, bukan kualitasnya. Artinya, indikator yang menentukan buku disebut besr seiler adalah capaian penjualan buku tersebut. Perhitungannya mengacu pada jumlah ekslemplar buku yang terjual dalam kurun waktu tertentu. Dengan kata lain, buku-buku besr seller ini belum tentu the best secara isi atau kualitas. Mungkin buku-buku yang the best secara kuantitas juga secara kualitas baru dapat dibuktikan ketika buku tersebut diapresiasi atau mendapatkan semacam award dari sebuah intitusi. Akan tetapi, banyak juga buku-buku yang mengalami best seiler, namun isinya bisa dikatakan "sampah", karena nggak ada "something" yang mencerahkan untuk pembaca. Meski demikian, tak dipungkiri bahwa kualitas isi buku itu juga menjadi salah satu penentu sebuah buku mengalami best seiler di pasaran. Tapi sekali lagi, ini bukan hal yang mutlak. Bisa saja karena efek berantai, misalnya ditulis oleh artis, orang jadi pensaran, maka buku itu jadi banyak yang beli, kemudian laku.

Ukuran besr seller di Ufuk sendiri adalah bila buku tersebut menembus angka penjualan 10.000 eks dalam kurun waktu 3-6 bulan. Ufuk juga menerbitkan karya-karya terjemahan yang mengalami bestseller di negara asalnya, tapi itu juga bukan jaminan buku itu akan mengalami pencapaian yang sama (baca: bestseller) ketika diterbitkan di Indonesia. Hal ini karena dipengaruhi oleh factor-faktor, seperti isu yang berkembang tidak sama, atau tema yang diangkat sudah terlalu umum di sini, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Ufuk memutuskan menerbitkan buku-buku terjemahan yang mengalami best seiler itu karena penting untuk diketahui oleh pembaca di Indonesia.

Patokan yang menjadi standar di Ufuk mungkin akan berbeda dengan patokan atau standar di penerbit lain. Ada yang mematok angka 3000, sudah dibilang best seiler, atau 6.000. Itu hak masng-masing penerbit, karena memang tidak ada regulasi yang pasti, baik dari organisasi induk penerbitan, seperti IKAPI, maupun dan pemerintah yang mengatur tentang aturan main penerbitan di Indonesia, salah satunya tentang standar buku dikategorikan best seller. Disinilah pembaca yang harus aktif dan lebih cerdas. Sekarang kan buku yang akan dibeli biasanya ada sample yang bisa dibaca di toko buku. Memang, tidak mungkin juga membaca seluruh isi buku tersebut. Tapi itu juga bisa menjadi suatu upaya membeli buku yang diharapkan oleh pembaca itu sendiri. Media massa juga harusnya mengambil peran dalam mengawasi sistem penjualan atau trik dagang para penerbit yang nakal.

Tuesday, July 08, 2008



BAGHDAD 4/3; ARAB MENGHAJAR AMERIKA

Novel dengan ide liar yang agak-agak sableng ini memang berusaha menjungkirbalikkan kondisi dunia. Setelah peristiwa 9/11 yang meruntuhkan Menara Kembar di New York, dunia memang makin absurd. Maka, Loei Van Koeitanj—entah nama asli atau samaran—mengacak-acak realitas dunia menjadi novel konyol yang bikin kita cengar-cengir bacanya.
(Majalah Annida, Juli 2008)


Menara Babilon, menara tertinggi di dunia milik negeri adidaya Irak, tiba-tiba mendapatserangan teroris. Hancur berkeping-keping. Khadam Husein, presiden Irak serta merta menuduh Saint Sardin, pemimpin organisasi The Propit, berada di balik penyerangan tersebut. Irak pun menggelar perang terhadap Amerika Serikat (AS), negeri dunia keempat. Dalih yang menjadi pegangan Khadam Husein, bahwa AS memiliki senjata nukliryang berbahaya bagi dunia. Selain itu, Khadam juga ingin menggulingkan John Hush, presiden AS, yang dinilai tak becus memerintah dan otoriter. Perekonomian AS jungkir balik, masyarakatnya kurang berpendidikan, membuat banyak mahasiswa seperti Keith Nosestrong mengejar pendidikan di Universitas Jamiah Baghdad di Irak, negeri kaya dan maju.

Hmm... baca ringkasan diatas, kebayang dong di otak kita kalau buku ini adalah parodi satire tentang AS-Irak. Novel dengan ide liar yang agak-agak sableng ini memang berusaha menjungkirbalikkan kondisi dunia. Setelah peristiwa 9/11 yang meruntuhkan Menara Kembar di New York, dunia memang makin absurd. Maka, Loei Van Koeitanj—entah nama asli atau samaran—mengacak-acak realitas dunia menjadi novel konyol yang bikin kita cengar-cengir bacanya. Selain Khadam Husein dan John Hush, kita akan bertemu tokoh John Coward, Toley Blur, Ariel Shalom, dan Cecak Shamir. Dari nama-nama plesetan itu, ketangkep kan siapa tokoh-tokoh tersebut ? Kocak memang. Meski bila dianalogikan dengan makanan, novel ini terlalu banyak gula, banyolannya agak berlebihan. [Dee]

Penerbit: Rahts Books Harga Rp39.000,- Tebal: 309 halaman









Friday, June 06, 2008


UFUK PUBLISHING HOUSE
TERJEMAHAN OKE;NASKAH LOKAL OKE


Untuk penggarapan buku, UPH memberikan keleluasaan penulis untuk memberi masukan— terkait dengan konsep, kover buku, gaya lay-out, pilihan font, dan ilustrasi. Sebelum produksi, UPH bahkan meminta masyarakat pecinta buku untuk menilai sampul, isi dan bagian penutup
(Majalah Annida, Ed.Mei 2008)

Pak Muhammad Sadan, Marketing Communication Ufuk Publishing House pada Nida bercerita tentang kelahiran penerbit yang saat ini buku-bukunya cukup banyak mewarnai dunia penerbitan Indonesia. Berdiri pada Januari 2006, Ufuk Publishing House (UPH)— yang semula bernama Ufuk Press— adalah penerbitan yang didirikan dengan komitmen menerbitkan buku-buku kontemporer yang selektif dan pro-pasar tanpa menabrak norma-norma yang ada. Hal ini dirasa memang perlu ditekankan karena, di dalam catatan memulai langkahnya, UPH kerap melemparkan buku-buku terjemahan. Optimisme menerbitkan karya terjemahan, menurut pengakuan Pak Sadan, dikarenakan respons baik pasar dan tanggapan dari pihak toko maupun lembaga yang bekerjasama dengan UPH—meyakinkan bahwa buku-buku UPH sangat inspiratif dan memikat.

UPH, dalam usahanya menjalin hubungan dengan penulis—terutama dalam mendapatkan hak cipta penulis luar--terbiasa berhubungan dengan pemegang copy right buku yang hendak diterbitkan maupun dengan agen-agen yang diberi wewenang dalam pembelian hak ciptanya. "Komunikasi dilakukan via surat elektronik secara intensif sehingga kami tidak hanya tahu isi buku namun juga pihak-pihak yang berhubungan dengan proses penerbitan dan distribusi," ujar Pak Sadan.

Banyaknya naskah terjemahan tidak membuat UPH menutup diri dari naskah lokal. Apalagi di tahun 2008 ini UPH berkomitmen menambah prosentase terbitan naskah dalam negeri dibandingkan tahun lalu—yang mencapai 35% dari total keseluruhan produk. Nah, bagi kamu yang ingin mengirimkan naskah ke UPH, pegang baik-baik informasi berikut. "Konteks yang perlu diperhatikan bukan kenapa si A tidak menerbitkan atau menerbitkan naskah lokal, tetapi seberapa banyak naskah tersebut dapat menjawab kebutuhan, menginspirasi serta memotivasi pembaca untuk optimis dan melakukan hal hal yang luar biasa dengan bersumber pada naskah. Nah, inilah titik berpijak kami," terang Pak Sadan yang intinya menjelaskan mengapa naskah lokal yang diterima UPH lebih sedikit dibanding naskah terjemahan.

Bagaimana dengan kriteria naskah yan diinginkan UPH ? Untuk fiksi, UPH tidak punya kriteria khusus. Silakan saja mengirimkannya asal tetap berpegang pada komitmen awal UPH Untuk non fiksi, UPH juga sangat terbuka; tema tema seperti biografi, psikolog psikologi-motivasi, manajemen dan bisnis bahkan tetap dipertahankan Melalui lini penerbitan khusus Rabat Books, UPH pun meramba pasar remaja. Semua langka ini mencerminkan sikap UPH yang dinamis dan tidak menutup diri terhadap selera pasar yang cenderung fluktuatif.

"Kami tidak ingin kaku dalan menjawab tantangan zaman Setiap perubahan yang terjadi dan berdampak positif bag masyarakat, khususnya industri buku, akan kami adaptasi. Meski begitu kami tidak ingin menghilangkan ciri yang sudah dikenal masyarakat," tutur Pak Sadan yang turut mendukung sosialisasi buku melalui e-book. Untuk ukuran penerbitan buku, hal tersebut memang belum jadi kebijakan yang populer. Namun, UPH menganggap itu perlu dilakukan dalam rangka menyambut datangnya era digital di tanah air.

Untuk penggarapan buku, UPH memberikan keleluasaan penulis untuk memberi masukan— terkait dengan konsep, kover buku, gaya lay-out, pilihan font, dan ilustrasi. Sebelum produksi, UPH bahkan meminta masyarakat pecinta buku untuk menilai sampul, isi dan bagian penutup. "Bahkan, kami sering melakukan perlombaan opini terbaik terhadap karya yang akan kami terbitkan. Semuanya sangat kami hargai dan mendapatkan apresiasi tertinggi," imbuh Pak Sadan yang memberitahukan relatif singkatnya waktu yang dibutuhkan untuk memastikan diterima-tidaknya karya kita di UPH. Berkisar antara dua minggu sampai satu bulan—tergantung naskah yang diterima. [Asa]


UFUK Publishing House
Jl. Warga No. 23 A Pejaten Barat,
Pasar Minggu
'Jakarta Selatan 12510.
Telp. 021-7976587, 021-79192866
Website: http://www.ufukpress.com
Email: info_ufukpress@yahoo.co.id

Monday, May 12, 2008




RAHASIA DBALIK PENGGALIAN AL-AQSHA
Abu Aiman

Dengan membaca buku ini kamu akan mengetahui sejarah pendudukan Yerusalem, gambaran kompleks masjid Al Aqsha pada masa lampau, perangkat ibadah umat Yahudi, sejumlah fakta dan foto yang menjelaskan hubungan para tokoh negara-negara Barat dengan bangsa Yahudi
(Majalah ANNIDA, Mei 2008)

Al Quds atau Yerusalem merupakan kota suci ketiga umat muslim setelah Mekkah dan Madinah. Kalau selama ini Al Quds disebut-sebut sebagai kota suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi, hal itu nggak benar.

Di dalam buku ini diungkapkan banyak fakta yang menunjukkan bahwa umat Yahudi nggak punya alasan yang kuat untuk merebut Al Aqsha dari tangan kaum muslimin. Mereka sering mengatakan bahwa alasan utama yang menjadikan mereka berhak atas Yerusalem adalah adanya Rumah Tuhan (Bait Allah) yang pernah didirikan oleh Raja Salomo (Sulaiman as). Padahal, umat Yahudi nggak pernah punya sejarah tentang Bait Allah yang permanen dan menetap di suatu tempat. Sebab sejak diutusnya Nabi Musa dan Nabi Harun, satu-satunya Bait Allah umat Yahudi berupa kotak portabel yang berisi lembaran-lembaran Nabi Musa yang merupakan naskah Kitab Taurat yang asli.

Dengan membaca buku ini kamu akan mengetahui sejarah pendudukan Yerusalem, gambaran kompleks masjid Al Aqsha pada masa lampau, perangkat ibadah umat Yahudi, sejumlah fakta dan foto yang menjelaskan hubungan para tokoh negara-negara Barat dengan bangsa Yahudi, juga rancangan pembangunan Pusat Kuil Ketiga umat Yahudi di atas kompleks masjid Al Aqsha. [Nai]


Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes