
Showing posts with label The Girl Of Riyadh. Show all posts
Showing posts with label The Girl Of Riyadh. Show all posts
Friday, October 31, 2008

Monday, October 13, 2008

KETIKA HATI TERBENTUR BUDAYA
Novel ini dianggap telah menistakan gadis Riyadh dan diduga salah menginterpretasikan Al Quran. Akan tetapi, di pasar gelap novel ini terus digandrungi, bahkan menjadi best seller di Timur Tengah dan kini telah diterjemahkan lebih dari dua puluh lima negara.
(Ummi Kulsum, Litbang Kompas, HU Kompas, September 2008)
Hal apakah yang umum ada di benak orang Indonesia tentang Arab Saudi ? Selain negeri yang tandus dan panas, tentunya adalah pakaian orang di sana yang selalu mengenakan abaya (sejenis jubah panjang yang menutupi tubuh) dan perempuan yang mengenakan kerudung besar hingga menutupi separuh tubuhnya. Cara berpakaian seperti ini banyak ditiru oleh sebagian orang Indonesia, termasuk cara berpakaian laki-laki yang berjubah panjang hingga ke mata kaki.
Di Arab Saudi, pergaulan lawan jenis sangat terbatas, bahkan diberlakukan jam malam bagi muda-mudi untuk berada di wilayah umum, seperti mal, pasar, atau kafe. Namun, bagaimanakah kehidupan di balik layar muda-mudi negeri itu ? Apakah mereka selalu disiplin mengenakan abaya dan kerudung? Ataukah mereka masih tertunduk malu ketika menatap lawan jenis ?
Semua imaji itu akan hilang ketika kita membaca novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Novel itu diangkat dari kisah nyata kehidupan dan pengalaman cinta empat orang gadis dari kalangan atas di Arab Saudi. Di Riyadh-lah semua cerita ini berawal, dari bangku sekolah tingkat atas hingga mereka lulus menjadi sarjana.
Adalah Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais yang sering berkumpul dan saling berbagi cerita di rumah Ummy Nuwair, seorang wanita yang ditinggalkan suaminya. Mereka saling berbagi cerita dan mendukung satu sama lain meski terkadang mereka berbeda pendapat. Dari kisah pertemanan sehari-hari seperti itu kisah novel ini terjalin.
Apa yang dilakukan oleh keempat gadis dalam novel ini mungkin biasa bagi kebanyakan orang, khususnya di Asia, apalagi Eropa atau Amerika. Akan tetapi, tidak demikian bagi Arab Saudi, negara yang mendasarkan ini pada ajaran Islam dan sangat membatasi pergaulan lawan jenis. Suatu negara di mana misalnya, seorang perempuan tidak boleh sendirian di ruang publik tanpa ada keluarga yang menemani ataupun bagi wanita mengendarai mobil sendiri.
Bukan hanya aturan negara yang membatasi kehidupan mereka, tetapi budaya juga kuat menekan kehidupan pribadi mereka hingga ke persoalan cinta. Pun bagaimana seseorang menjalani kisah percintaannya harus sesuai dengan tuntutan budaya. Inilah yang dialami oleh empat gadis, seperti dikisahkan oleh narator dalam novel yang judul aslinya Banat al-Riyadh.
Cerita diawali dengan prosesi pernikahan Qamrah yang baru beberapa minggu menjalani kuliah di bidang sejarah. Malangnya, perkawinan itu ternyata semu ! Rasyid menikahi Qamrah hanya sekadar memenuhi keinginan keluarganya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Karen, gadis keturunan Jepang.
Kebahagiaan perkawinan menjadi sangat singkat bagi Qamrah. Yang tertinggal justru kebencian dan dendam kepada mantan suaminya tersebut karena suaminya menceraikannya justru setelah tahu Qamrah hamil.
Saat Qamrah sedang gundah, Shedim, tokoh wanita lain dalam novel ini, justru sedang dimabuk cinta oleh Walid. Cinta yang berbunga dari Shedim justru hancur setelah dia menyerahkan seluruh cintanya secara utuh kepada Walid. Shedim tidak pernah mengerti mengapa Walid yang sangat bergairah dengan persetubuhan mereka malam itu justru langsung membatalkan pertunangan setelahnya.
Sementara itu, Michelle menemukan lelaki hebat bernama Faishal yang berpikiran maju dan mampu menerobos sekat-sekat budaya masyarakat Arab. Namun, Michelle pun akhirnya kecewa setelah tahu keluarga Paishal tidak menyetujui hubungan mereka hanya karena dia keturunan Amerika dan bukan asli Arab. Michelle tidak pernah menduga Faishal yang berpikiran sangat maju tunduk pada keinginan keluarga agar menikahi gadis asli Arab.
Berbagai gugatan pada budaya dan lelaki mengalir dengan lancar dalam novel tersebut, seperti Michelle yang tidak dapat menerima nilai poligami yang akrab dalam masyarakat Arab. Atau sikap seorang istri yang bahkan rela melamar gadis untuk menjadi istri kedua suaminya. Bahkan, Michelle merasa negeri itu keliru dalam menerjemahkan peraturan untuk membedakan mana yang seharusnya diurus oleh negara (ranah publik) dan yang menjadi masalah pribadi (ranah privat).
Jika Qamrah menjadi korban budaya masyarakat lokal yang hanya menerima menantu keturunan Arab, Shedim membenci kemunafikan dan kelemahan laki-laki dalam masyarakatnya. Cinta kedua Shedim dengan Faraz yang telah terjalin selama empat tahun pun harus kandas hanya karena Sedhim bukanlah calon menantu yang tepat bagi keluarga Faraz.
Benang merah budaya masyarakat lokal yang sangat melukai pengalaman cinta ketiga gadis tersebut terungkap dalam novel setebal 406 halaman ini. Kutipan puisi dalam bait-bait yang tertuang dalam novel ini pun sarat dengan pemberontakan dengan nilai-nilai patriarki masyarakat Arab, seperti salah satu bait Nizar Qabany yang dikutip oleh Narator;
Kehidupan terus berlanjut hingga akhirnya para gadis-gadis itu menjadi lebih kuat dan mandiri. Ketika Faishal dan Faraz menawarkan hubungan yang ganjil setelah kedua laki-laki itu menikah, dengan tegas Shedim dan Michelle menolaknya. Hal itu karena sama saja dengan membenarkan kepicikan laki-laki untuk mengabaikan istri mereka dengan alasan "pilihan keluarga".
Kisah dalam novel ini pada awalnya adalah surat elektronik (e-mail) dari penulis yang menceritakan tentang pengalaman hidup empat orang temannya yang dikirimkan ke berbagai mailing list di Arab Saudi setiap Jumat siang. Lambat laun kisah ini menjadi perbincangan umum di setiap Sabtu dan Minggu. Berbagai komentar pun muncul, baik yang ikut bersimpati terhadap kisah mereka maupun yang membenci surat-surat itu karena dianggap menyebarkan aib masyarakat. Bahkan, surat kabar lokal menuliskan gejala baru di masyarakat yang berkumpul pa da Sabtu siang di kafe untuk membicarakan surat elektronik dari gadis yang tidak pernah menyebutkan identitas aslinya itu.
Atas persetujuan keempat temannya, Rajaa Al Sanea menuangkan cerita itu dalam novel persis seperti kisah aslinya. Novel pertama kali dicetak tahun 2005 dengan judul asli Banat al-Riyadh oleh Saqi Books di Arab Saudi. Namun tidak lama setelah itu dilarang peredarannya oleh pihak kerajaan Arab Saudi karena menimbulkan kontroversi dan muncul berbagai tudingan miring terhadap novel tersebut meski sebenarnya novel ini membongkar kemunafikan masyarakatnya. Salah satu contoh adalah hubungan seks pramartial bagi pasangan yang baru bertunangan sebenarnya telah menjadi rahasia umum di negeri itu.
Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang bahwa pergaulan antara lawan jenis di Arab Saudi tidaklah berbeda dengan muda-mudi di negara lain di mana tidak ada larangan atau batasan pergaulan antarjenis. Keberanian penulis novel untuk mengungkapkan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Arab Saudi menjadikan keistimewaan novel ini.
Pengungkapan kekecewaan seorang gadis atas pengkhianatan yang dialaminya justru dianggap telah menodai citra gadis Arab Saudi. Pemberontakan akan nilai-nilai konservatif masyarakat terhadap cinta dan seks meresahkan banyak orang. Bahkan, pada 9 Oktober 2006, dua orang warga negara Arab Saudi mengajukan keberatan atas novel tersebut ke pengadilan tinggi di Riyadh. Novel ini dianggap telah menistakan gadis Riyadh dan diduga salah menginterpretasikan Al Quran. Akan tetapi, di pasar gelap novel ini terus digandrungi, bahkan menjadi best seller di Timur Tengah dan kini telah diterjemahkan lebih dari dua puluh lima negara.
Di Arab Saudi, pergaulan lawan jenis sangat terbatas, bahkan diberlakukan jam malam bagi muda-mudi untuk berada di wilayah umum, seperti mal, pasar, atau kafe. Namun, bagaimanakah kehidupan di balik layar muda-mudi negeri itu ? Apakah mereka selalu disiplin mengenakan abaya dan kerudung? Ataukah mereka masih tertunduk malu ketika menatap lawan jenis ?
Semua imaji itu akan hilang ketika kita membaca novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Novel itu diangkat dari kisah nyata kehidupan dan pengalaman cinta empat orang gadis dari kalangan atas di Arab Saudi. Di Riyadh-lah semua cerita ini berawal, dari bangku sekolah tingkat atas hingga mereka lulus menjadi sarjana.
Adalah Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais yang sering berkumpul dan saling berbagi cerita di rumah Ummy Nuwair, seorang wanita yang ditinggalkan suaminya. Mereka saling berbagi cerita dan mendukung satu sama lain meski terkadang mereka berbeda pendapat. Dari kisah pertemanan sehari-hari seperti itu kisah novel ini terjalin.
Apa yang dilakukan oleh keempat gadis dalam novel ini mungkin biasa bagi kebanyakan orang, khususnya di Asia, apalagi Eropa atau Amerika. Akan tetapi, tidak demikian bagi Arab Saudi, negara yang mendasarkan ini pada ajaran Islam dan sangat membatasi pergaulan lawan jenis. Suatu negara di mana misalnya, seorang perempuan tidak boleh sendirian di ruang publik tanpa ada keluarga yang menemani ataupun bagi wanita mengendarai mobil sendiri.
Bukan hanya aturan negara yang membatasi kehidupan mereka, tetapi budaya juga kuat menekan kehidupan pribadi mereka hingga ke persoalan cinta. Pun bagaimana seseorang menjalani kisah percintaannya harus sesuai dengan tuntutan budaya. Inilah yang dialami oleh empat gadis, seperti dikisahkan oleh narator dalam novel yang judul aslinya Banat al-Riyadh.
Cerita diawali dengan prosesi pernikahan Qamrah yang baru beberapa minggu menjalani kuliah di bidang sejarah. Malangnya, perkawinan itu ternyata semu ! Rasyid menikahi Qamrah hanya sekadar memenuhi keinginan keluarganya yang tidak menyetujui hubungannya dengan Karen, gadis keturunan Jepang.
Kebahagiaan perkawinan menjadi sangat singkat bagi Qamrah. Yang tertinggal justru kebencian dan dendam kepada mantan suaminya tersebut karena suaminya menceraikannya justru setelah tahu Qamrah hamil.
Saat Qamrah sedang gundah, Shedim, tokoh wanita lain dalam novel ini, justru sedang dimabuk cinta oleh Walid. Cinta yang berbunga dari Shedim justru hancur setelah dia menyerahkan seluruh cintanya secara utuh kepada Walid. Shedim tidak pernah mengerti mengapa Walid yang sangat bergairah dengan persetubuhan mereka malam itu justru langsung membatalkan pertunangan setelahnya.
Sementara itu, Michelle menemukan lelaki hebat bernama Faishal yang berpikiran maju dan mampu menerobos sekat-sekat budaya masyarakat Arab. Namun, Michelle pun akhirnya kecewa setelah tahu keluarga Paishal tidak menyetujui hubungan mereka hanya karena dia keturunan Amerika dan bukan asli Arab. Michelle tidak pernah menduga Faishal yang berpikiran sangat maju tunduk pada keinginan keluarga agar menikahi gadis asli Arab.
Berbagai gugatan pada budaya dan lelaki mengalir dengan lancar dalam novel tersebut, seperti Michelle yang tidak dapat menerima nilai poligami yang akrab dalam masyarakat Arab. Atau sikap seorang istri yang bahkan rela melamar gadis untuk menjadi istri kedua suaminya. Bahkan, Michelle merasa negeri itu keliru dalam menerjemahkan peraturan untuk membedakan mana yang seharusnya diurus oleh negara (ranah publik) dan yang menjadi masalah pribadi (ranah privat).
Jika Qamrah menjadi korban budaya masyarakat lokal yang hanya menerima menantu keturunan Arab, Shedim membenci kemunafikan dan kelemahan laki-laki dalam masyarakatnya. Cinta kedua Shedim dengan Faraz yang telah terjalin selama empat tahun pun harus kandas hanya karena Sedhim bukanlah calon menantu yang tepat bagi keluarga Faraz.
Benang merah budaya masyarakat lokal yang sangat melukai pengalaman cinta ketiga gadis tersebut terungkap dalam novel setebal 406 halaman ini. Kutipan puisi dalam bait-bait yang tertuang dalam novel ini pun sarat dengan pemberontakan dengan nilai-nilai patriarki masyarakat Arab, seperti salah satu bait Nizar Qabany yang dikutip oleh Narator;
Kita masih hidup dalam logika kunci dan gembok
Melipat kaum perempuan dalam gumpalan kapas, Menguburnya dalam pasir, Memilikinya seperti benda,
Melipat kaum perempuan dalam gumpalan kapas, Menguburnya dalam pasir, Memilikinya seperti benda,
Kehidupan terus berlanjut hingga akhirnya para gadis-gadis itu menjadi lebih kuat dan mandiri. Ketika Faishal dan Faraz menawarkan hubungan yang ganjil setelah kedua laki-laki itu menikah, dengan tegas Shedim dan Michelle menolaknya. Hal itu karena sama saja dengan membenarkan kepicikan laki-laki untuk mengabaikan istri mereka dengan alasan "pilihan keluarga".
Kisah dalam novel ini pada awalnya adalah surat elektronik (e-mail) dari penulis yang menceritakan tentang pengalaman hidup empat orang temannya yang dikirimkan ke berbagai mailing list di Arab Saudi setiap Jumat siang. Lambat laun kisah ini menjadi perbincangan umum di setiap Sabtu dan Minggu. Berbagai komentar pun muncul, baik yang ikut bersimpati terhadap kisah mereka maupun yang membenci surat-surat itu karena dianggap menyebarkan aib masyarakat. Bahkan, surat kabar lokal menuliskan gejala baru di masyarakat yang berkumpul pa da Sabtu siang di kafe untuk membicarakan surat elektronik dari gadis yang tidak pernah menyebutkan identitas aslinya itu.
Atas persetujuan keempat temannya, Rajaa Al Sanea menuangkan cerita itu dalam novel persis seperti kisah aslinya. Novel pertama kali dicetak tahun 2005 dengan judul asli Banat al-Riyadh oleh Saqi Books di Arab Saudi. Namun tidak lama setelah itu dilarang peredarannya oleh pihak kerajaan Arab Saudi karena menimbulkan kontroversi dan muncul berbagai tudingan miring terhadap novel tersebut meski sebenarnya novel ini membongkar kemunafikan masyarakatnya. Salah satu contoh adalah hubungan seks pramartial bagi pasangan yang baru bertunangan sebenarnya telah menjadi rahasia umum di negeri itu.
Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang Novel ini telah menyentakkan kesadaran orang bahwa pergaulan antara lawan jenis di Arab Saudi tidaklah berbeda dengan muda-mudi di negara lain di mana tidak ada larangan atau batasan pergaulan antarjenis. Keberanian penulis novel untuk mengungkapkan hal-hal yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Arab Saudi menjadikan keistimewaan novel ini.
Pengungkapan kekecewaan seorang gadis atas pengkhianatan yang dialaminya justru dianggap telah menodai citra gadis Arab Saudi. Pemberontakan akan nilai-nilai konservatif masyarakat terhadap cinta dan seks meresahkan banyak orang. Bahkan, pada 9 Oktober 2006, dua orang warga negara Arab Saudi mengajukan keberatan atas novel tersebut ke pengadilan tinggi di Riyadh. Novel ini dianggap telah menistakan gadis Riyadh dan diduga salah menginterpretasikan Al Quran. Akan tetapi, di pasar gelap novel ini terus digandrungi, bahkan menjadi best seller di Timur Tengah dan kini telah diterjemahkan lebih dari dua puluh lima negara.
Sunday, September 14, 2008

RIYADH UNDERCOVER
Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang Selama Ini Dianggap Sudah Mapan dan Kebal Hukum
(Mohamad Asrory Mulki, Koran Jakarta, September 2008)
(Mohamad Asrory Mulki, Koran Jakarta, September 2008)
Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi yang terus menerjang setiap inci kehidupan manusia, tradisi tidak sekadar dianggap sebagai warisan nenek moyang, tapi juga sebagai nilai-nilai luhur yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Dalam keyakinan sebagian orang, hanya dengan mematuhi tradisi, kemuliaan dan kebahagiaan hidup akan dicapai.
Novel The Girls of Riyadh buah karya Rajaa Al Sanea, alumnus King Saud University dan kini menyandang gelar dokter gigi, mencoba mendobrak tradisi kelam di Riyadh yang dianggapnya sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, tradisi yang tidak menghargai kebebasan dan hak-hak individu harus dilawan dan dihapuskan, karena itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.
Atas dasar itu, Al Sanea (waktu itu namanya disamarkan) harus membeberkan kisah kelam keempat sahabatnya: Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman, sebagai bahan pertimbangan untuk direnungkan dan diperhatikan masyarakat Riyadh. Melalui kisah nyata ini, penulis mengirimkan e-mail setiap Jumat siang kepada sebagian besar pengguna Internet di seluruh Saudi.
Dalam e-mailnya dikatakan bahwa Qamrah, Shedim, Lumeis, dan Michelle adalah wanita-wanita semiekslusif di tengah pergulatan masyarakat Riyadh, dan sering kali mereka tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang masyarakat dan budaya kecuali yang kebetulan mereka dengar dan saksikan. Kehidupan mereka cenderung dieksklusi dari hal-hal yang berbau modern dan inklusif. Ketaatan pada tradisi harus selalu mereka utamakan apa pun risikonya.
Sehingga, dalam soal pernikahan, keempat sahabat ini harus tunduk pada tradisi keluarga calon suami mereka masing-masing. Michelle misalnya, harus menggagalkan pernikahanya dengan Faishal, lelaki pujaanya, hanya karena keluarga Faishal tidak menerima Michelle yang memiliki darah campuran (Amerika-Saudi). Begitu pula dengan Shedim harus membatalkan pernikahanya dengan Walid hanya karena dianggap tidak sederajat dengan keluarga Walid. Sementara Qamrah harus hidup sebatang kara dengan anak laki-lakinya, Soleh, hanya karena Rasyid (suami Qamrah) menuduh istrinya tidak bisa menjadi pendamping impianya dan tidak taat pada tradisi yang berlaku di Riyadh.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah memilukan dari keempat gadis Riyadh itu. Singkatnya, mereka harus menanggung rentetan penderitaan hanya karena terbentur oleh tradisi yang berlaku. Mereka harus berpisah dengan laki-laki pujaanya dan meratapi cintanya yang kandas di tengah jalan. Hingga pada akhirnya, apa yang terjadi? Untuk mendapatkan seorang suami, mereka harus menerima laki-laki yang mereka tidak cintai. Sungguh tragis dan memilukan jalan hidup yang harus mereka lalui.
Kisah ini cukup menggemparkan jagat Saudi. Sehingga di setiap Sabtu pagi, fenomena heboh ini telah mengubah kantor-kantor pemerintahan, aula perguruan tinggi, teras rumah sakit, dan tempat-tempat lainya menjadi ruang diskusi mempersoalkan e-mail itu. Setiap orang melibatkan diri dalam diskusi ini, dari para dosen, guru, sastrawan, intelektual, mahasiswa, pejabat pemerintahan, hingga masyarakat biasa.
Pro-kontra pun terjadi. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentang perbuatan keempat gadis itu. Bagi yang pro, apa yang dilakukan keempat gadis itu merupakan kewajaran dan alami saja sifatnya. Sementara bagi yang kontra, kemarahan dan kejengkelan dialamatkan kepada keempatnya atas perbuatan bodoh yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilestarikan.
Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang selama ini dianggap sudah mapan dan kebal hukum. Kehadirannya telah memukul banyak pihak, lantaran peristiwa yang terungkap di dalamnya tidak saja dianggap sebagai sebuah pencemaran tetapi juga dianggap sebagai upaya merobek dan mencabik-cabik moral sebuah bangsa.
MohamadAsrori Mulky Peresensi adalah analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta
Novel The Girls of Riyadh buah karya Rajaa Al Sanea, alumnus King Saud University dan kini menyandang gelar dokter gigi, mencoba mendobrak tradisi kelam di Riyadh yang dianggapnya sudah tidak lagi relevan. Menurutnya, tradisi yang tidak menghargai kebebasan dan hak-hak individu harus dilawan dan dihapuskan, karena itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.
Atas dasar itu, Al Sanea (waktu itu namanya disamarkan) harus membeberkan kisah kelam keempat sahabatnya: Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman, sebagai bahan pertimbangan untuk direnungkan dan diperhatikan masyarakat Riyadh. Melalui kisah nyata ini, penulis mengirimkan e-mail setiap Jumat siang kepada sebagian besar pengguna Internet di seluruh Saudi.
Dalam e-mailnya dikatakan bahwa Qamrah, Shedim, Lumeis, dan Michelle adalah wanita-wanita semiekslusif di tengah pergulatan masyarakat Riyadh, dan sering kali mereka tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang masyarakat dan budaya kecuali yang kebetulan mereka dengar dan saksikan. Kehidupan mereka cenderung dieksklusi dari hal-hal yang berbau modern dan inklusif. Ketaatan pada tradisi harus selalu mereka utamakan apa pun risikonya.
Sehingga, dalam soal pernikahan, keempat sahabat ini harus tunduk pada tradisi keluarga calon suami mereka masing-masing. Michelle misalnya, harus menggagalkan pernikahanya dengan Faishal, lelaki pujaanya, hanya karena keluarga Faishal tidak menerima Michelle yang memiliki darah campuran (Amerika-Saudi). Begitu pula dengan Shedim harus membatalkan pernikahanya dengan Walid hanya karena dianggap tidak sederajat dengan keluarga Walid. Sementara Qamrah harus hidup sebatang kara dengan anak laki-lakinya, Soleh, hanya karena Rasyid (suami Qamrah) menuduh istrinya tidak bisa menjadi pendamping impianya dan tidak taat pada tradisi yang berlaku di Riyadh.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah memilukan dari keempat gadis Riyadh itu. Singkatnya, mereka harus menanggung rentetan penderitaan hanya karena terbentur oleh tradisi yang berlaku. Mereka harus berpisah dengan laki-laki pujaanya dan meratapi cintanya yang kandas di tengah jalan. Hingga pada akhirnya, apa yang terjadi? Untuk mendapatkan seorang suami, mereka harus menerima laki-laki yang mereka tidak cintai. Sungguh tragis dan memilukan jalan hidup yang harus mereka lalui.
Kisah ini cukup menggemparkan jagat Saudi. Sehingga di setiap Sabtu pagi, fenomena heboh ini telah mengubah kantor-kantor pemerintahan, aula perguruan tinggi, teras rumah sakit, dan tempat-tempat lainya menjadi ruang diskusi mempersoalkan e-mail itu. Setiap orang melibatkan diri dalam diskusi ini, dari para dosen, guru, sastrawan, intelektual, mahasiswa, pejabat pemerintahan, hingga masyarakat biasa.
Pro-kontra pun terjadi. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentang perbuatan keempat gadis itu. Bagi yang pro, apa yang dilakukan keempat gadis itu merupakan kewajaran dan alami saja sifatnya. Sementara bagi yang kontra, kemarahan dan kejengkelan dialamatkan kepada keempatnya atas perbuatan bodoh yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilestarikan.
Novel ini menggugat tradisi di Arab Saudi yang selama ini dianggap sudah mapan dan kebal hukum. Kehadirannya telah memukul banyak pihak, lantaran peristiwa yang terungkap di dalamnya tidak saja dianggap sebagai sebuah pencemaran tetapi juga dianggap sebagai upaya merobek dan mencabik-cabik moral sebuah bangsa.
MohamadAsrori Mulky Peresensi adalah analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta
Tuesday, May 27, 2008

PENCARIAN CINTA SEJATI EMPAT GADIS ARAB
Pemerintah Saudi bahkan melarang rajutan kisah dramatis terhadap realitas kelam kehidupan para perempuan Arab Saudi itu beredar. Namun, hak terjemahan buku setebal 406 halaman ini justru sudah terjual lebih dari 25 negara, termasuk Indonesia.(Wasis Wibowo, Seputar Indonesia, Mei 2008)
Begitu diterbitkan pada 2005, The Girls of Riyadh langsung membuat gempar. Pemerintah Saudi bahkan melarang rajutan kisah dramatis terhadap realitas kelam kehidupan para perempuan Arab Saudi itu beredar. Namun, hak terjemahan buku setebal 406 halaman ini justru sudah terjual lebih dari 25 negara, termasuk Indonesia.Di mana sebenarnya letak keunggulan TheGirls of Riyadh?
Buku yang diadopsi dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan empat perempuan Arab dalam mencari cinta yang mereka impikan. Sayang, dalam pencarian cinta sejati itu baik Qamrah, Shedim, Michelle maupun Lumeis justru dihadapkan pada jalan pahit berliku.
Qamrah yang menikah dengan Rasyid mulanya merasa kehidupannya berjalan bahagia. Rasyid pemuda dari keluarga terhormat dan memiliki pendidikan tinggi di AS. Bahkan, Qamrah rela meninggalkan kuliah untuk mengikut suaminya pindah ke negeri Paman Sam.
Namun, di sana ia hanya menemukan kepedihan. Qamrah dicampakkan karena Rasyid lebih tertarik pada perempuan asal Jepang bernama Karai. la kembali ke Saudi dalam keadaan hamil dengan hati hancur.
Shedimpun demikian. la ditunangkan dengan Walid, pemuda tampan dari keluarga berada dan terhormat. Gadis yang tak ingin kuliahnya ter-bengkalai karena menikah itu justru menjumpai petaka setelah memberikan segalanya kepada Walid sebelum pernikahannya diresmikan.
Michelle yang berdarah campuran Amerika-Arab terpikat dengan Faishal. Di matanya, Faishal adalah pemuda Arab yang tampan, trendi, dan modern. Namun, harapannya kandas karena Faishal ternyata berhati pengecut dan tak bisa menolak perjodohan yang ditetapkan keluarganya.
Sementara Lumeis yang sedikit tomboi dan tak mudah luluh di hadapan lelaki akhirnya bertekuk lutut di hadapan Nizar yang mencintainya sepenuh hati. Mahasiswi kedokteran ini pun mendapatkan segalanya; cinta sejati, lulus kuliah dengan predikat terbaik, dan pekerjaan tetap. Apakah Lumeis akhirnyabahagia atau bernasib sama dengan tiga sahabatnya? (wasis wibowo)
Tuesday, March 25, 2008

PARA PEREMPUAN MELAWAN TRADISI
Novel ini menjadi menarik karena dalam kultur masyarakat Arab perempuan tidak mempunyai kebebasan dalam memutuskan sesuatu, semua hal yang menyangkut hidupnya ditentukan oleh laki-laki, termasuk masalah perjodohan(Tabloid Jumat, 28-Maret-2008).
Novel yang ditulis oleh seorang perempuan muda lulusan King Saud University ini bukanlah novel ciklit biasa. Ketertarikannya pada dunia membaca dan menulis mendorongnya membukukan pengalaman nyata teman-teman perempuannyanya di Riyadh. Novel yang diangkat melalui email bersambung kepada para gadis muda yang rnelakukan chatting di sebuah grup online ini merupakan kisah nyata kehidupan sebagian gadis di Arab Saudi dalam mengejar pendidikan tinggi, karier dan mencari cinta sejati. Novel ini menjadi menarik karena dalam kultur masyarakat Arab perempuan tidak mempunyai kebebasan dalam memutuskan sesuatu, semua hal yang menyangkut hidupnya ditentukan oleh laki-laki, termasuk masalah perjodohan.
Penulis buku ini mencoba menyingkap tabir yang selama ini menutup realitas kaum perempuan di Riyadh melalui pesan-pesan email yang ditulisnya. Fenomena yang terpendam itu akhirnya menyembul jelas di depan mata kita. Sungguh sebuah realitas yang mencengangkan, haru, lucu sedih dan bahagia. Kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim dan Lumeis. Keempat gadis itu rupawan, mereka bersahabat dalam suka dan duka. Qamrah dan Shedim berteman sejak duduk di sekolah dasar dan di bangku sekolah menengah atas mereka mengenal Michelle alias Masya'il dari ibu yang berkebangsaan Amerika. Lumeis sendiri adalah teman Michelle di sekolah Internasional. Setiap minggu selepas shalat jum'at melalui email dan chatting di dunia maya mereka saling curhat Dalam perjalalan hidup mereka, Qamrahlah yang menikah lebih dahulu, seperti kebanyakan para gadis, pernikahan Qamrah juga sudah diatur oleh keluarganya. Para sahabatnya menyayangkan pernikahan Qamrah apalagi kemudian ia tidak bahagia dalam kehidupan pernikahannya. Suami Qamrah, Rasyid sangat egois ia hanya memikirkan dirinya sendiri bahkan ia justru dengan kasar memaki dan memukul istrinya ketika Ia kedapatan tengah berselingkuh dengan teman wanitanya yang berkebagsaan Jepang. Qamrah yang merasa harga dirinya dilecehkan meminta untuk bercerai.
Tak lama setelah Qamrah menikah, Shedim dilamar oleh Walid, pegawai eselon II dan Lumeis menikah dengan Nizar teman magang kuliahnya di Kedokteran Umum rumah sakit di Jeddah. Dari keempat sahabat itu hanya kehidupan rumah tangga Lumeis yang berakhir bahagia. Satu persatu cinta mereka runtuh dihantam badai. Selingkuh, kawin paksa, tak direstui keluarga, dan perbedaan agama menjadi sebab padamya cinta mereka. Lewat keempat tokohnya ini, Al Sanea menumpahkan kegalauan hatinya, bahwa bagi perempuan Arab, perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas dan persahabatan. Lebih dari itu perkawinan adalah kesedihan, penyesanlan dan duka cita
.
Jatuh bangun mencari cinta tak membuat keempat gadis muda itu putus asa mencari cinta. Berbagai cara mereka tempuh untuk menemukan tambatan hati yang mereka idamkan sampai pada sutu titik intervensi keluarga yang luar biasa merobohkan bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan. Dalam perjalanan cinta mereka, Shedim dan Lumeis akhirnya menemukan cinta dalam kehidupan perkawinannya. Untuk menemukan cinta seseorang tidak selalu perlu cinta untuk memutuskan menerima orang lain, juga tidak selalu harus orang nomor satu yang begitu sempurna untuk menjadi pendamping hidup. Cinta yang membawa ke bangunan menara kebahagiaan bagaikan cinta yang tumbuh perlahan-lahan dari biji yang disemai tentu akan lebih kuat dibandingkan cinta yang mengebu-gebu dan penuh hasrat.
Penulis buku ini mencoba menyingkap tabir yang selama ini menutup realitas kaum perempuan di Riyadh melalui pesan-pesan email yang ditulisnya. Fenomena yang terpendam itu akhirnya menyembul jelas di depan mata kita. Sungguh sebuah realitas yang mencengangkan, haru, lucu sedih dan bahagia. Kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim dan Lumeis. Keempat gadis itu rupawan, mereka bersahabat dalam suka dan duka. Qamrah dan Shedim berteman sejak duduk di sekolah dasar dan di bangku sekolah menengah atas mereka mengenal Michelle alias Masya'il dari ibu yang berkebangsaan Amerika. Lumeis sendiri adalah teman Michelle di sekolah Internasional. Setiap minggu selepas shalat jum'at melalui email dan chatting di dunia maya mereka saling curhat Dalam perjalalan hidup mereka, Qamrahlah yang menikah lebih dahulu, seperti kebanyakan para gadis, pernikahan Qamrah juga sudah diatur oleh keluarganya. Para sahabatnya menyayangkan pernikahan Qamrah apalagi kemudian ia tidak bahagia dalam kehidupan pernikahannya. Suami Qamrah, Rasyid sangat egois ia hanya memikirkan dirinya sendiri bahkan ia justru dengan kasar memaki dan memukul istrinya ketika Ia kedapatan tengah berselingkuh dengan teman wanitanya yang berkebagsaan Jepang. Qamrah yang merasa harga dirinya dilecehkan meminta untuk bercerai.
Tak lama setelah Qamrah menikah, Shedim dilamar oleh Walid, pegawai eselon II dan Lumeis menikah dengan Nizar teman magang kuliahnya di Kedokteran Umum rumah sakit di Jeddah. Dari keempat sahabat itu hanya kehidupan rumah tangga Lumeis yang berakhir bahagia. Satu persatu cinta mereka runtuh dihantam badai. Selingkuh, kawin paksa, tak direstui keluarga, dan perbedaan agama menjadi sebab padamya cinta mereka. Lewat keempat tokohnya ini, Al Sanea menumpahkan kegalauan hatinya, bahwa bagi perempuan Arab, perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas dan persahabatan. Lebih dari itu perkawinan adalah kesedihan, penyesanlan dan duka cita
.
Jatuh bangun mencari cinta tak membuat keempat gadis muda itu putus asa mencari cinta. Berbagai cara mereka tempuh untuk menemukan tambatan hati yang mereka idamkan sampai pada sutu titik intervensi keluarga yang luar biasa merobohkan bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan. Dalam perjalanan cinta mereka, Shedim dan Lumeis akhirnya menemukan cinta dalam kehidupan perkawinannya. Untuk menemukan cinta seseorang tidak selalu perlu cinta untuk memutuskan menerima orang lain, juga tidak selalu harus orang nomor satu yang begitu sempurna untuk menjadi pendamping hidup. Cinta yang membawa ke bangunan menara kebahagiaan bagaikan cinta yang tumbuh perlahan-lahan dari biji yang disemai tentu akan lebih kuat dibandingkan cinta yang mengebu-gebu dan penuh hasrat.
Wednesday, March 05, 2008

THE GIRLS OF RIYADH
EMAIL BERANTAI YANG MENGHEBOHKAN JAGAT RIYADH
EMAIL BERANTAI YANG MENGHEBOHKAN JAGAT RIYADH
Category : Books
Genre : Nonfiction
Author : Rajaa Al Sanea
Judul Buku: The Girls of Riyadh
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan I : Desember 2007
Tebal Buku: 406 halaman
Author : Rajaa Al Sanea
Judul Buku: The Girls of Riyadh
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan I : Desember 2007
Tebal Buku: 406 halaman
"Dari segi isi, menurutku, buku ini menarik. Gambaran protes sempurna dari seorang feminis tulen yang telah melanglang buana. Yang melihat budaya asal harus segera direformasi demi sebuah kemajuan". (Eva Nurfalah)
Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur tengah lainnya.
Saat kulihat sampul buku ini yang bertuliskan “ International Bestseller” dan “Kisah Nyata, Dilarang Beredar di Saudi Arabia”, keinginantahuanku membuncah. Entahlah, terkadang adrenalin harus dipacu oleh sebuah kalimat yang menggelitik sanubari hingga penasaran menjalar dalam setiap denyut nadi.
Tokoh utama dalam buku terbitan Ufuk Publishing House ini adalah 4 orang gadis Saudi yang menjalin persahabatan sejak kanak-kanak. Mereka adalah : Qamrah, Shedim, Lumeis dan Michelle yang kisah-kisah kehidupan mereka di ceritakan kembali oleh tokoh yang bernama “Aku”.
Buku ini menceritakan berbagai hal yang dialami keempat sahabat itu dalam menghadapi adat istiadat Arab yang keras yang telah membuat mereka tidak merasa berdaya dalam kehidupan.“Pada masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan. Para penempat ruang-ruang perintah. Berjalan, tersenyum dan menari , semuanya sesuai perintah. Benar-benar tak terbatas keterbatasan mereka. Teramat sempurna kelemahannya. Tak ada peluang untuk bergeser dan menggeser nasib. Roda seperti tak berputar. Waktu bak berhenti. Seakan takdirnya hanyalah untuk lebih cepat mati...”
Menurutku, buku ini dan email berantai yang penulis kirimkan merupakan sebuah bentuk protes atas kerasnya gading keangkuhan dan budaya setempat. Seperti diketahui, bahwa budaya Arab memang mengatur para wanita untuk selalu menerima apa yang telah digariskan keluarga bagi dirinya. Terlebih yang berhubungan dengan masa depan mereka. Jodoh. Mereka harus rela menerima pinangan seorang laki-laki yang telah diseleksi keluarga. Walaupun pada akhirnya hanya derita yang harus mereka rasakan.
Penulis juga memprotes atas sakleknya aturan berinteraksi antara wanita dan pria Arab. Dikisahkan, bila diketahui ada 2 orang berlainan jenis ngobrol di ruang terbuka, bisa dipastikan keduanya akan dijebloskan ke dalam sel tahanan! Meski pertemuan dua orang itu dalam rangka berdiskusi mengenai mata kuliah atau sejenisnya.
Dari segi isi, menurutku, buku ini menarik. Gambaran protes sempurna dari seorang feminis tulen yang telah melanglang buana. Yang melihat budaya asal harus segera direformasi demi sebuah kemajuan.
Bahasanya lumayan bisa dicerna bila kita membaca buku ini tanpa gangguan apapun atau konsentrasi yang terpecah. Hanya alur cerita yang sering meloncat dari satu tokoh ke tokoh yang lain secara tiba-tiba yang mengganggu proses cerna isi cerita secara keseluruhan. Entahlah, mungkin aku yang tak terlalu pandai mencerna kata.
Dari segi cover, juga cukup menggambarkan tipikal wajah-wajah perempuan Arab pada umumnya dan warna hitam juga memberikan informasi bahwa ada sisi gelap dari kehidupan yang dialami para wanita Arab yang akan diungkap dalam buku ini.
Kertas yang digunakan di buku ini memang lain dari buku cetakan penerbit lain. Buku ini menggunakan kertas koran yang bagiku gak ada bedanya dengan kertas jenis lain selama isi buku bisa dinikmati seutuhnya. Sayangnya kaver buku ini seringkali melengkung akibat semakin banyaknya halaman yang dibuka walaupun cara membacaku cukup rapi. Kedua sisi buku sama terbukanya. Tanpa dilipat.
Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sebagai sebuah bacaan yang tidak cukup ringan namun juga tidak terlalu berat. So, perlu cukup waktu untuk bisa membaca buku ini secara tuntas dengan proses cerna yang menyeluruh. Tapi lumayan untuk penambah pengetahuan tentang kehidupan perempuan Arab, khususnya di Saudi.
Saat kulihat sampul buku ini yang bertuliskan “ International Bestseller” dan “Kisah Nyata, Dilarang Beredar di Saudi Arabia”, keinginantahuanku membuncah. Entahlah, terkadang adrenalin harus dipacu oleh sebuah kalimat yang menggelitik sanubari hingga penasaran menjalar dalam setiap denyut nadi.
Tokoh utama dalam buku terbitan Ufuk Publishing House ini adalah 4 orang gadis Saudi yang menjalin persahabatan sejak kanak-kanak. Mereka adalah : Qamrah, Shedim, Lumeis dan Michelle yang kisah-kisah kehidupan mereka di ceritakan kembali oleh tokoh yang bernama “Aku”.
Buku ini menceritakan berbagai hal yang dialami keempat sahabat itu dalam menghadapi adat istiadat Arab yang keras yang telah membuat mereka tidak merasa berdaya dalam kehidupan.“Pada masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan. Para penempat ruang-ruang perintah. Berjalan, tersenyum dan menari , semuanya sesuai perintah. Benar-benar tak terbatas keterbatasan mereka. Teramat sempurna kelemahannya. Tak ada peluang untuk bergeser dan menggeser nasib. Roda seperti tak berputar. Waktu bak berhenti. Seakan takdirnya hanyalah untuk lebih cepat mati...”
Menurutku, buku ini dan email berantai yang penulis kirimkan merupakan sebuah bentuk protes atas kerasnya gading keangkuhan dan budaya setempat. Seperti diketahui, bahwa budaya Arab memang mengatur para wanita untuk selalu menerima apa yang telah digariskan keluarga bagi dirinya. Terlebih yang berhubungan dengan masa depan mereka. Jodoh. Mereka harus rela menerima pinangan seorang laki-laki yang telah diseleksi keluarga. Walaupun pada akhirnya hanya derita yang harus mereka rasakan.
Penulis juga memprotes atas sakleknya aturan berinteraksi antara wanita dan pria Arab. Dikisahkan, bila diketahui ada 2 orang berlainan jenis ngobrol di ruang terbuka, bisa dipastikan keduanya akan dijebloskan ke dalam sel tahanan! Meski pertemuan dua orang itu dalam rangka berdiskusi mengenai mata kuliah atau sejenisnya.
Dari segi isi, menurutku, buku ini menarik. Gambaran protes sempurna dari seorang feminis tulen yang telah melanglang buana. Yang melihat budaya asal harus segera direformasi demi sebuah kemajuan.
Bahasanya lumayan bisa dicerna bila kita membaca buku ini tanpa gangguan apapun atau konsentrasi yang terpecah. Hanya alur cerita yang sering meloncat dari satu tokoh ke tokoh yang lain secara tiba-tiba yang mengganggu proses cerna isi cerita secara keseluruhan. Entahlah, mungkin aku yang tak terlalu pandai mencerna kata.
Dari segi cover, juga cukup menggambarkan tipikal wajah-wajah perempuan Arab pada umumnya dan warna hitam juga memberikan informasi bahwa ada sisi gelap dari kehidupan yang dialami para wanita Arab yang akan diungkap dalam buku ini.
Kertas yang digunakan di buku ini memang lain dari buku cetakan penerbit lain. Buku ini menggunakan kertas koran yang bagiku gak ada bedanya dengan kertas jenis lain selama isi buku bisa dinikmati seutuhnya. Sayangnya kaver buku ini seringkali melengkung akibat semakin banyaknya halaman yang dibuka walaupun cara membacaku cukup rapi. Kedua sisi buku sama terbukanya. Tanpa dilipat.
Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sebagai sebuah bacaan yang tidak cukup ringan namun juga tidak terlalu berat. So, perlu cukup waktu untuk bisa membaca buku ini secara tuntas dengan proses cerna yang menyeluruh. Tapi lumayan untuk penambah pengetahuan tentang kehidupan perempuan Arab, khususnya di Saudi.
29/1/08
Tags: ufuk publishing
Next: CLOVERFIELD – Cinta Sampai Mati

MENJADI APA ADANYA
Baca sendiri saja buku yang diambil dari kisah nyata ini. Isinya yang frontal membuat buku ini langsung dilarang beredar di sana. Laris di pasar gelap dengan terjemahan ke dalam 25 bahasa, terbukti mahalnya harga sebuah kebenaran
(Majalah COSMOPOLITAN, Ed.Maret 2008)
(Majalah COSMOPOLITAN, Ed.Maret 2008)
Tiap Jumat, seseorang yang tak dikenal menulis cerita menggemparkan tentang empat orang sahabat wanitanya di Riyadh, Saudi Arabia, yang bernama Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumeis, via e-mail ke febuah milis. Isinya begitu menghebohkan, mengungkap tabir wanita muda yang sebenarnya di Riyadh. Meski berlatar belakang pendidikan dan strata sosial yang tinggi, mereka tetap harus takluk terhadap adat dan tradisi nenek moyang juga aturan pemerintah yang super ketat dan konservatif, hingga harus mengejar cinta dengan cara mereka sendiri.
Ada Qamrah yang harus rela menikah dengan pria pilihan keluarganya. Shedim yang ditinggal pergi oleh tunangannya setelah mereka berhubungan intim. Lalu Michelle, wanita keturunan Saudi - Amerika, yang hubungan cintanya dengan Faisai harus berakhir karena ia wanita pilihan Faisai, bukan pilihan orang tuanya.
Bagaimana dengan Lumeis? Baca sendiri saja buku yang diambil dari kisah nyata ini. Isinya yang frontal membuat buku ini langsung dilarang beredar di sana. Laris di pasar gelap dengan terjemahan ke dalam 25 bahasa, terbukti mahalnya harga sebuah kebenaran.
"Kontroverstal. Cukup membuat saya terkejut dengan kenyataan-kenyataan yang ada di dalamnya. Saya sendiri baru tahu kalau sudah lewat Isya, pria tidak boleh masuk ke dalam mal seorang diri. Tak terbayang kalau saya lahir di sana dan harus mengikuti aturan- aturan yang, menurut saya, begitu mengekang."—Diana, 28 tahun.
"Mereka semua masih berstatus ma-hasiswa, tapi kok rasa-rasanya cobaan hidup sudah sangat berat ya? Padahal mereka berasal dari keluarga berada dengan latar belakang pendidikan tinggi. Bagaimana dengan nasib wanita lain dengan status sosial yang beda?" —Tiara, 23 tahun.
Ada Qamrah yang harus rela menikah dengan pria pilihan keluarganya. Shedim yang ditinggal pergi oleh tunangannya setelah mereka berhubungan intim. Lalu Michelle, wanita keturunan Saudi - Amerika, yang hubungan cintanya dengan Faisai harus berakhir karena ia wanita pilihan Faisai, bukan pilihan orang tuanya.
Bagaimana dengan Lumeis? Baca sendiri saja buku yang diambil dari kisah nyata ini. Isinya yang frontal membuat buku ini langsung dilarang beredar di sana. Laris di pasar gelap dengan terjemahan ke dalam 25 bahasa, terbukti mahalnya harga sebuah kebenaran.
"Kontroverstal. Cukup membuat saya terkejut dengan kenyataan-kenyataan yang ada di dalamnya. Saya sendiri baru tahu kalau sudah lewat Isya, pria tidak boleh masuk ke dalam mal seorang diri. Tak terbayang kalau saya lahir di sana dan harus mengikuti aturan- aturan yang, menurut saya, begitu mengekang."—Diana, 28 tahun.
"Mereka semua masih berstatus ma-hasiswa, tapi kok rasa-rasanya cobaan hidup sudah sangat berat ya? Padahal mereka berasal dari keluarga berada dengan latar belakang pendidikan tinggi. Bagaimana dengan nasib wanita lain dengan status sosial yang beda?" —Tiara, 23 tahun.

GADIS RIYADH MENCARI CINTA
Jatuh-bangun mencari cinta, keempat sahabat ini tak kapok mencari cinta platonik mereka. Beragam cara, jalan, dan jalur mereka tempuh untuk mencari tambatan hati. Sampai pada satu titik, intervensi yang luar biasa dari keluarga besar menghancurkan semua bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan (Koran Tempo, Maret 2008)
Kalau saja lokasi ceritanya bukan di Arab Saudi, novel ini pasti sudah masuk ranah novel chicklit biasa . Garis besar ceritanya tak jauh-jauh dari kisah gadis-gadis dari keluarga makmur di awal usia 20-an tahun, yang mengejar pendidikan tinggi, karier, dan cinta sejati. Apalagi ketika tahu penulisnya perempuan, saya sudah berprasangka duluan, novel ini pastilah sangat girly.
Tapi, karena sepak terjang tokoh-tokoh novel itu berlangsung di Arab Saudi — yang terinspirasi oleh ide Muhammad bin Atadul Wahhab (1703-1792) dalam menegakkan Islam di setiap laku bernegara dan bermasyarakat— karya perdana Al-Sanea ini menggoda lebih dari chicklit populer. Kisahnya pun diadopsi dari kisah nyata empat sobat Al-Sanea dengan nama yang disamarkan.
Cerita dalam The Girls of Riyadh pertama kali beredar di Internet pada 2004. Setiap pekan, sehabis salat Jumat, Al-Sanea mengirim surat elektronik bersambung kepada teman-teman dunia mayanya. Pada 2005 rangkaian tulisan tentang empat sahabat tersebut dikumpulkan menjadi sebuah novel berbahasa Arab yang membuat marah penguasa Kerajaan Saudi.
Empat gadis Riyadh itu adalah Qamrah, Shedim, Michelle, dan Lumeis. Keempat perempuan rupawan ini adalah sahabat dalam suka dan duka. Qamrah dan Shedim berteman sejak kelas II SD. Saat kelas II SMA, mereka mendapat teman baru bernama Michelle alias Masya'il, yang beribu orang Amerika. Karena kendala bahasa, Michelle pindah ke sekolah internasional dan berkenalan dengan Lumeis.
Empat sekawan ini bukanlah gadis-gadis yang sangat saleh. Sedikit alkohol di malam "pesta bujang" Qamrah bukan masalah buat mereka. Di antara mereka, Qamrahlah yang paling dulu menikah dengan pria pilihan keluarganya, Rasyid, mahasiswa program doktoral teknik elektronika di San Francisco, Amerika. Meski tanpa cinta, ia bertekad meninggalkan kuliahnya demi mengabdikan hidup untuk sang suami.
Dalam "pesta bujang" itu, Michelle berkenalan dengan pria tampan bernama Faishal. Tak lama setelah Qamrah menikah, Shedim dilamar oleh Walid, pegawai eselon II. Akan halnya Lumeis, dimasa magang kuliahnya di kedokteran umum di rumah sakit di Jeddah, bertemu dengan sesama peserta magang dari kampus lain, Nizar, Tak sampai tiga bulan berkenalan, Nizar melamar Lumeis.
Namun, satu per satu kisah cinta mereka runtuh dihantam badai. Selingkuh, kawin paksa, tidak direstui keluarga, pria yang tidak punya sikap, dan perbedaan pemahaman agama menjadi sebab padamnya lilin cinta mereka. Al-Sanea menggerutu, ”Di masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan.”
Lewat keempat tokoh ini, Al-Sanea menumpahkan pula keluh-kesahnya. Bahwa bagi perempuan-perempuan, perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal, dan dukacita. Karena itu, masing-masing berharap menjadi orang yang terakhir menyusul Qamrah.
Jatuh-bangun mencari cinta, keempat sahabat ini tak kapok mencari cinta platonik mereka. Beragam cara, jalan, dan jalur mereka tempuh untuk mencari tambatan hati. Sampai pada satu titik, intervensi yang luar biasa dari keluarga besar menghancurkan semua bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan.
Dalam perjalanan penuh keprihatinan, seorang dari mereka akhirnya menemukan bahwa tidak selalu perlu cinta untuk memutuskan menerima orang lain. Juga tidak harus selalu orang "nomor satu" yang menjadi pendamping hidup, ia harus puas bersanding dengan lelaki yang "lebih rendah".
Kalau sudah begini, jalan manakah yang benar? Jalan yang membawa ke menara kebahagiaan. Cinta yang menggebu-gebu, penuh hasrat, ataukah cinta yang tumbuh pelan-pelan dari biji yang disemai ? Keduanya tidak salah. Shedim menemukan jawabannya dan Lumeis juga.
Benarlah kiranya buah kata penyair kontemporer Suriah, Nizar Qabbani (1923-1998), "Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, ku tak akan mencinta. Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut. Kalau kutahu akhir semua kisah, takkan mungkin kumulai merajutnya.”
Tapi, karena sepak terjang tokoh-tokoh novel itu berlangsung di Arab Saudi — yang terinspirasi oleh ide Muhammad bin Atadul Wahhab (1703-1792) dalam menegakkan Islam di setiap laku bernegara dan bermasyarakat— karya perdana Al-Sanea ini menggoda lebih dari chicklit populer. Kisahnya pun diadopsi dari kisah nyata empat sobat Al-Sanea dengan nama yang disamarkan.
Cerita dalam The Girls of Riyadh pertama kali beredar di Internet pada 2004. Setiap pekan, sehabis salat Jumat, Al-Sanea mengirim surat elektronik bersambung kepada teman-teman dunia mayanya. Pada 2005 rangkaian tulisan tentang empat sahabat tersebut dikumpulkan menjadi sebuah novel berbahasa Arab yang membuat marah penguasa Kerajaan Saudi.
Empat gadis Riyadh itu adalah Qamrah, Shedim, Michelle, dan Lumeis. Keempat perempuan rupawan ini adalah sahabat dalam suka dan duka. Qamrah dan Shedim berteman sejak kelas II SD. Saat kelas II SMA, mereka mendapat teman baru bernama Michelle alias Masya'il, yang beribu orang Amerika. Karena kendala bahasa, Michelle pindah ke sekolah internasional dan berkenalan dengan Lumeis.
Empat sekawan ini bukanlah gadis-gadis yang sangat saleh. Sedikit alkohol di malam "pesta bujang" Qamrah bukan masalah buat mereka. Di antara mereka, Qamrahlah yang paling dulu menikah dengan pria pilihan keluarganya, Rasyid, mahasiswa program doktoral teknik elektronika di San Francisco, Amerika. Meski tanpa cinta, ia bertekad meninggalkan kuliahnya demi mengabdikan hidup untuk sang suami.
Dalam "pesta bujang" itu, Michelle berkenalan dengan pria tampan bernama Faishal. Tak lama setelah Qamrah menikah, Shedim dilamar oleh Walid, pegawai eselon II. Akan halnya Lumeis, dimasa magang kuliahnya di kedokteran umum di rumah sakit di Jeddah, bertemu dengan sesama peserta magang dari kampus lain, Nizar, Tak sampai tiga bulan berkenalan, Nizar melamar Lumeis.
Namun, satu per satu kisah cinta mereka runtuh dihantam badai. Selingkuh, kawin paksa, tidak direstui keluarga, pria yang tidak punya sikap, dan perbedaan pemahaman agama menjadi sebab padamnya lilin cinta mereka. Al-Sanea menggerutu, ”Di masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan.”
Lewat keempat tokoh ini, Al-Sanea menumpahkan pula keluh-kesahnya. Bahwa bagi perempuan-perempuan, perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreativitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal, dan dukacita. Karena itu, masing-masing berharap menjadi orang yang terakhir menyusul Qamrah.
Jatuh-bangun mencari cinta, keempat sahabat ini tak kapok mencari cinta platonik mereka. Beragam cara, jalan, dan jalur mereka tempuh untuk mencari tambatan hati. Sampai pada satu titik, intervensi yang luar biasa dari keluarga besar menghancurkan semua bangunan cinta yang dibangun perlahan-lahan.
Dalam perjalanan penuh keprihatinan, seorang dari mereka akhirnya menemukan bahwa tidak selalu perlu cinta untuk memutuskan menerima orang lain. Juga tidak harus selalu orang "nomor satu" yang menjadi pendamping hidup, ia harus puas bersanding dengan lelaki yang "lebih rendah".
Kalau sudah begini, jalan manakah yang benar? Jalan yang membawa ke menara kebahagiaan. Cinta yang menggebu-gebu, penuh hasrat, ataukah cinta yang tumbuh pelan-pelan dari biji yang disemai ? Keduanya tidak salah. Shedim menemukan jawabannya dan Lumeis juga.
Benarlah kiranya buah kata penyair kontemporer Suriah, Nizar Qabbani (1923-1998), "Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, ku tak akan mencinta. Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut. Kalau kutahu akhir semua kisah, takkan mungkin kumulai merajutnya.”
Tuesday, February 19, 2008
Penulis: Rajaa al Sanea
Penerbit: Ramala Books,
Tebal: 406 Halaman
Sekitar empat tahun yang lalu, penulis buku ini sempat membuat geger ara pengguna internet seantero Arab Saudi. Pasalnya, surat-surat elektornik yang ia kirimkan melalui mailist, secara berkala kerap melawan budaya di sana yang tabu untuk dieksploitasi.
Surat-suratnya bertutur soal kisah kehidupan empat cewek yang cukup tragis. Didalamnya mengangkat tema-tema miris soal gender, sex dan ketertindasan para kaum hawa yang terkesan bernilai rendah.
Walaupun dilarang oleh pemerintah Arab, penulis misterius yang belakangan di kenal bernama Rajaa al Sanea ini, akhirnya memberanikan diri untuk membukukan lika-liku riwayat para sahabatnya itu.
Kalau mau tahu sisi lain dari cewek-cewek Arab yang nyaris tak sempat terpikirkan, buku ini pas buat jadi bahan informasi. (edi)
7 / XXXII / 18 FEBRUARI 2008
Surat-suratnya bertutur soal kisah kehidupan empat cewek yang cukup tragis. Didalamnya mengangkat tema-tema miris soal gender, sex dan ketertindasan para kaum hawa yang terkesan bernilai rendah.
Walaupun dilarang oleh pemerintah Arab, penulis misterius yang belakangan di kenal bernama Rajaa al Sanea ini, akhirnya memberanikan diri untuk membukukan lika-liku riwayat para sahabatnya itu.
Kalau mau tahu sisi lain dari cewek-cewek Arab yang nyaris tak sempat terpikirkan, buku ini pas buat jadi bahan informasi. (edi)
7 / XXXII / 18 FEBRUARI 2008
Monday, February 18, 2008

THE GIRL OF RIYADH
Pengarang : Rajaa Al-Sanea
Penerbit : Ramala Books
Harga : Rp.47000,-
Penerbit : Ramala Books
Harga : Rp.47000,-
Cerita ini merupakan kisah nyata yang menggemparkan Riyadh, Arab Saudi. Cerita bermula dari email yang secara rutin dikirim melalui milis setiap minggu setelah shalat Jumat. Email tersebut berkisah tentang empat cewek Riyadh dengan segala konflik dan dilemanya akibat kebudayaan setempat yang begitu mengekang. Ada Michelle yang blasteran Amerika dan sering mengalami diskriminasi. Qaram yang suaminya diktator dan tidak ingin ia hamil. Shedim yang berulang kali dikhianati lelaki. Dan Lumeis yang sempat dijauhi karena berteman dengan cewek dari aliran Islam yang berbeda.
Friday, February 08, 2008
The Girls Of RiyadhKisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais.Terlalu banyak hal yang mengejutkan hingga Anda harus membaca isi buku ini untuk mengetahuinya (Bandung Advertiser, Januari 2008)
Kisah Email Empat Gadis Saudi Arabia yang Menghebohkan...
Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005, dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan.
Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga.ke belahanTimur-Tengah lainnya.
Hingga kini, hak terjemahan atas buku ini telah terjual ke lebih dari dua puluh lima negara.
Setiap minggu—setelah salat Jumat—seseorang tak dikenal mengirimkan email bersambung kepada para wanita yang melakukan chatting di sebuah grup online di Saudi Arabia. Terdapat lima puluh email dalam setahun. Isinya menghebohkan.
Kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais.Terlalu banyak hal yang mengejutkan hingga Anda harus membaca isi buku ini untuk mengetahuinya...
Wednesday, January 30, 2008

Menguak Rahasia Perempuan Arab
Buku yang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi (Majalah Gatra, Januari 2008)
Semuanya berawal dari surat elektronik (e-mail) yang dikirim seorang perempuan misterius. Setiap Jumat siang, e-mail yang terkirim menjadi magnet yang mampu menarik perhatian masyarakat di pclosok negeri. Lewat seerehwmfadbalet, ccrita itu heredar di seerehTve7ifa4ha7et@yaboogroups.com,
Hampir setiap minggu, penulis misterius itu mengunjungi para pembaca dengan perkembangan terbaru dari setiap peristiwa. Sabtu pagi, fenomcna ini telah mengubah kantor-kantor pemerintah, aula perguruan tinggi, tcras rumaK sakit, dan kelas di sekolah menjadi ruang diskusi tentang e-mail terakhir.
Selalu saja ada komentar tentang e-mail gadis misterius itu. Ada yang mendukung, tapi tak scdikit pula yang berkomentar miring. Scbagian lain menunjukkan kemarahan dan ketidakmengertian atas perbuatan si gadis yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilcstarikan.
Meskipun sang penulis (awalnya) menyembunyikan identitas, pada akhirnya ia membuka diri. Nama tokoh dalam cerita itu ditulis dengan gamblang. Semua tabir yang selama ini tertutup, dirahasiakan, dan sulit dibicarakan, dia bongkar. Dia kisahkan dengan apik pelanggaran semua tradisi Arab Saudi yang terkenal keras dengan adat istiadatnya,
Maka, terkuaklah kisah kehidupan empat sahabat yang semi-eksklusif di tengah pergaulan masyarakat Arab: Qamrael-Qashmany, Shedimd-Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle -Abdul Rahman. Kisah yang diungkap Rajaa bukan rekaan, melainkan kisah kehidupan nyata pribadi empat sahabatnya.
Pernikahan Qamra bukan menjadi jaminan hidupnya akan bahagia. Usai mcnikah, ia bersama sang suami hijrah ke Amerika. Bukan bahagia yang ia peroleh, malah nestapa yang didapat-Tanpa sengaja, ia mengetahui sang suami memiliki affair dengan. perempuan Jepang. Perempuan yang selama ini menjadi "bank" selama sang suami hidup di tan ah orang. Sakit hatinya diungkapkan kepada sang suami. Tapi, apa yang ia dapat ? Malah tamparan bcrulang kali di wajahnya. Ia lantas memilih kembali ke orangtua dengan harapan sang suami meminta maaf dan memintanya kembali. Berbulan mcnunggu, ia hanya mendapat surat cerai pada saat hamil.
Lain lagi kisah Shedim. Perempuan ini memilih menyerahkan keperawanannya kepada sang tunangan. la berkeyakinan, tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangan bila tidak mcmperscmbahkan diri seutuhnya. Keputusan Shedim memang tergolong kontroversial. Mengingat, budaya Arab mengharamkan tindakan semacam itu. Jangankan herhubungan intim di luar nikah, bcrduaan dengan non-muhrim di tempat umum saja, bila tcrtangkap basah, harus "menginap" di hotel prodeo. " Tapi pagar itu dia tabrak.
Sial, hubungan kasih Shedim putus. Berbagai pertanyaan pun bergelayut di kepalanya. Apakah menyerahkan diri seutuhnya sebelum menikah merupakan kesalahan dan dosa? Apakah yang terjadi pada malam itu adalah kesalahan? Pertanyaan demi pertanyaan ini hanya berputar di otaknya.
Sementara itu, Lumeis adalah perempuan yang pandai meramal melalui kartu. Kisah cintanya tergolong sederhana dibandingkan dengan sahabatnya. Ia menemukan cinta sejati pada seorang pria yang tak disangka-sangka sebelumnya. Sedangkan Michelle menemukan perbedaan budaya dalam hubungan cinta, Darah Amerika (dari sang ibu) membuat kisah cintanya tak mulus.
Buku ini mengungkapkan betapa sebetulnya tradisi di Arab itu sangat ketat. Perceraian adalah dosa besar bagi perempuan yang diceraikan. Seorang pria Arab harus menuruti scmua kemauan keluarga, tcrmasuk menentukan dengan siapa akan menikah
.
Masuk ke Arab pun berarti harus menanggalkan "pakaian luar negeri" dan mengenakan baju khusus Arab. Jadi, jangan heran, di setiap toilet bandar udara Arab Saudi terdapat antrean panjang pcnumpang yang hendak berganti baju. Ya, untuk mcnjalankan tradisi Arab.
Namun bukuyang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi.
Hampir setiap minggu, penulis misterius itu mengunjungi para pembaca dengan perkembangan terbaru dari setiap peristiwa. Sabtu pagi, fenomcna ini telah mengubah kantor-kantor pemerintah, aula perguruan tinggi, tcras rumaK sakit, dan kelas di sekolah menjadi ruang diskusi tentang e-mail terakhir.
Selalu saja ada komentar tentang e-mail gadis misterius itu. Ada yang mendukung, tapi tak scdikit pula yang berkomentar miring. Scbagian lain menunjukkan kemarahan dan ketidakmengertian atas perbuatan si gadis yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilcstarikan.
Meskipun sang penulis (awalnya) menyembunyikan identitas, pada akhirnya ia membuka diri. Nama tokoh dalam cerita itu ditulis dengan gamblang. Semua tabir yang selama ini tertutup, dirahasiakan, dan sulit dibicarakan, dia bongkar. Dia kisahkan dengan apik pelanggaran semua tradisi Arab Saudi yang terkenal keras dengan adat istiadatnya,
Maka, terkuaklah kisah kehidupan empat sahabat yang semi-eksklusif di tengah pergaulan masyarakat Arab: Qamrael-Qashmany, Shedimd-Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle -Abdul Rahman. Kisah yang diungkap Rajaa bukan rekaan, melainkan kisah kehidupan nyata pribadi empat sahabatnya.
Pernikahan Qamra bukan menjadi jaminan hidupnya akan bahagia. Usai mcnikah, ia bersama sang suami hijrah ke Amerika. Bukan bahagia yang ia peroleh, malah nestapa yang didapat-Tanpa sengaja, ia mengetahui sang suami memiliki affair dengan. perempuan Jepang. Perempuan yang selama ini menjadi "bank" selama sang suami hidup di tan ah orang. Sakit hatinya diungkapkan kepada sang suami. Tapi, apa yang ia dapat ? Malah tamparan bcrulang kali di wajahnya. Ia lantas memilih kembali ke orangtua dengan harapan sang suami meminta maaf dan memintanya kembali. Berbulan mcnunggu, ia hanya mendapat surat cerai pada saat hamil.
Lain lagi kisah Shedim. Perempuan ini memilih menyerahkan keperawanannya kepada sang tunangan. la berkeyakinan, tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangan bila tidak mcmperscmbahkan diri seutuhnya. Keputusan Shedim memang tergolong kontroversial. Mengingat, budaya Arab mengharamkan tindakan semacam itu. Jangankan herhubungan intim di luar nikah, bcrduaan dengan non-muhrim di tempat umum saja, bila tcrtangkap basah, harus "menginap" di hotel prodeo. " Tapi pagar itu dia tabrak.
Sial, hubungan kasih Shedim putus. Berbagai pertanyaan pun bergelayut di kepalanya. Apakah menyerahkan diri seutuhnya sebelum menikah merupakan kesalahan dan dosa? Apakah yang terjadi pada malam itu adalah kesalahan? Pertanyaan demi pertanyaan ini hanya berputar di otaknya.
Sementara itu, Lumeis adalah perempuan yang pandai meramal melalui kartu. Kisah cintanya tergolong sederhana dibandingkan dengan sahabatnya. Ia menemukan cinta sejati pada seorang pria yang tak disangka-sangka sebelumnya. Sedangkan Michelle menemukan perbedaan budaya dalam hubungan cinta, Darah Amerika (dari sang ibu) membuat kisah cintanya tak mulus.
Buku ini mengungkapkan betapa sebetulnya tradisi di Arab itu sangat ketat. Perceraian adalah dosa besar bagi perempuan yang diceraikan. Seorang pria Arab harus menuruti scmua kemauan keluarga, tcrmasuk menentukan dengan siapa akan menikah
.
Masuk ke Arab pun berarti harus menanggalkan "pakaian luar negeri" dan mengenakan baju khusus Arab. Jadi, jangan heran, di setiap toilet bandar udara Arab Saudi terdapat antrean panjang pcnumpang yang hendak berganti baju. Ya, untuk mcnjalankan tradisi Arab.
Namun bukuyang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi.
Wednesday, January 23, 2008

The Girls of Riyadh
Penutis : Rajaa Al-Sanea
Penerjemah: Syahid Widi Nugroho
Penerbit : Ramala Books
Cetakan : I, Desember 2007
Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur Tengah lainnya. Hingga kini hak terjemahan atas buku itu telah terjual ke lebih dari 25 negara (Koran Tempo, 20-Januari-2008).
Setiap pekan, setelah salat Jumat, seseorang tak dikenal mengirim surat elektronik bersambung kepada para perempuan yang sering berbincang-bincang di grup dunia maya di Arab Saudi. Isinya menghebohkan, kisah nyata kehidupan empat gadis Riyadh: Qamrah, Michelle, Shedim, dan Lumais.
Si penulis surat setiap .pekan hadir dengan berbagai perkembangan baru dan peristiwa aktual.Masyarakat luas menjadi demam Internet dan selalu menunggu-nunggu informasi terbaru. Akhirnya, pada setiap Sabtu pagi, kantor pemerintahan, rumah sakit, kampus, dan ruang sekolah menjadi arena diskusi tulisan tersebut.
Surat-surat dunia maya ini menimbulkan gelombang pemikiran reformatif dan cetusan-cetusan revolusioner di banyak lapisan masyarakat. Surat-surat itu menjadi lahan subur bagi spekulasi, perdebatan, dan berbagai pembicaraan lepas.
Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005 dan secepatnya dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur Tengah lainnya. Hingga kini hak terjemahan atas buku itu telah terjual ke lebih dari 25 negara.
Subscribe to:
Posts (Atom)


