Showing posts with label Blindness. Show all posts
Showing posts with label Blindness. Show all posts

Thursday, November 08, 2007

Blindness

Judul : Blindness
Penulis : Jose Samarago
Penerbit : Ufuk Press, 2007

"Inilah novel yang menghunjam ke ulu terdalam persoalan kemanusiaan. Sebuah kisah tentang masyarakat yang sakit".
(Koran Tempo, 4 Maret 2007)

Dunia tak menjadi gelap, tapi justru memutih, seperti susu. Hanya seorang yang berpura-pura buta yang justru tak buta. Tapi neraka segera menghadang.
Seorang pengemudi, di tengah kemacetan lalu lintas yang parah, mendadak buta. Seorang pelacur, pencuri mobil, polisi, bocah bermata juling, apoteker, juga seorang dokter mata, disergap penyakit ganjil yang sama: buta putih.

Pemerintah tak bernama, dengan pejabat dan tentara-tentara yang juga tanpa nama, mengkarantina mereka. Pemberontakan pun pecah. Inilah novel yang menghunjam ke ulu terdalam persoalan kemanusiaan. Sebuah kisah tentang masyarakat yang sa-kit.

Ini bukan novel berisi keniscayaan yang pertama ditulis Jose Saramago. Sebelum-nya, penulis kelahiran Ribatejo, Portugis, pada 1922 ini melejit berkat novel yang bertema sama, Baltazar and Blimunda (1982). la dianugerahi Camoes Prize pada 1995 dan Hadiah Nobel pada 1998. •
Memetik Makna dalam Absurditas

Judul : Blindness, Ketika Negeri Tanpa NamaDilanda Kebutaan Massal
Penulis : Jose Saramago
Tebal : 448 halaman
Penerbit : Ufuk Press , Jakarta
Terbit : Maret2007


"Saramago hendak memotret keadaan manusia di kolong langit ini yang dilanda buta nurani. Mayoritas manusia saat ini mementingkan diri sendiri, dan hanya sedikit saja yang peduli orang lain"
(Indopos)

Para pengidap kebutaan yang dikarantina (interniran) itu mencapai 300 jiwa. Mereka hidup nyaris tanpa fasilitas. Jumlah ranjang tak mencukupi. Pasokan makanan sangat langka dan datang tidak teratur. Instalasi kebersihan sangat menyedihkan sehingga tidak memungkinkan mereka untuk membersihkan diri dan membuang kotoran secara wajar. Akibatnya, orang-orang yang dikarantina itu hidup tak ubahnya binatang

Suatu hari di sebuah kota tanpa nama di negeri anonim, seorang pria mendadak menghebohkan para pengemudi kendaraan bermotor. Mobil yang dia setir mogok sehingga kemacetan tak terbendung. Klakson mobil bersahut-sahutan seolah membentak si pengemudi agar mobil tersebut segera berjalan.Tapi, mobil itu tetap di tempat. Pria nahas yang menyetir mobil itu mengaku kebutaan telah menyergapnya sehingga dia tak mampu lagi melajukan kendaraan.

Yang aneh, pria matang berumur 38 tahun itu tak mendapati di sekelilingnya sebagai kegelapan—sebagaimana galibnya kebutaan. Pria ini menderita"butaputih"! "Kulihat segalanya putih," ujar pria ini merangkum penyakitnya yang di luar kebiasaan
.
Begitulah Jose Saramago membuka novelnya, Blindness. Sebuah karya yang mengantar dia meraih The Nobel Prize in Literature 1998. Sastrawan yang lahir di tepi Sungai Alomanda, ratusan kilometer dari Lisbon, Portugal, ini langsung menghadirkan absurditas sejak awal kepada pembaca Blindness. Cara ini "memaksa" pembaca, melahap lembar demi lembar hingga tuntas. Dalam novel ini, Sarama­go memelihara absurditas (baca: keganjilan atau hal yang mustahil) itu hingga akhir.

Karena ada indikasi bahwa penyakit ini menular, maka orang-orang buta dan mereka yang diduga telah tertular dikarantina di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai. Tentara mengawal tempat ini dengan ketat agar tak seorang pun bisa keluar.

Para pengidap kebutaan yang dikarantina (interniran) itu mencapai 300 jiwa. Mereka hidup nyaris tanpa fasilitas. Jumlah ranjang tak mencukupi. Pasokan makanan sangat langka dan datang tidak teratur. Instalasi kebersihan sangat menyedihkan sehingga tidak memungkinkan mereka untuk membersihkan diri dan membuang kotoran secara wajar. Akibatnya, orang-orang yang dikarantina itu hidup tak ubahnya binatang. Saling berburu dan berebut makanan, membuang kotoran seenaknya, bahkan—merasa tak ada yang melihat—berhubungan seks di sembarang tempat.

Siapa sangka di tengah-tengah wabah kebutaan ini masih ada satu orang yang dapat mempertahankan penglihatanya. Dia, seorang perempuan, istri dokter mata yang sejak awal berpura-pura buta demi bisa menemani suaminya di tempat karantina. Dialah yang selama ini—tanpa disadari oleh interniran lain kecuali suaminya—te­lah dengan sekuat tenaga memudahkan hidup mereka. Pe­rempuan ini adalah jenis pemimpin sejati yang beker ja tanpa lencana. Perempuan ini jua yang secara tak langsung me-nuntun seluruh tokoh utama lain dalam novel ini mencapai transformasi diri hingga penglihatan mereka semua kembali.

Cerita Saramago adalah se­buah kisah alegoris. Saramago hendak memotret keadaan manusia di kolong langit ini yang dilanda buta nurani. Mayoritas manusia saat ini mementingkan diri sendiri, dan hanya sedikit saja yang peduli orang lain. "Sesungguhnya belum lahir manu­sia yang tak punya kulit kedua yang kita sebut egoisme. Kulit yang tahan lebih lama dibanding kulit satunya lagi yang begitu mudahnya berdarah," sergah Saramago, (hal 233-234).

Dalam kondisi demikian, sesuatu yang salah—secara moral dan etis—terlihat seperti benar (diceritakan Saramago sebagai putih dengan kilau-kemilau cahaya). Sesuatu terlihat baik, padahal buruk. Dunia manusia dipenuhi fakta dan makna yang kerap terbolak-balik. Ketika menerima Nobel Sas-tra, 7 Desember 1998, Saramago berkata jujur, "...(saya) menulis Blindness untuk mengingatkan mereka yang mungkin membacanya bahwa kita menodai akal sehat saat kita menghina kehidupan, bahwa martabat manusia dilecehkan setiap hari oleh kuatnya dunia kita, bahwa kebohongan universal telah menggantikan kebenaran plural, bahwa manusia berhenti menghormati dirinya sendiri ketika dia kehilangan rasa hormat terhadap sesamanya."(*)

Eka Kurnia Hikmat
Beker ja di Lazuardi Global Islamic School Cinere,Depok
Metafor Kebutaan dalam Konflik Kelas Sosial

Judul :Kebutaan (Blindness)
Penulis :Jose Saramago
Penerjemah :Arif B Prasetyo
Penerbit :Ufuk

Cetakan : Pertama, Maret 2007
Tebal :447 halaman


"Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang perubahan sosial"
(Suara Merdeka)


Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya.


NOVEL ini bertutur tentang kebutaan massal yang melanda penduduk kota tak bernama. Satu per satu penduduk kota teridap kebutaan dengan cara yang sungguh tak bisa diterima hukum medis.

Seseorang akan demikian menjadi buta setelah kontak pandang satu sama lain. Dokter yang menangani pasien buta, lelaki yang menolong lelaki pertama yang buta, pasien yang antri di tempat praktik dokter, dan tetangga yang tak sengaja menatap si pasien buta tiba-tiba menjadi buta. Pejabat pemerintah setempat cemas dan untuk mengatasi krisis kepercayaan masyarakat, mereka yang teridap kebutaan dimasukkan paksa ke bekas gedung rumah sakit jiwa. Hanya satu yang terbebas dari kebutaan dalam cerita tersebut sekalipun di akhir cerita akhimya ia pun buta: isteri lelaki yang pertama kali buta mendadak.

Di dalam bekas gedung rumah sakit jiwa ini pembaca akan mengetahui bagaimana sebuah ekperimentasi mengenai manusia dalam membentuk sistem sosial terlihat. Tokoh-tokoh yang mengidap kebutaan tersebut dipaksa oleh peraturan yang membuat mereka harus memperlakukan dirinya secara sangat hati-hati. Jika tidak mereka bukan hanya terancam kematian yang disebabkan oleh kebutaan mereka sendiri, tetapi lebih dan itu, terdapat sistem yang lebih efektif dalam membinasakan mere­ka selama di dalam tembok rumah sakit jiwa. Konsekuensinya, satu sisi mereka harus mengatasi kebutaan yang mereka idap, pada sisi lainnya mereka mesti mengantisipasi sis­tem yang ditetapkan pejabat negara yang dengan sistemnya tersebut menghendaki mereka musnah. Mereka tidak ditolong dari kebutaan, tetapi justru dipaksa sedemikian rupa untuk mati pelan-pelan. Hidup-Mati.

Dalam tegangan antara bertahan hidup di tengah kebutaan yang menimpa dan aturan yang memaksa dalam lingkungan rumah sakit jiwa, dapat diketahui bagaimana tokoh-tokoh mempertahankan diri. Tokoh-tokoh buta tersebut secara paksa mesti mengorganisakan dirinya untuk menghadapi kelompok lain dalam bangunan rumah sakit jiwa agar jatah makannya tidak disabotase.

Digambarkan ada ratusan penghuni gedung bekas rumah sakit jiwa tersebut dan terbagi-bagi dalam berbagai kelompok. Namun ada satu kelompok berandalan yang dengan caranya ingin mengusai kelompok lain, diantaranya kepada kelompok lelaki yang pertama kali teridap virus kebutaan. Di antaranya anggota perempuan dengan sadar rela dijadikan pemuas nafsu sebagai syarat yang diajukan para kelompok buta berandaian. Anggota perempuan buta ini pada awalnya menyepakati persyaratan itu untuk bertahan hidup meski kemudian memberontak dengan membunuh pimpinannya.

Dari peristiwa tersebut kita dapat membayangkan bagaimana kelompok yang perta­ma kena virus kebutaan ini mengorganisasikan dirinya dari kebutaan agar mereka sebagai satu kelompok sosiai bisa padu, satu suara, dan bertindak demi kelangsungan hidupnya. Satu hal yang paling nyata dalam hal ini adalah, bagaimana seseorang yang terbiasa menggunakan matanya hams mengalami kebutaan dan dalam kebutaan tersebut harus mengorganisasikan dirinya agar bisa bertahan dari serangan dari kelompok lain dan yang utama dari pemilik otoritas, negara. Di sini jelas kata . kuncinya: membentuk dan menguatkan kelas sosiai adalah sesuatu yang mutlak.

Karena itulah, pembaca novel ini tidak akan menemukan sosok tokoh yang berdiri sendiri dengan perwatakan yang cukup kuat. Tokoh-tokoh dalam novel ini tak lain dari bagian sebuah unit-unit sosiai yang saling mendukung demi terbangunnya sebuah kelas sosiai yang kuat. Kekuatan kelas sosiai ini mengandalkan individu pendukung memperoleh kompensasi berupakeselamatan yangberupa jatah makanan maupun jaminan keselamatan dari serangan kelompok lain.

Pelacur

Pembaca novel ini memang akan mendapatkan tokoh semacam bekas pelacur bukan dalam perwatakannya sebagaimana pembaca kenal dalam kehidupan keseharian, tetapi mendapati pelacur hanya sebuah peran yang tidak ada bedanya dengan peran sosiai lainnya. Sebab bukan pelacur yang secara sosiai dipahami sampah masyarakat tetapi pelacur hanya sebagai sebutan.

Dalam konteks kebutaan yang melanda tersebut, peran sosiai semacam dokter, istri dokter, pengarang, sopir, anak kecil, lenyap. Mereka disatukan oleh wabah kebu­taan dan di sinilah sebuah eksprimentasi sosial dibawa kembali ke dasar-dasamya : berbeda dengan hewan yang secara alamiah diberi organ-organ untuk bertahan hidup, manusia yang tak diberi organ-organ semacam hewan memiliki kemampuan untuk membuat sistem sosiai untuk bertahan.

Namun novel ini tidak hanya ingin mengajak pembaca mengais pemikiran yang sudah kiasik ini. Novel ini ingin menghunjam ke hal yang paling dasar dalam kaitannya dengan pembentukan kelas sosiai dan konflik-konflik yang menyertainya. Kebutaan dalam novel ini tak lebih dari sebuah metafor untuk menyatakan adanya sebuah kelas sosiai tertentu. Peran dokter, pelacur, istri dokter, pengarang, anak kecil, tak lebih dari bungkusan yang sesungguhnya akan lenyap ketika mereka dalam kondisi teroojok oleh kebutaan, mengalami konflik dengan kelompok lain, dan terutama ketika mereka menghadapi sebuah kelas yang lebih berkuasa, Negara.

Dalam pertarungan ini kelompok yang per­tama terkena virus kebutaan dipaksa untuk bisa mempertahankan kelompoknya jikalau mereka ingin bertahan hidup. Negara bersama aparatusnya sebagai otoritas resmi tidak lebih dari sebuah kelas lain yang akan bersikap ekstrem jika kasus sosiai yang ada dalam wilayahnya membahayakan sendi-sendi kuasanya.

Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya. Pandangan semacam ini memang mengundang kembali pemikiran Marx tentang pertentangan kelas sebagai satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan kelompok tertin-das keluar dari ketertindasannya. Konflik antarkelas dan sesama kelas sebagai sesuatu yang sifatnya tak terelakkan dan disanalah harapan secara revolusioner terbentuk.

Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang penjubahan sosial. Ini juga cara yang ditempuh George Orwell dalam Animal Farm dengan metafor binatang atau Franz Katka dalam Metamorphose tentang sosok menyerupai serangga.

Selamat membaca!

(Imam Muhtarom-35)
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes