Showing posts with label *Majalah Gatra. Show all posts
Showing posts with label *Majalah Gatra. Show all posts

Wednesday, December 29, 2010



NUSANTARA : ASAL PERADABAN DUNIA ?

Buku Eden In The East;Benua Yang Tenggelam Di Asia Tenggara (terjemahan, 2010) karya Stephen Oppenheimer kontroversial. Dokter ahli genetika dari Inggris iniberpendapat bahwa kawasan Asia Tenggara—tepatnya paparan sunda—dulu merupakan asal-usul peradaban tertua dunia. Puluhan ribu tahun, saat es kutub mencair menggenangi paparan sunda memisahkan Sumatera, Jawa dan Kalimantan, kawan ini sudah dihuni masyarakat. Masyarakat ini yang lari membawa cerita banjir bandang ke seluruh dunia, yang kemudian variannya menjadi mitologi banjir Nabi Nuh dan cerita Gilgamesh Sumeria.

Tempo mewawancarai Oppenheimer dan juga memaparkan para petualang yang berusaha mencari sisa-sisa kota di dasar laut Jawa untuk mencoba membuktikan cerita itu.Iqra kali inipun mengangkat penelitian Professor Sangkot Marzuki dari Lembaga Eijkman dan rekan-rekan ilmuwan genetika se-Asia yang berusaha memetakan persebaran genetika manusia Asia. Menarik, teori Professor Sangkot mengenai Out of Sundaland bias menyokong tesisOppenheimer

Atap bangunan itu sangat khas. Disebut tongkongan, rumah adat Torajamenjadi salah satu arsitektur tradisional paling gampang dikenal di Indonesia. Materialnya uru, kayu local yang seawet jati. Arahnya selalu utara. Atapnya melengkung

Meski orang Toraja tinggal di pegunungan, atap lengkung indah itu ternyata terkait dengan cerita lautan atau perairan. Bentuk rumah dengan ataplengkung itu menggambarkan perahu “model atap itu menggambarkan perahu yang digunakanPuang Baralangi pada saat berlayar ke Toraja, ribuan tahun silam,” kata C.F. Palimbong, Ketua Aliansi Masyarakat Toraja-Toraja Utara, kepada Tempo beberapa waktu lalu. Dalam mitologi Toraja,Puang Baralangi adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan

Buralangi ini diciptakan Tuhan di bagian utara langit dan kemudian diturunkan di daerah yang disebut Pongko sebelum pergi ke Toraja dan beranak-pinak di sana. Letak Pongko itu di daerah Utara. Itu sebabnya, tongkonan selalu menghadap utara. Tidak ada kepastian dimana pongko itu berada. “Pongko yang saya pahami adalah Tiongkok atau Cina,”kata Palimbong. Kisah penciptaan Bura;angi juga bercerita tentang banjir besar yang merendam daerahnya. “Karena kondisi ini pulalah Puang Baralangi menggunakan Perahu ke Toraja.” Ujarnya. Perahu itu kemudian diabadikan dalam bentuk atap rumah.

Versi lain mitologi banjir di Toraja, dengan sedikit perbedaan detail, diungkap oleh Stephen Oppenheimer beberapa pecan silam dalam sebuah diskusi di gedung LIPI, Jakarta. Saat itu ia menjelaskan teorinya yang ia tulisa dalam buku setebal 800 halaman, Eden In The East;Benua Yang Tenggelam di Asia Tenggara (edisi Inggris terbit pada 1998, bahasa Indonesia bulan lalu). Inilah buku yang menarik untuk dibicarakan. Sensasional tapi argumentasinya memikat karena bersangkut-paut dengan masa lalu sejarah kita yang misterius. “Karakterkhas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir,”kata ilmuwan genetika dari Universitas Oxford, London, Inggris

Kisah banjir ini yang menjadi satu dasar teori Oppenheimer bahwa banyak peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, terutama dari wilayah paparan sunda, yang sekarang sudah tenggelam menjadi laut jawa dan laut cina selatan. Dasar lain yang digunakan Oppenheimer adalah pemetaan genetika

Paparan sunda alias sundaland itu wilayah dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut karena Zaman Es berakhir sekitar 6000 tahun sebelum Masehi, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina

Oppenheimer percaya, saat paparan sunda itu belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar.kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. “Belum ada masyarakat lain (di dunia saat itu) yang bias melakukannya,”kata Oppenheimer

Begitu paparan sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ke seluruh dunia. Ke Barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia da sekitarnya ini sampai Eropa. Sedangkan ke Timur sampai ke Benua Amerika dengan melalui Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bias dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.

Menurut Oppenheimer, peradaban tua Sumeria, 5000 tahun SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria system hokum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antar kota. Roda,salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk paku.

Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di kelompok penutur Austronesia di Asia Tenggara seperti cat merah. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah alias tato itu khas Austronesia. Di sepik tengah, Papua Nugini, beberapa suku local sampai kini seperi dilihat Oppenheimer, saat bertahun-tahun menjadi dokter yang meneliti penyakit malaria papua nugini, masih mempraktekkan seni membuat rajah ini

Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir, Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda di wilayah nusantara dahulu kala

Sampai dua abad silam, cerita banjir Nuh adalah satu-satunya legenda tentang banjir besar yang dikenal di dunia mutakhir. Munculnya Mitologi banjir besar, yang sebagian sangat mirip kisah Nuh, baru muncul saat tablet-tablet tulisan hurug paku, semacam buku dari kerajaan tua Sumeria, ditemukan di Irak oleh Hormuzd Rassam pada 1853. tablet-tablet itu pertama kali diterjemahkan oleh arkeolog Inggris, George Smith, pada awal 1870

Tablet itu berisi kisah galgamesh, Raja Sumeria. Dalam cerita itu, Gilgamesh bertemu dengan Utnapishtim di negeri timur yang mengaku selamat dari banjir besar yang melanda negerinyakarena naik perahu besar. Dalam perahu itu, ia membawa semua benih yang bias ditanam. Setelah beberapa hari, ia melepas burung untuk mengetahui apakah sudah tampak daratan. Belakangan arkeolog Inggris lain, Sir Leonard Wooley,pada 1029 menyimpulkan bahwa kisah Utnaphistim dan banjir Nuh iu sama

Rupanya Utnaphistim bukan satu-satunyakisah tentang air bah yang mirip banjir Nuh. Beberapa kisah serupa mulai teridentifikasi. Di Wales ada dongeng Danau Llion yang menyembur dan membanjirkan seluruh daratan kecuali Dwayfan dan Dwayfach. Mereka selamat dengan kapal tanpa tiang dan kembali mendiami pulau Fridain (Britania).Kapal itu berisi sepasang binatang dari setiap makhluk hidup

Di Lithuania ada dongeng bahwa Pramazimas, sang dewa tertinggi, sudah muak terhadap keburukan manusia sehingga mengirim Wandu dan Wejas. Karena terlalu bersemangat bekerja mengirim air bah, dalam 20 hari tersisa sangat sedikit manusia

Tapi di Asia Tenggara dan wilayah berpenutur Austronesia lain, seperi di Kepulauan Pasifik, menurut Oppenheimer, kisah banjirseperti Nabi Nuh dan Sumeria ini sangat banyak. “Mayoritas dongeng tersebut diceritakan oleh penduduk minorotas yang tinggal di pulau terpencil. ,”kata Oppenheimer. Rupanya di pulau kecil ini, bayangan banjir selalu ada. Kisah air bahpun dianggap “konteksktual” sehingga mitologi bias awet dan diturunkan selama ribuan tahun

Di Tahiti, misalnya,ada kisah banjir setinggi gunung selama sepuluh hari. Jelas bukan tsunami, yang mungkin sudah dikenal di daerah itu karena lamanya sampai 10 hari. Adapun suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki cerita sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur.Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung dan inses orang yang selamat

Selain tema air bah, yang memiliki sejumlah kemiripan adalahmitologi proses penciptaan dunia serta Habil dan Qabil. Bagi Oppenheimer, hal-hal ini bukan kebetulan. Karena itu, sumbernya pasti dari satu wilayah dan wilayah tersebut, menurut dia, ada kemungkinan di Asia Tenggara.” Mitos banjir pasti dating dari Kepulauan Asia Tenggara” tutur Oppenheimer dalam bukunya. Apalagi kadang kesamaan mitologi ini disertai jejek genetika.kisah Kalevala, misalnya, berasal dari Finlandia. Dan di negei itu ditemukan jejak-jejak genetis yang serupa dengan Asia Tenggara


Tuesday, July 29, 2008



CATATAN SUPERIORITAS BANGSA TIMUR


Membaca buku ini, kita seperti tamasya sejarah bangsa-bangsa Asia. Stewart Gordon menyajikannya seperti laporan jurnalistik sebuah perjalanan panjang menyusuri setiap lorong peradaban Asia
(Erwin Y Salim, Majalah Gatra, Juli 2008).


Ini bukanlah semacam apologia bangsa-bangsa di kawasan Asia di tengah superioritas bangsa-bangsa .Barat di abad-abad terakhir. Sebab cerita yang mengisahkan kegemilangan bangsa-bangsa Asia selama 10 abad ini justru ditulis pakar senior masalah Timur di University of Michigan, Amerika Serikat. Notabene, ia orang Barat.

Harus diakui, memang, dalam kurun masa panjang yang di Barat dikenal dengan sebutan zaman kegelapan, bangsa-bangsa Asia justru mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang kehidupan. Salah satunya ditandai dengan kemajuan perdagangan yang meliputi separuh dunia. Tengok saja ekspansi pedagang dari Gujarat, Asia Tengah, Cina, dan Arab. Hubungan perdagangan ini pun berjalan bebas tanpa banyak campur tangan kerajaan, sehingga terbangun sebuah peradaban dagang yang sangat maju.

Dalam masa ini, para pedagang bahkan tak hanya menjalankan fungsi perniagaan. Mereka ikut memberi andil dalam menyebarluaskan penemuan-penemuan baru di bidang perkebunan. Lada menyebar dari India hingga ke Indonesia dan menjadi komoditas penting yang diperdagangkan berkat jasa mereka. Demikian pula pedagang Yahudi yang membawa tebu dan mengembangkannya di tepian Sungai Nil, Mesir.

Di bidang politik, banyak kerajaan besar di Asia yang membawa pengaruh besar pada hubungan internasional. Di India, misalnya, pernah hadir Kesultanan Mogul yang meninggalkan warisan mo¬numental Taj Mahal yang amat kesohor. Di kawasan Timur Tengah pun hadir Kekhalifahan Abbasiyah, yang wilayahnya meliputi sebagian besar Asia Barat. Orang juga tak akan pernah lupa pada Jengis Khan dari Mongol, yang penaklukannya berhasil menerobos hingga ke Cina, Rusia, dan sebagian Eropa Timur. Penaklukan itu sekaligus merintis jalan perdagangan dari Asia ke Eropa.

Dalam masa setidaknya tujuh abad sejak abad kelima, Asia dipenuhi pula de¬ngan beragam inovasi dan temuan baru. Pemerintah yang berkuasa pada umumnya sangat mendukung inovasi yang dilakukan warganya. Hingga tahun 1200-an, Timur Tengah, Cina, dan India tercatat sebagai pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Cina, di masa-masa ini, dicatat sebagai negeri yang mampu mengembangkan teknik pengobatan baru, antara lain dengan penemuan teknik suntikan.

Setelah kemajuan pesat itu, bangsa-bangsa Asia mengenyam masa-masa kemunduran. Stewart Gordon mencatat, bangsa Eropa dengan konsep baru dalam perdagangan berhasil menjajah Asia. Per¬dagangan sejalan dengan penaklukan dan mengatasnamakan raja. Ini konsep yang tak pernah dikenal sebelumnya oleh para pedagang Asia. Walau demikian, dalam kondisi di bawah dominasi dan jajahan Barat, pola perdagangan ala Asia tetap bertahan sebagaimana adanya. Para saudagar Cina bahkan tak mau ketinggalan menyinggahi dan menjalankan per¬niagaan di pelabuhan baru di Calcutta yang dikuasai Inggris.

Membaca buku ini, kita seperti tamasya sejarah bangsa-bangsa Asia. Stewart Gordon menyajikannya seperti laporan jurnalistik sebuah perjalanan panjang menyusuri setiap lorong peradaban Asia. Sebagai periset senior di University of Michigan, ia menulis buku ini berdasarkan catatan-catatan kuno tokoh-tokoh masa lalu yang erat kaitannya dengan berbagai peristiwa penting. Kendati, sebagian re-ferensi itu merupakan sumber tangan kedua.

Penelusuran tekstual memang sah-sah saja dalam menyusun sebuah "karya sejarah" semacam buku ini. Penyajiannya yang sangat populer membantu kita memahami dengan mudah peran bangsa-bangsa Asia bagi kemajuan dunia pada masanya dan pengaruhnya hingga kini.

Dari penelusuran itu, bahkan penulis sampai pada kesimpulan bahwa bangsa Asia Raya cukup tangguh untuk melewati perubahan dan pergolakan dari abad ke abad. Boleh jadi, itu kesimpulan yang cukup akurat. Sebab kini, bangsa-bangsa yang disebut "etnis global" berasal dari Asia: Yahudi, Arab, Cina, dan India. Terbukti pula, kini mulai tampak kebangkitan bangsa-bangsa Asia dalam berbagai bidang setelah lebih dari tujuh abad berada dalam masa kegelapan dan di bawah dominasi Barat.
|



Tuesday, July 08, 2008




KISAH PEMIMPIN DARI PEDALAMAN

H.C. Armstrong boleh dibilang berhasil menampilkan sosok utuh pendiri Keraja¬an Arab Saudi ini. la masuk dalam detail-detail banyak peristiwa yang dialami sosok yang mendapat julukan "Singa Padang Pasir" itu.
(Erwin Y. Salim, Gatra, Juli 2008)


Ia lahir bertepatan dengan azan subuh dikumandangkan pada suatu hari di bulan November 1880. Salah satu ruangan istana Kerajaan Saud yang telah memudar karena pertikaian keluarga menjadi saksi kelahiran anak yang diberi nama Abdul Aziz itu. Sang ayah, Abdur Rahman, adalah imam kaum Wahabi, penerus tradisi yang dibangun Saud yang Agung, pendiri aliran itu bersama Muhammad Abdul Wahhab.

Dibesarkan dalam tradisi Wahabi yang ketat, Abdul Aziz tumbuh sebagai pribadi yang sederhana, berpendirian kuat, dan taat menjalankan ajaran Islam. Tempaan berbagai pengalaman pahit yang dicecapnya sejak usia balita melahirkan sosok pemimpin yang tangguh, waspada, dan penuh perhitungan. la sangat lihai "bermain" di antara dua kekuatan besar, Inggris dan Jerman, yang menguasai kawasan sekitar Jazirah Arab, lalu tampil sebagai pemenang.

Tak cuma itu. Abdul Aziz pun tampil sebagai raja yang memberi kedamaian dan keamanan kepada seluruh rakyatnya. la memerintah dengan adil dan kuat, menerapkan hukuman yang keras. Dengan kesantunan sikap dan wibawanya, ia memperluas wilayah kekuasaan nenek moyangnya dari pedalaman Najd dan berhasil menciptakan stabilitas di kawasan Jazirah Arab yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Itulah benang merah yang dapat ditarik dari buku biografi Raja Abdul Aziz, yang lebih dikenal sebagai Raja Ibn Saud. H.C. Armstrong boleh dibilang berhasil menampilkan sosok utuh pendiri Kerajaan Arab Saudi ini. la masuk dalam detail-detail banyak peristiwa yang dialami sosok yang mendapat julukan "Singa Padang Pasir" itu.

Sebut saja cerita masa kecil Ibn Saud hidup di pengasingan karena kekalahan ayahnya dari Muhammad Ibn Rashid, pemimpin suku Shammar. la mendapat keahlian berkuda dan berperang selama ayahnya hidup di tengah-tengah suku Baduwi. Terungkap pula bahwa Abdul Aziz sempat tinggal di Bahrain dan Qatar sebelum menetap lama di Kuwait. Di Kuwait itulah ia banyak belajar dan memperluas wawasannya tentang dunia dari Mubarak al-Sabah, saudara laki-laki penguasa setempat.

Detail peristiwa juga terbaca ketika membaca penaklukan-penaklukan yang dilancarkan Abdul Aziz. Dari siasat yang dijalankannya, kesabarannya menanti saat yang paling pas untuk menyergap musuh, hingga caranya menghadapi pengkhianatan para pendukungnya dari suku Baduwi. Demikian pula langkah-langkahnya menghadapi beragam friksi yang timbul dengan para ulama Wahabi.

Terungkap pula betapa ia sangat hormat dan taat pada sang ayah yang sekaligus menjadi penasihat perang dan pemerintahannya. Padahal, Abdul Aziz menjadi imam Wahabi, menggantikan posisi ayahnya, sejak berusia 20 tahun. Terutama ketika ia menghadapi tentangan para ulama Wahabi akibat kebijakan yang ditempuhnya.

Dalam buku ini, Armstrong memang hanya menuturkan kisah heroik Abdul Aziz hingga berhasil mendirikan Kerajaan Arab Saudi. Tidak kita jumpai bagaimana akhir hayatnya dan detail-detail ia memulai modernisasi di negeri itu. Walau demikian, Armstrong secara garis besar memberi gambaran langkah strategis yang ditempuh Abdul Aziz yang amat menentukan kemajuan Arab Saudi di masa-masa selanjutnya.

Secara sepintas, ia mengungkap kebijakan sang raja membuka pintu penyelidikan dan eksplorasi minyak. Demikian pula perluasan lahan pertanian, di samping pembangunan infrastruktur serta sumber-sumber air bersih untuk rakyat. la mendirikan rumah sakit dan klinik-klinik keliling untuk melayani kesehatan masyarakat. Langkah-langkahnya berhasil membuat suku-suku yang tadinya hidup berpindah-pindah menjadi masyarakat yang menetap.

Karya H.C. Armstrong ini memang bukan buku pertama yang menuturkan riwayat King Ibn Saud. Dengan referensi utama karya Ameen Rihani, Ibn Sa'oud of Arabia (1928), dan karya John Philby, Saudi Arabia (1955), ia membumikan sosok Abdul Aziz dengan gaya pemaparan yang populer dan enak dibaca. la memang boleh dibilang termasuk spesialis penulis populer biografi tokoh. Dari tangannya pula lahir biografi "BapakTurki", Mustafa Kemal Atatturk, berjudul Grey Wolf, Mustafa Kemal: An Intimate Study of a Dictator (1972).

ERWIN Y. SALIM



Thursday, June 26, 2008





ACUAN LENGKAP PARTAI TENTARA TUHAN


Yang cukup menarik, Qassem menuturkan beragam pencapaian yang diraih Hizbullah selama ini. la tidak hanya menguraikan pencapaian di bidang politik dan militer, melainkan juga berbagai keberhasilan di bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat
(Gatra, Juni 2008)


Dalam beberapa tahun terakhir, setidaknya ada dua akademisi yang melahirkan buku tentang organisasi yang oleh Israel kerap dicap sebagai kelompok teroris. Hezbollah: The Changing Face of Terrorism yang ditulis Judith Palmer Harik menguraikan perubahan-perubahan mendasar yang mewarnai partai itu sejak kelahirannya pada 1982.

Profesor ilmu politik dari American University of Beirut itu melihat perkembangan Hizbullah dari perspektif yang positif. la berusaha membuktikan bahwa partai ini berhasil mengubah wajahnya dari organisasi berlabel teroris pada 1980-an menjadi partai yang legitimated di Lebanon dan memiliki posisi tawar yang kuat.

Demikian pula sorotan gerakan politik partai itu dibeberkan Ahmad Nizar Hamzeh dalam karyanya, In The Path of Hizbullah. Berbeda dari karya Judith Palmer, Ahmad Nizar lebih memfokuskan pandangannya bukan pada perubahan, melainkan lebih pada semua segi yang menyangkut struktur organisasinya, juga pengaruh kuatnya sebagai partai politik di Lebanon.

Munculnya karya Nairn Qassem ini jelas kian melengkapi informasi tentang Hizbullah. Nairn Qassem, yang hingga kini masih menduduki posisi sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, berusaha membeberkan secara komprehensif hal-ihwal "Partai Tentara Tuhan" itu dari perspektif orang dalam. Pelengkap, karena boleh dibilang, inilah buku pertama yang digarap petinggi partai itu sendiri.

Dalam buku ini, Qassem tidak hanya bertutur tentang latar belakang kelahiran partai garis keras itu jauh sebelum 1982, yang diakui sebagai tahun kelahiran resminya.

Lebih dari itu, ia menuntun para pembaca untuk memahami secara mendalam ideologi dan politik Islam yang dianut partai itu. Qassem memaparkan panjang lebar tentang landasan filosofis gerakan, model kepemimpinan, hingga struktur organisasi dan pencapaian-pencapaiannya selama ini.

Berbeda dari Judith Palmer dan Ahmad Nizar yang banyak memfokuskan pembahasan pada sosok pemimpin Hizbullah, Hassan Nasralah, Qassem membeberkan beragam peristiwa dan kebijakan di balik kiprah sekretaris jenderal partai itu. la lebih fokus pada mekanisme organisasi dan manajemen partai, sampai mencakup juga mekanisme rekrutmen anggota.

Misi utama gerakan partai ini sejak awal sudah jelas: melawan hegemoni Israel dan zionisme di tanah Arab. Hizbullah pun didirikan atas dasar tiga pilar yang jadi pegangannya, yakni kepercayaan yang kuat pada Islam, jihad, dan otoritas wali fakih. Ihwal kepercayaan pada otoritas wali fakih itu dijadikan landasan karena memang Syiah menjadi tulang punggung partai ini sejak awal.

Yang cukup menarik, Qassem menuturkan beragam pencapaian yang diraih Hizbullah selama ini. la tidak hanya menguraikan pencapaian di bidang politik dan militer, melainkan juga berbagai keberhasilan di bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat. Aksi-aksi sosial dan pemberdayaan masyarakat itu dilakukan lewat beragam organisasi bawahannya. Hal terakhir inilah yang boleh jadi luput dari sorotan banyak orang.

Setidaknya ada empat organisasi bawahan yang berkiprah di bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat itu. Sebut saja Perhimpunan Jihad Al-Bina yang dibentuk pada 1985. Salah satu yang pantas dicatat, selain membangun kembali wilayah yang hancur akibat perang, Al-Bina berhasil membangun 110 sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan Bekaa Selatan dan Bekaa Barat.

Ada juga Organisasi Kesehatan Islam yang memiliki 16 rumah sakit permanen, sembilan pusat kesehatan, dan tiga rumah sakit berjalan yang beroperasi di seputar Lebanon. Dua organisasi lainnya adalah Lembaga bagi Korban Luka, yang khusus aktif membantu rehabilitasi korban perang, serta Institusi Filantropik dan Sosial bagi Para Syahid, yang menyantuni keluarga-keluarga korban perang.

Dengan uraiannya yang sangat komprehensif, tidak mengherankan bila majalah Foreign Affairs menyebut karya Qassem ini sebagai acuan paling lengkap dan baik ihwal Hizbullah. Buku ini memperlihatkan benar keyakinan para pemimpin Hizbullah untuk mencapai tujuannya membangun negara Islam lewat langkah-langkah yang ditempuhnya hingga kini.

ERWINY.SALIM

Sunday, May 11, 2008


PREDIKSI MASA DEPAN ASIA

Hampir seluruh artikel dan kolomnya juga mengupas seluk-beluk bisnis dan pelbagai perusahaan di Asia. Itu sebabnya, ia lalu dijuluki sebagai penulis spesialis Asia karena memang analisisnya begitu tajam dan mendalam
(Erwin Y. Salim, GATRA, Mei 2008)

Sejumlah kecenderungan perubahan besar mewarnai wajah negam-negara Asia dimasa depan. Ada masalah kependudukan dan kualitas SDM yang bakal dihadapi beberapa negeri, terutama Cina dan India.

Membaca judul buku ini, segera teringat di benak kita sekitar dua dasawarsa silam buku yang amat fenomenal: The Future Shock. Dalam buku ini, Alvin Toffler, si penulis yang ditabalkan sebagai futurolog dan filsuf mutakhir, meramalkan beragam kecenderungan perubahan besar yang melanda masyarakat dunia dalam perubahan peradaban di ujung abad ke-20 dan memasuki abad ke-21. Terutama perubahan struktural yang terjadi dalam revolusi dari masyarakat industri menuju masyarakat superindustri

Seperti halnya upaya Toffler, Michael Backman dalam buku ini juga meramalkan sejumlah kecenderungan besar yang melanda Asia di masa depan —setidaknya hingga 2030. Ramalannya mencakup bidang yang sangat luas, mulai masalah kependudukan yang bakal dihadapi sejumlah negara Asia, kekuatan militer, ekonomi dan dunia usaha, dunia medis dan kesehatan, hingga perkembangan teknologi nuklir. Secara partikular pula ia mencoba meneropong masa depan negara semacam Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Michael di sini menyajikan 25 butir hasil telaahnya berdasarkan perkembangan yang terjadi di Asia dalam satu dasawarsa terakhir. Semua memperlihatkan risiko dan peluang yang muncul dalam beberapa dasawarsa ke depan. Dalam masalah kependudukan, misalnya, banyak negara di Asia akan mengalami ledakan urbanisasi. Jumlah penduduk Cina diperkirakan mencapai 1,5 milyar pada 2030. Demikian pula India yang jumlah penduduknya suatu ketika diperkirakan bisa menyusul Cina. Sebaliknya, beberapa negeri justru akan mengalami kekurangan penduduk, seperti Jepang, Taiwan, dan Singapura.

Cina dan India sebagai negara dengan populasi terbesar, menurut Michael, bakal menghadapi masalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kendati Pemerintah Cina tampak begitu serius mengelola bidang pendidikan, dengan kenaikan anggaran yang cukup fantastis, juga pengembangan bidang riset, negeri itu diperkirakan tetap kekurangan SDM berkualitas. Masalah utama yang dihadapi negeri itu tidak lain migrasi tenaga-tenaga ahlinya ke luar negeri dan menetap di negeri orang. Pemerintah Cina memang giat mengirim mahasiswanya belajar ke luar negeri, tapi paling banyak hanya sepertiganya yang kembali dan mengabdi di negeri sendiri. Sebaliknya dengan India yang dipandang terlalu sedikit menganggarkan dana untuk pendidikan. Negeri ini menghadapi masalah rumit dalam melahirkan SDM berkualitas di dalam negeri. Sistem seleksi yang teramat ketat dan jumlah pendidikan tinggi bermutu yang amat sedikit membuat sedikit sekali kaum muda pintar yang bisa mengenyam pendidikan yang layak. Walhasil, perusahaan-perusahaan besar India punya kecenderungan berinvestasi di luar negeri, terutama di negeri tempat para manajer cakap mudah ditemukan.

Edisi asli Asia Future Shock ini baru terbit pada akhir 2007. Dan ini bukan karya pertama Michael Backman. Sebelum buku ini, ia telah menulis setidaknya empat buku lain yang semuanya masuk kategori "international best-seller" versi beragam media semacam The Economist dan International Herald Tribune. Semua buku itu bertema ekonomi dan bisnis di Asia. Satu di antaranya, Asian Eclipse: Exposing the Dark Side of Business in Asia. Ada juga yang khusus menyoroti Cina, yakni Overseas Chinese Business Networks in Asia, yang diterbitkan pada 1995 oleh Pemerintah Australia.

Namanya dikenal sebagai penulis dan kolomnis di berbagai media terkemuka, seperti International Herald Tibune, Far Eastern Economic Review, Asian Wallstreet Journal, dan The Times. Hampir seluruh artikel dan kolomnya juga mengupas seluk-beluk bisnis dan pelbagai perusahaan di Asia. Itu sebabnya, ia lalu dijuluki sebagai penulis spesialis Asia karena memang analisisnya begitu tajam dan mendalam. Walau demikian, memang belum ada yang menempatkan namanya sejajar dengan futurolog Alvin Toffler dengan The Future Shock dan The Third Waves yang amat popular itu. IB


ERWIN Y. SALIM

Wednesday, January 30, 2008






















Menguak Rahasia Perempuan Arab

Buku yang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi (Majalah Gatra, Januari 2008)

Semuanya berawal dari surat elektronik (e-mail) yang dikirim seorang perempuan misterius. Setiap Jumat siang, e-mail yang terkirim menjadi magnet yang mampu menarik perhatian masyarakat di pclosok negeri. Lewat seerehwmfadbalet, ccrita itu heredar di seerehTve7ifa4ha7et@yaboogroups.com,

Hampir setiap minggu, penulis misterius itu mengunjungi para pembaca dengan perkembangan terbaru dari setiap peristiwa. Sabtu pagi, fenomcna ini telah mengubah kantor-kantor pemerintah, aula perguruan tinggi, tcras rumaK sakit, dan kelas di sekolah menjadi ruang diskusi tentang e-mail terakhir.

Selalu saja ada komentar tentang e-mail gadis misterius itu. Ada yang mendukung, tapi tak scdikit pula yang berkomentar miring. Scbagian lain menunjukkan kemarahan dan ketidakmengertian atas perbuatan si gadis yang telah melanggar tradisi masyarakat yang selama ini dijaga dan dilcstarikan.

Meskipun sang penulis (awalnya) menyembunyikan identitas, pada akhirnya ia membuka diri. Nama tokoh dalam cerita itu ditulis dengan gamblang. Semua tabir yang selama ini tertutup, dirahasiakan, dan sulit dibicarakan, dia bongkar. Dia kisahkan dengan apik pelanggaran semua tradisi Arab Saudi yang terkenal keras dengan adat istiadatnya,

Maka, terkuaklah kisah kehidupan empat sahabat yang semi-eksklusif di tengah pergaulan masyarakat Arab: Qamrael-Qashmany, Shedimd-Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle -Abdul Rahman. Kisah yang diungkap Rajaa bukan rekaan, melainkan kisah kehidupan nyata pribadi empat sahabatnya.

Pernikahan Qamra bukan menjadi jaminan hidupnya akan bahagia. Usai mcnikah, ia bersama sang suami hijrah ke Amerika. Bukan bahagia yang ia peroleh, malah nestapa yang didapat-Tanpa sengaja, ia mengetahui sang suami memiliki affair dengan. perempuan Jepang. Perempuan yang selama ini menjadi "bank" selama sang suami hidup di tan ah orang. Sakit hatinya diungkapkan kepada sang suami. Tapi, apa yang ia dapat ? Malah tamparan bcrulang kali di wajahnya. Ia lantas memilih kembali ke orangtua dengan harapan sang suami meminta maaf dan memintanya kembali. Berbulan mcnunggu, ia hanya mendapat surat cerai pada saat hamil.

Lain lagi kisah Shedim. Perem­puan ini memilih menyerahkan keperawanannya kepada sang tunangan. la berkeyakinan, tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangan bila tidak mcmperscmbahkan diri seutuhnya. Keputusan Shedim memang tergolong kontroversial. Mengingat, budaya Arab mengharamkan tindakan semacam itu. Jangankan herhubungan intim di luar nikah, bcrduaan dengan non-muhrim di tempat umum saja, bila tcrtangkap basah, harus "menginap" di hotel prodeo. " Tapi pagar itu dia tabrak.

Sial, hubungan kasih Shedim putus. Berbagai pertanyaan pun bergelayut di kepalanya. Apakah menyerahkan diri seutuhnya sebelum menikah merupakan kesalahan dan dosa? Apakah yang terjadi pada malam itu adalah kesalahan? Pertanyaan demi pertanyaan ini hanya berputar di otaknya.

Sementara itu, Lumeis adalah perempuan yang pandai meramal melalui kartu. Kisah cintanya tergolong sederhana dibandingkan dengan sahabatnya. Ia menemukan cinta sejati pada seorang pria yang tak disangka-sangka sebelumnya. Sedangkan Michelle menemukan perbedaan budaya dalam hubungan cinta, Darah Amerika (dari sang ibu) membuat kisah cintanya tak mulus.

Buku ini mengungkapkan betapa sebetulnya tradisi di Arab itu sangat ketat. Perceraian adalah dosa besar bagi perempuan yang diceraikan. Seorang pria Arab harus menuruti scmua kemauan keluarga, tcrmasuk menentukan dengan siapa akan menikah
.
Masuk ke Arab pun berarti harus menanggalkan "pakaian luar negeri" dan mengenakan baju khusus Arab. Jadi, jangan heran, di setiap toilet bandar udara Arab Saudi terdapat antrean panjang pcnumpang yang hendak berganti baju. Ya, untuk mcnjalankan tradisi Arab.

Namun bukuyang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi.












Sunday, January 27, 2008



















RESENSI


Warisan Busuk Mafia Berkeley


Ishak dalam buku ini mengungkapkan secara gamblang borok-borok resep yang dicekokkan IMF kepada pemerintah Yang cukup menarik, Ishak membedah kasus PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan cara pandang lain dalam bagian tersendiri. Lagi-Iagi, ia melihat keterpurukan yang dialami industri strategis pesawat terbang itu akibat campur tangan IMF yang teramat dalam. Dan, pe­merintah sendiri pun seperti manut pada keinginan lembaga donor itu (Majalah Gatra, Januari-2008).


Segala macam resep yang ditawarkan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund -IMF), untuk Indonesia ternyata tidak manjur sama sekali. Bahkan, kondisi negeri ini boleh dibilang tidak semakin baik sejak krisis ekonomi melanda pada 1997.1ebih runyam lagi, sikap dan kebijakan tim ekonomi pemerintah juga tidak berubah menghadapi lembaga donor, kendati orangnya dan presidennya sudah berganti lima kali.

Itulah pesan yang sepertinya hendak disampaikan penulis lewat buku ini. Ishak menyoroti sikap dan kebijakan-kebijakan yang diambil tim-tim ekonomi di bawah lima presiden: Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan terakhir Yudhoyono. Terutama dalam kaitan dengan lemhaga donor semacam IMF. Intinya sama: tim-tim ekonomi itu umumnya selalu tunduk pada kemauan IMF. Dan itulah inti persoalan yang membuat kekisruhan ekonomi Indonesia seperti tak berkesudahan hingga kini.

Ishak dalam buku ini mengungkapkan secara gamblang borok-borok resep yang dicekokkan IMF kepada pemerintah. Contoh yang paling telak adalah resep tentang rekapitalisasi perbankan. IMF memaksa pemerintah metigeluarkan obligasi senilai Rp 430 trilyun. Bersama bunganya obligasi rekapitalisasi itu kemudian bernilai Rp 600 trilyun.

Menurut skenario awal, obligasi itu dipakai hanya sebagai instrumen yang bisa ditarik kembali bila bank-bank sudah sehat. Tapi, belakangan, setelah bank-bank sehat dan bebas dari kredit macet, IMF mendesak pemerintah menjual bank-bank tadi bersama obligasinya. Perkembangan selanjutnya, bank-bank itu dibeli asing. Dengan cara itu, pemerintah telah mengubah utang swasta menjadi utang publik yang baru di samping utang luar negeri senilai US$ 137 milyar.

Kisruh dunia perbankan baru satu dari sekian banyak salah kaprah resep IMF. Ishak mengungkap lebih banyak lagi resep-resep di bidang industri dan pertambangan yang dipaksakan oleh IMF yang pada akhirnya mcnyengsarakan rakyat. Lebih celaka lagi, para ekonom yang menyusun kebijakan ekonomi dan moneter Indonesia pun tampak patuh pada kemauan lembaga itu dari waktu ke waktu.

Yang cukup menarik, Ishak membedah kasus PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan cara pandang lain dalam bagian tersendiri. Lagi-Iagi, ia melihat keterpurukan yang dialami industri strategis pesawat terbang itu akibat campur tangan IMF yang teramat dalam. Dan, pe­merintah sendiri pun seperti manut pada keinginan lembaga donor itu.

Dengan mengutip pendapat para mantan petinggi PTDI, ia mencoba mengupas apa yang sebenarnya terjadi di tubuh perusahaan yang dulu bernama IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) itu. Dengan belajar dari industri sejenis yang dikembangkan oleh negara maju, Ishak melihat kondisi PTDI sebetulnya tidak sangat buruk.

Setelah krisis, perusahaan yang selama ini dianggap selalu disusui peme­rintah itu hanya membutuhkan suntikan dana Rp 2 trilyun lagi untuk restrukturisasi. Tapi, dana itu tak diperoleh, karena IMF mendikte pemerintah agar menghentikan pengembangan PTDI Sikap IMF dan pemerintah kala itu dinilai sangat tidak adil bila dibandingkan dengan ratusan trilyun dana yang dikucurkan untuk restrukturisasi perbankan.

Padahal, pada saat itu, PTDI punya peluang besar untuk merebut sejumlah proyek ke depan. Pada tahun 2000 saja, karena kekurangan dana, perusahan ini tidak bisa ikut tender pengadaan pesawat CN-235 dari Australia senilai US$ 350 jura. Belum lagi pengembangan N-250 yang terhenti di tengah jalan karena ke-kurangan daria, Padahal perusahaan ini bisa ambil bagian untuk memenuhi kebutuhan dunia yang dalam lima tahun ke depan diperkirakan berjunilah sekitar 4,500 unit,

Tidak sekadar itu. Reputasi PTDI sendiri pun sebenarnya siadah diakui dunia. la memberi contoh kerja sama dengan Boeing dalam pengetesan pesawar jumbo jet. Demikian pula General Dynamic yang mempercayakan pembuatan ekor pesawat F-16 ke PTDI. Cuma, persoalan lainnya, menurut Ishak, lairangnya.vm)-£po/to:/j//w/ogj' dan visi pemerintah setelah Soeharto dan Habibie pun ikut memberi saham pada kemunduran industri pesawat terbang ini. Padahal, kemampuan teknologi dan industri seperti yang dikembangkan. PTDI itu adalah investasi masa depan.

Buku ini seperti memberi semacam pencerahan kepada pemhaca dalam me­lihat beragam krisis yang melanda negeri ini. Apa yang masih terus berlangsung hingga hari ini, bila ditarik benang merahnya, mulai dari pemerintahan Pak Harto hingga pemerintahan sekarang tetap tunduk pada kemauan IMF. Meminjam istilah Ishak, semua karena tim ekonomi pemerintah dari waktu ke waktu masih dipegang oleh kelompok ekonom neoliheral dan titisan ekonom dari "Mafia Berkeley". ib
erwiny.salim

GATRA, 24-30 JANUARI 2008

Tuesday, November 13, 2007

Kiprah Berdarah Geng Bisnis di Irak

Muhamad Yuanda Zara
Mahasiswa Ilmu Sejarah UGM, Yogyakarta

JUDUL: Blood Money
PENULIS: T Christian Miller P.

PENERJEMAH: Leinovar Bahfein
PENERBIT: Ufuk Press, Jakarta
TEBAL: 459 halaman



"Kontrak ratusan milyar dolar untuk rekonstruksl Irak ternyata banyak bolongnya. Miller mengungkap borok-borok yang ad di balik proyek-proyek itu".
(Gatra)


Ingat film Gangs of New York yang dibintangi Leonardo DiCaprio? Geng-geng jalanan di New York berebut kekuasaan pada awal kebangkitan kota itu. Mafia jalanan dilacak, tapi mereka punya kuasa tak terhingga. Intrik, adu taktik, dan saling tikam jadi hal biasa. Kisah kelam itu terwujud dalam dunia nyata. Kali ini jalanan yang diperebutkan adalah Irak, negeri dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Berbagai “geng”, yang terdiri dari isi Gedung Putih, pejabat, pensiunan militer, kontraktor, hingga calo senjata, tumpah ruah berebut proyek di “negeri 1001 malam" itu. Semua berjalan atas nama "rekonstruksi Irak"

Bagi Amerika Serikat, seperti diungkap Paul Wolfowitz, membangun Irak “target paling penting untuk menjadikan Amerika dan dunia sebagai tempat yang lebih baik". Maka, jelaslah mengapa Washingtion jorjoran mengucurkan dana. Tiga tahun setelah pendudukan, Amerika telah mengeluarkan lebih dari US$ 30 milyar untuk perbaikan Irak —jurnlah yang jauh lebih besar dari anggaran Marshall Plan pasca-Perang Dunia II. Pemerintah Washing­ton memang memperlakukan Irak sebagai "megaproyek".

Infrastruktur yang rusak parah akibat terjangan Tomahawk masuk dalam agenda blue print bertitel "Irak Baru". Mereka yang terlibat di sini adalah perusahaan dan kontraktor kelas kakap, seperti Bechtel, Fluor, Washington Group Interna­tional, Perini Corporation, Parsons, Lucent, dan CH2M Hill. Masing-masing mendapat jatah sendiri-sendiri. Nilai kontraknya luar biasa besar: US$ 512 milyar.

Namun perkongsian itu ternyata tak seindah American dream. T. Christian Miller, wartawan investigatif Los Angeles Times, mengungkapkan betapa bobroknya sistem yang mengendalikan Irak pasca-perang. la berhasil merangkai sebuah kajian mendalam dan kritis seputar kiprah gabungan politisi dan pengusaha di Irak dalam buku ini.

Miller menyebut banjirnya uang ke Irak sebagai awal semua tindakan ceroboh yang muncul satu per satu. Para pensiunan staf Republikan, pengusaha, dan warga Irak yang diasingkan berbondong-bondong ke Irak. Demikian pula perusahaan multi-nasional seperti Halliburton dan Bechtel yang beroleh kontrak raksasa tanpa tender
.

Politisi yang mengkritik situasi ini disingkirkan. Seorang di antaranya adalah Bunnatine "Bunny" Greenhouse, pejabat urusan kontrak paling senior dalam U.S. Army Corps of Engineers. la mengecam proses pemberian kontrak kepada Halli­burton Company untuk membangun kembali industri minyak Irak. la menyebutnya sebagai "pelanggaran kontrak paling terang-terangan dan tidak layak yang pernah saya saksikan sepanjang karier profesional saya". Walhasil, pangkatnya diturun-kan dan belakangan ia dipecat.

Belum lagi mafia senjata yang dijulukinya "hiu-hiu perang" yang berkeliaran di seantero kota. Seorang di antaranya ada­lah Victor Bout, makelar senjata asal Rusia yang pernah dituduh melanggar sanksi PBB. Meski CIA sudah memperingatkan Gedung Putih, warning itu diabaikan. De­mikian pula adanya simbiosis mutualisme antara politisi Washington dan kolega bisnisnya. Para birokrat Amerika ini membayar jatah kontraktor setelah menyunat sebagian untuk dirinya sendiri.

Penyimpangan dan kebocoran terjadi di sana-sini. Malah, usai pemilu Irak pada akhir Januari 2005, Stuart Bowen, jenderal inspektur khusus untuk rekonstruksi Irak, mengumumkan hasil audit Dana Pembangunan Irak. Hasilnya, hampir US$ 9 milyar hilang tanpa jejak.

Miller, yang telah menyabet berbagai penghargaan untuk karya jurnalistik, me­nyebut tragedi ini "ibarat buldoser raksasa dengan balok besi sebagai pedal gasnya, menggilas secara membabi buta segala yang ada di depan". Uang yang beredar di tanah Irak bukannya membantu, melainkan malah merusak. Uang itu, tak lain tak bukan, adalah blood money, uang yang mengandung darah yang telah tertumpah di tanah Irak

Dalam salah satu bagian tulisannya, Miller bertanya dengan miris dan sarkartis, sekaligus seperti sebuah desakan untuk merenung bagi para petinggi di Washing­ton. Katanya, "Bagaimana mungkin se­buah negara yang telah menerbangkan orangnya ke bulan tak sanggup membuat toilet berfungsi lancar di sebuah perkampungan kumuh di Baghdad?”
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes