Showing posts with label *Majalah Tempo. Show all posts
Showing posts with label *Majalah Tempo. Show all posts

Wednesday, December 29, 2010


STEPHEN OPPENHEIMER:
ASIA TENGGARA ADALAH SUMBER PERADABAN BARAT

Arkeolog bukan, geolog pun bukan. Stephen James Oppenheimer adalah dokter ahli genetika yang menyelesaikan jenjang doktoral di Universitas Oxford. Sekitar empat dasawarsa silam, ia mulai tertarik pada peradaban manusia prasejarah. Dua belas tahun lalu, ia menghasilkan Eden in the East, karya kontroversial yang menyatakan Indonesia sebagai awal peradaban dunia. Oppenheimer menjawab pertanyaan wartawan Tempo Pramono tentang isi bukunya, yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu.

Latar belakang Anda dokter. Mengapa Anda tertarik pada sejarah migrasi manusia?

Saat berada di Papua Nugini menjelang 1980, saya tertarik pada asal-usul manusia seperti ditulis kitab Kejadian. Pada 1979, saya melakukan penelitian tentang anemia kekurangan zat besi pada anak-anak di pantai utara Papua Nugini. Saat itulah saya melihat perbedaan genetis dalam darah anak-anak di desa tertentu yang dalam mitos disebut sebagai keturunan Kulabob dan Manup. Anak-anak keturunan Kulabob saya lihat lebih tahan terhadap malaria. Saya melihat mutasi genetis pada anak-anak Kulabob ini mengakibatkan mereka tahan terhadap malaria.

Apa artinya mutasi genetis itu?

Saya melihat mutasi genetis anak-anak Kulabob ini menampilkan tanda-tanda jejak imigrasi orang Polinesia ke Pasifik. Sementara itu, keturunan Manup adalah keturunan orang Papua asli yang telah bermigrasi ke Papua Nugini jauh lebih awal, selama Zaman Es. Saat itulah saya mulai bertanya apa yang telah mendorong orang-orang kuno Asia Tenggara meninggalkan kampung halaman yang subur dan berlayar ke perairan Pasifik, sekaligus meninggalkan jejak genetis, budaya, dan bahasa di sepanjang pantai utara Papua Nugini dalam perjalanan mereka ke timur.

Dalam Eden in the East, Anda menyebut soal banjir yang membuat orang kuno Asia Tenggara tersebar ke mana-mana. Bagaimana Anda bisa sampai pada soal banjir itu?

Pada 1993, saya terbang ke Manila. Saat itu saya tertarik pada pameran arkeologi maritim. Kurator museum bercerita tentang kisah banjir yang dimiliki suku-suku di Filipina. Belakangan saya mulai sadar, ada kemungkinan sebuah banjir di paparan benua Asia Tenggara meluas pada akhir Zaman Es. Ini bisa menjadi penyulut yang mengirim penduduk tepi pantai tersebar ke Pasifik ribuan tahun silam. Dalam penyebaran itu, sangat mungkin mereka membawa berbagai kebudayaan. Saya membaca soal topik ini terus-menerus. Semakin banyak membaca, saya makin menemukan banyak bukti tentang asal-usul Pasifik. Setelah itu, saya mulai melirik oseanografi dan arkeologi untuk menggali bukti.

Bagaimana dengan Paparan Sunda?

Saya percaya, Asia Tenggara adalah sumber peradaban Barat. Saya percaya sebagian besar nenek moyang Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara yang dulunya adalah benua sangat besar yang disebut dengan Paparan Sunda. Sebagian besar garis gen di Polinesia pada dasarnya berasal dari Paparan Sunda lebih dari lima ribu tahun lalu. Banjir di Paparan Sunda menjadi penyebab mereka berlayar ke Pasifik. Saya juga yakin orang Polinesia memulai penyebaran Pasifik besar dari Asia Tenggara, bukan Cina. Lalu berbagai kaitan cerita rakyat menegaskan hubungan Timur-Barat dalam masa prasejarah, sekaligus menjadi dasar banyak mitos dan cerita rakyat Barat.

Anda berpendapat Asia Tenggara bukan hanya cabang sekunder dari peradaban Asia di Cina dan India?

Ya, Asia Tenggara adalah daerah dengan budaya yang paling beragam, paling tua, dan paling kaya di bumi. Pandangan Asia Tenggara sebagai cabang sekunder terlalu menyepelekan, tidak pada tempatnya, dan tidak memperhatikan bukti masa lalu.

Bagaimana tanggapan kolega Anda terhadap Eden in the East?

Ada cukup banyak tanggapan positif terhadap buku saya. Sebagian arkeolog percaya pada bukti yang saya ajukan. Ada juga arkeolog yang tetap yakin orang Indonesia berasal dari Taiwan. Tapi sekarang sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bertanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.

Wednesday, October 08, 2008




GAIRAH HIDUP DALAM SEKARAT

Keceriaan, ketulusan, serta kalimat -kalimat yang bernas dan jenaka adalah pemikat utama buku ini
(Majalah Tempo, September 2008)

Ia membukukan kuliah terakhirnya, The Last Lecture, sebelum kanker pankreas stadium akhir merenggut nyawanya pada Juli lalu. Randy Pausch, penulis buku itu, adalah profesor di Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania. Ada yang bilang penerbitan buku itu mirip antiklimaks "drama" hidupnya yang singkat—47 tahun saja. Tapi pilihan itu tidak sia-sia. Kuliah terakhirnya—videonya kemudian ditayangkan di Internet—telah diunduh lebih dari enam juta orang.

Randy Pausch menampilkan sisi emosional yang lebih menohok dalam bukunya ketimbang saat ia berada di podium ruang kuliah pada September 2007. Dia mengajukan pertanyaan di sela-sela kuliah terakhir itu: "Jika kita mati esok hari, apa yang akan kita wariskan?" Dokter memperkirakan harapan hidupnya tak akan sampai setahun saat itu. Oprah Winfrey kemudian mengundang dia sebagai tamu di acaranya. Nama dia masuk daftar 100 Orang Paling Berpengaruh 2007 versi majalah Time.

Buku setebal 300 halaman—terjemahannya dirilis bulan lalu—ini berkisah tentang impian masa kecil Pausch, kisah-kisah pribadinya, serta bagaimana ia melewati waktu yang tersisa bersama istrinya, Jai, dan ketiga anak mereka yang masih kecil. Pausch acap bilang buku ini tak akan berarti andai ia tak divonis mati hanya dalam hitungan bulan.

The Last Lecture dibuka dengan kebimbangan Pausch saat ia diminta menyampaikan kuliah terakhir. Itu bukan persoalan yang mudah karena istrinya memintanya meluangkan lebih banyak waktu bagi keluarga. Tapi Pausch menggambarkan tubuhnya yang sedang sekarat tak bisa mengerem keinginan hati untuk mengajar. "Sepanjang karier akademis, saya sudah menyampaikan ceramah-ceramah cukup bagus. Tapi dipandang sebagai pembicara terbaik di jurusan ilmu komputer rasanya seperti dikenal sebagai yang paling tinggi di antara Tujuh Kurcaci. Dan tepat saat itulah muncul perasaan bahwa diri saya lebih dari itu..." (halaman 7).

la berharap buku ini dapat menjadi "buku petunjuk" bagi anak-anaknya, yang tak sempat mengenalnya dengan mendalam. "Anda harus mengatasi ketertinggalan menjadi orang tua dalam waktu amat sedikit dengan contoh yang benar-benar berarti," tulisnya.

Keceriaan, ketulusan, serta kalimat-kalimat yang bernas dan jenaka adalah pemikat utama buku ini. Dia menyingkap impian masa kecilnya—dalam ceramah di podium itu ia beri judul Kiat Agar Berhasil Mencapai Impian Masa Kecil Anda. Dia menyampaikan petuah tentang pentingnya mencurahkan lebih banyak waktu untuk orang di sekitar kita dan memandang hal-hal kecil yang selama ini dianggap remeh.

Dengan kalimat yang lucu, ia mencontohkan orang acap terbelenggu oleh status yang melekat pada dirinya lewat materi tertentu: mobil bagus, perangkat komunikasi terbaru. la juga mengungkap hubungan emosionalnya dengan Jai, istrinya. Dengan selera humor yang terasah baik, Pausch berkisah tentang "malapetaka" pada hari pernikahan mereka.

Pasangan ini naik balon udara melintasi Pittsburgh dan, celakanya, balon itu harus mendarat darurat di sebuah lapangan. Sebelum mencapai lapangan, balon udara yang mereka tumpangi itu hampir saja menabrak kereta. Pengemudi balon berteriak agar, saat menyentuh landasan, mereka lari secepat mungkin. "Bayangkan, inilah kalimat yang tak ingin didengar pengantin baru mana pun di dunia di malam pengantin mereka."

Alih-alih buku ini menjadi curahan hati yang dipenuhi ratapan dan penyesalan, Pausch justru menunjukkan manusia mampu mengemas sisa waktunya menjadi perjalanan berharga—meskipun pada akhirnya tak berdaya terhadap maut. "Kita tak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya," kata Pausch.

Angela Dewi







Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes