Showing posts with label *Tabloid OTOMOTIF. Show all posts
Showing posts with label *Tabloid OTOMOTIF. Show all posts

Thursday, August 07, 2008

WIRING DIAGRAM HHO

Buat yang ingin merangkai kelistrikan peralatan elektrolyzer ini bias mengikuti langkah awal sebagai berikut. Ada dua versi untuk merangkainya. Contoh berikut dilakukan pada mobil Toyota Kijang Diesel 1999

Cara termudah dengan langsung menjumper arus dari perangkat listrik terdekat. Sebagai referensi, pada mobil ini setrum untuk alat ini diambil dari arus positif motor wiper. Untuk pengaman, setelah kabel dari motor wiper sebaiknya pasang sekring 10 A. Lalu, kabel bias langsung disambung dengan terminal positif dari electrolyzer

Cara kedua secara prinsip sama tetapi ada penambahan relay sebagai pengaman tambahan. Menggunakan relay 4 kaki, ada hal yang harus diperhatikan saat instalasi. Untuk sumber perintah kerja, kabel atus dari motor wiper pasang di terminal nomor 85 pada relay dipasang pada ground atau kutub negatif aki. Ini hanya untuk perintah kerja. Jadi, apabila mesin pada posisi ON, electrolyzer akan langsung bekerja. Kemudian untuk setrum yang menuju alat electrolyzer mengambil arus dari aki langsung. Caranya, terminal 30 di relay sambungkan dengan kutub positif aki. Terminal 87 pasang pada terminal positif electrolyzer






HEMAT SOLAR 12,11 %

Penghematan lebih besar tampak pada konfigurasi 3 sel, dengan kon¬sumsi 16,57 km/liter (6,1 liter untuk 101,1 km). Artinya buat setiap liter solar, mobil bisa menempuh jarak ekstra 1,79 km. Efisiensipun terdongkrak 12,11%
(Tabloid OTOMOTIF, Agustus 2008)

Fakta mengenai bahan bakar minyak memang tidak bakal habis dibicarakan. Selain kenaikan harga yang terus melambung, beberapa alternatif pun muncul ke permukaan. Di antaranya pemakaian air yang dicampur dengan BBM, Tentu tidak langsung dimasukkkan ke mesin begitu saja, tetapi dengan melalui treatment lebih dulu.

Seperti yang dilakukan sepasang penggagas penggunaan bahan bakar air untuk mobil di Indonesia, Poempida Hidayatuliah dan F, Mustari. Lewat bukunya "Brown Energy Ranasia Balian Bakar Air", keduanya mengemukakan teknologi elektrolisa air untuk menghasilkan gas hidrogen yang bisa mengirit bensin.

MENGURAI AIR

Urusan temuan mengurai gas hidrogen dan air ini memang bukan barang baru. Seperti juga sudah diulas OTOMOTIF 12/XVI untuk motor, teknoioginya sudah berkembang seiring perkembangan motor bakar itu sendiri. Uniknya, riset bergulir secara estafet dan independen, Seperti oleh Yull Brown dari Australia (dari namanyalah gas ini disebut Brown Gas) sampai Stanley Meyer dari Amerika Serikat.

Inti dari produksi gas hidrogen ini adalah electrolyzer atau wadah untuk elektrolisa air. Pada aiat ini, terjadi elektrolisa untuk memisahkan molekul air H?0 menjaal 2 atom hidrogen (H) dan 1 atom oksigen (0). Makanya sistem ini juga banyak disebut dengan HHO.

Bagaimana molekul air bisa terurai menjadl atom-atom penyusunnya? Ternyata prinsip kerjanya cukup sederhana. Air yang dipakai adaiah air destilasi karena lebih murni. Selain itu juga ditambah sodium bicarbonate atau baking soda sebagai katalisnya. Itu karena di dalam alat ini ada aliran listfik. Tidak besar, tetapi nyatanya cukup membuat air bergeiembung dan terpisah menjadi gas HHO. Gas itu kemudian disalurkan ke intake manifold.

Tahap-tahap pembuatan unit elektrolisa ini pun dijelaskan komplet didalam buku tersebut. Bentuknya cukup sederhana karena menggunakan botol atau topics produk kopi yang mudah ditemukan. "Sebenarnya lebih pada kepraktisan, supaya siapa saja bisa membuatnya," ujar Futung Mustari, yang ditemui di kantor penerbit Ufuk di Pejaten Jaksel.

Namun karena banyaknya permintaan, selain melakukan seminar dan pelatihan, Mustari juga menyediakan unitnya dengan banderol Rp 400 ribu untuk satu sel (belum ongkos pasang). Saat int memang masih dibuat secara terbatas, namun spesifikasinya sama persis dengan peranti yang dibahas di buku. Tampak pada unit yang sudah jadi, masih berupa toples yang sudah diberi rangkaian kumparan kawat stainiess steel 316L dan 304S masing-masing buat terminal positif dan negatif.

DUA KONFIGURASI

Kali ini, OTOMQTIF pun berkesempatan untuk mencobanya pada kendaraan bermesin diesel. Untuk itu, dipilih Toyota Kijang Krista diesel 1999 milik awak redaksi sebagai sarana uji coba. Minibus bermesin 2LJ dengan kapasitas 2.500 cc inipun dipasangi serangkaian botol electiolyzer.

Melihat tempat yang cukup lega di ruang mesin Kijang, penempatan juga leluasa, Bisa beberapa botol sekaligus ditempatkan di sini. Nah, biar puas dijajal dua konfigurasi sekaligus. Pertama dengan konfigurasi 3 sel eiectrolyzer, lalu kedua hanya pakai dua set saja.

Sebelum memuiai, bracket botol dipastikan terpasang dengan baik. Laiu ditambah juga dengan peredam panas untuk melindungi botol. "Karena dekat knalpot, untuk menjaga keutuhan botolnya," lanjut pria 44 tahun yang masih meneruskan risetnya akan bahan bakar air ini.

Rangkaian sel electrolyzer ini dipasang secara seri baik dari pengumpulan gas maupun rangkaian kelistrikannya. Misalnya pada rangkaian tiga sel, slang dikumpulkan pada sel tengah baru disalurkan ke intake. Begitu juga konfigurasi dua sel, dikumpulkan jadi satu baru disalurkan ke mesin.

Masuknya gas HHO ke dalam mesin tinggal mencari lokasi ideal. Pada mesin diesei, tempatnya lebih leiuasa. Untuk itu, dipilih salura intake setelah saringan udara yang terbuat dari plastik. Tinggal diiubangi dan ditancapkan nepel siang.

Dengan dua konfigurasi sel eiectrotyzer itu, dilakukan pengukuran konsumsi bahan bakar mobil. Tiga kali pengujian konsumsi, masing-masing untuk kondisi standar, dengan HHO dua sel dan HHO tiga sel. Kondisi standar Kijang diesei tercatat mengonsumsi 14,78 km/liter (6,84 liter untuk 101,1km).

Dengan penggunaan HHO, konsumsi solar temyata bisa ditekan. Pada konfigurasi 2 sel, konsumsi solar tercatat 16,04 km/liter (6,3 liter untuk 101,1 km). Artinya ada penghematan sebesar 8,53%.

Penghematan lebih besar tampak pada konfigurasi 3 sel, dengan konsumsi 16,57 km/liter (6,1 liter untuk 101,1 km). Artinya buat setiap liter solar, mobil bisa menempuh jarak ekstra 1,79 km. Efisiensipun terdongkrak 12,11%





Thursday, July 31, 2008


BENSIN+AIR=HEMAT 40%

Hasil tes menunjukkan penghematan cukup signifikan hingga 40% dengan kondisi berkei dara 'stop and go'. Variasi kecepatan antara 2 hingga 80 km/jam dengan batas putaran mesin tak lebih dari 6.000 rpm. Sementara tes perform tak menunjukkan penurunan
(Tablid OTOMOTIF, Juli 2008)

Bahan bakar minyak yang cukup meresahkan belakangan ini, membuat banyak orang berlomba-lomba melakukan efisiensi secara signifikan. Tak terkecuali pemilik motor yang terbilang kendaraan irit BBM, masih memimpikan efisiensi bensin lebih hebat lagi.

Pada akhirnya, perburuan informasi di internet oleh banyak pemerhati untuk mencari rumus jitu efisiensi BBM paling dahsyat dengan biaya terjangkau, berakhir pada bahan bakar air (BBA). Unusual Creation (UA), salah satu pencetus BBA untuk motor sudah berhasil membuatnya secara massal dan siap dites kru OTOMOTIF.

SISTEM ELEKTROLISA AIR

Bahan bakar air ini sebenarnya bukan temuan baru. Sudah banyak ilmuwan lokal dan mancanegara mengembangkan untuk industri otomotif. Hanya saja, Tonny Lo dari UA sudah menerapkan untuk motor berbahan bakar minyak. "Sebenarnya belum murni bahan bakar air karena bensin dari tangki masih dipakai, tetapi efisiensi konsumsi bisa mencapai 30-60%," ujar Tonny.

Menggunakan proses yang sama dengan penemuan Isaac de Rivaz (1828), Yull Brown (1974) dan Stenley Meyer (1998), Tonny memakai metode elektrolisa untuk memisahkan senyawa air (H20) menjadi 2 molekul Hidrogen dan 1 molekul Oksigen. Alat electrolyser ini yang kemudian dites kru redaksi ke TVS Apache RTR160.

Hasil elektrolisa dari air yang sudah dicampur sodium bikarbonat alias backing soda ini berbentuk gas bernama HHO atau dikenal dengan banyak istilah seperti Brown Gas, hydroxy, oxyhydrogen, green gas atau water fuel. "Karena prosesnya elektrolisa, makanya perlu arus listrik dari aki atau generator motor," jelasTonny lagi.

Gas HHO ini kemudian disalurkan ke intake manifold atau boks saringan udara agar bisa terhisap bareng bensin menuju ruang bakar. Di sinilah proses penghematan terjadi. Daya ledak HHO yang 3 kali lebih besar dari bensin premium menjadikan proses pembakaran mendekati sempurna.

Saat electrolyser dipasang ke motor, Tonny menambahkan alat tambahan khusus berupa AC to DC converter yang dijumper ke kabel sepul pengisian sebagai sumber listrik electrolyzer. "Kawat elektroda di dalam tabung electrolyzer dialiri listrik DC (direct current} berkisar antara 3-12 volt dengan arus 2-3 Ampere," jelas Apri, teknisi UA.

Tanpa alat AC to DC converter, aki cepat tekor karena rata-rata aki motor hanya berkemampuan 3,5-7 Ampere. Saat dihidupkan, tegangan ke electrolyserter terbaca 11,46 Volt dengan arus 2 Ampere di Avometer.

Sebelum dites, setelan udara karburator dibuat 3,5 putaran (3,5 x 360°) dari posisi menutup dengan stasioner 1.250 rpm. Pengetesan sengaja dilakukan saat heavy traffic dengan rute Kebon Jeruk-Sawangan (Depok). Untuk mengetahui jumlah bahan bakar dengan presisi, dipakai tangki botol berkapasitas 1 liter yang disambuni kan langsung ke karburator.

Hasil tes menunjukkan penghematan cukup signifikan hingga 40% dengan kondisi berkei dara 'stop and go'. Variasi kecepatan antara 2 hingga 80 km/jam dengan batas putaran mesin tak lebih dari 6.000 rpm. Sementara tes perform tak menunjukkan penurunan. Sebaliknya dengan daya ledak yang jauh lebih baik, akselerasi lebih terjaga di segala putaran mesin. • KI:X




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes