Showing posts with label The Year Of Magical Thinking. Show all posts
Showing posts with label The Year Of Magical Thinking. Show all posts

Thursday, July 17, 2008




MEMOAR KEMATIAN DAN KESUNYIAN

Tak perlu menunggu lama, memoar ini akhirnya mendapat penghargaan The National Book Award dan The National Book Foundation Medal tahun 2005. Karena buku memoar ini pula tahun ini, sang penulis, Joan Didion, diganjar penghargaan prestisius dari Francis, The Prix de Medicis Award 2008. Tak banyak penulis yang berhasil mendapatkan penghargaan ini.
(Muhammad Syafiq, Indo Pos/Jawa Pos, 6-Juli-008)

Hanya beberapa hari setelah menjenguk putri mereka yang sedang koma di rumah sakit, sang suami tersungkur karena serangan jantung. Saat itu mereka sedang makan malam. Beberapa bulan kemudian sang istri memulai memoarnya dengan tulisan: "Kau duduk menyantap makan malam, lalu hidup yang biasa kau jalani pun berakhir. "Setahun kemudian memoar itu selesai, disusul kematian sang putri.

Maka lahirlah sebuah memoar tentang duka cita, cinta, dan kematian dalam latar masyarakat urban Amerika. Bertentangan dengan kebiasaan di sana, yang lebih memberikan tempat pada tema-tema populer seperti cinta dan seks atau kerja dan cara pengasuhan anak, buku ini mendapat sambutan luar biasa. Dua bulan sejak pener-bitannya, buku ini telah terjual 200.000 copy. Sementara berbagai artikel surat kabar dan majalah bahkan program TV berlomba-lomba mengulasnya.

Tak perlu menunggu lama, memoar ini akhirnya mendapat penghargaan The National Book Award dan The National Book Foundation Medal tahun 2005. Karena buku memoar ini pula tahun ini, sang penulis, Joan Didion, diganjar penghargaan prestisius dari Francis, The Prix de Medicis Award 2008. Tak banyak penulis yang berhasil mendapatkan penghargaan ini. Many a penulis-penulis dunia yang dipandang brilian seperti Umberto Eco, Milan Kundera, dan Orhan Pamuk yang pernah menerimanya.

Menimbang apresiasi yang luar biasa terhadap buku memoar ini tidaklah aneh jika muncul pertanyaan tentang apa arti pentingnya. Dalam latar superioritas masyarakat Amerika dan Eropa yang berkelimpahan dan nyaris sempurna saat ini, kematian menjadi sesuatu yang terpencil. Kematian menjadi fakta yang hanya dibicarakan diam-diam untuk kemu¬dian dilupakan. Berbagai tawaran produk dan jasa anti penuaan (anti-aging) yang laku keras di kedua belahan dunia itu hanyalah salah satu contoh betapa kematian menjadi suatu yang ingin ditolak bahkan dilawan
.
Dalam latar masyarakat semacam itu, buku ini berhasil memberi kejutan dengan menampilkan secara vulgar dan blak-blakan proses sebuah kematian berlangsung. Buku ini juga berhasil memanggil kembali kesadaran yang coba diabaikan tentang kerentanan manusia di hadapan maut yang bisa datang kapan saja tanpa mampu dicegah.

Kematian dan duka cita memang telah melahirkan begitu banyak ekspresi. Mulai ekspresi artistik seperti drama, musik, nyanyian, puisi, roman, dan film hingga ritual kultural seperti selamatan dan upacara-upacara tradisional lainnya. Bahkan ekspresi terhadap kematian bisa menjadi ritual spiritual seperti aksi umat Syi'ah yang memukuli punggungnya sendiri dengan cemeti berduri memperingati Tragedi Karbala hingga umat Yesus yang memaku dirinya di salib memperingati Hari Penyaliban.

Ekspresi kolektif atas kedukaan personal dan komunal dalam bentuk seni, ritual kultural, dan spiritual semacam ini barangkali berguna sebagai saluran pelepas beban duka. Namun, yang terpenting, ritual-ritual ini menunjukkan bahwa kematian perlu dirayakan dan diperingati. Hal semacam ini sangatlah lumrah dalam masyarakat yang masih memegang tradisi.

Namun, masyarakat modern yang individualis sangatlah asing dengan cara menghadapi kematian dan pengalaman pelepasan beban semacam itu. Buku ini menjadi penting karena mampu mengangkat pengalaman yang amat intim dan personal dari seorang perempuan paro baya Amerika dalam menghadapi kedukaan karena kematian suami dan ketidakberdayaan putrinya yang mengidap sakit parah ke dalam ranah publik.

Dalam latar masyarakat Amerika, kedukaan Didion tampak terasa sunyi dan dingin. Ekspresi kedukaan bukan gelora kesedihan yang meluap-luap melalui tangisan dan ratapan pada momen-momen kematian, tetapi rasa kehampaan yang membuat dunia menjadi tak lagi berarti dan bersenang-senang menjadi sebuah dosa yang tercela.

Dalam perkabungannya, ia terdorong untuk menyendiri. la cemas dan bingung bersikap atas simpati keluarga dekat dan teman-temannya. la sulit mempercayai kematian suaminya sekadar sebagai jasad yang berhenti berfungsi seperti ditulis dalam berkas-berkas medis yang kaku tanpa emosi. la mengandaikan terjadi keajaiban bahwa laporan medis itu salah dan suaminya hanya sedang koma untuk kemudian bangun kembali.

Begitu intim dan dalamnya gambaran Didion atas rasa dukanya hingga pembaca bisa turut merasakan tanpa terpaku pada deretan kalimat-kalimat yang ditulisnya. Bukan makna harafiah tulisannya yang menderas kita dengan cerita kesedihan, tetapi suasana halus yang suram yang berhasil ditancapkan tulisan itu.

Tulisan Didion memang tidak dinarasikan secara mengalir kronologis tapi penuhflashback tajam hingga menyerupai fragmen-fragmen prosa. Namun alur narasi semacam ini justru berhasil menggambarkan gejolak perasaan sedih dan nyeri yang selalu muncul menyertai berbagai potongan kenangan yang datang dan pergi silih berganti bersama mendiang semasa hidup. Kenangan-kenangan bersama mendiang inilah yang membuat rasa duka tidak benar-benar bisa lenyap.

Perjalanan waktu barangkali bisa membuat rasa duka tidak lagi bergejolak, tetapi rasa duka itu tetap tinggal. Didion menulis: "Dalam periode yang disebut masa berkabung yang lamanya tak pasti itu, kita seolah-olah berada dalam kapal selam, sunyi di dasar samudera, waspada dengan tekanan air, kadang dekat dan kadang jauh, menyapu-nyapu kita dengan kenangan" (hlm.31).

Dalam masyarakat modern di mana ekspresi kedukaan secara kolektif jarang muncul, karya literer seperti buku ini bisa menjadi saluran alternatif pelepas beban. Baik penulis maupun pembaca yang mengalami duka serupa, akan merasa disatukan oleh pengalaman yang sama. Selain itu, buku ini menegaskan sebuah kesadaran yang sudah sangat tua bahwa ingatan akan kematian tidak perlu dipendam diam-diam. Kematian layak diperbincangkan dan dirayakan sebagai bagian sah dari kehidupan. (*)

Muhammad Syafiq
pengajar psikologi Universitas Negeri Surabaya






Monday, June 02, 2008


JALAN PANJANG MEMUPUS KEDUKAAN
MASUK SEBAGAI recommended books
HU INDO POS, MEI 2008.

Jalan Panjang Memupus Kedukaan karya Joan Didion masuk sebagai salah satu recommended books versi koran Indo Pos pada edisi 18 Mei 2008. Bersama dengan karya lainnya, buku yang mendapatkan banyak penghargaan bergengsi di Perancis dan tingkat Eropa serta direkomendasikan oleh Kick Andy-Metro TV tersebut hadir dengan karya yang memukau pembacanya. Recommended books Indo Pos ini bersumber dari data yang dihimpun redaksi Indo Pos di toko buku Uranus Surabaya, JP Books Surabaya, toko buku Social Agency-Jogja dan toko buku Toga Mas Malang

Wednesday, April 23, 2008



....bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya
(Hernadi Tanzil, bukuyangakubaca.blogspot.com)



Hidup berubah cepat,
Hidup berubah seketika,
Kau duduk makan malam,
Lalu hidup yang kau jalani berakhir,


Kematian seseorang yang dikasihi adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Kapan waktunya masih merupakan misteri dan rahasia sang pemberi kehidupan. Kadang kita bisa menduga-duga jika orang yang kita kasihi itu telah menderita penyakit akut yang telah lama dideritanya, namun tak jarang kematiannya datang begitu tiba-tiba sehingga kita tak siap menerima kenyataan itu.

Joan Didion (74 thn), jurnalis dan penulis novel asal Amerika adalah salah satu diantara sekian banyak orang yang harus menerima kenyataan bagaimana kematian orang yang dikasihinya datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda atau firasat apapun sebelumnya.

Beberapa hari menjelang Natal 2003, Joan Didion beserta suaminya yang juga seorang novelis : John Gregory Dunne baru saja menjenguk putri semata wayang mereka Quintana (36 thn) yang menderita pneunomia di Pusat Pengobatan Beth Israel di East End Avenue. Tak ada yang janggal dalam perjalanan pulang mereka menuju rumah. Setiba di rumah sementara John duduk di samping perapian sambil minum wiski, Didion sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Semua tampak normal. Mereka membicarakan berbagai topik yang ringan. Tiba-tiba tangan kiri John terangkat dan terkulai lemas. Awalnya Didion menyangka suaminya bercanda, namun segera ia mnyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya.

Setelah memanggil petugas paramedis, John segera dilarikan ke rumah sakit, malangnya nyawanya tak tertolong. John didiagnosa mendapat serangan jantung yang hebat yang menghantarnya pada kematian mendadak. Hal ini membuat kehidupan Didion berubah seketika. Bagaimana tidak, kebersamaan dengan John yang telah terbina dengan baik selama empat puluh tahun tiba-tiba terhenti seketika. Didion harus berjuang sendiri menghadapi kematian suaminya, sementara putri semata wayang mereka masih terbaring di ICU RS Beth Israel.

Empat minggu kemudian Quintana dinyatakan sembuh. Namun dua bulan sesudah itu, Quintana terjatuh ketika hendak bepergian bersama suaminya. Ia kemudian dibawa ke UCLA Medical Center dan harus menjalani pembedahan otak karena didiagnosa menderita penyakit hematoma yang parah. Ini berarti terdapat bekuan darah sehingga menyebabkan gangguan neurologis karena terjadi penekanan di otak.

Joan Didion kini hidup dalam kesendirian ditengah cobaan yang bertubi-tubi. Tahun-tahun ini disebutnya sebagai “The Year of Magical Thinking”, dimana ia menjalani kehidupannya dengan tabah sambil mencoba menapak kenangan manis yang pernah dilaluinya bersama John dan Quintana.

Pada tanggal 4 Oktober 2004, tepat sembilan bulan lebih lima hari setelah kematian sauminya Didion menggoreskan penanya untuk mencatat hari-hari terberat dalam hidupnya. Catatan-catatan inilah yang akhirnya diterbitkan pada tahun 2005 dengan judul “The Year of Magical Thinking”.

Walau tema utama memoar ini adalah kematian dan kedukaan, namun Didion menuliskannya tidak dengan cengeng. Mungkin saja isi buku ini tak memberikan ‘makna’ pada kematian suami dan anaknnya, tapi dengan gamblang buku ini menjelaskan efek yang ditimbulkan pada hati dan perasaan Didion, sehingga bisa dikatakan buku ini adalah buku yang jujur, jernih dan apa adanya. Dalam buku ini pembaca akan digiring untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Didion saat berada dalam kabut kedukaan sekaligus memperlihatkan pada pembacanya akan apa yang hilang dari dirinya.

Pengalamannya sebagai jurnalis dan novelis senior membuat hal-hal yang dia alami sebelum dan setelah kematian John, maupun diskripsi mengenai penyakit dan penanganan medis terhadap John dan Quintana terurai secara detail dan kronologis melalui penyajian yang bersifat reportase. Alur cerita terus bergerak antara masa lalu dan masa kini sehingga pembaca memiliki gambaran yang utuh seperti apa keluarga Didion dan merasakan bagaimana pedihnya hubungan harmonis yang telah terbina selama 40 tahun itu tiba-tiba harus tercerabut dari kehidupannya.

Buku ini juga menyajikan bagaimana detailnya gambaran medis lengkap dengan istilah-istilah kedokteran yang bertaburan di lembar-lembar buku ini. Di satu sisi hal ini mungkin bermanfaat bagi pembaca yang mungkin pernah bersentuhan dengan pengobatan medis atau mereka yang berprofesi sebagai petugas medis, namun bagi pembaca awam hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu kelancaran membacanya walau di halaman terakhir tersaji catatan penjelasan mengenai istilah-istilah medis yang terdapat di buku ini

Di halaman-halaman akhir ada sedikit yang mengejutkan yaitu dengan masuknya frasa mengenai Tusnami yang melanda pesisir Sumatera. Hal ini terungkap ketika suatu saat Didion membaca kembali novel pertamanya yang berjudul Democracy yang mengungkap mengenai gempa. “Aku membaca uraian tersebut setelah gempa berkekuatan 9.0 skala Richter mengguncang zona bawah laut Sumatera sepanjang enam ratus mil dan memicu tsunami yang menyapu bersih sebagian besar wilayah pesisir yang membatasi Samudera Hindia” (hal 239).

Pada akhirnya buku yang merupakan pengalaman nyata penulisnya yang sangat personal namun bersifat universal ini tentunya diharapkan dapat memberikan potret tentang sebuah keluarga yang harmonis yang keutuhannya secara tiba-tiba harus terpisah satu dengan lainnya karena kematian sehingga menyentuh setiap pembacanya yang diharapkan tak pernah berhenti mencintai suami atau istri atau anak mereka.

Tampaknya buku yang memprroleh penghargaan National Book Award 2005 dan Powell’s Pudly Award 2006 dan dinominasikan dalam National Book Critics Circle Awards untuk kategori nonfiksi ini memang sangat baik dibaca untuk mereka yang mungkin baru saja atau pernah mengalami kehilangan seseorang yang dikasihinya, atau setidaknya pengalaman Didion yang tertuang dalam buku ini akan menyadarkan orang akan arti kehilangan dan memberikan gambaran bagaimana pengaruh kehilangan bagi orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya.


Sedikit tentang Joan Didion

Bagi pembaca Indonesia nama Joan Didion (lahir 5 Desember 1943) mungkin masih terasa asing ditelinga. Tidak demikian dengan publik Amerika. Ia adalah penulis legendaris beberapa novel diantaranya ; Run, River (1963), Play It As It Lays (1970), A Book of Common Prayer (1977), Democracy (1984), The Last Thing He Wanted (1996), selain itu Didion juga kerap menulis beberapa tulisian non fiksi seperti kumpulan essai Slouching Towards Bethlehem (1968) and The White Album (1979), dll

Didion juga dikenal sebagai seorang jurnalis senior. Ia merupakan kontributor tetap The New York Review of Books dan The New Yorker. Bersama suaminya John Gregory Dunne (1932 – 2003) yang juga seorang penulis mereka berkoloborasi membuat beberapa naskah skenario film. Ia kini tinggal di New York City

The Year of Magical Thinking merupakan karya terbaru Didion. Buku ini diterbitkan pada Oktober 2005 yang lalu dan langsung mendapat respon yang baik dari para kritikus perbukuan Amerika, hal ini terbukti pada bulan November 2005, (satu bulan setelah bukunya terbit), buku yang dibaca oleh para ibu rumah tangga hingga ibu negara ini diganjar sebagai pemenang National Book Award 2005 untuk kategori non fiksi. Award ini merupakan salah satu penghargaan sastra terkemuka di Amerika, dimana pemenangnya memperoleh uang hadiah sebesar 10.000 dolar atau sekitar 100 juta rupiah dan sebuah patung kristal dari The National Book Foundation.

Dua minggu setelah buku ini selesai diekerjakan, putri semata wayang Didion, Quintana akhirnya meninggal dunia. The New York Times dalam reportasenya mengungkapkan bahwa Didion tak berniat merevisi atau mengubah bukunya setelah kematian putrinya. "It's finished," ujarnya.

@h_tanzil







Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes