Showing posts with label Change We Can Believe In. Show all posts
Showing posts with label Change We Can Believe In. Show all posts

Monday, March 30, 2009


MENGEMBALIKAN MIMPI AMERIKA

Buku ini sangat jelas menggambarkan bahwa per ubahan yang dijanjikan Obama memanglah hanya terkait mimpi Amerika yang seyogyanya dipercaya oleh rakyatnya saja
(Jurnal Nasional, Maret 2009)

Delapan tahun terakhir, rakyat Amerika Serikat sudah bekerja begitu keras, namun mendapatkan hasil yang sangat kecil. Itu yang dilihat Obama dari kondisi masyarakat AS saat ini. Dalam pidato bertajuk Perubahan yang Bisa Kita Percayai, Barack Obama mengatakan bahwa ia bertemu beberapa orang yang mengetahui bahwa pemerintah tidak bisa menyelesaikan semua masalah tersebut. Dan, mereka juga tidak mengharapkan pemerintahlah yang harus mengatasi semua. Mereka percaya adanya peranan tanggung jawab pribadi, kerja keras dan kepercayaan. Akan tetapi mereka juga akan percaya kesempatan, keadilan, dan tanggumng jawab pemerintah. Mereka percaya pada Amerika ketika kerja keras mereka dihadiahi sebuah kehidupan yang layak. “Amerika adalah sebuah tempat yang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk dapat mencapai keberhasilan jika benar-benar berusaha. Amerika adalah hadiah terbaik bagi mereka yang memilih menjadikannya rumah tanpa batasan,” kata Barack Obama dalam pidato yang juga mengawali bukunya, Change, we Can Believe In.”

Layaknya presiden-presiden Amerika sebelumnya, American Dream seringkali diumbar untuk membelalakkan mata rakyat Amerika karena membayangkan kejayaan yang menunggu mereka. Tapi, janji Amerika kali ini diucapkan Obama setelah banyaknya pekerjaan yang hilang ketika resesi keuangan melanda Amerika sejak 2008. Lebih dari 3 juta pekerjaan di pabrik lenyap sejak George W Bush mengambil alih pemerintah. Karenanya, Obama memilih untuk memaparkan kejujuran. Dengan gamblang ia mengemukakan tantangan berat yang akan dihadapi rakyat Amerika."Kita tahu bahwa tanta¬ngan yang dihadirkan hari esok adalah yang terbesar sepanjang hidup kita, yakni dua perang, planet yang sakit, dan krisis finansial terburuk dalam abad ini. Para tentara Amerika . yang berani tengah berjaga di gurun-gurun Irak dan di pegunungan Afganistan, mempertruhkan nyawa mereka demi kita. Ada para ibu dan ayah yang terjaga setelah anak-anak mereka tertidur, memikirkan bagaimana , membayar cicilan rumah, tagihan dokter, atau menabung untuk biaya pendidikan anak mereka. Ada energi baru harus dikerahkan, lapangan kerja baru yang harus diciptakan,
sekolah baru yang harus dibangun, dan tantangan yang harus dihadapi, dan hubuugan sekutu .yang harus diperbaiki."

Jika buku ini memang satu-satunya buku yang paling rinci mengungkap; rencanaericana besar Obama, maka jelaslah bahwa rencana terbesar Obama, memang hanya untuk mengubah Amerika, dan bukannya dunia. .Seperti pernah dikatakan penyiar dan pembawa acara kenamaan Indonesia, Muhammad Farhan, yang mendapat kesempatan meliput pelantikan Obama di 1 National Park Service, Wa¬shington DC, Januari lalu."Perubahan kebijakan luar negeri AS yang drastis seperti yang. diharapkan sepertinya tidak mungkin. Perubahan yang paling signifikan itu di dalam negerinya. Rakyat Amerika merasakan perubah Signifikan dan mendasar, terutama masalah kebijakan ekonomi dan fiskal. Pajak hanya diperuntukkan bagi brang kaya, bukan kelas menengah ke bawah. Subsidi diperbanyak, terutama subsidi kese hatan, dan banyak lagi. Kalau ke luar negeri, Amerika masih pro-Israel, masih lebih mementlrigkan kepentingan industri Amerika di negara berkembang seperti Indonesia. Bedanya, mungkin mereka akan lebih membuka dialog. Misalnya memosisikan Islam bukan sebagai musuh, tapi sebagai mitra. Iran tidak akan diancam seperti, serbuan ke Irak, tapi akan diajak dialog, walaupun itu sama sekali tidak mudah."

Perihal kesejahteraan masyarakat ini sangat kental terlihat dari kebijakan-kebijakan yang ;akan diterapkan Obama. la percaya bahwa pemerintah selayaknya memudahkan kaum pria untuk terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Peran ayah sangat penting dalam keluarrga. Sejak 1960, jumlah anak Amerika, yang hidup tanpa ayah membengkak hingga 4 kali lipat. Sekarang, lebih dari 25 juta anak hidup tanpa ayah biologis mereka. Anak-anak yang hidup tanpa ayah memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk hidup dalam kemiskinan dan mereka cenderung terperosok dalam kriminalitas, putus sekolah, dan penyalahgunaan obat-obatan. Selaku presiden, Obama akan mengesahkan undang-undang guna menghapus penalti yang diberlakukan pemerintah terhadap orang yang telah berkeluarga, menghukum para pria yang lari dari tanggung jawab menafkahi keluarga, termasuk pencegahan kekerasam dalam rumah tangga.

Obama juga piawai menggalang dukungan internasional. Dalam pidato Dunia yang Bersatu pada 24 Juli 2008 di Berlin, Jerman, ia mengungkapkan bahwa runtuhnya tembok Berlin merupaka simbol harapan yang baru tetapi juga mencuatkan bahaya baru yang tidak bisa ditampung sebatas negara saja "Betapa pun besar dan kuat nya suatu bangsa tak akan mampu mengalahkan tan tangan global sendirian."

Kemampuan Obama sebagai seorang pemimpin yang bisa memberikan perubahan tentu menumbuhkan harapa baru bagi rakyamya dan para sekutunya. Tapi ini tak ada kaitannya dengan harapan dunia internasional secara umum yang mengidamkan perbaikan nasib negara-negara yang dinfasi AS sebagai negara "nakal". Perang Irak mungkin akan dihentikan. Jelas alasannya, seperti yang berulang kali diungkapkan dalam buku ini, adalah ma salah biaya yang boros Perang teroris Bush dianggap .high budget-low impact, namun tidak ada alasan penghentian perang yang menekankan pada hak-hak rakyat Irak dan perbaikan nasib mereka yang kini berada dalam kondisi porak-poranda. Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for The Middle East Studies yang turut menulis pengantar dalam buku ini juga, mengungkapka hal senada. "Dalam buku in Obama menyatakan akan selalu membela Israel. Ini dibuk tikannya ketika Israel melak.ukan agresi terhadap Palestina, ia diam seribu bahasa dan hanya merasa prihatin. Ber tentangan ketika terjadi bom Mumbai, Obama langsung mengecam dengan suara keras.”

Buku ini sangat jelas menggambarkan bahwa per ubahan yang dijanjikan Obama memanglah hanya terkait mimpi Amerika yang seyogyanya dipercaya oleh rakyatnya saja. Sayangnya, penerjemahan ke bahasa Indonesia yang dilakukan buku ini tak terlalu baik, sehingga banyak kalimat yang sulit dimengerti dan tidak diketahui apa maksudnya. Bagaimanapun, buku ini membantu pembaca untuk memahami visi Obama sebagai presiden negara adidaya, Amerika Serikat.




Sunday, March 29, 2009



KEYAKINAN AKAN PERUBAHAN

Buku ini menggambarkan langsung apa yang akan dilakukan Obama, dimana di dalamnya terasa spirit perubahan dalam setiap rencana besarnya
(Herdis Herdiansyah, Seputar Indonesia, Maret 2009)


Saat kebijakan pemerintah sebelumnya di bawah Presiden George W Bush, justru menjerumuskan Amerika Serikat ke jurang krisis berkepanjangan, baik krisis ekonomi maupun krisis kepercayaan dan kebanggaan sebagai wargaAmerika Serikat. Di tangan George W Bush, Amerika Serikat menampakkan keangkuhannya dengan politik Machiavelian, merasa serba benar, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan terutama dalam hubungan dengan negara lain. Padahal untuk mengatur urusan internalnya sendiri, terutama bidang ekonomi, justru keteteran. Skandal Enron, misalnya, sebagai salah satu skandal ekonomi modern derivative di tahun 2000 dan terus berlangsung hingga Lehman Brother's dan skandal Madoff, malah menjerumuskanAmerika Serikat dalam krisis ekonomi dan menjadi episentrum tsunami krisis ekonomi dunia hingga sekarang. Pengawasan dan aturan yang lemah dalam bidang ekonomi terkait dengan skandal keuanganyang ada ini seolah menunjukkan kelemahannya itu. Meski pemerintah kini telah memberikan stimulan dana yang sangat besar, tetap saja belum ada tanda-tanda perbaikan. Perekonomian Amerika Serikat terpuruk semakin dalam, perlahan, dan menimbulkan frustrasi bagi pemerintah sendiri.

Kehadiran Obama oleh sebagian orang dianggap Messiah, sebagai reinkarnasi Lincon yang mampu menyelamatkan Amerika Serikat di zaman krisis. Dalam setiap kebijakannya, Obama seketika seperti mampu mengubah wajah Amerika Serikat menj adi lebih humanis, tenggang rasa, dan menampilkan kebijakan populis yang memberikan harapan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik sedang berjalan dengan pasti.

Kedatangan Menlu Hillary Clinton ke Jepang, Indonesia, Korea Selatan dan Cina dengan gaya Diplomasi yang santun, hangat, dan keibuan bias menggambarkan berubah drastisnya gaya diplomasi Amerika Serikat. Bukan hanya menempatkan kawasan Asia sebagai prioritas baru menggeser Eropa, tetapi sekaligus menegaskan kebijakan geopolitik Amerika Serikat kini memakai pendekatan smart power yang melampaui pendekatan hard-power maupun soft-power selama ini. Kebijakan smart power yang memahami bahwa dengan pendekatan cerdas, hubungan diplomasi dijalankan dengan semangat pengertian, peka, saling menguntungkan, dan pragmatis terhadap perubahan global.

Namun, naiknya Obama menjadi Presiden Amerika Serikat ke-44 yang diawali dengan euforia dan harapan perubahan, bisa menjadi blunder. Semboyan "Yes We Can", "Change", dan "We CanBelieve in" dalam bahasa psikologis kata-kata tersebut merupakan penyuntikan semangat keyakinan kepada alam bawah sadar. Tetapi dalam kata-kata tersebut, juga merupakan representasi kesadaran bahwa tantangan yang dihadapi begitu besar. Karena itu, jika kemudian Obama tidak mampu mengejawantahkan ekspektasi publik dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang efektif dan berhasil, kita sulit membayangkan bagaimana dampak harapan berubah menjadi kekecewaan untuk pemerintahannya sendiri, Amerika Serikat, maupun warga dunia. ?

Kini di bawah kepemimpinannya, masyarakat Amerika Serikat dan dunia menanti janji-janji kampanye. Dalam buku terbaru karya Obama yang ditulis selama masa kampanye"sampai election night November 2008, dijelaskan apa yang dilakukan Obama sebagai Presiden Amerika Serikat. Buku ini berisi pidato-pidato dan rencana kebijakan. Membahas bagaimana skema hubungan internasional yang baru, pembaruan ekonomi, bagaimana membangkitkan keyakinan dan kebanggan warga Amerika Serikat, komitmen terhadap kelestarian lingkungan yang salah satunya berubah arah dari negara yang selalu menghambat komitmen global dalam kelestarian lingkungan menjadi negara di garis depan yang concern terhadap keberlangsungan lingkungan, reformasi pendidikan, dan sampai hal yang sederhana seperti pemberian bantuan kepada orang tua yangmemiliki anak kecil (hlm 108). Kini semua orang berharap, kehadiran Obama bukan hanya tepat dari segi momentum, tapi berhasil dalam berbagai kebijakannya.

Buku ini menggambarkan langsung apa yang akan dilakukan Obama, dimana di dalamnya terasa spirit perubahan dalam setiap rencana besarnya. Di tangan Obama kinilah salah satunya akan terlihat bagaimana dunia berjalan dan semboyan "We Can Believe in" semoga bukan semboyan yang meninabobokan. (*)

Herdis Herdiansyah,
Manajer Riset Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan, Pascasarjana, Universitas Indonesia)

Thursday, March 12, 2009


PERUBAHAN OBAMA DARI IRAK KE ALQAIDAH


Di buku Change We Can Believe In (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ufuk Publisher) yang ia tulis, kita bisa mengetahui mengapa jutaan warga Amerika Serikat (AS) menjadi sangat terpesona kepadanya. Melalui buku tersebut Barack Obama menuliskan rencana-rencananya untuk membangun kembali negara besar yang tengah terseok-seok karena krisis ekonomi.
(Republika, 8 Maret 2009)

Sebenarnya apa yang membuat pria yang pernah menyebut dirinya anak hitarn kurus kering dengan nama yang aneh itu menjadi begitu berhasil ? Semua berasal dari pemikiran-pemikirannya untuk mengubah Amerika menjadi lebih baik.


Di buku Change We Can Believe In (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ufuk Publisher) yang ia tulis, kita bisa mengetahui mengapa jutaan warga Amerika Serikat (AS) menjadi sangat terpesona kepadanya. Melalui buku tersebut Barack Obama menuliskan rencana-rencananya untuk membangun kembali negara besar yang tengah terseok-seok karena krisis ekonomi.


Rencana-rencana itu berupa janji-janji yang harus dia penuhi dalam 100 hari sejak pelantikannya. Dituliskan dengan sangat sederhana sehingga siapa saja bisa mengikuti jalan pemikiran pria kurus ini.


Pada 20 Januari 2009 Obama dilantik sebagai presiden ke-44 AS. Tanggal itu sekaligus menjadi momen penting dalam sejarah panjang negara AS: Pertama kalinya seorang berkulit hitam menjadi pemegang kendali kepemimpinan tertinggi di negeri adidaya itu. Sejarah panjang telah mengubah pandangan masyakarat yang dulunya sangat mendiskriminasikan warna kulit hitam.


Krisis ekonomi global yang menerjang negara merah biru itu membuat semua pesimisme menyeruak. Masyarakat sudah mulai tidak memercayai kepemimpinan presiden dari Partai Republik yang terdorong nafsu menguasai. Se­hingga, masyarakat pun melirik Barrack Obama dari Partai Demokrat yang ingin menawarkan secercah perubahan yang bisa mereka percayai. Sesuai dengan slogan yang selalu diusungnya, Change We Can Believe In.


Kehidupan anak


Kehadiran Obama menyihir sebagaian besar warga Amerika. Ketika pelantikannya dilakukan di Gedung Capitol, jutaan manusia tumpah-ruah di halaman dan di jalanan gedung kongres tersebut. Mereka menyaksikan sebuah perguliran roda
sejarah yang sedang terjadi.


Obama adalah warga negara biasa yang bahkan pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia. Tetapi, semangatnya untuk mengubah lingkungan di sekitarnya membawanya ke kursi senat, bahkan kemudian memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Amerika. Sebuah fenomena perjuangan kelas yang menarik perhatian mata dunia.


Dalam bukunya, Obama mengutarakan pemikirannya tentang sebuah perubahan perekonomian Amerika sejak dalam tujuh bulan pertama pada 2008 terguncang oleh krisis. Krisis itu telah membuat tiga juta orang kehilangan pekerjaan. Dia ingin roda ekonomi juga berputar pada masyarakat kelas menengah.”Kita tidak bisa memperjuangkan Wall Street, sementara orang orang di Main Street menderita,” tulisnya.


Sebuah rencana ekonomi darurat
ia lontarkan: Memberi 1.000 dolar AS potongan harga bagi keluarga kelas menengah agar mereka dapat membeli kebutuhan yang membubung harganya. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, dia juga sadar bahwa pendidikan juga memegang peranan penting untuk keberlangsungan Amerika. Dia akan memberikan setiap anak pen­didikan kelas dunia dengan mempekerjakan bala tentara akan guru baru dengan gaji yang lebih baik dan lebih banyak dukungan.


"... Memberitahukan kebenaran bahwa pendidikan terbaik dimulai dari orang tua yang mematikan televisi, memindahkan permainan video, dan memberikan perhatian lebih pada kehidupan anak-anaknya," ungkap Obama.


Dengan kehadiran Obama, angin segar tidak hanya menerpa salah satu benua terbesar di dunia itu, tetapi juga negara-negara di kawasan Timur. Obama berniat menarik pasukan yang disebar di dataran Irak dan Afghanistan yang oleh Presiden sebelumnya, George W Bush, dijadikan alat untuk memerangi rezim dengan alasan yang dibuat-buat.


Terorisme bagi Obama bukan perang melawan negara-negara ter­sebut. Terorisme global menurutnya hadir bukan dari sebuah dikta-tor, sebuah negara, atau sebuah kerajaan. Gerakan itu hadir sebagai sebuah kekuatan tak bernegara yang berusaha menyimpangkan Islam dan membenci Amerika.


Konsentrasi ke Usamah


Perang di Irak menjadi salah satu gerakan pertamanya. Dia ingin
mengakhiri di negara Seribu Satu Malam itu dengan secara bertahap menarik pasukan dan mendorong pemimpin Irak untuk membuat sebuah solusi politik bagi negaranya.


Inilah rencana Obama:Penarikan tentara Amerika Serikat dari Irak bukannya tanpa diikuti rencana lain. Tentara-tentara yang sudah lama berjuang sejak kejatuhan Saddam Hussein itu akan diperkuat kembali untuk lebih berkonsentrasi melawan musuh teroris mereka Usamah Bin Ladin dan organisasi Al Qaidah.Hal ini perlu dilakukan karena baginya perang di Irak justru mengalihkan fokus peperangan pada Alqaidah, membuang-buang kekuatan militer, membagi-bagi negara, dan mengurangi pendirian global Amerika di dunia.


Tidak hanya ketiga hal tersebut, Obama masih memberikan detail-detail pemikirannya tentang perubahan yang bisa dipercaya Amerika melalui bukunya ini. Perubahan yang menjadi tanggung jawabnya adalah memgang kendali sebuah negara besar. Tawaran perubahan yang membuatnya menjadi seorang pemimpin dengan kampanye sederhana yang hanya mengetuk-ngetuk pintu setiap warga Amerika.




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes