
Buku ini sangat jelas menggambarkan bahwa per ubahan yang dijanjikan Obama memanglah hanya terkait mimpi Amerika yang seyogyanya dipercaya oleh rakyatnya saja
(Jurnal Nasional, Maret 2009)
Layaknya presiden-presiden Amerika sebelumnya, American Dream seringkali diumbar untuk membelalakkan mata rakyat Amerika karena membayangkan kejayaan yang menunggu mereka. Tapi, janji Amerika kali ini diucapkan Obama setelah banyaknya pekerjaan yang hilang ketika resesi keuangan melanda Amerika sejak 2008. Lebih dari 3 juta pekerjaan di pabrik lenyap sejak George W Bush mengambil alih pemerintah. Karenanya, Obama memilih untuk memaparkan kejujuran. Dengan gamblang ia mengemukakan tantangan berat yang akan dihadapi rakyat Amerika."Kita tahu bahwa tanta¬ngan yang dihadirkan hari esok adalah yang terbesar sepanjang hidup kita, yakni dua perang, planet yang sakit, dan krisis finansial terburuk dalam abad ini. Para tentara Amerika . yang berani tengah berjaga di gurun-gurun Irak dan di pegunungan Afganistan, mempertruhkan nyawa mereka demi kita. Ada para ibu dan ayah yang terjaga setelah anak-anak mereka tertidur, memikirkan bagaimana , membayar cicilan rumah, tagihan dokter, atau menabung untuk biaya pendidikan anak mereka. Ada energi baru harus dikerahkan, lapangan kerja baru yang harus diciptakan,
sekolah baru yang harus dibangun, dan tantangan yang harus dihadapi, dan hubuugan sekutu .yang harus diperbaiki."
Jika buku ini memang satu-satunya buku yang paling rinci mengungkap; rencanaericana besar Obama, maka jelaslah bahwa rencana terbesar Obama, memang hanya untuk mengubah Amerika, dan bukannya dunia. .Seperti pernah dikatakan penyiar dan pembawa acara kenamaan Indonesia, Muhammad Farhan, yang mendapat kesempatan meliput pelantikan Obama di 1 National Park Service, Wa¬shington DC, Januari lalu."Perubahan kebijakan luar negeri AS yang drastis seperti yang. diharapkan sepertinya tidak mungkin. Perubahan yang paling signifikan itu di dalam negerinya. Rakyat Amerika merasakan perubah Signifikan dan mendasar, terutama masalah kebijakan ekonomi dan fiskal. Pajak hanya diperuntukkan bagi brang kaya, bukan kelas menengah ke bawah. Subsidi diperbanyak, terutama subsidi kese hatan, dan banyak lagi. Kalau ke luar negeri, Amerika masih pro-Israel, masih lebih mementlrigkan kepentingan industri Amerika di negara berkembang seperti Indonesia. Bedanya, mungkin mereka akan lebih membuka dialog. Misalnya memosisikan Islam bukan sebagai musuh, tapi sebagai mitra. Iran tidak akan diancam seperti, serbuan ke Irak, tapi akan diajak dialog, walaupun itu sama sekali tidak mudah."
Perihal kesejahteraan masyarakat ini sangat kental terlihat dari kebijakan-kebijakan yang ;akan diterapkan Obama. la percaya bahwa pemerintah selayaknya memudahkan kaum pria untuk terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Peran ayah sangat penting dalam keluarrga. Sejak 1960, jumlah anak Amerika, yang hidup tanpa ayah membengkak hingga 4 kali lipat. Sekarang, lebih dari 25 juta anak hidup tanpa ayah biologis mereka. Anak-anak yang hidup tanpa ayah memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk hidup dalam kemiskinan dan mereka cenderung terperosok dalam kriminalitas, putus sekolah, dan penyalahgunaan obat-obatan. Selaku presiden, Obama akan mengesahkan undang-undang guna menghapus penalti yang diberlakukan pemerintah terhadap orang yang telah berkeluarga, menghukum para pria yang lari dari tanggung jawab menafkahi keluarga, termasuk pencegahan kekerasam dalam rumah tangga.
Obama juga piawai menggalang dukungan internasional. Dalam pidato Dunia yang Bersatu pada 24 Juli 2008 di Berlin, Jerman, ia mengungkapkan bahwa runtuhnya tembok Berlin merupaka simbol harapan yang baru tetapi juga mencuatkan bahaya baru yang tidak bisa ditampung sebatas negara saja "Betapa pun besar dan kuat nya suatu bangsa tak akan mampu mengalahkan tan tangan global sendirian."
Kemampuan Obama sebagai seorang pemimpin yang bisa memberikan perubahan tentu menumbuhkan harapa baru bagi rakyamya dan para sekutunya. Tapi ini tak ada kaitannya dengan harapan dunia internasional secara umum yang mengidamkan perbaikan nasib negara-negara yang dinfasi AS sebagai negara "nakal". Perang Irak mungkin akan dihentikan. Jelas alasannya, seperti yang berulang kali diungkapkan dalam buku ini, adalah ma salah biaya yang boros Perang teroris Bush dianggap .high budget-low impact, namun tidak ada alasan penghentian perang yang menekankan pada hak-hak rakyat Irak dan perbaikan nasib mereka yang kini berada dalam kondisi porak-poranda. Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for The Middle East Studies yang turut menulis pengantar dalam buku ini juga, mengungkapka hal senada. "Dalam buku in Obama menyatakan akan selalu membela Israel. Ini dibuk tikannya ketika Israel melak.ukan agresi terhadap Palestina, ia diam seribu bahasa dan hanya merasa prihatin. Ber tentangan ketika terjadi bom Mumbai, Obama langsung mengecam dengan suara keras.”
Buku ini sangat jelas menggambarkan bahwa per ubahan yang dijanjikan Obama memanglah hanya terkait mimpi Amerika yang seyogyanya dipercaya oleh rakyatnya saja. Sayangnya, penerjemahan ke bahasa Indonesia yang dilakukan buku ini tak terlalu baik, sehingga banyak kalimat yang sulit dimengerti dan tidak diketahui apa maksudnya. Bagaimanapun, buku ini membantu pembaca untuk memahami visi Obama sebagai presiden negara adidaya, Amerika Serikat.



