Showing posts with label Eden In The East. Show all posts
Showing posts with label Eden In The East. Show all posts

Friday, January 21, 2011


INDONESIA AWAL PERADABAN DUNIA

Ciri khas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir. Kisah banjir ini yang menjadi dasar teori Oppenheimer bahwa peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, umumnya Asia Tenggara.

Stephen James Oppenheimer merupakan dokter ahli genetika yang menyelesaikan program doktoral di Universitas Oxford, Inggris. Sekitar empat dekade silam, dia mulai tertarik pada peradaban manusia prasejarah. Pada 1998, dia menghasilkan Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia, karya kontroversial yang menyatakan Indonesia sebagai awal peradaban dunia.

Pada 1972, Oppenheimer bekerja di beberapa rumah sakit di Asia Tenggara. Puncaknya saat menjadi dokter terbang di Borneo. Di saat senggang, dia bepergian ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Keanekaragaman budaya membuatnya takjub, melebihi hasil kunjungannya di Eropa, Maroko, dan Timur Tengah. Meski dia menyadari bahwa Asia Tenggara telah meminjam banyak hal seperti agama dan ide dari India, China, dan Barat. Namun, dia mempertanyakan peradaban yang telah ada sebelum kedatangan kebudayaan tersebut.

Pada 1979, Oppenheimer meneliti anemia (turunnya kadar sel darah merah atau hemoglobin dalam darah) pada anak-anak di pantai utara Papua Nugini. Saat itulah dia melihat perbedaan genetis dalam darah anak-anak di desa tertentu yang dalam mitos disebut sebagai keturunan Kulabob dan Manup. Anak-anak keturunan Kulabob lebih tahan terhadap malaria karena terjadi mutasi genetis pada mereka.

Mutasi genetis anak-anak Kulabob ini menjadi penanda jejak imigrasi orang Polinesia ke Pasifik. Sementara itu, keturunan Manup adalah keturunan Papua asli yang telah bermigrasi ke Papua Nugini jauh lebih awal, selama Zaman Es. Saat itulah Oppenheimer mulai bertanya: apa yang mendorong orang-orang kuno Asia Tenggara meninggalkan kampung halamannya yang subur berlayar ke Pasifik, sekaligus meninggalkan jejak genetis, budaya, dan bahasa di sepanjang pantai utara Papua Nugini dalam perjalanan mereka ke timur.

Pertanyaan tersebut mulai mendapat titik terang ketika pada 1993, Oppenheimer menghadiri pameran arkeologi maritim di Manila, Filipina. Kurator museum bercerita tentang kisah banjir yang dimiliki suku-suku di Filipina. Belakangan dia sadar bahwa ada kemungkinan sebuah banjir di paparan Asia Tenggara meluas pada akhir Zaman Es. Banjir tersebut telah mengusir penduduk di tepi pantai dan menyebar ke Pasifik. Dalam penyebaran itu, sangat mungkin mereka membawa berbagai kebudayaan.

Dengan menggunakan perangkat penelitian: geologi, arkeologi, linguistik, dan genetika, Oppenheimer menemukan bahwa orang-orang kuno Asia Tenggara bermigrasi karena diusir oleh banjir besar berturut-turut pada 14.000, 11.500, dan 8.000 tahun SM, yang menaikkan air laut setinggi 120 meter. Daerah dataran rendah Asia Tenggara tenggelam seluas India. Yang tertinggal hanya pulau-pulau pegunungan yang terpencar-pencar.

Sebelum banjir menenggelamkan, Asia Tenggara merupakan pulau besar yang membentuk sebuah benua berukuran dua kali India pada puncak Zaman Es sekitar 20.000-18.000 SM. Meliputi Indocina, Malaysia, dan Indonesia. Laut Cina Selatan, Teluk Thailand, dan Laut Jawa, yang dulunya kering, membentuk bagian-bagian yang menghubungkan benua tersebut. Secara geologis, benua yang setengah tenggelam ini disebut paparan Sunda atau Sundaland. Paparan Sunda merupakan dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan Asia Daratan. Daratan ini juga menghubungkan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina.

Oppenheimer percaya, saat Paparan Sunda belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar. Kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. Begitu Paparan Sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ini ke seluruh dunia. Ke barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia dan sekitarnya ini sampai Eropa, sedangkan ke timur sampai ke Benua Amerika dengan melewati Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bisa dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.

Oppenheimer menyontohkan, peradaban tua Sumeria 5.000 SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia –rumpun bahasa yang mencakup bahasa-bahasa di Indonesia– dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria sistem hukum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antarkota. Roda, salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk huruf paku.

Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di Asia Tenggara. Begitu pula, temuan patung-patung dengan rajah. Seni membuat rajah alias tato itu khas Austronesia. Di Sepik Tengah, Papua Nugini, beberapa suku lokal sampai kini masih mempraktikkan seni rajah ini.

Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir. Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda.

Teori Oppenheimer ini membantah teori Out of Taiwan Peter Belwood pada akhir 1970-an. Teori yang dibuat berdasarkan pendekatan bahasa ini menyatakan bahwa penyebaran Austronesia dipercaya berasal dari Taiwan. Jika dirunut, keluarga rumpun bahasa Melayu sampai ke suku-suku pribumi di Taiwan. Orang Taiwan masuk wilayah Indonesia dan sekitarnya baru pada 4.000-3.500 SM. Batas waktu ini jauh lebih muda daripada teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa orang Austronesia sudah ada di wilayah ini sejak 50.000 SM dan mengembangkan teknologi pertanian di sini.

Arkeolog Universitas Indonesia Harry Truman Simanjuntak, yang membahas Eden in The East di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 28 Oktober 2010, lebih memegang teori Belwood. Menurutnya arkeologi dan linguistik kurang mendukung teori Oppenheimer. Dia merujuk pada sejumlah temuan seperti tembikar yang waktunya tidak melebihi batas 4.000 SM. Harry bahkan memperkuat temuan Belwood bahwa jalur penyebaran dari Taiwan ini tidak hanya lewat Filipina-Kalimantan, tapi juga menyusuri pantai Indocina, menyeberang ke Sumatera dan Jawa. Teori ini berdasarkan perbedaan gaya tembikar di Indocina-Sumatera-Jawa bagian tengah dengan wilayah lain.

Tapi Oppenheimer bersikukuh. Menurutnya, bahasa bisa menyebar, tapi orangnya bisa jadi tidak menyebar. Jadi mungkin saja bahasa Austronesia memang menyebar dari Taiwan, tapi penduduknya tetap yang itu-itu saja.

Dari sisi genetis, pendekatan Oppenheimer didukung oleh pakar genetika. Penelitian hampir 100 ilmuwan genetika Asia, termasuk Sangkot Marzuki, pemimpin Lembaga Eijkman, yang juga membahas buku tersebut sudah memetakan genetika manusia Asia. Hasilnya: Asia Tenggara adalah pusat penyebaran manusia modern setelah Afrika

Melalui buku ini, Oppenheimer mengklaim beberapa ide baru –sementara beberapa hipotesa masih menjadi konsensus di kalangan akademisi. “Saya percaya bahwa sayalah orang pertama yang membela Asia Tenggara sebagai sumber dari unsur-unsur peradaban Barat.”*

Tuesday, January 11, 2011

BABAD TANAH SUNDA

Sekitar 20 millenium yang lalu, di zaman es, Asia Tenggara adalah sebuah benua yang luasnya dua kali india dan meliputi apa yang kita sebut sekarang sebagai Indo-Cina, Malaysia dan Indonesia. Laut Cina Selatan, Selat Thailand dan Laut Jawa dulunya kering. Secara geologis, benua ini disebut Paparan Sunda atau Sundaland. Dari sanalah, Stephen Oppenheimer meyakini, lahirnya peradaban dan budaya yang lantas menyebar ke seluruh dunia

Hipotesis yang tak pelak membuat kita ge’er. Pusat peradaban dunia, je..Apalagi, beberapa waktu sebelumnya, terbit pula terjemahan buku karya Arysio Nunes Dos Santos, guru besar fisika nuklir dari State University of Campinas, Sao Paulo.Professor Santos menyatakan, Indonesia adalah bekas Atlantis yang hilang. Buku tentang ini juga sudah diterrjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Ufuk

Atlantis berarti surga, Filsuf Plato menulis, benua itu terbentang di seberang-seberang pilar pilar Herkules. Pada sekitar 9500 SM, tulis Plato, Atlantis tenggelam ke dalam samudera hanya dalam sehari semalam. Namun, Oppenheimer tidak berkisah atas dasar legenda Atlantis. Toh, buku Oppenheimer terbit lebih dulu ketimbang buku Santos. Eden In The East pertama kali diterbitkan oleh Phoenix Paperback, London, pada tahun 1998.

Oppenheimer adalah seorang dokter ahli genetic, awalnya ia terpukau melihat sebuah kelainan genetik pada masyarakat di pesisir pantai utara Papua yang mampu memproteksi diri dari serangan malaria. Menurutnya kelainan genetik ini adalah penanda adanya migrasi. Mutasi genetik yang sama juga ditemukannya di Polinesia Lantas, sang dokter menghabiskan waktunya untuk mempelajari struktur DNA manusia manusia Asia Tenggara dari Taiwan. Ia pun melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada ribuan tahun lalu. Dari sana ia meyakini, nenek moyang bangsa Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara, lebih dari 5.000 tahun yang lalu. "Saya rasa, kebudayaan di Indonesia juga merupakan salah satu kebudayaan tertua di dunia," katanya.

Menurut Oppenheimer, elemen utama sebuah peradaban bukanlah kota, melainkan pertanian dan perikanan. Ia memandang, sistem pertanian di kawasan ini sudah terbilang maju. Oppenheimer menolak gagasan mainstream bahwa Asia Tenggara adalah pinggiran sejarah peradaban manusia yang berkernbang karena pengaruh peradaban lain yang lebih maju, seperti Cina, India, Timur Tengah,dan Eropa. Justru dari paparan Sunda lah semuanya berasal. Hingga zaman es berakhir dan suhu bumi menghangat.

Kala itu, permukaan air laut meningkat dan terjadilah banjir besar. Riset oseanografi, menurut "Babad Tanah Sunda" Oppenheimer memperlihatkan adanya tiga kali banjir besar di planet ini, yakni pada 12.000 SM, 9.000 SM, dan 6.000 SM Banjir banjir itu akhirnya menenggelamkan sebagian Sunda, dan membentuk pulau pulau yang kita kenal sekarang sebagai Nusantara. Tatkala banjir besar itu terjadi, jumlah penduduk Sundaland sudah terbilang banyak. Alih alih habis tenggelam, me reka kemudian tersebar ke seluruh belahan dunia. Rekonstruksi persebaran linguistik oleh Johanna Nichols mendukung dugaan ini. Menurut Nichols, bahasa bahasa Austronesia menyebar dari Indonesia Malaysia ke kawasan kawasan lainnya, lalu menjadi induk dari bahasa bahasa dunia. Banjir Sundaland yang menyebarkan penduduknya ke pelbagai belahan bumi itu juga yang membuat hampir semua kebudayaan di dunia kecuali Afrik memiliki cerita banjir besar yang menenggelamkan benua. Oppenheimer mencatat ada sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia dari Amerika hingga Polinesia. Inti ceritanya sama: ada banjir besar dan ada jagoan yang menyelamat kan banyak orang dengan kapal besar dan membawa hewan hewan. Bahtera itu lalu terhempas di puncak gunung dan orang orang dari kapal melanjutkan hidup baru mereka dari sana.

Di kitab suci, kita mengenal kisah bahtera Nuh. Orang Mesopotamia (Irak sekarang) menyebutkan, pahlawan yang menyelamatkan banyak orang dalam banjir itu bernama Utanapishtim. Tapi, orang Babilonia (selatan Irak) memanggilnya Athrasis dan orang India kuno menyebutnya Manu. Di Toraja, Oppenheimer menulis, mitos tentang banjir besar juga ada. Tongkonan (rumah adat Toraja) punya bentuk atap yang mirip perahu. Menurut cerita rakyat di sana rumah mereka di zaman dulu awalnya memang perahu yang setelah terjadinya banjir besar kemudian dipakai sebagai rumah. Suku Dayak Iban, juga punya kisah banjir yang menenggelamkan benua. Nabi Nuh versi mereka bernama Trow

Hubungan antara Sundaland dan wilayah lain di muka bumi semakin diperkuat oleh temuan Oppenheimer berupa ke¬samaan benda benda neolitik berusia7.500 tahun di Sumeria (sebelah tenggara Irak sekarang) dan Asia Tenggara. Dari Babilonia (selatan Irak sekarang)terdapat legenda tentang munculnya tujuh ilmuwan dari Timur. Kisah sejenis ada dalam beberapa folklore India dan daerah daerah di Nusantara. Hebatnya lagi, Oppenheimer menunjukkan cerita perseteruan anak anak Adam, Kain dan Abel (Qabil dan Habil) versi Asia Timur dan Pasifik. Di Papua Nugini, ada kisah Kullabop dan Manip yang juga bertikai karena saudara perempuan mereka. Bahkan penduduk asli Selandia Baru, menyebut perempuan per¬tama di dunia bernama Eeve. Mereka juga meyakini, manusia pertama dibuat dari tanah lempung berwarna merah. Itu sebabnya, menurut Oppenheimer jika benar Taman Eden tempat bertemunya Adam dan Hawa di bumi, menurut kitab suci benar benar ada, maka lokasinya pasti di Asia Tenggara, di bekas paparan Sunda. Toh, ada ayat dalam Geesis yang menyatakan Eden ada di Timur. o















Wednesday, December 29, 2010



NUSANTARA : ASAL PERADABAN DUNIA ?

Buku Eden In The East;Benua Yang Tenggelam Di Asia Tenggara (terjemahan, 2010) karya Stephen Oppenheimer kontroversial. Dokter ahli genetika dari Inggris iniberpendapat bahwa kawasan Asia Tenggara—tepatnya paparan sunda—dulu merupakan asal-usul peradaban tertua dunia. Puluhan ribu tahun, saat es kutub mencair menggenangi paparan sunda memisahkan Sumatera, Jawa dan Kalimantan, kawan ini sudah dihuni masyarakat. Masyarakat ini yang lari membawa cerita banjir bandang ke seluruh dunia, yang kemudian variannya menjadi mitologi banjir Nabi Nuh dan cerita Gilgamesh Sumeria.

Tempo mewawancarai Oppenheimer dan juga memaparkan para petualang yang berusaha mencari sisa-sisa kota di dasar laut Jawa untuk mencoba membuktikan cerita itu.Iqra kali inipun mengangkat penelitian Professor Sangkot Marzuki dari Lembaga Eijkman dan rekan-rekan ilmuwan genetika se-Asia yang berusaha memetakan persebaran genetika manusia Asia. Menarik, teori Professor Sangkot mengenai Out of Sundaland bias menyokong tesisOppenheimer

Atap bangunan itu sangat khas. Disebut tongkongan, rumah adat Torajamenjadi salah satu arsitektur tradisional paling gampang dikenal di Indonesia. Materialnya uru, kayu local yang seawet jati. Arahnya selalu utara. Atapnya melengkung

Meski orang Toraja tinggal di pegunungan, atap lengkung indah itu ternyata terkait dengan cerita lautan atau perairan. Bentuk rumah dengan ataplengkung itu menggambarkan perahu “model atap itu menggambarkan perahu yang digunakanPuang Baralangi pada saat berlayar ke Toraja, ribuan tahun silam,” kata C.F. Palimbong, Ketua Aliansi Masyarakat Toraja-Toraja Utara, kepada Tempo beberapa waktu lalu. Dalam mitologi Toraja,Puang Baralangi adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan

Buralangi ini diciptakan Tuhan di bagian utara langit dan kemudian diturunkan di daerah yang disebut Pongko sebelum pergi ke Toraja dan beranak-pinak di sana. Letak Pongko itu di daerah Utara. Itu sebabnya, tongkonan selalu menghadap utara. Tidak ada kepastian dimana pongko itu berada. “Pongko yang saya pahami adalah Tiongkok atau Cina,”kata Palimbong. Kisah penciptaan Bura;angi juga bercerita tentang banjir besar yang merendam daerahnya. “Karena kondisi ini pulalah Puang Baralangi menggunakan Perahu ke Toraja.” Ujarnya. Perahu itu kemudian diabadikan dalam bentuk atap rumah.

Versi lain mitologi banjir di Toraja, dengan sedikit perbedaan detail, diungkap oleh Stephen Oppenheimer beberapa pecan silam dalam sebuah diskusi di gedung LIPI, Jakarta. Saat itu ia menjelaskan teorinya yang ia tulisa dalam buku setebal 800 halaman, Eden In The East;Benua Yang Tenggelam di Asia Tenggara (edisi Inggris terbit pada 1998, bahasa Indonesia bulan lalu). Inilah buku yang menarik untuk dibicarakan. Sensasional tapi argumentasinya memikat karena bersangkut-paut dengan masa lalu sejarah kita yang misterius. “Karakterkhas mitologi di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara adalah banyaknya cerita banjir,”kata ilmuwan genetika dari Universitas Oxford, London, Inggris

Kisah banjir ini yang menjadi satu dasar teori Oppenheimer bahwa banyak peradaban tertua di dunia berasal dari kawasan Indonesia, terutama dari wilayah paparan sunda, yang sekarang sudah tenggelam menjadi laut jawa dan laut cina selatan. Dasar lain yang digunakan Oppenheimer adalah pemetaan genetika

Paparan sunda alias sundaland itu wilayah dataran luas yang berada di wilayah Indonesia dan sekitarnya sekarang. Sebelum dipisahkan oleh laut karena Zaman Es berakhir sekitar 6000 tahun sebelum Masehi, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dengan wilayah selatan Cina

Oppenheimer percaya, saat paparan sunda itu belum tenggelam, penduduknya sudah memiliki kemampuan teknologi bertani, mencari ikan, atau membuat tembikar.kemampuan pertanian ini boleh dibilang paling tua di dunia. “Belum ada masyarakat lain (di dunia saat itu) yang bias melakukannya,”kata Oppenheimer

Begitu paparan sunda direndam air secara mendadak, penduduknya menyingkir. Mereka membawa serta teknologi pertanian dan sebangsanya ke seluruh dunia. Ke Barat, pengaruh para imigran dari wilayah Indonesia da sekitarnya ini sampai Eropa. Sedangkan ke Timur sampai ke Benua Amerika dengan melalui Selat Bering, yang ribuan tahun lalu masih bias dilewati dengan berjalan kaki, tidak perlu menggunakan perahu.

Menurut Oppenheimer, peradaban tua Sumeria, 5000 tahun SM, juga dipengaruhi oleh peradaban orang-orang berpenutur Austronesia dari Asia Tenggara. Selama ini para ahli sejarah menyatakan di Sumeria system hokum sudah dikembangkan, teknik militer sudah cukup maju karena terus terjadi perang antar kota. Roda,salah satu temuan teknologi paling berpengaruh di dunia, juga sudah diciptakan. Dan terutama huruf telah digunakan, yaitu dalam bentuk paku.

Namun Oppenheimer melihat beberapa temuan dari wilayah Sumeria menunjukkan kesamaan dengan kebiasaan atau teknologi Austronesia. Gerabah yang ditemukan di Ur, salah satu kota tua Sumeria, menunjukkan beberapa kesamaan dengan gerabah di kelompok penutur Austronesia di Asia Tenggara seperti cat merah. Begitu pula, ada temuan patung-patung dengan rajah alias tato itu khas Austronesia. Di sepik tengah, Papua Nugini, beberapa suku local sampai kini seperi dilihat Oppenheimer, saat bertahun-tahun menjadi dokter yang meneliti penyakit malaria papua nugini, masih mempraktekkan seni membuat rajah ini

Tidak hanya teknologi yang disebarkan para penduduk Asia Tenggara ribuan tahun silam ke berbagai penjuru dunia, tapi juga mitologi kisah banjir, Gilgamesh, kisah banjir bandang Sumeria yang memiliki kesamaan dengan banjir Nuh, menurut Oppenheimer, bertolak dari kisah tenggelamnya Paparan Sunda di wilayah nusantara dahulu kala

Sampai dua abad silam, cerita banjir Nuh adalah satu-satunya legenda tentang banjir besar yang dikenal di dunia mutakhir. Munculnya Mitologi banjir besar, yang sebagian sangat mirip kisah Nuh, baru muncul saat tablet-tablet tulisan hurug paku, semacam buku dari kerajaan tua Sumeria, ditemukan di Irak oleh Hormuzd Rassam pada 1853. tablet-tablet itu pertama kali diterjemahkan oleh arkeolog Inggris, George Smith, pada awal 1870

Tablet itu berisi kisah galgamesh, Raja Sumeria. Dalam cerita itu, Gilgamesh bertemu dengan Utnapishtim di negeri timur yang mengaku selamat dari banjir besar yang melanda negerinyakarena naik perahu besar. Dalam perahu itu, ia membawa semua benih yang bias ditanam. Setelah beberapa hari, ia melepas burung untuk mengetahui apakah sudah tampak daratan. Belakangan arkeolog Inggris lain, Sir Leonard Wooley,pada 1029 menyimpulkan bahwa kisah Utnaphistim dan banjir Nuh iu sama

Rupanya Utnaphistim bukan satu-satunyakisah tentang air bah yang mirip banjir Nuh. Beberapa kisah serupa mulai teridentifikasi. Di Wales ada dongeng Danau Llion yang menyembur dan membanjirkan seluruh daratan kecuali Dwayfan dan Dwayfach. Mereka selamat dengan kapal tanpa tiang dan kembali mendiami pulau Fridain (Britania).Kapal itu berisi sepasang binatang dari setiap makhluk hidup

Di Lithuania ada dongeng bahwa Pramazimas, sang dewa tertinggi, sudah muak terhadap keburukan manusia sehingga mengirim Wandu dan Wejas. Karena terlalu bersemangat bekerja mengirim air bah, dalam 20 hari tersisa sangat sedikit manusia

Tapi di Asia Tenggara dan wilayah berpenutur Austronesia lain, seperi di Kepulauan Pasifik, menurut Oppenheimer, kisah banjirseperti Nabi Nuh dan Sumeria ini sangat banyak. “Mayoritas dongeng tersebut diceritakan oleh penduduk minorotas yang tinggal di pulau terpencil. ,”kata Oppenheimer. Rupanya di pulau kecil ini, bayangan banjir selalu ada. Kisah air bahpun dianggap “konteksktual” sehingga mitologi bias awet dan diturunkan selama ribuan tahun

Di Tahiti, misalnya,ada kisah banjir setinggi gunung selama sepuluh hari. Jelas bukan tsunami, yang mungkin sudah dikenal di daerah itu karena lamanya sampai 10 hari. Adapun suku Ami, salah satu suku pribumi di Taiwan, memiliki cerita sama dengan dongeng di Tibet-Burma dan Austro-Asiatik di India Timur.Kisahnya tentang banjir bandang yang singkat, menyelamatkan diri dengan kotak kayu, mendarat di gunung dan inses orang yang selamat

Selain tema air bah, yang memiliki sejumlah kemiripan adalahmitologi proses penciptaan dunia serta Habil dan Qabil. Bagi Oppenheimer, hal-hal ini bukan kebetulan. Karena itu, sumbernya pasti dari satu wilayah dan wilayah tersebut, menurut dia, ada kemungkinan di Asia Tenggara.” Mitos banjir pasti dating dari Kepulauan Asia Tenggara” tutur Oppenheimer dalam bukunya. Apalagi kadang kesamaan mitologi ini disertai jejek genetika.kisah Kalevala, misalnya, berasal dari Finlandia. Dan di negei itu ditemukan jejak-jejak genetis yang serupa dengan Asia Tenggara



STEPHEN OPPENHEIMER:
ASIA TENGGARA ADALAH SUMBER PERADABAN BARAT

Arkeolog bukan, geolog pun bukan. Stephen James Oppenheimer adalah dokter ahli genetika yang menyelesaikan jenjang doktoral di Universitas Oxford. Sekitar empat dasawarsa silam, ia mulai tertarik pada peradaban manusia prasejarah. Dua belas tahun lalu, ia menghasilkan Eden in the East, karya kontroversial yang menyatakan Indonesia sebagai awal peradaban dunia. Oppenheimer menjawab pertanyaan wartawan Tempo Pramono tentang isi bukunya, yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu.

Latar belakang Anda dokter. Mengapa Anda tertarik pada sejarah migrasi manusia?

Saat berada di Papua Nugini menjelang 1980, saya tertarik pada asal-usul manusia seperti ditulis kitab Kejadian. Pada 1979, saya melakukan penelitian tentang anemia kekurangan zat besi pada anak-anak di pantai utara Papua Nugini. Saat itulah saya melihat perbedaan genetis dalam darah anak-anak di desa tertentu yang dalam mitos disebut sebagai keturunan Kulabob dan Manup. Anak-anak keturunan Kulabob saya lihat lebih tahan terhadap malaria. Saya melihat mutasi genetis pada anak-anak Kulabob ini mengakibatkan mereka tahan terhadap malaria.

Apa artinya mutasi genetis itu?

Saya melihat mutasi genetis anak-anak Kulabob ini menampilkan tanda-tanda jejak imigrasi orang Polinesia ke Pasifik. Sementara itu, keturunan Manup adalah keturunan orang Papua asli yang telah bermigrasi ke Papua Nugini jauh lebih awal, selama Zaman Es. Saat itulah saya mulai bertanya apa yang telah mendorong orang-orang kuno Asia Tenggara meninggalkan kampung halaman yang subur dan berlayar ke perairan Pasifik, sekaligus meninggalkan jejak genetis, budaya, dan bahasa di sepanjang pantai utara Papua Nugini dalam perjalanan mereka ke timur.

Dalam Eden in the East, Anda menyebut soal banjir yang membuat orang kuno Asia Tenggara tersebar ke mana-mana. Bagaimana Anda bisa sampai pada soal banjir itu?

Pada 1993, saya terbang ke Manila. Saat itu saya tertarik pada pameran arkeologi maritim. Kurator museum bercerita tentang kisah banjir yang dimiliki suku-suku di Filipina. Belakangan saya mulai sadar, ada kemungkinan sebuah banjir di paparan benua Asia Tenggara meluas pada akhir Zaman Es. Ini bisa menjadi penyulut yang mengirim penduduk tepi pantai tersebar ke Pasifik ribuan tahun silam. Dalam penyebaran itu, sangat mungkin mereka membawa berbagai kebudayaan. Saya membaca soal topik ini terus-menerus. Semakin banyak membaca, saya makin menemukan banyak bukti tentang asal-usul Pasifik. Setelah itu, saya mulai melirik oseanografi dan arkeologi untuk menggali bukti.

Bagaimana dengan Paparan Sunda?

Saya percaya, Asia Tenggara adalah sumber peradaban Barat. Saya percaya sebagian besar nenek moyang Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara yang dulunya adalah benua sangat besar yang disebut dengan Paparan Sunda. Sebagian besar garis gen di Polinesia pada dasarnya berasal dari Paparan Sunda lebih dari lima ribu tahun lalu. Banjir di Paparan Sunda menjadi penyebab mereka berlayar ke Pasifik. Saya juga yakin orang Polinesia memulai penyebaran Pasifik besar dari Asia Tenggara, bukan Cina. Lalu berbagai kaitan cerita rakyat menegaskan hubungan Timur-Barat dalam masa prasejarah, sekaligus menjadi dasar banyak mitos dan cerita rakyat Barat.

Anda berpendapat Asia Tenggara bukan hanya cabang sekunder dari peradaban Asia di Cina dan India?

Ya, Asia Tenggara adalah daerah dengan budaya yang paling beragam, paling tua, dan paling kaya di bumi. Pandangan Asia Tenggara sebagai cabang sekunder terlalu menyepelekan, tidak pada tempatnya, dan tidak memperhatikan bukti masa lalu.

Bagaimana tanggapan kolega Anda terhadap Eden in the East?

Ada cukup banyak tanggapan positif terhadap buku saya. Sebagian arkeolog percaya pada bukti yang saya ajukan. Ada juga arkeolog yang tetap yakin orang Indonesia berasal dari Taiwan. Tapi sekarang sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bertanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.

Wednesday, December 15, 2010


BENUA YANG TENGGELAM DI ASIA TENGGARA

Momentum peringatan Sumpah Pemuda 2010 terasa berbeda. Pasalnya, seorang Profesor dari Oxford University, Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, Ph.D datang langsung ke Indonesia. Kehadirannya memenuhi undangan dari Disbudpar Pemprov Jawa Barat, Ufuk Publishing House, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuannya, menjelaskan tesis yang dikenal dengan nama Oppenheimer Theory yang telah dibukukan dengan judul Eden In The East. Penelitiannya ini sangat penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi pengetahuan dunia. Lalu, apa yang membuat penelitiannya ini menjadi begitu penting buat kita yang tinggal di Indonesia?

Secara radikal Oppenheimer memaparkan sebuah teori baru mengenai penyebaran bangsa – bangsa Asia dimasa prasejarah, khususnya bangsa Polinesia, yang tinggal di Asia Tenggara. Berbeda dengan para ahli sebelumnya yang meyakini penyebaran bangsa Asia bermula dari Taiwan lalu menyebar ke berbagai tempat di Asia dan sekitarnya. Oppenheimer dengan menggunakan pisau bedah penelitian geologi, arkeologi, linguistik dan genetika membuktikan hal sebaliknya. Menurutnya bangsa di Asia Tenggara sesungguhnya yang menjadi nenek moyang bangsa Asia keseluruhan dan daerah disekitarnya. Mereka terusir banjir yang datang secara berturut-turut pada 14000, 11500, dan 8000 tahun lalu yang akhirnya memaksa bermigrasi menuju ke Australia, Pasifik, Hindia, dan Daratan Asia. Sejak dirilis 12 tahun yang lalu pendapatnya ini tetap bertahan, dan mendapatkan banyak sokongan dari para ahli yang terkait.

Selama lawatannya di Indonesia Oppenheimer memenuhi beberapa undangan. Menjadi pembicara di seminar nasional di LIPI pada tanggal 28 Oktober 2010. Para peserta seminar yang sebagian besar adalah para peneliti yang berasal dari LIPI, Kemenristek, BPPT, perguruan tinggi serta guru besar, dan staf ahli sangat antusias dengan diskusi yang berlangsung. Acara yang terselenggara atas kerjasama Ufuk Publishing House, LIPI, dan didukung beberapa media di antaranya Gatra, Kompas, Sindo, Detik.com, TV One dan Hotel Sultan dibuka oleh mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly Assidiqie.

Ia juga menjadi nara sumber di acara talk show Apa Kabar Pagi di TV One. Lalu memenuhi undangan Prof Dr. Jimly Assiddiqie di ruang kerjanya di Jl. MH Thamrin, Jakarta. Seperti diketahui Prof. Jimly adalah salah satu tokoh yang banyak memperkenalkan penelitian Oppenheimer di berbagai kesempatan. Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan Oppenheimer. Ia berharap apa yang telah dilakukan Oppenheimer ini bisa ditindaklanjuti oleh para peneliti yang ada di Indonesia.

Kehadiran Oppenheimer juga menarik banyak media massa untuk mengetahui pendapatnya seputar Indonesia pada masa prasejarah. Koran Kompas misalnya melalui sekretaris redaksinya mengundangnya secara khusus untuk menyampaikan penelitiannya. Pertemuan yang berlangsung hamper satu jam itu menjadi rangkaian akhir dari kunjungan singkatnya di Indonesia.

Jelang sore 30 Oktober 2010, selepas wawancara dengan Kompas, Oppenheimer harus bergegas kembali negerinya, untuk melanjutkan penelitian berikutnya. Akhirnya, seperti yang ia sampaikan, sebagai bangsa yang menempati wilayah Indonesia seharusnya bangga terhadap warisan sejarah bangsa ini pada masa lampau (prasejarah).

Kehadirannya yang singkat di Indonesia tentu saja belum dapat memberikan kita gambaran yang menyeluruh mengenai penelitiannya. Namun kehadiran bukunya yang telah diterjemahkan oleh Ufuk Publishing House dapat memberikan kita ruang untuk memahami lebih jauh pendapat dari Oppenheimer. Selamat jalan Professor, kami tunggu anda membagikan penemuan penting berikutnya.


BAHASA INDONESIA MIRIP BAHASA DRAVIDA

JAKARTA, KOMPAS.com--Dalam seminar bertajuk "Indonesia Awal Peradaban Dunia" yang digelar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia hari ini (28/10/10), hadir beberapa pembicara. Salah satunya adalah Subra V.S, anggota 3 Eye Communication yang juga ilmuwan yang mendalami bahasa Dravida, sebuah rumpun bahasa yang digunakan secara luas oleh masyarakat India dan Srilanka.

Dalam wawancaranya dengan kompas.com, Subra mengungkapkan tentang adanya kemiripan antara bahasa Dravida dengan bahasa Melayu modern yang kini berkembang menjadi bahasa Indonesia dan Malaysia. Kemiripan itu bisa dilihat dari beberapa kosakata yang maknanya sama meskipun penulisan dan pengucapannya sedikit berbeda.

Ia memberikan beberapa contoh. Kata "karena" misalnya, dalam bahasa Dravida disebut dengan "karana". Walau penulisannya berbeda pada penggunaan huruf a dan e, namun makna kedua kata tersebut sama. Ada lagi kata "manusia' yang dalam bahasa Dravisda dikenal dengan "manushan". Perbedaan terdapat pada penggunaan hurif i, h dan n, namun makna kedua kata itu juga sama.

Orang-orang Dravida pun, lanjut Subra, telah mengenal kata "Malaya" yang merujuk pada tanah melayu, wilayah yang meliputi Sumatra dan Malaysia. Lucunya, dalam bahasa mereka, malaya berarti "Ill Country" alias negara penyakit. Tidak jelas mengapa disebut demikian, tetapi ia mengungkapkan bahwa adanya kosakata itu pasti menunjuk pada adanya relasi antara bangsa Dravida dan orang-orang Melayu yang juga memungkinkan terjadinya penyebaran bahasa.

Ketika ditanya apakah pihak Melayu atau Dravida yang menyebarkan bahasanya, Subra mengungkapkan adanya banyak kemungkinan. Namun, ia berpendapat bahwa bahasa Dravida sendiri bukan bahasa yang paling kuno di asia. Ada bahasa proto-dravida yang disebut sebagai cikal bakal bahasa Dravida. Selain itu, terdapat penelitian yang mengungkap tentang adanya peradaban-peradaban yang lebih tua dari Dravida.

Namun, saat ditanyakan tentang isi buku "Eden in the East" karangan ahli genetika asal Inggris, Stephen Oppenheimer, yang mennguraikan fakta-fakta yang mendukung pendapat bahwa peradaban dunia berawal di Indonesia, Subra mengungkapkan bahwa jika isi buku tersebut benar bukan tidak mungkin bangsa Indonesialah yang menyebarkan bahasanya pada bangsa dravida.




Dalam perbincangan tentang peradaban tua dunia, Asia Tenggara hampir tidak pernah disebut. Kebanyakan pelajaran sejarah sekolah dan perguruan tinggi serta wacana umum selalu menyebut wilayah seperti Mesopotamia, Mesir, Sungai Indus, Tiongkok, dan Yunani sebagai cikal bakal peradaban dunia. Padahal dalam khasanah penemuan arkeologi Indonesia, banyak ditemukan aneka penemuan artefak prasejarah.

Ditemukannya kerangka manusia yang berumur jutaan tahun, seperti jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan berbagai macam homo, seperti Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, kurang membangun teori asal usul peradaban. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.

Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku Atlantis karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku Atlantis kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.

Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.

Dalam sebuah pertemuan di LIPI, Oppenheimer mengatakan teorinya dibangun berdasarkan kajian kedokteran (DNA), geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore. Ilmu-ilmu ini, terutama geologi, mengemukakan alasan adanya Sundaland yang dulu bersatu. Yang pertama dikemukakan adalah naiknya permukaan air laut sebanyak tiga kali di wilayah ini antara 14.500 hingga 7.200 tahun (sebelum Masehi), yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland).

Teori ini merupakan teori umum yang sering dikemukakan para geolog. “Agak sulit untuk melihat mengapa ada beberapa penentangan terhadap konsep ini, yang sebenarnya sudah diterima oleh para geolog dan para sarjana lainnya sejak lama,” katanya. Dari kajian genetika, Oppenheimer menjelaskan dari Paparan Sunda yang terpecah ini, menyebar kehidupan menyeberang laut.

Penyebaran bukan hanya dekat di wilayah ini, namun juga ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hingga ke Euroasia. Dalam pandangan Oppenheimer, orang Sumeria peletak dasar peradaban di Mesopotamia berasal dari Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar dan wajah tipikal orientalis menjadi bukti lainnya.

Teori genetikanya menyebutkan 90 persen penduduk Paparan Sunda telah ada di sana sejak 5.000 hingga 50.000 tahun lalu, bahkan beberapa di antaranya sebelum zaman es mencair dan menenggelamkan wilayah ini. “Derajat keberlanjutan genetik itu membantah pandangan ortodoks bahwa para petani padi Taiwan berbahasa Austronesia secara esensial menggantikan penduduk terdahulu dari Paparan Sunda 3.500 tahun yang lalu,” katanya.

Menurut terori sebelumnya, Sundaland belajar pertanian, peternakan dan mencari ikan dari orang-orang Taiwan yang berbahasa Austronesia sekitar 3.500 tahun yang lalu. Padahal menurut Oppenheimer, sejak ribuan tahun sebelumnya mereka telah memiliki nilai-nilai neolitik.

Oppenheimer mengatakan mereka sejak ribuan tahun lalu telah memiliki keahlian sebagai nelayan. Dari kajian linguistik yang mempelajari bahasa asli dari Sundaland, yaitu bahasa Austronesia, istilah pelayaran berasal dari Asia Tenggara, bukan dari Taiwan. Endapan Rawa Menurut Eko Yulianto, ahli geologi LIPI, apa yang dikemukakan oleh Oppenheimer memiliki bukti yang kuat dari teori geologi. Pengeborannya yang dilakukan di Laut Jawa pada kedalaman 9,7 meter menemukan adanya endapan rawa.

Diperkirakan umur endapan ini 6.000 tahun yang lalu. Di laut sebelah selatan Pulau Jawa, ia menemukan adanya fosil serbuk sari yang merupakan sisa dari tanaman jenis rumput-rumputan (graminae). Ia menduga bisa jadi serbuk sari ini merupakan berasal dari padi atau tumbuhan sejenis. Lebih lanjut, ia mengatakan teori Sundaland benar adanya karena dari kedalaman laut di wilayah terlalu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Aru, dan lainnya.

Kedalaman lautan di bekas wilayah Sundaland ini hanya berkisar 10-30 meter. Di daratan, teori tentang manusia purba dengan peradabannya yang tinggi bisa ditemukan di Gua Pawon di Bandung. Dari penenyam perkakas dan bahan bakunya sangat beragam, mulai dari batuan obsidian yang hanya bisa ditemukan di Nagrek, Garut atau Sukabumi.

Serta gigi ikan hiu yang hanya bisa ditemukan di laut sekitar Subang. Ini artinya mobilitas penghuni Gua Pawon sudah tinggi dan peradabannya sudah sangat maju. Dibandingkan dengan teori Atlantis, menurut Eko, Eden In The East lebih ilmiah. ”Dibandingkan dengan yang ditulis Santos dalam Atlantis, apa yang dikemukakan Oppenheimer lebih masuk akal,” ujarnya. Pasalnya, selama ini Atlantis banyak menautkan teorinya dengan bukti mitologis, dan beberapa bukti yang kurang ilmiah lainnya.

Apalagi Santos belum pernah datang ke Indonesia dalam membangun teorinya dan lebih berdasarkan studi pustaka. Hary Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, mengatakan teori Oppenheimer, meski mendapat banyak dukungan, perlu pembuktian lebih lanjut. Dengan berbagai teknologi yang ada sekarang, bermacam hal yang dikemukakan Oppenheimer dapat dibuktikan.

“Dengan melacak DNA dan teknologi kelautan dan berbagai macam disiplin teori dalam Eden In The East dan Atlantis, dapat dibuktikan,” jelasnya. Menurut Jimly Asshiddiqie yang sejak lama sangat menginginkan buku Eden In The East diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jika teori yang dibangun oleh Profesor Oppenheimer benar, hal ini akan membalikkan seluruh asal usul peradaban. “Sekarang orang Jepang tidak lagi menyebut dirinya saudara tua. Kita yang saudara tua,” pungkasnya.
hay/L-1



Atlantis, benua yang hilang, hingga kini masih misterius. Meskipun manusia sudah mencari sisa-sisa keberadaan kota ini selama ratusan tahun dan lebih ribuan buku mengenai Atlantis diterbitkan, sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa memastikan di mana letak Atlantis. Jika merujuk pada pendapat Plato yang memunculkan isu Atlantis, benua ini memiliki beberapa cirri-ciri. Atlantis negara makmur yang bermandi Matahari sepanjang waktu.

Plato juga menceritakan negara Atlantis yang kaya dengan bahan mineral serta memiliki sistem bercocok tanam yang sangat maju. Dasar mandi matahari berarti Atlantis dijadikan alasan bagi para ilmuwan benua ini berada di khatulistiwa. Buku paling anyar mengenai Atlantis yang ditulis oleh Arysio Nunes dos Santos, seorang ilmuwan Brasil, juga mengarah ke sana. Dalam bukunya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found, Santos ingin menunjukkan bahwa Atlantis yang pernah disebutkan oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias berada di Indonesia yang bermandikan surya.

Ia mengatakan Atlantis benua yang hilang itu berada di wilayah Indonesia dan sebagian Malaysia yang dikenal dengan Paparan Sunda atau Sundaland. Santos, dalam kesimpulannya, mengatakan pilar Hercules sebagai Selat Sunda dan Taprobane sebagai benua Atlantis meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Pilar Hercules dan Taprobane adalah dua di antara ciri-ciri Atlantis yang hilang seperti diceritakan oleh Plato.

Dalam konteks Paparan Sunda, Taprobane digambarkan kaya dengan emas, batu mulia, dan berbagai macam binatang. Di sini pula terdapat kota langka tempat ibu kota Kerajaan Atlantis. Sejauh ini memang Atlantis masih misterius, baik letak maupun keberadaannya. Ada yang berpendapat benua yang hilang ini berada di Laut Tengah antara Libia dan Turki. Ada juga yang mengatakan Atlantis berada di dekat Portugal, yaitu Kepulauan Azores yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal.

Santos mengatakan Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan dari India bagian selatan, Sri Lanka, dan Paparan Sunda. Dalam keyakinannya, benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekitar 11.600 tahun lalu. Gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba.

Gunung ini merupakan induk dari Gunung Krakatau sekarang ini yang mampu menenggelamkan Atlantis. Gunung ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. Akibat ledakan, terbentuklah Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan Bumi yang dulu disebut Atlantis. Bencana mahadahsyat membuat punah 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu.

Bahkan ribuan manusia tewas dan sisanya berpencar dengan membawa peradaban mereka di wilayah baru. Santos menelusuri lokasi Atlantis berdasarkan pendekatan ilmu geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan mithologi meski ia tidak pernah datang ke Indonesia. Santos juga membangun teori berdasarkan linguistik dari bahasa Dravida yang menurut teorinya merupakan bahasa yang digunakan penduduk Atlantis berdasarkan temuan linguistik dan arkeologi.

Kini, dengan buku baru karangan Stephen Oppenheimer, Eden in The East, paparan Santos mendapat argumentasi kuat meski Oppenheimer tidak bertutur tentang Atlantis. Buku Eden in The East, berdasarkan isinya, tampak mendukung teori yang dikemukakan Santos yang menyebutkan Asia Tenggara sebagai pusat peradaban kuno dunia dan Atlantis yang hilang berada di Paparan Sunda lewat beberapa teori DNA, linguistik, etnografi , dan arkeologi.
hay/L-1

Monday, December 13, 2010

MERUNUT ASAL MULA PERADABAN

Hampir separuh buku ini membahas bukti dari mitologi perbandingan, bahwa penyebaran semacam itu, meski kecil secara kuantitas, berdampak besar dalam hal transfer budaya legenda dan asal usul mitos banjir.
(Media Indonesia, Oktober 2010)

Membaca buku Eden.in the East yang baru-baru iniditerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dirilis penerbit Ufuk dengan judul Surga di Timur memang bukan perkara gampang. Selain tebalnya menyamai bantal, 814 halaman, isi buku ini betul-belul menuntut konsentrasi, Stephen Oppenheimer dalam buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1998 ini menawarkan ide baru yang memutarbalikkan pemahaman konvensional mengenai penyebaran manusia dan kebudayaan.

Jika selama ini kita memercayai peradaban dimulai dari Barat, Oppenheimer membalikkannya. Peradaban manusia modern bisa jadi berasal dari Asia Tenggara. Apa buktinya ?

”Salah satunya, peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada sebelum peradaban agrikultur lain di dunia.” kata Oppenheimer dalam diskusi buku di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis(28/10)

Oppenheimer yang ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris itu merunut jejak peradaban melalui pendekatan penelitian genetis populasi.

Sebagai sampel, Oppenheimer menggunakan sekitar 1000 orang Indonesia, 1000 orang dari Asia Tenggara lain, 1000 dari China dan 300 dari Taiwan

”Harus ada kolaborasi dari peneliti Indonesia untuk memperkuat penelitian karena Indonesia sangat beragam dan kita butuh lebih banyak sampek,”” kata Oppenheimer

Dengan menggunakan penelitian genetik, Oppenheimer menggunakan kromosom X untuk meneliti migrasi pada perempuan dan kromosom Y untuk migrasi laki-laki. Menurutnya, cara itu lebih efektif jika dibandingkan dengan meneliti menggunakan kromosom; talasemia. "Saya sudah berpikir untuk menggunakan teknik ini sejak 30 tahun yang lalu," ujar Oppenheimer yang beristrikan perempuan Malaysia itu.

Hasil penelitian itu ternyata benar-benar bertolak belakang dengan model konvensional 'Out of Taiwan' yang menyebutkan populasi di Asia Tenggara saat ini berasal dari Taiwan. Penelitian Oppenheimer justru menunjukkan migrasi dilakukan. dari arah sebaliknya, yaitu dari sebuah benua vang, disebut Sundaland menuju daratan. Singkatnya, salah satu peradaban kuno dimulai di In donesia lalu menyebar ke daratan China, India, dan lainny

Sundaland

Sundaland tak lain adalah sebuah benua sebelum zaman es mencair, ketika Sumatera, Jawa dan Kalimantan masih menyatu dengan Benua Asia.

Migrasi yang dilakukan penghuni Sundaland merupakan akibat tiga periode banjir besar yang terjadi antara 14.500 dan 7.200 tahun lalu. Banjir besar itulah yang lantas menenggelamkan sebagian besar Sundaland sehingga menyisakan kepulauan seperti yang terlihat saat ini.

Sebanyak 90% leluhur dari orang-orang yang menghuni Sundaland setidaknya telah ada sejak 5.000 tahun hingga 50.000 tahun lalu. Oppenbeimer juga rnenjelaskan penghuni Sundaland telah tnemiliki cara hidup yang berbeda. Alih-alih menggunakan cara bertahan hidup primitif seperti berburu, mereka telah mampu mcnguasai ilmu bercocok tanam, memancing, dan barter sejak 5,000 lahun yang lalu, "Dan mereka lidak belajar hal ini dari orang-orang Taiwan 3.500 tahun laJu," ujarnya.

Dalam buku ini, Oppenheimer juga mengungkapkan berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang; kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua.

Mitos

Hampir separuh buku ini membahas bukti dari mitologi perbandingan, bahwa penyebaran semacam itu, meski kecil secara kuantitas, berdampak besar dalam hal transfer budaya legenda dan asal usul mitos banjir.

Oppenheimer sendiri, jauh di awal proses penulisan buku, merasa terobsesi dengan Papua Nugini. Di sana, ada mitos yang sangat populer tentang Kulabob dan Manup. Kisah itu menyebar ke tiga provinsi dan ke sepanjang 300 km garis pantai. Dikisahkan, Kulabob dan Manup merupakan saudara. Kulabob, anak terkecil, memiliki kulit putih dan tinggi. Manup belubuh pendek, berkulit gelap, dan gendut.

Suatu saat perselisihan terjadi sehingga Kulabob berlayar menuju timur di bawah perlindungan gunung berapi. Di setiap desa sepanjang tirnur pantai, Kulabob menurunkan satu orang dari kapalnya. la memberi setiap pria itu kemampuan untuk berbicara, bercocok tanam, panah, busur, kapak, dan cara ritual lain.

Kisah itu kemudian menimbulkan salah pengertian. Ketika Mikloucho-Maclay, antropolog Rusia berkunjung ke Papua Nugini, warga meyakini dia sebagai keturunan Kulabob (sama-sama tinggi dan berkulit putih). Maka hingga kini, pengunjung kulit putih sering dianggap sebagai sepupu mereka.

Mitos itu oleh banyak orang dianggap sebagai kekonyolan. Tapi, Oppenheimer bisa menjelaskan mitos itu menjadi ilustrasi mengenai migrasi manusia yang terjadi setelah zaman es.

Atlantis

Menurut Eko Yulianto, Quaternaty Geologist dan Paleosis-mologist dari LIPI, buku Eden in the East bisa menjadi bukti kuat untuk membantah teori migrasi sebelumnya. "Bahwa migrasi sebetulnya terjadi terjadi dari Indonesia ke luar. Bukan dari luar ke Indonesia. Walaupun ada migrasi dari luar ke dalam, persentasenya kecil sekali," ujarnya.

Menurut Eko, orang cenderung menyamakan ide Atlantis dari Arysio Santos dengan buku Oppenhimer. Padahal ide yang dikemukakan Oppenheimer berbeda dengan Santos

" Santos menganggap bahwa Indonesia dulu mcmeiliki kebudayaan Atlantis yang sangat maju dari budaya sekarang. Namun berbeda dengan Santos, Oppenheimer meyakini bahwa benih dari budaya maju yang ada sekarang itu berasal ada di Indonesia. Budaya yang dimaksud adalah budaya pada zaman itu, neolitik. Bukan yang 'luar biasa'. seperti yang digambarkan Santos," jelas Eko.

Oppenheimer sendiri menegaskan Sundaland bukanlah Atlantis yang dikemukakan Santos. la menilai bukti-bukti yang dikemukakan Santos tidaklah cukup kuat untuk mengatakan Sundaland adalah Atlantis.

"Yang jelas ini adalah salah satu peradaban tertua. Tapi, tidak paling tertua. Karena suatu saat pasli ada lagi yang lebih tua," ujarnya.

Namun, kedua buku itu bukanlah dibuat untuk saling menggugat dan bertentangan. "Mungkin untuk mengatakan bahwa Atlantis seperti yang dikemukakan Plato ada di sini, Santos tak memiliki bukti yang cukup.

Tapi selebihnya tentang sebuah benua yang hilang dan bukti pertanian kuno ba¬nyak meniiliki kesamaan," ujar Oppi'iihttimer. (M-4)


Christine Fransiska, Media Indonesia, 30-10-2010


DIASPORA NENEK MOYANG ASIA


Buku ini -dan lebih dari 30 makalah- yang ditulis Oppenheimer dengan beberapa rekannya selama 12 tahun menghasilkan hipotesa utama bahwa sebagian besar nenek moyang bangsa Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara
(Hendri Isnaeni, Seputar Indonesia, Oktober 2010)


Buku ini menjelaskan tentang nenek moyang bangsa Asia Tenggara yang berdiaspora karena diusir banjir. Asia Tenggara merupakan salah satu daerah dengan budaya yang paling beragam, paling tua, dan paling kaya di bumi. Namun, para ahli sejarah telah lalai dengan beranggapan bahwa budaya Asia Tenggara hanyalah cabang sekunder dari peradaban Asia daratan di India dan China. Pandangan menyepelekan ini tidak menghiraukan bukti masa lalu dan kerumitan yang unik. Bagi Stephen Oppenheimer, justru sebaliknya. Asia Tenggara merupakan pusat asal-usul budaya dan peradaban dunia. Ketertarikan Oppenheimer terhadap Asia Tenggara berawal ketika pada tahun 1972 silam, dia menjadi dokter dan bekerja di beberapa rumah sakit yang tersebar di Asia Tenggara. Puncaknya saat menjadi dokter terbang di Borneo. Di saat senggang, dia bepergian ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Keanekaragaman budaya membuatnya takjub, melebihi hasil pelancongannya di Eropa, Maroko, dan Timur Tengah.

Meski Oppenheimer menyadari bahwa AsiaTenggara telah meminjam banyak -dalam hal agama dan ide- dari tetangga mereka di India dan China daratan, juga dari Barat. Namun, dia mempertanyakan peradaban yang telah ada sebelum kedatangan budaya India, Cina dan Barat itu.

Rasa penasaran Oppenheimer semakin memuncak setelah menyelesaikan kontrak dua tahun sebagai dokter anak. pemerintah Papua Nugini pada 1978. Setahun kemudian dia kembali ke Papua Nugini sebagai seorang akademisi untuk melakukan penelitian tentang anemia pada anak-anak di pantai utaraPapua Nugini.

Oppenheimer berbicara kepada sesepuh desa tentang hasil awal penelitian, serta memberitahukannya tentang perbandingan genetis dalam darah anak-anak dari desa-desa tertentu di sepanjang garis pantai utara. Sesepuh desa menatap Oppenheimer dengan penuh penasaran, dan dia mengatakan bahwa anak-anak itu adalah keturunan Kulabob. Belakangan, Oppenheimer tahu bahwa sesepuh itu sedang mengacu pada sebuah mitos migrasi kuno "Kulabob dan Manup" yang terkenal bagi orang-0rang pesisir.

Mitos ini belakangan juga dikenali oleh para antropolog sebagai sebuah mitos migrasi. Dan para penduduk desa keturunan Kulabob yang berpindah ini menuturkan bahasa-bahasa yang mirip dengan orang-orang di Asia Tenggara dan Polinesia. Mutasi genetis pada anak-anak Kulabob di sepanjang pantai utara Papua Nugini, tahan terhadap malaria dan ternyata merupakan penanda kunci yang menaungi jejak migrasi orang-orang Polinesia ke Pasifik. Para keturunan Manup dianggap sebagai orang Papua asli yang telah bermigrasi ke Papua Nugini jauh lebih awal sclama Zaman Es, dan sebagian besar melewati jaringan darat-kajian tentang jejak genetis ini masih berlanjut ketika buku ini ditulis.

Oppenheimer mulai bertanya-tanya: apa yang mendorong orang-orang kuno Asia Tenggara meninggalkan kampung halamannya yang rindang dan subur, mereka berlayar di luasnya perairan Pasifik, meninggalkan "sidik jari" genetis, budaya, dan bahasa di sepanjang utara Papua Nugini dalam perjalanan mereka ke timur ?

Dengan menggunakan pisau bedah penelitian geologi, arkeologi, linguistik, dan genetika, Oppenheimer menemukan bahwa orang-orang kuno Asia Tenggara bermigrasi karena diusir oleh banjir.

Sebelum banjir dahsyat, Asia Tenggara merupakan pulau besar yang membentuk sebuah benua berukuran dua kali India pada puncak Zaman Es sekitar 20.000 sampai 18.000 tahun lalu. Meliputi Indo-China, Malaysia, dan Indonesia, Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand dan Laut Jawa yang dulunya kering, imembentuk bagian-bagian yang menghubungkan benua tersebut. Secara geologis, benua yang setengah tenggelam ini disebut paparan Sunda atau Sundaland

Banjir besar secara berturt-turut pada 14.000,11.500, dan 8.000 tahun lalu,telah menaikkan air laut setinggi 120 meter. Daerah dataran rendah Asia Tenggara tenggelam seluas India. Yang tertinggal hanya pulau-pulau pegunungan yang terpencar-pencar. Daratan yang dulu membentang di antara Korea, Jepang, China, dan Taiwan, kini disebut Laut Kuning dan Laut China Timur. Pelabuhan-pelabuhan masa kini di sepanjang garis pantai selatan China, seperti Hong Kong, pada Zaman Es adalah daratan yang pan jangnya ratusan mil.

Ketika kenaikan air laut mencapai puncaknya pada 8.000 tahun lalu, rangkaian migrasi terakhir dari penduduk Asia Tenggara dimulai. Dengan rute-rute migrasi:

ke selalan meuju Australia. Ke timur menuju Pasifik. Ke barat masuk ke Samudra Hindia.Dan ke utara masuk ke Daratan Asia.

Keturunan masa kini dari para pengungsi timur di Pasifik, mendiami banyak pulau Melanesia, Polinesia, dan Micronesia, menuturkan bahasa dari rumpun Austronesia, yang juga digunakan oleh penduduk Asia Tenggara. Dalam perjalanan, mereka membawa binatang domestik dan tanaman-makanan dalam kano-kano laut yang besar. Beberapa di antara mereka yang lari ke barat membawa tumbuhan beras (padi) ke India. Mereka yang berasal dari Asia Tenggara utara lari ke Indo-China dan Asia, membangun budaya-budaya rumit di China Barat Daya,

Burma (Mynnmor), dan Tibet. Mereka menuturkan bahasa dari rumpun bahasa besar Asia Tenggara lainnya: Austro-Asiatik, Tibeto-Burman, dan Tai-Kadai.

Di atas itu semua, penyebaran awal akibat banjir besar itu telah membangun jalur-jalur komunikasi dan perdagangan ke seluruh Eurasia dan Pasifik Selatan yang kemudian memastikan arus yang cepat dan berkelanjutan berisi pemikiran, pengetahuan, dan keahlian.

Buku ini -dan lebih dari 30 makalah- yang ditulis Oppenheimer dengan beberapa rekannya selama 12 tahun menghasilkan hipotesa utama bahwa sebagian besar nenek moyang bangsa Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara. Beberapa makalah juga menunjukkan bahwa garis gen ini berasal dari Indonesia dan Polinesia sebelum 5.000 tahun lalu, sebagian sebelum Zaman Es terakhir.

Dengan demikian, tak terelakkan lagi keberlangsungan genetik penting di Indonesia lebih dari ribuan tahun. Tingkat keberlangsungan genetik ini bertentangan dengan pendapat kaum ortodoks yang mengatakan bahwa para petani padi dari Taiwan yang berbahasa Austronesia telah menggantikan bekas penduduk Asia Tenggara 3.500 tahun lalu.(*J


DUNIA BERAWAL DARI ASIA TENGGARA

Ada kemungkinan, kepulauan yang tak jarang dipandang remeh dalam peta geopolitik dunia sekarang ini merupakan benih-benih sejarah manusia.
(Geger Riyanto, Koran Jakarta, November 2010)

Stephen Oppenheimer langsung mengemuka dengan sebuah pandangan yang menggebrak. Peradaban dunia berasal dari Asia Tenggara. Peradaban-peradaban besar, klaim Oppenheimer, berasal dari para penghuni benua besar Paparan Sunda (Sundaland) yang bermigrasi ke seluruh belahan dunia. Tanah kediaman mereka ditenggelamkan oleh kenaikan air laut di periode surutnya zaman es.

Di puncak zaman es, 20.000 hingga 18.000 tahun yang lalu, Asia Tenggara merupakan sebuah pulau yang besarnya dua kali lipat dari India. Nah, yang menjadi pijakan argumen Oppenheimer untuk mengatakan China, India, Eropa, serta berbagai kerajaan besar berakar dari diaspora penduduk Sundaland adalah buktibukti bahwa sejak sekitar 10.000 tahun yang silam orang-orang di benua yang terbenam ini telah menghidupi dirinya dengan pertanian.

Ini jelas sebuah titik balik yang mengubah sejarah manusia. Saya tidak akan pernah ada di sini, menulis sebuah resensi di depan komputer, bila tidak pernah ditemukan cara-cara bertani. Pertanian memungkinkan orangorang mulai hidup menetap, tidak lagi berburu dan meramu.

Tercukupinya stok pangan atau kebutuhan ekonomi yang mendasar masyarakat awal mula ini memungkinkan diversifi kasi pekerjaan, para penduduk tidak lagi terkonsentrasi pada pekerjaan mengumpulkan pangan. Kerajaan sebagai satu bentuk administrasi masyarakat mula-mula hanya dimungkinkan setelah ditemukannya pertanian.

Untuk memberi bangunan penyokong bagi argumennya ini, Oppenheimer memperlihatkan bahwa di berbagai penjuru dunia terdapat mitos tentang banjir dan migrasi besar. Di antara orang Yahudi, berkembang cerita tentang Nabi Nuh yang membangun bahtera untuk menghindari banjir murka Tuhan yang membenamkan seluruh Bumi.

Bandingkan dengan skema berpikir orang-orang Malaysia Barat yang menanggali periode kehidupannya berdasarkan peristiwa banjir. “Saya lahir pada tahun banjir bandang,” ujar satu orang Malaysia. “Keluarga saya pindah kemari sebelum banjir besar,” ujar yang lainnya. Buku Eden in the East menganggap ini terlalu aneh untuk menjadi suatu kebetulan.

Oppenheimer pribadi memang memunyai simpati pada orang-orang Asia Tenggara. Sejak tahun 1970-an, ia bekerja sebagai dokter di sejumlah rumah sakit di wilayah kepulauan ini. Persentuhannya dengan keanekaragaman budaya serta manusia di periode ini membuatnya takjub dan mulai bertanya-tanya. Namun, pandangan radikal dalam Eden in the East ini masih berupa sebuah hipotesis yang rentan terhadap kritik mendasar.

H Pringle, dalam sebuah artikel jurnal, menyebutkan bahwa metode penanaman padi telah ditemukan di China sejak 11.000 SM, mendahului penemuan penanaman padi di Sundaland. Perdebatan masih akan terus mengikuti.

Tetapi di antara semua itu, apa yang paling berarti adalah bagaimana Oppenheimer memperlihatkan bahwa Asia Tenggara lebih dari sekadar pasar buangan produk-produk China. Ada kemungkinan, kepulauan yang tak jarang dipandang remeh dalam peta geopolitik dunia sekarang ini merupakan benih-benih sejarah manusia.

Peresensi adalah Geger Riyanto, alumnus Sosiologi Universitas Indonesia

Lihat :
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=68122
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes