Showing posts with label *Koran Suara Merdeka. Show all posts
Showing posts with label *Koran Suara Merdeka. Show all posts

Monday, April 30, 2012


Rekam Jejak Kepemimpinan Jokowi



Ir. Joko Widodo atau Jokowi adalah satu dari sedikit potret pemimpin sejati di negeri ini. Di balik kesederhaan hidupnya, ia tak henti-hentinya memberikan teroboson spektakuler bagi kepentingan rakyat. Apa yang menjadi kehendak rakyat, itulah yang akan dilakukan, sebab baginya, apalah arti seorang pemimpin jika tak mampu memenuhi kebutuhan rakyat hingga akhirnya membuat rakyat tersenyum manis.

Tampuk jabatan yang mutlak dicurahkan kepada rakyat, menjadikan Jokowi amat cintai rakyat. Jabatan yang diembannya –sebagai Wali Kota Solo- sepenuhnya diberikan kepada rakyat, sehingga segala kebijakannya tercurah penuh untuk rakyat. Jokowi selalu menghadirkan gebrakan baru bagi rakyat. Ketika warga Solo ingin agar para pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan pusat kota disingkirkan, ia memenuhinya. Tapi, bukan penggusuran secara kasar dengan mendatangkan Satpol PP yang dilakukan, namun ia menempuh cara damai dan merakyat. Jokowi bicara dari hati ke hati dengan para pedagang kaki lima, memberi lahan baru tempat jualan, serta mengiklankan barang jualan itu ke publik. Tak ayal, dari langkah bijak yang ditempuh Jokowi, antara kedua belah pihak –para pedagang kaki lima dan warga yang ingin menyingkirkannya karena dianggap mengganggu- akhirnya tak menuai ketegangan. Walhasil, dari langkah bijak Jokowi, rakyat Solo dan bangsa Indonesia pada umumnya semakin yakin bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang mampu memberi “oase dan harapan” baru di tengah carut marut estafet kepemimpinan negeri ini.

Selain merelokasi pedagang kaki lima tanpa kerusuhan dan penggusuran, kesuksesan Jokowi juga dapat dilihat dari sukses pemolesan dan penataan pasar tradisional tanpa mal, sukses membawa Solo go internasional, sukses menjadikan Solo kota terbersih dari korupsi, dan terakhir sukses mengangkat mobil Esemka rakitan anak-anak negeri hingga ke tingkat nasional.
Jokowi yakin dan berbangga atas karya kreatif anak negeri sendiri, sehingga tanpa ragu ataupun malu Jokowi menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas dan ia langsung menguji emisi sendiri ke Jakarta. Di samping langkah pro terhadap rakyat yang selalu diaplikasikan, Jokowi adalah sosok langka pemimpin yang nerimo dengan kesederhanaan hidup.

Sederhana

Di tengah hiruk-piruk para pejabat negeri yang hidup mewah hingga menuntut kenaikan gaji, Jokowi justru hidup dengan penuh kesederhanaan bahkan tak mengambil gajinya. Langkah Jokowi itu meski kadang mendapat “cibiran” sebagai pejabat yang mencari “sensasi”, tapi toh memang demikian seharusnya perangai seorang pemimpin. Pemimpin sejati harus gundah dan galau melihat rakyatnya hidup miskin, susah. Pemimpin sejati harus orang pertama yang merasakan pahit getir melihat rakyatnya kesulitan dalam hidup. Dan Jokowi adalah salah satu pemimpin yang merasakan itu. Kepemimpinannya benar-benar mampu menjadikan rakyat “tersenyum manis” dalam gempuran tantangan zaman pola pemimpin negeri yang tak jelas dan ingin enaknya sendiri.

Buku karya Zaenuddin HM ini merupakan rekam jejak kepemimpinan Jokowi. Kisah-kisah inspiratif Jokowi dalam estafet kepemimpinannya menjadi Wali Kota Solo dalam dua periode (2005-2010 dan 2010-2015) digambarkan sebagai bukti bahwa pemimpin seperi Jokowi inilah yang patut ditiru oleh pemimpin lain, tak lain demi tercipta sosok pemimpin bangsa yang bisa mengerti keinginan rakyat, mengangkat hak rakyat, sekaligus merakyat.

*) Pembaca Buku, Tinggal di Yogyakarta

Wednesday, May 28, 2008



RAPOR MERAH LIMA PRESIDEN INDONBSIA

Padahal, menurut Ishak Rafick, kalau negeri ini masih dikelola dengan paradigma lama dengan "menyerahkan masa depan" bangsa ini kepada trinitas IMF (International Monetery Fund), World Trade Organization (WTO), dan Wordl Bank (Bank Dunia), bukan saja merupakan langkah tak bijak tapi juga membahayakan
(N. Mursidi, Suara Merdeka, Mei 2008)


Sudah enam puluh tiga tahun Indonesia merdeka. Tapi, hingga detik ini belum tinggal landas. Canangan Orde Baru dengan rencana pembangunan lima tahun yang dulu didengung-dengungkan Scenario ternyata kandas. Akibatnya Indonesia bukan jadi negara maju, megah dan disegani di dunia. Sebaliknya, justru terpuruk. Indonesia dibelit utang bertumpuk dan kapal yang dimuati 200 juta jiwa lebih inipun oleng.

Nilai rupiah anjlok, pengangguran dan kemiskinan meningkat. Rakyatdi negeri ini didera busung lapar, kurang gizi dan tingginya tingkat angka putus sekolah. Lebih ironis, bangsa ini dijuluki bangsa korup, dan bangsa kuli yang hanya mampu menyediakan tenaga murah ke luar negeri. Sungguh Ironis!

Keadaan parah itu, tentu mengundang sejuta pertanyaan. Apa yang salah dengan pengelolaan negeri ini sampai gagal tinggal landas? Kenapa negeri yang dilimpahi kekayaan alam, justru jadi bangsa kuli dan kekurangan pangan? Lebih menukik, kesalahan kebijakan apa yang diperbuat pemimpin bangsa ini, sehingga Indonesia harus karam cukup dalam?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab Ishak Rafick, wartawan Majalah Global Asia ini. Meski hanya memotret kondisi Indonesia selama 10 tahun terakhir, tetapi tidak dimungkiri jika buku ini merupakan "investigasi mumpuni" yang dapat dijadikan dokumentasi tentang rapor merah yang ditorehkan oleh lima presiden Indonesia dalam membawa bangsa ini.

Dengan rencana pembangunan yang berkesinambungan, Soeharto seharusnya mampu membawa Indonesia tinggal landas pasca-repelita VII. Apalagi, selama 30 tahun sebelumnya pembangunan yang ditegakkan Soeharto lancar dan dunia sempat memujinya. Tetapi "cita-cita" itu ternyata kandas. Indonesia bukannya tinggal landas, justru terpuruk. Akibat krisis moneteryang mengakibatkan nilai tukar rupiah anjlok setelah band intervensi terhadap kurs mengambang terkendali itu dicabut, Indonesia pun limbung.

Maksud hati, Soeharto mau memeluk gunung untuk menghemat devisa, tapi yang terjadi, justru celaka. Ekonomi Indonesia kacau. Indonesia urung tinggal landas dan kembali digiring ke titik nol dalam pelukan IMF (halaman 69). Soeharto yang sejak 1967 menopang pem¬bangunan dari dana pinjaman IMF, seperti tak bisa mengelak. Dengan iming iming umpan 43 miliar dollar AS, IMF lantas memaksa Soeharto menandatangani lesepakatan —terdiri 50 paragraf yang kemudian dikenal sebagai 50 point Letter of Intent (Lol)- dan ironisnya, kini jadi bumerang bagi siapa pun yang memimpin negeri ini. Meski 1967-1998, Indonesia telah menelan resep-resep yang ditawarkan IMF dan terbukti "gagal tinggal landas", anehnya arsitek (ekonomi) dibalik Soharto meminta lagi obat IMF. Padahal tak ada satu negara berkembang (seperti di Amerika Latin dan Ekuador) berhasil meningkatkan kesejahteraannya setelah mengikuti “model Konsensus Washington”.

Sebaliknya negara-negara yang menyimpang (seperti Jepang, Taiwan, Malaysia dan China), justru bisa berhasil memperbesar kekuatan ekonomi. Tak pelak lantaran resep IMF itu tak manjur, ujungnya Soeharto jatuh. Tapuk pimpinan beralih ke pundak Habibie, yang ironisnya mewarisi negeri yang bangrut, utang di ambang batas 100 miliar dolar AS karena menjelang Soeharto jatuh negeri ini menanggung utang -Maret 1998- sekitar 137,424 miliar dolar AS. Habibie, jadi korban pertama. Setiap tahun setelah itu, terpaksa harus "menganggarkan" seratus triliun lebih untuk cicilan utang dalam dan luar luar negeri ditambah bunganya.

Seperti Soeharto, Habibie pun bangga dengan dana pinjaman IMF dan tak punya pilihan lain lantaran jalan yang ditempuh sudah ditentukan IMF lewat 50 poin kesepakatan yang telah ditandatangani Soeharto. Jika pun ada yang patut dicatat dari kelebihan Habibie, maka itu terkait tuntutan dari arus bawah dan kaum reformis lewat program redistribusi aset di tangan Tanri Abeng, dan juga rajutan ekonomi kerakyatan yang dinahkodai Adi Sasono.

Tapi ironisnya, dua kelebihan Habibie itu diruntuhkan Gus Dur. Memang terpilihnya Gus Dur, semula diramalkan akan jadi “obat mujarab". Apalagi, Gus Dur berani membuka poros Jakarta-Peking dan menggertak Amerika. Tapi gebrakan Gus Dur ternyata mengundang •badai dan tekanan dari dunia luar. Gus Dur jatuh. Tapi Gus Dur telah membuktikan bahwa Indonesia bisa diurus tanpa bantuan IMF.

Megawati yang menggantikan Gus Dur, sayangnya melunak. Tak pelak jika Indonesia tak kunjung sembuh justru semakin kambuh. Mega kembali meminta obat generik (pinjaman) IMF dengan konsekuensi menjual aset-aset negara. Indonesia pun secara pelan tapi pasti, telah terpuruk lewat pintu krisis yang diarahkan jadi pasar menuju liberalisasi ekonomi tanpa batas. Kini "kehancuran negeri" ini jatuh di pundak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Tetapi pemerintah sekarang rupanya belumkapok berhutang dan tak kreatif membuat terobosan-terobosan baru untuk mengatasi krisis dan masih memakai paradigma lama dalam mengelola negeri ini.
.-
Padahal, menurut Ishak Rafick, kalau negeri ini masih dikelola dengan paradigma lama dengan "menyerahkan masa depan" bangsa ini kepada trinitas IMF (International Monetery Fund), World Trade Organization (WTO), dan Wordl Bank (Bank Dunia), bukan saja merupakan langkah tak bijak tapi juga membahayakan.

Lalu, "langkah apa" yang harus diambil oleh pemerintah sekarang untuk merintis jalan baru dalam membangun Indonesia? Eshak Rafick, tak ingin dikata kurang bijak jika sekadar mengevaluasi catatan hitam lima presiden Indonesia. Maka, ia pun menawarkan gagasan baru untuk membangun Indonesia di masa depan.

Pertama, pemerintah Indonesia harus berani meniru langkah yang pemah diambil oleh Pakistan, Nigeria, dan Argentina untuk meringankan utang. Kedua, menguatkan otot rupiah terhadap dollar/valuta asing. Ketiga, berani mengajukan penghapusan utang 30 persen utang luar negeri yang najis (pemah dikorup) dan menyatakan obligasi rekap tak berlaku. Ketiga pilihan itu, menurutnya, adalah jalan pintas yang paling rasional guna membangun negara Indonesia. Bila tidak—segala upaya yang sedang berjalan (termasuk pemberantasan korupsi) tak akan berarti (halaman 33-40). (N Mursidi-35)


Thursday, November 08, 2007

Metafor Kebutaan dalam Konflik Kelas Sosial

Judul :Kebutaan (Blindness)
Penulis :Jose Saramago
Penerjemah :Arif B Prasetyo
Penerbit :Ufuk

Cetakan : Pertama, Maret 2007
Tebal :447 halaman


"Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang perubahan sosial"
(Suara Merdeka)


Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya.


NOVEL ini bertutur tentang kebutaan massal yang melanda penduduk kota tak bernama. Satu per satu penduduk kota teridap kebutaan dengan cara yang sungguh tak bisa diterima hukum medis.

Seseorang akan demikian menjadi buta setelah kontak pandang satu sama lain. Dokter yang menangani pasien buta, lelaki yang menolong lelaki pertama yang buta, pasien yang antri di tempat praktik dokter, dan tetangga yang tak sengaja menatap si pasien buta tiba-tiba menjadi buta. Pejabat pemerintah setempat cemas dan untuk mengatasi krisis kepercayaan masyarakat, mereka yang teridap kebutaan dimasukkan paksa ke bekas gedung rumah sakit jiwa. Hanya satu yang terbebas dari kebutaan dalam cerita tersebut sekalipun di akhir cerita akhimya ia pun buta: isteri lelaki yang pertama kali buta mendadak.

Di dalam bekas gedung rumah sakit jiwa ini pembaca akan mengetahui bagaimana sebuah ekperimentasi mengenai manusia dalam membentuk sistem sosial terlihat. Tokoh-tokoh yang mengidap kebutaan tersebut dipaksa oleh peraturan yang membuat mereka harus memperlakukan dirinya secara sangat hati-hati. Jika tidak mereka bukan hanya terancam kematian yang disebabkan oleh kebutaan mereka sendiri, tetapi lebih dan itu, terdapat sistem yang lebih efektif dalam membinasakan mere­ka selama di dalam tembok rumah sakit jiwa. Konsekuensinya, satu sisi mereka harus mengatasi kebutaan yang mereka idap, pada sisi lainnya mereka mesti mengantisipasi sis­tem yang ditetapkan pejabat negara yang dengan sistemnya tersebut menghendaki mereka musnah. Mereka tidak ditolong dari kebutaan, tetapi justru dipaksa sedemikian rupa untuk mati pelan-pelan. Hidup-Mati.

Dalam tegangan antara bertahan hidup di tengah kebutaan yang menimpa dan aturan yang memaksa dalam lingkungan rumah sakit jiwa, dapat diketahui bagaimana tokoh-tokoh mempertahankan diri. Tokoh-tokoh buta tersebut secara paksa mesti mengorganisakan dirinya untuk menghadapi kelompok lain dalam bangunan rumah sakit jiwa agar jatah makannya tidak disabotase.

Digambarkan ada ratusan penghuni gedung bekas rumah sakit jiwa tersebut dan terbagi-bagi dalam berbagai kelompok. Namun ada satu kelompok berandalan yang dengan caranya ingin mengusai kelompok lain, diantaranya kepada kelompok lelaki yang pertama kali teridap virus kebutaan. Di antaranya anggota perempuan dengan sadar rela dijadikan pemuas nafsu sebagai syarat yang diajukan para kelompok buta berandaian. Anggota perempuan buta ini pada awalnya menyepakati persyaratan itu untuk bertahan hidup meski kemudian memberontak dengan membunuh pimpinannya.

Dari peristiwa tersebut kita dapat membayangkan bagaimana kelompok yang perta­ma kena virus kebutaan ini mengorganisasikan dirinya dari kebutaan agar mereka sebagai satu kelompok sosiai bisa padu, satu suara, dan bertindak demi kelangsungan hidupnya. Satu hal yang paling nyata dalam hal ini adalah, bagaimana seseorang yang terbiasa menggunakan matanya hams mengalami kebutaan dan dalam kebutaan tersebut harus mengorganisasikan dirinya agar bisa bertahan dari serangan dari kelompok lain dan yang utama dari pemilik otoritas, negara. Di sini jelas kata . kuncinya: membentuk dan menguatkan kelas sosiai adalah sesuatu yang mutlak.

Karena itulah, pembaca novel ini tidak akan menemukan sosok tokoh yang berdiri sendiri dengan perwatakan yang cukup kuat. Tokoh-tokoh dalam novel ini tak lain dari bagian sebuah unit-unit sosiai yang saling mendukung demi terbangunnya sebuah kelas sosiai yang kuat. Kekuatan kelas sosiai ini mengandalkan individu pendukung memperoleh kompensasi berupakeselamatan yangberupa jatah makanan maupun jaminan keselamatan dari serangan kelompok lain.

Pelacur

Pembaca novel ini memang akan mendapatkan tokoh semacam bekas pelacur bukan dalam perwatakannya sebagaimana pembaca kenal dalam kehidupan keseharian, tetapi mendapati pelacur hanya sebuah peran yang tidak ada bedanya dengan peran sosiai lainnya. Sebab bukan pelacur yang secara sosiai dipahami sampah masyarakat tetapi pelacur hanya sebagai sebutan.

Dalam konteks kebutaan yang melanda tersebut, peran sosiai semacam dokter, istri dokter, pengarang, sopir, anak kecil, lenyap. Mereka disatukan oleh wabah kebu­taan dan di sinilah sebuah eksprimentasi sosial dibawa kembali ke dasar-dasamya : berbeda dengan hewan yang secara alamiah diberi organ-organ untuk bertahan hidup, manusia yang tak diberi organ-organ semacam hewan memiliki kemampuan untuk membuat sistem sosiai untuk bertahan.

Namun novel ini tidak hanya ingin mengajak pembaca mengais pemikiran yang sudah kiasik ini. Novel ini ingin menghunjam ke hal yang paling dasar dalam kaitannya dengan pembentukan kelas sosiai dan konflik-konflik yang menyertainya. Kebutaan dalam novel ini tak lebih dari sebuah metafor untuk menyatakan adanya sebuah kelas sosiai tertentu. Peran dokter, pelacur, istri dokter, pengarang, anak kecil, tak lebih dari bungkusan yang sesungguhnya akan lenyap ketika mereka dalam kondisi teroojok oleh kebutaan, mengalami konflik dengan kelompok lain, dan terutama ketika mereka menghadapi sebuah kelas yang lebih berkuasa, Negara.

Dalam pertarungan ini kelompok yang per­tama terkena virus kebutaan dipaksa untuk bisa mempertahankan kelompoknya jikalau mereka ingin bertahan hidup. Negara bersama aparatusnya sebagai otoritas resmi tidak lebih dari sebuah kelas lain yang akan bersikap ekstrem jika kasus sosiai yang ada dalam wilayahnya membahayakan sendi-sendi kuasanya.

Virus kebutaan yang dengan cepat melanda masyarakat dan tidak bisa ditanggulangi secara medis memerlukan tindakan yang ekstrem untuk menyelamatkan kelanggengan kuasanya. Satu hal yang akhimya dilakukan: melokalisir dan pertahan-lahan memusnahkannya. Pandangan semacam ini memang mengundang kembali pemikiran Marx tentang pertentangan kelas sebagai satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan kelompok tertin-das keluar dari ketertindasannya. Konflik antarkelas dan sesama kelas sebagai sesuatu yang sifatnya tak terelakkan dan disanalah harapan secara revolusioner terbentuk.

Saramago menggunakan metafor kebutaan sebagai jalan masuk bagi semua kelas sosial dan menusuk di jantung kesadarannya tentang penjubahan sosial. Ini juga cara yang ditempuh George Orwell dalam Animal Farm dengan metafor binatang atau Franz Katka dalam Metamorphose tentang sosok menyerupai serangga.

Selamat membaca!

(Imam Muhtarom-35)
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes