Showing posts with label Alan Greenspan. Show all posts
Showing posts with label Alan Greenspan. Show all posts

Friday, October 31, 2008


BELAJAR DARI MAESTRO “THE FED”


Saya jadi ingat buku berjudul Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia. Dari buku itu saya jadi sangat paham bahwa krisis keuangan di Amerika bukan sebuah kecelakaan, melainkan berulang dan terjadi dalam periode tertentu. Artinya, krisis itu sejatinya dapat diprediksi dan dapat dihindari.
(Yayat R Cipasang, Media Indonesia, 25-Oktober-2008)

Alan Greenspan mengaku mempunyai andil dalam kekacauan ekonomi yang terjadi saat ini di AS. Para pengambil kebijakan di pemerintahan, pelaku ekonomi, pengamat ekonomi, dan siapa saja bisa belajar dari kelebihan dan kesalahan seorang Greenspan.

Dalam pengamatan saya, hampir satu bulan ini, pemberitaan media baik lokal maupun asing didominasi krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat. Koran, televisi, beberapa radio lokal, serta portal berita mengupas dari berbagai sisi dampak krisis di Amerika tersebut kepada negara-negara lain.

Negara-negara Eropa pun, yang relatif setara dengan Amerika, sangat merasakan dampaknya. Itu lantaran lembaga keuangan atau korporasi di Eropa juga memiliki jejaring dengan lembaga keuangan di 'Negeri Paman Sam' yang kolaps.

Imbas di Indonesia sudah mulai terasa dengan ditutupnya transaksi di Bursa Efek Jakarta (BEJ), sejak Rabu (8/10). Perdagangan anjlok hingga di bawah 10%. Presiden Susilo Bambang Yudhyono pun sampai harus meminta informasi mutakhir dari lembaga-lembaga terkait seperti Kadin, Bank Indonesia, BEI, dan Kantor Menteri BUMN.

Sebuah koran nasional dalam edisi Minggu (5/10) menulis artikel panjang mengenai krisis keuangan global itu dengan judul Runtuhnya Reputasi Bank Sentral AS. Dalam tulisan itu disebutkan Bank Sentral AS (The Federal Reserves atau The Fed) memberikan sumbangsih yang tidak sedikit atas kehancuran ekonomi dengan dipuncaki keruntuhan Lehman Brothers, lembaga keuangan terbesar keempat di Amerika.

Bank Sentral dianggap bersalah karena memberikan pinjaman langsung kepada lembaga-lembaga korporasi AS tanpa jaminan yang setimpal. Parahnya lagi, Bank Sentral memberikan bantuan kepada Lehman Brothers kendati lembaga keuangan tersebut sudah jelas-jelas insolvent (tidak mampu memenuhi kewajiban). Indikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) seperti di Indonesia pun disebut-sebut sangat menonjol dalam krisis keuangan ini.

Setelah membaca artikel tersebut saya jadi ingat buku berjudul Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia. Dari buku itu saya jadi sangat paham bahwa krisis keuangan di Amerika bukan sebuah kecelakaan, melainkan berulang dan terjadi dalam periode tertentu. Artinya, krisis itu sejatinya dapat diprediksi dan dapat dihindari.

Dengan beranjak dari buku itu, saya pun membayangkan bila Greenspan' masih menjabat Ketua The Fed. Sanggupkah dia menghadang krisis yang kini terjadi di Amerika yang disetarakan dengan Black Thursday pada 1929 akibat spekulasi di pasar modal ketika menyusul industri penyiaran radio dan produksi mobil mulai tumbuh?

Siapa Greenspan sehingga periode dengan George Wall Bush atau sejak 1987 hingga 20 Seperti ditulis dalam memoar Alan Greenspan: The Age of Tubelence, dua bulan setelah diangkat jadi Ketua The Fed pada 19 AS diancam krisis ekonomi karena peristiwa Black Monday. Dia dengan tenang menyuntikkan kredit kepada berbagai instansi keuangan AS sehingga krisis tidak merembet ke dunia lain, Greenspan juga dibilang bisa menangkal krisis keuangan akibat bisnis internet dotcom, gelembung pasar saham 2000, resesi akhir 2000 dan 2002 termasuk peristiwa perselingkuhan Presiden Bill Clinton dengan Mori ca Lewinsky, dan serangan teroris 11 September 2001.

Analisis kebijakan moneten kerap ditunggu pers dan pas Dari situlah lahir joke di kalangan pasar dunia: suara batuk Greenspan pun bisa memengaruhi gejolak ekonomi dunia. Pada saat Asia dilanda krisis ekonomi (1998), pria kelahiran 6 Maret 1926 itu mendulang kontroversi termasuk yang mendesak parlemen AS untuk mengabulkan permintaan pemerintahan Clinton untuk melakukan penambalan duit ke Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai pinjam termasuk untuk Indonesia.

Beberapa kali ia mendapati maki dari pengamat ekonomi serta pers dan bahkan tuding termasuk dari George Bush. Dalam wawancara dengan sebuah televisi, mantan Presiden Bush menuding kebijakan Greenspan menjadi penyebab kekalahan dalam pemilihan presiden untuk periode kedua jabatannya pada 1992. Meski versi Inggris buku setebal 310 halaman ini muncul pada 2000 dan baru diterjemahkan di Indonesia pada 2008, isinya tetap aktual dengan kondisi perekonomian Amerika yang terguncang dan merembet hingga ke Indonesia ini. Intrik, kecurangan, intervensi, saling menyalahkan dan ketakutan dengan gamblang dipaparkan.

Para pengambil kebijakan di pemerintahan, pelaku ekonomi, pengamat ekonomi, dan siapa saja bisa belajar dari seorang Greenspan. Ia memang sempat ragu, khawatir, dan keliru dalam mengambil kebijakan. Tapi ia beberapa kali selalu menekankan bahwa menjaga kepala tetap dingin adalah sangat penting.


Friday, June 06, 2008


SANG MAESTRO KEBIJAKAN MONETER AS

Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.
(Syamsul Arifin, Indo Pos, Mei 2008)


Herbert Greenspan menulis, "Barangkali ini adalah upaya awal Ayah untuk membuatmu dapat mengembangkari diri secara optimal sebagaimana upaya yang pernah Ayah lakukan. Pada saat kamu dewasa, segala upaya tersebut diharapkan akan menjadi pembelajaran dan kamu dapat menafsirkan alasan di balik suatu perkiraan yang logis. Dan dengan cara itu kamu dapat menyukai pekerjaanmu sendiri. Ayahmu."

Begitulah pesan yang dibubuhkan Herbert dalam Recovery Ahead (1935) untuk Alan Greenspan, sang anak yang nantinya mengarsiteki kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) pada 1987-2006. Sepucuk pesan yang amat intim ini tak mungkin dimengerti Alan —yang saat itu baru berusia delapan tahun. Namun, puluhan tahun selepasnya, pesan itu menjadi "obat mujarab" —lantaran memberikan ide bagi setiap permasalahan yang ia hadapi.

Herbert adalah penganut mazhab ekonomi Keynesian, yang salah satunya meyakini bahwa belanja pemerintah dapat merangsang pemulihan perekonomian. Warisan sang ayah ini sempat menjadi "batu bata" pertama cara pandang ekonominya. Belakangan ia bergeser menjadi penganut paham/ filosofi Ayn Rand.

Meski begitu, ia menangkis teori Rand bahwa eksistensinya sendiri di luar dugaan tidak dapat dibuktikan. Menurut Alan, kepastian absolut tidak mungkin. Dan, yang dapat dihitung adalah derajat kemungkinan. Alan berpendirian demikian lantaran ia ahli matematika dengan IQ tinggi. Baginya, tak ada satu pun yang dapat diketahui secara rasional dengan kepastian yang total. Di atas segalanya, Alan juga penganjur kapitalis laissezfaire.

Sebagai ekonom, Alan terbilang lengkap. Kariernya bermula dari analis industri baja di National Industrial Conference Board, penasihat kebijakan ekonomi Richard Nixon sejak masih kandidat presiden dari Partai Republik hingga memerintah AS (1969-1974).

Lalu ketua penasihat Presiden Gerald Ford (1974). Fordlah yang dipuji Alan sebagai orang yang paling berani dan paling benar tatkala ia tidak campur tangan dalam urusan pasar bebas selama masa resesi 1974-1975. Bahkan ketika hal itu berisiko pada masa depan politik Ford.

Pada 1980, ia merancang pidato ekonomi kandidat Presiden Ronald Reagen, lalu kepala dari bipartisan Komisi Nasional untuk Reformasi Keamanan Sosial (1983).

Pengalaman panjang inilah yang mengajari Alan menjadi salah satu ketua Dewan The Fed paling berhasil. Saat baru 72 hari memimpin The Fed misalnya, ia hampir "diruntuhkan" Black Monday (19 Oktober 1987), saat pasar saham menurun lebih dari 20 persen dalam sehari. Akibatnya, 1 triliun dolar AS pun musnah seketika dan publik terguncang. Menghadapi itu Alan tetap bersikap tenang, namun berwibawa. Seperti tertera pada buku Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia ini.

Alan berujar, "The Federal Reserve konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai bank sentral dan hari ini menegaskan kesiapannya untuk bertindak sebagai sumber likuiditas guna mendukung sistem ekonomi dan keuangan." Itu berarti The Fed akan melepas banyak uang di pasar untuk meyakinkan publik bahwa mereka bisa mendapatkan uang dalam bentuk likuiditas atau kredit. Setengah jam setelah itu, Indeks Pasar Utama berada pada posisi paling tinggi dalam sejarah Amerika (him. 14-29). Alan juga mengeluarkan Amerika dari krisis seperti saat meledaknya bisnis dotcom, gelombang pasar saham (Maret 2000), resesi akhir 2000 dan 2002.

Alan tak berjarak dengan partai politik, termasuk dengan para kandidat presiden. Namun demikian, ia bisa menempatkan lembaga yang dipimpinnya secara proporsional dan independen. la mendukung George Bush pada Pemilu 1992. Meski begitu, sebagai ketua The Fed ia tak terlibat dalam politik. Pemerintahan Bush menghendaki agar The Fed menurunkan suku bunga sebesar satu persen dengan alasan agar resesi ekonomi dapat dicegah. Tapi Alan bergeming. la baru menurunkan suku bunga ketika mendapati fakta bahwa tingkat pengangguran di Amerika naik 7,8 persen pada 2 Juli 1992. Itu pun The Fed menurunkan setengah persentase bukan satu persen seperti diminta Pemerintahan Bush yang perlu dukungan bank sentral agar kinerja ekonominya tak menggagalkan pencalonannya kembali menjadi presiden. Alan menurunkan kembali suku bunga sebesar seperempat per¬sen sehingga kini tinggal 3 persen pada 4 September atau tiga bulan jelang pilpres.

Sebagai pejuang super inflasi, Alan tak sembarangan menurunkan suku bunga. la akan mempertaruhkan berapa pun biayanya, termasuk pemilihan kembali Bush (him. 87-94). Dengan cara itu Alan tak tersandera kepentingan politik partisan. Setiap presiden Amerika, dari Reagen, Bush senior, Clinton hingga Bush junior selalu mempercayainya. Begitu pula Clintor yang menumbangkan Bush seni pada 1992. Selama menjabat The Fed, Alan tak pernah berkomentar bahwa inflasi dan pengangguran sangat mempengaruhi tingkat suku bunga. Alan berupaya memberi kepercayaan pasar terhadap mata uang dolar AS sebagai senjata untuk memerangi inflasi. Dan ia selalu "pelit" dalam menurunkan tingkat suku bunga, karena ingin betul membuat pasar obligasi tidak panik dan terhindar dari resesi ekonomi.

Analisisnya yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu seluruh pihak. Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.

Sekarang, jumlah orang miskin dan pengangguran bakal bertambah. Itu berarti Bank Indonesia harus meresponsnya secara memadai dengan mengutak-atik tingkat suku bunga yang kini berada di posisi 8,25 persen. Boediono sebagai nakhoda seyogyanya piawai membaca keadaan dan merumuskan ke¬bijakan moneter secara akurat. (*)


M. Samsul Arifin
Salah satu penulis "Perempuan Punya Pilihan!".




Monday, May 12, 2008


B U K U BAKU

ALAN GREENSPAN;SANG MAESTRO

Meski karya terjemahannya baru muncul tahun 2008, publikasi ini tetap menarik untuk disimak. Sepak terjang mantan Ketua Penasihat Dewan Ekonomi Presiden Nixon sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed hingga tahun 2000 dipaparkan secara rinci.
(Ari, Litbang Kompas, 11 Mei 2008)


* Judul: Alan Greenspan: Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia
* Judul asli: Maestro: Greenspan's Fed and the American Boom
* Penulis: Bob Woodward
* Penerbit: Ufuk Press
* Cetakan: I, Maret 2008
* Tebal: xii+310 halaman

Banyak predikat yang disandang Alan Greenspan, mantan pimpinan The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS). Ada yang menyebut sebagai ikon, maestro, dan dewa ekonomi AS, bahkan dunia. Pemberian sebutan dari berbagai kalangan, khususnya para pelaku pasar ekonomi, ini tidak dapat dipisahkan dari sepak terjang Alan Greenspan, seperti yang terekam dalam buku karya Bob Woodward, jurnalis kawakan The Washington Post, tahun 2000.

Meski karya terjemahannya baru muncul tahun 2008, publikasi ini tetap menarik untuk disimak. Sepak terjang mantan Ketua Penasihat Dewan Ekonomi Presiden Nixon sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed hingga tahun 2000 dipaparkan secara rinci.

Masih banyak catatan keberhasilan tokoh moneter dan finansial ulung yang mengakhiri jabatannya pada tahun 2006 ini. Namun, toh dari sepenggal kisahnya (1987-2000) dalam mengendalikan ekonomi negeri Paman Sam tampak jelas sosok seorang Alan Greenspan yang menyandang julukan Sang Maestro itu.

• (ARI/LITBANG KOMPAS)


Wednesday, April 23, 2008


Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak(www.lemaribuku.com)



Alan Greenspan kali pertama ditunjuk sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, atau Federal Reserve (The Fed) pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter, Greenspan mempertahankan jabatan ketua Bank Sentral AS hingga empat kali periode, tanpa terpengaruh presiden AS yang terus berganti.

Catatan prestasi Greenspan yang menonjol antara lain keberhasilannya menangani krisis pasar saham Black Monday, meledaknya bisnis internet dot.com, gelembung pasar saham bulan Maret 2000, dan resesi akhir tahun 2000, tahun 2002, dan peristiwa-peristiwa pasar terkini.

Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Hingga ada joke di kalangan pasar dunia, suara batuk Greenspan saja bisa memengaruhi gejolak ekonomi dunia.

Sejak Greenspan menjabat ketua Bank Sentral AS, setiap pengumumannya selalu diliput media cetak dan elektronik. Bahkan stasiun televisi menyiarkan langsung detik-detik pengumuman kebijakannya—persis seperti peluncuran pesawat antariksa, di layar televisi terlihat hitungan mundur jam, detik demi detik, hingga tiba saatnya pengumumannya.

Buku ini mengupas tuntas liku-liku dan sepak terjang Alan Greenspan menjadi ketua Bank Sentral AS. Bagaimana konflik dan intrik pembuatan keputusan Bank Sentral AS? Bagaimana pemikiran Greenspan? Syahdan, sebagai bangsa yang bijak, seharusnya para ekonom Indonesia bisa belajar banyak dari sosok Alan Greenspan dalam mengeluarkan kita dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.

***

“Jika Anda ingin tahu siapa salah seorang yang membuat ekonomi dunia berguncang, baca buku ini.”
—The New York Times

“Greenspan bak maestro di sebuah
pertunjukan orkestra…piawai dan tepat.”
—The Washington Post

Monday, April 14, 2008


BOOK


ALAN MENGGOYANG PASAR LEWAT PERS

Bagian menarik lain, pembaca akan menemukan bahwa Alan sesungguhnya berhasil menggoyang pasar lewat bantuan pers(Majalah Marketing, April 2008)

Dalam terminologi demokrasi, kata orang bijak, "Suara rakyat adalah suara Tuhan!" Tapi di tangan Alan Greenspan, teori ini tak berlaku. la berpikir sah-sah saja menggoyang pasar dunia tanpa memperhatikan suara pelaku bisnis.

Mengikuti "Alan Greenspan Sosok Di Balik Gejolak Ekonomi Dunia" karya Bob Woodward, pembaca bakal diajak jalan-jalan menempuh ribuan kilo perjalanan karier Alan Greenspan. Alan, tokoh sentral dalam buku ini, merupakan gubernur Bl-nya Amerika. Selama lima periode, ia menempati posisi Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat yang dikenal dengan sebutan The Fed. Fungsi The Fed antara lain menaikkan dan menurunkan suku bunga dengan mengurangi dan menambah persediaan uang dalam ekonomi. The Fed melakukannya dengan membeli atau menjual obligasi pemerintah di operasi pasar terbuka.

Tulisan Bob, sekalipun dibaca 20. tahun lagi, tetap renyah dikunyah. Persoalan-persoalan ekonomi yang kerap bikin kening berkerut, disampaikan Bob dengan bahasa yang mudah dicerna, sekalipun dalam terjemahan bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang salah ketik.

Mengenai sang tokoh, Bob mengatakan, Alan layak disebut maestro karena ia seperti memimpin orkestra tetapi tidak memainkan satu instrument pun. Ia menentukan suatu kondisi agar pemain bermain dengan baik, jika mereka ingin bermain dengan baik, dan jika mereka mampu. "Pendekatan Alan sering tidak kentara, tidak jelas, bagaikan konduktor suatu orkestra yang mengayunkan tongkat dan bermuka ganas. la lebih suka membiarkan orkestra, pelaku ekonomi, menentukan tempo permainan sendiri."

Banyak hal menarik. Bob menceritakan tokoh Alan dengan narasi yang kuat. la menggunakan gaya bertutur bernuansa fiksi, membuat pembaca seakan berhadapan langsung dengan Alan. Tengok bagian 1, buku ini dibuka dengan kalimat, "Selasa pagi, 18 Agustus 1987, Greenspan berjalan melalui pintu kantor pribadinya dan masuk ke ruangan konferensi berukuran sangat besar, yang letaknya berdampingan dengan kantor pusat The Federal Reserve yang penuh marmer,.... la telah menduduki jabatan sebagai ketua The Fed selama kurang dari satu minggu. Di dalam ruangan pertemuan, ia duduk bersama dengan para anggota dari Komite Pasar Terbuka Federal,..."

Bagian menarik lain, pembaca akan menemukan bahwa Alan sesungguhnya berhasil menggoyang pasar lewat bantuan pers. Caranya, ia melancarkan kebijakan-kebijakan lewat pers untuk membentuk opini publik dan lewat pers pula ia memantau gerak pasar sebelum mengambil keputusan. Kesimpulan ini diperkuat oleh Bob. Lihat halaman 44, pada akhir alinea kedua disebutkan: "Ia belajar bahwa berita buruk bisa menjadi penting dan bermanfaat seperti berita baik, asal berita buruk tersebut memang akurat."

Fakta lain, sepanjang menjabat Ketua Bank Sentral AS, Alan disebut rajin mendengarkan berita BBC. Bahkan, membaca bagi Alan lebih efisien. Alan selalu membaca koran dan majalah khusus, seperti Aviation Week. la tidak terlalu banyak membuat jadwal. Sisa waktunya digunakan untuk belajar dan membaca.

Alan adalah makhluk pelahap informasi. Baginya, percakapan telepon pribadi atau makan bersama merupakan sumber informasi yang penting. Minggu, 13 Agustus 1989 ketika mengamati kondisi ekonomi di musim semi misalnya, Alan bersantai di rumah Senator John Heinz di Pulau Nantucket, dekat Massachusetts. Alan menyempatkan diri melihat talk show pagi di televisi. Richard G. Darman, direktur anggaran presiden Bush yang belakangan dijuluki Newsweek sebagai orang paling intelek dan politikus cerdas di pemerintahan, tampil di acara Meet The Perss televisi NEC. Alan mengikuti lewat media massa.

Peristiwa lain, Jumat, 13 Oktober 1989. Indeks Dow Jones anjlok 190 poin, hampir 7 persen, terbesar sejak krisis 1987. Johnson, wakil ketua The Fed, meminta Alan untuk menyetujui agar diketahui umum bahwa The Fed akan menvediakan likuidasi untuk mengantisipasi gejolak pasar hari Senin.

Johnson duduk dalam komite manajemen krisis di The Fed. Karena Alan cenderung menunggu perkembangan, ia mengambil tindakan membocorkan ke New York Times dan Washington Post bahwa The Fed siap memasok likuiditas. Koran yang beredar sebelum pasar dunia dibuka, memuat artikel di halaman depan mengutip pejabat The Fed yang tak mau disebutkan namanya. Washington Post memuat berita utama bcrjudul "The Fed Siap Memasok Uang Tunai Untuk Menangkan Kepanikan Pasar" dan New York Times memuat, "Federal Reserve Memasak Uang Tunai Ke Pasar". Apa yang dilakukannya ternyata salah. Alan memperbaiki keadaan lewat bantuan pemegang kekuasaan keempat, yakni: pers!

Strategi Alan boleh juga diadopsi oleh pebisnis network marketing. Sebab, siapa menguasai informasi, ia bisa menggoyang pasar. (yps)*












Monday, March 31, 2008

ALAN GREENSPAN

Penerbit: Ufuk Press
Penulis: Bob Woodward

Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Hingga ada joke di kalangan pasar dunia, suara batuk Greenspan saja bisa memengaruhi gejolak ekonomi dunia.
(Bandung Advertiser, Maret 2008)


Alan Greenspan kali pertama ditunjuk sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Sentral AS, atau Federal Reserve (The Fed) pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter, Greenspan mempertahankan jabatan ketua Bank Sentral AS hingga empat kali periode, tanpa terpengaruh presiden AS yang terus berganti.

Catatan prestasi Greenspan yang menonjol antara lain keberhasilannya menangani krisis pasar saham Black Monday, meledaknya bisnis internet dot.com, gelembung pasar saham bulan Maret 2000, dan resesi akhir tahun 2000, tahun 2002, dan peristiwa-peristiwa pasar terkini.

Analisis yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Hingga ada joke di kalangan pasar dunia, suara batuk Greenspan saja bisa memengaruhi gejolak ekonomi dunia.

Sejak Greenspan menjabat ketua Bank Sentral AS, setiap pengumumannya selalu diliput media cetak dan elektronik. Bahkan stasiun televisi menyiarkan langsung detik-detik pengumuman kebijakannya—persis seperti peluncuran pesawat antariksa, di layar televisi terlihat hitungan mundur jam, detik demi detik, hingga tiba saatnya pengumumannya.

Buku ini mengupas tuntas liku-liku dan sepak terjang Alan Greenspan menjadi ketua Bank Sentral AS. Bagaimana konflik dan intrik pembuatan keputusan Bank Sentral AS? Bagaimana pemikiran Greenspan ? Syahdan, sebagai bangsa yang bijak, seharusnya para ekonom Indonesia bisa belajar banyak dari sosok Alan Greenspan dalam mengeluarkan kita dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.

Tuesday, March 25, 2008


DIBALIK SOSOK SANG MAESTRO YANG MEMIMPIN 5 PERIODE

Greenspan meyakini bahwa inflasi adalah musuh terbesar dalam perekonomian sehingga harus diperangi (Iskandar Simorangkir, Seputar Indonesia, Maret 2008)



Alan Greenspan patut dinobatkan sebagai tokoh sentral perekonomian dunia. Sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve Bank AS) yang paling berhasil dalam sejarah AS, Greenspan secara jeli, tajam, dan akurat melaksanakan kebijakan moneter. Karena itu, tidak mengherankan setiap tindakan dan langkahnya ditunggu-tunggu semua pihak baik di AS ataupun seluruh dunia

Berkat ketajaman dan keakuratannya dalam mengelola kebijakan moneter, dia menduduki jabatan hingga lima periode,dar imasa pemerintahan Ronald Reagan hingga George W Bush. Dia tidak takut kehilangan jabatan dalam rangka mempertahankan kebijakan moneter yang menurutnya benar. Keteguhan hati tersebut ternyata mem-berikan hasil yang positif bagi kemaslahatan rakyat sehingga presiden yang tadinya menentang keras kebijakannya, berbalik mengakui eksistensinya. Catalan prestasi Alan yang menonjol antara lain keberhasilannya dalam mengatasi krisis pasar saham Black Monday di awal kepemimpinannya pada 1987, resesi akhir 2000 dan 2002, serta gejolak-ge j olak pasar keuangan.

Itulah beberapa penggalan cerita yang dituangkan dalam buku MAESTRO: Greenspan's Fed and The American Boom dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Alan Greenspan, Maestro Gubernur Bank Sentral Amerika: Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia. Buku ini mengupas secara lugas liku-liku dan sepak terjang Greenspan sebagai Gubernur Bank Sentral AS dari tahun 1987 hingga pengujung 2000.

Konflik dan intrik pembuat putusan di Bank Sentral AS diuraikan secara terbuka dan lugas. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dalam buku ini, tidak saja bermanf aat bagi bank sentral, tetapi juga bagi pemerintah, pelaku bisnis, dunia akademis, dan masyarakat umum.

Anti-lnflasi

Greenspan meyakini bahwa inflasi adalah musuh terbesar dalam perekonomian sehingga harus diperangi. Inflasi diperlukan sebagai necessary condition bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Maka itu, tugas bank sentral seharusnya difokuskan menjaga inflasi yang rendah karena setiap godaan bank sentral dalam mendorong pertumbuhan akan dapat memicu inflasi. Keyakinan tersebut tidak hanya diyakini secara teori, tetapi juga dalam praktik.

Pengalaman resesi perekonomian AS disertai inflasi tinggi yang terjadi awal 1970-an telah memorakporandakan perekonomian AS, bahkan juga menyeret perekonomian dunia ke dalam resesi. Ketidakdisiplinan fiskal, peningkatan harga minyak,dan ketidakmampuan memotong peningkatan ekspektasi inflasi pada masa tersebut telah mengakibatkan harga-harga membumbung tinggi. Meroketnya harga-harga tersebut telah meningkatkan risiko usaha dan mengurangi daya beli masyarakat sehingga pada lanjutannya menimbulkan kebangkrutan usaha, dan pada akhirnya meningkatkan pengangguran dan kemiskinan.

Keteguhannya terhadap anti-inflasi tidak pernah tergoyahkan walaupun menghadapi tekanan dari pemerintah. Keinginan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan sesaat, khususnya lagi menjelang pemilu selalu ditentang karena dapat membahayakan perekonomian dalam jangka panjang.

Teguhnya prinsip memelihara inflasi yang rendah tersebut bahkan tidak jarang membuat presiden jengkel dan marah terhadapnya. Ekspresi kejengkelan tersebut pernah diungkapkan Presiden Clinton. Sambil menunggu kedatangan Greenspan dalam pertemuan di Gedung Putih, di depan tim ekonominya, Clinton menyindir sambil meniru gaya Greenspan:

berbicara dengan suara berat dan bermuka muram sambil bersenandung, "Inflasi ! Inflasi! Semua penting. Inflasi merupakan pusat kehidupan. Inflasi! Inflasi!"

Independen Bertanggung Jawab

Greenspan selalu menjunjung amanat independensi yang diberikan kepada Federal Reserve Bank AS. Dia meyakini independensi membuat bank sentral akan dapat bekerja lebih efektif dalam mencapai tujuannya sehingga terlepas dari kepentingan politik sesaat. Walaupun dia pengikut dan dipilih Partai Republik, dia tidak mau tunduk terhadap intervensi yang dilakukan partainya. Intervensi yang dianggapnya membahayakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan selalu ditolak. Prinsipnya, kemakmuran rakyat adalah segala-segalanya, bukan kepentingan partai atau kepentingan sekelompok tertentu. Ini dapat dijadikan pelajaran bagi Bank Indonesia, walaupun harganya sangat mahal, seperti pengunduran diri, bahkan hingga masuk penjara Greenspan tidak gentar kehilangan jabatan dalam rangka mempertahankan kebenaran yang didasarkan fakta-fakta yang kuat. Beberapa fakta tersebut ditunjukkan dalam buku ini, seperti pada masa pemerintahan Bush Senior, Direktur Anggaran dan Menteri keuangan Brady selalu menekan Greenspan untuk menurunkan suku bunga agar Presiden Bush Senior terpilih kembali pada Pe¬milu 1992, tetapi Greenspan tidak pernah goyah pada pendiriannya. Demikian pula ketika Clinton akan mengikuti pencalonan presiden kembali pada 1996, dia tidak gentar menaikkan suku bunga Fed fund, padahal tekanan tidak menaikkan bahkan menurunkan suku bunga sangat besar dari pemerintah dan tim ekonominya.

Independensi juga tidak diartikan sempit oleh Greenspan. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa independensi bagaikan negara dalam negara. Independensi memerlukan interpedensi. Hal tersebut ditunjukkan sikapnya yang tidak jarang menerima masukan dari berbagai pihak untuk mempertajam kebijakan, tetapi tidak untuk mengubah kebijakan. Jika diperlukan, kadang kala Greenspan menginformasikan mengenai rencana kenaikan suku bunga dengan presiden. Namun, pertemuan tersebut lebih banyak dimaksudkan untuk pemahaman mengapa perubahan kebijakan moneter diperlukan terhadap ekonomi.

Selain kaya dengan ilmu pengetahuan, isi buku ini juga kaya dengan pesan moral yang patut dicontoh pejabat di Indonesia. Salah satu prinsip tersebut adalah memegang teguh kebenaran yang didasarkan fakta yang komprehensif. Namun, kebenaran di sini dimaksudkan bukan kebenaran parsial atau kebenaran individual dan kelompok tertentu saja atau kebenaran yang mengangkat rasa nasionalisme sempit, melainkan kebenaran untuk menyejahterakan rakyat banyak. Penanggulangan permasalahan masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran serta meroketnya harga-harga yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dapat becermin dari kebijakan yang didasarkan kebenaran yang diuraikan dalam buku ini. (*)

*)Iskandar Simorangkir, peneliti senior diPPSKBI dan
pengajarPascasarjana UPH


ALAN GREENSPAN;SOSOK DIBALIK GEJOLAK EKONOMI DUNIA

• Penulis: Bob Woodward
• Penerbit: Ufuk Publishing House
• Cetakan: I, Maret 2008

Presiden Amerika Serikat boleh gonta-ganti, tapi belum ada yang bisa menandingi Alan Greenspan di dunia moneter negeri itu. Dalam empat periode kepresidenan, ia menduduki jabatan bergengsi itu berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter (Koran Tempo, 23-Maret-2008)

Presiden Amerika Serikat boleh gonta-ganti, tapi belum ada yang bisa menandingi Alan Greenspan di dunia moneter negeri itu, Dalam empat periode kepresidenan, ia menduduki jabatan bergengsi itu berkat kepiawaian dan keakuratannya dalam membuat kebijakan moneter. Greenspan pertama kali ditunjuk sebagai Ketua Dewan Gubernur Bank Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.

Catalan prestasi Greenspan, antara lain, keberhasilannya menangani krisis pasar Black Monday, merebaknya bisnis Internet dotcom, gelembung pasar saham Maret 2000, serta resesi akhir 2000 dan 2002.

Analisis yang tajam dan akurat membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu-tunggu semua pihak. Sampai ada guyonan, batuk Greenspan saja bisa mempengaruhi gejolak ekonomi dunia.

Buku ini mengupas tuntas sepak terjang Greenspan sebagai ketua bank sentral Amerika lengkap dengan konflik dan intrik pembuatan keputusan bank sentral itu dan bagaimana Greenspan menghadapinya. Di buku ini Greenspan disebut suka ber-debat secara intelek, terobsesi oleh data-data ekonomi, dan mudah tersinggung kepada mereka yang meragukan kekuatan politik. •

UTAMIWIDOWATI

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes