Showing posts with label #Ufuk Press. Show all posts
Showing posts with label #Ufuk Press. Show all posts

Wednesday, July 25, 2012


Mengenang Kepemimpinan Bang Ali


Demam pemilihan Gubernur sedang melanda Jakarta. Hingar bingar pesta demokrasi tersebut tengah memasuki putaran kedua. Ada dua pasangan kandidat yang saat ini tengah mempersiapkan diri untuk memimpin Jakarta; Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli dan Joko Widodo - Basuki Tjahaya Purnama.

Hanya Tuhan yang tahu, siapa diantara dua pasangan tersebut yang akan menjadi pemimpin Jakarta. Namun, semua orang tahu bahwa satu-satunya Gubernur Jakarta yang masih dikenang banyak orang hingga kini adalah Ali Sadikin, yang memimpin Jakarta dari tahun 1966 hingga 1977. Mengapa ?

Buku berjudul Ali Sadikin; Membenahi Jakarta Menjadi kota yang Manusiawi ini, mencoba menelusuri sepak terjang selama Bang Ali, begitu ia biasa dipanggil, selama menjadi Gubernur DKI. Ditulis oleh Ramadhan K.H. seorang sastrawan kenamaan Indonesia yang meraih berbagai penghargaan atas karya-karyanya.

Dilantik Presiden Soekarno pada tanggal 28 April 1966 di Istana Negara, dengan pertimbangan Jakarta, yang saat itu sedang tumbuh pesat disertai dengan seabreg permasalahannya, membutuhkan seorang pemimpin yang koppig, yang keras kepala. Sosok demikian dirasa cocok dengan karakter Ali Sadikin yang berlatar belakang tentara KKO, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. (Halaman 4-8)

Mualilah Bang Ali, memimpin Jakarta. Kota yang semula direncanakan pemerintah Belanda hanya untuk menampung 600 ribu penduduk, pada tahun 1966 telah berpenduduk 3,6 juta jiwa. Kenaikan tersebut lebih banyak disebabkan karena faktor urbanisasi dengan masyarakat kelas bawah yang kurang pendidikan dan keahlian mendominasi.

Jadilah Jakarta menjadi kota yang carut-marut dan kumuh. Sarana kota tidak lagi mampu melayani kebutuhan penduduknya dalam semua sektor. Keadaan fisik kota sangat mengenaskan, sehingga Bang Ali mengambil inisiatif untuk menetapkan Rencana Induk Jakarta, sebuah langkah yang menjadi prioritas utama dalam siasat dasar pemerintahannya. (Halaman 111-114)

Namun, yang paling kontroversial diantara kebijakannya adalah melokalisasi para perempuan pekerja seks Jakarta pada sebuah kawasan penuh rawa bernama Kramat Tunggak. Sebuah kebijakan yang terinspirasi dari industri seks di Bangkok, Thailand. Bang Ali beralasan kebijakan tersebut diambil agar Ibukota tidak terlihat kotor dan jorok.

Melokalisasi berarti mempersempit gerak para pekerja seks tersebut sehingga tidak bertebaran di mana-mana. Strategi ini juga dipilih demi mengatasi dekadensi moral, serta memperkecil korban lain yang terjerumus di dalamnya semaksimal mungkin. Kebijakan ini tentu saja pada awalnya mendapat penolakan keras dari berbagai kalangan, meski akhirnya tetap bisa berjalan setelah terjadi dialog. (Halaman 217-220)

Buku setebal 612 Halaman ini, memotret pengalaman sosok Ali Sadikin selama 11 tahun memimpin Jakarta. Dengan menggunakan kata “saya”, membaca buku ini seolah kita mendengarkan sosok Ali Sadikin berbicara secara langsung. Karya apik ini bukan sekedar untuk mengenang kepemimpinan Bang Ali di Jakarta semata, namun juga memberi gambaran sosok yang tepat untuk memimpin ibukota.

Sebagaimana yang disampaikan dalam pidato perpisahan pada sidang istimewa DPRD DKI Jakarta tanggal 5 Juli 1977, seluruh pengalaman yang dituangkan di dalamnya, diharapkan bermanfaat bagi para penerusnya, serta bagi siapa saja yang peduli dan memiliki kepentingan untuk Jakarta yang lebih baik. (Halaman 580-599)

Selain itu, menjelajahi halaman demi halaman buku ini, akan membawa pembaca pada masa lalu Jakarta sebagai puasat pemerintahan yang ternyata juga pernah menjadi tempat tinggal yang nyaman dan teratur. Dan bukanlah hal yang tidak mungkin, Jakarta akan kembali menjadi kawasan yang lebih baik daripada sekarang, tentu saja jika masyarakat Jakarta dapat memilih pemimpinnya secara tepat dalam pemiihan Gubernur putaran dua yang menanti di depan mata.

Noval Maliki









Wednesday, July 04, 2012


KEAJAIBAN MEMBERI

Memberi menciptakan suatu hubungan simbiosis. Kedua pihak diuntungkan. Si penerima mendapat manfaat dari pemberian Anda, dan Anda pribadi memperoleh manfaat karena sudah menjadi seorang pemberi.

Kadang manfaat langsung bagi orang yang Anda bantu itu mudah dilihat. Di kala lain, manfaat nyata tindakan Anda mungkin terjadi sekian tahun ke depan. Bisa saja pemberian Anda itu membantu orang-orang yang sakit,mendanai sebuah proyek untuk badan amal pilihan Anda, atau menolong seorang anak mempelajari sesuatu yang berharga. Apapun pemberian Anda—waktu, uang, atau upaya—pasti akan berdampak positif.

Di sisi lain persamaan ini adalah manfaat bagi Anda. Manfaat-manfaat itu mungkin kasatmata dan segera, atau mungkin tak kasatmata dan tertunda. Bahkan bisa saja Anda tidak menyadari bahwa itu manfaat. Mungkin Anda mendapatkan pengurangan pajak, atau Anda merasa bangga dengan kemampuan Anda membantu. Barangkali Anda menerima ucapan terima kasih yang tulus. Boleh jadi Anda melihat terpeliharanya sesuatu yang Anda yakini atau perubahan di bidang yang Anda tekuni.

Manfaat dan Paradoks

Apa pun bentuk manfaatmanfaat itu memberi membawa makna bagi hidup Anda. Di saat memberi,Anda berkesempatan untuk menciptakan dampak yang hebat selama dan kerap setelah hidup Anda.Bila Anda memberi tanpa mengharapkan imbalan, Anda meraup lebih banyak lagi manfaat.

Menurut Harvey dan Azim, memberi membawa manfaat di antaranya, hubungan-hubungan baru, rasa aman, pekerjaan (jaringan pertemanan yang erat), kesehatan yang baik, rasa berdaya, bangga dan berhasil, kebahagiaan, kedamaian, serta cinta. Paradoksnya bahwa bila Anda memberi dengan mengharapkan imbalan, Anda tidak akan menerima apa pun. Bila Anda memberi dengan gembira, tanpa memikirkan diri sendiri, dan dengan cinta, Anda akan mendapatkan manfaat besar.
Sikap yang Anda bawa dalam memberi akan mencerminkan manfaat yang Anda peroleh. Orang tua berbagi tempat tinggal, makanan, dan cinta dengan anak-anak mereka semata- mata karena mencintai darah dagingnya mereka, bukan karena mengharap cinta anak-anak itu. Pada akhirnya imbalannya amat sangat besar.

Namun,jika Anda memberikan uang,waktu,atau hal lain dengan harapan mendapatkan imbalan atas investasi itu, Anda menihilkan tujuan memberi.Ini bisa menjadi pelajaran negatif, Anda sudah memberi tetapi tidak merasa lebih baik.Tidak adanya “imbalan emotif” ini dapat menyebabkan Anda tidak lagi mau memberi.

Maka Anda pun merugi seperti mereka yang sebenarnya bisa Anda bantu (halaman 5). Kerugian itu pun akan semakin menumpuk dan terasa menjadi beban. Pasalnya, pengharapan akan imbalan menutupi kedermawanan sebagaimana sifat asli manusia.

Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain menjadi penanda bahwa sebenarnya ia harus saling tolong menolong dengan segala potensi yang ada. Kunci menuju kekuatan memberi adalah memberi sesuai dengan potensi Anda, ungkap pendiri Corporate Sufi Worldwide dan Harvey McKinnon Associates ini (halaman 31).

Mengukuhkan Kemanusiaan

Lebih dari itu,benarlah apa yang dikatakan Harvey dan Azim dalam buku The Power of Giving: Agar Kemakmuran dan Kebahagiaan Selalu Menyertai Anda ini. Semakin Anda memberikan diri, semakin Anda memahami diri sendiri.Pemahaman realitas diri akan semakin mengukuhkan penghargaan atas kemanusiaan manusia. Manusia menjadi makhluk merdeka dan memiliki tanggung jawab atas sesamanya.

Dengan pemahaman yang demikian, memberi merupakan skema “memang sama menang”. Kemenangan atas kemanusiaan yang beradab dan berkeadilan sosial. Sekadar menyebutkan judul, ada beberapa buku yang mirip dengan karya ini. Di antaranya, Why Good Things Happen to Good People karya Stephen Post dan Jill Neimark. Stephen Post dan Jill Neimark menegaskan bahwa memberi merupakan kekuatan paling besar di dunia ini.

Mereka mendasarkan kesimpulan itu dari riset panjang pada jenjang usia muda hingga tua.Mereka pun memberi gambaran secara gamblang bahwa memberi di usia muda akan menghasilkan kesehatan fisik dan mental yang baik hingga masa tua. Demikian dengan pula dengan buku How to Become a Money Magnet besutan Marie-Claire Carlyle.

Marie mengatakan bahwa uang lebih luas ke-bahagiaan pada dasarnya akan mendekati kepada orang-orang yang sejalan antara pikiran dan perasaannya. Mereka memberi tanpa harus mengharap imbalan atas apa yang telah dikeluarkannya.

Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,Yogyakarta.

Thursday, June 21, 2012


MENANTI TATANAN DUNIA BARU

Kerinduan dan hasrat untuk membangun tatanan dunia baru yang penuh dengan suasana perdamaian dan kebahagiaan sudah menjadi fakta historis. Mungkinkah hasrat dan kerinduan itu akan terwujud?

Di bagian belakang lambang atau segel agung Amerika Serikat (reverse side of the great seal), yang digunakan dalam pecahan satu dolar, terdapat simbol piramida belum rampung, mata dalam segitiga, angka romawi melambangkan tahun kemerdekaan 1776, kata-kata latin annuit coeptis dan ordo nouvos seclorum.

Peneliti sejarah konspirasi, A Ralp Epperson, meneliti makna lambang tersebut selama 27 tahun dan menyimpulkan bahwa kunci memahami simbol-simbol tersebut adalah ordo nouvos seclorum,artinya Tatanan Dunia Baru. Moto Novus Ordo Seclorum diadaptasi dari sebaris puisi dalam Eclogue IV karya Virgil, seorang pujangga ternama Romawi di abad pertama sebelum masehi, yang mengungkapkan kerinduan untuk era baru perdamaian dan kebahagiaan.

Namun, Epperson memahami “tatanan dunia baru” sebagai “pemerintahan satu dunia.” Tujuan dari pemerintahan satu dunia bukan merupakan pemikiran baru. Salah satu organisasi formal terdahulu yang mendukung tujuan tersebut adalah Illuminati yang dibentuk pada 1 Mei 1776 oleh Adam Weishaupt. Pengajar hukum kanonik (hukum gerejawi) pada Universitas Ingolstadt di Bavaria –sekarang bagian dari Jerman– menyatakan: “Kita perlu mendirikan rezim universal dan kerajaan seluruh dunia…”

Menurut Andrew C. Hitchcock dalam The Synagogue of Satan,Adam Weishaupt adalah Yahudi Kripto, yaitu Yahudi Ashkenazi yang berpura-pura bukan Yahudi dengan memeluk Katolik Roma. Dalam sejarahnya, Yahudi Ashkenazi bukan berdarah asli Yahudi. Nenek moyangnya dari Khazaria, semula menyembah berhala memutuskan memeluk Yahudi agar selamat dari serangan Kristen dan Islam.

Yahudi Ashkenazi, kelak akan mewakili 90 persen orang Yahudi di dunia. Orang yang memerintahkan Weishaupt menyelesaikan Illuminati adalah seorang Yahudi Ashkenazi yang menjadi mbah penguasa dunia, Mayer Rothschild –dalam bahasa Jerman, Rothschild artinya “perisai atau tanda merah”, kemudian jadi lambang bendera Israel. Sebelumnya, organisasi yang mendukung datangnya kepemimpinan satu dunia adalah Ordo Mason atau Freemason.

Asal-usul dan perkembangan awal Freemason masih menjadi perdebatan. Tapi, Grand Lodge pertama, yaitu Grand Lodge of England, berdiri pada 1717 di London.Pada 1718, Freemason Inggris menyebar ke Prancis dan Spanyol, dan setelah 1729 ke India, Italia, Polandia, dan Swedia. Freemason menyebar ke bagian lain Eropa dan akhirnya membuat jalan ke kolonikoloni Amerika. Pada 1733, organisasi lokal (lodge) pertama di Amerika didirikan di Boston, di bawah otoritas Grand Lodge of England.

AS kini memiliki lodge-lodge besar di 50 negara bagian. Freemason bukan sekadar organisasi persaudaraan, tapi seperti ditulis oleh Albert Pike, seorang sovereign grand commander dari Scottish Rite of Freemasonry di Amerika dari 1850-1891, dalam bukunya yang penting di kalangan pengikut Freemason, Morals and Dogma: “… Dunia dalam waktu dekat akan datang kepada kita untuk Kedaulatannya (dengan jelas mengacu pada pimpinan pemerintahannya) dan Kepausannya (dengan jelas mengacu pada pemimpin religiusnya).

Kita akan membentuk persamaan alam semesta dan menjadi pemimpin bagi Penguasa Dunia.” Selain Illuminati dan Freemason, Epperson juga menyebut bahwa ada gerakan besar lainnya yang ingin membentuk pemerintahan satu dunia di bawah kepemimpinan religius. Fenomena yang merebak ke seluruh dunia itu disebut The New Age Movement. Menurut perkiraan George Barna dalam The Index of Leading Spiritual Indicators, sekira 20 persen orang dewasa Amerika adalah penganut New Age.

Dalam usaha memperoleh pengalaman transformasi, penganut New Age memakai bermacam teknik atau pelatihan, seperti meditasi (Buddha), yoga (Hindu), latihan pernafasan (tarekat), dan lain sebagainya. Dalam hal ajaran atau kepercayaan, mereka mengambilnya dari berbagai macam sumber: pantheism, manunggaling kawula gusti (aku adalah Tuhan,Tuhan adalah aku), karma dan reinkarnasi –kedua ajaran ini paling disenangi.

Bagi Epperson, di balik praktik dan kepercayaan New Age, Illuminati, dan Freemason, serta berbagai aktivitas lain yang disinyalir terkait gerakan tersebut; tersembunyi misi rahasia yaitu membangun “tatanan dunia baru.”

Hendri F Isnaeni Peneliti dan penulis sejarah

Monday, June 04, 2012


Membaca Ragam Kekhasan Jokowi

Keberhasilan Jokowi tentu tidak lepas dari pengaruh media massa. Salah satu pilar demokrasi ini mempunyai mekanisme sendiri dalam pembentukan sebuah tokoh. Oleh Benni Setiawan*) Buku Jokowi, dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi menututurkan tentang seorang pemimpin daerah penuh inspirasi. Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi lahir pada 21 Juni 1961. Ia dilantik pertama kali menjadi Walikota Solo pada 28 Juli 2005. Nama Jokowi saat ini sedang mendunia. Ia tidak hanya menjadi seorang Wali kota di sebuah daerah kecil. Namun, kepak sayapnya telah banyak membuka mata masyarakat akan sebuah kepemimpinan yang diidamkan. Keberhasilan Jokowi tentu tidak lepas dari pengaruh media massa. Salah satu pilar demokrasi ini mempunyai mekanisme sendiri dalam pembentukan sebuah tokoh. Sang tokoh bisa besar dan kecil dalam realitas media, realitas statitik, realitas politik, dan realitas sesungguhnya. Kebiasaan bicara, berserikat, dan pers menyebabkan media memiliki peranan besar membentuk ketokohan. Kemunculan sang tokoh secara intensif dan masif di media biasa membuat postur seorang tokoh tiba-tiba menggembung atau mengempis. Jokowi saat ini adalah "darling", "cem-ceman", atau "kekasih" media. Kepandaian Jokowi memainkan rumus relasi publik (public relations) dengan tampil tepat waktu merebut momentum, membuat kiprahnya tersiar luas tanpa perlu bersusah payah beriklan. Itulah "realitas media" seorang Jokowi. Liputan tinggi terhadap Jokowi menaikkan angka popularitasnya, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa survei terakhir menjalang pilkada DKI Jakarta 2012. Berkat dukungan media, Jokowi bersama Hadi Rudyatmo memenangi pilkada Solo 2010 dengan capaian gemilang, 91 persen. Lebih lanjut, postur tokoh sebetulnya tergambar lewat proses pembuktian kerja dan kinerja. Sebelum seseorang mengerjakan sesuatu dan terbukti memiliki kinerja yang penuh kelayakan sosoknya terbangun secara mitologis. Setelah kerja dan pembuktian kinerja sosoknya bertransformasi menjadi sosok historis-sosok yang terukur, bukan sekadar mitos. Inilah yang kemudian disebut realitas sesungguhnya oleh Eep Saefulloh Fatah dalam epilognya. Jokowi adalah sosok historis yang langka. Ia sudah melayari ujian kerja dan kinerja dan membuktikan sosok-historisnya. Dan justru inilah modal paling dahsyat yang dimilikinya. Di antara semua modal politik yang dimilikinya, modal paling besar yang dimiliki Jokowi adalah otentisitasnya. Seorang pemimpin disebut otentik manakala ia leluasa membuat langkah dan kebijakan karena ia tak memasukkan kepentingan personal dan kelompok yang sempit di dalam langkah dan kebijakan itu. Seorang pemimpin yang otentik akan menjadi pengendali yang powerful-berkekuatan besar-manakala punya visi tegas, arah jelas, kerangka berpikir di luar kelaziman umum (out of the box), dan keberanian mengamil risiko. Jokowi mempunyai itu.

Harapan Buku karya jurnalis senior Rakyat Merdeka ini tidak hanya menyuguhkan keberhasilan Jokowi. Namun, adanya harapan baru dari sosok pengusaha mebel itu. Jokowi, tulisnya adalah sebuah harapan. Kehadirannya menggarisbawahi fakta bahwa--di tengah buruk rupa wajah otonomi daerah--selalu saja tersedia harapan. Di tengah lorong gelap yang terasa panjang, Jokowi (dan tokoh-tokoh seperti dia) menunjukkan kepada kita bahwa nun di sana ada seberkas sinar yang akan menyudahi gulita dan menggantinya dengan benderan. Ia (atau mereka) seperti lilin yang bersinar di tengah gelap menikam. Yang dilakuan Jokowi sebetulnya sederhana belaka. Ia menegaskan bahwa menjadi kepala daerah yang luar biasa sejatinya adalah berpikir dan bertindak berbeda dari kepala daerah kebanyakan. Sesederhana itu. Jokowi menggarisbawahi bahwa untuk menjadi kepala daerah yang berhasil, seseorang cukup menjadi "Pemimpin" (dengan "P" besar), dan bukan sekadar berpuas diri menjadi gubernur, bupati, atau walikota, atau bahkan presiden. Menjadi pemimpin adalah mengikhlaskan diri dalam kerja layanan masyarakat. Sementara menjadi gubernur, bupati, wali kota, atau presiden cukup dengan mempertontonkan kekuasaan sambil menjaga jarak dari publik---menjadi sesuatu yang "tak tersentuh". Fenomena Jokowi mengonfirmasikan bahwa pemimpin dibentuk dari orang biasa, bukan dari bangsa malaikat seperti dalam kitab suci atau pahlawan super seperti dalam cerita-cerita komik (hlm. 120). Lebih lanjut, buku yang ditulis Yon Thayrun, Jokowi, Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker seakan melengkapi buku karya wartawan Rakyat Merdeka tersebut. Yon Thayrun menulis buku ini dengan melakukan wawancara mendalam dengan Jokowi. Sebuah pekerjaan yang tidak dilakukan oleh Zaenuddin HM. Berdasarkan wawancara tersebut, Yon Thayrun mengambil kesimpulan bahwa Jokowi merupakan pemimpin yang unik lagi nyentrik. Dia adalah pencinta musik rock. Dia rela menghabiskan waktunya untuk menonton latihan grup Trencem yang populer di Solo kala itu. Sebagai rocker, Jokowi mengilhaminya dalam kehidupan sehari-hari. Rock baginya adalah semangat hidup yang terus menyala. Dengan musik cadas ia mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan berani untuk kepentingan masyarakat yang lebih baik. Penggemar Led Zeppelin dan Lamb of God itu pun dalam berbagai kesempatan menyatakan ingin mengundang Lamb of God tampil dalam Rock di kota yang kini masih dipimpinnya (Solo). Kedua buku tersebut menampilkan ragam kekhasan Jokowi. Jokowi memang menarik untuk diulas menjadi sebuah buku, karena dia sekarang sedang menjadi cem-ceman (kekasih) media. Dua buku tersebut saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Siapa saja yang mengidolakan Jokowi dan ingin mengetahui lebih dekat diri Jokowi dua buku tersebut akan mampu menuntut Anda. Selamat membaca.

*)Benni Setiawan, blogger buku, bertualangkata.blogspot.com ***

Monday, May 07, 2012


NASIONALISASI SUMBER DAYA ALAM

Secara de jure Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, ketika Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Pada September 1950 Indonesia juga resmi bergabung menjadi anggota PBB yang ke-60. Hal ini merupakan indikasi kemerdekaan Indonesia absolute diakui oleh dunia Internasional.

Sayangnya, secara de facto Indonesia masih belum merdeka dari imperialisme dan kolonialisme bangsa asing. Penjajahan model baru ini lazim disebut dengan Neokolonialisme. Penjajahan model baru ini tidak lagi memandang kolonialisme sebagai penjajahan fisik, dimana pemerintahan dan penguasaan atas semua sumberdaya dilakukan secara paksa suatu bangsa terhadap bangsa lain.

Neokolonialisme ini berwujud hegemoni suatu bangsa terhadap bangsa lain dalam bidang politik, ekonomi, hukum dan sebagainya. Alih-alih menjalin hubungan diplomatik, bangsa asing mencengkeram Indonesia dan menguras habis kekayaan alamnya. Walhi mencatat tidak kurang 85 persen potensi sumber daya alam strategis dari Sabang sampai Merauke dikuasai asing. Kehadiran buku ini menjadi penting dan sangat mendesak melihat realitas yang terjadi di Negara ini. Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam, namun tidak mampu menikmati kekayaan sendiri. Lantaran ulah kolonialisasi modern, bangsa kita dilanda defisit kenegaraan luar biasa. Naasnya, bahkan tidak jarang kita harus menjadi buruh di rumah (negeri) sendiri dan memperkaya bangsa lain. Sungguh miris memang, namun inilah kenyataan yang harus kita terima.

Berdasarkan pasal 33 UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa bumi dan seisinya dikuasai oleh Negara. Pasal ini mengindikasikan bahwa sumber daya alam (SDA) dikelola sendiri oleh Negara. Hasil pengelolaan tersebut diprioritaskan untuk kesejahtraan rakyat. Sayangnya, fakta berkata sebaliknya. Kekayaan SDA kita hampir semuanya dikelola oleh pihak asing. Sudah berapa besar investor asing meraup keuntungan dari Freeport, Blok Cepu, hingga Gas Alam Aru, dan berapa banyak yang kembali kepada bangsa ini, tentu tidak sebanding.

Pihak asing melakukan tindakan ini bukan tanpa payung hukum. Beberapa produk undang-undang dan peraturan di Negara kita nyata-nyata lebih memihak terhadap kepentingan mereka dibandingkan kepentingan nasional. Keberpihakan ini dapat kita lihat antara lain pada UU Migas, UU Sumber Daya Air, RUU Penanaman Modal Asing (PMA) dan berbagai peraturan di bidang PMA. Penulis buku, menawarkan sebuah solusi jika ingin menikmati kekayaan kita, yaitu nasionalisasikan SDA.

Thursday, May 03, 2012

Siklus Rezeki



Judul buku: Siklus Rezeki dengan Metode Silva
Penulis: Rd. Lasmono Abdulrify Dyar
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Tahun: I, Juli 2011
Tebal: 422 halaman
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

“Setiap diri atau individu sebenarnya telah dibekali kekuatan hebat dan luar biasa, namun selama ini diabaikan oleh sebagian orang. Selama ini pula, manusia hanya mengagungkan penggunaan otak kiri dan mengabaikan otak kanan sehingga mengakibatkan ketimpangan hidupnya.” begitulah ujar Jose Silva, sang penemu ilmu baru: psychorientology.
Perbincangan perihal keistimewaan otak kanan dibanding otak kiri rasanya semakin mendapat tempat banyak akhir-akhir ini. Banyak penemuan yang dihasilkan oleh para ahli (psikologi) yang menjelaskan pentingnya memaksimalkan peran otak kanan dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi, sederet kelatahan banyak teori yang ditemukan itu, terdapat penemuan yang layak untuk dijadikan referensi utama. Yakni bagaimana cara memosisikan otak kanan dalam kondisi Alpha. Dengan Alpha, sesuai penelitian yang dikembangankan oleh Silva, manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusi seutuhnya. Implikasi dari kondisi ini adalah membawa seperangkat situasi yang tenang dan damai. Pikiran akan jauh lebih jernih dan merasakan kenyamanan yang menakjubkan. Bahkan segala bentuk macam rasa frustasi dan stres mampu dinetralisasi oleh gelombang Alpha ini. Kondisi Alpha sendiri bisa ibaratkan ketika manusia sedang dalam keadaan santai (rileks). Secara ilmiah, Alpha terletak pada gelombang dengan frekuensi di bawah 15 Hertz pada ukuran EEG (Electro Enchephalo Graph).
Prestasi besar Silva adalah kemampuannya dalam menemukan teknik khusus atau menciptakan sistem yang dapat mengkondisikan seseorang berada pada tingkat kesantaian atau Alpha. Mula-mula penemuan ini dia kembangkan kepada anak-anaknya untuk menguasai mata pelajaran sekolah. Silva kemudian menyuruh mereka memejamkan mata. Setelah melalui teknik khusus ala Silva, dan dirasa sudah dalam tingkatan Alpha, Silva lalu membacakan materi pelajaran mereka. Awalnya memang persentase (hasil) daya ingat akan materi itu hanya terserap sekitar 15 persen saja oleh anak-anaknya. Namun, kegiatan itu secara bertahap terus dilangsungkan dalam beberapa hari dan jam. Walhasil, dalam tempo 21 hari, daya ingat serta intuisi mereka melejit. Materi pelajaran yang ditanyakan oleh Silva, dijawab oleh mereka dengan tepat. Bahkan, si anak mampu menebak pertanyaan yang akan diiajukan oleh ayahnya sebelum pertanyaan diajukan pada mereka.
Keunggulan Metode Silva dengan metode yang sejenis terletak pada sisi penerimaan secara luas, dengan artian mmapu diterima dan dijalankan berskala internasional. Pun bersifat original, ilmiah, serta mencoba upaya pengembangan potensi manusia secara total. Sedangkan kebanyakan metode sejenis lainnya hanya bisa diterima pada level lokal semata. Kadang metodenya malahan hasil dari peniruan atau adopsi dari berbagai teori. Sebagian lagi berangkat atas label agama, aliran, atau kepercayaan tertentu. Dan, kebanyakan hanya berfokus pada satu bidang kehidupan saja: kesehatan atau relaksasi.
Jose Silva sendiri dilahirkan di Loredo, sebuah kota kecil di wilayah Texas, Amerika Serikat. Semenjak kecil, ia harus menjadi tulang punggung keluarganya karena ayahnya telah meninggal. Di usia 6 tahun, ia telah menjadi pengantar koran dan tukang semir sepatu. Namun, ada yang teristimewa dari sosok Silva ini. Yakni kemampuan intuisinya yang luar biasa semenjak kecil. Ia tak perlu mondar-mandir mencari pelanggan. Ia sudah tahu mana calon pelanggan yang akan meminta jasanya.
Narasi hidupnya kemudian berlanjut ketika ia mulai merintis usaha elektronik. Ketekunan belajar dan membaca buku-buku elektronik yang ia pinjam dekat tempatnya “mangkal”, membuat ia fasih tehadap bidang yang satu ini sampai akhirnya membuka tempat reparasi alat-alat elektronik bersama teman-temannya.
Ketika Perang Dunia II berkecamuk, Silva turut maju di medan pertempuran namun bukan mengangkat senjata, melainkan sebagai relawan rehabilitasi mental para prajurit Amerika Serikat. Berkat ‘faktor bawaan’ yang ia punyai berupa pengetahuan tentang psikologi, cara kerja Silva itu mengundang rasa decak kagum dari para prajurit perang. Bahkan para ahli psikologi yang tergabung dalam tim rehabilitasi turut senang melihat hal itu dengan memberikan buku-buku bacaan seputar dunia psikologi pada Silva sebagai bentuk apresiasi. Nah, dari situlah, dia memulai penyelidikan-penyelidikan terkait kejiwaan manusia.
Sebenarnya, gelombang Alpha telah ditemukan oleh Dr. Hans Berger pada tahun 1926 yang sempat membuat heboh dunia psikologi kala itu. Namun, pada tahun 1944 saat Silva beranjak di usia 30 tahun, ia terus-menerus mencoba mendalami gelombang tersebut serta mengembangkannya. Dan, sampai akhirnya dia menemukan sendiri teknik jitu untuk memasuki kondisi Alpha.
Buku ini bukanlah terjemahan dari karya Jose Silva, melainkan ditulis oleh trainer Silva bersertifikat asal Indonesia. Dengan kurang lebih 8000-an orang hasil didikannya, Rd. Lasmono Abdulrify Dyar berharap metode Silva ini bisa didapatkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak orang lagi. Oleh karena itulah beliau menulis buku tersebut. Fokusnya pada dunia satu ini sudah dijalani sejak 1983 silam. Di usianya yang sudah 85 tahun, semangat hidup serta produktivitasnya justru tidak mengendur. Berbagai jabatan prestisius telah didapatkannya serta ratusan karya tulis telah dihasilkannya. Tampaknya ada kesan kuat yang ingin beliau sampaikan: ini semua merupakan efek dari Metode Silva.
Buku ini disajikan dengan lengkap perihal perincian teknis dari Metode Silva itu sendiri. Bahkan disajikan secara gamblang dan sangat detail. Tahapan-tahapan yang diinstruksikan dalam metode ini di jelaskan dengan bahasa yang sederhana. Sehingga membuat masyarakat umum lebih mudah memahami serta mempraktikkannya.
Jose Silva dari kecil sudah terlahir dengan pribadi yang luar biasa. Di usia dewasanya, ia juga berhasil membuat penemuan hebat terkait aktivasi otak kanan. Dan sudah jutaan orang di seluruh dunia mengecap penemuannya itu. Walhasil, tidak ada salahnya, jika metode ini dijadikan referensi alternatif pengembangan otak kanan. Dan buku ini telah membuka jalan untuk menapakinya. Selamat membaca dan mencoba untuk mengoptimalkan hidup.

Monday, April 30, 2012


Rekam Jejak Kepemimpinan Jokowi



Ir. Joko Widodo atau Jokowi adalah satu dari sedikit potret pemimpin sejati di negeri ini. Di balik kesederhaan hidupnya, ia tak henti-hentinya memberikan teroboson spektakuler bagi kepentingan rakyat. Apa yang menjadi kehendak rakyat, itulah yang akan dilakukan, sebab baginya, apalah arti seorang pemimpin jika tak mampu memenuhi kebutuhan rakyat hingga akhirnya membuat rakyat tersenyum manis.

Tampuk jabatan yang mutlak dicurahkan kepada rakyat, menjadikan Jokowi amat cintai rakyat. Jabatan yang diembannya –sebagai Wali Kota Solo- sepenuhnya diberikan kepada rakyat, sehingga segala kebijakannya tercurah penuh untuk rakyat. Jokowi selalu menghadirkan gebrakan baru bagi rakyat. Ketika warga Solo ingin agar para pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan pusat kota disingkirkan, ia memenuhinya. Tapi, bukan penggusuran secara kasar dengan mendatangkan Satpol PP yang dilakukan, namun ia menempuh cara damai dan merakyat. Jokowi bicara dari hati ke hati dengan para pedagang kaki lima, memberi lahan baru tempat jualan, serta mengiklankan barang jualan itu ke publik. Tak ayal, dari langkah bijak yang ditempuh Jokowi, antara kedua belah pihak –para pedagang kaki lima dan warga yang ingin menyingkirkannya karena dianggap mengganggu- akhirnya tak menuai ketegangan. Walhasil, dari langkah bijak Jokowi, rakyat Solo dan bangsa Indonesia pada umumnya semakin yakin bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang mampu memberi “oase dan harapan” baru di tengah carut marut estafet kepemimpinan negeri ini.

Selain merelokasi pedagang kaki lima tanpa kerusuhan dan penggusuran, kesuksesan Jokowi juga dapat dilihat dari sukses pemolesan dan penataan pasar tradisional tanpa mal, sukses membawa Solo go internasional, sukses menjadikan Solo kota terbersih dari korupsi, dan terakhir sukses mengangkat mobil Esemka rakitan anak-anak negeri hingga ke tingkat nasional.
Jokowi yakin dan berbangga atas karya kreatif anak negeri sendiri, sehingga tanpa ragu ataupun malu Jokowi menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas dan ia langsung menguji emisi sendiri ke Jakarta. Di samping langkah pro terhadap rakyat yang selalu diaplikasikan, Jokowi adalah sosok langka pemimpin yang nerimo dengan kesederhanaan hidup.

Sederhana

Di tengah hiruk-piruk para pejabat negeri yang hidup mewah hingga menuntut kenaikan gaji, Jokowi justru hidup dengan penuh kesederhanaan bahkan tak mengambil gajinya. Langkah Jokowi itu meski kadang mendapat “cibiran” sebagai pejabat yang mencari “sensasi”, tapi toh memang demikian seharusnya perangai seorang pemimpin. Pemimpin sejati harus gundah dan galau melihat rakyatnya hidup miskin, susah. Pemimpin sejati harus orang pertama yang merasakan pahit getir melihat rakyatnya kesulitan dalam hidup. Dan Jokowi adalah salah satu pemimpin yang merasakan itu. Kepemimpinannya benar-benar mampu menjadikan rakyat “tersenyum manis” dalam gempuran tantangan zaman pola pemimpin negeri yang tak jelas dan ingin enaknya sendiri.

Buku karya Zaenuddin HM ini merupakan rekam jejak kepemimpinan Jokowi. Kisah-kisah inspiratif Jokowi dalam estafet kepemimpinannya menjadi Wali Kota Solo dalam dua periode (2005-2010 dan 2010-2015) digambarkan sebagai bukti bahwa pemimpin seperi Jokowi inilah yang patut ditiru oleh pemimpin lain, tak lain demi tercipta sosok pemimpin bangsa yang bisa mengerti keinginan rakyat, mengangkat hak rakyat, sekaligus merakyat.

*) Pembaca Buku, Tinggal di Yogyakarta

Wednesday, April 25, 2012


Menguliti Gurita Korupsi

Penyakit korupsi di Indonesia sudah menjalar kemana-mana. Ironisnya, aparat penegak hukum tak mampu membendungnya. Sehingga, membuat berbagai persoalan hukum melimpah ruah. Penyakit yang menyerang para pejabat negara itu sulit di basmi karena sistemik. Wajar, jika aktor intelektualnya sulit tertangkap. Walaupun toh, berbagai gerakan antikorupsi yang di pimpin Presiden sendiri sudah berjalan selama 7 tahun menjabat, hingga kini belum mampu membuat ciut para koruptor.

Justeru pemerintah yang di komandani Presiden banyak mengalami kendala dalam memberantas korupsi. Lebih parahnya lagi, orang-orang didikan Presiden maupun pejabat di bawahnya banyak tersandung korupsi. Sehingga, membuat persoalan penegakan hukum semakin kompleks. Misalnya yang sedang terhangat, kasus Wisma Atlet dan suap di Kementrans. Tentunya, membuat kita semakin merinding saja. Sampai kapankah penyakit korupsi di negeri ini dapat di berantas?

Menurut penulis buku ini” Bambang Soesatyo”, supermasi hukum yang selama ini di gembor-gemborkan hanyalah pepesan kosong. Janji orang nomor satu di negeri ini pun sewaktu kampanye untuk menumpas koruptor hingga kini tak bisa di pegang. Sebaliknya, justeru bermain-main dengan pedang-pedangan dalam berperang melawan koruptor. Ironisnya, para kader-kadernya juga banyak tersandung kasus korupsi. Dari catatan BPK, selama tujuh tahun pemerintahan SBY tidak kurang dari Rp 103 triliun dana pembangunan dirampok.(hal, xiii)
Dalam buku ini, ada 12 bab yang di beberkan Bambang terkait masalah korupsi. Yakni, Kanker Korupsi di Indonesia, Terlibatnya Orang-orang Presiden, Remisi untuk sang Besan, Tragedi Bernama BLBI, Mega Skandal Bank Century, Kesaktian Mafia Pajak, dll. Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika memang penegakan hukum di lakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor.

Dari sekian banyaknya kasus yang mencuat kepermukaan publik, rakyat hanya bisa menontonnya saja. Jika penegakan hukum dilakukan dengan serius semestinya Presiden menjadi orang terdepan dalam memberantas koruptor. Bukankah, korupsi sudah merajalela? Jika dahulu korupsi berpilar pada penguasa korup dan pengusaha hitam. Kini, korupsi mengharuskan adanya perselingkuhan abadi antara dua unsur tersebut. Bahkan, mereka”koruptor’ selalu tampil kreatif dan inovatif.

Menurut salah satu ketua KPK Busro Moqodas, pilar baru para koruptor sekarang ini yakni, calo kasus dan calo politik, cukong dana, cukong politik, aktor politik pusat maupun daerah serta berbagai jaringan lainnya.(hal, 324) Cara paling ampuh untuk mencegah generasi koruptor adalah melalui pendidikan di lingkungan sekolah dan keluarga.

Tuesday, April 10, 2012

JEJAK LANGKAH JOKOWI

Joko Widodo atau yang biasa dipanggil Jokowi memang istimewa. Ia hanya seorang pemimpin daerah. Namun, prestasinya luar biasa. Jokowi memimpin dengan keteladanan. Sebuah sikap yang kini jarang dimiliki oleh pemimpin nasional. Ia banyak mendengar dan bekerja nyata untuk rakyatnya. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya duduk manis di belakang meja sembari mengucap mantra kesejahteraan yang tidak pernah terwujud. Ia pun keluar masuk pasar tradisional. Memastikan apakah denyut usaha kecil tersebut tetap tumbuh dan berkembang di Kota Solo.

Ia pun menata pedagang kaki lima (PKL). PKL baginya merupakan berkah alam. Mereka merupakan aset ekonomi. Maka ia mengelola PKL dan memberi tempat berdagang. Proses pemindahan mereka pun sesuai dengan fitrah kemanusiaan (manusiawi). PKL diajak urun rembug tentang masa depan kota dan masa depan pedagang. Hasilnya, tanpa palu dan kekerasan PKL tertata dengan rapi dan menjadi aset terbesar bagi Kota Solo.

Pengusaha mebel ini pun menginisiasi mimpi adanya mobil nasional. Walaupun bukan program baru (karena sudah diretas di Era Orde Baru), Jokowi kembali memberi teladan kepada pejabat di seluruh Indonesia untuk menggunakan mobil karya anak bangsa. Mobil berjuluk Kiat Esemka, walaupun tidak lolos uji emisi Kementerian Perhubungan telah menjadi penanda bagi zaman bahwa tunas muda Indonesia mempunyai kemampuan untuk menciptakan sebuah inovasi teknologi.

Mungkin lebih banyak lagi prestasi yang telah ditorehkan oleh Jokowi. Namun, ia tetap santun. Ia tidak menjadi sombong karena prestasi yang telah ia torehkan. Ia tetap mengaku bodoh, tidak mempunyai tampang menjadi pemimpin. Namun, di tengah kesajahaannya, ia merupakan pemimpin inspiratif bagi bangsa Indonesia.

Keajaiban

Buku karya Zaenuddin HM, Jokowi, dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi ini setidaknya mengumpulkan serpihan dari segudang prestasi Jokowi. Jurnalis senior Rakyat Merdeka ini dengan gaya jurnalistik yang renyah menyuguhkan sosok Jokowi yang apa adanya. Kaya prestasi namun tetap bersahaja.

Kiprah kepemimpinan Jokowi dimulai ketika ia prihatin dengan keadaan kota kelahirannya, Solo, yang dirasakannya berhenti di tempat. “Saya melihat kok tidak semakin baik, tapi malah semakin turun dan semakin tidak baik. Saya merasa tergelitik. Saya pikir, mengelola sebuah kota apa sulitnya sih?” tutur Jokowi. Karena itulah ia merasa tertantang untuk membenahi kota Solo. Untuk itu ia harus mau memimpin atau menjadi walikota, dan itu pun harus bertarung dulu dengan calon-calon lain lewat pilkada.

Pada pilkada 2005, Jokowi berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo yang diusung oleh PDI Perjuangan.

Jokowi seakan mendapatkan suatu keajaiban dalam hidupnya: “dari jualan kursi (mebel) hingga mendapat kursi walikota”. Padahal ketika dicalonkan, banyak kalangan meragukan dirinya akan menang pilkada. Bahkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri konon sempat kaget ketika tahu dan melihat calon yang diusung PDIP adalah Jokowi.

Buku ini seakan mewartakan bahwa persona Jokowi telah menyihir masyarakat, Ia tampil ke pentas publik di tengah kegalauan masyarakat. Rasa rindu masyarakat akan sosok pemimpin penuh karya. Jokowi bak oase di tengah padang pasir. Kehadirannya mampu mengobati rasa dahaga masyarakat.

Pada akhirnya, buku ini menjadi semacam jejak langkah besar Jokowi yang dapat menginspirasi pemimpin lain untuk berbuat, bertindak, dan berkidmat kepada kesejahteraan masyarakat luas. Semoga melalui buku ini, muncul Jokowi-Jokowi lain di seluruh penjuru Nusantara. Selamat membaca.


Monday, April 09, 2012


MEMBACA KEKONYOLAN WAKIL RAKYAT

Rakyat memilih anggota DPR untuk mewakil aspirasi mereka. Dengan kepercayaan penuh, masyarakat meletakkan harapan di pundak para wakil tersebut. Beribu janji manis terutarakan dengan rapid an memesona saat kampanye

Namun, sangat sedikit dari janji-janji tersebut yang terealisasi. Kebanyakan wakil rakyat hanya menuntut hak pribadi mereka daripada menunaikan kewajiban lebih dulu
Hak mendapat fasilitas yang serba mewah dengan alas an agar dapat bekerja nyaman, kemudian minta gedung baru yang menghabiskan triliunan rupiah anggaran Negara hanya karena gedung lama dianggap sudah tidak kondusif. Mereka juga pelesiran ke luar negeri dengan judul studi banding

Oleh karena itu, perlu kiranya dilucuti fungsi, kewajiban, serta hak DPR agar tidak selalu hedonis. DPR mempunyai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat. Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang. Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan menyetujui atau tidak terhadap rancangan undang-undang terhadap APBN yang diajukan presiden. Terakhir, pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN
Di samping ketiga fungsi, DPR juga memiliki beberapa hak seperti interpelasi untuk meminta keterangan pemerintah mengenai kebijakan yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hak angket menyelidiki pelkasanaan suatu undang-undang dan atau kebijakan pemerintah yang berdampak luas
Hak imunitas merupakan kekebalan hokum dengan setiap anggota DPR tidak dapat dituntut di hadapan dan di luar pengadilan karena pernyataan atau pendapat yang dikemukakan secara lisan atau tertulis dalam rapat-rapat DPR, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan tata tertib dan kode etik

Yang terakhir adalah hak menyatakan pendapat atas kebijakan pemerintah, tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket, serta dugaan pelanggaran presiden atau wakil presiden. Jika melihat fungsi tersebut, DPR memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Namun, jika boleh diungkapkan, mungkin saat ini rakyat sedang mengalami sakit hati yang mendalam karena melihat perilaku DPR. Lembaga perwakilan itu sekarang menjadi lahan basah untuk korupsi. Mereka malas bersidang. Mereka tidur atau membuka situs porno di ruang siding

Membicarakan tingkah para elite wakil rakyat yang tak ada habisnya, Abu Semar hadir dengan serangkaian cerita konyol dan nyeleneh tentang perilaku anggota DPR. Abu Semar yang merupakan anggota DPR aktif itu membeberkan tingkah laku teman kerjanya yang membuat masyarakat jengkel dan geram.

Namun, dibalik kejengkelan itu, saat membaca buku ini, ada sedikit kegelian karena kisah-kisah yang tertulis dalam buku ini nyeleneh, gemesin dan sontoloyo. Para wakil rakyat yang sangat konyol ini patut diketahui banyak orang. Buku setebal 272 halaman ini bisa menjadi bacaan humoris sebagai selingan untuk sekadar menertawakan anggota DPR, bahkan tertawa geli di sela-sela amarah terhadap para wakil yang selalu membuat ulah.

Namun, mungkin rakyat juga merasa semakin muak dan bertambah marah. Apapun penilaiannya, buku ini hadir sekadar untuk mendokumentasikan tingkah laku wakil rakyat yang tak banyak diketahui orang

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes