Showing posts with label Miskin Tapi Sombong. Show all posts
Showing posts with label Miskin Tapi Sombong. Show all posts

Thursday, August 20, 2009


Iwan "Bung Kelinci" Sulistyawan saat on air Miskin Tapi Sombong di TVRI


MISKIN TAPI SOMBONG AKAN on air DI TV NASIONAL

Reviewed by Shadan

Pada pertengahan Agustus 2009, TVRI Programa Nasional mengundang penulis-penulis Ufuk Publishing House untuk berbagi pengalaman dan karya dalam acara Panggung Gaul Sastra TVRI yang umumnya tayang di TVRI programa nasional setiap kamis sore, Pk.16.00-17.00 WIB. Dalam acara ini, TVRI meminta Iwan “Bung Kelinci” Sulistyawan menjadi narasumber tema bahasa Komunitas Facebook Cafe Sastra yang didirikan oleh Dewi Yanthi Razalie. Dalam bincang-bincang tersebut, Bung Kelinci (sapaan akran Iwan Sulistyawan) ditemani Dewi Yanthi, Weni, Eva dan Sari. Setelah share tentang tema tersebut TVRI tidak memperbolehkan Iwan “Bung Ke linci” Sulistyawan meninggalkan studio. Kenapa ? Atas permintaan TVRI (Dewi Yanthi Razalie dan Haji Yusuf), Bung Kelinci diminta untuk membedah karyanya yang diterbitkan Ufuk Publishing House, Miskin Tapi Sombong.

Acara yang dipandu dara energik Tiara Widjanarko dan Bayu Satito ini juga akan tayang pada on air rutin setiap kamis sore pukul 16.00 - 17.00 di TVRI. Jangan lewatkan tayangan tersebut, sebab, tayangan sarat informasi akan dunia sastra ini hanya satu-satunya yang tersedia di tanah air.


Monday, July 20, 2009



IRONI KAUM MARGINAL

Dari seluruh karakter puisinya yang sederhana, jenaka, dan terkadang seronok itu, tampaknya Iwan bisa disebut sebagai penerus Remy Sylado, yang terkenal akan gaya puisi mbeling.
(Haris Priyatna, Pikiran Rakyat, Juli 2009)

Ironi.Tak pelak lagi, itulah benang merah buku ini. Judulnya saja sudah menyiratkan hal itu: Miskin tapi Sombong. Dalam buku ini, Iwan Sulistiawan menaburkan kisah-kisah pendek yang sarat ironi. Tepatlah kata Jaya Suprana, sang pakar kelirumologi, dalam pengantar buku ini, "Predikat miskin memang kurang selaras dan serasi untuk disandingkan dengan predikat sombong, kecuali dihubungkan dengan kata sambung 'tapi' seperti di judul buku ini."

Maka di dalam buku ini kita dapat menemukan kisah-kisah nan ironis semacam yang satu ini:
istrimu sudah ingatkan
ke reuni tak perlu taksi
kau malah abaikan
kau bilang reuni itu adu gengsi
("Miskin Tapi Sombong")

Kisah ? Bukankah itu puisi ? Demikian mungkin Anda mendebat. Ya, Anda tentu segera dapat mengenali struktur tulisan di atas yang seperti syair itu sebagai puisi. Sejatinya memang dapat kita sebut buku ini sebagai kumpulan puisi, namun tampaknya buku ini ingin diposisikan sebagai "kumpulan kisah-kisah singkat." Tentu itu sah-sah saja. Kisah-kisah klasik pun kerap dituangkan dalam bentuk syair, tetapi kini kita mengenalnya sebagai kisah saja, bukan sebagai puisi.

Puisi-puisi Iwan Sulistiawan dalam buku ini begitu bersahaja, tidak muluk-muluk, begitu mengena dan mudah dicerna. Hal ini tentu bisa membuat orang menarik asumsi bahwa sebagai penyair Iwan kurang mendalam. Namun, jangan salah duga, kesederhanaan puisi Iwan bukan lantaran dia tidak mengenal bentuk-bentuk puisi lain yang lebih rumit. Pilihannya atas bentuk puisi yang sederhana tampaknya memang disengaja, agar efek yang dia kehendaki terhadap pembacanya segera sampai. Efek itu bisa berupa rasa haru atau rasa geli, atau malah campuran antara kedua-duanya.

Ironisme kemiskinan juga dapat kita temukan dalam puisi yang berjudul "6 on 1." Puisi ini mengisahkan sebuah keluarga yang naik satu sepeda motor beramai-ramai pada hari Lebaran. Juga dalam puisi yang berjudul "Sandwich Gula Pasir" tentang murid-murid SD yang sedang belajar bahasa Inggris:
"What about you, Wahyu ? you also like sandwich, don't you?
"Yes, Miss, Ida.""Then what do you usually have with the sandwich? " "I eat sandwich... mmm ...I eat sandwich... leat sandwich with...with... mmm itu loh, Miss, mmm...bahasa Inggrisnya gula pasir apa, Miss? "
meledak tawa ejekan teman-teman Wahyu rasa mindemya makin merasuk mengiris pilu

Selain itu, Iwan piawai mengutik-atik kata-kata sehingga terlahir kalimat-kalimat yang menggelitik, salah satu contohnya adalah puisi "Yang Disebut Seorang Ibu di Bulan Suci." Bahkan Iwan juga menyusun kata-kata puisinya menjadi bentuk tertentu, yang mengingatkan kita kepada puisi Sutardji Calzoum Bahri. Puisi yang demikian contohnya adalah "Rumah Kata-Kata." Hebatnya, dari membuat bentuk-bentuk ini, Iwan tak sekadar bermain-main. Larik penutup puisi itu sungguh menohok: Bagi si miskin papa, punya rumah sendiri cuma wacana, tinggal harapan dan mimpi hampa atau sejumput kata-kata.

Dari seluruh karakter puisinya yang sederhana, jenaka, dan terkadang seronok itu, tampaknya Iwan bisa disebut sebagai penerus Remy Sylado, yang terkenal akan gaya puisi mbeling. Puisi-puisi Remy membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau merenung. Namun, di dalam kelakarnya, Remy sebenamya sedang bersikap serius. Dia menelanjangi sikap feodal dan munafik masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa.

Demikian pula Iwan Sulistiawan. Puisi-puisinya begitu lugu dan apa adanya, namun bukan berarti tanpa kedalaman. Maka, nikmatilah karya Iwan Bung Kelinci yang ringan sekaligus menggigit ini sambil bersantai. Buku ini dapat menjadi bahan refleksi yang menghibur tanpa kita mesti mengerutkan kening karena menerka-nerka maknanya

(Haris Priyatna, penggiat perbukuan, tinggal di Bandung)***

Wednesday, July 01, 2009




KRITIK TAK HARUS TAJAM

Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.
(Radar Jogja, Juni 2009)

Bukan sekali ini saja muncul buku yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Indonesia. Mulai dari maraknya budaya korupsi, hingga perilaku manusia yang menggunakan teknologi dengan tujuan tidak baik. Bahkan bisa dibilang, banyak sekali model buku yang menyuguhkan borok-borok masyarakat kita saat ini.

Namun, buku ini tampil istimewa. setiap ceritanya bahkan tidak bisa dibilang cerita pendek, saking pendeknya. Hanya satu atau dua halaman. Tapi kisahnya benar-benar sarat makna. Bahkan, penanda utama dalam cerita seringkali ditunjukkan dengan satu kata saja. Karya orisinil yang sukar ditemukan di antara banyaknya kisah yang menyodorkan kisah vulgar dengan diksi yang berani. Febri berkata kemampuan Iwan merangkum cerita bukan hal yang mudah. Kita sendiri lumayan sering menulis, tapi tidak bisa menulis singkat. "Penginnya kalau nulis itu yang banyak. Yang detil. Makanya nggak pernah bisa menulis singkat," paparnya.

Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.

Erni yang mahasiswa sastra mengaku, buku ini memang istimewa. "Dilihat dari gaya bahasa yang dipakai, buku ini benar-benar sarat makna," paparnya. Erni merasa kumpulan kisah ini lebih tepat disebut puisi bebas. "Soalnya bukan juga cerpen. Diksinya dibuat seindah dan serima mungkin. Jadi lebih pas kalau disebut puisi bebas," tuturnya.

Dari kata pengantar dan beberapa kisah yang disajikan, terlihat jelas bahwa Iwan membuat buku ini sebagai kritik sosial. Masyarakat kita saat ini sudah sedemikian jahat dan bersifat kanibal. Tidak sungkan lagi menzalimi pihak lain demi kepentingannya.

Tapi, Iwan tidak mengajak para pembacanya untuk semata-mata membenci koruptor atau kaum gay. Dia hanya bercerita dengan gayanya, dan kesimpulan serta persepsi diserahkan kembali ke pembaca; Dia memang mengkritik ketidakadilan sosial yang saat ini marak terjadi.

"Tapi menurutku nggak ekstrem banget. Cara penyampaian kritiknya masih bisa dinikmati," tutur Yuyun. Yuyun mencontohkan beberapa karya lain yang datang dengan tujuan serupa ditampilkan sangat vulgar. "Yang membaca malah jadi terprovokasi berlebihan, bukannya bisa menganalisa kritik dengan kepala dingin," papar gadis bernama lengkap Yuyun Irmawati ini.

Hadirnya buku ini, dalam pandangan Kinta, bisa digunakan sebagai contoh penulisan yang kritis tapi tidak melulu tajam. "Jadi tidak banyak menggunakan kata-kata hujatan. Tapi makna dan pesan moralnya kena banget," tandas Kinta memberi kesimpulan. (luf)



ANGKAT MASALAH AKTUAL SECARA NAKAL


......setuju buku ini adalah ensiklopedi mini kehidupan sosial kita? "Setuju! Baca ini saja kalau mau update info terbaru dengan masyarakat kita," seru Zulfa
(Radar Jogja, Juni 2009)


Tuntutan hidup saat ini sudah sedemikian tingginya. Waktu 24 jam dianggap kurang untuk mengembangkan bisnis dan usaha. Hasilnya, tidak ada waktu tersisa untuk mengamati fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi.

Rasanya wajar untuk merasa kasihan kepada golongan masyarakat seperti ini. Dinamika masyarakat dan isu sosial berkembang sangat cepat. Bila terlalu sibuk mengurusi pekerjaan, kita bisa ketinggalan berita!

Untungnya, ada cukup banyak penulis yang meluangkan waktu (atau sengaja menyediakan waktu) untuk memahami dan "mencatat" gejala perubahan sosial di masyarakat. Lewat karya mereka, kita yang ketinggalan bisa membaca "resume" perkembangan sosial melalui sebuah buku!

Beberapa buku hadir dengan packaging yang cukup catchy. Sengaja mengangkat isu yang dulunya dianggap tabu dengan cover yang "menantang dan gaya bahasa cenderung vulgar pembaca tentu pernah akrab dengan karya-karya semacam itu.

Tapi, seberapa dalam karya bombastis macam itu bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya ??

Jujurnya, tidak banyak yang bisa disampaikan kecuali celoteh nakal dan cerita yang hanya berpusat pada satu topik. Berangkat dari apatisme semacam itu, buku Miskin Tapi Sombong karya Iwan "Bung Kelinci" Sulistiawan lumayan mengejutkan. Isinya ringan, singkat, namun sarat makna. Yang paling penting, dia tidak terjebak pada vulgarisme dan ide-ide yang stagnan.

Hampir semua masalah sosial dipotretnya. Mulai dari kelakuan para pejabat yang korupsi, rendahnya kepedulian pada anak yatim, sampai budaya gengsi yang makin lama makin terlalu. Semua diceritakan dalam diksi yang sesederhana mungkin. Remeh tapi dalam. Singkat, tapi bermakna.

Simak saja potongan cerita Baru Rencana yang menceritakan kisah seorang pimpinan yang terkena sindrom orang kaya baru.

Lalu kau rogoh hape-mu
Akh bosan
Model lawas kemampuan terbatas
Kau rasa kau harus menggantinya dengan yang berkelas
Agar dalam perjalanan, kau bisa internetan
Lalu kau perhatikan rumahmu
Akh bosan
Lalu kau tengok mobilmu
Akh bosan
Lalu kau tengok istrimu
..............................................
.............................................

Ah, sungguh banyak masyarakat yang cenderung lupa daratan bila sudah sukses. Diskusi geng book club minggu ini banyak membahas gaya unik Iwan dalam menyampaikan semua ide dalam bahasa singkat. Bisa dibilang, buku ini adalah kumpulan kritik manis lewat baris. Duty Millia Kintamani mengawali diskusi dengan menyatakan sedikit rasa terkejutnya. "Sampulnya seperti buku anak-anak sih. Aku kira isinya lucu, ternyata tidak," papar Kinta, panggilan akrabnya.

Erni Yuli Aryanti lain lagi. Sebagai mahasiswa sastra, dia langsung tertarik dengan judulnya. "Miskin tapi sombong? Setahuku, miskin itu bukan padanan sifat yang match dengan sombong. Makannya aku langsung tertarik. Setelah membaca pengantar dari Jaya Suprana, aku baru ngeh apa maksudnya miskin tapi sombong," terang gadis berperawakan imut ini.

Dia juga merasa sebagian puisi dalam buku ini ditulis cukup bagus. Bahasanya tidak ndakik-ndakik, tapi maknanya tetap dalam. "Biasanya puisi kan identik dengan bahasa yang tinggi. Tapi ini tidak," tambahnya.

Yuyun tidak tahu banyak soal kaidah-kaidah puisi. Baginya, dalam membaca buku, yang paling penting bisa dinikmati atau tidak. pesan yang disampaikan bisa dipahami pembaca atau tidak. lantas, apakah buku ini berhasil menyampaikan pesannya?

"Berhasil banget. Aku jadi merasa lebih beruntung. Di luar sana, banyak jenis kehidupan lain yang benar-benar berat dan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya," tutur Yuyun.

Meski demikian, buku ini tidak hadir dengan tujuan menggurui. "Ini hanya berupa pemaparan saja. Apakah itu dinilai baik dan buruk, terserah pembaca," sambung Zulfa Amilia. Misalnya, Zulfa sebenarnya kurang sepakat dengan beberapa kisah sedikit porno yang ada dalam buku ini. "Rasanya kok kurang sreg saja ya?" ujarnya.

Tapi, dia maklum karena kisah-kisah tentang homoseksual atau seks bebas memang sudah menjadi bagian dari masyarakat kita. "Intinya, kita tidak bisa tutup mata dengan fenomena sosial yang ada. Toh pada akhirnya, kita harus akui juga, masyarakat kita tidak hanya melakukan hal baik, tapi juga hal yang kita anggap nggak bener," papar Yuyun menanggapi.

Lalu, apakah kelima gadis ini setuju buku ini adalah ensiklopedi mini kehidupan sosial kita? "Setuju! Baca ini saja kalau mau update info terbaru dengan masyarakat kita," seru Zulfa. (luf)

Friday, June 12, 2009


KETIKA ORANG MISKIN HIDUPNYA MENDERITA

Semua dikupas satu-persatu agar pembaca tergugah dan tak melewatkan barang satu pun isi buku untuk dibaca.
(Erick Purnama Putra, Harian Bhirawa-Malang, Juni 2009)


Dewasa ini ketika kemodernan semakin kasat mata dan mudah dijumpai simbol kemakmuran, seperti gedung bertingkat menjulang tinggi hingga sarana transportasi modern, ternyata di sisi lain kemiskinan juga tak kunjung hilang.

Meskipun saat ini makin banyak orang yang mengklaim peduli dan berjuang untuk mengangkat harkat dan derajat rakyat kecil, orang pinggiran, atau pun masyarakat marjinal. Namun sebenarnya belum aja yang ikhlas mengabdi demi mengentaskan kemiskinan. Sehingga kemiskinan dan kebodohan jumlahnya terus bertambah.

Berangkat dari fenomena itu, Iwan Sulistiawan yang pendidik dan seniman berupaya membangun empati dengan menghadirkan kisah seru yang sering terjadi di sekitar kita, terutama penderitaan dan ketidakadilan yang kerap diterima kelompok tak mampu yang tertuang dalam buku kumpulan kisah fiksi singkat.berjudul Miskin Tapi Sombong Buku ini menceritakan ketidakberesen orang miskin yang identik dengan kaum hina atau pemalas kerjanya hanya jadi benalu orang-orang kaya. Bahkan menurut Jaya Suprana. dalam pengantar buku ini menilai jika judulnya dinilai paradoksal.agar, miskin yang diulas dalam buku tak ada yang menggambarkan sifat kesombongan malah keprihatinan akibat menerima sikap dipersalahkan maupun dipandang sebelah mata Jika pun ada hanya sebuah bentuk sebuah luapan gengsi dari sifat sombong. meskipun buku ini berisi cerita fiksi singkat, namun bukan berarti pembaca tak menemukan sebuah penyegaran suasana sebagai barang yang dicari. Namun,akan banyak ditemui sebuah wacana bagus yang mengiris hati dan sembilu sebab banyak cerita yang mengundang kekaguman dan keprihatinan akibat keadaan orang miskin yang selalu tersisihkan.

Untuk memulai ulasan kisah penderitaan kaum papa, penulis mengingatkan dengan pertanyaan, benarkah politisi sungguh peduli dan berjuang untuk rakyat miskin dalam kampanyenya? Atau pernahkah kita mencoba membayangkan apa rasanya jadi orang kecil? Tentu sebuah kalimat refleksi yang akan menyadarkan individu untuk segera 'menginjak bumi' agar segera menilai sikap kita selama ini kepada rakyat miskin.

Karena itu, beragam kisah singkat dalam buku ini akan membawa pembaca pada empati dan sampai pada kesimpulan, ternyata jadi orang susah itu 'sangat susah'. Pasalnya fakta membuktikan masih banyak rakyat miskin yang hidupnya serba kekurangan dan tak mendapatkan pelayanan memadai ketika mengurus kesehatan maupun fasilitas publik lainnya yang di disediakan pemerintah. Untuk itu, kita berharap bisa semakin ingat dan peduli jika di lingkungan tempat tinggal masih banyak orang yang hidupnya tak lebih baik dari kita. Dan seyogyanya rasa syukur selalu terucap dari bibir sebagai wujud refleksi diri sebab diberi karunia kehidupan lebih baik oleh Tuhan.

Penulis yang dosen nyentrik ini melengkapi bukunya dengan banyak kisah yang terjadi pada wong cilik, mulai dari yang bertema politik, agama, plesetan dongeng sampai masalah perselingkuhan. Semua dikupas satu-persatu agar pembaca tergugah dan tak melewatkan barang satu pun isi buku untuk dibaca.

Seperti kisah kehidupan karyawan miskin kebingungan setengah mati akibat pada hari dimana gaji seharusnya bisa diambil, si istri terus menanyakan kapan bisa membawa sang bayi yang mengalami demam tinggi hingga harus dibawa ke klinik untuk diperiksa dokter. Dengan kondisi cemas berangkatlah sang bapak ke kantor untuk bekerja sembari menunggu gajian bulanan. Setiba di kantor terpampang pengumuman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, tertulis "Manajer Sedang ke Luar Kota dan Urusan Gaji Bisa Diambil Hari Jumat." Padahal saat itu masih hari Rabu dan perlu dua hari me¬nunggu duit, sementara pengobatan kesehatan anak tak bisa ditunggu k a r e na bisa berbahaya. Kondisi itu jelas membuat hati trenyuh.

Ada pula seorang guru yang setiap sorenya harus tarik omprengan dan kucing-kucingan dengan polisi. Tujuannya hanya satu, yakni mendapat uang tambahan sebagai sarana menyambung hidup keluarga agar dapur tetap mengepul. Karena pendapatan dari mengajar tak mencukupi untuk biaya menghidupi keluarga, jadinya 'nyambi' terpaksa dilaksanakan.

Cerita menggelitik lainnya tersaji dari peristiwa seorang ibu yang harus opname di rumah sakit tua sudah begitu bertempat di bangsal kumuh pula untuk menjalani pengobatan akibat kanker paru dan hati yang menggerogoti kesehatannya. Karena segan un¬tuk merepotkan dokter maupun suster, sang anak yang berbakti dengan telaten mengurus dan menjaga ibunya selama berbaring di situ. Saat nafas sang ibu tersengal-sengal dan dalam kondisi panik si anak bertanya pada dokter jaga, malah hardikan yang diterima. Pasalnya si dokter merasa tidurnya terganggu akan kedatangan si anak tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata sebabkan menjadi pasien Asura Kesehatan (Askes) yang diidetikkan dengan warga miskin hingga malah dinilai sudah unti oleh dokter itu karena ibunya rawat di rumah sakit dengan pemerintah. Karena itu, anak yang berbakti tadi mencaci maki dirinya sendiri dalam hati mengapa hai menjadi pengguna Askes.

Tetapi ada juga cerita menggelikan sekeluarga miskin akan melakukan reuni sekolah. Tak ingin kehilangan wibawa di mata teman-teman maka untuk ke tujuan tempat acara harus menyewa taksi supaya tak dinilai turun derajat. Alhasil, karena ongkos mahal, belum sampai tempat tujuan harus turun setelah uang di kantong semakin menipis. Payahnya, untuk ongkos pulang saja belum tentu mencukupi untuk membayar angkutan umum.

Kehadiran buku ini semoga menguatkan ketabahan hati insan manusia sebab di sisi lain pelajaran berharga yang bisa dipetik dari beberapa kisah ketangguhan kaum miskin dalam mengarungi kehidupan.




Monday, May 18, 2009




TERTAWAKAN KESOMBONGAN, GELITIK KEMISKINAN

Anda tak perlu menelaah dalam-dalam untuk memaknai isinya, cukup baca dan nikmati saja. Dijamin terhibur karena isinya mampu membuat Anda terkekeh bahkan airmata meleleh.
(Wasis Wibowo, Seputar Indonesia, Mei 2009)


Hakikatnya kesombongan yang ditampilkan seseorang atau sekelompok masyarakat pasti akan selalu menghadirkan sikap perlawanan dari orang lain atau kelompok lain. Bisa berupa sikap mengucilkan, mencibir, membenci, bahkan yang paling radikal menimbulkan pemberontakan dan perlawanan frontal. Begitu pula halnya dengan kemiskinan. Nasib yang tak beruntung dari seseorang atau sekelompok masyarakat ini bakal menerbitkan iba, belas kasih, bahkan tetesan airmata dari penjuru jagat.

Lalu, apa jadinya bila kesombongan--sebuah sifat yang begitu dibenci seluruh makhluk di muka bumi dan dimurkai Sang Pencipta--malah menghadirkan tawa? Atau kemiskinan yang seharusnya menyayat-nyayat hati menjadi fenomena yang menggelitik? Tampaknya hal itu bakal dianggap sebagai sebuah kebohongan atau bahkan fenomena yang tak mungkin terjadi. Namun, semua itu dibuktikan Iwan Sulistiawan yang dijuluki Bung Kelinci melalui buku yang ditulisnya berjudul Miskin Tapi Sombong. Dalam buku mungil berisi 202 halaman yang diterbitkan Ufuk Publishing House ini, menampilkan anomali kisah kesombongan dan kemiskinan yang terjadi di masyarakat Indonesia.

Ketika seseorang yang menunjukkan kesombongannya, malah tampak konyol sehingga mengundang tawa orang di sekitarnya. Seperti pada tulisan berjudul Ditelepon Kawan Lama, mengisahkan seseorang yang ketika menerima telepon sahabat lamanya mengaku sebagai eksekutif dan sedang makan siang menu lobster di restoran mewah bersama kolega bisnis. Padahal temannya menelepon tak jauh dari warung pecel lele tempat dia makan siang sendirian.
Atau pada artikel berjudul Di SD Bilingual. Ketika guru menanyakan hobi siswanya dengan bahasa Inggris, semua tak mau kalah gengsi. Sampai ada seorang siswa yang mengaku hobi main golf, sepakbola, basket dan hokey. Tentu hobi luar biasa bagi seorang siswa SD, apalagi beberapa olahraga tak ada di Indonesia. Ketika ditanya gurunya bagaimana dia bisa melakukan semua hobinya, dengan enteng dijawab I play them in my PlayStation.

Begitu juga dengan serangkaian kisah kemiskinan yang menjadi sangat menggelitik. Pada artikel berjudul Nyambi, menceritakan perjuangan sopir omprengan yang mati-matian menghidupi keluarganya setiap sore sampai malam. Padahal pagi harinya, dia harus mengajar, menjadi seorang guru. Kisah lain yang cukup menarik pada tulisan berjudul Jadwal Gajian? yang menceritakan seorang pegawai rendahan yang bergegas ke kantor untuk mengambil uang gajian untuk mengobati anaknya yang sakit. Tak dinyana, sesampai di kantor, jadwal gajian ditunda karena alasan sepele, atasannya libur keluar kota.

Banyak lagi kisah yang menggelitik dan unik dalam buku baru yang berisi sekitar 80 judul. Anda tak perlu menelaah dalam-dalam untuk memaknai isinya, cukup baca dan nikmati saja. Dijamin terhibur karena isinya mampu membuat Anda terkekeh bahkan airmata meleleh. Bukan hanya tragedi kemanusiaan yang direkam secara apik dengan bahasa ala pantun yang menarik. Ada plesetan yang menyerempet-nyerempet cerita soal seks sehingga membuat pipi merona, tanpa jatuh menjadi kisah jorok atau pornografi. Ada pula kisah yang bernuansa religi yang dikemas ringan dan menarik sehingga mampu membuat pembaca tersenyum simpul.

Walaupun tampak sebagai kisah ringan yang menghibur karena menyoroti tingkah masyarakat yang unik dan menggelitik, sejatinya penulisnya memahami kondisi masyarakat yang sebenarnya. Bagaimana kemiskinan yang menimpa bukan akibat kemalasan, tetapi seolah dirancang secara struktur. Begitu pun dengan kesombongan yang sengaja dilakukan dalam keadaan sadar, bukan karena alpa. Melalui buku mungil ini, penulis mengajak kita bercermin dengan kocak. Tanpa harus menceramahi, tanpa menggurui, dan tanpa memerintah. Namun efeknya cukup dalam bahwa selama ini kesombongan kita merupakan guyonan dan polah kita bak pelawak.

Soal kemiskinan, kita tampak senang membuat orang lain susah dan pura-pura menolong bak dewa turun dari langit. Meski ada juga yang mengenaskan, betapa orang miskin pun ternyata ikut terpapar kesombongan.

(Wasis Wibowo)




Tuesday, May 12, 2009



MENGETUK KEPEDULIAN CARA IWAN

Melalui Miskin Tapi Sombong ia mengetuk kepedulian itu melalui puisi, pantun dan cerpen super pendek dengan bahasa yang ringan. Bukan imbauan tapi perenungan. Ringan tapi penuh dengan secara tak sadar tumbuh setelah membaca buku ini, empati.
(Majalah Sharing, Mei 2009)

Judul buku : Miskin Tapi Sombong, kisah-kisah menggelitik wong cilik
Penulis : Iwan Sulistiawan
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan I : April 2009
Tebal : 204 halaman

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis menyatakan bahwa kemiskinan itu akan membawa seseorang pada kekufuran. Bukan sekedar peringatan bersifat normatif tapi adalah sebuah tesis yang sesuai dengan fakta dan terbukti sepanjang sejarah. Kemiskinan dekat dengan putus asa dan senantiasa diuji dengan ketidaksabaran, mudah marah dan pada gilirannya, “mempertanyakan” keadilan takdir.

Dari hadis Nabi di atas dapat dipahami betapa berbahayanya kemiskinan. Orang miskin amat mudah terjebak pada tindak kejahatan dan kekufuran. Tak salah, jika Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan tentang bahaya kemiskinan, “Jika kemiskinan itu berbentuk tubuh manusia maka aku akan membunuhnya.”

Dalam buku Miskin Tapi Sombong, Kisah-kisah menggelitik Wong Cilik, Iwan Sulistiawan, salah satu dosen teladan DKI Jakarta tahun 2006, mengaduk-aduk kemiskinan dengan sesuatu yang paradoksial.; membenturkan (atau menggandengkan) kemiskinan dengan kesombongan. Mengutip Jaya Suprana yang memberi pengantar dalam buku ini, sombong dalam buku ini jangan diartikan sebagai tinggi hati, karena kata sifat ini sangat persepsional.

Dalam keseharian kita, lebih lazim bagi orang kaya bersikap sombong. Ketika seorang miskin berlagak sombong, maka lebih tepat dibaca sebagai “biar miskin tapi percaya diri.” Walaupun memang, ada juga orang yang secara ekonomi tidak beruntung namun sombong dengan kemiskinannya, dan menggunakan kemiskinan sebagai tameng agar orang kasihan kepadanya. Namun kondisi paling ideal: si kaya tidak sombong dan si miskin percaya diri untuk keluar dari belenggu kemiskinannya.

Tapi Iwan tak berpanjang-panjang mengurai soal miskin dan sombong dalam buku ini. Melalui kisah-kisah yang menggelitik dan kadang satir, ia mengajak kita merenungi makna hidup dan mensyukuri apa pun yang kita terima.

Kemiskinan pada dasarnya memiliki potensi untuk menghambat terwujudnya idealisasi maqosid al-syari’ah, yang merupakan standar ideal pencapaian kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di balik segala aturan-aturan yang telah disyariatkan. Karena itu, Islam mewajibkan setiap Muslim untuk berpartisipasi menanggulangi kemiskinan sesuai dengan kemampuan dan porsi masing-masing. Anjuran itu berlaku juga bagi seseorang yang tidak mempunyai materi, yaitu dengan menyumbangkan pemikiran dan simpatinya.

Keterlibatan seorang Muslim dalam memberantas kemiskinan adalah salah satu bentuk tanggung jawab pribadi Muslim dalam menyucikan jiwa, harta, serta keluarganya. Di sinilah kemudian Islam sangat menekankan solidaritas sosial untuk kesejahteraan bersama.

Solidaritas sosial memang tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Namun yang utama adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial bagi setiap individu yang mempunyai kecukupan ekonomi.

Iwan tidak perlu menulis esai panjang tentang solidaritas sosial ini. Tak perlu menjelaskan kepada si kaya bahwa di balik tembok rumahnya, di ujung jalan kantornya, atau di samping mobil licinnya di lampu merah masih banyak kaum papa yang perlu bantuan.

Melalui Miskin Tapi Sombong ia mengetuk kepedulian itu melalui puisi, pantun dan cerpen super pendek dengan bahasa yang ringan. Bukan imbauan tapi perenungan. Ringan tapi penuh dengan secara tak sadar tumbuh setelah membaca buku ini, empati. Tepatnya, Iwan mengajak Anda untuk bercermin pada diri Anda sendiri. “Anda” dalam buku Iwan menjelma menjadi banyak sosok; direktur yang ketinggalan charger ponsel (padahal ponsel vital buatnya untuk ….berselingkuh!), Pak Yudha yang riya, atau teman-teman Wahyu yang mengolok-olok kemiskinannya.

Singkat kata, Iwan secara tidak langsung ingin mengingatkan kita: jadilah orang yang bermanfaat dalam hidup yang singkat ini. Siapapun Anda, kaya atau miskin, jadilah bagian dari solusi, bukan malah menambah masalah. “Hamba yang paling dicintai adalah hamba yang paling bermanfaat bagi orang lain….” (HR Thabrani) . SS

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes