Showing posts with label Pengakuan Bandit Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Pengakuan Bandit Ekonomi. Show all posts

Monday, July 20, 2009



MEMBONGKAR KEJAHATAN JARINGAN INTERNASIONAL

Melalui alur tulisan yang tak membosankan dan mudah dimengerti, John Perkins membongkar kejahatan Jaringan internasional atas upaya pemiskinan negara-negara dunia ketiga.
(Syifa Amori, Jurnal Nasional, Juli 2009)

Buku berjudul asli Confession of an Economie Hit Man ini kabarnya sempat dibatasi peredarannya. Bahkan penulis yang kemudian mendapat penghargaan New York Times Best selling Author ini diancam akan dibunuh karena memublikasikannya.

Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Membongkar Ke¬jahatan Jaringan Internasional" ini berisi kesaksian seorang mantan bandit yang bicara blak-blakan tentang sebuah kejahatan global. Melalui alur tulisan yang tak membosankan dan mudah dimengerti, John Perkins membongkar kejahatan Jaringan internasional atas upaya pemiskinan negara-negara dunia ketiga. Sebut saja Tibet, Kongo, Libanon, Venezuela, Irak, dan lain-lainnya. Ditambah perusahaan besar yang kerjanya memeras keringat pegawainya. Isinya sungguh mencengangkan.

Indonesia sendiri dijarah, kekayaannya dihisap habis, potensinya dilemahkan, posisi tawamya di hadapan lembaga international menjadi tak berharga, rakyatnya dimiskinkan, dan hanya menguntungkan segelintir orang yang menjadi perantara jaringan hitam ini.

Publisher Week, menilai narasi Perkins yang kembali dituliskan ini mencengangkan sekaligus meresahkan. la menulis mengenai sepak terjang pemerintah Amerika dalam mendukung bisnis di negaranya, namun memicu kekisruhan di seantero dunia. Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan korporatokrasi yaitu Jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Buku ini adalah buku keduanya, setelah Confessions of an Economic Hit Man (2004). Boleh dibilang buku ini merupakan lanjutan buku pertamanya tersebut. Perkins sendiri menyebut dirinya sebagai bandit ekonomi (Economic Hit Man; EHM).

H Ufuk/Syifa


Monday, May 04, 2009


MEMBONGKAR KONSPIRASI AMRIKA SERIKAT

Sebagai mantan pelaku kejahatan korporatokrasi, dia juga menawarkan solus
(Kompas, Mei 2009).

Tipu muslihat bandit ekonomi dari negara adidaya Amerika Serikat begitu memukau negara berkembang. Caranya, memberi bermacam kemudahan, terutama dana pembangunan. Indonesia yang kaya sumber daya alam, menurut pengakuan John Perkins, menjadi korban pertama.

Presiden Soekarno melararig praktik korporatokrasi Amerika Serikat di Indonesia melalui undang-undang yang menegaskan pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara. Sejumlah konsesi pun dibekukan. Pada era Orde Baru, korporatokrasi leluasa beroperasi di Indonesia. Bantuan mengalir dalam bentuk dana pembangunan, kemanusiaan, bahkan bantuan militer. Semua itu kamuflase untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Perkins mengungkap pengakuan bandit ekonomi, reporter, sukarelawan korps perdamaian, eksekutif korporat, Bank Dunia, IMF, dan pejabat pemerintahan. Sebagai mantan pelaku kejahatan korporatokrasi, dia juga menawarkan solusi.



Sunday, May 03, 2009


Oleh
Fenny Aprilia

Judul Asli : The Secret History of The American Empire; Economic Hit Men, Jakals and The Truth About Global Corruption
Penulis : John Perkins
Penerjemah : Wawan Eko Yulianto & Meda Satrio
Penerbit : Ufuk Press
Tebal Buku : xxvi, 465 halaman
Tahun Terbit : Cet. I, Maret 2009
ISBN : 602-8224-15-4


....melalui buku ini, Perkins tak lagi sekadar mengaku bahwa ia pernah menjadi serigala ekonomi; namun ia tetap melolong untuk mengajak seluruh umat manusia menjadikan bumi sebagai rumah yang nyaman bagi semua makhluk.
(Fenny Aprillia, HU Sinar Harapan, Mei 2009)

Publik dunia, di tahun 2004, terperanjat ketika John Perkins menerbitkan buku berjudul Confessions of An Economic Hit Man (CAEHM). Melalui buku tersebut, Perkins membeberkan kerjanya sebagai ekonom perusak yang menguntungkan negara-negara maju dan merugikan negara miskin. Ia menjadi salah satu aktor utama dalam proses penghisapan negara miskin melalui politik utang dan neoimperialisme.

Sejak buku itu terbit, Perkins pun kerap menerima ancaman pembunuhan dan tawaran uang jutaan dolar agar ia berhenti menulis dan berceramah tentang kejahatan korporasi internasional. Tapi, Perkins tak pernah mau bungkam. Ia tetap setia membongkar “tindakan kriminal” yang dilakukan oleh para agen ekonomi-imperialis. Keberhasilan luar biasa yang diperoleh CAEHM, membuat Perkins sering diundang untuk mengisi ceramah di berbagai tempat. Sambil berceramah, ia pun kerap melakukan dialog untuk menajamkan pemikiran kritisnya tentang kejahatan yang ditimbulkan globalisasi, utang internasional dan “kapitalisme-jubah-baru”. Katanya (hal:xxv), “Aku telah berjanji untuk menulis sebuah buku lagi, untuk menyoroti kerusakan yang ditimbulkan orang-orang sepertiku dan memberi harapan baru akan sebuah dunia yang lebih baik.” Dan benar saja, Perkins membuktikan janjinya di buku yang berjudul asli The Secret History of The American Empire dan terbit pertama kali tahun 2007.

Rasanya, tiap orang sepakat jika pemerintah Amerika Serikat (AS) tergambarkan dalam satu kalimat ini: “Pemerintah yang selalu membangun negeri dan memenuhi kesejahteraan rakyatnya sembari memicu keresahan, kekisruhan bahkan kemiskinan di seluruh dunia.” Kalimat tersebut muncul sebagai kesimpulan atas penjelasan Perkins tentang negeri yang dihuninya sejak lahir itu. Amerika Serikat, di mata Perkins, tengah giat bermetamorfosis menjadi sebuah Imperium.

Sembari mempromosikan buku CAEHM, sekitar tahun 2005-2006, Perkins pun rajin berdiskusi untuk memperoleh ciri-ciri dari sebuah Imperium. Ia berhasil memformulasikan ciri-ciri Imperium sebagai berikut: 1) mengeksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi, 2) menghabiskan sumber daya dalam jumlah yang tidak sebanding dengan populasi penduduknya, 3) memiliki militer yang canggih dan besar yang dapat digunakan ketika upaya mendominasi secara halus sebuah negara menemui kegagalan, 4) menyebarkan bahasa dan budaya ke seluruh penjuru negeri yang berada di bawah pengaruhnya, 5) menarik pajak bukan hanya dari warganya sendiri, tetapi juga dari orang-orang di negara lain, dan 6) mendorong penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.

Ciri-ciri dari Imperium itu memang tidak hanya mengarah kepada AS saja, sebab usaha mendirikan Imperium telah dilakukan oleh berbagai negara-bangsa sejak zaman dahulu. Perkins meyakinkan pembaca bahwa AS menggunakan kaidah Imperium itu dalam pengertian modern. Maka, kerja-kerja para “serigala ekonomi” merupakan bagian terpenting dalam episode pembangunan Imperium AS. Namun, ciri-ciri Imperium itu tidak berhenti pada enam bentuk saja. Ciri ketujuh ialah Imperium dipimpin oleh seorang penguasa atau raja yang menguasai pemerintahan dan memimpin rakyat secara absolut. Pemerintahan di AS boleh saja berganti ketika National Election dihelat tiap empat tahun sekali. Hanya saja, para korporasi tetaplah menjadi dalang untuk tiap kebijakan yang dilahirkan oleh presiden terpilih, entah itu berasal dari Partai Demokrat atau Partai Republik. Kekuasaan korporatokrasi yang menjadi ruh pemerintah AS tidak berbatas waktu. Selain itu, para korporasi kebal hukum dan tidak tunduk kepada kehendak rakyat.

Perkins (hlm 57-59) mengisahkan kegagalan dari korporasi yang berdomisili di AS. Misalnya, Stone and Webster Engineering Company (SWEC) yang mengalami kebangkrutan di tahun 2006. The Boston Globe edisi 15 Maret 2006 mengungkap kehancuran dari perusahaan yang berdiri sejak tahun 1889 itu karena adanya “memo kritis yang membeberkan suatu usaha rahasia perusahaan secara detail, yakni membayar suap senilai 147 juta dolar kepada seorang kerabat Presiden Soeharto untuk mengamankan kontrak terbesar sepanjang sejarah Stone & Webster.”

Perkins dalam CAEHM mengisahkan bahwa seorang petinggi SWEC, pada tahun 1995, pernah meminta pendapatnya tentang teknik memuluskan proses pembangunan kompleks pabrik bahan kimia di Indonesia. Perkins, yang ketika itu masih belum bertobat sebagai serigala ekonomi, mengajukan satu usul: “Suap.” Kemudian, ia menjelaskan bahwa Presiden Soeharto dan kroninya senang menerima suap dalam bentuk biaya pendidikan untuk anak-anaknya, tender dengan harga di luar batas normal, fasilitas mewah atau berdolar-dolar uang cash. Tak dinyana, usul Perkins—yang dijalankan oleh pihak SWEC itu—malah membuat korporasi berumur lebih dari seabad itu wafat.

Namun, masih begitu banyak korporasi yang hidup sampai kini dan mengancam kelestarian lingkungan hidup, mengacaukan kerukunan antar manusia hingga memiskinkan penduduk di suatu negara secara sistemik. Perkins tidak mengajukan usulan jalan kekerasan untuk menumbangkan Imperium AS yang dijalankan oleh korporatokrasi itu. Masih tersedia banyak jalan tanpa-kekerasan untuk melawan Imperium AS dan melindungi bumi dari kepunahan yang diakibatkan oleh korporatokrasi. Akhirnya, melalui buku ini, Perkins tak lagi sekadar mengaku bahwa ia pernah menjadi serigala ekonomi; namun ia tetap melolong untuk mengajak seluruh umat manusia menjadikan bumi sebagai rumah yang nyaman bagi semua makhluk.

Peresensi adalah alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Penerjemah dan penyunting buku lepas.




Copyright © Sinar Harapan 2003

Thursday, November 22, 2007

Sang Bandit Menemukan Nurani

JUDUL BUKU
Pengakuan Bandit Ekonomi, Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia&Negara Dunia Ketiga

PENULIS
John Perkins

PENERJEMAH
Wawan Eko Yulianto & Meda Satrio

PENERBIT
Ufuk Press, Jakarta

CETAKAN
Agustus 2007

TEBAL
xxvi + 465 Halaman


“Dalam buku terbarunya The Secret History of the American Empire (diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi oleh Ufuk Press) Perkins lebih telanjang membuka kedok bandit ekonomi. Segala cara ditempuh, mulai perempuan hingga pembunuhan”.
(Indo Pos, 18 November 2007)

ALKISAH, pada 1971, seorang ekonom yang bekerja pada MAIN Boston diutus untuk mengkaji ke-mungkinan pemerintah Soeharto mendapatkan bantuan dana dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan badan pemberi bantuan AS (USAID). Lembaga konsultan ini diorder mengembangkan sistem kelistrikan terpadu yang dapat dimanfaatkan Soeharto dari kroninya menggerakkan industrialisasi, menambah kekayaan dan memastikan dominasi Ame-rika Serikat di Indonesia.

Di mata Washington saat itu, Jakarta merupakan "pagar" untuk menahan meluasnya paham komunisme di Asia Tenggara. Posisi politik Soeharto yang keras terhadap komunisme segaris dengan kebijakan politik Amerika. Apalagi Indonesia sangat strategis, terutama untuk memasok kebutuhan minyak negeri Paman Sam. Pre-siden Richard M. Nixon meng-inginkan Soeharto melayani Washington seperti halnya Shah Pahlevi di Iran yang melenggang ke tampuk kekuasaan Iran setelah Mossadegh digulingkan.

Ekonom ini dibantu jaringannya di birokrasi berhasil menjerat Soeharto. Dolar pun deras masuk ke tanah air, sehingga membikin Indonesia terjerembab utang luar negeri. Kompensasinya Soeharto memberikan kontrak karya dengan sistem PSA (profit sharing agreement) kepada korporasi asal AS. Hingga saat ini, perusahaan seperti Freeport McMoran hingga ExxonMobil menikmati sumber daya alam Indonesia mulai Aceh, Papua hingga Blok Cepu. Dolar yang dibawa pulang korporasi AS. Itu jauh lebih tebal ketimbang yang masuk ke kas pemerintah.Begitulah sepak terjang John Perkins, seorang the ecomic hitman (bandit ekonomi) yang menyebut "Indonesia adalah korban pertama saya. Bandit ekonomi adalah "umpan" untuk membuka proyek-proyek yang didanai Bank Dunia, IMF dan lembaga keuangan lain di negara-negara berkembang. Tentu saja tak ada "makan siang gratis", karena negara tersebut wajib memberikan proyek itu kepada korporasi-korporasi Amerika Serikat. Dus, mengamankan kepentingan AS dari menyewakan lokasi untuk pangkalan militer atau mendukung negeri adidaya itu dalam voting di Dewan Keamanan PBB. Ringkas-nya, bandit ekonomi mengabdi pada tujuan membangun imperium Amerika.

Dalam buku terbarunya The Secret History of the American Empire (diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi oleh Ufuk Press) Perkins lebih telanjang membuka kedok bandit ekonomi. Segala cara ditempuh, mulai perempuan hingga pembunuhan. Yang terakhir ini adalah operasi khusus yang dikerjakan para "srigala" dukungan CIA (Dinas Rahasia Amerika). Perkins menyebut me-reka "jackal", seorang yang melakukan perbuatan terlarang atau melanggar hukum atas perintah orang lain. Korbannya berderet dan terbesar adalah pemimpin-pemimpin Afrika. Tersebutlah Presiden Ekuador Jaimes Roldos, Presiden Panama OmarTorrijos atau pejuang lingkungan Nigeria Saro Wiwa.

Perkins memperpanjang "pengakuan dosa"-nya dalam buku ini. Paling tidak 23 negara di Asia, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika. Akibat kerja bandit ekonomi itu, kini lebih dari separo populasi dunia harus bertahan hidup dengan kurang dari 2 dolar sehari (jumlah itu kira-kira sama dengan penghasilan riil yang mereka peroleh pada tiga puluh tahun lalu). Lebih dari dua miliar penduduk dunia tak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas mendasar, termasuk listrik, air bersih, sanitasi, hak atas tanah, telepon, polisi, dan perlindungan dari kebakaran.

Data fiktif para bandit ekonomi menyumbang atas kegagalan proyek-proyek yang disponsori Bank Dunia, antara 55-60 persen versi penelitian Joint Economic Comittee dalam Kongres AS. Sebaliknya, biaya cicilan utang Dunia Ketiga lebih besar daripada keseluruhan pengeluaran mereka untuk kesehatan dan pendidikan. Utang Dunia Ketiga pun melonjak hingga mendekati empat triliun dolar AS.

Yang membedakan dengan Confession of an Economic Hitman, buku pertamanya, Perkins kini lebih banyak mengeksploitasi nurani yang diacuhkannya sejak ia menerima tawaran Claudine, mentornya di MAIN Boston, menjadi bandit ekonomi pada usia 26 tahun. Di bab-bab akhir buku ini, Perkins tersentuh saat menyaksikan rakyat Ekuador harus antre panjang di bawah guyuran hujan lebat hanya untuk membayar listrik; warga kota Cocabamba harus membayar rekening air minum setelah Bank Dunia dan IMF pada 1991 mendesak Bolivia menjual sistem air minum ke Bechtel (perusahaan teknik raksasa asal Amerika); atau nasib perempuan peng-idap lepra yang tak memiliki akses terhadap kesehatan di pinggir sebuah sungai di Jakarta yang kotor.

Bentuk konkret kembalinya nurani itu misalnya, Perkins kini lan-tang menyeru kepada warga bumi ini untuk kritis terhadap sepak terjang korporasi Amerika dan negara barat lainnya. Seruan itu mirip para pengkhotbah politik hijau, penyantun ekonomi lokal, penga-yom kemanusiaan dan penentang eksploitasi manusia.
Tengoklah daftar seruannya (him. 443-445): Berbelanja dengan akal sehat. Jika ada sesuatu yang harus Anda miliki, belilah barang yang kemasan, bahan dasar dan metode produksinya berkelanjutan dan mendukung kehidupan. Lakukan protes menentang perjanjian perdagangan bebas dan pabrik pemeras keringat. Tulis surat untuk memberi tahu Monsanto, De Beers, ExxonMobil, Adidas, Ford, GE, Coca-Cola, Wal-Mart, serta peng-eksploitasi buruh dan perusak lingkungan lainnya mengapa Anda menolak membeli dari mereka.


Daftar seruan—untuk tak menga-takan agenda— itu semakin panjang jika kita membuka situs pribadinya, www. JohnPerkins.com. Tepat di sini, saya mendapati bentuk perlawanan yang kurang otentik dari Perkins. la hanya mengulang sebuah gerakan politik yang disebut Ulrich Beck sebagai subpolitik. Langkah yang kelewat lemah di tengah supe-rioritas korporatokrasi dalam pergaulan global.


Moh Samsul Arifin
Praktisi pertelevisian
Saatnya Perang Melawan Korporatokrasi

Pengakuan Bandit Ekonomi
(Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga)
John Perkins
Penulis : John Perkins
Penerbit: Ufuk Press
Edisi : I. Agustus 2007
Tebal : xxviii + 465 halaman

“Bagi mereka pendapat bahwa teori konspirasi hanya sebuah mitos, kedua buku Perkins bisa meruntuhkan pendapat tersebut. Ada dalang dibalik kejadian besar dunia dan yang terjadi di beberapa negara. Bahkan dalang itu pula yang memainkan peran penting di Indonesia”.
(Media Indonesia, 17 November 2007)

Baru membuka awal buku, pembaca akan dikejutkan dengan sebuah petikan pernyataan menyengat, 'Indonesia akan menjadi korban pertama saya'. Perkins pun membuktikan tekadnya dengan merambah Indonesia pada 1971. Imperium korporatokrasi (koalisi pemerintah, bank, dankorporasi) Amerika Serikat (AS) ditancapkan di negeri ini.

Ada alasan kuat AS mengeksploitasi Indonesia. Negeri ini besar dan memiliki kandungan minyak berlimpah. Indonesia jugabisa menjadi benteng mekarnya komunisme di Asia Tenggara. Yang lebih menyedihkan, penjarahan itu dilakukan melalui kolaborasi kotor dengan orang pribumi sendiri, yakni para penguasa dan kroni-kroninya
.
Perkins telah mengulas tentang Indonesia di buku pertamanya yang laris manis, Confessions of an Economic Hit Man (2004). Namun, sepuluh bab pertama buku kedua ini menyajikan Indonesia dalam gambaran yang lebih 'basah' tentang ketundukan pemerintah Indonesia pada korporatokrasi global.

Kecamannya terhadap lembaga dunia seperti World Bank dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga tidak kalah pedas jika dibandingkan dengan kritik pemenang Hadiah Nobel bidang ekonomi 2001, Joseph E Stiglitz, dalam buku-bukunya, Globalization and Its Discontent (2002) atau The Roaring Nineties: A New History of the World's Most Prosperous Decade (2003). Ia bahkan menyetir pembaca untuk berkesimpulan bahwa tolok ukur keberhasilan pemerintahan Indonesia yang selalu dikam-panyekan adalah suatu bualan (hlm 34).

Meskipun ini adalah buku kedua, pembaca yang belum melahap buku sebelumnya tidak perlu khawatir terpenggal jalinan kisahnya. Perkins cukup cerdik dalam penyajiannya. Sebagian persoalan pokok dan beberapa hal yang diulas di buku sebelumnya juga diuraikan singkat dalam buku ini.

Jika pada buku pertama sistematika ditulis dalam rentang periode waktu dari 1963 hingga 2004 dalam empat bagian, buku ini disajikan dalam pemetaan kisah kejahatan korporatokrasi per kawasan di negara-negara dunia ketiga, yakni Asia, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika.

Di empat kawasan tersebut, AS berusaha menancapkan kekuasaannya dan mengeruk potensi sumber daya alam. Segala cara dilakukan, mulai penyuapan, mengobarkan konflik, hingga bahkan pembunuhan dan invasi militer.

Misi Perkins sebagai seorang konsultan adalah meyakinkan para pemimpin negara dunia ketiga agar mau melayani AS. Jika gagal meyakinkan, konsekuensinya sangat tragis bagi kekuasaan atau nyawa pemimpin negara tersebut. Para jakal akan menggantikan peran Perkins dengan caranya sendiri. Itu yang terjadi pada Arbenz dari Guatemala, Allende dari Cile, Torrijos dari Panama, dan Roldos dari Ekuador yang dibunuh atau digulingkan CIA (him 136).

Terhadap para pemimpin tersebut, Perkins kagum. Termasuk pemimpin lain yang tidak mau tunduk pada ketamakan AS. Begitu kuat keinginan AS untuk memperluas imperiumnya, tidak berarti semua berjalan mulus. Banyak perlawanan, bahkan kegagalan.

Bab demi bab buku ini mampu menyedot penasaran pembaca dan akan memekarkan kebencian terhadap ketamakan korporatokrasi AS. Perkins mengaku hanya mengungkap fakta, tetapi opini dan sikap akan terbentuk di benak pembaca.

Cerita di buku ini bisa jadi hanya sebuah puncak gunung es dari imperium AS yang sebenarnya. Tidak semua bisa diakses Perkins sehingga banyak yang tak terungkap. Bahkan Perkins juga tidak menduga saat seorang pejabat Brasil bercerita bahwa semua partai politik, termasuk kandidat komunis radikal yang sepertinya menentang AS, ternyata juga dikendalikan Washington (him 165).

Semangat perlawanan

Keinginan kuat para pemimpin Amerika Latin untuk melawan AS demi kepentingan bangsanya menjadi cambuk tersendiri bagi Perkins. Di bawah ancaman pembunuhan, Perkins bertekad untuk terus mengumandangkan kepada dunia tentang ketamakan negaranya sendiri
.
Pascapenerbitan buku pertama, banyak yang tergugah. Para bandit ekonomi, jakal, reporter, sukarelawan korps perdamaian, juga eksekutif korporat, Bank Dunia, IMF, dan pejabat pemerintah yang turut aktif terlibat dalam imperium korporatokrasi menemui Perkins dengan pengakuan masing-masing.

Bagi Perkins, ketamakan AS tidak boleh diteruskan. 'Kita haras bertindak, kita harus berubah', ajak Pekins (him xvi). la adalah intelektual yang bertanggung jawab. Untuk menebus kesalahannya, di bagian terakhir buku, iamengobarkan semangat perang melawan korporatokrasi.

Perkins sadar benar kekuatan imperium AS. Tidak gampang melawannya. Tapi di sinilah otak cerdas Perkins. La menggambarkan kisah heroik Jenderal George Washington memimpin pasuka AS melawan penjajah Inggris, imperium terbesar di zaman itu. la ingin mengajak semua orang untuk tidak patah semangat, kekuatan besar tetap bisa dikalahkan
.
Keyakinan lain Perkins adalah bahwa manusia tetap punya nurani. Diantara para pemimpin korporatokrasi masih masih ada yang disenruh kesadarannya. Tidak semuanya rakus. Keyakinan itu bertemu dengan kekuatan dengan kekuata efektif dalam perjuangan, yakni lembaga swadaya masyarakat (LSM)

Dalam balutan kisah yang lebih dramatis dan mencengangkan, buku itu menumbuhkan optimisme perjuangan dan mengajak kita untuk mewariskan dunia yang tidak diceraiberaikan kebencian dan penderitaan, dan yang tidak diporak-porandakan perang dan terorisme.

Bagi mereka pendapat bahwa teori konspirasi hanya sebuah mitos, kedua buku Perkins bisa meruntuhkan pendapat tersebut. Adadalang dibalik kejadian besar dunia dan yang terjadi di beberapa negara. Bahkan dalang itu pula yang memainkan peran penting di Indonesia

Di balik kisat Perkins yang mampu mendidihkan otak kita, buku ini masih menyisakan penasaran. Meskipun buku ini berkisah tentang masa lalu, akan lebih menarik jika dalam pengantar buku disajikan perkembangan kekinian dan (mungkin) prediksi akhir dari pembangkangan yang dilakukan para pemimpin negara dunia ketiga seperti Ahmadinejad (Iran), Fidel Castro (Kuba), Hugo Chavez (Venezuela) atau Evo Morales (Bolivia)

Di beberapa bab awal buku, mungkin pembaca akan kecewa jika ingin menikmati aksi bandit Perkins. Ia hanya memberikan kisah perjalanan di Indonesia, bak orang sedang tamasya. Namun ia mampu mendeskripsikan kondisi sosiokultural Indonesia masa itu

Judul buku Pengakuan Bandit Ekonomi John Perkins (Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga) terasa kurang pas karena judul aslinya adalah The Secret History Of The American Empire;Economics Hitman, Jackals, and The Truth about Global Corruption. Apalagi judul buku versi Indonesia ini sangat mirip dengan judul buku Perkins sebelumnya, Confessions of an Economic Hitman

Munawar Kasan
Koordinator Indonesia Readers Society

Thursday, October 04, 2007

Membedah Lintah Darat

Judul buku : Pengakuan Bandit EkonomiPenulis : John Perkins
Penerbit : Ufuk Press
Tebal : 465 halaman
"Perkins membawa kisahnya jauh lebih hidup sehingga mengusap imajinasi pembaca. Mengajak membayangkan kondisi Jakarta di awal 1970-an. "
(Bisnis Indonesia, Minggu, 30 September 2007)
Sebuah suara dari perwakilan Ufuk Press di ujung telepon membuat saya tertarik untuk segera membaca buku terjemahan John Perkins terbaru, The Secret History of The American Empire: Economic Hit Men, Jackals and The Truth About Global Corruption.
Memang harus diakui magnet Perkins terlalu kuat bagi saya setelah melahap dua buku terdahulunya, Confessions of an Economic Hit Men dan satu buku kolaborasinya dengan A Game As Old As Empire: The Secret of Economic Hit Men and the Web of Global Corruption.
Sayang baru membuka halaman informasi buku saya sudah menemukan kesalahan pengetikan judul asli buku ini. Jackals ditulis Jakals sementara Global ditulis Golbal.
Sempat terbersit bagaimana jika dalam buku yang dialihbahasakan Wawan Eko Yulianto dan Meda Satrio ini bertebaran kekeliruan serupa. Boleh dibilang buku ini pertaruhan bagi pasangan penyunting Mehdy Zidane dan Bahfein Linovar.

Beruntung skeptisme itu tak terbukti. Justru saya kemudian betul-betul tenggelam oleh sihir Perkins sejak paragraf awal bab pertama. Proses alihbahasanya harus diakui sanggup mengiringi kelincahan tutur bahasa asli penulis yang dibawakan sangat naratif.

Kehidupan metropolitan
Menarik karena bab awal buku ini langsung menapak Jakarta, metropol sesak yang sejak dahulu memang padat sesak dan salah urus karena berbagai sebab politik dan ekonomi.
Tanpa banyak basa-basi Perkins membawa pembaca menyelami kehidupan abu-abu ibu kota.
Yang membuat buku ini menyenangkan, Perkins membawa kisahnya jauh lebih hidup sehingga mengusap imajinasi pembaca. Mengajak membayangkan kondisi Jakarta di awal 1970-an.
Sayang pengelanaan Perkins mendadak harus terhenti dalam perjalanan ke Sulawesi dan langsung melompat pada kekejaman korporasi sepatu Nike pada buruhnya. Perkins masih menelanjangi Indonesia hingga bab 9.
Setelah itu kisah Perkins lebih banyak pada pengelanaan, perenungan akan sintesis dan antitesis teori dan pengalaman yang dia ketahui dan keadaan di tempat-tempat yang di kunjungi. Mulai dari dataran tinggi Nepal hingga tandusnya gurun Afrika. Alur cerita masa kini dan masa lalu saling berhimpitan dan berkejaran.
Meski demikian Perkins mampu menjaga ritme tuturnya dengan baik hingga akhir kisah buku ini.
Meski demikian buku kedua ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Bagi yang telah membaca buku pertama tentu akan terasa akrab dengan kisah yang dituturkan Perkins sementara bagi yang belum pernah membaca bisa agak kesulitan mengikuti.
Tapi terdapat benang merah dari seluruh buku Perkins yakni korporasi asing dan negara maju sebagai segerombolan lintah darat yang disembah negara berkembang.
(algooth.putranto@bisnis.co.id)
Algooth Putranto
Bisnis Indonesia

Friday, September 28, 2007

Pengakuan Bandit Ekonomi
John Perkins

Kelanjutan Kisah Tipu Daya dan Petua-langannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga


"Buku ini tidak hanya membeberkan suatu konspirasi korupsi yang telah mengobarkan ketidakstabilan dan sikap anti-Amerika di seluruh muka bumi, tapi juga menawarkan berbagai solusi dan petunjuk praktis yang mudah dipahami untuk menghadapi kejahatan korporatok­rasi itu."
(Koran Seputar Indonesia, 23 September 2007)


John Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan kejahatan korporatokrasi, jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dari negara-negara dunia ketiga, termasukIndonesia.

Dalam bukunya yang pertama, Confessions of An Economic Hit Man (2004), Perkins menyebut dirinya bandit ekonomi (economic hit man-EHM) yang bekerja di perusahaan konsultan MAIN di Boston, AS. Dalam buku keduanya kali ini, Perkins membidik daerah-daerah rawan di seluruh dunia.

Berdasarkan wawancara dengan para bandit ekonomi lain, reporter, aktivis, ia menyingkap sejarah yang tersamar di balik berbagai peristiwa yang telah menciptakan "Imperium Amerika", termasuk perihal cacat pembangunan infrastruktur di Indonesia, wanita bayaran yang dimanfaatkan EHM untuk melobi politikus Indonesia, peran Israel sebagai "Benteng Amerika" di TimurTengah, blunder-blunder AS di Tibet, Kongo, Lebanon, danVenezuela, dampak tragis "Keruntuhan Ekonomi Asia" oleh IMF, serbuan kilat jackal (agen CIA) untuk membunuh presiden-presiden yang terpilih secara demokratis, bagaimana "kekalahan-keka-lahan" di Vietnam dan Irak menguntungkan bisnis besar,dan masihbanyaklagi.

Buku ini tidak hanya membeberkan suatu konspirasi korupsi yang telah mengobarkan ketidakstabilan dan sikap anti-Amerika di seluruh muka bumi, tapi juga menawarkan berbagai solusi dan petunjuk praktis yang mudah dipahami untuk menghadapi kejahatan korporatok­rasi itu. Buku ini juga mengajak warga du­nia memerangi kejahatan korporatokrasi dengan berbagai jenis senjata ampuh, menyodorkan sebuah rencana yang simpatik untuk mencitrakan kembali dunia kita.

Inilah kisah dari balik layar yang dipaparkan secara memikat, bergulir laksana sebuah film yang sukses dan dituturkan lewat mata seorang pria yang pernah membantu membentuk "imperium" itu.

Sumber: http://www.bukukita.com/

Wednesday, September 26, 2007

Pengakuan Sekadar Dakuan

"Bacalah buku ini untuk membuka perspektif baru"
(Majalah Adil, Edisi September 2007)

Buku ini aslinya berjudul The Secret History of The American Empire dengan subjudul Economic Hit Men, Jackals, and the Truth about Global Corruption. Karya kedua John Perkins, penulis sekaligus dukun (kalau shamanism bisa dimaknai sebagai perdukunan) itu lalu diterjemahkan menjadi Pengakuan Bandit Ekonomi dengan subjudul Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga. Pengubahan ini bukan tidak signifikan.

Edisi Indonesianya masih ingin memperlihatkan bahwa buku kedua ini masih terkait dengan buku pertama Perkins, Confessions of an Economic Hit Man, sehingga buku kedua yang semestinya diberikan tajuk Sejarah Rahasia Kemaharajaan Amerika dialihkan menjadi terjemahan literer dari judul buku Perkins yang pertama. Menarik.

Penggunaan subjudul Kelanjutan Kisah daripada Korupsi Global (Global Corruption) merupakan pengulangan dan penegasan keterkaitan buku ini dengan Confessions karya Perkins yang laris manis. Semua atribut mesti digunakan untuk memperjelas kedekatan ini. Di samping itu, pemakaian Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga ketimbang Global menunjukkan usaha untuk lebih memperlihatkan bahwa buku ini bersifat lebih khusus pada masalah Indonesia dan negara-negara dunia ketiga sembari memarjinalkan sifat kemenduniaan yang ingin diutarakan Perkins. Lagi-lagi ini merupakan taktik menarik yang membuat buku ini bukan saja terasa dekat dengan buku Perkins sebelumnya yang bestseller melainkan juga membikin buku ini memiliki kedekatan khusus dengan pembaca Indonesia.

Pendekatan jenial ini bukan tanpa kekurangan. Sifat global menguat di Bagian 5: Mengubah Dunia, seiring dengan pembahasan Perkins mengenai agenda perubahan yang mesti dibawa ke jantung si pembuat onar itu sendiri: Amerika Serikat. Sehingga Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga, suatu pilihan kata yang mirip judul buku Tintin itu, menjadi terkesan melenceng serta, meminjam pilihan kata Wapres Jarwo Kuat di Republik Mimpi, tak lagi relevan dan signifikan. Perkins juga kerap menegaskan globalitas ini dengan menggunakan perumpamaan yang asing buat orang Indonesia, misalnya ketika menggambarkan seorang perempuan Indonesia yang menatap "seperti seekor kelinci betina di lapangan New Hampshire" (h.24). Alamak.

Tetapi penggunaan Kelanjutan Kisah memang absah. Membaca buku ini tanpa terlebih dahulu menyimak pendahulunya seperti menyantap hidangan penutup sebelum menikmati menu utama. Ambil contoh bagaimana Perkins menggambarkan pergeseran standar mata uang dari emas ke dolar yang dibantu dengan percepatannya oleh konflik Arab-Israel dan bisnis minyak (h.215-220). Celakanya, detil strategi yang dikerjakan sang economic hit man tak dijelaskan sebab "sudah disajikan dalam buku "Confessions". Dan Perkins melakukan itu berulang kali. Beruntung mereka yang sudah membaca Confessions, malang mereka yang belum. Kocek harus lebih dalam dirogoh demi kedua buku ini. Terasa sekali profesi sebagai economic hitman ternyata masih melekat pada Perkins. Sebagaimana Confessions, Pengakuan (atau Secret History agar tak membingungkan) bersandar pada kisah pengalaman John Perkins meruntuhkan ekonomi negara-negara demi kepentingan kekuasaan perusahaan. Economic Hit Man (EHM) bukan mirip dengan terjemahannya sebagai bandit ekonomi. Mengingat tugas EHM adalah mengubah negara miskin menjadi pecandu utang maka mungkin lebih pas bila hit man ditafsirkan sebagai pelibas. Melibas berarti memukul seperti hit, juga menipu sebagaimana fungsi seorang hitman. Pelibas ekonomi macam Perkins direkrut bukan oleh dinas intelijen CIA melainkan Badan Keamanan Nasional (NSA); menerima gaji bukan dari pemerintah tetapi dari sektor swasta. Tak jelas kemana EHM mesti memberikan loyalitas: negara (AS) atau perusahaan (korporasi). Tetapi Perkins seakan ingin menyiratkan bahwa kemaharajaan Amerika dikuasai elite korporasi dalam satu hirarki korporatokrasi.

Perkins cukup detil menceritakan pengalaman tetapi terhambat dalam pembahasan. Seperti Confessions, Secret History memberikan banyak informasi tentang kebijakan yang menguntungkan kepentingan korporat Amerika. Tetapi bukti dakuan yang diberikan jauh dari memadai sehingga susah membedakannya dengan diari. Walau kisah EHM boleh jadi benar adanya namun interpretasi dan analisis yang disodorkannya tak lantas menjadi benar pula.

Demikian halnya dengan rahasia yang dijanjikan melalui judul agung The Secret History ternyata lebih terkait pada banyaknya sumber yang Perkins rahasiakan, seperti koruptor kakap asal Indonesia yang disamarkan sebagai "Emil" (h.59-61). Baiktokoh Emil maupun ceritanya tak bisa dikonformasikan oleh Perkins. Lebih fantastis lagi adalah cerita invasi AS semasa Bush tua ke Panama yang dikarenakan Noriega menyimpan foto Bush muda tengah "mengisap kokain dan melakukan hubungan seks tidak wajar" (h.i66). Atau Monica Lewinsky sebenarnya suruhan Linda Tripp yang ditugaskan "untuk menghancurkan seorang presiden yang ditakuti sebagai reformis, yang bisa menghancurkan korporatokrasi" (h.iyi). Tanpa argumen atau data yang kuat, semua itu bisa tak lebih sekadar isapan jempol.

Perkins pun terlalu disibukkan dengan kisah pribadi yang lagi-lagi tak relevan dan signifikan terhadap keseluruhan isi buku. Salah satu contoh adalah bab Carioca yang cantik (h.i69-174) bercerita bagaimana Perkins menghadiri World Social Forum di Brazil untuk berbicara tentang Confessions dan godaan wanita cantik yang ia tampik.

Mungkin benar belaka bahwa "laporan ekonomi susunan [Pe­libas] Ekonomi adalah senjata yang jauh lebih ampuh diban-dingkan pedang serdadu Perang Salib" (h.257). Apabila karya Perkins yang dijadikan tolak ukur bakal banyak keraguan timbul. Tetapi bacalah buku ini untuk membuka perspektif baru. •

Wednesday, September 19, 2007


Petualangan Sang Bandit Ekonomi

"Dia mengungkapkan kegiatan sehari-hari yang dilakoninya untuk memperkosa dan menjarah Dunia Ketiga"
(Republika, 16 September 2007)

Inilah karya kedua yang ditulis John Perkins, seorang yang mengaku sebagai bandit ekonomi (economic hit man). Perkins bekerja pada sebuah konsultan internasional MAIN yang berkedudukan di Amerika Serikat. Untuk bisa masuk lembaga itu, Per­kins harus menjalani psikotes berjam-jam yang diselenggarakan Badan Keamanan Nasional AS.

Beratnya beban kehidupan yang dijalani Perkins semasa muda, membuat dia menyimpan dendam membara untuk merengkuh hasratnya dalam mengarungi kerakusan hidup yang didambakannya. Ya, Perkins yakin, motivasi itulah yang membuatnya diterima di MAIN.
Dalam usia yang masih muda, 26 tahun, Perkins memulai petualangannya sebagai penjarah Dunia Ketiga dengan melakukan pekerjaan korporatokrasi kotor.

Tugas utama Perkins adalah membuat laporan fiktif ke IMF atau Bank Dunia agar mengucurkan utang ke negara berkembang hingga akhirnya membelit negara yang bersangkutan.

Dalam buku ini, Perkins menceritakan perjalananannya berkelana ke penjuru Asia, Amerika Latin, TimurTengah, dan Afrika. Dia pun mengungkapkan kegiatan sehari-hari yang dilakoninya untuk memperkosa dan menjarah Dunia Ketiga. "Indonesia (akan) menjadi korban pertamaku," kata Perkins. Inilah salah satu yang men­jadi daya tarik buku Perkins.

Dari buku ini pula, pembaca bisa menemukan jawaban, mengapa saat ini timbul dan marak sikap anti-Amerika di hampir seantero dunia. Buku ini sungguh cocok untuk para pengambil kebijakan (ekonomi dan politik) serta para aktivis.

• arif s
Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes