Showing posts with label Parlemen Undercover. Show all posts
Showing posts with label Parlemen Undercover. Show all posts

Monday, January 12, 2009


MORALITAS DARI SENAYAN

Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover
(Majalah ADIL, Desember 2008)

Abu Semar adalah nama samaran seorang anggota parlemen negeri ini yang mengutarakan kisahnya dan kisah teman-temannya sesama wakil rakyat. Lahirlah buku Parlemen Undercover yang menceritakan kisah-kisah sontoloyo wakil rakyat. Buku ini lucu, menggelitik, namun terkadang menyebalkan. Lucu karena para wakil rakyat ternyata juga manusia. Ambil kisah "toilet kafir". Kiai Badruzzaman adalah anggota parlemen dari daerah terpencil yang terkaget-kaget masuk ke hotel mewah dan tak tahu cara menggunakan toilet.

Menggelitik sebab berbagai kisah mereka yang memancing rasa ingin tahu atau membuat kita tersenyum. Seperti kisah "karaoke karo kowe" dimana sang wakil rakyat diajak untuk berkaraoke plus-plus. Anggota parlemen ini panas dingin karena tak terbiasa dan menolak halus. Juga cerita parlementarian yang membakar fotonya menghadiri tarian perut karena pers "akan berpikir pekerjaan anggota parlemen hanya kelayapan di kafe-kafe untuk menonton tari perut" (h.36)

Menyebalkan karena para wakil rakyat terkesan lebih banyak membuang waktu untuk bersenang-senang tinimbang berdarma bakti untuk rakyat dan negeri. Mulai dari pengangkatan "sekretaris selembar benang" yang dipilih karena lekuk badan yang aduhai. Atau kisah wakil rakyat yang memiliki artis pemain sinetron sebagai "anak asuh". Demikian pula kisah pemerasan oleh asisten atau selingkuh para wakil rakyat. Pun cerita tentang bagaimana staf Departemen Luar Negeri mengeluh karena susah melayani para istri anggota parlemen yang sibuk berbelanja barang bermerek dan hanya "menjadi beban para diplomat kita di luar negeri" (h.69).

Abu Semarjuga menggambarkan bagaimana masalah kebijakan publik hanya berujung pada masalah duit. Lihatlah kisah "Nuklir No, Jalan-jalan Yes". Negeri ini khawatir soal kelangkaan energi. Maka tenaga nuklir mulai dilirik untuk menyuplai listrik. Lalu diusulkanlah kunjungan bagi anggota dewan ke Korea Selatan dan Jepang sebagai dua negara yang sukses dengan program PLTN. Sejumlah nama parlementarian pun diusulkan untuk berangkat. Tiba-tiba, program kunjungan studi ke luar negeri itu menuai protes keras. Tuduhan berdatangan, dari tuduhan pelanggaran etik hingga keberangkatan yang dibiayai oleh para pembuat reaktor. Juga datang keberatan dari LSM dan organisasi non-pemerintah (ornop).

Namun ternyata kehebohan masalah itu bukan disebabkan oleh kepedulian kepada rakyat atau bahaya reaktor nuklir. Melainkan semata karena kecemburuan beberapa anggota dewan yang tidak diajak berangkat studi ke Jepang dan Korea Selatan. Mereka lah yang menggerakkan protes yang lebih besar dari bahaya bencana nuklir itu. Duh, celaka.

Parlemen Undercover mengungkapkan banyak sisi yang kerap disembunyikan dan sering ditabukan namun lantas disajikan dengan paparan setajam pisau silet. Kelakuan dan kejahatan para wakil rakyat dipampangkan lebar-lebar. Skandal demi skandal diulas dengan lugas, bernas, dan membuat kita menahan nafas. Wajar saja bila kemudian buku ini disajikan dengan nama samaran di negeri samaran, Abu Semar dari negeri Indosiasat.

Menariknya, buku ini seakan menggabungkan Mati Ketawa Cara Rusia dan Jakarta Undercover. Andai dikelola lebih mendalam dan ditelusuri lebih seksama boleh jadi dan bukan tak mungkin buku ini nantinya dapat menguak lebih banyak hal dan menjadikannya sejajar dengan "Ali President's Men" yang menguak tabir persekongkolan politik dalam kasus Watergate dan menurunkan Presiden Nixon.

Tetapi Parlemen Undercover sepertinya memang tak didesain untuk itu melainkan sekadar pemotretan realita yang ada di Senayan dalam konteks ringan dan bersahaja laksana obrolan santai di sore hari. Dalam hal ini Parlemen Undercover sangat sukses. Bahasa yang santai, ringan, dan renyah menjadi kekuatan buku ini. Alur yang disajikan pun tak kalah menarik. Kisah-kisah dibagi-bagi dari mulai yang paling ringan dan sensasional ke masalah-masalah persidangan. Satu demi satu kisah diutarakan dengan cara yang lancar disertai gambaran panoramis di awal plus sedikit kejutan di belakang. Belum lagi pengikutsertaan ilustrasi apik di sela-sela setiap kisah yang benar-benar membantu kita menikmati buku ini dengan santai tanpa kerut kening sembari menyeruput kopi dan sesekali tertawa terbahak-bahak atau pun menyimpul senyum.

Namun Parlemen Undercover juga membawa pesan moral yang sangat berharga. Parlemen negeri Indosiasat sepertinya banyak dihuni oleh orang-orang yang tak kompeten, tak cakap, dan hanya sibuk saling menelikung, berbuat culas, berlomba bejat, beradu siasat. Di gedung mulia itu, para wakil rakyat Indosiasat seakan tak henti mengumbar syahwat: entah syahwat sanggama atau syahwat kuasa. Rakyat masuk konsideran akhir atau malah tak dipedulikan sama sekali. Para wakil rakyat dalam Parlemen Undercover gagal menjadi suara rakyat apalagi mewakili rakyat. Tak heran negeri ini terus tertinggal. ■ md



ADIL No.39 | III | 20 November-17 Desember 2008

57


Thursday, December 25, 2008


SATIRE BAGI WAKIL RAKYAT TIDAK TERHORMAT

Oleh: ERIK PURNAMA PUTRA


Jika kita mengikuti perkembangan tentang sepak terjang anggota dewan di Indonesia, pastinya kita bakal geleng-geleng kepala melihat perilaku penghuni Gedung DPR Senayan. Pasalnya, hampir semua berita yang ada di media massa isinya menyoroti beragam tindak tanduk keburukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun ternyata kondisi itu juga terjadi di negeri Indosiasat. Sebagai negeri penganut demokrasi terbesar di dunia, negara Indosiasat juga mengalami permasalahan yang sama dengan Indonesia. Masalahnya adalah penghuni gedung parlemen di negeri Indosiasat memiliki tabiat yang sangat buruk dan citranya di mata masyarakat berada pada titik nadir.

Kasak kusuk negatif yang berkembang di masyarakat menyebutkan jika kebobrokan anggota dewan sudah sangat parah dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai anggota dewan yang dipilih rakyat. Karena itu, masyarakat negeri Indosiasat menganggap bahwa sebagian besar moral anggota dewan sudah tidak benar.

Menyikapi keadaan tersebut, seorang anggota dewan negeri Indosiasat dari partai yang cukup besar, Abu Semar, tergerak hatinya untuk menuliskan- seluruh pengalaman yang terjadi dari dalam gedung parlemen. Tujuannya hanya satu, agar masyarakat negeri Indosiasat bisa mengetahui secara langsung tabiat buruk legislatornya yang selama ini tidak diketahui masyarakat.

Dari hasil penulisan Abu Semar, didapatkan 33 cerita tentang sisi gelap perilaku anggota dewan yang belum pernah terekspose ke media massa. Sungguh mengejutkan, skandal yang terjadi di negeri Indosiasat sangat beragam, mulai kasus seks, korupsi, hingga abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) terus berlangsung tanpa pernah disadari oknum anggota dewan bersangkutan.

Sebagaimana masyarakat tahu, selain mendapatkan berbagai fasilitas dan pelayanan kelas satu, setiap anggota dewan jyga berhak memiliki satu sekretaris pribadi yang ditugaskan untuk membantu pekerjaannya. Dan anggota dewan sendiri yang mengangkatnya. Karena itu, banyak anggota dewan yang mengangkat sekretaris dengan lebih mempertimbangkan aspek fisik (kecantikan)- daripada skill yang sesuai dengan pekerjaan sekretaris.

Banyaknya penghuni parlemen yang lebih memiliki sekretaris cantik memunculkan kabar burung bahwa ada beberapa anggota dewan yang menjalin hubungan affair dengan sekretarisnya. Kabar itu menjadi kenyataan suatu pagi ketika cleaning service menemukan kondom bekas di salah satu ruang anggota dewan.

Kabar heboh itu langsung tersebar ke seluruh penjuru penghuni gedung parlemen dan menjadi perbincangan hangat di kalangan anggota dewan lainnya. Kabar yang berkembang mengatakan bahwa ada anggota dewan dari salah satu fraksi besar yang terlibat permainan seks dengan sekretaris pribadinya. Dari penuturan Abu Semar, hal tersebut lumrah dijumpai di kalangan anggota legislator, namun hanya satu yang berhasil terdeteksi media.

Kasus ditemukannya video adegan mesum milik Ambura Duliman, dari Fraksi Pohon Kuning yang ketahuan selingkuh dengan Putri Gina juga ramai dan menjadi topik utama perbincangan anggota dewan. Padahal dilingkungan teman-temannya, Ambura Duliman adalah sosok dengan religiusitas tinggi, memiliki pergaulan luas, dan berpenampilan kalem. Sayangnya, dia tidak mampu menjaga diri hingga kebablasan menjalin hubungan dengan penyanyi dangdut langganan Partai Pohon Kuning. Tentu saja setelah rekaman adegan mesumnya tersebar luas ke masyarakat, dia dicopot oleh partainya dan harus meninggalkan statusnya sebagai anggota dewan negeri Indosiasat.

Ada lagi kasus menarik, namun sungguh memalukan yang dilakukan anggota parlemen dari negeri Indosiasat. Kasus itu terjadi ketika delapan anggota parlemen Indosiasat mendapat undangan gratis melakukan kunjungan ke negeri Matahari Terbit. Di negara Jepang, mereka diundang untuk lebih mengenal sistem politik, ekonomi, dan budaya masyarakat negeri Sakura.

Selama di sana, kedelapan wakil rakyat dari negeri Indosiasat diajak mengunjungi kawasan industri dan berkeliling melihat gedung istana kekaisaran guna lebih memperdalam wawasan tentang negara Jepang. Selama kunjungan tersebut, peserta dari negeri Indosiasat dibebaskan dari segala biaya apa pun. Namun, banyak yang kaget ketika di luar dugaan mereka dimintai tagihan untuk membayar kegiatan yang baru dilakukannya. Tak dinyana, ternyata setelah diberi penjelasan oleh guide resmi pemerintah, dijabarkan jika untuk paket kegiatan menonton film porno harus bayar sendiri sendiri, karena pemerintahan Jepang tidak menanggung biaya untuk kegiatan yang ternyata digemari anggota parlemen negeri Indosiasat tersebut. Karena itu, ketika diminta membayar mereka membayar tagihan dengan sikap kikuk (hal.56). Menggelikan, namun sangat memalukan karena mereka telah mencoreng nama baik negeri Indosiasat.

Buku karya Abu Semar ini menggunakan tipologi jurnalisme sketsa, bertutur dari deskripsi dan paparan yang episodik, tidak mendalam, yang berbalut dengan sentuhan gonzo (humor) dengan tambahan elemen satire (sindiran) yang merupakan manifestasi perilaku anggota parlemen.

* Peresensi adalah mahasiswa dan aktivis pers UMM











Monday, September 08, 2008



PENGAKUAN POLITISI, BOBROKNYA ULAH ANGGOTA PARLEMEN

Setelah membaca buku ini, bisa saja Anda menduga inilah gambaran tentang carut-marutnya parlemen dan Pemerintahan Indonesia. Karena itu pula, diharapkan setelah membaca buku ini Anda dapat berkaca dan akan memiliki tanggung jawab moral lebih besar lagi, sehingga saat memilih anggota parlemen yang akan menduduki gedung rakyat tersebut tidak asal pilih
(Investor Daily, Agustus 2008)

Dalam buku yang diklaim penerbitnya sebagai kisah nyata, nama anggota parlemen yang menuturkan kisah ini dikaburkan dengan nama lain (anonymous) dan negaranya pun menjadi Negara Indosiasat. Sehingga, parlemen pun menjadi Parlemen Rakyat Negeri Indosiasat

Buku yang digarap dalam bentuk tulisan naratif ini, banyak dipenuhi gaya bahasa yang agak santun dan sedikit humor dalam mengungkap pengalaman menarik anggota parlemen di batik tembok gedung yang bernama parlemen rakyat.

Karena mayoritas anggota parlemen di Republik Indosiasat pria, maka pintu pertama yang dibuka dari cerita parlemen ini berkaitan dengan Wanita, yang lebih tegasnya syahwat. Mulai dari kisah perekrutan sekretaris anggota parlemen, kondom bekas di tempat sampah, hingga artis yang digandeng anggota parlemen yang kebetulan juga kiai. Bahasan syahwat ternyata banyak menghiasi kalangan anggota parlemen. Mulai dari yang di kantor, ruang karaoke di dalam negeri, maupun di luar negeri. Pemaparan dalam buku ini, jika benar adanya, kian mentasbihkan, bahwa politikus, wanita, uang, dan selebritas menjadi kesatuan yang menghiasi Negeri Indosiasat.

Pada ulasan lain, juga terungkap bagaimana enaknya menjadi anggota parlemen dengan menikmati gaji negara, fasilitas layanan dari pemerintah dan para pengusaha yang butuh dukungan politik, serta penghormatan kedudukan. Apalagi, saat masa reses memperoleh dana, gaji ke-13, dan fasilitas perumahan pun bisa diperoleh dengan mudah.

Wajar saja, jika posisi anggota parlemen menjadi idaman dan rebutan bagi mereka yang ingin menikmati jalan pintas. Ruh suci anggota parlemen sebagai pembela atau suara rakyat, sangat kentara kering sekali. "Hari gini masih mikirin rakyat?'

Sikap sebagian anggota parlemen semacam ini, dapat dikatakan sebagai refleksi dari kondisi partai-partai yang ada di Republik Indosiasat. Dalam cerita buku ini, ada partai yang menerapkan kebijakan menjual tempat nomor urut calon anggota DPR hingga harga satu miliar rupiah. Ada juga berdasarkan kolegial dan nepotisme, berdasarkan suara terbanyak, dan berbagai ketentuan lainnya. Yang jelas dari semua itu, ujung-ujungnya juga butuh dana besar untuk menjadi seorang anggota parlemen.

Cerita menarik lain juga terkuak dalam buku ini, termasuk para anggota parlemen mengomentari sang presidennya yang percaya dengan pemikiran instan. Program energi biru laut yang diklaim presidennya dapat mengubah air menjadi minyak, ten tang demo 1 Juni yang membenturkan dua kelompok, yang bertujuan untuk mengalihkan demo-demo protes kenaikan BBM, hingga salah seorang ulah anggota parlemen yang takut istri menjadi pembicaraan sehari-hari para anggota dewan yang terhormat, selain membicarakan proyek-proyek yang dapat mendatangkan fulus.

Masih lagi cerita-cerita yang sebenarnya sudah beredar dan berkembang di masyarakat. Sebenarnya buku ini lebih pada menjelaskan kepada pembacanya apa yang telah beredar di masyarakat dan bagaimana proses keputusan dikeluarkan oleh parlemen. Semisal bagaimana proses hak interplasi dalam kasus dana Tunai Bank Indosiasat, yang dalam kondisi nyata di negeri ini BLBI. Kisah ini akhirnya melahirkan kasus yang menguak hingga menampar beberapa petinggi negara, petinggi partai dan juga anggota parlemen. Buku yang hanya ditulis dalam waktu 30 hari oleh sang anggota parlemen, merupakan sebagian kecil saja dari cerita para lakon anggota parlemen yarig terhormat. Dan penulisan cerita dalam buku ini sangat menarik dan bahasariya" cukup singkat dalam setiap judul, serta tanpa ada batasan dan ketergantungan terhadap judul lain.

Setelah membaca buku ini, bisa saja Anda menduga inilah gambaran tentang carut-marutnya parlemen dan Pemerintahan Indonesia. Karena itu pula, diharapkan setelah membaca buku ini Anda dapat berkaca dan akan memiliki tanggung jawab moral lebih besar lagi, sehingga saat memilih anggota parlemen yang akan menduduki gedung rakyat tersebut tidak asal pilih. (muhammad ali)

Wednesday, August 27, 2008



PARLEMEN UNDERCOVER

Abu Semar menyajikan lebih dari 30 kisah pelesetan bergaya narasi santai dan jenaka. Kisahnya terjadi di negeri Indosiasat, namun tokoh dan masalahnya mirip yang terjadi di Indonesia
(Koran Tempo, 24-Agustus-2008)

Skandal seks dengan sekretaris, praktek calo anggaran dan makelar kasus, sampai berbagi lelucon porno di sela-sela sidang. Beginilah kehidupan di gedung parlemen para wakil rakyat. Eit, ini bukan cerita di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Rl, melainkan di Republik Indosiasat.

Abu Semar menyajikan lebih dari 30 kisah pelesetan bergaya narasi santai dan jenaka. Kisahnya terjadi di negeri Indosiasat, namun tokoh dan masalahnya mirip yang terjadi di Indonesia. Misalnya saja kisah rekaman adegan syur politikus partai Pohon Kuning, atau ributnya parlemen dengan band Blank.

Abu Semar adalah nama samaran. la anggota DPR betulan dan mengklaim bisa bertanggungjawab secara moral atas kisahnya itu. Namun, penerbit Ufuk menyatakan kemiripan cerita bisa jadi hanya kebetulan semata, yang barangkali bisa membuat masyarakat lebih berhati-hati memilih wakilnya di parlemen.

• OKTAMANDJAYAWIGUNA




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes