Showing posts with label 6.1. News Online-Ufuk. Show all posts
Showing posts with label 6.1. News Online-Ufuk. Show all posts

Wednesday, December 15, 2010


INDONESIA ADALAH INDUK PERADABAN DUNIA
JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil riset yang menyimpulkan bahwa Indonesia sebagai induk peradaban dunia mendapat sorotan para peneliti di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) langsung merespon temuan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris tersebut sebagai bahan perdebatan yang menarik untuk diungkapkan kepada publik.
Dr. Hery Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) LIPI, mengungkapkan bahwa menarik untuk mencermati penelitian yang menyebutkan Indonesia merupakan awal peradaban dunia. Analisis yang sering dikenal sebagai Teori Oppenheimer tersebut tertuang dalam buku karangannya berjudul "Eden in the East". Menurutnya, pendapat tersebut tentu bisa menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia untuk melengkapi berbagai teori yang telah berkembang.

"Teorinya dikenal sebagai Oppenheimer Theory yang dengan tegas menyatakan bahwa nenek moyang dari induk peradaban manusia modern (Mesir, Mediterania dan Mesopotamia) adalah berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sunda land (Indonesia)," paparnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (27/10/2010).

Dia menambahkan bahwa "Eden In The East" mendasarkan kesimpulannya kepada penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Dokter ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut, lanjutnya, melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan tahun yang lalu hingga saat ini dengan pendekatan dasar yang digunakan disiplin keilmuan kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore.

Lebih lanjut, Hery mengulas bahwa buku Prof. Dr. Stephen Oppenhenheimer menegaskan orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) bukan berasal dari China sebagaimana yang terpampang dalam setiap teks sejarah buku pelajaran, melainkan dari orang-orang yang datang dari dataran yang hilang dari pulau-pulau di Asia Tenggara.
Penyebaran kebudayaan dan peradaban tersebut, sambungnya, disebabkan "banjir besar" yang melanda permukaan bumi pada 30.000 tahun yang lalu. "Inilah yang menarik diperdebatkan dan menjadi kontroversi karena pertentangan dengan teori sebelumnya," pungkasnya.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Ufuk Publishing House menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Menelusuri Jejak Sejarah: Indonesia Awal Peradaban Dunia?" Seminar ini berlangsung di Widya Graha LIPI Lantai 1, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta pada Kamis (28/10/2010) pukul 09.00 WIB.

Pembicara utama (keynote speaker) seminar adalah Jimly Ash-Shiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI. Kemudian, pembicara tamu dari Oxford University, Inggris yakni Prof. Dr. Stephen Oppenheimer dan Dr. Frank Joseph Hoff dari University of Washington. Sementara, pembicara lainnya yaitu Prof. Dr. Sangkot Marzuki dari Lembaga Eijkman dan Dr. Eko Yulianto dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Wednesday, June 30, 2010




Setelah mendulang sukses dengan buku pertamanya yang berjudul Female Brain, kini Louann Brizende yang lulusan Universitas Yale telah melengkapi risetnya dengan kajian pad otak laki-laki yang telah dibukukan dengan judul Male Brain. Seperti halnya dari bukunya yang pertama mengenai rahasia otak perempuan, Hasil yang sama juga diperoleh oleh Louann. Dalam otak laki-laki ternyata juga mempunyai karateristik yang unik dan ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan otak perempuan. Salah satu hal yang coba dihadirkan oleh Louann adalah bagaimana ia menemukan berbagai temuan-temuan terbaru yang menakjubkan yang selama ini belum diketahui oleh ilmuwan maupun masyarakat awam secara luas. Tidak main-main, penelitian tersebuta Louann lakukan selama kurang lebih 25 tahun.
Louann membagi rahasia otak laki-laki dalam bukunya tersebut dibagi menjadi beberapa tahapan perkembangan otak laki-laki. Mulai dari usia anak-anak sampai laki-laki tersebut memasuki tahap terakhir (lanjut usia). Otak anak laki-laki (anak-anak) tumbuh secara cepat. Pembentukan otak sebagai ciri khas perkembangan laki-laki memengaruhi sifat pada ranah fisik. Maka apa yang membedakan dengan anak perempuan ketika anak laki-laki sudah akrab dengan permainan khas laki-laki pada usianya macam robot dan senjata mainan. Tidak terlalu tertarik pada boneka karena kromosom Y sudah tertancap pada hormon testosteron. Kromosom Y merupakan sejenis hormon yang membedai dengan hormon perempuan yang nantinya sebagai pembeda ciri fisik dan sifat.
Pada usia remaja, otak laki-laki akan mengalami puncak testosteron. Ini ditandai yang sering kita sebut sebagai masa pubertas.. Meskipun hal tersebut sudah menjadi pengetahuan umum dalam masyarakat kebanyakan, tapi di balik masa pubertas, otak laki laki pada masa tersebut mengalami pergolakan dengan sistem sekolah yang cenderung mengekang dan terpenjara. Pada fase ini otak laki-laki akan selalu berkonflik karena remaja sedang mengalami saat-saat untuk mencari kebebasan dan petualangan.(hal: 74) Atau ketika berada dalam satu kelompok, otak mereka mengalami rasa senang dan euforia emosional yang membuat mereka lebih bersedia untuk melakukan hal-hal yang berisiko. Ini sebagai jawaban ketika anak laki-laki bersama teman-temanya lebih banyak mengalami kecelakaan kendaraan dan umumnya mengalami konsekuensi yang lebih negatif akibat pilihan yang berisiko dan spontan. Dan, walaupn penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol dilaporkan meningkat ketika remaja putra sedang berkumpul (hal:95).
Otak perkawinan sebagai lanjutan ketika otak remaja mulai pudar. Di sini, orientasi seksusal mencapai tahap puncaknya. Beberapa hasil penilitian yang belum diketahui oleh banyak kalangan adalah ketika trik rayuan merupakan olahraga dalam menghadapi “kesiapan hubungan” dan laki-laki lah yang paling sering melakukan itu dengan sangat baik. Bagi otak laki-laki, kemampuan untuk mendapat pasangan berarti membuat DNA dan gen-nya memasuki generasi selanjutnya. Walaupun dia tidak secara sadar memikirkan hal itu. Bagian naluriah dari otaknya mengetahui bahwa semakin banyak perempuan yang pernah berhubungan seksual dengannya , semakin banyak keturunan yang kemungkianan akan dia miliki.
Sementara itu, otak perempuan mencoba untuk melihat apakah seorang laki-laki memiliki sesuatu yang diperlukan untuk menjadi pelindung dan pencari nafkah yang baik. Peneliti mendapati bahwa hal ini benar, apapun tingkat pendidikan atau kemandirian finanasialnya. Saat harus menjadi ayah, otak laki-laki juga mengalami perubahan yang khas. Yakni sirkuit untuk rasangan seksual ditekan karena testosteron sudah berkurang dan adanya prolaktin tinggi. Sirkuit audio meningkat saat mendengar tangisan bayi. Efeknya pada perubahan realitas adalah Sang ayah mempunyai fokus utama dalam melindungi ibu dan bayinya, membiayai kehidupan keluarganya dan lebih peka saat mendengar tangisan bayi dibandingkan para lelaki yang belum menjadi ayah.Pada laki-laki paruh Baya. Perubahan otak khas laki-laki juga pada ketika aktivitas testoren dan vasopresin yang berkurang secara perlahan. Maka di sinilah puncak kematangan laki-laki. Di mana fokus utamanya adalah tindakan untuk membesarkan anak, mempertahankan karier dan aktivitas seks sudah mulai berkurang.

Memasuki usia lanjut (andropause), sirkuit otak laki-laki yang biasanya dipenuhi oleh testosteron dan vasopresin sudah berkurang. Rasio estrogen terhadap testosteron meningkat. Oksitosin pun semakin meningkat. Pada fase ini minat utama adalah bertumpu pada orientasi mempertahankan kesehatan dan meningkatkan kemakmuran. Pada fase ini pula, laki-laki paling mirip dengan perempuan, karena oksitosin membuat mereka lebih terbuka pada kasih sayang dan perasaan serta testosteron yang berkurang membuat mereka tidak terlalu agresif. Otak laki-laki memang luar biasa. Menyimpan misteri yang selama ini terpendam dan besar kemungkinan banyak misteri yang belum ditemukan. Ciri khas yang tentunya berbeda dengan otak perempuan. Namun, hal yang sama juga terdapat pada otak perempuan. Menyimpan keunikan dan misteri tersendiri. Bahasa yang enak dan mengalir menjadi daya tarik buku tersebut. Apalagi disertai dengan ragam ilustrasi.
Walau terkadang banyak istilah kedokteran, biologi atau psikologi yang bagi kalangan awam terkadang sulit dicerna, namun tidak lupa telah dilengkapi dengan daftar keterangannya. Pesan yang tersirat dalam buku ini adalah kiranya baik otak laki-laki maupun perempuan setidaknya mampu bersinergi dan saling melengkapi dalam kehidupan nyata.
Inilah potret keadilan gender sesungguhnya yang telah di dibangun oleh Louann Brizendine khususnya dalam bidang kesehatan-psikologi. “Setelah bertahun-tahun, ketika saya menulis buku ini dan menjadi lebih memahami otak laki-laki, saya melihat laki-laki yang saya cintai, putra, suami, dan ayah saya, dengan pemahamn baru. Harapan saya, buku ini akan membantu kita untuk memahami dan melihat otak laki-laki sebagai instrumen yang rumit dan disepurnakan, yang seseungguhnya memang demikian.” Begitu komentar dokter spesialis syaraf Louann Brizendine ini tentang kajiannya tersebut.

Tuesday, June 01, 2010


Penanganan kematian Edoardo tak semestinya. Tak ada otopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian
(Hendri F Isnaeni)

DI Eropa, Agnelli adalah nama besar. Sebuah dinasti. Perintisnya Giovanni Agnelli Sr, seorang pensiunan tentara yang banting stir jadi pebisnis otomotif. Pada 1 Juli 1899, Agnelli Sr. menjadi bagian dari kelompok pendiri Fabbrica Italiana Automobili di Torino, yang kemudian menjadi Fiat (Fabbrica Italiana Automobili Torino). Dia menginvestasikan 400 lira, patungan dengan sejumlah rekannya. Satu tahun kemudian, dia menjadi direktur lalu chairman pada 1920. Pabrik Fiat pertama dibuka pada 1900 dengan 35 staf untuk membuat 24 unit mobil. Produksinya terbatas. Keuntungannya juga masih kecil. Fiat mencapai puncak produksi pertamanya, lebih dari 1 juta unit mobil, pada 1974. Fiat kemudian go public di bursa efek Milan. Agnelli Sr. membeli semua sahamnya. Setelah Perang Dunia I, Fiat melompat dari urutan ke-30 ke peringkat ke-3 di antara perusahaan industri Italia.

Pabrik pertama Fiat adalah fasilitas produksi komponen dan perakitan mobil di Lingotto, Italia, yang didirikan pada 1921. Pabrik ini meniru perakitan mobil Ford. Pabrik kedua, jauh lebih modern dan mulai beroperasi pada 1932. Orang menyebutnya sebagai sebuah keajaiban arsitektur dan industri. Ia menjadi yang terbaik dan termewah di seantero Eropa. Agnelli Sr meninggal tak lama ketika Perang Dunia II berkecamuk. Tapi perang malah membawa berkah. Fiat memperluas usahanya. Sebelum tahun 1945, Fiat memproduksi segala hal yang mengandung mesiu, baja, baling-baling, dan roda, baik darat maupun udara. Bahkan, Fiat memproduksi tujuh dari sepuluh kendaraan perang Benito Mussolini. Setelah Agnelli Sr meninggal, kontrol bisnis jatuh ke tangan Edoardo Agnelli. Tapi bisnis Fiat sendiri menjadi besar dan merambah ke luar negeri ketika kontrol bisnis berada di tangan Gianni Agnelli, yang berusia 46 tahun. Sebelumnya Gianni tak punya minat untuk mengelola Fiat. Setelah ayahnya, Edoardo Agnelli, meninggal dalam kecelakaan pesawat, dia pun mengambil-alih manajemen Fiat.

Dengan tangan dinginnya, Fiat merambah luar negeri. Dia mengambil Citroen dari Keluarga Michelin di Prancis. Eropa Timur juga dilirik. Tito di Yugoslavia merakit Fiat dalam sebuah lisensi. Polandia segera mengekor dengan memproduksi Polski Fiats. Belakangan, Rusia menggaji Fiat untuk menjalankan sebuah pabrik mobil senilai US$800 juta di Togliattigrad, dekat Volga, dengan kapasitas 600.000 unit per tahun. Fiat juga mengontrol koran La Stampa dan La Repubblica. Diversifikasi bisnis adalah pondasi utama sebuah konglomerasi. Dengan itulah Dinasti Agnelli menjangkau nyaris seluruh bisnis di Italia dan dunia. Beberapa di antaranya adalah Ferrari dan klub sepakbola Juventus.

Harapan pelanjut bisnis Dinasti Agnelli berada di tangan anak pertama Gianni Agnelli, Edoardo Agnelli –nama yang diambil dari kakeknya. Pada 1970-an, dia dikirim sekolah ke Inggris. Setelah lulus, dia memutuskan studi di Princeton University, Amerika Serikat. Pilihannya jelas bukan sesuatu yang diinginkan orangtuanya, bisnis. Dia malah mengambil jurusan filsafat dan studi perbandingan agama. Di kampus, dia membangun dunianya sendiri: dunia yang sepi, hanya berteman buku.

Dia pernah ke India untuk mencari tahu ajaran Buddha dan Hindu. Dia tak kesulitan mempelajari Katolik maupun Protestan. Yang asing justru Islam. Sampai suatu hari, di sela-sela rak buku perpustakaan Princeton, dia menemukan Al Qur’an. Bahkan dia kemudian memutuskan masuk Islam, pilihan yang membuat Gianni Agnelli murka. Kala itu usianya baru 20 tahun. Dia pun punya nama baru, Hisyam Azis, yang dia sembunyikan dari siapa pun untuk waktu lama.

Pada 1981, Edoardo menginjakkan kaki di Iran dan bertemu Imam Khomeini. Hasyemi Rafsanjani, mantan presiden Iran, jadi saksi. Dalam memoarnya, Khaterat, Rafsanjani menulis: “27 Maret 1981, hanya ada empat orang yang menyaksikan. Edoardo sempat mengecup tangan Khomeini. Konon Khomeini balas mencium kening Edoardo. Dari mulut pejuang renta itu terucap pesan singkat: banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati.” Di masa akhir hidupnya, dia merasa terancam. Manajemen Fiat berulang kali memaksa dia untuk meneken selembar dokumen pelepasan haknya di Fiat. Atas saran Marco Bava, penasihat keuangan keluarga Agnelli, dia menolaknya.

Pada 1996, kerajaan bisnis Fiat bernilai 46,5 milyar dolar AS, mencakup perusahaan dari penerbitan hingga makanan, asuransi hingga otomotif. Ini membuat bisnisnya menjadi salah satu usaha terbesar di Eropa. Saat itu pula Gianni divonis mengidap kanker dan memutuskan mundur dari Fiat. Posisinya digantikan oleh orang kepercayaannya, Cesare Romiti. Penunjukkan Romiti jelas mengabaikan hak Edoardo sebagai ahli waris.

Tapi sisi gelap Dinasti Agnelli justru mengemuka ketika Edoardo mati mengenaskan di kaki jembatan Generale Franco Romano. Mayatnya ditemukan pada 15 November 2000, sekitar pukul 10.15. Penanganan kematian Edoardo tak semestinya. Tak ada otopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian. Kurang dari satu hari setelah jasad itu ditemukan, polisi mengambil kesimpulan: Edoardo mati bunuh diri. Buku ini menunjukkan bahwa kematian Edoardo tak lagi misterius: dia dibunuh. Jasad Edoardo dikebumikan di pekuburan keluarga Agnelli, di Villar Perosa, sebagai seorang Katolik.[HENDRI FISN]

Tuesday, April 20, 2010


UPH LUNCURKAN SKANDAL GILA BANK CENTURY


Annida-Online—Lama tak terdengar nasib dan ujung dari kisruh Bank Century yang sempat memanas, Ufuk Publishing House (UPH) seperti ingin mengingatkan kita kembali pada skandal senilai Rp. 6,7 triliun dengan meluncurkan buku Skandal Gila Bank Century, Ahad (11/4) di Doekoen Café, Jakarta Selatan. Menurut Muhammad Sadan, Marketing Communication UPH, buku ini menjadi cukup relevan dan berimbang karena ditulis oleh Bambang Soesatyo, politisi Golkar yang juga menjadi anggota Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century.

“Pak Bambang selain politisi dan anggota dewan, beliau juga mantan wartawan. Jadi, dia paham, sekali apa yang ditulisnya harus sesuai data dan fatka. Dan buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara faktual, karena Pak Bambang memang menulis fenomena Century ini sesuai fakta yang ia temukan,” jelas pria yang akrab disapa Sadan ini. Hal ini pulalah yang menjadi kekuatan buku setebal 304 halaman tersebut dari buku-buku yang membahas kisruh Century lainnya. Sadan menjelaskan, sang penulis sebenarnya sudah “mencicil” tulisannya sejak skandal Bank Century menjadi perhatian masyarakat.

“Pak Bambang mengikuti perkembangan Bank Century secara detil,. Beliau kan yang mengikuti rapat demi rapat, persidangan demi persidangan, proses investigasi, dan serangkaian proses lainnya, sehingga ia tahu betul apa-apa yang tak terungkap ke publik dari proses penyidikan Bank Century,” lanjut Sadan. Sadan menambahkan, UPH maupun Bambang Soesatyo tidak sedang mencari sensasi dari buku yang telah diluncurkannya itu. UPH, melalui Sadan menegaskan, justru menghadirkan alternatif bacaan bagi masyarakat untuk lebih memahami kisruh Century ini.

“Kalau selama ini masyarakat jenuh dengan pemberitaan Century di media, barangkali inilah salah satu buku yang bisa menjelaskan duduk persoalan Century dan kegilaan-kegilaan di dalamnya secara seimbang,” ujar Sadan. Sadan sadar, betapapun Bambang Soesatyo adalah orang yang terlibat secara langsung dalam penyidikan skandal Bank Century, ada beberapa pihak yang mungkin merasa tidak puas dengan apa yang ditulis oleh Bambang. Karena itu, Sadan justru tak merasa khawatir bila kelak akan ada buku tandingan dari pihak-pihak yang merasa tak puas dengan isi buku Skandal Gila Bank Century ini.

“Justru bagus, masyarakat punya banyak rekomendasi untuk melihat kasus skandal Bank Century. Asalkan buku tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan data juga fakta, nggak sekadar “tanding-tandingan” dengan buku yang sudah ada,” pungkas Sadan.
Selain Bambang Soesatyo, hadir pula anggota DPR komisi III Desmond J. Mahesa, pakar hukum tata negara Irman Putra Sidin, mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli, anggota Dewan Pembina Gerindra Permadi, serta aktivis Petisi 28 Haris Rusli dalam peluncuran buku tersebut. [nyimas]



BAMBANG SOESATYO DAN SKANDAL GILA BANK CENTURY

JAKARTA – Nama Bambang Soesatyo kerap muncul saat kasus Bank Century mencuat hingga akhirnya paripurna. Pasalnya, Anggota Komisi III DPR ini menjadi salah satu penggagas dibentuknya Pansus Century.

Dalam perjalanannya menelisik dugaan pelanggaran dalam proses bailout senilai Rp6,7 triliun ini Bambang menyaksikan sejumlah kejanggalan. Dia pun akhirnya mengambil inisiatif untuk menuangkan kesaksiannya melalui sebuah buku berjudul Skandal Gila Bank Century “Tulisannya sudah rampung dan saat ini sedang dicetak sebanyak 10 ribu eksemplar,” ujar Bambang saat dikonfirmasi okezone, Rabu (17/3/2010). Rencananya, awal April mendatang buku tersebut akan diluncurkan di Press Room DPR dan akan dipasarkan di sejumlah toko buku. Politisi Partai Golkar ini mengaku, tidak ada tujuan khusus dalam menulis buku Skandal Gila Century. Dirinya hanya ingin menuangkan kisah soal perjalanannya dalam mengungkap kasus Bank Century. “Saya hanya iseng saja menulis dan ingin menceritakan fakta yang terjadi,” ujar pria yang sempat menjadi wartawan ini.
Sejumlah versi memang mencuat dalam menelusuri kasus Bank Century. Hingga kini, aparat penegak hukum pun belum menindaklanjuti hasil paripurna DPR. Lantas, apakah buku yang ditulis Bambang Soesatyo akan kembali mengungkap fakta? Kita lihat saja nanti.(teb)




JAKARTA, KOMPAS.com - Kegilaan-kegilaan dalam realitas pascapenetapan keputusan paripurna Bank Century mendorong salah satu inisiator Bank Century Bambang Soesatyo meluncurkan sebuah buku berjudul 'Skandal Gila Bank Century' di Lobi Nusantara III Gedung MPR/DPR/DPD RI, Rabu (14/4/2010). Buku ini berisi tentang perjalanan pembahasan kasus di dewan hingga tindak lanjutnya yang sangat lambat oleh pemerintah. Bambang Soesatyo mengatakan penulisan buku ini awalnya didorong oleh komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tidak melupakan kasus Bank Century sehingga dirinya tergerak untuk menulis perjalanannya. Apalagi sampai saat ini, dua tujuan Pansus tak kunjung tercapai. "Skandal Gila Bank Century. Kenapa? Gila karena sampai detik ini kita tak tahu siapa yang bertanggung jawab terhadap hilangnya uang Rp 6,7 triliun. Gila karena rekomen BPK dan DPR tidak bisa mendorong penuntasannya. Gila karena proses di KPK juga tidak maju-maju," tuturnya di sela peluncuran bukunya. Buku ini, lanjutnya, menjadi pertanggungjawabannya pula sebagai anggota DPR agar masyarakat mengetahui apa yang sudah dikerjakannya.
Politisi Golkar ini juga ingin agar masyarakat tahu ada dua hal yang belum dicapai, yaitu mencari siapa yang bertanggung jawab dalam kebijakan dan pengucuran dana bailout serta muara aliran dana itu. "Kita juga tetap mengawas proses ini untuk menindaklanjuti rekomendasi dengan membentuk tim pengawas. Penting karena ada seolah-seolah pendapat ini sudah selesai dan aliran dana tidak dipertanggungjawabkan," tandasnya.


JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Mantan anggota Pansus Hak Angket Kasus Bank Century Bambang Soesatyo, yang juga anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, dianugrahi penghargaan "News Maker Award 2010" oleh Persatuan Wartawan Indonesia cabang DKI Jakarta, Selasa (19/4/2010), di Hotel Sultan, Jakarta. Bambang, yang juga inisiator hak angket dan anggota PWI Jaya dianugerahi atas kiprahnya mengungkap kasus Bank Century. Hal ini dinilai sebagai langkah nyata pelaksanaan salah satu agenda utama reformasi di bidang penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

Bambang Soesatyo menyampaikan apresiasinya atas penghargaan ini. Sementara itu, mantan Ketua Pansus Idrus Marham mengatakan, penghargaan ini juga layak diberikan kepada masyarakat yang mendukung Pansus.(*)


Jakarta - Anggota DPR dari Golkar Bambang Soesatyo dan Pansus Century dinilai menjadi biangnya berita pada tahun 2010. Mereka pun mendapat penghargaan 'News Maker Award 2010' dari Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta Raya (PWI Jaya). Penghargaan itu diserahkan Ketua PWI Jaya Kamsul Hasan di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (20/4/2010).

"Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap Pansus karena menguak kasus Bank Century. Apa yang dilakukan Pansus telah menjadi isu nasional, menjadi liputan-liputan utama baik di media cetak maupun elektronik dalam rentang waktu yang cukup lama sampai sekarang ini," ujar Kamsul.

Usaha membongkar kasus Bank Century, imbuhnya, patut dihargai sebagai langkah nyata melaksanakan salah satu agenda utama reformasi yaitu penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Sementara Bambang Soesatyo yang menerima penghargaan mengucapkan terima kasihnya pada rekan-rekan pers. "Saya berharap semoga penghargaan ini dapat memicu rakyat tetap konsisten dalam politik," katanya.

"Pekerjaan saya sebenarnya adalah wartawan. Jadi setiap mengisi formulir apapun saya selalu menuliskan wartawan sebagai profesi saya, pengusaha adalah hobi. Sedangkan anggota DPR adalah jalan hidup saya," lanjutnya.
Sedangkan Ketua Pansus Idrus Marham yang mengapresiasi penghargaan ini mengatakan seharusnya Pansuslah yang memberikan penghargaan kepada pers.

"Ini sepertinya kebalik-balik. Semestinya Pansus yang memberi penghargaan kepada pers. Karena Pansus dalam menyelesaikan tugasnya meskipun belum maksimal, adalah berkat bantuan teman-teman insan pers Indonesia. Teman-teman obyektif dalam menyampaikan apa yang terjadi di Pansus kepada masyarakat. Kalau tidak obyektif pasti Pansus banyak dicaci maki," kata Idrus yang mengenakan batik kuning.

"Seharusnya penghargaan ini ditambah 1 lagi, yaitu kepada Tim 9 karena mereka yang memulai, paling sulit di dunia adalah memulai dan menyatakan sikap," imbuhnya.

Tampak beberapa anggota Pansus yang hadir antara lain Gayus Lumbuun, Misbakhun dan Lily Wahid. (nwk/ken)

Wednesday, March 03, 2010



Annida-Online—Lima bulan sebelum kematiannya di tahun 2005 silam, Arsyio Nunos del Santos, ahli fisika nuklir dari Brazil menerbitkan buku fenomenalnya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Buku ini menyajikan fakta dan data yang ditemukan oleh sang penulis tentang misteri keberadaan benua Atlantis yang tidak lain tidak bukan adalah Indonesia. Menganggap bahwa buku ini cukup penting untuk diketahui oleh publik Indonesia, Ufuk Publishing House (UPH) menghadirkannya dalam versi bahasa Indonesia. “Santos sendiri melakukan penelitian terhadap kemungkinan Indonesia yang diduga sebagai benua Atlantis ini selama 30 tahun. Jadi, kami harap buku ini bukan sekadar mengundang kontroversi namun juga motivasi para ahli untuk mengungkapkan kebenaran temuan-temuan Santos secara lebih ilmiah,” ujar Muhammad Sadan, Manager Marketing Ufuk di sela-sela acara Seminar Nasional “Indonesia, Atlantis yang Sesungguhnya”.Acara tersebut, menurut Sadan, merupakan upaya dan tanggungjawab ilmiah dari penerbit untuk mengantarkan pembaca memahami argumen-argumen yang dituangkan Santos dalam bukunya. Dengan menghadirkan empat pembicara, Dr. Radhar Panca Dahana, Dr. Awang H. Satyana, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, dan Dr. Oman Abdurrahman, serta satu keynote speaker; Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, buku ini dikupas melalui pendekatan yang lebih komprehensif.“Secara ilmu arkelogi dan etnolinguistik, temuan-temuan Santos dalam bukunya tentang Indonesia yang merupakan benua Atlantis itu, mungkin saja benar.
Tapi I dont care about Santos, karena pada kenyataannya, nenek moyang Indonesia jauh sebelum Padjadjaran ada, Majapahit, Sriwijaya, atau kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, Islam, dan lainnya ada, mereka memang sudah memiliki peradaban yang tinggi,” jelas Radar yang membahas buku Santos dari kacamata antropologi dan kebudayaan.Meskipun keraguan sempat dilontarkan oleh dua pembicara lainnya; Dr. Awang H. Satyana dan Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak, namun Ahmad Taufik, editor buku sekaligus manajer produksi UPH, yakin bahwa buku Santos merupakan pintu gerbang untuk masyarakat Indonesia mengorek lebih dalam sejarah dan asal-usul bangsanya.“Ya, saya sepakat, meskipun buku ini akan mengundang kontroversi. Ada yang setuju ada juga yang mungkin menolak kebenaran hal yang dikemukakan oleh Santos, tapi saya rasa masyarakat juga jangan skeptis dengan kehadiran buku ini,” harap Taufik.Atlantis, The Lost Continent Finally Found, adalah karya Santos yang berisi tentang temuan-temuan baru tentang keberadaan Atlantis, benua yang diduga telah tenggelam jutaan ribu tahun lalu. Melalui serangkaian tanda-tanda yang ditunjukkan seperti bencana alam yang terjadi di Indonesia, bahasa kuno Indonesia yang konon berasal dari bangsa Dravida, gugusan Sundaland yang tenggelam, dan beberapa fakta lainnya menjadi dasar Santos berpendapat bahwa Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Walahualam. [nyimas]

Tuesday, February 23, 2010


ATLANTIS ITU BERADA DI INDONESIA


Pada zaman dahulu, ada sebuah benua bernama Atlantis dengan peradabannya yang sangat maju. Benua itu ternyata tidak hilang, namun kini sudah menjadi negeri bernama Indonesia.Ini adalah kesimpulan Profesor Arysio Santos setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir. Dia menyakini wilayah Atlantis adalah Indonesia."Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang," ujar Jimmly Assiddiqie dalam sambutan Seminar Nasional 'Indonesia Atlantis yang Sesungguhnya' di Museum Indonesia TMII, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian dibukukan dengan judul 'Atlantis, The Lost Continent Finally Found' didukung sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkelog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut."Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia," terang anggota Wantimpres ini.Jimly menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian menghilang.
Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia, Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari situasi sekarang."Paling penting adalah bahwa kita pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju," tandas Jimly.Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis."Saya harap buku ini bisa menginspirasi bagi para ilmuwan untuk mencari kebenaran secara akademik. Karena menyinggung Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu," imbuh Umar.

ATLANTIS ITU BERADA DI INDONESIA

Pada zaman dahulu, ada sebuah benua bernama Atlantis dengan peradabannya yang sangat maju. Benua itu ternyata tidak hilang, namun kini sudah menjadi negeri bernama Indonesia.
Ini adalah kesimpulan Profesor Arysio Santos setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir. Dia menyakini wilayah Atlantis adalah Indonesia.

"Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang," ujar Jimmly Assiddiqie dalam sambutan Seminar Nasional 'Indonesia Atlantis yang Sesungguhnya' di Museum Indonesia TMII, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).
Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian dibukukan dengan judul 'Atlantis, The Lost Continent Finally Found' didukung sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkelog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut.

"Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia," terang anggota Wantimpres ini.

Jimly menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian menghilang. Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia, Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari situasi sekarang.

"Paling penting adalah bahwa kita pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju," tandas Jimly.Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.

INDONESIA:ATLANTIS YANG PERNAH HILANG ?
Annida-Online—Akhir tahun lalu, tepatnya November 2009, publik Indonesia dihebohkan oleh kehadiran buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang dialihbahasakan oleh Ufuk Publishing House dengan judul yang sama. Buku setebal 677 halaman ini mengundang kontroversi karena di dalamnya, sang penulis; Prof. Arsyio Santos, menjelaskan bahwa Atlantis—surga yang pernah hilang, seperti kisah ciptaan Plato—adalah Indonesia; negara kita. Temuan Santos ini rupanya menarik perhatian para ahli untuk mencari tahu misteri asal-usul sejarah Indonesia di masa lampau dengan pendekatan geologis, perhitungan fisika nuklir, arkeologis, filosofis, hingga pendekatan etnolinguistik. “Salah satu indikasi temuan Santos mendekati kebenaran adalah kenyataan dan fakta bahwa pernah ditemukannya Pithecanthropus Erectus, sebagai manusia terpurba di Indonesia,” jelas Prof. Dr. Jimly Assidiqie, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, pada Seminar Nasional: Indonesia, Atlantis yang Sesungguhnya, Sabtu (20/2) lalu, di Museum Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Jimly—yang juga hadir bersama Dr. Radar Panca Dahana (budayawan), Prof. Dr. Harry Truman (Ketua Ikatan Arkeologi Indonesia), Dr. Oman Abdurrahman (Badan Geologi Bandung), dan Dr. Awang H Stayana (Geolog dari Bandung) sebagai pembicara dalam seminar itu—mengatakan bahwa bukti Pithecantropus tersebut menunjukkan peradaban hebat bangsa Indonesia di masa lalu. Radar, yang menganalisis temuan Santos dengan pendekatan filologi, antropologis dan arkeologis, sepakat bahwa relief-relief, bangunan-bangunan dan artefak bersejarah peninggalan manusia menjelaskan adanya kehidupan modern jutaan tahun lalu di Indonesia. Namun demikian, Prof. Dr. Harry Truman dan Dr. Awang H Satyana justru meragukan kebenaran temuan Santos di bukunya.
Meski Harry mengakui adanya pendapat dari pakar geologi dunia yang mengemukakan teori tentang asal muasal penyebaran ras Austronesia (ras yang menempati hampir setengah luas bumi dan memiliki lebih dari 1.200 rumpun bahasa) adalah dari sundaland yang tenggelam di akhir zaman es. Menurut Harry, Sundaland atau yang lebih dikenal dengan Paparan Sunda inilah yang diduga Santos sebagai Atlantis, benua yang punya peradaban tinggi, yang keberadannya selalu menjadi misteri. “Atlantis yang hilang itu tidaklah di mana-mana, itu hanya sebuah fiksi. Berbagai data dan fakta empirik melalui pendekatan geologik mengenai hal tersebut tidak bisa menjelaskan keberadaan Atlantis di Indonesia," tandas Ketua Ahli Ikatan Arkeologi Indonesia ini. Senada dengan Prof Harry, Dr. Awang juga berpendapat bahwa wacana Atlantis yang hilang adalah Indonesia terlalu dini untuk disimpulkan. Menurutnya, Santos menggunakan pendekatan kontemplasi dalam penetian yang dilakukannya selama 30 tahun ini. Tak ada argumentasi yang faktual dan aktual yang mendukung kebenaran teorinya mengenai Atlantis yang tak lain adalah Indonesia.“Bila dibandingkan dengan buku Eden in the East, karya Stephen Oppenheimer, buku ini masih sangat jauh memberikan gambaran fakta dan data geologi yang akurat. Paparan Santos hanya berangkat dari dongeng yang sumber kebenarannya nggak ada,” kata Dr. Awang. Dr. Awang mencontohkan, wacana yang menyebutkan 11.600 tahun yang lalu terjadi letusan gunung Krakatau, yang dipaparkan oleh Santos dalam bukunya tidak memiliki bukti geologi yang kuat. Keraguan Dr. Awang dan Prof. Harry juga dijelaskan pada fakta bahwa peradaban Atlantis paling cocok dengan kebudayaan tengah, kebudayaan Minoa, karena menurut penelitian geologi, pernah ada gunung meletus yang besar. Dan di sanalah terdapat kesesuaian ciri dan data geografis tentang letak Atlantis seperti yang dipaparkan Plato dalam buku berjudul Timeaus.Atlantis merupakan sebuah kawasan benua yang pertama kali dikenal dari dua karya Plato, Timeaus dan Critias. Dalam dua buku ini, Plato menjelaskan bahwa Atlantis adalah Negara yang makmur yang menjadi induk peradaban dunia dari budaya, sumber daya alam, teknologi, dll. Menurut Dr. Awang, bagi orang awam wacana atau teori santos yang menyebutkan Indonesia merupakan benua Atlantis dianggap sebagai hal yang membanggakan. “Karena di era Atlantis itu katanya masa di mana puncaknya kemajuan dan peradaban dunia. Namun harap diingat pula bahwasanya masa Atlantis itu masa di mana degradasi moral juga mencapai puncaknya. Jadi, menurut saya ada plus-minusnya, jadi jangan terlalu bangga juga dengan isu bahwa Indonesia merupakan benua Atlantis,” pungkas Dr. Awang. [nyimas]


ATLANTIS ITU BERADA DI INDONESIA


Jakarta - Pada zaman dahulu, ada sebuah benua bernama Atlantis dengan peradabannya yang sangat maju. Benua itu ternyata tidak hilang, namun kini sudah menjadi negeri bernama Indonesia.

Ini adalah kesimpulan Profesor Arysio Santos setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir. Dia menyakini wilayah Atlantis adalah Indonesia."Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang," ujar Jimmly Assiddiqie dalam sambutan Seminar Nasional 'Indonesia Atlantis yang Sesungguhnya' di Museum Indonesia TMII, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).

Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian dibukukan dengan judul 'Atlantis, The Lost Continent Finally Found' didukung sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkelog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut. "Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia," terang anggota Wantimpres ini. Jimly menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian menghilang. Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia, Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari situasi sekarang. "Paling penting adalah bahwa kita pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju," tandas Jimly.

Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.
"Saya harap buku ini bisa menginspirasi bagi para ilmuwan untuk mencari kebenaran secara akademik. Karena menyinggung Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu," imbuh Umar.

(ddt/fay)

Monday, November 30, 2009




Tya Eka Yulianti – detikBandung

Bandung - Badai Matahari adalah peristiwa pelepasan energi matahari dimana partikel matahari akan terlontar dan mengakibatkan radiasi. Meski demikian, hal itu tidak akan membahayakan kelangsungan hidup manusia hingga mengakibatkan kemusnahan massal.

Menurut peneliti Lapan Bidang Matahari dan Antariksa Clara Yono Yatini, efek radiasi akibat badai matahari terparah yaitu akan merusak satelit dan membuat komunikasi terganggu.

"Partikel matahari dapat merusak badan satelit sehingga jalur komunikasi seperti radio, sinyal dan lainnya akan terganggu atau terputus," ujar Clara dalam acara Bedah Buku Mystery of 2012, di Auditorium Geologi, Jalan Diponegoro, Kamis (26/11/2009).

Selain itu partikel tersebut juga akan menambah kerapatan atmosfer di sekitar satelit sehingga hambatan untuk kebutuhan pengiriman sinyal juga melambat.

"Seperti mengemudi di jalan raya yang sepi lalu jalannya jadi macet," ujar Clara.

Namun dijelaskan Clara, partikel matahari tersebut tidak akan masuk seluruhnya ke bumi, karena ada lapisan pelindung bumi yang akan menyaringnya terlebih dahulu.

"Magnetosfer akan menjadi tamen penahan agar partikel tersebut tidak masuk semua, tapi pasti ada yang masuk, tergantung karakter planetnya," tuturnya.

Dampak badai matahari yang pernah terjadi diantaranya di tahun 2000 terjadi black out akibat satelit lost contact, dan juga pada 2003 dimana di swedia terjadi mati listrik selama 6 jam.

Tapi menurut Clara, badai matahari ini tidak akan mengakibatkan struktur bumi apalagi inti bumi terpengaruh hingga mengakibatkan bencana yang dapat memusnahkan manusia secara massal dalam waktu yang sekejap.




Ilmuwan Harusnya Keluarkan Penyangkalan

Tya Eka Yulianti – detikBandung


Bandung - Jika isu kiamat 2012 berkembang menjadi topik yang meresahkan di masyarakat, seharusnya ilmuwan dapat membuat buku pembanding yang dapat menjelaskan sangkalan terhadap peristiwa yang tidak berdasarkan sains tersebut.

Hal itu dikatakan Ahli Geologi Awang Harun Satyana saat ditemui dalam acara Bedah Buku Mystery of 2012, di Auditorium Geologi, Jalan Diponegoro, Kamis (26/11/2009).

Menurut Awang, ilmuwan memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan pada masyarakat terkait sejumlah penjelasan di buku 'Mystery of 2012' atau film '2012' yang dianggap Pseudosains.

"Seharusnya ilmuwan asli disana yang menyanggah bahwa isu tersebut tidak benar," ujar Awang.

Di Indonesia menurut Awang isu ini belum terlalu meresahkan seperti yang terjadi di luar negeri lainnya. "Kalau secara global, sebagian isu ini sudah meresahkan, saya suka membuka website NASA dan mereka menerima beribu pertanyaan seputar kebenaran kejadian di 2012," jelasnya.

Jika nanti isu ini berkembang hingga meresahkan masyarakat Indonesia, maka menurutnya perlu ada penjelasan dari organisasi yang terkait.

"Jika sudah meresahkan, organisasi seperti IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) bisa membuat pernyataan atau pandangannya. Karena sebagai ilmuwan, sudah tugasnya untuk mendidik masyarakat" tambahnya.

Sementara itu dirinya memilih untuk menyosialisasikan kebenaran sains seputar 2012 pada lingkungan sekitarnya. "Sementara ini dilingkungan saya dulu, atau bisa dengan menulis di media massa," kata Awang yang merupakan anggota IAGI aktif ini.
(tya/avi)


Monday, October 12, 2009


PENERBIT UFUK SEGERA TERBITKAN KISAH INSPIRATIF OBAMA INDONESIA

Annida-Online-- Ilham Anas nggak bakal sepopuler sekarang kalau Barrack Obama nggak mencalonkan diri menjadi presiden dan terpilih menjadi orang nomor satu Amerika. Gara-gara punya tampang mirip Obama, Ilham mendadak jadi selebritis dan tampil di berbagai acara televisi. Bahkan perusahaan obat sakit perut Filiphina mengontrak Ilham Obama sebagai bintang iklan produk mereka. Kisah-kisah jenaka, unik, dan pengalaman Ilham yang disangka Obama ini akan menjadi sebuah buku berjudul Gara-Gara Obama. Penerbit Ufuk Publishing House akan melaunching buku tersebut Oktober ini.

"Ilham menulis tentang peristiwa-peristiwa jenaka dan inspiratif yang dia alami. Peristiwa lucu yang tidak sengaja karena mirip Barrack Obama. Jadi ini kisah nyata yang termasuk di lini Isu Baru Penerbit Ufuk," kata Muhammad Sadan, Manajer Marketing dan Promosi Ufuk Publishing House. Sebenarnya menurut Sadan pihaknya telah mempersiapkan launching, namun mesti diubah kembali karena Ilham "Obama" Anas sedang di Padang. Sang nenek belum jelas kabarnya dalam musibah gempa Sumatera Barat.

Sebelumnya buku yang ditulis langsung oleh Obama Impersonator ini telah beredar di Thailand dalam Kampanye Perubahan Iklim Internasional yang disponsori Greenpeace International di Bangkok (18-19 September 2009). Dengan ringan, Ilham Obama bertutur kisah perjalanan kariernya dari "kecelakaan" peristiwa, yakni keseriusannya berperan sebagai Barrack Obama sekaligus tetap menekuni profesi fotografer di sebuah majalah, hingga berusah terlibat dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan mendukung literasi Indonesia.

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang ditulis pendek-pendek. Termasuk masa lalu Obama Indonesia tersebut ketika masih kecil. "Pembaca bisa belajar banyak dari buku ini. Bahwa rejeki Tuhan datang dari arah yang tak terduga dan bisa dilihat dengan bijak. Misalnya ketika fotonya diminati dan ditawari membintangi iklan minyak goreng dan obat sakit perut di Filiphina," ujar Sadan. [Elzam]


Thursday, February 12, 2009



TIDAK ADA REGULASI PASTI

Bakar Bilfagih,
Editorial & Production Director Ufuk Publishing House

Kalau kita berbicara masalah best seiler, maka yang akan kita bahas ya... tentang "selling"-nya; kuantitasnya, bukan kualitasnya. Artinya, indikator yang menentukan buku disebut besr seiler adalah capaian penjualan buku tersebut. Perhitungannya mengacu pada jumlah ekslemplar buku yang terjual dalam kurun waktu tertentu. Dengan kata lain, buku-buku besr seller ini belum tentu the best secara isi atau kualitas. Mungkin buku-buku yang the best secara kuantitas juga secara kualitas baru dapat dibuktikan ketika buku tersebut diapresiasi atau mendapatkan semacam award dari sebuah intitusi. Akan tetapi, banyak juga buku-buku yang mengalami best seiler, namun isinya bisa dikatakan "sampah", karena nggak ada "something" yang mencerahkan untuk pembaca. Meski demikian, tak dipungkiri bahwa kualitas isi buku itu juga menjadi salah satu penentu sebuah buku mengalami best seiler di pasaran. Tapi sekali lagi, ini bukan hal yang mutlak. Bisa saja karena efek berantai, misalnya ditulis oleh artis, orang jadi pensaran, maka buku itu jadi banyak yang beli, kemudian laku.

Ukuran besr seller di Ufuk sendiri adalah bila buku tersebut menembus angka penjualan 10.000 eks dalam kurun waktu 3-6 bulan. Ufuk juga menerbitkan karya-karya terjemahan yang mengalami bestseller di negara asalnya, tapi itu juga bukan jaminan buku itu akan mengalami pencapaian yang sama (baca: bestseller) ketika diterbitkan di Indonesia. Hal ini karena dipengaruhi oleh factor-faktor, seperti isu yang berkembang tidak sama, atau tema yang diangkat sudah terlalu umum di sini, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Ufuk memutuskan menerbitkan buku-buku terjemahan yang mengalami best seiler itu karena penting untuk diketahui oleh pembaca di Indonesia.

Patokan yang menjadi standar di Ufuk mungkin akan berbeda dengan patokan atau standar di penerbit lain. Ada yang mematok angka 3000, sudah dibilang best seiler, atau 6.000. Itu hak masng-masing penerbit, karena memang tidak ada regulasi yang pasti, baik dari organisasi induk penerbitan, seperti IKAPI, maupun dan pemerintah yang mengatur tentang aturan main penerbitan di Indonesia, salah satunya tentang standar buku dikategorikan best seller. Disinilah pembaca yang harus aktif dan lebih cerdas. Sekarang kan buku yang akan dibeli biasanya ada sample yang bisa dibaca di toko buku. Memang, tidak mungkin juga membaca seluruh isi buku tersebut. Tapi itu juga bisa menjadi suatu upaya membeli buku yang diharapkan oleh pembaca itu sendiri. Media massa juga harusnya mengambil peran dalam mengawasi sistem penjualan atau trik dagang para penerbit yang nakal.

Thursday, December 04, 2008




Buku mewah setebal 208 halaman itu bak oase di tengah gurun pasir yang panas. Di tengah ramainya para artis-artis pendatang baru yang haus akan bacaan tentang seni peran, buku ini langsung hadir menebus dahaga. Tak berlebihan, jauh sebelum diluncurkan pemesanan ke penerbit Ufuk sudah mengalir.
(Bekasipos.com, Desember 2008)


BANYAK artis bermunculan, tapi Eddie Karsito tentu beda. Ia bukan saja artis yang juga wartawan, namun ternyata mampu menunjukkan kemampuan lebihnya sebagai penulis tentang panggung keartisan. Paling tidak ini ia buktikan lewat buku karyanya berjudul "Menjadi Bintang" yang diluncurkan di Jakarta, Senin (1/12) lalu.

Buku mewah setebal 208 halaman itu bak oase di tengah gurun pasir yang panas. Di tengah ramainya para artis-artis pendatang baru yang haus akan bacaan tentang seni peran, buku ini langsung hadir menebus dahaga. Tak berlebihan, jauh sebelum diluncurkan pemesanan ke penerbit Ufuk sudah mengalir.

Bagi Eddie sendiri, hadirnya buku ini sampai ke tangan pembaca perlu perjuangan yang berat. Apalagi setahun terakhir frekuensi syutingnya begitu padat. Tapi, keinginan kerasnya untuk menelurkan karya buku yang diharapkan bisa jadi pegangan generasi sekarang dan yang akan datang seolah mematahkan apa pun rintangan yang menghadang.

Tantangan terberat tentu ketika dummy buku itu sudah selesai, namun belum ketahuan siapa yang mau mencetak. "Saya sangat bersyukur di tengah pesimisme itu, ada penerbit yang dengan mau mencetak dan mengedarkannya," kata ayah satu anak yang sehari-hari masih aktif menulis di suratkabar "GalaMedia" Bandung itu.

Sejumlah artis, praktisi maupun pimpinan organisasi perfilman dan televisi tampak datang pada acara peluncuran buku ini, Senin (1/12) siang. Bahkan secara khusus tiga personel Miss Celebrity SCTV ikut memberikan pernyataan tentang perlunya buku ini bagi dirinya sebagai calon artis.

Akhlis Suryapati, wartawan senior yang juga aktif di keorganisasian perfilman melihat terbitnya buku "Menjadi Bintang" sebagai mengisi peluang yang memang ada. "Sekarang banyak buku baru terbit, tapi yang ini tentu beda. Bisa jadi bekal pengetahuan bagi junior ataupun orang awam yang mau nyemplung ke panggung keartisan," katanya.

Praktisi perfilman yang juga wartawan senior, Kardi Said juga berpendapat senada. Menurutnya, sekarang banyak orang mampu menerbitkan buku teater, tapi soal akting ataupun dunia keartisan belum ada referensinya. "Makanya, kehadiran buku ini bisa jadi referensi bagi semua insan perfilman, baik yang senior, junior, ataupun yang mau terjun ke keartisan."

Sutradara kondang Rudi Sudjarwo melihat buku ini cukup kredibel sebagai panduan bagi yang ingin terjun di industri film dan televisi. Pembahasannya komplit, mulai soal teknis sampai masuk ranah budaya.

Sementara itu Aditya Gumay, pimpinan Teater Ananda mengatakan, membaca buku "Menjadi Bintang" ini seperti membaca kisah perjalanan penulisnya, yang aktivis teater, pekerja film dan sinetron dan wartawan.

Buku "Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi" yang dibandrol Rp189.000/eksemplar ini selain merangkum sejumlah pengalaman manis dan pahit sejumlah artis, dilengkapi dengan berbagai pengetahuan, mulai soal etika syuting sampai dengan urusan kontrak kerja yang sering jadi masalah antara artis dan produser.

Eddie Karsito yang banyak memerankan sosok jahat di film dan sinetron itu kisah hidupnya tak banyak diketahui orang. Jarang yang tahu kalau dia dulu sebelum menjari artis pernah menjadi kernet angkot, penjaga rumah makan, kuli bangunan, tukang parkir, dan sejumlah pekerjaan kelas bawah. Adalah Dorman Borisman yang punya andil menjadi seperti sekarang.

"Ketika lagi ngernet angkot, saya lihat Mas Dorman dan terus ajak aku ikut main teater. Dari situ aku kemudian jadi aktivis teater di Gelanggang Remaja Jaktim," kisahnya.

Keaktorannya yang paling menonjol adalah ketika membintangi film "Maaf, Saya Menghamili Istri Anda" karya sutradara Monty Tiwa di mana ia meraih predikat Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008. Ia juga pernah meraih predikat serupa pada FFI 2006. Bersama komunitas teaternya, Eddie juga pernah meraih juara I Festival Film Independen SCTV 2003. (may)


VIVAnews - Bintang 'Eiffel I'm in Love', Samuel Rizal, bakal berkibar di negeri Jiran. Samuel akan bergabung dengan jajaran artis Malaysia untuk film terbarunya yang baru rilis 2009.
Dalam film terbaru -yang judulnya pun tak mau dibocorkan Samuel- nanti, keahlian Samuel sebagai seorang penari hip hop bakal ditantang.

"Bedanya di (film) 'Jelangkung' horor, di 'Eiffel I'm in Love' drama, kalau ini gue dancer, hip hop dancer," ujarnya saat berbincang di peluncuran buku 'Menjadi Bintang: Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi' Senin 1 Desember 2008 di Gedung Film Jalan M.T Haryono, Jakarta Selatan.

Selama syuting tiga bulan Februari hingga April, di Malaysia, Sammy -panggilan akrabnya- mengaku tak sampai kecantol artis-artis muda Malaysia yang main bareng dengannya.

Sebagai aktor yang sudah main di tiga layar lebar, Samuel bagi-bagi pengalaman untuk para pendatang baru. Baginya, mermpertahankan karir di dunia film dan layar kaca memang gampang-gampang susah. Kadang timbul dan tenggelam. Bagi para pemain di dunia ini, akan sulit jika mereka tidak konstan berkarya.

Kendati sudah jarang tampil di layar kaca, mantan atlet basket klub Satria Muda itu menolak jika dirinya dikatakan sudah tidak laku lagi. Samuel tak ambil pusing dengan anggapan miring yang beredar. Baginya, berprestasi itu jauh lebih penting.

Meski tidak dikejar-kejar tenggat waktu, aktor berdarah Ambon, Padang, Manado itu selama ini masih terus berkarya. Deretan pekerjaan antre, seperti bermain dalam FTV, mini seri, dan layar lebar.
• VIVAnews

Wednesday, December 03, 2008



Aktor dan wartawan senior Eddie Karsito kembali merilis buku ketiganya berjudul Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi. Buku ini mengulas kiat sukses menjadi artis dan pengusaha industri hiburan teater, film dan televisi.

JAKARTA (1/12/2008) LAHIRNYA beberapa stasiun televisi memberi dampak terhadap tatanan sosial. Masyarakat tidak hanya jadi penikmat hiburan televisi tapi juga mencoba untuk terjun menjadi bintang, produser atau crew.

Sayangnya, para artis pendatang baru terkesan bersikap gamang atau kurang menguasai keadaan. Karena itulah apa yang ditulis aktor dan wartawan senior Eddie Karsito dalam bukunya berjudul Menjadi Bintang : Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi, diharapkan dapat memberi gambaran bagi masyarakat yang ingin berkiprah di industri perfilman.

Launching buku Menjadi Bintang ini digelar di Gedung Film, Jl MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin ini. Edi mengaku saat ini belum banyak buku yang membahasa industri perfilman dan pertelevisian secara legakap. Karenanya, Eddie berharap apa yang ditulis dalam buku ini diharapkan dapat memberi gambaran bagi masyarakat yang ingin berkiprah di dunia peran, jangan sampai mereka salah arah dan dimanfaatkan situasi. Sebab, dunia peran semakin komplek, unik dan sedernaha.

Buku setebal 208 halaman yang diterbitkan oleh Ufuk Publishing Houses (Cahaya Insan Suci) dan Yayasan Humaniora ini selain memberi gambaran tentang peta industri film dan televisi, dan sebagainya, buku ini mengulas berbagai tips tahapan menjadi artis, bagaimana mengenali bakat, strategi dan unsur penting casting. Sebab, buku ini dilengkapi wawancara artis, sutradara dan produser Indonesia.

Sutradara Rudi Soedjarwo menilai buku ini bisa menjadi panduan bagi mereka yang ingin terjun di industri film dan televiai. "Penulisnya cukup kredibel karena dia berdiri di beberapa sesi profesi, aktor dan wartawan," katanya. Hal senada juga dikatakan Jenny Rachman, artis dan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia. (PARFI). Menurut dia, yang dibahas buku ini tidak hanya teknis, tetapi film dalam ranah kebudayaan. Dilengkapi hasil wawancara penulisnya dengan para artis, sutradara dan tokoh perfilman nasional. "Dalam buku ini, terangkum sejumlah pemikiran dan gagasan yang layak dijadikan referensi," ujar Jenny.

Eddie Karsito, aktif, dinamis dan 'an enterprising young man'. Predikat yang pas untuk pria kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, 24 November 1961 ini. Edi sering membintangi belasan film dan sinetron, diantaranya film " Maaf, Saya Menghamili Istri Anda'. Melalui film ini Edy mendapat penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB). Sedangkan sinetronya yang cukup menonjol adalah FTV 'Ujang Pantry" yang tayang di ATV. Bagi Eddie, profesi keaktoran dan kewartawanan merupakan wilayah yang unik dan merupakan profesi yang tiada henti untuk mengaktualisasikan diri , terbuka, universal dan humanis. (dju)




Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes