Showing posts with label *Koran Jurnal Nasional. Show all posts
Showing posts with label *Koran Jurnal Nasional. Show all posts

Monday, June 04, 2012


Membaca Ragam Kekhasan Jokowi

Keberhasilan Jokowi tentu tidak lepas dari pengaruh media massa. Salah satu pilar demokrasi ini mempunyai mekanisme sendiri dalam pembentukan sebuah tokoh. Oleh Benni Setiawan*) Buku Jokowi, dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi menututurkan tentang seorang pemimpin daerah penuh inspirasi. Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi lahir pada 21 Juni 1961. Ia dilantik pertama kali menjadi Walikota Solo pada 28 Juli 2005. Nama Jokowi saat ini sedang mendunia. Ia tidak hanya menjadi seorang Wali kota di sebuah daerah kecil. Namun, kepak sayapnya telah banyak membuka mata masyarakat akan sebuah kepemimpinan yang diidamkan. Keberhasilan Jokowi tentu tidak lepas dari pengaruh media massa. Salah satu pilar demokrasi ini mempunyai mekanisme sendiri dalam pembentukan sebuah tokoh. Sang tokoh bisa besar dan kecil dalam realitas media, realitas statitik, realitas politik, dan realitas sesungguhnya. Kebiasaan bicara, berserikat, dan pers menyebabkan media memiliki peranan besar membentuk ketokohan. Kemunculan sang tokoh secara intensif dan masif di media biasa membuat postur seorang tokoh tiba-tiba menggembung atau mengempis. Jokowi saat ini adalah "darling", "cem-ceman", atau "kekasih" media. Kepandaian Jokowi memainkan rumus relasi publik (public relations) dengan tampil tepat waktu merebut momentum, membuat kiprahnya tersiar luas tanpa perlu bersusah payah beriklan. Itulah "realitas media" seorang Jokowi. Liputan tinggi terhadap Jokowi menaikkan angka popularitasnya, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa survei terakhir menjalang pilkada DKI Jakarta 2012. Berkat dukungan media, Jokowi bersama Hadi Rudyatmo memenangi pilkada Solo 2010 dengan capaian gemilang, 91 persen. Lebih lanjut, postur tokoh sebetulnya tergambar lewat proses pembuktian kerja dan kinerja. Sebelum seseorang mengerjakan sesuatu dan terbukti memiliki kinerja yang penuh kelayakan sosoknya terbangun secara mitologis. Setelah kerja dan pembuktian kinerja sosoknya bertransformasi menjadi sosok historis-sosok yang terukur, bukan sekadar mitos. Inilah yang kemudian disebut realitas sesungguhnya oleh Eep Saefulloh Fatah dalam epilognya. Jokowi adalah sosok historis yang langka. Ia sudah melayari ujian kerja dan kinerja dan membuktikan sosok-historisnya. Dan justru inilah modal paling dahsyat yang dimilikinya. Di antara semua modal politik yang dimilikinya, modal paling besar yang dimiliki Jokowi adalah otentisitasnya. Seorang pemimpin disebut otentik manakala ia leluasa membuat langkah dan kebijakan karena ia tak memasukkan kepentingan personal dan kelompok yang sempit di dalam langkah dan kebijakan itu. Seorang pemimpin yang otentik akan menjadi pengendali yang powerful-berkekuatan besar-manakala punya visi tegas, arah jelas, kerangka berpikir di luar kelaziman umum (out of the box), dan keberanian mengamil risiko. Jokowi mempunyai itu.

Harapan Buku karya jurnalis senior Rakyat Merdeka ini tidak hanya menyuguhkan keberhasilan Jokowi. Namun, adanya harapan baru dari sosok pengusaha mebel itu. Jokowi, tulisnya adalah sebuah harapan. Kehadirannya menggarisbawahi fakta bahwa--di tengah buruk rupa wajah otonomi daerah--selalu saja tersedia harapan. Di tengah lorong gelap yang terasa panjang, Jokowi (dan tokoh-tokoh seperti dia) menunjukkan kepada kita bahwa nun di sana ada seberkas sinar yang akan menyudahi gulita dan menggantinya dengan benderan. Ia (atau mereka) seperti lilin yang bersinar di tengah gelap menikam. Yang dilakuan Jokowi sebetulnya sederhana belaka. Ia menegaskan bahwa menjadi kepala daerah yang luar biasa sejatinya adalah berpikir dan bertindak berbeda dari kepala daerah kebanyakan. Sesederhana itu. Jokowi menggarisbawahi bahwa untuk menjadi kepala daerah yang berhasil, seseorang cukup menjadi "Pemimpin" (dengan "P" besar), dan bukan sekadar berpuas diri menjadi gubernur, bupati, atau walikota, atau bahkan presiden. Menjadi pemimpin adalah mengikhlaskan diri dalam kerja layanan masyarakat. Sementara menjadi gubernur, bupati, wali kota, atau presiden cukup dengan mempertontonkan kekuasaan sambil menjaga jarak dari publik---menjadi sesuatu yang "tak tersentuh". Fenomena Jokowi mengonfirmasikan bahwa pemimpin dibentuk dari orang biasa, bukan dari bangsa malaikat seperti dalam kitab suci atau pahlawan super seperti dalam cerita-cerita komik (hlm. 120). Lebih lanjut, buku yang ditulis Yon Thayrun, Jokowi, Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker seakan melengkapi buku karya wartawan Rakyat Merdeka tersebut. Yon Thayrun menulis buku ini dengan melakukan wawancara mendalam dengan Jokowi. Sebuah pekerjaan yang tidak dilakukan oleh Zaenuddin HM. Berdasarkan wawancara tersebut, Yon Thayrun mengambil kesimpulan bahwa Jokowi merupakan pemimpin yang unik lagi nyentrik. Dia adalah pencinta musik rock. Dia rela menghabiskan waktunya untuk menonton latihan grup Trencem yang populer di Solo kala itu. Sebagai rocker, Jokowi mengilhaminya dalam kehidupan sehari-hari. Rock baginya adalah semangat hidup yang terus menyala. Dengan musik cadas ia mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan berani untuk kepentingan masyarakat yang lebih baik. Penggemar Led Zeppelin dan Lamb of God itu pun dalam berbagai kesempatan menyatakan ingin mengundang Lamb of God tampil dalam Rock di kota yang kini masih dipimpinnya (Solo). Kedua buku tersebut menampilkan ragam kekhasan Jokowi. Jokowi memang menarik untuk diulas menjadi sebuah buku, karena dia sekarang sedang menjadi cem-ceman (kekasih) media. Dua buku tersebut saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Siapa saja yang mengidolakan Jokowi dan ingin mengetahui lebih dekat diri Jokowi dua buku tersebut akan mampu menuntut Anda. Selamat membaca.

*)Benni Setiawan, blogger buku, bertualangkata.blogspot.com ***

Sunday, April 15, 2012


MENEBAR VIRUS CINTA LEWAT FACEBOOK

Di dunia maya, nama Agus Syafii mungkin sudah tidak asing lagi. Bayangkan saja, hanya berdakwah melalui jejaring sosial facebook, Agus Syafii telah memiliki lebih dari 2 juta penggemar. Agus adalah pendiri komunitas Page Facebook Mukjizat Sholat dan Doa, sebuah komunitas di dunia maya yang memiliki penggemar lebih dari 2 juta orang. Salah satu keunggulan dari halaman ini Mukjijat Sholat dan Doa adalah bahwa halaman ini benar-benar merupakan media komunikasi dan ruang pencerahan batin bagi penggemar tidak berdasarkan public figure sebagai titik sentralnya.

Ia tidak dilihat sebagai pribadi yang dikenal publik dalam gemerlap acara dakwah atau selebritas, tetapi mampu menarik gerbong dakwah melalui karya nyata kemanusiaan yang disaksikan langsung oleh penggemarnya melalui facebook. Kebanyakan para penggemar telah mengetahui Agus Syafii dan Rumah Amalianya yang begitu inspiratif bagi mereka. Rumah Amalia merupakan rumah kebahagian yang memiliki visi dan misi cerdas dalam menempatkan keluarga dengan fungsinya masing-masing. “Rumah Amalia merupakan rumah atau wadah dalam memberikan bimbingan psikologi dan pendidikan bagi anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki orangtua," kata Agus Syafii.

Menurut dia, di Rumah Amalia, ia bersama isteri dan juga para kakak-kakak (guru) memberikan pendidikan dan bimbingan psikologi. Mereka di Rumah Amalia dibimbing menemukan keahlian masing-masing. “Dari 10 anak yang kami bina, bertambah 20, hingga bertambah menjadi 30 anak didik pada tiga tahun pertama. Kami tiap hari memberikan bimbingan belajar dan pengajian. Memberikan mereka harapan tentang masa depan," kata dia. Tanpa memungut biaya, Agus menerima siapapun yang ingin belajar di Rumah Amalia. Ia membangun Rumah Amalia ini karena tersentuh untuk membantu seorang anak yatim yang harus dengan terpaksa menerima pahitnya kehidupan.

Hanya karena ingin memberikan rasa aman dan kasih kepada anak yang belum mendapatkan hal tersebut, kini Rumah Amalia tetap berjalan. “Yang penting kasih sayang. Materi atau dana ada atau tidak aktivitas di Rumah Amalia tetap berjalan," kata dia.

Hingga kini rumah bagi kaum dhuafa ini telah berjalan lima tahun dengan jumlah anak asuh sebanyak 80 anak. Agus melihat, Rumah Amalia ini ternyata butuh wadah dan media komunikasi bagi anak-anak yang berasal dari kaum dhuafa. Maka dari itu, pada tahun ketiga berdiri, ia membuat page (halaman) facebook yang diberi judul Agus Syafii. “Nama saya sendiri," kata dia.

Selang beberapa waktu berjalan nama Agus Syafii sebagai halaman facebook hanya menjangkau kalangan terbatas saja, karena orang melihat sisi personal saja. Maka kemudian, ia kembali membuat halaman facebook dengan nama Mukjijat Sholat dan Doa, dengan alamat http://www.facebook.com/pages/Mukjijat-Sholat-Dan-Doa. Dalam menyebarkan virus cinta melalui postingan di halaman Mukjijat Sholat dan Doa mendapat respon yang luar biasa. Postingan ini ia tidak memposting bagaimana kedahsyatan sholat dan doa dalam bentuk ritual atas formalitas simbolik dalam islam. Tapi menyuguhkan makna-makna batin suatu ibadah dalam wujud nyata sosial dan kemanusiaan.

“Alhamdullilah, reaksi publik di dunia maya sangat mengagumkan. Mereka butuh spritualitas, butuh penyaluran minat dan bakat, dan haus pengetahuan tentang Islam," katanya. Mendapat respon yang luar biasa, halaman facebook mukjijat sholat dan doa saat ini telah memiliki 2.016.316 penggemar per 22 Februari 2012. Bahkan komunitas page yang dibuat oleh Agus Syafii ini pernah dinobatkan sebagai salah satu The Best Ten Page Facebook, menggeser halaman facebook Chocolator awal Februari 2012 (Data dari salingsilang.com).

Setelah sukses dengan dunia mayanya, Agus Syafii mengumpulkan kisah-kisah inspiratifnya ke dalam sebuah buku. Buku yang diberi judul Mukjijat Sholat dan Doa ini diharapkan dapat menepis kegalauan masyarakat dan menggugah kesadaran jiwa. “Jika hati terasa galau dan sulit berkonsentrasi, maka salah satu cara efektif untuk mengatasinya adalah dengan mendekatkan diri dan mengadu kepada Allah SWT," kata dia. Menurut dia, kegalauan yang dialami oleh masyarakat adalah seringnya merasa kesepian di tempat ramai, dan kehilangan jiwanya. Maka salah satu solusinya mendekat kepada Allah melalui doa.

Buku setebal 333 halaman tersebut merupakan kumpulan dari kisah-kisah nyata dan inspiratif yang pernah dimuat di halaman facebook Mukjizat Sholat dan Doa, atau blogspot Agus Syafii beberapa tahun terakhir ini.

Dalam tulisan ini Agus Syafii mengajak pembaca memperkuat bangunan kasih keluarga. Karena ini adalah pusat dan awal atas semua kasih sayang manusia dan kemanusiaan.
“Keluarga rapuh dan broken home, hanya akan mengakibatkan korban-korban anak menjadi putus harapan. Mari kita jaga kerukunan dan tali kasih sesama anggota keluarga," kata dia.



Wednesday, April 04, 2012

BERBISNIS ALA BAJAK LAUT

Nama Steve Jobs seperti menjadi jaminan atas produk-produknya. Berkualitas. Memuaskan. Pantas saja jika di setiap peluncuran produknya ia mampu memukau banyak orang
(Jurnal Nasional).

Beberapa media besar seperti Time mengulas hampir semua peluncuran produknya. Meski mangkat 5 Oktober 2011 lalu, sampai kini dan seterusnya ia akan tetap dikenang sebagai sosok yang lumayan komplet: penemu, perancang, pemantik revolusi komunikasi, juga pengusaha sukses. Tak keliru bila kita bertanya: apa rahasia Steve Jobs sehingga bisa seperti itu?
Steve Jobs tidak memiliki bola kristal yang membuatnya dapat membuat produk-produk yang luar biasa dan selalu mengagumkan. Ia manusia, dan karena itu bisa ditiru siapa pun. Bahkan mungkin kelak ada yang melampauinya. Beruntunglah kita karena Jay Eliot menulis The Steve Jobs Way ini. Namun, alih-alih diterjemahkan atau menggunakan judul aslinya, buku ini menggunakan kata-kata Steve Jobs dalam pidatonya di Stanford pada 2005 yang mengagumkan itu: Stay Hungry, Stay Foolish.

Ini bukan buku biografi Steve Jobs, melainkan hanya membahas jalan bisnisnya. Menurut mantan Wakil Presiden Apple Computer ini, kunci pokok keberhasilan Steve Jobs hanya satu: memilih menjadi bajak laut ketimbang angkatan laut. Pirates! Not the Navy (Bajak Laut! Bukan Angkatan Laut). Tentu saja, ini metafora. Dalam konsep bajak laut, tidak ada soal kemapanan. Untuk itulah, judul buku ini sangat pas mewakili Steve Jobs: Selalu Merasa Lapar, Selalu Merasa Bodoh. Ia sosok anti-kemapanan sejati.

Bajak laut selalu merasa harus menciptakan segala sesuatunya; angkatan laut tinggal menggunakan segala fasilitas yang sudah disiapkan. Jadi, dalam soal kehidupan, bajak laut harus selalu memutar otak untuk bisa mempertahankan hidup; angkatan laut tinggal menggunakan semua fasilitas yang ada untuk melanjutkan hidup. Bajak laut tidak selalu yakin bahwa mereka akan selalu memiliki kapal sebagaimana anggota angkatan laut. Moto inilah yang menjadi motor kesadaran setiap karyawan yang berada di bawah naungan Jobs.
Dalam lingkungan yang benar, didorong oleh keberanian yang tepat, para bajak laut dapat mencapai apa yang tak dapat dicapai angkatan laut. Namun, bajak laut bukan hanya mengenai produk, dia meliputi pemikiran bebas di luar kebiasaan mengenai semangat revolusioner yang ingin Steve kembangkan, termasuk dalam pemasaran.

Dalam dunia pemasaran konvensional, ada pakem yang selalu dikumandangkan ribuan pakar bisnis di seluruh dunia: Anda harus mengetahui dulu apa kebutuhan dan keinginan konsumen. Dari situlah lahir produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar tersebut. Namun, Steve mengambil jalan beda. Sering kali konsumen tidak tahu apa yang mereka butuhkan, kata Steve, sampai kita menunjukkan kepada mereka kebutuhan mereka.

Berbicara tentang produk, seluruh hidup Steve Jobs didedikasikan untuk mengagungkan produk. Hasrat Steve terhadap produk sangat besar. Ia begitu memerhatikan detail produknya. Jika merasa produknya belum sempurna, ia menunda peluncurannya, bahkan jika acara peluncuran itu sudah tersebar ke mana-mana. Ia tidak main-main dengan produknya.
Ia bisa begitu karena ia seorang konsumen terhebat di dunia. Jay melihat itu ketika pertama kali bergabung dengan Apple. Jobs meniupkan kehidupan ke dalam Macintosh sebagai "komputer untuk kita semua". Ia menghadirkan iTune Store dan iPod atas kecintaannya terhadap musik. Ia menyukai kenyamanan ponsel namun membenci ponsel berat, menjijikkan, dan sulit digunakan yang beredar di pasar. Ketidakpuasan tersebut membuatnya menghadirkan iPhone kepada dirinya sendiri dan kita semua. Steve Jobs menyelamatkan, mengembangkan, dan mengubah masyarakat dengan menuruti hasratnya terhadap produk.

Meski dikenal sebagai pemimpin yang temperamental, ia bisa membuat orang takjub dan kagum kepadanya. Jika marah, kemarahannya hanya sebentar. Keesokan harinya, ia akan bersikap seperti biasa. Dalam soal penghargaan, Steve Jobs patut ditiru pemimpin perusahaan mana pun. Betapa besar pemikiran yang ia kerahkan untuk membuat orang mengetahui bahwa mereka penting dan apa yang mereka lakukan adalah penting. Ia sering berkeliling dan menanyakan kegiatan apa yang sedang karyawannya lakukan. Ia bukan hanya merancang sebuah produk, tapi juga memerhatikan setiap detail produknya. Kadang, ia melontarkan pertanyaan yang bisa membuat karyawannya marah. Namun, jika berhasil ia tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang gila untuk karyawannya. Misalnya, dengan memberikan produknya secara cuma-cuma kepada para karyawannya.

Tentu, ada banyak lagi kisah dan nilai positif lainnya yang bisa kita petik dari Steve Jobs dalam buku ini. Yang menarik, Jay menulis buku ini dengan simpatik. Juga berimbang. Tidak terjatuh kepada dendam. Padahal, Jobs memecat Jay. Alih-alih benci, Jay mengagumi Jobs. Dan, memang, dengan semua produknya untuk kemajuan kemanusiaan secara umum Steve Jobs pantas kita kagumi.

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes