Monday, February 07, 2011


PENGALAMAN, HARTA TAK TERNILAI

Time is money atau waktu adalah uang. Karena itu, kita berjibaku dengan waktu memburu uang dengan berbagai cara. Uang pun menjadi ukuran kekayaan. Namun, dia bukan segalanya. Sebab, ada kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, tapi bisa dinilai dengan uang. Buku You Are Really Rich karya Steve Henry ini mengungkap bahwa “peristiwa dan pengalaman” yang kita alami merupakan kekayaan yang kita nikmati dan membuat bahagia, tapi tidak kita disadari. Berapa nilainya jika peristiwa dan pengalaman tersebut diuangkan? Sebuah tim dari Reallyrichlist melakukan survei untuk menilai peristiwa dan pengalaman dengan uang. Matt Boffey dalam catatan risetnya mengungkapkan, survei ini terinspirasi oleh penelitian akademis dalam bidang ekonomi, sosiologi, dan psikologi mengenai hubungan antara berbagai peristiwa dalam hidup, seperti penyakit, pernikahan, pemecatan, dan akibatnya bagi kebahagiaan manusia.

Penelitian- penelitian itu menggunakan model matematis untuk memperkirakan ukuran dan akibatnya yang dituangkan dalam bentuk uang. Hal itu misalnya sebuah penelitian yang dilakukan Nattavudh Powdthavee Universitas New York pada 2007. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa frekuensi interaksi antarteman, keluarga, dan tetangga memiliki nilai sebesar £85 ribu (sekitar Rp1,2 miliar) setahun dalam hal kepuasan. Sementara perubahan yang sesungguhnya dalam pendapatan hanya mampu membeli sedikit kebahagiaan. Penelitian-penelitian ini merupakan hal rumit. Dibutuhkan data yang tidak sedikit. Sebab, ditarik dari orang yang sama setiap tahunnya selama beberapa tahun.

“Namun, kami terinspirasi dan bekerja dengan lembaga yang kompeten, yakni BrainJuicer. Kami menggunakan metode penelitian mereka sebagai titik tolak dalam mengembangkan metode kami sendiri. Tujuan kami adalah menciptakan hasil survei yang mudah dipahami, menyenangkan, sederhana, dan mampu menghasilkan penemuan yang akurat,” papar Boffey. Survei ini mendaftar 50 peristiwa dan pengalaman hidup kemudian ditanyakan kepada 1.000 orang perwakilan dari seluruh Inggris. Seberapa bahagiakah mereka atas 50 peristiwa dan pengalaman hidup tersebut? Lalu, mereka diminta memberi nilai pada masingmasing peristiwa dan pengalaman dalam skala 1–10. Di samping itu, mereka juga diminta memberi penilaian untuk variabel nilai uang yang dituangkan dalam bentuk lotre.

Tingkat kebahagiaan yang terungkap dalam bentuk lotre ini dapat memperkirakan nilai uang peristiwa dan pengalaman. Ini misalnya jika nilai rata-rata kebahagiaan dari memenangkan lotre sebesar £100.000 (Rp1,4 miliar) adalah 5 (lima),dan seorang responden menilai bahwa bercinta sama nilainya dengan mendapatkan lotre, maka nilainya £100.000 (Rp1,4 miliar). Dalam hal ini, sehubungan dengan nilai sebuah kebahagiaan, bercinta bernilai £105.000 (Rp1,5 miliar). Tim penyurvei mengulang proses ini terhadap masing-masing responden, sebelum merata-rata nilai ini untuk kemudian disimpulkan. Dibandingkan dengan karya ilmiah, metode, dan penemuan ini mungkin tidak terlalu ketat dan akurat. Namun, niat survei ini berbeda dengan tujuan penelitian akademis, yaitu untuk memperbaiki kebijakan publik. Survei ini ingin memancing pembicaraan publik.

“Pembicaraan untuk memberi makna pada kebahagiaan sehari- hari tersebut, tidak peduli tingkat sosial mereka.Kebahagiaan yang kerap tidak dihargai. Semoga Anda melihat hasil penemuan ini semenarik saat kami mengumpulkan dan mengolahnya,” harap Boffey. Empat hal yang dipelajari dari hasil survei. Pertama, pikiran positif menghasilkan orang-orang positif. Ketika penyurvei meminta responden memikirkan yang membuat mereka bahagia,mereka pun merasa bahagia. Kedua, dengan menetapkan nilai pada yang kita hargai, kita pun menghargai nilai tersebut. Ketiga, semakin mahal biayanya, semakin rendah nilainya. Tak perlu menjadi kaya untuk benar-benar kaya.Hanya 1 dari 10 urutan pertama daftar kekayaan yang membutuhkan biaya besar: berlibur.Keempat,kebahagiaan sesungguhnya sangatlah dekat.

Duduk dan pandangi sekitar,kemungkinan kita menemukan sesuatu yang ternyata jauh lebih berharga daripada perkiraan kita selama ini. Survei menghasilkan bahwa “kesehatan” menempati urutan pertama dengan nilai uang £181.000 (Rp2,5 miliar). Dalam 95% kehidupan kita, bisa jadi kita sangat sehat. Karena itu, nikmatilah kesehatan tersebut. Dan bersyukurlah, kita tidak terkena sindrom Cotard, penyakit sangat berbahaya karena pengidapnya merasa yakin telah meninggal. Daftar berikutnya saya coba kaitkan dengan keadaan terkini.

Indonesia hiruk-pikuk dengan berbagai masalah. Ini mulai dari Presiden SBY yang dianggap berbohong, kasus Gayus, Nurdin Halid tak mau turun, kecelakaan transportasi, dan bencana alam. Dalam keadaan negara carutmarut se-perti itu, saya kira, kita tetap cinta dengan Indonesia. Apalagi bila negara ini sejahtera pasti kecintaan kita akan lebih besar lagi. Sebab,menurut survei “tinggal di negara yang aman dan damai” bernilai £130.000 (Rp1,8 miliar). Kita menghadapi dan mewaspadai cuaca yang ekstrem. Tibatiba hujan, angin ribut menumbangkan pohon, dan banjir. Namun, seketika bisa panas menyengat. Tentu kita ingin beraktivitas dalam “cuaca yang bersahabat”. Sebab, dia bernilai £90.000 (Rp1,2 miliar).

Meski suasana pedesaan dihargai £88.000 (Rp1,2 miliar), kota tetap menjadi magnet yang menarik orang-orang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Jakarta menjadi tujuan utama.Walau Jakarta padat dan macet, kita tetap menikmatinya.Samuel Johnson mengatakan, orang yang lelah dengan kehidupan di kota (London) adalah orang yang lelah akan kehidupan secara keseluruhan. Richard Burton, menghabiskan waktu bertahun-tahun menulis buku The Anatomy of Melancholy (Anatomi Kemurungan). Dia menyimpulkan, hal terbaik yang dapat dilakukan jika merasa murung adalah kesibukan. Itulah yang ditawarkan oleh kota. Karena itu, kehidupan urban dihargai £11.000 (Rp155 juta).

Daftar peristiwa dan pengalaman lainnya, baca saja di buku ini.Sebab,waktu yang kita sisihkan untuk membaca buku (ini) atau membaca koran SINDO adalah waktu yang kita habiskan untuk memperkaya diri.Nilainya sebesar £54.000 (Rp743 juta).

Hendri F Isnaeni
Penulis Sejarah di Majalah Historia Online (www.majalah-historia.com)
Peraih Paramadina-The Jakarta Post Fellowship

No comments:

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes