
KRITIK TAK HARUS TAJAM
Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.
(Radar Jogja, Juni 2009)
Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.
(Radar Jogja, Juni 2009)
Bukan sekali ini saja muncul buku yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Indonesia. Mulai dari maraknya budaya korupsi, hingga perilaku manusia yang menggunakan teknologi dengan tujuan tidak baik. Bahkan bisa dibilang, banyak sekali model buku yang menyuguhkan borok-borok masyarakat kita saat ini.
Namun, buku ini tampil istimewa. setiap ceritanya bahkan tidak bisa dibilang cerita pendek, saking pendeknya. Hanya satu atau dua halaman. Tapi kisahnya benar-benar sarat makna. Bahkan, penanda utama dalam cerita seringkali ditunjukkan dengan satu kata saja. Karya orisinil yang sukar ditemukan di antara banyaknya kisah yang menyodorkan kisah vulgar dengan diksi yang berani. Febri berkata kemampuan Iwan merangkum cerita bukan hal yang mudah. Kita sendiri lumayan sering menulis, tapi tidak bisa menulis singkat. "Penginnya kalau nulis itu yang banyak. Yang detil. Makanya nggak pernah bisa menulis singkat," paparnya.
Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.
Erni yang mahasiswa sastra mengaku, buku ini memang istimewa. "Dilihat dari gaya bahasa yang dipakai, buku ini benar-benar sarat makna," paparnya. Erni merasa kumpulan kisah ini lebih tepat disebut puisi bebas. "Soalnya bukan juga cerpen. Diksinya dibuat seindah dan serima mungkin. Jadi lebih pas kalau disebut puisi bebas," tuturnya.
Dari kata pengantar dan beberapa kisah yang disajikan, terlihat jelas bahwa Iwan membuat buku ini sebagai kritik sosial. Masyarakat kita saat ini sudah sedemikian jahat dan bersifat kanibal. Tidak sungkan lagi menzalimi pihak lain demi kepentingannya.
Tapi, Iwan tidak mengajak para pembacanya untuk semata-mata membenci koruptor atau kaum gay. Dia hanya bercerita dengan gayanya, dan kesimpulan serta persepsi diserahkan kembali ke pembaca; Dia memang mengkritik ketidakadilan sosial yang saat ini marak terjadi.
"Tapi menurutku nggak ekstrem banget. Cara penyampaian kritiknya masih bisa dinikmati," tutur Yuyun. Yuyun mencontohkan beberapa karya lain yang datang dengan tujuan serupa ditampilkan sangat vulgar. "Yang membaca malah jadi terprovokasi berlebihan, bukannya bisa menganalisa kritik dengan kepala dingin," papar gadis bernama lengkap Yuyun Irmawati ini.
Hadirnya buku ini, dalam pandangan Kinta, bisa digunakan sebagai contoh penulisan yang kritis tapi tidak melulu tajam. "Jadi tidak banyak menggunakan kata-kata hujatan. Tapi makna dan pesan moralnya kena banget," tandas Kinta memberi kesimpulan. (luf)
Namun, buku ini tampil istimewa. setiap ceritanya bahkan tidak bisa dibilang cerita pendek, saking pendeknya. Hanya satu atau dua halaman. Tapi kisahnya benar-benar sarat makna. Bahkan, penanda utama dalam cerita seringkali ditunjukkan dengan satu kata saja. Karya orisinil yang sukar ditemukan di antara banyaknya kisah yang menyodorkan kisah vulgar dengan diksi yang berani. Febri berkata kemampuan Iwan merangkum cerita bukan hal yang mudah. Kita sendiri lumayan sering menulis, tapi tidak bisa menulis singkat. "Penginnya kalau nulis itu yang banyak. Yang detil. Makanya nggak pernah bisa menulis singkat," paparnya.
Ketika membaca cerita ini, Febri menyimpulkan tidak butuh berlembar-lembar untuk mengungkapkan sebuah cerita yang dalam. Dalam satu lembar saja, Iwan bisa. "Itulah seninya. Diksi yang dipakai sangat kuat untuk mencitrakan sesuatu yang sebetulnya banyak menjadi singkat," terangnya.
Erni yang mahasiswa sastra mengaku, buku ini memang istimewa. "Dilihat dari gaya bahasa yang dipakai, buku ini benar-benar sarat makna," paparnya. Erni merasa kumpulan kisah ini lebih tepat disebut puisi bebas. "Soalnya bukan juga cerpen. Diksinya dibuat seindah dan serima mungkin. Jadi lebih pas kalau disebut puisi bebas," tuturnya.
Dari kata pengantar dan beberapa kisah yang disajikan, terlihat jelas bahwa Iwan membuat buku ini sebagai kritik sosial. Masyarakat kita saat ini sudah sedemikian jahat dan bersifat kanibal. Tidak sungkan lagi menzalimi pihak lain demi kepentingannya.
Tapi, Iwan tidak mengajak para pembacanya untuk semata-mata membenci koruptor atau kaum gay. Dia hanya bercerita dengan gayanya, dan kesimpulan serta persepsi diserahkan kembali ke pembaca; Dia memang mengkritik ketidakadilan sosial yang saat ini marak terjadi.
"Tapi menurutku nggak ekstrem banget. Cara penyampaian kritiknya masih bisa dinikmati," tutur Yuyun. Yuyun mencontohkan beberapa karya lain yang datang dengan tujuan serupa ditampilkan sangat vulgar. "Yang membaca malah jadi terprovokasi berlebihan, bukannya bisa menganalisa kritik dengan kepala dingin," papar gadis bernama lengkap Yuyun Irmawati ini.
Hadirnya buku ini, dalam pandangan Kinta, bisa digunakan sebagai contoh penulisan yang kritis tapi tidak melulu tajam. "Jadi tidak banyak menggunakan kata-kata hujatan. Tapi makna dan pesan moralnya kena banget," tandas Kinta memberi kesimpulan. (luf)


No comments:
Post a Comment