Momentum peringatan Sumpah Pemuda 2010 terasa berbeda. Pasalnya, seorang Profesor dari Oxford University, Inggris, Prof. Stephen Oppenheimer, Ph.D datang langsung ke Indonesia. Kehadirannya memenuhi undangan dari Disbudpar Pemprov Jawa Barat, Ufuk Publishing House, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuannya, menjelaskan tesis yang dikenal dengan nama Oppenheimer Theory yang telah dibukukan dengan judul Eden In The East. Penelitiannya ini sangat penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi pengetahuan dunia. Lalu, apa yang membuat penelitiannya ini menjadi begitu penting buat kita yang tinggal di Indonesia?
Secara radikal Oppenheimer memaparkan sebuah teori baru mengenai penyebaran bangsa – bangsa Asia dimasa prasejarah, khususnya bangsa Polinesia, yang tinggal di Asia Tenggara. Berbeda dengan para ahli sebelumnya yang meyakini penyebaran bangsa Asia bermula dari Taiwan lalu menyebar ke berbagai tempat di Asia dan sekitarnya. Oppenheimer dengan menggunakan pisau bedah penelitian geologi, arkeologi, linguistik dan genetika membuktikan hal sebaliknya. Menurutnya bangsa di Asia Tenggara sesungguhnya yang menjadi nenek moyang bangsa Asia keseluruhan dan daerah disekitarnya. Mereka terusir banjir yang datang secara berturut-turut pada 14000, 11500, dan 8000 tahun lalu yang akhirnya memaksa bermigrasi menuju ke Australia, Pasifik, Hindia, dan Daratan Asia. Sejak dirilis 12 tahun yang lalu pendapatnya ini tetap bertahan, dan mendapatkan banyak sokongan dari para ahli yang terkait.
Selama lawatannya di Indonesia Oppenheimer memenuhi beberapa undangan. Menjadi pembicara di seminar nasional di LIPI pada tanggal 28 Oktober 2010. Para peserta seminar yang sebagian besar adalah para peneliti yang berasal dari LIPI, Kemenristek, BPPT, perguruan tinggi serta guru besar, dan staf ahli sangat antusias dengan diskusi yang berlangsung. Acara yang terselenggara atas kerjasama Ufuk Publishing House, LIPI, dan didukung beberapa media di antaranya Gatra, Kompas, Sindo, Detik.com, TV One dan Hotel Sultan dibuka oleh mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly Assidiqie.
Ia juga menjadi nara sumber di acara talk show Apa Kabar Pagi di TV One. Lalu memenuhi undangan Prof Dr. Jimly Assiddiqie di ruang kerjanya di Jl. MH Thamrin, Jakarta. Seperti diketahui Prof. Jimly adalah salah satu tokoh yang banyak memperkenalkan penelitian Oppenheimer di berbagai kesempatan. Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan Oppenheimer. Ia berharap apa yang telah dilakukan Oppenheimer ini bisa ditindaklanjuti oleh para peneliti yang ada di Indonesia.
Kehadiran Oppenheimer juga menarik banyak media massa untuk mengetahui pendapatnya seputar Indonesia pada masa prasejarah. Koran Kompas misalnya melalui sekretaris redaksinya mengundangnya secara khusus untuk menyampaikan penelitiannya. Pertemuan yang berlangsung hamper satu jam itu menjadi rangkaian akhir dari kunjungan singkatnya di Indonesia.
Jelang sore 30 Oktober 2010, selepas wawancara dengan Kompas, Oppenheimer harus bergegas kembali negerinya, untuk melanjutkan penelitian berikutnya. Akhirnya, seperti yang ia sampaikan, sebagai bangsa yang menempati wilayah Indonesia seharusnya bangga terhadap warisan sejarah bangsa ini pada masa lampau (prasejarah).
Kehadirannya yang singkat di Indonesia tentu saja belum dapat memberikan kita gambaran yang menyeluruh mengenai penelitiannya. Namun kehadiran bukunya yang telah diterjemahkan oleh Ufuk Publishing House dapat memberikan kita ruang untuk memahami lebih jauh pendapat dari Oppenheimer. Selamat jalan Professor, kami tunggu anda membagikan penemuan penting berikutnya.
Secara radikal Oppenheimer memaparkan sebuah teori baru mengenai penyebaran bangsa – bangsa Asia dimasa prasejarah, khususnya bangsa Polinesia, yang tinggal di Asia Tenggara. Berbeda dengan para ahli sebelumnya yang meyakini penyebaran bangsa Asia bermula dari Taiwan lalu menyebar ke berbagai tempat di Asia dan sekitarnya. Oppenheimer dengan menggunakan pisau bedah penelitian geologi, arkeologi, linguistik dan genetika membuktikan hal sebaliknya. Menurutnya bangsa di Asia Tenggara sesungguhnya yang menjadi nenek moyang bangsa Asia keseluruhan dan daerah disekitarnya. Mereka terusir banjir yang datang secara berturut-turut pada 14000, 11500, dan 8000 tahun lalu yang akhirnya memaksa bermigrasi menuju ke Australia, Pasifik, Hindia, dan Daratan Asia. Sejak dirilis 12 tahun yang lalu pendapatnya ini tetap bertahan, dan mendapatkan banyak sokongan dari para ahli yang terkait.
Selama lawatannya di Indonesia Oppenheimer memenuhi beberapa undangan. Menjadi pembicara di seminar nasional di LIPI pada tanggal 28 Oktober 2010. Para peserta seminar yang sebagian besar adalah para peneliti yang berasal dari LIPI, Kemenristek, BPPT, perguruan tinggi serta guru besar, dan staf ahli sangat antusias dengan diskusi yang berlangsung. Acara yang terselenggara atas kerjasama Ufuk Publishing House, LIPI, dan didukung beberapa media di antaranya Gatra, Kompas, Sindo, Detik.com, TV One dan Hotel Sultan dibuka oleh mantan ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly Assidiqie.
Ia juga menjadi nara sumber di acara talk show Apa Kabar Pagi di TV One. Lalu memenuhi undangan Prof Dr. Jimly Assiddiqie di ruang kerjanya di Jl. MH Thamrin, Jakarta. Seperti diketahui Prof. Jimly adalah salah satu tokoh yang banyak memperkenalkan penelitian Oppenheimer di berbagai kesempatan. Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan Oppenheimer. Ia berharap apa yang telah dilakukan Oppenheimer ini bisa ditindaklanjuti oleh para peneliti yang ada di Indonesia.
Kehadiran Oppenheimer juga menarik banyak media massa untuk mengetahui pendapatnya seputar Indonesia pada masa prasejarah. Koran Kompas misalnya melalui sekretaris redaksinya mengundangnya secara khusus untuk menyampaikan penelitiannya. Pertemuan yang berlangsung hamper satu jam itu menjadi rangkaian akhir dari kunjungan singkatnya di Indonesia.
Jelang sore 30 Oktober 2010, selepas wawancara dengan Kompas, Oppenheimer harus bergegas kembali negerinya, untuk melanjutkan penelitian berikutnya. Akhirnya, seperti yang ia sampaikan, sebagai bangsa yang menempati wilayah Indonesia seharusnya bangga terhadap warisan sejarah bangsa ini pada masa lampau (prasejarah).
Kehadirannya yang singkat di Indonesia tentu saja belum dapat memberikan kita gambaran yang menyeluruh mengenai penelitiannya. Namun kehadiran bukunya yang telah diterjemahkan oleh Ufuk Publishing House dapat memberikan kita ruang untuk memahami lebih jauh pendapat dari Oppenheimer. Selamat jalan Professor, kami tunggu anda membagikan penemuan penting berikutnya.



No comments:
Post a Comment