
SANG MAESTRO KEBIJAKAN MONETER AS
Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.
(Syamsul Arifin, Indo Pos, Mei 2008)
(Syamsul Arifin, Indo Pos, Mei 2008)
Herbert Greenspan menulis, "Barangkali ini adalah upaya awal Ayah untuk membuatmu dapat mengembangkari diri secara optimal sebagaimana upaya yang pernah Ayah lakukan. Pada saat kamu dewasa, segala upaya tersebut diharapkan akan menjadi pembelajaran dan kamu dapat menafsirkan alasan di balik suatu perkiraan yang logis. Dan dengan cara itu kamu dapat menyukai pekerjaanmu sendiri. Ayahmu."
Begitulah pesan yang dibubuhkan Herbert dalam Recovery Ahead (1935) untuk Alan Greenspan, sang anak yang nantinya mengarsiteki kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) pada 1987-2006. Sepucuk pesan yang amat intim ini tak mungkin dimengerti Alan —yang saat itu baru berusia delapan tahun. Namun, puluhan tahun selepasnya, pesan itu menjadi "obat mujarab" —lantaran memberikan ide bagi setiap permasalahan yang ia hadapi.
Herbert adalah penganut mazhab ekonomi Keynesian, yang salah satunya meyakini bahwa belanja pemerintah dapat merangsang pemulihan perekonomian. Warisan sang ayah ini sempat menjadi "batu bata" pertama cara pandang ekonominya. Belakangan ia bergeser menjadi penganut paham/ filosofi Ayn Rand.
Meski begitu, ia menangkis teori Rand bahwa eksistensinya sendiri di luar dugaan tidak dapat dibuktikan. Menurut Alan, kepastian absolut tidak mungkin. Dan, yang dapat dihitung adalah derajat kemungkinan. Alan berpendirian demikian lantaran ia ahli matematika dengan IQ tinggi. Baginya, tak ada satu pun yang dapat diketahui secara rasional dengan kepastian yang total. Di atas segalanya, Alan juga penganjur kapitalis laissezfaire.
Sebagai ekonom, Alan terbilang lengkap. Kariernya bermula dari analis industri baja di National Industrial Conference Board, penasihat kebijakan ekonomi Richard Nixon sejak masih kandidat presiden dari Partai Republik hingga memerintah AS (1969-1974).
Lalu ketua penasihat Presiden Gerald Ford (1974). Fordlah yang dipuji Alan sebagai orang yang paling berani dan paling benar tatkala ia tidak campur tangan dalam urusan pasar bebas selama masa resesi 1974-1975. Bahkan ketika hal itu berisiko pada masa depan politik Ford.
Pada 1980, ia merancang pidato ekonomi kandidat Presiden Ronald Reagen, lalu kepala dari bipartisan Komisi Nasional untuk Reformasi Keamanan Sosial (1983).
Pengalaman panjang inilah yang mengajari Alan menjadi salah satu ketua Dewan The Fed paling berhasil. Saat baru 72 hari memimpin The Fed misalnya, ia hampir "diruntuhkan" Black Monday (19 Oktober 1987), saat pasar saham menurun lebih dari 20 persen dalam sehari. Akibatnya, 1 triliun dolar AS pun musnah seketika dan publik terguncang. Menghadapi itu Alan tetap bersikap tenang, namun berwibawa. Seperti tertera pada buku Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia ini.
Alan berujar, "The Federal Reserve konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai bank sentral dan hari ini menegaskan kesiapannya untuk bertindak sebagai sumber likuiditas guna mendukung sistem ekonomi dan keuangan." Itu berarti The Fed akan melepas banyak uang di pasar untuk meyakinkan publik bahwa mereka bisa mendapatkan uang dalam bentuk likuiditas atau kredit. Setengah jam setelah itu, Indeks Pasar Utama berada pada posisi paling tinggi dalam sejarah Amerika (him. 14-29). Alan juga mengeluarkan Amerika dari krisis seperti saat meledaknya bisnis dotcom, gelombang pasar saham (Maret 2000), resesi akhir 2000 dan 2002.
Alan tak berjarak dengan partai politik, termasuk dengan para kandidat presiden. Namun demikian, ia bisa menempatkan lembaga yang dipimpinnya secara proporsional dan independen. la mendukung George Bush pada Pemilu 1992. Meski begitu, sebagai ketua The Fed ia tak terlibat dalam politik. Pemerintahan Bush menghendaki agar The Fed menurunkan suku bunga sebesar satu persen dengan alasan agar resesi ekonomi dapat dicegah. Tapi Alan bergeming. la baru menurunkan suku bunga ketika mendapati fakta bahwa tingkat pengangguran di Amerika naik 7,8 persen pada 2 Juli 1992. Itu pun The Fed menurunkan setengah persentase bukan satu persen seperti diminta Pemerintahan Bush yang perlu dukungan bank sentral agar kinerja ekonominya tak menggagalkan pencalonannya kembali menjadi presiden. Alan menurunkan kembali suku bunga sebesar seperempat per¬sen sehingga kini tinggal 3 persen pada 4 September atau tiga bulan jelang pilpres.
Sebagai pejuang super inflasi, Alan tak sembarangan menurunkan suku bunga. la akan mempertaruhkan berapa pun biayanya, termasuk pemilihan kembali Bush (him. 87-94). Dengan cara itu Alan tak tersandera kepentingan politik partisan. Setiap presiden Amerika, dari Reagen, Bush senior, Clinton hingga Bush junior selalu mempercayainya. Begitu pula Clintor yang menumbangkan Bush seni pada 1992. Selama menjabat The Fed, Alan tak pernah berkomentar bahwa inflasi dan pengangguran sangat mempengaruhi tingkat suku bunga. Alan berupaya memberi kepercayaan pasar terhadap mata uang dolar AS sebagai senjata untuk memerangi inflasi. Dan ia selalu "pelit" dalam menurunkan tingkat suku bunga, karena ingin betul membuat pasar obligasi tidak panik dan terhindar dari resesi ekonomi.
Analisisnya yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu seluruh pihak. Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.
Sekarang, jumlah orang miskin dan pengangguran bakal bertambah. Itu berarti Bank Indonesia harus meresponsnya secara memadai dengan mengutak-atik tingkat suku bunga yang kini berada di posisi 8,25 persen. Boediono sebagai nakhoda seyogyanya piawai membaca keadaan dan merumuskan ke¬bijakan moneter secara akurat. (*)
M. Samsul Arifin
Salah satu penulis "Perempuan Punya Pilihan!".
Begitulah pesan yang dibubuhkan Herbert dalam Recovery Ahead (1935) untuk Alan Greenspan, sang anak yang nantinya mengarsiteki kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) pada 1987-2006. Sepucuk pesan yang amat intim ini tak mungkin dimengerti Alan —yang saat itu baru berusia delapan tahun. Namun, puluhan tahun selepasnya, pesan itu menjadi "obat mujarab" —lantaran memberikan ide bagi setiap permasalahan yang ia hadapi.
Herbert adalah penganut mazhab ekonomi Keynesian, yang salah satunya meyakini bahwa belanja pemerintah dapat merangsang pemulihan perekonomian. Warisan sang ayah ini sempat menjadi "batu bata" pertama cara pandang ekonominya. Belakangan ia bergeser menjadi penganut paham/ filosofi Ayn Rand.
Meski begitu, ia menangkis teori Rand bahwa eksistensinya sendiri di luar dugaan tidak dapat dibuktikan. Menurut Alan, kepastian absolut tidak mungkin. Dan, yang dapat dihitung adalah derajat kemungkinan. Alan berpendirian demikian lantaran ia ahli matematika dengan IQ tinggi. Baginya, tak ada satu pun yang dapat diketahui secara rasional dengan kepastian yang total. Di atas segalanya, Alan juga penganjur kapitalis laissezfaire.
Sebagai ekonom, Alan terbilang lengkap. Kariernya bermula dari analis industri baja di National Industrial Conference Board, penasihat kebijakan ekonomi Richard Nixon sejak masih kandidat presiden dari Partai Republik hingga memerintah AS (1969-1974).
Lalu ketua penasihat Presiden Gerald Ford (1974). Fordlah yang dipuji Alan sebagai orang yang paling berani dan paling benar tatkala ia tidak campur tangan dalam urusan pasar bebas selama masa resesi 1974-1975. Bahkan ketika hal itu berisiko pada masa depan politik Ford.
Pada 1980, ia merancang pidato ekonomi kandidat Presiden Ronald Reagen, lalu kepala dari bipartisan Komisi Nasional untuk Reformasi Keamanan Sosial (1983).
Pengalaman panjang inilah yang mengajari Alan menjadi salah satu ketua Dewan The Fed paling berhasil. Saat baru 72 hari memimpin The Fed misalnya, ia hampir "diruntuhkan" Black Monday (19 Oktober 1987), saat pasar saham menurun lebih dari 20 persen dalam sehari. Akibatnya, 1 triliun dolar AS pun musnah seketika dan publik terguncang. Menghadapi itu Alan tetap bersikap tenang, namun berwibawa. Seperti tertera pada buku Alan Greenspan, Sosok di Balik Gejolak Ekonomi Dunia ini.
Alan berujar, "The Federal Reserve konsisten dengan tanggung jawabnya sebagai bank sentral dan hari ini menegaskan kesiapannya untuk bertindak sebagai sumber likuiditas guna mendukung sistem ekonomi dan keuangan." Itu berarti The Fed akan melepas banyak uang di pasar untuk meyakinkan publik bahwa mereka bisa mendapatkan uang dalam bentuk likuiditas atau kredit. Setengah jam setelah itu, Indeks Pasar Utama berada pada posisi paling tinggi dalam sejarah Amerika (him. 14-29). Alan juga mengeluarkan Amerika dari krisis seperti saat meledaknya bisnis dotcom, gelombang pasar saham (Maret 2000), resesi akhir 2000 dan 2002.
Alan tak berjarak dengan partai politik, termasuk dengan para kandidat presiden. Namun demikian, ia bisa menempatkan lembaga yang dipimpinnya secara proporsional dan independen. la mendukung George Bush pada Pemilu 1992. Meski begitu, sebagai ketua The Fed ia tak terlibat dalam politik. Pemerintahan Bush menghendaki agar The Fed menurunkan suku bunga sebesar satu persen dengan alasan agar resesi ekonomi dapat dicegah. Tapi Alan bergeming. la baru menurunkan suku bunga ketika mendapati fakta bahwa tingkat pengangguran di Amerika naik 7,8 persen pada 2 Juli 1992. Itu pun The Fed menurunkan setengah persentase bukan satu persen seperti diminta Pemerintahan Bush yang perlu dukungan bank sentral agar kinerja ekonominya tak menggagalkan pencalonannya kembali menjadi presiden. Alan menurunkan kembali suku bunga sebesar seperempat per¬sen sehingga kini tinggal 3 persen pada 4 September atau tiga bulan jelang pilpres.
Sebagai pejuang super inflasi, Alan tak sembarangan menurunkan suku bunga. la akan mempertaruhkan berapa pun biayanya, termasuk pemilihan kembali Bush (him. 87-94). Dengan cara itu Alan tak tersandera kepentingan politik partisan. Setiap presiden Amerika, dari Reagen, Bush senior, Clinton hingga Bush junior selalu mempercayainya. Begitu pula Clintor yang menumbangkan Bush seni pada 1992. Selama menjabat The Fed, Alan tak pernah berkomentar bahwa inflasi dan pengangguran sangat mempengaruhi tingkat suku bunga. Alan berupaya memberi kepercayaan pasar terhadap mata uang dolar AS sebagai senjata untuk memerangi inflasi. Dan ia selalu "pelit" dalam menurunkan tingkat suku bunga, karena ingin betul membuat pasar obligasi tidak panik dan terhindar dari resesi ekonomi.
Analisisnya yang tajam dan akurat dalam kebijakan moneter, membuat setiap langkahnya diperhitungkan dan ditunggu seluruh pihak. Pelajaran yang ditorehkan Alan Greenspan dalam buku ini layak dicermati otoritas moneter kita, Bank Indonesia. Lebih-lebih sekarang, bank sentral yang dipimpin Boediono berhadapan dengan sebuah realitas yang sangat dibenci Alan, yakni tingginya ancaman inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM tahun 2005 lebih dari 100 persen telah mengerek inflasi hingga 17,11 persen.
Sekarang, jumlah orang miskin dan pengangguran bakal bertambah. Itu berarti Bank Indonesia harus meresponsnya secara memadai dengan mengutak-atik tingkat suku bunga yang kini berada di posisi 8,25 persen. Boediono sebagai nakhoda seyogyanya piawai membaca keadaan dan merumuskan ke¬bijakan moneter secara akurat. (*)
M. Samsul Arifin
Salah satu penulis "Perempuan Punya Pilihan!".


No comments:
Post a Comment