
SEBUAH HARAPAN BARU
Obama menolak citra patriotisme palsu dengan memakai pin bendera di kerahnya juga menolak anggapan bahwa Demokrat harus terjun ke daJam omong kosong Perang Melawan Teror menimba rasa takut - menjadi Iebih Republik dibanding Partai Republik ~ sehingga menjadi "Bush-Chcney sebagaimana dia menggambarkan sikap macho Hillary Clinton di bidang kebijakan luar negeri(Jann S.Wenner, Rolling Stones April 2008),
Kini gelombang sejarah semakin tinggi dan cepat. Simak baik baik dan mengalirlah, atau kita akan terhempas. Lalu tibalah Barack Obama pemilik bakat-bakat yang hanya muncul beberapa generasi sekali di dunia politik. Ada kehorrnatan dan kemegahan pada dirinya, di samping disiplin yang ketat. Dia tak hanya fasih berbicara — dengan kemampuan untuk dipahami kami dan mewakili kami — tapi juga memillki kualitas pemikiran dan kejujuran emosional yang luar biasa.
Saya pcrtama kali menyetahui tentang Barack Obama dari scorang pna yang berada di tmgkat tcrtmggi organisasi politik George W. Bush selama dua kampanye kepresidenan. Dia menggambarkan senator muda dari Illinois itu sebagai "mesin harapan berjalan" dan berkata kalau dia takkan bekerja untuk kandidat Partai Republik di tahun 2008 andaikata Obama dinominasikan. Dia menantang saya untuk membaca Dreams From My Father, otobiografi Obama.
Buku itu adalah pcnccrahan. Inilah seorang pria dengan kejujuran akan dirinya sendiri serta pemahaman akan kondisi manusia yang begitu dalam dan penuh kasih sayang. Putra dari ibu berkulit putih dan ayah dan Afrika ini dibesarkan di Hawaii yang multpetnis dan di Indonesia selama beberapa tahun. Dia melalui masa remaja yang diwarnai narkotika - tanpa menyesalinya - sebelum menjadi mahasiswa teladan di Harvard Law School. Dia memilih untuk menjadi organisator komunitas di kawasan-kawasan kumuh Chicago ketimbang bergabung dengan dunia corporate law yang tertutup dan kaya. Sebagai pria dewasa muda, dia mencari ayah dan keluarga yang tak dikenalnya di desa-desa terpencil di Kenya
Sambil rnembaca tulisan yang clegan ini, otak saya terus berpikir: Apakah ini mungkin? Mungkinkah ada takdir di mana pria ini menjadi presiden Amerika Serikat?
Selama pemilihan primary dan dalam kunjungannya ke kantor kami, kami lebih mengenal Barack Obama, ketegarannya serta keanggunannya. Dia tak terintimidasi dan mundur ketika Senator Clinton menyebutnya "sejujurnya, nail' karena kerelaannya untuk bertemu dengan para pemimpin negara-negara musuh AS Ketika salah satu pejabat teratas kampanye Clinton berusaha mencemarkan namanya akibat konsumsi narkotikanya di masa lalu, dia tidak menyangkalnya. Dalam hal pengalaman dan kemampuan, dia telah menjalankan kampanye yang mengesankan dan nyaris tanpa cela — yang mampu mengalahkan para pejuang politik Amerika yang paling berpengalaman. Memang, Obama jauh lebih siap untuk menjalankan kampanye kepresidenan — sejak Hari Pertama — ketimbang Senator Clinton. Dia tak pernah melakukan tindakan ncgatif melalui serangan personal dan pembunuhan kepribadian; wajau dia patut melakukannya, dia tidak tergoda
Obama melesat karena menunjukkan karakter dan penilaian yang kami butuhkan dalam diri seorang presiden: mengutuk politik ketakutan, berbicara jujur mengenai masalah-masalah utama yang dihadapi negara dan tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya. Dia sadar bahwa berkampanye untuk menjadi presiden adalah kesempatan untuk mengilhami seluruh negeri.
Semua ini tampak semakin jelas akibat kontras dengan Hillary Clinton, senator mampu dan bersahaja yang justru menjalankan kampanye yang mengingatkan kami pada apa yang membuat kami membenci politik. Kampanyenya menunjukkan bahwa pengalaman tak begitu berarti: Dia adalah manajer dan strategist yang buruk, yang dengan mudahnya terlibat dalam politik pengalihan perhatian, trivialitas dan serangan personal. Dia tak pernah meyakinkan kami bahwa dukungannya terhadap perang Irak bukan sekadar strategi politik yang mementingkan ambisi kepresidenannya daripada konsekuensi perang yang meresahkan. Perubahan sikapnyad dalam tiga tahun terakhir menyakitkan untuk dilihat. Seperti John Kerry - yang juga mendukung perang itu sambil merencanakan kampanye kepresidenan - itu turut menghambatnya dalam mencapai tujuan.
Walau Obama mcnolak untuk nenyerangnya secara personal atas dukungannya terhadap perang di Irak, dia menyebutnya sebagai contoh yang jelas dari pengalaman dan "penilaian"nya. Dia juga berbicara tentang perlunya lepas dari genggaman para pelobi di saat Clinton adalah penerima donasi-donasi terbesar di Kongres dari perusahaan obat-obatan. Clinton tak dapat mengelak dari isu ini sama dan begitu pun juga John McCain merupakan pemajn utama di kultur Washington
Obama juga mengutuk kampanye ketakutan yang dilakukan Partai Republik. Di awal kampanye, John Edi memimpin dengan menyebut Perang Melawan Teror sebagai semboyan ! Kampanye, bukan kebijakan. Obama menolak citra patriotisme palsu dengan memakai pin bendera di kerahnya juga menolak anggapan bahwa Demokrat harus terjun ke daJam omong kosong Perang Melawan Teror menimba rasa takut - menjadi Iebih Republik dibanding Partai Republik ~ sehingga menjadi "Bush-Chcney sebagaimana dia menggambarkan sikap macho Hillary Clinton di bidang kebijakan luar negeri,
Mudah untuk melihat adanya persamaan antara john Kennedy dan Barack Obama: usia muda, karisma, keanggunan, kefasihan, humor, kecerdasan harapan sebuah generasi baru.
Tapi mungkin lebih cocok apa memandang Obama lebih rninp Lincoln dalam hal asal usulnya dan apa dituntut oleh sejarah sekarang Kami memillki negara yang tcrpecah belah akibat kebijakan perekonomian yang telah menciptakan kesenjangan
pendapatan tcrbesar dalam sejarah, di mana yang terkaya mendapat keringanan pajak yang luar biasa dan industri-industri raksasa mendapat subsidi. Pendapatan warga biasa menjadi stagnan, dan kualitas hidup terus terkikis akibat inflasi.
Kami geram dan pincang akibat perang yang gagal dan tak dibutuhkan di Irak. Kami sudah lelah dengan strategi politik penuh ketakutan dan kebencian selama bertahun-tahun, serangan terhadap kebebasan konstitusional, serta tingkat kerakusan dan sinisme yang— begitu dilihat apa adanya — tak dapat ditolenr oleh masyarakat dengan nilai-nilai moral dan etika.
Seorang presiden baru harus menyembuhkan perpecahan itu, menghadapi kemunafikan dan ketidakadilan subsidi pemerintahan kepada perusahaan minyak bumi, obat-obatan dan sebagainya. Di samping itu, sang presiden baru harus mengubah perekonomian energi kami yang berbahaya —menggantikan minyak, batu bara dan etanol yang mempu dengan alternatif-alternatif yang ramah lingkungan, pelestarian hutan hujan dan standar-standar internasional yang ketat sebelum planet ini tak memadai lagi bagi kehidupan manusia. Walau Obama termasuk lamban dalam menyinggung pemanasan global, saya yakin bahwa kecerdasan dan moralitasnya akan menuntunnya dengan jelas pada isu ini.
Kami harus memulihkan arah spiritual dan moral yang seharusnya menggambarkan negara ini dan warga-warganya. Kami melihat ini pada diri Obama, dan kami melihat potensi yang dimilikinya untuk dapat menyatukan semua pihak dan kembali mencapai persatuan yang memacu terjadinya perubahan besar serta menghadapi kenyataan dan bahaya yang menyulitkan.
Kami harus mengirim pesan kepada diri sendiri dan dunia bahwa kami memang menjunjung tinggi kehidupan, kebebasan dan pencarian kebahagiaan. Dengan memilih seorang warga Afrika-Amerika, kami juga mengutuk keburukan dan kekerasan pada k'arakter nasional yang semakin dipicu oleh presiden kami dalam delapan tahun terakhir.
Seperti halnya Abraham Lincoln, Barack Obama menantang Amerika un¬tuk bangkit dan melakukan apa yang telah lama dinantikan qleh begitu banyak orang: to summon "the fyetter angels of our nature." (has) ©
Saya pcrtama kali menyetahui tentang Barack Obama dari scorang pna yang berada di tmgkat tcrtmggi organisasi politik George W. Bush selama dua kampanye kepresidenan. Dia menggambarkan senator muda dari Illinois itu sebagai "mesin harapan berjalan" dan berkata kalau dia takkan bekerja untuk kandidat Partai Republik di tahun 2008 andaikata Obama dinominasikan. Dia menantang saya untuk membaca Dreams From My Father, otobiografi Obama.
Buku itu adalah pcnccrahan. Inilah seorang pria dengan kejujuran akan dirinya sendiri serta pemahaman akan kondisi manusia yang begitu dalam dan penuh kasih sayang. Putra dari ibu berkulit putih dan ayah dan Afrika ini dibesarkan di Hawaii yang multpetnis dan di Indonesia selama beberapa tahun. Dia melalui masa remaja yang diwarnai narkotika - tanpa menyesalinya - sebelum menjadi mahasiswa teladan di Harvard Law School. Dia memilih untuk menjadi organisator komunitas di kawasan-kawasan kumuh Chicago ketimbang bergabung dengan dunia corporate law yang tertutup dan kaya. Sebagai pria dewasa muda, dia mencari ayah dan keluarga yang tak dikenalnya di desa-desa terpencil di Kenya
Sambil rnembaca tulisan yang clegan ini, otak saya terus berpikir: Apakah ini mungkin? Mungkinkah ada takdir di mana pria ini menjadi presiden Amerika Serikat?
Selama pemilihan primary dan dalam kunjungannya ke kantor kami, kami lebih mengenal Barack Obama, ketegarannya serta keanggunannya. Dia tak terintimidasi dan mundur ketika Senator Clinton menyebutnya "sejujurnya, nail' karena kerelaannya untuk bertemu dengan para pemimpin negara-negara musuh AS Ketika salah satu pejabat teratas kampanye Clinton berusaha mencemarkan namanya akibat konsumsi narkotikanya di masa lalu, dia tidak menyangkalnya. Dalam hal pengalaman dan kemampuan, dia telah menjalankan kampanye yang mengesankan dan nyaris tanpa cela — yang mampu mengalahkan para pejuang politik Amerika yang paling berpengalaman. Memang, Obama jauh lebih siap untuk menjalankan kampanye kepresidenan — sejak Hari Pertama — ketimbang Senator Clinton. Dia tak pernah melakukan tindakan ncgatif melalui serangan personal dan pembunuhan kepribadian; wajau dia patut melakukannya, dia tidak tergoda
Obama melesat karena menunjukkan karakter dan penilaian yang kami butuhkan dalam diri seorang presiden: mengutuk politik ketakutan, berbicara jujur mengenai masalah-masalah utama yang dihadapi negara dan tetap berpegang pada prinsip-prinsipnya. Dia sadar bahwa berkampanye untuk menjadi presiden adalah kesempatan untuk mengilhami seluruh negeri.
Semua ini tampak semakin jelas akibat kontras dengan Hillary Clinton, senator mampu dan bersahaja yang justru menjalankan kampanye yang mengingatkan kami pada apa yang membuat kami membenci politik. Kampanyenya menunjukkan bahwa pengalaman tak begitu berarti: Dia adalah manajer dan strategist yang buruk, yang dengan mudahnya terlibat dalam politik pengalihan perhatian, trivialitas dan serangan personal. Dia tak pernah meyakinkan kami bahwa dukungannya terhadap perang Irak bukan sekadar strategi politik yang mementingkan ambisi kepresidenannya daripada konsekuensi perang yang meresahkan. Perubahan sikapnyad dalam tiga tahun terakhir menyakitkan untuk dilihat. Seperti John Kerry - yang juga mendukung perang itu sambil merencanakan kampanye kepresidenan - itu turut menghambatnya dalam mencapai tujuan.
Walau Obama mcnolak untuk nenyerangnya secara personal atas dukungannya terhadap perang di Irak, dia menyebutnya sebagai contoh yang jelas dari pengalaman dan "penilaian"nya. Dia juga berbicara tentang perlunya lepas dari genggaman para pelobi di saat Clinton adalah penerima donasi-donasi terbesar di Kongres dari perusahaan obat-obatan. Clinton tak dapat mengelak dari isu ini sama dan begitu pun juga John McCain merupakan pemajn utama di kultur Washington
Obama juga mengutuk kampanye ketakutan yang dilakukan Partai Republik. Di awal kampanye, John Edi memimpin dengan menyebut Perang Melawan Teror sebagai semboyan ! Kampanye, bukan kebijakan. Obama menolak citra patriotisme palsu dengan memakai pin bendera di kerahnya juga menolak anggapan bahwa Demokrat harus terjun ke daJam omong kosong Perang Melawan Teror menimba rasa takut - menjadi Iebih Republik dibanding Partai Republik ~ sehingga menjadi "Bush-Chcney sebagaimana dia menggambarkan sikap macho Hillary Clinton di bidang kebijakan luar negeri,
Mudah untuk melihat adanya persamaan antara john Kennedy dan Barack Obama: usia muda, karisma, keanggunan, kefasihan, humor, kecerdasan harapan sebuah generasi baru.
Tapi mungkin lebih cocok apa memandang Obama lebih rninp Lincoln dalam hal asal usulnya dan apa dituntut oleh sejarah sekarang Kami memillki negara yang tcrpecah belah akibat kebijakan perekonomian yang telah menciptakan kesenjangan
pendapatan tcrbesar dalam sejarah, di mana yang terkaya mendapat keringanan pajak yang luar biasa dan industri-industri raksasa mendapat subsidi. Pendapatan warga biasa menjadi stagnan, dan kualitas hidup terus terkikis akibat inflasi.
Kami geram dan pincang akibat perang yang gagal dan tak dibutuhkan di Irak. Kami sudah lelah dengan strategi politik penuh ketakutan dan kebencian selama bertahun-tahun, serangan terhadap kebebasan konstitusional, serta tingkat kerakusan dan sinisme yang— begitu dilihat apa adanya — tak dapat ditolenr oleh masyarakat dengan nilai-nilai moral dan etika.
Seorang presiden baru harus menyembuhkan perpecahan itu, menghadapi kemunafikan dan ketidakadilan subsidi pemerintahan kepada perusahaan minyak bumi, obat-obatan dan sebagainya. Di samping itu, sang presiden baru harus mengubah perekonomian energi kami yang berbahaya —menggantikan minyak, batu bara dan etanol yang mempu dengan alternatif-alternatif yang ramah lingkungan, pelestarian hutan hujan dan standar-standar internasional yang ketat sebelum planet ini tak memadai lagi bagi kehidupan manusia. Walau Obama termasuk lamban dalam menyinggung pemanasan global, saya yakin bahwa kecerdasan dan moralitasnya akan menuntunnya dengan jelas pada isu ini.
Kami harus memulihkan arah spiritual dan moral yang seharusnya menggambarkan negara ini dan warga-warganya. Kami melihat ini pada diri Obama, dan kami melihat potensi yang dimilikinya untuk dapat menyatukan semua pihak dan kembali mencapai persatuan yang memacu terjadinya perubahan besar serta menghadapi kenyataan dan bahaya yang menyulitkan.
Kami harus mengirim pesan kepada diri sendiri dan dunia bahwa kami memang menjunjung tinggi kehidupan, kebebasan dan pencarian kebahagiaan. Dengan memilih seorang warga Afrika-Amerika, kami juga mengutuk keburukan dan kekerasan pada k'arakter nasional yang semakin dipicu oleh presiden kami dalam delapan tahun terakhir.
Seperti halnya Abraham Lincoln, Barack Obama menantang Amerika un¬tuk bangkit dan melakukan apa yang telah lama dinantikan qleh begitu banyak orang: to summon "the fyetter angels of our nature." (has) ©


No comments:
Post a Comment