Monday, February 18, 2008


MENGUAK RAHASIA PENERBANGAN MURAH

Munawar Kasan
Ketua Indonesia Reader’s Society

Sulit dinalar, bagaimana mungkin naik pesawat Kuala Lumpur-Jakarta hanya Rp 4.975. Lebih fantastis lagi, menawarkan 60.000 kursi penerbangan gratis !
(Munawar Kasan, Bisnis Indonesia, 17-2-2008)


Membuka tiga halaman pertama buku ini, langsung disajikan sederet penghargaan untuk AirAsia. Ada 33 jenis pengakuan sejak 2003 dan ditutup dengan Airline of The Year 2007. AirAsia juga menjadi maskapai pertama di Asia dengan sistem tanpa tiket dan yang pertama di dunia dengan pesan tiket via SMS.

Brand AirAsia sangat kuat. Ketika orang menyebut maskapai asal Malaysia ini, langsung yang hadir dibenak adalah maskapai penerbangan murah (low cost car-rie/LCC). Sulit dinalar, bagaimana mungkin naik pesawat Kuala Lumpur-Jakarta hanya Rp 4.975. Lebih fantastis lagi, menawarkan 60.000 kursi penerbangan gratis !

Hanya dalam tujuh bulan setelah dioperasikan manajemen ba¬ru, AirAsia untung Rp48,5 miliar. Padahal maskapai yang didirikan DRB-Hicom Bhd pada 1996 ini merugi karena krisis manajemen. Tony Fernandes, melalui Tune Air, membeli AirAsia hanya dengan 1 Ringgit Malaysia (Rp2.500).

Efisiensi ! Itulah strategi klasik yang melambungkan maskapai yang diluncurkan ulang awal 2002 ini. Penasaran orang terhadap bagaimana operasionalisasinya, terjawab di buku ini. Salah satu taktiknya adalah menjaga biaya tetap rendah sampai tingkat minimum. Caranya dengan melayani rute pendek (3-3,5 jam), sehingga bisa meng-gunakan awak kabin yang sama.

Meniadakan makanan, membeli tiket via Internet, tanpa garbarata, dan mencari landasan dan terminal termurah, itu adalah cara efisiensi yang lain. Tidak heran jika Tony, bos AirAsia, lebih suka bandara di Subang yang murah daripada Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Buku ini akan mampu menginspirasi suatu strategi bisnis. Embel-embel yang tidak perlu, harus ditinggalkan untuk bisa survive, bahkan mengeruk untung.

Yang terjadi di Malaysia tidak beda jauh dengan Indonesia, penerbangan nasional Garuda beberapa tahun lalu masih merugi, meskipun pada 2007 sudah bangkit. Padahal LCC seperti Lion Air justru bakal ekspansi ke Thailand, Vietnam, Malaysia, bahkan Australia.

Sayangnya, buku yang ditulis ahli strategi bisnis dan wartawan ini hanya memuat sisi manis AirAsia. Keterlambatan yang sering dialami oleh sebagian besar LCC hanya disinggung sepintas. Padahal AirAsia sempat terlambat sembilan jam. Catalan ketepatan AirAsia juga kurang bagus, se¬bagian besar di bawah 80% untuk Desember 2007.

Buku ini juga tidak membeberkan komitmen AirAsia terhadap keselamatan padahal ada stigma bahwa LCC mengabaikan faktor keselamatan. Untungnya pembaca di Indonesia bisa mendapat info berdasarkan peringkat Departemen Perhubungan per September 2007, Indonesia AirAsia termasuk bagus karena masuk kategori satu, selevel dengan Garuda.

Pembaca mungkin masih penasaran 'akhir' kisah AirAsia yang memasuki jalur baru dengan membuka rute panjang ke Eropa. Mampukah rute ini untung ? Suksesnya saat ini karena AirAsia melayani rute jarak pendek. Kita tunggu saja babak selanjutnya.


















1 comment:

Kang Geri said...

efisiensi kini bukan monofoli jepang lagi dong?

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes