“ Bagi saya, penelitian Professor Santos sangat perlu dihargai. Ia tidak hanya banyak memberikan “wajah “ baru dalam memandang perspektif ilmiah tetapi juga mendorong banyak perubahan dalam bersikap bahwa selayaknya kita bersikap sebagai bangsa yang berperadaban tinggi sebagaimana yang diwariskan nenek moyang sejak masa lampau.”
Ungkapan di atas dikemukakan Sadan, Marketing Komunikasi Ufuk Press, saat diskusi mengenai Atlantis; The Lost Continent Finally Found karya Prof. Arysio Santos dilakukan di Pusat Geologi Bandung, 26-11-2009. Diskusi tersebut menghadirkan Awang H Satyana, ahli Geologi BP Migas dan Muhammad Sadan mewaklii Ufuk Publishing House sebagai penerbit buku tersebut.
Awang H Satyana, mengemukakan bahwa ia sependapat dengan Sadan bahwa Prof.Santos termasuk orang yang menguasai banyak bidang ilmu dan sangat menyukai pengetahuan. Hal tersebut bisa dilihat dari sekian banyak hipotesanya yang memasukkan unsur kajian bahasa, sisa peninggalan artefak, folklore (cerita rakyat) serta kutipan-kutipan yang banyak diambil dari catatan-catatan yang terdapat di kitab suci.
Pada diskusi tersebut Awang H Satyana mengemukakan pandangannya tentang buku tersebut. Beliau mengungkapkan dengan menggunakan teknik perbandingan tesis dan antitesisnya. Menurut beliau, beberapa bagian di dalam buku tersebut memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut diantaranya adalah Prof.Santos mengemukakan bahwa lokasi Atlantis terletak di paparan Sunda. Paparan Sunda yang dikemukakan bahwa lokasi tersebut mengalami gempa tektonik yang menyebabkan wilayah trkena impact dari letusan Gunung Krakatau yang menyebabkan tsunami sangat besar. Tsunami tersebut—menurut hipotesa Professor Santos telah menenggelamkan daratan di Paparan Sunda. Menurut Awang H Satyana hipotesa tersebut tidak memiliki bukti geologis dan tidak memiliki dasar. Awang H Satyana juga mengungkapkan bahwa dalam thesis-theseis Professor Santos menyebutkan bahwa dengan meletusnya banyak gunung berapi di masa lalu akan mengakibatkan glasiasi (pencairan es) di kutub dan menyebabkan banjir massal yang menenggelamkan Atlantis.
Muhammad Sadan mengatakan sebaliknya. Ia menjelaskan bahwa untuk memahami buku Professor Santos harus memahami konteksnya. Ia mengatakan bahwa tidak mungkin hipotesa yang didasarkan pada penelitian ilmiah selama 30 tahun dirangkum dalam buku setebal 674-an halaman. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa karena thesis Professor Santos tersebut adalah struktur penulisan di dalam buku tersebut yang tidak menggunakan kaidah kaku buku buku teks yang dijadikan pegangan keilmuan seuatu institusi pendidikan. Professor Santos juga “menghormati” tradisi keilmuan yang dianut oleh penentang-penentangnya dengan bukan debat kusir tetapi melakukan riset tekun selama 30 tahun yang kemudian digunakan untuk menyanggah dasar dasar ilmiah para penentangnya.
Muhammad Sadan mengatakan bahwa “Sangat naif jika kita bilang karya Professor Santos tidak memiliki dasar ilmiah. Bagi saya, orang yang mengatakan itu harus dilihat dalam konteks apa dia bicara, di forum mana dan apa yang sudah ia lakukan untuk melakukan penentangan “.
Bagi Muhammad Sadan, Professor Santos pasti memiliki alasan kuat dan konteks yang bisa dipertanggungjawabkan karena tidak menjadikan bukunya teks ilmiah yang berisi lampiran bukti-bukti ilmiah untuk menguatkan hipotesisnya.
“ Kalau kita liat buku itu, buku itu tidak melampirkan tabel, angka-angka, rumusan teori nuklir serta perhitunganya, zat kimia apa yang digunakan untuk mengukur suatu artefak atau sisa geologis. Dia tidak mencantumkan itu. Sebaliknya, jika kita baca buku tersebut sangat mengalir layaknya esai atau artikel opini. Jadi, dengan begitu kita bisa menduga bahwa alasan yang paling logis mengapa Professor Santos membuat buku ini agar buku ini mudah difahami oleh orang awam seperti saya dan masyarakat umum. “ lanjut Sadan
Sadan juga melanjutkan bahwa ada beberapa hal yang tidak diungkap oleh Awang H Satyana :
“ Saya tidak faham ilmu geologis. Juga apakah CO2 yang dikeluarkan aktivitas vulkanik itu panas dan jika berkumpul diudara akan memicu glasiasi pada masa itu atau tidak. Tetapi hipotesa itu yang ditulis oleh Professor Santos dalam bukunya. Jadi, dasar ini yang berbeda dengan frame yang digunakan oleh Bapak Awang yang mengatakan bahwa aktivitas vulkanik malah akan memicu bertambahnya jumlah ketebalan es di permukaan bumi. Jadi jangan langsung bilang hipotesa Professor salah atau tidak tetapi karena cara pandang/mazhab yang dianut Bapak Awang H Satyana dan Professor Santos yang berbeda.“
Diskusi yang berjalan alot tersebut berakhir dengan penuh keakraban. Perdebatan yang memanas antara Bapak Awang H Satyana dan Muhammad Sadan berakhir dengan jabatan akrab ketika diskusi tersebut selesai dan ditutup moderator. Tidak lupa, cenderamatapun disematkan oleh Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran di acara tersebut.
Ungkapan di atas dikemukakan Sadan, Marketing Komunikasi Ufuk Press, saat diskusi mengenai Atlantis; The Lost Continent Finally Found karya Prof. Arysio Santos dilakukan di Pusat Geologi Bandung, 26-11-2009. Diskusi tersebut menghadirkan Awang H Satyana, ahli Geologi BP Migas dan Muhammad Sadan mewaklii Ufuk Publishing House sebagai penerbit buku tersebut.
Awang H Satyana, mengemukakan bahwa ia sependapat dengan Sadan bahwa Prof.Santos termasuk orang yang menguasai banyak bidang ilmu dan sangat menyukai pengetahuan. Hal tersebut bisa dilihat dari sekian banyak hipotesanya yang memasukkan unsur kajian bahasa, sisa peninggalan artefak, folklore (cerita rakyat) serta kutipan-kutipan yang banyak diambil dari catatan-catatan yang terdapat di kitab suci.
Pada diskusi tersebut Awang H Satyana mengemukakan pandangannya tentang buku tersebut. Beliau mengungkapkan dengan menggunakan teknik perbandingan tesis dan antitesisnya. Menurut beliau, beberapa bagian di dalam buku tersebut memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut diantaranya adalah Prof.Santos mengemukakan bahwa lokasi Atlantis terletak di paparan Sunda. Paparan Sunda yang dikemukakan bahwa lokasi tersebut mengalami gempa tektonik yang menyebabkan wilayah trkena impact dari letusan Gunung Krakatau yang menyebabkan tsunami sangat besar. Tsunami tersebut—menurut hipotesa Professor Santos telah menenggelamkan daratan di Paparan Sunda. Menurut Awang H Satyana hipotesa tersebut tidak memiliki bukti geologis dan tidak memiliki dasar. Awang H Satyana juga mengungkapkan bahwa dalam thesis-theseis Professor Santos menyebutkan bahwa dengan meletusnya banyak gunung berapi di masa lalu akan mengakibatkan glasiasi (pencairan es) di kutub dan menyebabkan banjir massal yang menenggelamkan Atlantis.
Muhammad Sadan mengatakan sebaliknya. Ia menjelaskan bahwa untuk memahami buku Professor Santos harus memahami konteksnya. Ia mengatakan bahwa tidak mungkin hipotesa yang didasarkan pada penelitian ilmiah selama 30 tahun dirangkum dalam buku setebal 674-an halaman. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa karena thesis Professor Santos tersebut adalah struktur penulisan di dalam buku tersebut yang tidak menggunakan kaidah kaku buku buku teks yang dijadikan pegangan keilmuan seuatu institusi pendidikan. Professor Santos juga “menghormati” tradisi keilmuan yang dianut oleh penentang-penentangnya dengan bukan debat kusir tetapi melakukan riset tekun selama 30 tahun yang kemudian digunakan untuk menyanggah dasar dasar ilmiah para penentangnya.
Muhammad Sadan mengatakan bahwa “Sangat naif jika kita bilang karya Professor Santos tidak memiliki dasar ilmiah. Bagi saya, orang yang mengatakan itu harus dilihat dalam konteks apa dia bicara, di forum mana dan apa yang sudah ia lakukan untuk melakukan penentangan “.
Bagi Muhammad Sadan, Professor Santos pasti memiliki alasan kuat dan konteks yang bisa dipertanggungjawabkan karena tidak menjadikan bukunya teks ilmiah yang berisi lampiran bukti-bukti ilmiah untuk menguatkan hipotesisnya.
“ Kalau kita liat buku itu, buku itu tidak melampirkan tabel, angka-angka, rumusan teori nuklir serta perhitunganya, zat kimia apa yang digunakan untuk mengukur suatu artefak atau sisa geologis. Dia tidak mencantumkan itu. Sebaliknya, jika kita baca buku tersebut sangat mengalir layaknya esai atau artikel opini. Jadi, dengan begitu kita bisa menduga bahwa alasan yang paling logis mengapa Professor Santos membuat buku ini agar buku ini mudah difahami oleh orang awam seperti saya dan masyarakat umum. “ lanjut Sadan
Sadan juga melanjutkan bahwa ada beberapa hal yang tidak diungkap oleh Awang H Satyana :
“ Saya tidak faham ilmu geologis. Juga apakah CO2 yang dikeluarkan aktivitas vulkanik itu panas dan jika berkumpul diudara akan memicu glasiasi pada masa itu atau tidak. Tetapi hipotesa itu yang ditulis oleh Professor Santos dalam bukunya. Jadi, dasar ini yang berbeda dengan frame yang digunakan oleh Bapak Awang yang mengatakan bahwa aktivitas vulkanik malah akan memicu bertambahnya jumlah ketebalan es di permukaan bumi. Jadi jangan langsung bilang hipotesa Professor salah atau tidak tetapi karena cara pandang/mazhab yang dianut Bapak Awang H Satyana dan Professor Santos yang berbeda.“
Diskusi yang berjalan alot tersebut berakhir dengan penuh keakraban. Perdebatan yang memanas antara Bapak Awang H Satyana dan Muhammad Sadan berakhir dengan jabatan akrab ketika diskusi tersebut selesai dan ditutup moderator. Tidak lupa, cenderamatapun disematkan oleh Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran di acara tersebut.



2 comments:
Nice book
[url=http://bariossetos.net/][img]http://vonmertoes.net/img-add/euro2.jpg[/img][/url]
[b]nero 9 patent authorization, [url=http://bariossetos.net/]cheap softwares org[/url]
[url=http://bariossetos.net/][/url] educational software discounts pc software to buy
where to buy pirated software [url=http://vonmertoes.net/]doctor office software[/url] discount software final
[url=http://bariossetos.net/]purchase express software[/url] buy older software
[url=http://hopresovees.net/]buy photoshop for windows[/url] oem software what
cheapest place to buy software [url=http://bariossetos.net/]discount software san[/b]
Post a Comment