Thursday, August 21, 2008


BROWN ENERGY, KENDARAAN PUN BISA MENYUMBANG OKSIGEN

Bayangkan, di tengah-tegah kondisi naiknya harga BBM saat ini, Brown Energy menjadi sebuah angin segar yang melegakan nafas sebagian masyarakat terutama pengguna kendaraan beroda empat
(Majalah Pengusaha, Agustus 2008)

Siapa yang tidak mengenalnya, scmua makhluk yang hidup di planet bumi ini pasti membutuhkan zat cair yang identik dengan warna bening ini. Air merupakan sumber penghidupan terbesar dalam hidup kita. Air juga lambang dari nyawa manusia, nafas dan denyut jantung kita. Bayangkan jika dalam kehidupan ini tidak ada air, betapa sengsaranya nasib kita dan tidak akan mungkin mampu bertahnn hidup,

Dari beribu manfaat air, salah satunya adalah air dapat menjadi sebuah peluang bisnis. Seperti yang sangat popular belakangan ini adalah di mana air menjadi terobosan sebagai bahan bakar. Dahulu, khalayak mcnganggap hal ini hanya sebuah isapan jempol dan mimpi belaka. Banyak yang mencemooh mana mungkin air bisa menjadi bahan bakar, mimpi kali yee?. Tapi seiring dengan kemajuan zaman fakta mengenai isu-isu yang beredar seputar Bahan Bakar Air (BBA) sudah banyak terungkap. Di tanah air sendiri belum lama ada Joko Suprapto dengan Blue Encrgy-nya yang kontroversial malah berujung pada kasus penipuan.

Di luar negeri sendiri seperti Jepang dan Inggris juga tclah mengernbangkan BBA tersebut. Indonesia pun tidak ketinggalan baru-baru ini ada sebuah inovasi BBA yang di kcmbangkan. Sebutannya Brown Energy yang merupakan campuran gas hidrogen - hydrogen - oksigen (HHO) yang dihasilkan dari sistem elektrolisa atau pengurai cairan. Dalam tabung elektrolisa itu kumparan magnctik dipasang untuk memecahkan campuran air destilasi dan soda kue hingga menjadi campuran gas HHO. Hidrogen bersifat eksplosif dan oksigen yang mcndukung pembakaran. Gas HHO ini dalam tabung elektrolisa yang dialirkan melalui slang masuk ke ruang bakar mesin dan akan bercampur dengan gas hidrokarbon dari BBM. Mengapa soda kuc bcrperan di sini? Ditelaah, jika dibandingkan dengan kalium hidroksida (KOH) yang digunakan Blue Energy, soda kue lebih ramah lingkungan, mudah didapat dan lebih murah.

Dengan menggunakan metode/cara dari Brown Energy ini kita dapat menghemat BBM. Bahkan melalui uji coba yang dilakukan pada peserta touring BBA pada sekitar 30 unit mobil dari berbagai macam jenis kendaraan dengan total jarak tempuh 105 kilometer (Jakarta-Cikarang) tingkat konsumsinya .sangat hemat sebesar 40% dibanding kendaraan yang tidak menggunakan unit elektrolisa.

Bayangkan, di tengah-tegah kondisi naiknya harga BBM saat ini, Brown Energy menjadi sebuah angin segar yang melegakan nafas sebagian masyarakat terutama pengguna kendaraan beroda empat. Sesuai dengan namanya, Brown Energy ini diambil dari nama penemunya sendiri yaitu Yull Brown yang bcrkcbangsaan Australia. Di Indonesia, kemudian dikembangkan oleh Poempida Hidayanillah dan Futung Mustari yang juga menuangkan pengembangannya ini ke sebuah buku berjudul Rahasia Bahan Bakar Air, yang diterbitkan Ufuk Publishing House (UPH) di rnana buku ini sendiri telah beredar luas di pasaran. UPH dikelola Ahmad Taufik (Taufik) dan Bakar Bilfaqih. Diawal mula usahanya yang bergerak di publishing ini mereka mencoba menjalankan beberapa proyek buku yang diminati oleh pasar. Buku-buku terbitannya ini merupakan buku-buku international best seller yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan selalu berada pada big five best seller di bukukita.com, kutubuku.com, inibuku.com Pada tanggal 1 Juni 2008 bertepatan dengan diresmikannya kenaikan harga BBM oleh pemerintah, UPH kcmbali ditantang untuk mcnerbitkan buku Rahasia Bahan Bakar Air karya Poempida dan Futung ini."Ketika kita mcmpublis/i buku ini kemudian responnya sangat besar, banyak email yang masuk hampir 50 ribuan lebih. Lalu tepat di tanggal 23 Juni 2008 kita merilis buku tersebut, ada sejumlah permintaan datang dari peminat mulai dari pemasangan alatnya sampai kita diminta untuk pclatihannya," ujar Taufik.

Buku yang dijual dengan harga Rp 40 ribu ini dilengkapi dengan VCD sebagai panduan kcrja dan pengenalan alat-alat yang digunakan. Dalam bukunya sendiri dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, tentang mengapa tekhnologi ini tidak berkcmbang, hal itu dijawab di buku ini. Sedangkan bagian yang kcdua adalah bagaimana langkah-langkah pembuatannya. Berkat respon yang baik dari masyarakat Taufik mencoba masuk ke bisnis baru Brown Energy. Mcnurut Taufik, saat ini BBA Brown Energy sudah mengarah pada produk nyata, walau pun belum mass product, atau masih 'home industry'. "Karena masih dalam tahap pcngcmbangan waktu itu spirit kita sebetulnya adalah mendorong masyarakat agar dapat membuat sendiri. “Tapi tcrnyata mereka malah banyak yang datang ke kita minta dibantu untuk pemasangan alatnya," tuturnya.

Untuk alat dan jasa pemasangannya dikenakan total biaya Rp 400 ribu, sedangkan harga alatnya sendiri sebesar Rp 300 ribu. Untuk pelatihan berupa seminar Rp. 15O ribu yang diadakan setiap seminggu sekali dan dibatasi hanya 12 orang setiap pelatihannya.

Dikatakan Taufik, karena sifatnya masih home industry kendalanya adalah di sparepart. Karena sparepart yang dipakai masih sangat sederhana. Scperti aquarium, mika, stainless steel dan toples, simpel sekali. Untuk solusinya, Taufik mengaku akan mencari partncr yang strategis yang lidak sckadar mencari profit saja melainkan pengembangan yang lebih jauh. Supaya ke depannya masyarakat dapat memakai alat ini sebagai terobosan dalam menghemat BBM. Dan tidak menutup kemungkinan mengembangkannya menjadi alternatif pengganti BBM. Selain itu, dampak luar biasa lain adalah ikut mcnjaga lingkungan karena produk ini bebas polusi. jadi tidak Cuma pohon, dengan brown energ mobil pun bisa menyumbang oksigen," ungkap lulusan SI Fakultas Ekonomi jurusan Managemen Keuangan, Universitas Indonesia ini.

No comments:

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes