Friday, July 18, 2008




BELAJAR DARI HIZBULLAH

Di sini kita dapat belajar dari Hizbullah untuk menjadi ajaran Islam sebagai landasan kehidupan yang komprehensif, jihad untuk mencapai tujuannya tersebut dan mempunyai kepemimpinan yang tangguh di masyaraka (Tabloid Jumad, Juli 2008).

Kemenangan Hizbullah atas Israel pada tahun 2000 lalu mencengangkan banyak pihak, termasuk Israel sendiri. Ketika itu tentara Israel dipaksa menarik diri dari Lebanon. Inilah sebuah pencapaian dari pelbagai operasi yang dilakukan Hizbullah yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam kurun waktu lima puluh tahun perjuangan mereka melawan Israel.

Kemenangan ini menjadikan banyak pertanyaan tentang Hizbullah. Di antaranya mengenai kelahirannya, tujuan-tujuannya, visi dan nilai-nilainya. Buku karya Nairn Qassem, yang merupakan Sekjen Hizbullah, ini merupakan sebuah karya yang repsentatif untuk memahami Hizbullah dari kalangan internal gerakan tersebut.

Hizbullah muncul sebagai sebuah partai yang khas karena mengadopsi bendera Islam, demikian juga karena fungsinya sebagai kekuatan perlawanan. Hasilnya sungguh menakjubkan, berbagai operasi perlawanan Islam yang mereka lakukan berhasil secara unik sehingga memperoleh pujian dari para pendukung pembebasan dan para penganut keadilan.

Rahasia keberhasilan Hizbullah seperti dikatakan penulis buku ini didasarkan atas keyakinan yang mendalam terhadap Islam. Kerangka keyakinan seluruh persoalan Hizbullah berasal dari keyakinan tersebut, sementara kerangka praktisnya saling terkait dengan prinsip-prinsip iman yang dibawanya. Organisasi ini mendasarkan bahwa Islam merupakan program yang komprehensif, lengkap dan tepat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Islam merupakan landasan intelektual, religius, ideologis, dan praktis.

Prinsip berikutnya yang menjadi kunci keberhasilan Hizbullah adalah prinsip jihad. Jihad atau perang suci, memiliki akarnya dalam kata kerja 'berjuang'. Ini menunjukkan usaha sungguh-sungguh atau melakukan pelbagai upaya untuk melawan musuh. Dalam konteks Islam, kata tersebut memiliki jangkauan makna yang lebih luas daripada perang bersenjata.

Maknanya juga meliputi perjuangan melawan musuh yang berada dalam diri seorang sebagaimana bujukan dan godaan jiwa untuk melakukan keburukan atau panggilan setan kepada kesalahan, kesesatan dan korupsi. Dan prinsip ketiga yang menjadi bagian penting dari perjuangan Hizbullah adalah kepemimpinan ulama (wali faqih).

Di sini menurut penulisnya, ada tiga ulama terkemuka di Lebanon yang dasar-dasar nilai Islam kepada kekuatan Hizbullah ini, yakni Imam Musa al-Sadr, Ayatullah Muhammad Mahdi Syarnsuddin, dan Ayatullah al-Sayeed Muhammad Hussein Fadhlullah.

Dalam buku ini juga diungkapkan bagaimana konteks hubungan Hizbullah dengan berbagai negara seperti Iran, Suriah dan lain-lain. Dalam hubungannya dengan Iran, yang menarik adalah bahwa hubungannya tidak sebatas hubungan antar negara, hubungan organisasi, tapi juga hubungan dengan prinsip kepemimpinan yang dalam doktrin Syiah menjadi bagian penting.

Di sini kita dapat belajar dari Hizbullah untuk menjadi ajaran Islam sebagai landasan kehidupan yang komprehensif, jihad untuk mencapai tujuannya tersebut dan mempunyai kepemimpinan yang tangguh di masyarakat. Tentu saja kita bisa mengambil pelajaran dari Hizbullah dengan disesuaikan menurut kondisi bangsa kita.



No comments:

Twitter Facebook

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes